QS. Shaad (Shaad) – surah 38 ayat 35 [QS. 38:35]

قَالَ رَبِّ اغۡفِرۡ لِیۡ وَ ہَبۡ لِیۡ مُلۡکًا لَّا یَنۡۢبَغِیۡ لِاَحَدٍ مِّنۡۢ بَعۡدِیۡ ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ
Qaala rabbiighfir lii wahab lii mulkan laa yanbaghii ahadin min ba’dii innaka antal wahhaab(u);

Ia berkata:
“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”.
―QS. 38:35
Topik ▪ Para rasul diutus untuk memberi petunjuk
38:35, 38 35, 38-35, Shaad 35, Shaad 35, Shad 35, Sad 35

Tafsir surah Shaad (38) ayat 35

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Shaad (38) : 35. Oleh Kementrian Agama RI

Sesudah itu Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa setelah Sulaiman sembuh dari sakitnya, ia menyadari kelemahan yang ada pada dirinya.
Ia telah memilih yang kurang penting.
Dia telah kehilangan waktu yang utama untuk melakukan ibadah karena menyaksikan latihan kuda.

Lalu Nabi Sulaiman berdoa kepada Allah agar dianugerahi kerajaan yang tidak ada tandingannya, yang tak akan dimiliki oleh seorang jua pun sesudahnya.

Nabi Sulaiman dibesarkan dalam lingkungan kerajaan dan kenabian.
Sejak kecilnya ia terlatih sebagai seorang anak dari seorang raja dan Nabi.
Maka ia pun mewarisi kemampuan sebagai raja dan sebagai Nabi.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan kepada Sulaiman kemampuan menjadi raja dan sekaligus menjadi Nabi.
Itulah sebabnya maka Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan kepadanya kerajaan yang sangat kuat dan kekayaan yang berlimpah ruah, yang sukar dicari tandingannya.

Di akhir ayat Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan alasan yang dikemukakan Sulaiman dalam doanya yaitu karena Allah subhanahu wa ta’ala benar-benar akan mengabulkan doa setiap orang yang disertai usaha dan syarat kemampuan yang dimiliki sesuai dengan kehendak-Nya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sulaiman berdoa kepada Tuhannya sambil bertobat, “Ya Tuhanku, ampunilah segala apa yang telah aku lakukan dan berikanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi lagi banyak karunia-Nya.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Ia berkata, “Ya Rabbku! Ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut dimiliki) maksudnya, belum pernah dimiliki
(oleh seorang jua pun sesudahku) artinya, yang tidak layak dimiliki oleh orang selainku.

Pengertian ungkapan ini sama dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya yang lain, yaitu, ‘Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah?’
(Q.S. Al-Jatsiyah, 23)
yakni selain Allah
(sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kemudian Sulaiman pun kembali kepada Rabbnya dan bertaubat. Dia berkata : Ya Rabbku, ampunilah dosaku dan berikanlah keadaku kerajaan yang besar yang tidak akan dimiliki oleh seorang pun sesudahku, sesungguhnya Engkau Maha memberi lagi Mahadermawan. Maka Kami pun mengabulkan permintaannya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Ia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudah-ku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (Q.S. Shaad [38]: 35)

Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa makna ayat ini ialah kerajaan yang tidak layak bagi seseorang merebutnya dariku sesudahku, seperti yang pernah terjadi dalam kasus setan jahat yang menguasai singgasana­nya itu.
Dan bukan berarti Nabi Sulaiman menghalang-halangi orang-orangyang sesudahnya untuk mempunyai hal yang serupa dengan miliknya.

Akan tetapi, pendapat yang sahih mengatakan bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihis salam memohon kepada Allah suatu kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang manusia pun sesudahnya.
Pengertian inilah yang terbaca dari makna lahiriah konteks ayat, dan pengertian ini pulalah yang disebutkan di dalam hadis-hadis sahih melalui berbagai jalur dari Rasulullah ﷺ

Imam Bukhari sehubungan dengan tafsir ayat ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Rauh dan Muhammad ibnu Ja’far, dari Syu’bah, dari Muhammad ibnu Ziad, dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya pernah ada Ifrit dari jin yang menampakkan dirinya kepadaku tadi malam —atau ungkapan yang semisal— untuk memutuskan salat yang sedang kukerjakan.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kekuasaan kepadaku terhadapnya, dan aku berniat akan mengikatnya di salah satu tiang masjid hingga pagi hari, lalu kalian semua dapat melihatnya.
Tetapi aku teringat akan ucapan saudaraku Sulaiman ‘alaihis salam yang telah mengatakan, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku.” ( 38: 35).
Rauh mengatakan bahwa lalu Nabi ﷺ melepaskannya kembali dalam keadaan terhina.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Nasai melalui Syu’bah dengan sanad yang sama.

Imam Muslim mengatakan di dalam kitab sahihnya, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salamah Al-Muradi, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Wahb, dari Mu’awiyah ibnu Saleh, telah menceritakan kepadaku Rabi’ah ibnu Yazid, dari Abu Idris Al-Khaulani, dari Abu Darda r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ berdiri mengerjakan salatnya, lalu kami dengar beliau mengucapkan: Aku berlindung kepada Allah dari godaanmu —kemudian beliau mengucapkan pula— aku laknat engkau dengan laknat Allah.
sebanyak tiga kali seraya mengulurkan tangannya seakan-akan seperti seseorang yang akan menangkap sesuatu.
Setelah selesai dari salatnya, kami bertanya “Wahai Rasulullah, kami mendengar engkau mengucapkan sesuatu dalam salatmu yang belum pernah kami dengar engkau mengucapkannya sebelum itu, dan kami lihat engkau mengulurkan tanganmu?”
Maka Rasulullah ﷺ menjawab: Sesungguhnya iblis musuh Allah, datang dengan membawa obor api yang akan dia sundutkan ke mukaku, maka aku berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari godaanmu,” sebanyak tiga kali.
Kemudian kukatakan pula, “Aku laknat engkau dengan laknat Allah yang sempurna, ” sebanyak tiga kali pula, tetapi ia tidak mau mundur.
Kemudian aku bermaksud untuk menangkapnya, tetapi demi Allah, seandainya tidak ada doa saudara kami Sulaiman, tentulah ia telah terikat di pagi harinya, dapat dijadikan main-mainan oleh anak-anak Madinah.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Maisarah ibnu Ma’bad, telah menceritakan kepada kami Abu Ubaid pengawal Sulaiman yang telah mengatakan bahwa ia melihat Ata ibnu Yazid Al-Laisi sedang berdiri mengerjakan salatnya lalu ia bermaksud untuk lewat di hadapannya, maka Ata menolakku.
Seusai salatnya Ata mengatakan, telah menceritakan kepadanya Abu Sa’id Al-Khudri r.a.
bahwa Rasulullah ﷺ berdiri mengerjakan salat Subuh, sedangkan Abu Sa’id bermakmum di belakang beliau ﷺ Dan Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur’an, lalu mengalami gangguan dalam bacaannya itu.
Setelah usai dari salatnya, beliau.
ﷺ bersabda: Seandainya kalian melihatku dan iblis (tentulah kalian akan menyaksikan pemandangan yang hebat), aku serang dia dengan tanganku dan aku masih terus-menerus mencekik lehernya sehingga aku merasakan air liurnya yang sejuk mengenai kedua jariku ini —jari telunjuk dan jari penengah- Seandainya tidak ada doa dari saudaraku Sulaiman, tentulah sampai pagi hari ia dalam keadaan terikat di salah satu tiang masjid dan dapat dijadikan mainan oleh anak-anak Madinah.
Maka barang siapa di antara kalian yang mampu agar jangan ada seorang pun yang menghalang-halangi antara dia dan arah kiblat, hendaklah ia melakukan (hal yang serupa).

Imam Abu Daud telah meriwayatkan sebagian darinya, yaitu:

Barang siapa di antara kalian yang mampu agar jangan ada seorang pun yang menghalang-halangi antara dia dan arah kiblat, hendaklah ia melakukannya.

Ia meriwayatkannya dari Ahmad ibnu Abu Sarih, dari Abu Ahmad Az-Zubairi dengan sanad yang sama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhammad Al-Fazzari, telah menceritakan kepada kami Al-Auza’i, telah menceritakan kepadaku Rabi’ah ibnu Yazid ibnu Abdullah Ad-Dailami yang menceritakan bahwa ia masuk menemui Abdullah ibnu Amr r.a.
yang saat itu sedang berada di sebuah kebun miliknya di Taif, yang dikenal dengan nama Al-Waht, dalam rangka mengepung (mengejar) seorang pemuda Quraisy yang telah berzina dan meminum khamr.
Ia (Rabi’ah ibnu Yazid ibnu Abdullah Ad-Dailami) mengatakan kepada Abdullah ibnu Amr r.a.
bahwa telah sampai kepadanya suatu hadis bersumber dari dia yang menyebutkan: Barang siapa yang meminum seteguh khamr, Allah tidak akan menerima tobatnya selama empat puluh hari.
Dan sesungguhnya orang yang celaka itu telah ditakdirkan celaka sejak ia berada di dalam perut ibunya.
Dan bahwa barang siapa yang menziarahi Baitul Maqdis dengan tujuan tiada lain kecuali hanya melakukan salat di dalamnya, terbebaslah ia dari kesalahannya seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.
Ketika pemuda itu mendengar khamr disebut-sebut, maka ia menarik tangannya dari tangan Abdullah ibnu Amr (yang telah menangkapnya), lalu kabur.
Dan Abdullah ibnu Amr r.a.
mengatakan bahwa sesungguhnya ia tidak memperkenankan bagi seorang pun untuk mengatakan atas nama dirinya sesuatu yang belum pernah ia katakan, bahwa dirinya pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Barang siapa yang meminum seteguk khamr.
salatnya tidak diterima selama empat puluh hari.
Dan jika ia bertobat, Allah menerima tobatnya.
Dan jika dia mengulangi perbuatannya, tidak diterima salatnya selama empat puluh hari.
Dan jika ia bertobat, Allah menerima tobatnya.
Perawi mengatakan bahwa ia tidak ingat lagi apakah Abdullah ibnu Amr mengatakan hal ini sebanyak tiga kali ataukah empat kali, lalu ia mengatakan: Dan jika ia kembali lagi kepada perbuatannya, maka sudah menjadi kepastian baginya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberinya minuman dari tinatul khabal (keringat ahli neraka) kelak di hari kiamat.
Kemudian Abdullah ibnu Amr mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan, kemudian melemparkan kepada mereka sebagian dari cahaya-Nya.
Maka barang siapa yang terkena oleh cahaya-Nyapada hari itu, niscaya mendapat petunjuk.
Dan barang siapa yang terlewatkan darinya, niscaya sesat.
Karena itu aku katakan, “Qalam telah kering untuk mengimbangi ilmu Allah subhanahu wa ta’ala” Abdullah ibnu Amr mengatakan pula bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya Sulaiman ‘alaihis salam pernah memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala tiga perkara, maka Allah memberinya dua perkara, dan kami berharap semoga yang ketiga itu diberikan kepada kami.
Sulaiman memohon kepada Allah hukum yang sesuai dengan hukum Allah, maka Allah memberinya.
Dan Sulaiman memohon kepada Allah sebuah kerajaan yang tidak patut dimiliki oleh seorang pun sesudahnya, maka Allah memberinya.
Dan permintaan yang ketiga ialah Sulaiman memohon kepada Allah bahwa barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan tujuan tiada lain kecuali melakukan salat di masjid ini (Masjidil Aqsa), maka bersihlah dia dari kesalahannya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.
Dan kami berharap semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kepada kami permintaan yang ketiga ini.

Bagian yang terakhir dari hadis ini telah diriwayatkan pula oleh Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah melalui berbagai jalur dari Abdullah ibnu Fairuz Ad-Dailami, dari Abdullah ibnu Amr r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesunguhnya Sulaiman ‘alaihis salam setelah membangun Baitul Maqdis memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala tiga perkara, (hingga akhir hadis)

Telah diriwayatkan pula melalui hadis Rafi’ ibnu Umair r.a.
dengan sanad dan konteks yang kedua-duanya garib.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Hasan ibnu Qutaibah Al-Asqalani, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ayyub ibnu Suwaid, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Abu Ablah, dari Abuz Zahiriyah, dari Rafi’ ibnu Umair yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan kisah berikut: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Daud a.s, “Buatkanlah sebuah rumah (peribadatan) untuk-Ku di bumi.
Maka Daud ‘alaihis salam membangun sebuah rumah ibadah untuk dirinya sebelum membangun bait (rumah ibadah) yang di perintahkan agar ia membangunnya.
Maka Allah menurunkan wahyu kepadanya, “Hai Daud, engkau telah bangun rumah peribadatan untukmu sebelum engkau bangun rumah peribadatan untuk-Ku.” Daud menjawab, “Wahai Tuhanku, memang ini menurut naluriku sebagai seorang raja yang egois.” Kemudian Daud membangun masjid yang dimaksud, dan setelah temboknya berdiri ambruk —hal ini terjadi tiga kali— akhirnya Daud mengadu kepada Allah subhanahu wa ta’ala Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Hai Daud, sesunguhnya kamu tidak layak untuk membangun rumah (peribadatan) untuk-Ku.” Daud bertanya’, “Mengapa, wahai Tuhanku?”
Allah subhanahu wa ta’ala menjawab, Karena banyak darah yang dialirkan oleh kedua tanganmu.” Daud berkata, “Wahai Tuhanku, bukankah hal itu terjadi demi kecintaan dan kesukaanku kepada Engkau?”
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Bukan begitu, tetapi mereka juga adalah hamba-hamba-Ku, Aku kasihan kepada mereka.” Maka hal tersebut memberatkan Daud, lalu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman melalui wahyu-Nya, “Janganlah engkau bersedih hati, karena sesungguhnya Aku telah menetapkan pembangunannya di tangan anak laki-lakimu, yaitu Sulaiman.” Setelah Daud ‘alaihis salam meninggal dunia, putranya (Sulaiman) membangun masjid tersebut.
Setelah pembangunan masjid selesai, Sulaiman menghadiah­kan kurban dan menyembelih banyak hewan sembelihan, lalu ia mengumpulkan semua kaum Bani Israil.
Maka Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Sulaiman, “Aku telah melihat kegembiraanmu dengan selesainya perhbangunan bait-Ku, maka mintalah kepada-Ku, Aku akan memberimu.” Sulaiman berkata, “Aku memohon kepada-Mu tiga perkara, yaitu hukum yang sesuai dengan hukum-Mu, kerajaan yang tidak layak dimiliki oleh seorang pun sesudahku, dan barang siapa yang datang ke masjid ini dengan niat tiada lain kecuali melakukan salat di dalamnya, maka bersihlah ia dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Adapun yang dua perkara Sulaiman telah diberinya, dan aku berharap semoga yang ketiga itu diberikan kepadaku.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Rasyid Al-Yamami, telah menceritakan kepada kami Iyas ibnu Salamah ibnul Akwa, dari ayahnya yang mengatakan bahwa tidak sekali-kali ia mendengar Rasulullah ﷺ berdoa melainkan membukanya dengan bacaan: Mahasuci Allah, Tuhanku Yang Mahatinggi, Yang Maha Tertinggi lagi Maha Pemberi.

Abu Ubaidah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sabit, dari Ja’far ibnu Barqan, dari Saleh ibnu Mismar yang menceritakan bahwa ketika Nabi Daud ‘alaihis salam meninggal dunia, Allah menurunkan wahyu kepada putranya (Sulaiman ‘alaihis salam), “Mintalah kepada-Ku keperluanmu.” Sulaiman menjawab, “Aku memohon kepada-Mu hendaklah Engkau jadikan kalbuku takut kepada Engkau sebagaimana kalbu ayahku.
Dan hendaklah Engkau jadikan kalbuku mencintai-Mu sebagaimana kalbu ayahku mencintai-Mu.” Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Aku telah mengirimkan utusan kepada hamba-Ku untuk menanyakan keperluannya, dan ternyata keperluannya ialah hendaklah Aku menjadikan kalbunya takut kepada-Ku dan menjadikannya cinta kepada-Ku.
Sungguh Aku benar-benar akan menganugerahkan kepadanya suatu kerajaan yang tidak layak dimiliki oleh seorang pun sesudahnya.” Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin berembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya.
(Q.S. Shaad [38]: 36) Dan ayat-ayat yang sesudahnya.

Saleh ibnu Mismar mengatakan bahwa lalu Allah memberi Sulaiman segala sesuatu yang Dia berikan kepadanya, sedangkan di akhirat tiada hisab atas diri Sulaiman terhadap semuanya itu.

Hal yang sama telah dikemukakan oleh Abul Qasim ibnu Asakir dalam autobiografi Sulaiman ‘alaihis salam yang ada di dalam kitab berikutnya.

Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa ia pernah mendengar kisah yang menyebutkan bahwa Daud ‘alaihis salam pernah berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah bagi Sulaiman sebagaimana yang telah Engkau berikan kepadaku.” Lalu Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Daud,” Katakanlah kepada Sulaiman, “Hendaknya dia menjadikan untuk-Ku sebagaimana yang telah engkau lakukan kepada-Ku, maka Aku akan menjadikannya sebagaimana apa yang telah Kulakukan bagimu.”


Informasi Surah Shaad (ص)
Surat Shaad terdiri atas 88 ayat termasuk golongan surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Qamar.

Dinamai dengan “Shaad” karena surat ini dimulai dengan “Shaad” (selanjutnya lihat no 10).

Dalam surat ini Allah bersumpah dengan Al Qur’an, untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an itu suatu kitab yang agung dan bahwa siapa saja yang mengikutinya akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat dan untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an ini adalah mu’jizat Nabi Muham­ mad s.a.
w.
yang menyatakan kebenarannya dan ketinggian akhlaknya.

Keimanan:

Dalil-dalil tentang kenabian Muhammad ﷺ yaitu bahwa dia mengetahui hal­ hal yang hanya dapat diketahui dengan jalan wahyu
sumpah iblis untuk menye­satkan manusia seluruhnya kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas
Al Qur’an diturunkan untuk menjadi pelajaran bagi jin dan manusia seluruhnya.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Daud a.s. dan kisah Sulaiman a.s.
kisah Ayyub a.s.

Lain-lain:

Kaum musyrikin tercengang mendengar pengakuan Nabi Muhammad ﷺ
bahwa Allah adalah Maha Esa
rahasia yang terdapat pada kejadian alam
pertengkaran antara orang-orang yang sesat dan pengikut mereka di neraka
ni’mat·ni’mat yang dilimpahkan kepada penduduk surga dan azab yang ditimpakan atas isi neraka

Ayat-ayat dalam Surah Shaad (88 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Shaad (38) ayat 35 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Shaad (38) ayat 35 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Shaad (38) ayat 35 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Shaad - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 88 & Terjemahan


Gambar

no images were found



Statistik Q.S. 38:35
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Shaad.

Surah Sad (Arab: ص , "Ṣad") adalah surah ke-38 dalam al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 88 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Qamar.
Dinamai dengan Sad karena surah ini dimulai dengan huruf Shaad.

Nomor Surah 38
Nama Surah Shaad
Arab ص
Arti Shaad
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 38
Juz Juz 23
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 88
Jumlah kata 735
Jumlah huruf 3061
Surah sebelumnya Surah As-Saffat
Surah selanjutnya Surah Az-Zumar
4.6
Ratingmu: 4.6 (8 orang)
Sending







Pembahasan ▪ arti shaad ▪ ashaad 35 ▪ fadhilah qs shaad 35 ▪ Khasiat Shaad: 35 ▪ QS SHAAD: 35 ▪ QS Shad: 35)

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta