QS. Yunus (Nabi Yunus) – surah 10 ayat 11 [QS. 10:11]

وَ لَوۡ یُعَجِّلُ اللّٰہُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسۡتِعۡجَالَہُمۡ بِالۡخَیۡرِ لَقُضِیَ اِلَیۡہِمۡ اَجَلُہُمۡ ؕ فَنَذَرُ الَّذِیۡنَ لَا یَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا فِیۡ طُغۡیَانِہِمۡ یَعۡمَہُوۡنَ
Walau yu’ajjilullahu li-nnaasisy-syarraasti’jaalahum bil khairi laqudhiya ilaihim ajaluhum fanadzarul-ladziina laa yarjuuna liqaa-anaa fii thughyaanihim ya’mahuun(a);

Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka.
Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimangan di dalam kesesatan mereka.
―QS. 10:11
Topik ▪ Para rasul diutus untuk memberi petunjuk
10:11, 10 11, 10-11, Yunus 11, Yunus 11, Yunus 11

Tafsir surah Yunus (10) ayat 11

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Yunus (10) : 11. Oleh Kementrian Agama RI

Salah satu sifat dan watak manusia ialah ingin disegerakan terjadi atas dirinya sesuatu keburukan, kemudaratan dan siksa sebagaimana keinginannya disegerakan datangnya kebaikan, kemanfaatan atau pahala.
Padahal mereka telah mengetahui bahwa semuanya itu terjadi atas kehendak Allah sesuai dengan hukum-hukum-Nya dan sesuai pula dengan ketetapan dan aturannya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunah (Allah yang berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu.
Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan penggantian bagi sunah Allah dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunah Allah itu.

(Q.S. Faathir [35]: 43)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sebagai suatu sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu.
(Q.S. Al-Fath [48]: 23)

Pada ayat-ayat Alquran yang lain dijelaskan sifat tergesa-gesa yang ada pada manusia sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan.
Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.

(Q.S. Al-Isra’: 11)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.
Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)-Ku.
Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.

(Q.S. Al-Anbiyaa [21]: 37)

Sifat tergesa-gesa ingin memperoleh kebaikan dan kesenangan pada manusia itu adalah karena keinginan mereka memperoleh sesuatu dengan segera manfaat dari sesuatu dalam waktu dekat, padahal mereka mengetahui bahwa segala sesuatu ada prosesnya.
Untuk mengikuti proses satu usaha itu memerlukan keimanan yang kuat, kesabaran dan keuletan.
Mustahil mereka akan mencapai suatu kesenangan, tetapi mereka tidak berusaha mencapainya dengan mengikuti jalan-jalannya.

Lain halnya dengan keinginan manusia mengalami suatu siksaan, bahaya atau malapetaka.
Keinginan ini timbul karena kebodohan, kedurhakaan dan keingkaran mereka terhadap Nabi Muhammad ﷺ.
atau karena mereka ingin memperolok-olokan sesuatu yang tidak mereka inginkan itu, atau karena kemarahan dan kebencian mereka terhadap sesuatu dan sebagainya, seperti yang terjadi atas orang-orang yang putus asa dalam kehidupannya, maka ia memohon kematian atas dirinya.
Demikian pula orang-orang kafir yang tidak menginginkan sesuatu yang disampaikan Rasul Allah, lalu minta bukti dengan segera mendatangkan azab kepada mereka itu.

Keinginan dan permintaan mereka itu dijawab oleh Allah dengan tegas.
Seandainya Allah mau memperkenankan doa dan permintaan manusia supaya ditimpakan azab kepada mereka atau suatu malapetaka yang permintaan itu mereka ajukan semata-mata karena kebodohan atau ingin melemahkan bukti-bukti kenabian yang disampaikan kepada mereka, seperti yang pernah diminta oleh orang-orang musyrik Mekah, tentulah Allah subhanahu wa ta’ala akan segera memperkenankannya, dan memperkenankan itu amat mudah bagi Allah.

Permintaan ini sering diajukan orang-orang musyrik Mekah kepada Nabi Muhammad ﷺ.
yang menyampaikan agama Allah kepada mereka.
Mereka meminta yang bukan-bukan kepada Nabi, seperti meminta datangnya azab kepada mereka sebagaimana yang pernah didatangkan kepada bangsa-bangsa dahulu kala, minta datangnya kiamat dan sebagainya sebagaimana firman Allah:

Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa sebelum (mereka meminta) kebaikan padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka.
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka lalim, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksanya.

(Q.S. Ar Ra’d: 6)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab.
Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba sedang mereka tidak menyadarinya.

(Q.S. Al-‘Ankabut [29]: 53)

Bahkan orang-orang musyrik itu karena keingkarannya yang sangat kepada Alquran berani berdoa agar disegerakan azab atas mereka seandainya yang disampaikan Muhammad itu adalah benar.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Alquran) ini dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.
(Q.S. Al-Anfal [8]: 32)

Orang-orang musyrik yang mengingkari adanya hari kiamat menantang Rasulullah agar disegerakan datangnya hari kiamat itu sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi).
Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh.

(Q.S. Asy-Syu’ara’ [26]: 18)

Tujuan orang-orang musyrik meminta kepada Nabi Muhammad ﷺ.
agar didatangkan yang bukan-bukan itu, bukanlah karena mereka tidak percaya kepadanya tetapi semata-mata untuk membantah dan melemahkan hujah Nabi, memperolok-olokan ayat-ayat Alquran yang disampaikan kepada mereka dan untuk mengatakan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
bahwa mereka sangat mengingkari segala macam yang disampaikan beliau kepada mereka.
Adakalanya di antara mereka telah yakin dan percaya kepada Nabi ﷺ.
tetapi rasa dengki kepada Muhammad dan fanatik kepada agama nenek moyang mereka menyebabkan mereka tetap mengingkarinya.

Dari ayat ini dipahami pula jawaban Allah subhanahu wa ta’ala kepada mereka bahwa Allah tidak akan memperkenankan doa dan permintaan mereka, dan tidak menghendaki kehancuran mereka seperti yang telah dialami oleh umat yang telah lalu, tetapi Allah subhanahu wa ta’ala Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.
Muhammad diutus sebagai nabi dan rasul terakhir kepada seluruh manusia, dan sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Karena itu Allah subhanahu wa ta’ala selalu memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat walaupun mereka tetap dalam keingkaran dan kekafirannya, biarlah mereka bergelimang dalam kesesatan mereka sampai nanti Allah subhanahu wa ta’ala mengazab mereka dengan azab yang pedih.

Selain dari itu Allah tidak akan mendatangkan azab kepada mereka di dunia sebagaimana yang telah ditimpakan kepada umat-umat yang dahulu, karena seandainya Allah menimpakan azab kepada mereka, tentu mereka akan musnah semuanya, dan kemusnahan itu akan menimpa pula orang-orang yang beriman yang hidup dan berdiam di antara mereka sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan, maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.
(Q.S. An-Nahl [16]: 61)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dan kalau sekiranya Allah mengabulkan untuk menyegerakan permohonan keburukan yang mereka pinta–sebagaimana kebaikan–pasti Allah akan membinasakan mereka semua.
Namun Dia berlemah lembut dengan mereka, sehingga menangguhkan kebinasaan mereka, untuk menunggu apa yang tampak dari diri mereka, sesuai dengan apa yang diketahui-Nya tentang mereka.
Maka dari sini tampak keadilan-Nya dalam memberikan ganjaran kepada mereka karena mereka memang telah meninggalkan (kebenaran) sedangkan dalil-dalil telah jelas mereka dapati.
Mereka telah dengan sengaja melenceng dan berjalan dalam kesesatan dan kegelapan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan) artinya sama seperti mereka meminta mendapatkan dengan segera (kebaikan, pastilah diakhiri) boleh dibaca laqudhiya atau laqadha (umur mereka) lafal ajaluhum dapat dibaca rafa` yakni menjadi ajaluhum dan dapat pula dibaca nashab hingga menjadi ajalahum, seumpamanya Allah membinasakan mereka dengan segera akan tetapi ternyata Allah menangguhkan (Maka Kami biarkan) Kami tinggalkan (orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami bergelimang di dalam kesesatan mereka) mereka hidup diselimuti oleh keraguan yang membingungkan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Seandainya Allah segera mengabulkan doa-doa manusia yang meminta kejelekan, sebagaimana Allah menyegerakan mengabulkan doa-doa mereka yang meminta kebaikan, niscaya mereka akan musnah.
maka dari itu, Kami akan membiarkan orang-orang yang tidak takut akan hukuman Kami dan tidak mempercayai Hari Kebangkitan dan Kiamat dalam kesombongan dan kecongkakannya.
mereka pun akan terus berada dalam kesesatan dan kebimbangan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
menyebutkan tentang sifat penyantun dan lemah lembut­Nya terhadap hamba-hamba-Nya.
Dia tidak memperkenankan bagi mereka jika mereka mendoakan kejahatan buat diri mereka sendiri atau harta benda dan anak-anak mereka, di saat mereka sedang marah dan emosi.
Allah subhanahu wa ta’ala.
pun mengetahui bahwa mereka tidak sengaja melakukan hal itu, karena itulah maka Dia tidak mengabulkan doa mereka, sebagai kasih sayang dan rahmat buat mereka.
Perihalnya berbeda jika mereka mendoakan kebaikan, keberkahan, dan kesuburan buat diri, harta benda, dan anak-anak mereka, maka Allah memperkenankannya bagi mereka.
Untuk itulah Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan ragi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka., hingga akhir ayat.

Dengan kata lain, seandainya setiap mereka mendoakan kejahatan dalam hal tersebut diperkenankan oleh Allah, niscaya doanya itu akan membinasakan diri mereka.

Karena itulah tidak diperkenankan banyak melakukan doa seperti itu, seperti apa yang disebutkan oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar di dalam kitab Musnad-nya.
Disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Hatim ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Mujahid Abu Jazarah, dari Ubadah ibnul Walid, Jabir telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Janganlah mendoakan untuk kebinasaan diri kalian, janganlah mendoakan kecelakaan bagi anak-anak kalian, dan janganlah mendoakan kehancuran bagi harta benda kalian, agar kalian tidak menepati suatu saat ijabah dari Allah, yang karenanya doa kalian diperkenankan.

Imam Abu Daud meriwayatkannya melalui hadis Hatim ibnu Ismail dengan sanad yang sama.
Imam Al-Bazzar mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan secara munfarid oleh Ubadah ibnul Walid ibnu Ubadah ibnus Samit Al-Ansari, tanpa ada seorang pun yang menemaninya.
Hal ini semakna dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan.
(Q.S. Al Israa [17]: 11).
hingga akhir ayat.

Mujahid di dalam tafsir ayat ini.
yaitu firman-Nya:

Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan… hingga akhir ayat.
mengatakan bahwa perumpamaannya ialah seperti perkataan seorang tua kepada anaknya atau harta bendanya jika ia marah terhadapnya, “Ya Allah, janganlah Engkau berkati dia, dan laknatilah dia.” Seandainya permintaan mereka itu dikabulkan dengan segera sebagaimana dikabulkan bagi mereka dalam hal kebaikan, niscaya akan binasalah mereka.


Informasi Surah Yunus (يونس)
Surat Yunus terdiri atas 109 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah kecuali ayat 40, 94, 95.
yang diturunkan pada masa Nabi Muhammad ﷺ berada di Madinah.
Surat ini dinamai “surat Yunus” karena dalam surat ini terutama ditampilkan kisah Nabi Yunus ‘alaihis salam dan pengikut-pengikutnya yang teguh imannya.

Keimanan:

Al Qur’an bukanlah sihir
Allah mengatur alam semesta dari Arasy-Nya
syafa’at hanyalah dengan izin Allah
Wali-wali Allah
wahyu Allah yang menerangkan yang ghaib kepada manusia
Allah menyaksikan dan mengamat-amati perbuatan hamba­ harnba-Nya di dunia
Allah tidak mempunyai Anak.

Hukum:

Menentukan perhitungan tahun dan waktu dengan perjalanan matahari dan bulan
hukum mengada-adakan sesuatu terhadap Allah dan mendustakan ayat-ayat-Nya.

Kisah:

Kisah Nabi Nuh a.s.dengan kaumnya
Nabi Musa dengan Fir’aun dan tukang-tukang sihir
kisah Bani lsrail setelah ke luar dari negeri Mesir
Nabi Yunus a.s. dengan kaumnya.

Lain-lain:

Manusia ingat kepada Allah di waktu kesukaran dan lupa di waktu senang
keadaan orang-orang baik dan orang-orang jahat di hari kiamat
Al Qur’an tidak dapat ditandingi
rasul hanya menyampaikan risalah.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Yunus (10) ayat 11 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Yunus (10) ayat 11 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Yunus (10) ayat 11 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Yunus - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 109 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 10:11
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Yunus.

Surah Yunus (Arab: ينوس , Yūnus, "Nabi Yunus") adalah surah ke-10 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 109 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah kecuali ayat 40, 94, 95, yang diturunkan pada di Madinah.

Nomor Surah 10
Nama Surah Yunus
Arab يونس
Arti Nabi Yunus
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 51
Juz Juz 11 (ayat 1-109)
Jumlah ruku' 11 ruku'
Jumlah ayat 109
Jumlah kata 1844
Jumlah huruf 7593
Surah sebelumnya Surah At-Taubah
Surah selanjutnya Surah Hud
4.4
Ratingmu: 4.8 (10 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta