QS. Thaa Haa (Ta Ha) – surah 20 ayat 87 [QS. 20:87]

قَالُوۡا مَاۤ اَخۡلَفۡنَا مَوۡعِدَکَ بِمَلۡکِنَا وَ لٰکِنَّا حُمِّلۡنَاۤ اَوۡزَارًا مِّنۡ زِیۡنَۃِ الۡقَوۡمِ فَقَذَفۡنٰہَا فَکَذٰلِکَ اَلۡقَی السَّامِرِیُّ
Qaaluuu maa akhlafnaa mau’idaka bimalkinaa walakinnaa hummilnaa auzaaran min ziinatil qaumi faqadzafnaahaa fakadzalika alqassaamirii-y(u);

Mereka berkata:
“Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya”,
―QS. 20:87
Topik ▪ Iman adalah ucapan dan perbuatan
20:87, 20 87, 20-87, Thaa Haa 87, ThaaHaa 87, Thoha 87, Thaha 87, Ta Ha 87

Tafsir surah Thaa Haa (20) ayat 87

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Thaa Haa (20) : 87. Oleh Kementrian Agama RI

Kaumnya menjawab, “Kami melanggar janji itu bukanlah dengan kemauan dan kehendak kami, karena kami tidak dapat menguasai diri kami.
Andaikata kami dibiarkan saja menurut kemauan kami, tentulah kami tidak akan berbuat seperti ini.
Tetapi Samiri telah memperdayakan kami yang bodoh ini sehingga kami tertarik oleh kata-kata dan bujuk rayunya yang mempesona hati kami.
Samiri telah memaksa kami memikul beban yang berat yang terdiri dari perhiasan-perhiasan yang dipinjamkannya dari bangsa Kibti di Mesir sewaktu kami akan berangkat meninggalkan Mesir.
Dia mengatakan bahwa nanti akan diadakan hari raya, karena itu perhiasan-perhiasan itu harus dibawa dan kamilah yang diperintahkan untuk memikulnya.
Hal ini disembunyikannya terhadapmu hai Musa karena dia takut akan dilarang membawanya.
Sepeninggal engkau kami disuruhnya menggali lubang yang besar di tanah dan menyalakan api untuk membakar perhiasan itu, maka kami lemparkan semuanya ke dalam api yang menyala-nyala.
Demikian pula Samiri telah melemparkan semua perhiasan yang dibawanya:

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dengan meminta maaf, pengikut Musa berkata, “Kami tidak melanggar janjimu atas kemauan kami sendiri.
Ketika keluar dari Mesir, kami diberi beban membawa perhiasan-perhiasan kaum kami yang cukup berat.
Kemudian kami berpendapat–karena takut barang-barang perhiasan itu akan membawa sial bagi kami–untuk membuangnya.” Lalu Samiriy menyalakan api di sebuah lobang dan melemparkan perhiasan- perhiasan itu ke dalamnya.
Samiriy sendiri ikut melemparkan perhiasan yang dibawanya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Mereka berkata, “Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri) lafal Bimalkinaa dapat pula dibaca Bimilkinaa atau Bimulkinaa, artinya dengan kehendak kami sendiri, atau dengan kemauan kami sendiri (tetapi kami disuruh membawa) dapat dibaca Hammalnaa atau Hummilnaa (beban-beban) yakni beban yang berat-berat (dari perhiasan kaum itu) yakni perhiasan milik kaum Firaun, yang mereka pinjam dahulu untuk keperluan pengantin, kini perhiasan itu masih berada di tangan mereka (maka kami telah melemparkannya) kami mencampakkannya ke dalam api atas perintah Samiri (dan demikian pula) sebagaimana kami melemparkannya (Samiri melemparkannya”) yakni ia pun ikut melemparkan perhiasan kaum Firaun yang masih ada padanya dan ia melemparkan pula tanah Yang ia ambil dari bekas teracak kuda malaikat Jibril dengan cara seperti berikut ini.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Mereka berkata :
Wahai Musa, kami tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami dibebani dengan beban-beban dari perhiasan kaum Fir’aun, maka kami melemparkannya ke dalam lubang yang terdapat api dengan perintah Samiri.
Demikian pula Samiri melemparkan apa yang dibawanya berupa tanah bekas kaki kuda Jibril.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati.

sesudah Allah mewartakan kepadanya kisah tersebut.
Musa kembali kepada kaumnya dengan rasa marah dan murka terhadap mereka, padahal saat itu Musa sedang menjalankan apa yang menjadi kebaikan bagi mereka yang karenanya ia menerima kitab Taurat.
Di dalam kitab Taurat terdapat syariat buat mereka, terkandung pula kemuliaan mereka.
Tetapi mereka adalah suatu kaum yang menyembah selain Allah, hal tersebut tidaklah dilakukan oleh orang yang berakal sehat.
Sudah jelaslah kebatilan perbuatan mereka dan hal itu menunjukkan akan kedangkalan serta kekurangan akal dan hati mereka.
Karena itulah maka disebutkan dalam ayat ini bahwa Musa kembali kepada mereka dalam keadaan marah dan murka.
Yang dimaksud dengan murka ialah kemarahan yang sangat atau marah berat.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

dalam keadaan marah dan bersedih hati.
Yaitu dengan kesal hati,

Qatadah dan As-Saddi mengatakan bahwa al-asaf artinya bersedih hati atas perbuatan kaumnya sepeninggal dia.

Berkata Musa, “Hai kaumku, bukankah Tuhan kalian telah menjanjikan kepada kalian suatu janji yang baik?”

Yakni bukankah Dia telah menjanjikan kepada kalian melalui lisanku kebaikan dunia dan akhirat serta akibat yang terpuji, seperti yang telah kalian rasakan sendiri, yaitu Dia telah memberikan pertolongan-Nya kepada kalian dalam menghadapi musuh kalian sehingga kalian beroleh kemenangan atasnya, juga nikmat-nikmat lainnya yang telah diberikan oleh Dia kepada kalian.

Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagi kalian.

Yakni masa tunggu kalian terhadap apa yang dijanjikan oleh Allah untuk kalian dan kalian melupakan nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya, padahal masa itu masih hangat dan belum lama.

Atau kalian menghendaki agar kemurkaan dari Tuhan kalian menimpa kalian?

Am dalam ayat ini bermakna bal yang menunjukkan arti idrab (mengenyampingkan) kalimat pertama, lalu mengalihkan pembicaraan kepada kalimat selanjutnya.
Seakan-akan dikatakan bahwa ‘atau kalian menghendaki dengan perbuatan kalian ini agar Tuhan menimpakan murka­Nya kepada kalian, yang hal itu berarti kalian ingkar janji kepadaku’.
Kaum Bani Israil menjawab apa yang diperingatkan oleh Musa kepada mereka, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kamauan kami sendiri.
(Q.S. Thaa haa [20]: 87)

Yakni dengan keinginan dan pilihan kami sendiri.
Kemudian Bani Israil mengemukakan alasannya yang munafik itu yang lahiriahnya meng­gambarkan tentang kesucian mereka terhadap perhiasan orang Mesir yang ada di tangan niereka dari hasil pinjaman saat mereka keluar meninggalkan negeri Mesir, sedangkan perhiasan itu masih ada di tangan mereka.
Mereka mengatakan, “Kami melemparkan perhiasan itu semuanya (ke dalam api itu).”

Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan berkenaan dengan hadis fitnah, bahwa Harun ‘alaihis salam adalah orang yang memerintahkan kepada mereka untuk melemparkan semua perhiasan itu di lubang galian yang telah dinyalakan api di dalamnya.

Kisah tersebut menurut riwayat As-Saddi, dari Abu Malik, dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Harun bermaksud agar semua perhiasan itu dikumpulkan di dalam lubang galian itu menjadi satu dan dilebur menjadi satu sambil menunggu kedatangan Musa, maka Musalah kelak yang akan memutuskannya menurut apa yang di­kehendakinya.

Kemudian datanglah Samiri, lalu ia melemparkan ke dalam galian itu segenggam tanah yang telah diambilnya dari bekas telapak (kuda) Malaikat Jibril.
Samiri meminta pula kepada Harun agar mendoakan kepada Allah subhanahu wa ta’ala semoga Allah memperkenankan suatu permintaannya.
Harun berdoa kepada Allah, memohon perkenan bagi Samiri, sedangkan ia sendiri tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh Samiri.
Doa Harun diterima oleh Allah, lalu Samiri berkata saat itu juga, “Saya memohon kepada Allah agar apa yang saya lemparkan itu menjadi anak lembu.” Dan jadilah anak lembu yang dimintanya itu sekaligus ada suaranya.
Hal ini terjadi sebagai istidraj, penangguhan azab, ujian, dan cobaan dari Allah kepadanya.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

dan demikian pula Samiri melemparkannya, kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lubang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara.
(Q.S. Thaa haa [20]: 87-88)


Kata Pilihan Dalam Surah Thaa Haa (20) Ayat 87

AWZAAR
أَوْزَار

Lafaz awzaar adalah jamak dari al wizr, artinya dosa, muatan yang berat, senjata, profesi, salah, beban. Awzaar al ­harb maknanya barangan-barangan perang dan alat-alatnya.

Ungkapan Wadaat al harb awzarha bermakna peperangan berakhir disebabkan kedua belah pihak yang berperang meletakkan senjata pada masa itu.

Kata awzaar disebut lima kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al An’aam (6), ayat 31;
-An Nahl (16), ayat 25;
-Tha Ha (20), ayat 87;
-Muhammad (47), ayat 4.

Makna lafaz awzaar dalam ayat Al Qur’an dapat diklasifikasikan kepada tiga makna.

Pertama, senjata atau beban-beban peperangan sebagaimana dalam surah Muhammad.

Mujahid berkata,
“Peperangan tetap berlanjut sehingga ‘Isa bin Maryam turun, seakan-akan ia mengambil kata-kata Rasulullah. “Satu golongan dari umatku tetap berada dalam kebenaran sehingga yang akhir dari mereka memerangi Dajjal.”

Qatadah berkata,
“Sehingga tidak ada lagi kesyirikan.”

Ulama lain berpendapat, “Sehingga orang yang memerangi umat Islam meletakkan beban dan senjata mereka supaya bertaubat kepada Allah.”

Asy Syawkani berkata,
Awzaar dalam ayat ini bermaksud beban-beban peperangan yang tidak berlaku perang kecuali dengannya, dari senjata dan kuda. Al wad’ disandarkan kepada orangnya adalah majaz atau kinayah.”

Diriwayatkan dari Al Hasan dan Ata’ keduanya berkata,
“Dalam ayat itu wujud taqdim dan ta’khir, maksudnya, “Maka pukullah leher-leher mereka sehingga orangnya meletakkan senjatanya.”

Kedua, bermakna beban dosa. Pengertian ini terdapat dalam surah Al An’aam dan An Nahl.

Asy Sabuni menafsirkan lafaz awzaar pada ayat ini, “mereka membawa beban dosa mereka di atas belakang mereka.”

Al Baidawi berkata,
“Ini adalah contoh bagi bentuk dosa yang mereka lakukan. Sebagaimana yang dijelaskan Ibn Katsir, mereka membawanya ke dalam neraka, seperti yang difahami dari riwayat yang lebih sahih dari Al Suddi’

Ketiga, bermakna perhiasan karena ia dikaitkan dengan min zinah. Makna ini terdapat dalam surah Tha Ha.

Al Qurtubi menafsirkannya dengan atsqaal (beban dan muatan) dari perhiasan dan mereka meminjamnya dari Fir’aun ketika keluar bersama Musa dan menggunakannya ketika hari perayaan atau perkawinan.

Ibn Qutaibah berkata,
“Ia bermakna ahmal (beban) dari perhiasan mereka.”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:90-91

Informasi Surah Thaa Haa (طه)
Surat Thaahaa terdiri atas 135 ayat, diturunkan sesudah diturunkannya surat Maryam, ter­masuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Surat ini dinamai “Thaahaa”,
diambil dari perkataan yang berasal dari ayat pertama surat ini.
Sebagaimana yang lazim terdapat pada surat-surat yang memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya, di mana huruf tersebut seakan-akan merupakan pemberitahuan Allah kepada orang-orang yang membacanya, bahwa sesudah huruf itu akan dikemukakan hal-hal yang sangat penting diketahui, maka demikian pula halnya dengan ayat-ayat yang terdapat sesudah huruf “thaahaa” dalam surat ini.
Allah menerangkan bahwa Al Qur’an merupakan peringatan bagi manusia, wahyu dari Allah, Pencipta semesta alam.
Kemudian Allah menerangkan kisah bebe­rapa orang nabi akibat-akibat yang telah ada akan dialami oleh orang-orang yang percaya ke­pada Allah dan orang-orang yang mengingkari-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.
Selain hal­ hal tersebut di atas, maka surat ini mengandung pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Al Qur’an adalah peringatan bagi manusia terutama bagi orang-orang yang ber­ takwa
Musa a.s. langsung menerima wahyu dari Allah, tanpa perantara Jibril
Allah bersemayam di atas ‘Arsy, mengetahui sesuatu yang samar dan yang lebih samar
ke­adaan orang berdosa dihimpunkan di hari kiamat
syafa ‘at tidak bermanfaa’at di hari kiamat, kecuali syafa’at dari orang-orang yang dapat izin dari Allah.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat dan keutamaan waktu-waktunya
kewajiban menyuruh keluarga melakukan shalat.

Kisah:

Kisah Musa a.s. dan Harun a.s. dalam menghadapi Fir’aun dan Bani Israil
kisah Nabi Adam a.s. dan iblis.

Lain-lain:

Perintah Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ supaya dia meminta tambahan ilmu kepada Allah sekalipun sudah menjadi rasul
Allah tidak akan mengazab sesuatu kaum sebelum diutus rasul kepada mereka
jangan terpengaruh oleh kesenangan kehidupan dunia.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Thaa-Haa (20) ayat 87 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Thaa-Haa (20) ayat 87 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Thaa-Haa (20) ayat 87 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Thaa-Haa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 135 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 20:87
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Thaa Haa.

Surah Ta Ha (Arab: طه , Tā-Hā, "Ta Ha") adalah surah ke-20 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 135 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.
Surah ini dinamai Ta Ha, diambil ayat pertama surah ini.
Sebagaimana juga yang lazim terdapat pada surah-surah yang memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya, di mana huruf tersebut seakan-akan merupakan pemberitahuan Allah kepada orang-orang yang membacanya, bahwa sesudah huruf itu akan dikemukakan hal-hal yang sangat penting diketahui, maka demikian pula halnya dengan ayat-ayat yang terdapat sesudah huruf Ta Ha dalam surah ini.
Allah menerangkan bahwa Al-Quran merupakan peringatan bagi manusia, wahyu dari Allah, Pencipta semesta alam.
Kemudian Allah menerangkan kisah beberapa nabi; akibat-akibat yang telah ada akan dialami oleh orang-orang yang percaya kepada Allah dan orang-orang yang mengingkari-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.

Nomor Surah 20
Nama Surah Thaa Haa
Arab طه
Arti Ta Ha
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 45
Juz Juz 16
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 135
Jumlah kata 1534
Jumlah huruf 5399
Surah sebelumnya Surah Maryam
Surah selanjutnya Surah Al-Anbiya
4.8
Ratingmu: 4.4 (20 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim