QS. Thaa Haa (Ta Ha) – surah 20 ayat 74 [QS. 20:74]

اِنَّہٗ مَنۡ یَّاۡتِ رَبَّہٗ مُجۡرِمًا فَاِنَّ لَہٗ جَہَنَّمَ ؕ لَا یَمُوۡتُ فِیۡہَا وَ لَا یَحۡیٰی
Innahu man ya’ti rabbahu mujriman fa-inna lahu jahannama laa yamuutu fiihaa walaa yahyaa;

Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam.
Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.
―QS. 20:74
Topik ▪ Neraka ▪ Nama-nama neraka ▪ Fenomena ketegangan permukaan bumi
20:74, 20 74, 20-74, Thaa Haa 74, ThaaHaa 74, Thoha 74, Thaha 74, Ta Ha 74

Tafsir surah Thaa Haa (20) ayat 74

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Thaa Haa (20) : 74. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa barang siapa datang kepada Tuhannya di akhirat kelak dalam keadaan berdosa, karena pada waktu ia berada di dunia ia ingkar, tidak mau percaya kepada ayat-ayat Allah.
dan banyak berbuat maksiat meninggalkan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya, ia akan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam.
la tidak akan mati di dalamnya dan ia terus menerus disiksa tidak berkesudahan dan tidak pula ia hidup dengan kehidupan yang baik, tidak merasakan nikmat.
Sejalan dengan ayat ini, firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahanam.
Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya.

(Q.S. Faathir [35]: 36)

Dan firman-Nya:

Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.
(Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka).
Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.

(Q.S. Al-A’la [87]: 11-12 dan 13)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya orang yang mati dalam keadaan kafir dan menemui Allah sebagai pelaku kejahatan, maka balasannya adalah neraka jahanam.
Ia tidak mati di dalamnya hingga terbebas dari siksaan, dan tidak pula hidup hingga dapat merasakan kenikmatan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Allah berfirman (Sesungguhnya barang siapa yang datang kepada Rabbnya dalam keadaan berdosa) yakni dalam keadaan kafir, sebagaimana Firaun (maka sesungguhnya baginya neraka Jahanam.

Ia tidak mati di dalamnya) sehingga ia dapat istirahat dari kepedihan azab (dan tidak pula hidup) dengan kehidupan yang layak dan bermanfaat bagi dirinya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya barangsiapa yang datang kepada Rabbnya dalam keadaan kafir kepada-Nya, maka ia mendapat Neraka Jahanam yang dengannya ia akan disiksa.
Ia tidak akan mati didalamnya sehingga bisa istirahat, dan tidak pula hidup dengan kehidupan yang bisa ia nikmati.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Makna lahiriah konteks ayat-ayat ini merupakan kelanjutan dari nasihat para ahli sihir kepada Fir’aun.
Mereka memperingatkan Fir’aun akan balasan Allah dan azab-Nya yang kekal lagi abadi, dan mereka memikat Fir’aun dengan janji pahala-Nya yang juga kekal dan abadi.
Untuk itu mereka berkata:

Sesungguhnya barang siapa yang datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa.

Maksudnya, dia menghadap kepada Allah kelak di hari kiamat dalam keadaan berlumuran dengan dosa.

maka sesungguhnya baginya neraka Jahanam.
Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.

Ayat ini semakna dengan ayat lain yang disebutkan oleh firman-Nya:

Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya.
Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir.
(Q.S. Faathir [35]: 36)

orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.
(Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka).
Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.
(Q.S. Al-A’la [87]: 11-13)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Mereka berseru, “Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.” Dia menjawab, “Kalian akan tetap tinggal (di neraka ini).” (Q.S. Az-Zukhruf [43]: 77)

Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Yazid, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa’id Al-Khudri yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Adapun ahli neraka yang merupakan penghuni tetapnya, maka sesungguhnya mereka tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.
Tetapi orang-orang yang dikenai oleh api neraka disebabkan dosa-dosa mereka, maka neraka mematikan mereka dengan sebenar-benarnya, hingga manakala mereka telah menjadi arang, maka diberikanlah izin untuk beroleh syafaat, dan mereka dientaskan dari neraka secara bergolong-golong, lalu mereka dilemparkan ke dalam sungai-sungai surga, dan dikatakan kepada mereka, “Hai penghuni surga, bertolaklah kalian untuk menyambut mereka, “Maka mereka tumbuh (muncul dari sungai-sungai surga itu) bagaikan tumbuhnya bebijian di tanah bekas berlalunya banjir.
Seorang lelaki dari kalangan orang-orang yang hadir berkata bahwa seakan-akan Rasulullah ﷺ (mengungkapkan perumpamaan tersebut) berada di daerah pedalaman.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya melalui Syu’bah dan Bisyr ibnul Mufaddal, keduanya dari Abu Salamah Sa’id ibnu Yazid dengan sanad yang sama.

Ibnu Abu Hatim telah menyebutkan suatu riwayat dari Abul Waris ibnu Abdus Samad ibnu Abdul Waris, bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hibban, ia telah mendengar Sulaiman At-Taimi menceritakan hadis berikut dari Abu Nadrah, dari Abu Sa’id, bahwa Rasulullah ﷺ berkhotbah.
Dalam khotbahnya sampai pada firman-Nya:

Sesungguhnya barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahanam.
Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: Adapun ahli neraka yang merupakan penduduk tetapnya, maka mereka tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup.
Adapun orang-orang yang bukan penghuni tetapnya, maka neraka membakar mereka, kemudian berdirilah orang-orang yang memberi syafaat, maka mereka memberikan pertolongan syafaatnya.
Lalu dijadikanlah mereka bergolong-golong (dientaskan dari neraka) dan dilemparkan ke dalam sebuah sungai yang disebut Sungai Kehidupan, maka mereka tumbuh (muncul) darinya sebagaimana munculnya rerumputan di tempat (bekas) mengalirnya banjir.


Informasi Surah Thaa Haa (طه)
Surat Thaahaa terdiri atas 135 ayat, diturunkan sesudah diturunkannya surat Maryam, ter­masuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Surat ini dinamai “Thaahaa”,
diambil dari perkataan yang berasal dari ayat pertama surat ini.
Sebagaimana yang lazim terdapat pada surat-surat yang memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya, di mana huruf tersebut seakan-akan merupakan pemberitahuan Allah kepada orang-orang yang membacanya, bahwa sesudah huruf itu akan dikemukakan hal-hal yang sangat penting diketahui, maka demikian pula halnya dengan ayat-ayat yang terdapat sesudah huruf “thaahaa” dalam surat ini.
Allah menerangkan bahwa Al Qur’an merupakan peringatan bagi manusia, wahyu dari Allah, Pencipta semesta alam.
Kemudian Allah menerangkan kisah bebe­rapa orang nabi akibat-akibat yang telah ada akan dialami oleh orang-orang yang percaya ke­pada Allah dan orang-orang yang mengingkari-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.
Selain hal­ hal tersebut di atas, maka surat ini mengandung pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Al Qur’an adalah peringatan bagi manusia terutama bagi orang-orang yang ber­ takwa
Musa a.s. langsung menerima wahyu dari Allah, tanpa perantara Jibril
Allah bersemayam di atas ‘Arsy, mengetahui sesuatu yang samar dan yang lebih samar
ke­adaan orang berdosa dihimpunkan di hari kiamat
syafa ‘at tidak bermanfaa’at di hari kiamat, kecuali syafa’at dari orang-orang yang dapat izin dari Allah.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat dan keutamaan waktu-waktunya
kewajiban menyuruh keluarga melakukan shalat.

Kisah:

Kisah Musa a.s. dan Harun a.s. dalam menghadapi Fir’aun dan Bani Israil
kisah Nabi Adam a.s. dan iblis.

Lain-lain:

Perintah Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ supaya dia meminta tambahan ilmu kepada Allah sekalipun sudah menjadi rasul
Allah tidak akan mengazab sesuatu kaum sebelum diutus rasul kepada mereka
jangan terpengaruh oleh kesenangan kehidupan dunia.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Thaa-Haa (20) ayat 74 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Thaa-Haa (20) ayat 74 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Thaa-Haa (20) ayat 74 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Thaa-Haa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 135 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 20:74
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Thaa Haa.

Surah Ta Ha (Arab: طه , Tā-Hā, "Ta Ha") adalah surah ke-20 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 135 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.
Surah ini dinamai Ta Ha, diambil ayat pertama surah ini.
Sebagaimana juga yang lazim terdapat pada surah-surah yang memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya, di mana huruf tersebut seakan-akan merupakan pemberitahuan Allah kepada orang-orang yang membacanya, bahwa sesudah huruf itu akan dikemukakan hal-hal yang sangat penting diketahui, maka demikian pula halnya dengan ayat-ayat yang terdapat sesudah huruf Ta Ha dalam surah ini.
Allah menerangkan bahwa Al-Quran merupakan peringatan bagi manusia, wahyu dari Allah, Pencipta semesta alam.
Kemudian Allah menerangkan kisah beberapa nabi; akibat-akibat yang telah ada akan dialami oleh orang-orang yang percaya kepada Allah dan orang-orang yang mengingkari-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.

Nomor Surah20
Nama SurahThaa Haa
Arabطه
ArtiTa Ha
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu45
JuzJuz 16
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat135
Jumlah kata1534
Jumlah huruf5399
Surah sebelumnyaSurah Maryam
Surah selanjutnyaSurah Al-Anbiya
4.7
Ratingmu: 4.7 (21 orang)
Sending









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di




Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta