QS. Yunus (Nabi Yunus) – surah 10 ayat 7 [QS. 10:7]

اِنَّ الَّذِیۡنَ لَا یَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا وَ رَضُوۡا بِالۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ اطۡمَاَنُّوۡا بِہَا وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنۡ اٰیٰتِنَا غٰفِلُوۡنَ ۙ
Innal-ladziina laa yarjuuna liqaa-anaa waradhuu bil hayaatiddunyaa wa-athmaannuu bihaa waal-ladziina hum ‘an aayaatinaa ghaafiluun(a);

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,
―QS. 10:7
Topik ▪ Zuhud ▪ Perhatian terhadap dunia ▪ Merenungi ciptaan Allah
10:7, 10 7, 10-7, Yunus 7, Yunus 7, Yunus 7

Tafsir surah Yunus (10) ayat 7

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Yunus (10) : 7. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat-ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang tidak meyakini akan adanya pertemuan dengan Tuhan di akhirat nanti tidak mempercayai bahwa di akhirat nanti akan ditimbang dengan adil segala perbuatan manusia karena mereka lebih mencintai kehidupan dunia dan rela menukar kesenangan hidup di akhirat dengan kesenangan hidup di dunia yang fana ini yang disebabkan terpengaruh oleh kelezatan duniawi, demikian pula orang-orang yang lalai dan tidak mengindahkan ayat-ayat Alquran, tidak mau mempelajari, memahami dan mengamalkannya, maka tempat mereka itu ialah neraka Jahanam.

Balasan azab yang demikian itu adalah karena dosa-dosa yang mereka kerjakan selama hidup di dunia dan balasan itu setimpal dengan perbuatan mereka.

Dalam ayat ini disebutkan dua macam sikap dan perbuatan manusia yang menyebabkan mereka masuk neraka, yaitu:

1.
Tidak percaya akan adanya hidup sesudah mati nanti karena telah terpengaruh oleh kesenangan duniawi.

2.
Tidak mengindahkan ayat-ayat Alquran.

Tidak percaya adanya hidup sesudah mati untuk menemui Tuhan berarti tidak percaya akan keadilan Tuhan dan kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya.
Orang-orang yang demikian biasanya adalah orang-orang yang mengira bahwa segala sesuatu yang telah didapatnya itu adalah semata-mata atas usahanya sendiri bukanlah sebagai rahmat dan karunia dari Tuhan, seakan-akan dialah yang menentukan segala sesuatu.
Sifat-sifat yang demikian dapat menjurus kepada kepercayaan atheisme yang berpendapat bahwa Tuhan itu tidak ada hanya manusia sendirilah yang mengadakan segala sesuatu.
Hal ini sangat bertentangan dengan pokok utama akidah Islamiah.

Demikian pula tidak mengindahkan ayat-ayat Alquran berarti tidak percaya bahwa Alquran sebagai kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ., nabi yang terakhir dan tidak percaya pula bahwa kitab itu dapat menjadi pedoman bagi manusia dalam melayarkan bahtera hidup di dunia untuk mencapai kehidupan abadi di akhirat nanti.

Kepercayaan kepada adanya hidup sesudah mati, dan bahwa Alquran itu Kitab Allah yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.
adalah merupakan pokok utama ajaran Islam.
Mengingkari kedua pokok itu berarti mengingkari ajaran Islam.
Itulah sebabnya Allah subhanahu wa ta’ala mengancam dengan sanksi yang berat berupa azab neraka Jahanam terhadap orang-orang yang mengingkari-Nya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada hari kebangkitan dan hari pertemuan dengan Allah pada hari akhir, berkeyakinan–atas dasar praduga saja–bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan akhir bagi mereka, yang tidak ada kehidupan setelahnya.
Dengan keyakinan seperti ini, mereka merasa tenang dan tidak mengetahui apa yang terjadi setelahnya.
Mereka lalai dengan ayat-ayat Allah yang menunjukkan hakikat kebangkitan dan perhitungan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan/tidak percaya akan pertemuan dengan Kami) pada hari berbangkit nanti (dan mereka merasa puas dengan kehidupan dunia) sebagai ganti daripada kehidupan akhirat karena mereka tidak mempercayai adanya hari akhirat itu (serta merasa tenteram dengan kehidupan itu) merasa tenang dengan kehidupan dunia (dan orang-orang yang terhadap ayat-ayat Kami) bukti-bukti yang menunjukkan kepada keesaan Kami (mereka melalaikan) mereka sama sekali tidak mau memikirkannya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami di akhirat untuk dihisab, juga tidak menginginkan pahala atas amal mereka karena mereka mengingkari Hari Kebangkitan.
Lalu mereka rela mengganti kehidupan akhirat dengan kehidupan di dunia dan mereka merasa tenteram didalamnya.
Dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kauniyah dan syariah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman menceritakan keadaan orang-crang yang celaka, yaitu mereka yang ingkar terhadap hari pertemuan dengan Allah kelak pada hari kiamat.
Mereka sama sekali tidak percaya dengan hari pertemuan itu, merasa puas dengan kehidupan dunia ini.
serta hati dan jiwa mereka merasa tenteram dengan kehidupan dunia.

Al-Hasan mengatakan, “Demi Allah, mereka sama sekali tidak menghiasi dunia dan tidak pula mengangkatnya, melainkan mereka hanya merasa puas dengan kehidupan dunia, sedangkan mereka melupakan tanda-tanda kebesaran Allah yang ada pada semesta alam ini, karena mereka tidak mau memikirkannya.
Mereka pun melalaikan hukum Al­lah yang ada pada syariat agama-Nya.
Karena itulah maka tempat kembali mereka kelak di hari kiamat adalah neraka, sebagai pembalasan atas apa yang selama di dunia mereka lakukan, yaitu berupa dosa-dosa, kesalahan-kesalahan, dan kejahatan-kejahatan, di samping kekufuran mereka kepada Allah, Rasul-Nya, dan hari kemudian.”


Kata Pilihan Dalam Surah Yunus (10) Ayat 7

DUNYAA
لدُّنْيَا

Lafaz dunyaa berasal dari lafaz ad dunuww kemudian al waw diganti dengan al yaa karena lafaz yang berwazan fu’laa, sekiranya memiliki al waw pada akhirannya, maka ia diganti dengan al yaa. Dinamakan dunyaa karena dekatnya dan kedatangan akhirat. Ia juga bermakna lawan dari akhirat, nama bagi kehidupan ini karena akhirat jauh darinya, bumi dan segala yang terdapat di permukaannya, alam tempat kita diami, perihal bidang dan lapangan.

Al Kafawi berkata,
“Ia adalah nama bagi apa yang ada di bawah bulan.”

Lafaz dunyaa disebut sebanyak 115 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 85, 86, 114, 130, 200, 201, 204, 212, 217, 220;
-Ali Imran (3), ayat 14, 22, 45, 56, 117, 145, 148, 152, 185;
-An Nisaa(4), ayat 74, 77, 94, 109, 134 (dua kali);
-Al­ Maa’idah (5), ayat 33, 41;
-Al An’aam (6), ayat 29, 32, 70, 130;
-Al A’raaf (7), ayat 32, 51, 152, 156;
-Al Anfaal (8), ayat 42, 67;
-At Taubah (9), ayat 38 (dua kali), 55, 69, 74, 85;
-Yunus (10), ayat 7, 23, 24, 64, 70, 88, 98;
-Hud (11), ayat 15, 60;
-Yusuf (12), ayat 101;
-Ar Ra’d (13), ayat 26 (dua kali), 34;
-Ibrahim (14), ayat 3, 27;
-An Nahl (16), ayat 30, 41, 107, 122;
-Al Kahfi (18), ayat 28, 45, 46, 104;
-Tha Ha (20), ayat 72, 131;
-Al Hajj (22), ayat 11, 15;
-Al Mu’minuun (23), ayat 33, 37;
-An Nuur (24), ayat 14, 19, 23, 33;
-Al Qashash (28), ayat 42, 60, 61, 77;
-Al Ankabut (29), ayat 79, 25, 27; 64;
-Ar Rum (30), ayat 7;
-Luqrnan (31), ayat 15, 33;
-Al Ahzab (33), ayat 28, 57;
-Faathir (35), ayat 5;
-Ash Shaffaat (37), ayat 6;
-Az Zumar (39), ayat 10, 26;
-Al Mu’min (40), ayat 39, 43, 51;
-Fushshilat (41), ayat 12, 16, 31;
-Asy Syuura (42), ayat 20, 36;
-Az-Zukhruf (43), ayat 32, 35;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 24, 35;
-Al­ Ahqaf (46), ayat 20;
-Muhammad (47), ayat 36;
-An Najm (53), ayat 29;
-Al­ Hadid (57), ayat 20 (dua kali);
-Al Hasyr (59), ayat 3;
-Al Mulk (67), ayat 5;
-An Naazi’aat (79), ayat 38;
-Al A’laa (87), ayat 16.

Kebanyakan lafaz dunyaa digandengkan dengan akhirat dan juga kebanyakannya di­hubungkan dengan al hayaah maknanya ke­hidupan dunia. Apabila berhubungan dengan kehidupan dunia, Al Qur’an memberinya beberapa gelaran yaitu:

1. Dunia hanyalah mataa’al ghuurur artinya benda tipuan.
Maknanya kehidupan ini selalu me­nipu dan merayu manusia sehingga sering kali manusia lupa pada ke­hidupan yang sebenarnya. Tipu daya hidup ini sering kali menipu manusia sehingga hatinya terpaut dan terikat dengan dunia. Oleh karena itu, ayat ini me­nerangkan kehinaan dunia dan ke­fanaannya yang sebentar lagi musnah.

Qatadah berkata,
“Maknanya ialah benda (kenikmatan) yang akan di­tinggalkan. Oleh karena itu, ambillah ia dan taat kepada Allah semampu kamu'” Dalam hadits dikatakan, “Demi Allah! Kehidupan dunia berbanding akhirat adalah bagaikan salah seorang kamu menenggelamkan jari kedalam lautan, lalu lihatlah apa yang tertinggal di jari kamu (bila kamu mengangkatnya).”

2. Kenikmatan dan kebendaan yang qaliil yaitu sedikit.
Kenikmatan dan kebendaan yang banyak sekiranya ia fana dan hilang ia dinamakan sedikit, apatah lagi dengan sedikit yang lenyap lagi fana, atau apa yang dinikmati dari kelezatan dunia cepat hilang dan terbatas serta fana.

3. Kehidupan dunia hanyalah la’ib wa lahw yaitu tempat senda gurau dan bermain-main saja serta menjadi tempat mencari kesenangan bagi orang yang menyekutukan Allah.

Al Qurtubi berkata,
“Dunia adalah sesuatu yang dipermainkan olehnya dan dilalaikan dengannya yaitu apa yang diberikan Allah kepada orang kaya dari dunia, musnah dan lenyap seperti sebuah permainan yang tidak wujud dalamnya ketetapan dan hakikat.”

Dengan penjelasan Al Qur’an pada hakikat dan kedudukan dunia, sekali lagi Al­ Quran menyamakan kebendaan dunia yang menipu, hilang dan fana seperti air hujan yang turun dari langit dan bersatu dengan bumi lalu keluar darinya tumbuh-tumbuhan yang lebat dan rimbun lalu ia menjadi kering, hancur dan bertebaran diterbangkan oleh angin ke kiri dan ke kanan.

Bagi yang membelanjakan harta benda demi mendapat kepentingan dunia, Al­ Quran juga mengumpamakannya seperti angin yang di dalamnya ada udara yang dingin yang kering pada musim dingin, tidak mem­bawa kesuburan melainkan kemusnahan. Bukan ajaran Ilahi yang dapat mereka kalah­kan melainkan kebun dan tanaman mereka sendirilah yang akan punah dan musnah karena apabila tanaman itu menjadi kering, ia mudah terbakar karena zat air tidak ada lagi di dalamnya.

Lafaz ad dunyaa digandengkan dengan as­ samaa yaitu as sama ad dunyaa yang terdapat dalam surah:
-Ash Shaffaat (37), ayat 6;
-Fushshilat (41), ayat 12;
-Al Mulk (67), ayat 5.

Maksudnya ialah langit yang dekat dengan kamu. Ia dihiasi dengan keindahan planet-planet dan bintang-bintang yang bercahaya dan berkilau, berguna untuk melempar dan memburu syaitan apabila ia hendak mencuri pendengaran, datang kilat yang menyambar sehingga membakarnya. Maksudnya “meteor” melempar syaitan yang terlepas dari bintang itu karena pada hakikatnya adalah satu bulatan seperti bumi juga yang tetap pada halnya.

Sebagaimana fungsinya yang diterangkan dalam surah Al Mulk. Qatadah berkata,
“Allah menciptakan bintang-bintang untuk tiga keguna­an, yaitu:
(1) Perhiasan langit;
(2) Pemanah syaitan;
(3) Memberi petunjuk dalam per­jalanan.

Sekiranya ada orang lain yang ingin menambahkannya orang itu mengada­ adakan ilmu. Maksudnya Muhammad bin Ka’ab menerangkan, “Demi Allah! tidak ada orang di bumi mempunyai bintang di langit namun sebenarnya mereka ingin bermain tilik-menilik lalu dihubungkannya dengan bintang di langit”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:232-234

Informasi Surah Yunus (يونس)
Surat Yunus terdiri atas 109 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah kecuali ayat 40, 94, 95.
yang diturunkan pada masa Nabi Muhammad ﷺ berada di Madinah.
Surat ini dinamai “surat Yunus” karena dalam surat ini terutama ditampilkan kisah Nabi Yunus ‘alaihis salam dan pengikut-pengikutnya yang teguh imannya.

Keimanan:

Al Qur’an bukanlah sihir
Allah mengatur alam semesta dari Arasy-Nya
syafa’at hanyalah dengan izin Allah
Wali-wali Allah
wahyu Allah yang menerangkan yang ghaib kepada manusia
Allah menyaksikan dan mengamat-amati perbuatan hamba­ harnba-Nya di dunia
Allah tidak mempunyai Anak.

Hukum:

Menentukan perhitungan tahun dan waktu dengan perjalanan matahari dan bulan
hukum mengada-adakan sesuatu terhadap Allah dan mendustakan ayat-ayat-Nya.

Kisah:

Kisah Nabi Nuh a.s.dengan kaumnya
Nabi Musa dengan Fir’aun dan tukang-tukang sihir
kisah Bani lsrail setelah ke luar dari negeri Mesir
Nabi Yunus a.s. dengan kaumnya.

Lain-lain:

Manusia ingat kepada Allah di waktu kesukaran dan lupa di waktu senang
keadaan orang-orang baik dan orang-orang jahat di hari kiamat
Al Qur’an tidak dapat ditandingi
rasul hanya menyampaikan risalah.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Yunus (10) ayat 7 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Yunus (10) ayat 7 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Yunus (10) ayat 7 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Yunus - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 109 & Terjemahan


Gambar

[ngg src=”tags” ids=”10-7″ display=”basic_thumbnail” images_per_page=”6″ number_of_columns=”2″ order_direction=”DESC”]



Statistik Q.S. 10:7
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Yunus.

Surah Yunus (Arab: ينوس , Yūnus, "Nabi Yunus") adalah surah ke-10 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 109 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah kecuali ayat 40, 94, 95, yang diturunkan pada di Madinah.

Nomor Surah10
Nama SurahYunus
Arabيونس
ArtiNabi Yunus
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu51
JuzJuz 11 (ayat 1-109)
Jumlah ruku'11 ruku'
Jumlah ayat109
Jumlah kata1844
Jumlah huruf7593
Surah sebelumnyaSurah At-Taubah
Surah selanjutnyaSurah Hud
4.6
Ratingmu: 4.4 (20 orang)
Sending







Pembahasan ▪ isi surat ke 10 ayat 7 ▪ surah 10 ayat 7 ▪ surat Yunus ayat 7-8

Video

Panggil Video Lainnya

[ngg src="galleries" ids="1,2,6" display="basic_thumbnail" override_thumbnail_settings="1" images_per_page="6" number_of_columns="3" ajax_pagination="0" order_by="rand()"]
RisalahMuslim di  





Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta