QS. Shaad (Shaad) – surah 38 ayat 3 [QS. 38:3]

کَمۡ اَہۡلَکۡنَا مِنۡ قَبۡلِہِمۡ مِّنۡ قَرۡنٍ فَنَادَوۡا وَّ لَاتَ حِیۡنَ مَنَاصٍ
Kam ahlaknaa min qablihim min qarnin fanaadau walaata hiina manaashin;

Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri.
―QS. 38:3
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Hikmah dari kisah umat-umat terdahulu ▪ Nabi-nabi Bani Israel
38:3, 38 3, 38-3, Shaad 3, Shaad 3, Shad 3, Sad 3

Tafsir surah Shaad (38) ayat 3

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Shaad (38) : 3. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta’ala mengecam kesombongan dan permusuhan mereka dengan menjelaskan bahwa betapa banyaknya umat sebelum mereka, yang menghina dan mengingkari Rasul-rasul Allah, dibinasakan Allah, lalu pada saat azab itu ditimpakan, mereka meminta pertolongan kepada Allah.
Namun permintaan tolong mereka itu tidak berguna lagi, dan mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari siksa yang membinasakan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata “Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah.
(Q.S. Al-Mu’min [40]: 84)

Dan firman-Nya:

Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya.
Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya.

(Q.S. Al-Anbiyaa [21]: 12-13)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Betapa banyak umat pendusta terdahulu yang Kami binasakan.
Mereka meminta pertolongan ketika siksaan datang kepada mereka, padahal saat itu bukanlah waktu untuk meyelamatkan diri.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Berapa banyak) sudah berapa banyak (umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan) yaitu dari kalangan umat-umat yang terdahulu, (lalu mereka meminta tolong) sewaktu azab menimpa mereka (padahal waktu itu bukanlah saat untuk lari melepaskan diri) artinya, untuk melarikan diri dari azab, karena segalanya sudah terlambat.

Huruf Ta pada lafal Laata merupakan huruf Zaidah, dan jumlah kalimat ayat ini berkedudukan menjadi Hal atau kata keterangan keadaan dari Fa’ilnya lafal Naadau.

Maksudnya, mereka meminta tolong padahal sudah tidak ada lagi jalan untuk melarikan diri, dan pula tidak ada lagi jalan untuk selamat dari azab.

Akan tetapi penduduk Mekah yang kafir tidaklah mengambil pelajaran dari mereka yang telah dibinasakan itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kami telah membinasakan banyak umat sebelum orang-orang musyrikin tersebut, maka mereka berteriak minta pertolongan dan mengikrarkan diri untuk bertaubat, padahal waktu tersebut bukanlah waktu diterimanya taubat, bukan pula waktu untuk selamat dan berlari dari apa yang menimpa mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mempertakuti mereka dengan apa yang telah Dia lakukan terhadap umat-umat terdahulu sebelum mereka yang mendustakan rasul-rasul-Nya.
Allah telah membinasakan mereka disebabkan mereka menentang para rasul dan mendustakan kitab-kitab yang diturunkan dari langit.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan (Q.S. Shaad [38]: 3)

Maksudnya, umat-umat yang mendustakan rasul-rasulnya.

lalu mereka meminta tolong (Q.S. Shaad [38]: 3)

Yaitu pada saat azab datang menimpa mereka, mereka meminta tolong dan menyeru kepada Allah subhanahu wa ta’ala Tetapi hal itu tidak memberi faedah apa pun bagi mereka, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka lari tergesa-gesa darinya.
(Q.S. Al-Anbiyaa [21]: 12)

Yakni melarikan diri dari azab itu.

Janganlah kamu lari tergesa-gesa, kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya (Q.S. Al-Anbiyaa [21]: 13)

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Ishaq, dari At-Tamimi yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Abbas r.a.
tentang makna firman-Nya: lalu mereka meminta tolong, padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri.
(Q.S. Shaad [38]: 3) Yakni bukan saatnya berseru meminta tolong, bukan pula saatnya melarikan diri dari azab.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., bahwa makna yang dimaksud ialah bukan saatnya meminta tolong.

Syabib ibnu Bisyr telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa mereka berseru meminta tolong di saat tiada gunanya lagi meminta tolong, lalu ia mengutip ucapan penyair, “Laila ingat di saat tiada lagi gunanya mengingat.”

Muhammad ibnu Ka’b telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Lalu mereka meminta tolong, padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri.
(Q.S. Shaad [38]: 3) Mereka menyerukan kalimah tauhid saat dunia berpaling dari mereka dan bertekad untuk bertobat saat dunia berpaling dari mereka.

Qatadah mengatakan bahwa ketika mereka menyaksikan datangnya azab, tergeraklah mereka untuk bertobat, tetapi bukan pada saatnya untuk berseru meminta pertolongan.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Lalu mereka meminta tolong, padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri.
(Q.S. Shaad [38]: 3) Yaitu bukan saatnya, untuk melarikan diri, bukan pula saatnya tobat diperkenankan.

Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Abu Malik, Ad-Dahhak, Zaid ibnu Aslam, Al-Hasan, dan Qatadah.

Telah diriwayatkan pula dari Malik, dari Zaid ibnu Aslam tentang makna firman-Nya: padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk melarikan diri.
(§ad: 3) Yakni meminta pertolongan di saat bukan waktunya meminta tolong.

Lafaz lata ini terdiri dari la nafi, lalu ditambahkan huruf ta, sebagaimana huruf ta, ditambahkan pada lafaz summa.
Mereka mengatakan summata, dan ditambahkan pula pada rubba sehinggga menjadi rubbata: huruf ta ini bukan dari asalnya, dan boleh dilakukan waqaf terhadapnya.
Di antara mereka ada yang meriwayatkan dari Mushaf Al-Imam (yakni Mushaf Usmani) menurut apa yang diketengahkan oleh Ibnu Jarir, bahwa huruf ta ini bersatu dengan hina, sehingga tulisannya menjadi seperti berikut:

padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk melepaskan diri (Q.S. Shaad [38]: 3)

Tetapi pendapat yang terkenal adalah yang pertama.
Kemudian jumhur “ulama membaca nasab pada lafaz hina, yang arti panjangnya adalah “padahal saat itu bukanlah saat untuk melepaskan diri”.

Di antara mereka ada yang membolehkan nasab berdasarkan dalil syair yang mengatakan:

Engkau teringat akan cinta Laila, padahal bukan saatnya untuk bercinta, dan uban (usia tua) telah menjadi pemutus hubungan.

Di antara mereka ada yang membolehkannya dibaca jar berdasarkan dalil syair yang mengatakan:

Mereka meminta perdamaian dengan kami, padahal sudah bukan masanya lagi perdamaian.
Maka kami jawab, bahwa tiada waktu lagi untuk melestarikan perdamaian.

Sebagian ulama mengatakan, “Padahal sudah bukan saatnya bagi penyesalan” (nasi telah menjadi bubur), dengan men-jar-kan lafaz As­ sa’ah.
Ahli bahasa mengatakan An-Naus artinya terlambat, dan Al-bus maju.
Disebutkan oleh firman-Nya:

padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri.
(Q.S. Shaad [38]: 3)

Yakni waktu itu bukanlah lagi saatnya melarikan diri dari azab.


Informasi Surah Shaad (ص)
Surat Shaad terdiri atas 88 ayat termasuk golongan surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Qamar.

Dinamai dengan “Shaad” karena surat ini dimulai dengan “Shaad” (selanjutnya lihat no 10).

Dalam surat ini Allah bersumpah dengan Al Qur’an, untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an itu suatu kitab yang agung dan bahwa siapa saja yang mengikutinya akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat dan untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an ini adalah mu’jizat Nabi Muham­ mad s.a.
w.
yang menyatakan kebenarannya dan ketinggian akhlaknya.

Keimanan:

Dalil-dalil tentang kenabian Muhammad ﷺ yaitu bahwa dia mengetahui hal­ hal yang hanya dapat diketahui dengan jalan wahyu
sumpah iblis untuk menye­satkan manusia seluruhnya kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas
Al Qur’an diturunkan untuk menjadi pelajaran bagi jin dan manusia seluruhnya.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Daud a.s. dan kisah Sulaiman a.s.
kisah Ayyub a.s.

Lain-lain:

Kaum musyrikin tercengang mendengar pengakuan Nabi Muhammad ﷺ
bahwa Allah adalah Maha Esa
rahasia yang terdapat pada kejadian alam
pertengkaran antara orang-orang yang sesat dan pengikut mereka di neraka
ni’mat·ni’mat yang dilimpahkan kepada penduduk surga dan azab yang ditimpakan atas isi neraka

Ayat-ayat dalam Surah Shaad (88 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Shaad (38) ayat 3 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Shaad (38) ayat 3 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Shaad (38) ayat 3 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Shaad - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 88 & Terjemahan


Gambar

no images were found



Statistik Q.S. 38:3
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Shaad.

Surah Sad (Arab: ص , "Ṣad") adalah surah ke-38 dalam al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 88 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Qamar.
Dinamai dengan Sad karena surah ini dimulai dengan huruf Shaad.

Nomor Surah 38
Nama Surah Shaad
Arab ص
Arti Shaad
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 38
Juz Juz 23
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 88
Jumlah kata 735
Jumlah huruf 3061
Surah sebelumnya Surah As-Saffat
Surah selanjutnya Surah Az-Zumar
4.4
Ratingmu: 4.6 (28 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/38-3







Pembahasan ▪ qs shaad 3

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta