QS. Thaa Haa (Ta Ha) – surah 20 ayat 47 [QS. 20:47]

فَاۡتِیٰہُ فَقُوۡلَاۤ اِنَّا رَسُوۡلَا رَبِّکَ فَاَرۡسِلۡ مَعَنَا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ وَ لَا تُعَذِّبۡہُمۡ ؕ قَدۡ جِئۡنٰکَ بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ وَ السَّلٰمُ عَلٰی مَنِ اتَّبَعَ الۡہُدٰی
Fa’tiyaahu faquulaa innaa rasuulaa rabbika fa-arsil ma’anaa banii israa-iila walaa tu’adz-dzibhum qad ji-anaaka biaayatin min rabbika wassalaamu ‘ala maniittaba’al hud(a);

Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dan katakanlah:
“Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka.
Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu.
Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.
―QS. 20:47
Topik ▪ Iman ▪ Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat ▪ Kekufuran manusia akan nikmat Allah
20:47, 20 47, 20-47, Thaa Haa 47, ThaaHaa 47, Thoha 47, Thaha 47, Ta Ha 47

Tafsir surah Thaa Haa (20) ayat 47

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Thaa Haa (20) : 47. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini, sekali lagi Allah memerintahkan supaya Musa dan Harun ‘alaihis salam pergi saja kepada Firaun dan memberitahukan bahwa mereka berdua adalah Rasul Allah yang diutus kepadanya untuk menyampaikan tugas risalah supaya Firaun mengetahui kedudukan dan tugas keduanya.
Sebelum Musa dan Harun mengajak Firaun beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala, lebih dahulu minta kepadanya, supaya dia membebaskan Bani Israil dari penyiksaan dan penindasannya, membebaskan dari bekerja berat, seperti menggali, membangun, mengangkat batu, baik laki-laki maupun perempuan.
karena ini adalah lebih mudah dan ringan dibandingkan kalau diminta untuk menukar akidahnya yang sesat, dengan beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala, juga supaya Firaun membiarkan kaumnya pergi ke Palestina.
Sesudah itu barulah Musa dan Harun ‘alaihis salam menjelaskan tugas kewajiban dari Allah subhanahu wa ta’ala bahwa keduanya datang untuk menjelaskan hujah-hujah dan bukti-bukti yang nyata atas kebenaran kerasulan mereka.
Dan kebahagiaan serta kesejahteraan di dunia dan di akhirat bagi orang-orang yang taat kepada Rasul-rasul Allah dan mempercayai tanda-tanda kekuasaan-Nya, serta menjauhi hal-hal yang buruk dan menyesatkan.
Ucapan seperti tersebut tadi telah dipergunakan juga oleh junjungan Nabi Besar Muhammad ﷺ.
ketika mengirim surat berisi dakwah ke Heraclius raja Rumawi, katanya:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang dari Muhammad Rasulullah ﷺ kepada Heraclius! penguasa negeri Rum.
Keselamatan dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.
Adapun sesudah itu, sesungguhnya saya menyerumu kepada Islam.
Anutlah agama Islam supaya engkau selamat.
Allah akan memberimu pahala dua kali lipat”.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun dan katakan kepadanya, ‘Sesunguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu.
Kami datang untuk mengajakmu beriman kepada-Nya, dan melepaskan Bani Israil serta tidak menyiksa mereka.
Kami membawa mukjizat dari Allah sebagai bukti kebenaran apa yang kami serukan kepadamu.
Barangsiapa mengikuti petunjuk Allah, maka ia akan terjaga dari siksa dan murka-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka datanglah kamu berdua kepadanya dan katakanlah, ” Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Rabbmu, maka lepaskanlah Bani Israel bersama kami) untuk berangkat ke negeri Syam (dan janganlah kamu menyiksa mereka) lepaskanlah mereka dari perbudakanmu yang telah kamu pekerjakan dengan kerja-kerja yang berat seperti menggali, membangun bangunan dan mengangkat barang-barang yang berat.

(Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti) yakni hujah (dari Rabbmu) yang membenarkan kerasulan kami.

(Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk) keselamatan dari azab bagi orang yang mengikutinya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Pergilah kepadanya dan katakan kepadanya :
Sesungguhnya kami adalah utusan Rabbmu, maka bebaskanlah Bani Israil, dan jangan membebani mereka dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak sanggup mereka lakukan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Dalam hadis yang menceritakan tentang fitnah-fitnah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas telah disebutkan bahwa Musa dan Harun tinggal beberapa lama di depan pintu istana Fir’aun tanpa diberi izin untuk masuk, sesudah itu keduanya diperbolehkan masuk setelah melewati berbagai macam rintangan yang keras.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar mengatakan bahwa Musa dan saudaranya Harun berangkat menemui Fir’aun, lalu keduanya berhenti di depan pintu istana Fir’aun untuk meminta izin agar keduanya di­perbolehkan masuk menemuinya.
Keduanya mengatakan, “Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhan semesta alam, maka izinkanlah kami masuk untuk menemui Fir’aun.”

Menurut berita yang sampai kepadaku, keduanya tinggal selama dua tahun pulang dan pergi ke pintu istana tanpa diberi izin untuk masuk.
Tiada seorang pun dari kalangan penjaga pintu istananya yang berani melapor kepada Fir’aun tentang kedatangan keduanya.

Sehingga akhirnya masuklah menemui Fir’aun seorang pelawak yang selalu menghiburnya dan membuatnya tertawa, lalu pelawak itu berkata kepadanya, “Wahai Raja, sesungguhnya di depan pintu istanamu terdapat seorang lelaki yang mengatakan kalimat-kalimat yang menakjubkan.
Dia menduga bahwa dirinya mempunyai Tuhan selain engkau yang menyuruhnya untuk menghadap kepadamu.” Fir’aun berkata, meminta ketegasan, “Apakah benar ia telah berada di depan pintu istanaku?”
Si pelawak menjawab, “Ya (tadi saya melihatnya ketika masuk).” Maka Fir’aun berkata memberikan perintah, “Izinkanlah dia masuk.”

Maka masuklah Musa bersama Harun ke dalam istana.
Musa saat itu memegang tongkatnya.
Setelah keduanya berdiri di hadapan Fir’aun, Musa berkata membuka pembicaraan, “Sesungguhnya aku adalah utusan Tuhan semesta alam,” maka Fir’aun mengenalinya.

As-Saddi menceritakan bahwa ketika Musa tiba di negeri Mesir, terlebih dahulu ia bertamu ke rumah ibunya dan saudaranya, sedangkan keduanya tidak mengenalinya.
Hidangan makan keduanya pada malam itu adalah makanan taf’i, kemudian keduanya mengenalinya, lalu menyalaminya.
Musa berkata kepada saudaranya, “Hai Harun, sesungguhnya Tuhanku telah memerintahkan kepadaku agar mendatangi Fir’aun ini, lalu menyerunya untuk menyembah Allah, dan Allah memerintahkan kepadaku agar kamu membantuku.”

Harun menjawab, “Kerjakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Tuhanmu.” Maka keduanya berangkat, saat itu hari telah malam, lalu Musa mengetuk pintu istana Fir’aun dengan tongkatnya, dan Fir’aun mendengarnya (karena suaranya sangat keras).
Fir’aun sangat marah, lalu berkata, “Siapakah orang yang berani melakukan perbuatan yang kurang ajar ini terhadap diriku?”
Maka para penjaga pintu istana melaporkan bahwa di depan pintu terdapat seorang lelaki yang gila, mengatakan bahwa dirinya adalah utusan Allah.
Maka Fir’aun memerintahkan agar Musa dibawa menghadap kepadanya.
Setelah Musa berada di hadapan Fir’aun, maka Musa dan saudaranya (Harun) mengatakan kepada Fir’aun hal-hal yang telah disebutkan oleh Allah di dalam Kitab-Nya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu.

Yakni bukti dan mukjizat dari Tuhanmu yang membenarkan kerasulan kami.

Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.

Maksudnya, keselamatan semoga dilimpahkan kepadamu jika kamu mengikuti petunjuk.
Karena itulah ketika Rasulullah ﷺ berkirim surat kepada Heraklius (Kaisar Romawi), di permulaan suratnya beliau menyebutkan:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dari Muhammad, utusan Allah, ditujukan kepada Heraklius (pembesar Romawi) “Kesejahteraan semoga terlimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.
Amma Ba’du, sesungguhnya aku mengajakmu kepada seruan Islam, masuk Islamlah, niscaya engkau selamat.
Allah pasti memberimu pahala dua kali lipat.”

Begitu pula ketika Musailamah berkirim surat kepada Rasulullah ﷺ yang teksnya berbunyi seperti berikut, “Dari Musailamah kepada Rasulullah, semoga keselamatan terlimpahkan kepadamu.
Amma Ba’du, sesungguh­nya aku menyaingimu dalam urusan ini.
Maka bagimu adalah daerah perkotaan, sedangkan bagiku adalah daerah perkampungan (pedalaman), tetapi orang-orang Quraisy adalah kaum yang melampaui batas.” Maka Rasulullah ﷺ menjawab suratnya yang isinya seperti berikut:

Dari Muhammad, utusan Allah, ditujukan kepada Musailamah Al-Kazzab, semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk.
Amma Ba’du, sesungguhnya bumi itu adalah milik Allah, Dia mewariskannya (memberikannya) kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, dan akibat yang terpuji itu hanyalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Karena itulah Musa dan Harun berkata kepada Fir’aun, seperti yang dikisahkan oleh Firman-Nya:

Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.
Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.
(Q.S. Thaa haa [20]: 47-48)

Dengan kata lain, Musa bermaksud bahwa Allah telah menceritakan kepada kami di antara wahyu yang diturunkan-Nya kepada kami, bahwa azab itu akan ditimpakan khusus kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling dari ketaatan kepada-Nya.
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).
(Q.S. An-Nazi’at [79]: 37-39)

Maka Kami memperingatkan kalian dengan neraka yang menyala-nyala.
Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).
(Q.S. Al-Lail [92]: 14-16)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al-Qur’an) dan tidak mau mengerjakan salat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran).
(Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 31-32)


Informasi Surah Thaa Haa (طه)
Surat Thaahaa terdiri atas 135 ayat, diturunkan sesudah diturunkannya surat Maryam, ter­masuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Surat ini dinamai “Thaahaa”,
diambil dari perkataan yang berasal dari ayat pertama surat ini.
Sebagaimana yang lazim terdapat pada surat-surat yang memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya, di mana huruf tersebut seakan-akan merupakan pemberitahuan Allah kepada orang-orang yang membacanya, bahwa sesudah huruf itu akan dikemukakan hal-hal yang sangat penting diketahui, maka demikian pula halnya dengan ayat-ayat yang terdapat sesudah huruf “thaahaa” dalam surat ini.
Allah menerangkan bahwa Al Qur’an merupakan peringatan bagi manusia, wahyu dari Allah, Pencipta semesta alam.
Kemudian Allah menerangkan kisah bebe­rapa orang nabi akibat-akibat yang telah ada akan dialami oleh orang-orang yang percaya ke­pada Allah dan orang-orang yang mengingkari-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.
Selain hal­ hal tersebut di atas, maka surat ini mengandung pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Al Qur’an adalah peringatan bagi manusia terutama bagi orang-orang yang ber­ takwa
Musa a.s. langsung menerima wahyu dari Allah, tanpa perantara Jibril
Allah bersemayam di atas ‘Arsy, mengetahui sesuatu yang samar dan yang lebih samar
ke­adaan orang berdosa dihimpunkan di hari kiamat
syafa ‘at tidak bermanfaa’at di hari kiamat, kecuali syafa’at dari orang-orang yang dapat izin dari Allah.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat dan keutamaan waktu-waktunya
kewajiban menyuruh keluarga melakukan shalat.

Kisah:

Kisah Musa a.s. dan Harun a.s. dalam menghadapi Fir’aun dan Bani Israil
kisah Nabi Adam a.s. dan iblis.

Lain-lain:

Perintah Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ supaya dia meminta tambahan ilmu kepada Allah sekalipun sudah menjadi rasul
Allah tidak akan mengazab sesuatu kaum sebelum diutus rasul kepada mereka
jangan terpengaruh oleh kesenangan kehidupan dunia.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Thaa-Haa (20) ayat 47 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Thaa-Haa (20) ayat 47 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Thaa-Haa (20) ayat 47 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Thaa-Haa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 135 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 20:47
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Thaa Haa.

Surah Ta Ha (Arab: طه , Tā-Hā, "Ta Ha") adalah surah ke-20 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 135 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.
Surah ini dinamai Ta Ha, diambil ayat pertama surah ini.
Sebagaimana juga yang lazim terdapat pada surah-surah yang memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya, di mana huruf tersebut seakan-akan merupakan pemberitahuan Allah kepada orang-orang yang membacanya, bahwa sesudah huruf itu akan dikemukakan hal-hal yang sangat penting diketahui, maka demikian pula halnya dengan ayat-ayat yang terdapat sesudah huruf Ta Ha dalam surah ini.
Allah menerangkan bahwa Al-Quran merupakan peringatan bagi manusia, wahyu dari Allah, Pencipta semesta alam.
Kemudian Allah menerangkan kisah beberapa nabi; akibat-akibat yang telah ada akan dialami oleh orang-orang yang percaya kepada Allah dan orang-orang yang mengingkari-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.

Nomor Surah 20
Nama Surah Thaa Haa
Arab طه
Arti Ta Ha
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 45
Juz Juz 16
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 135
Jumlah kata 1534
Jumlah huruf 5399
Surah sebelumnya Surah Maryam
Surah selanjutnya Surah Al-Anbiya
4.4
Ratingmu: 4.4 (8 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta