Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Nuh (Nabi Nuh) – surah 71 ayat 15 [QS. 71:15]

اَلَمۡ تَرَوۡا کَیۡفَ خَلَقَ اللّٰہُ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا
Alam tarau kaifa khalaqallahu sab’a samaawaatin thibaaqan;
Tidakkah kamu memperhatikan bagai-mana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis?
―QS. Nuh [71]: 15

Do you not consider how Allah has created seven heavens in layers
― Chapter 71. Surah Nuh [verse 15]

أَلَمْ tidaklah

Do not
تَرَوْا۟ kamu perhatikan

you see
كَيْفَ bagaimana

how
خَلَقَ telah menciptakan

did create
ٱللَّهُ Allah

Allah
سَبْعَ tujuh

(the) seven
سَمَٰوَٰتٍ langit

heavens
طِبَاقًا bertingkat-tingkat

(in) layers,

Tafsir

Alquran

Surah Nuh
71:15

Tafsir QS. Nuh (71) : 15. Oleh Kementrian Agama RI


Dalam ayat ini, Nuh meminta kaumnya agar memperhatikan langit yang terdiri atas tujuh tingkat.
Ayat ini dapat berarti khusus untuk kaum Nuh dan dapat pula berarti umum (untuk seluruh manusia) karena ayat ini menggunakan kata-kata alam tarau (tidakkah kamu memperhatikan).

Memperhatikan di sini artinya dengan mempergunakan pikiran.
Oleh karena itu, cara memperhatikan yang diperintahkan adalah dengan cara yang lazim digunakan dunia ilmu pengetahuan.


Ayat ini berarti khusus untuk umat Nabi Nuh maksudnya adalah mereka seharusnya mempergunakan pancaindra dan akal dalam mengamati alam ini.
Dengan pengamatan demikian, mereka juga bisa mengetahui betapa besar dan hebat alam ini.

Bahwa langit itu begitu luas dan bertingkat-tingkat juga dapat mereka pahami menurut pemahaman mereka yang sederhana.
Mereka seharusnya mengakui kebesaran Allah dengan beriman kepada-Nya.


Ayat ini juga berlaku secara umum, yaitu ditujukan kepada umat Nabi Muhammad sampai sekarang dan masa yang akan datang.
Sampai sekarang pun para ahli tafsir belum dapat memastikan
"langit"
yang terdiri atas tujuh tingkat itu.

Tapi tentang
"langit"
itu tidak mustahil akan ditemukan oleh generasi yang akan datang.
Mengenai langit, ayat lain menginformasikan:

اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ

Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya;
dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air;
maka mengapa mereka tidak beriman?
(al-Anbiya‘ [21]: 30)


Apa yang baru dapat dipahami oleh para ilmuwan sekarang adalah bahwa alam semesta ini terjadi dari satu massa yang amat padat, kemudian meledak, dan memunculkan galaksi-galaksi, tata surya, planet-planet, dan sebagainya.

Akan tetapi, itu pun masih merupakan teori yang disebut teori big bang (ledakan besar).


Dari ayat ini dapat dipahami bahwa perintah memikirkan dan merenungkan kekuasaan dan kebesaran Allah itu tertuju kepada seluruh manusia, baik yang tinggi tingkat pengetahuannya maupun yang masih rendah.
Seluruh manusia sanggup dan mampu melakukannya, sehingga menambah kuat imannya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa.


Ayat ini juga mengajarkan kepada manusia mengenai cara mengenal dan mencari agama-Nya, yaitu dengan merenungkan kejadian alam ini.
Dengan perenungan itu, manusia akan sampai kepada Penciptanya.
Pencipta alam ini tentulah Yang Mahatahu dan Mahakuasa, bukan sesuatu yang tidak tahu apa-apa dan tidak berdaya sama sekali.
Dialah yang menentukan segala sesuatu, Yang Maha Esa, tidak berserikat dengan sesuatu apa pun.
Oleh karena itu, agama yang benar adalah agama yang mengakui keesaan Tuhan dan ibadah yang benar ialah ibadah yang langsung ditujukan kepada-Nya, tidak menggunakan perantara dan sebagainya.

Tafsir QS. Nuh (71) : 15. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Apakah kalian tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, menjadikan bulan di tujuh langit tersebut sebagai cahaya yang memancar serta menjadikan matahari sebagai lampu yang menerangi penghuni dunia dengan sinarnya untuk melihat segala yang dibutuhkan?

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Jika kalian bertobat dan memohon ampunan, niscaya Allah akan menurukan hujan lebat dan terus-menerus kepada kalian.
Dia akan memperbanyak harta dan keturunan kalian, dan menjadikan untuk kalian kebun-kebun yang dapat dinikmati buah dan keindahannya, dan menjadikan sungai-sungai untuk kalian agar kalian dapat mengairi sawah serta hewan ternak kalian.


Wahai kaumku, mengapa kalian tidak takut akan keagungan dan kekuasaan Allah?
Padahal, Dia telah menciptakan kalian dalam beberapa tahapan kejadian, yaitu dari setetes air mani, kemudian menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, kemudian terbentuk tulang dan daging.
Tidakkah kalian memperhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat satu sama lain?
Dan menjadikan bulan di langit itu bercahaya, dan menjadikan matahari sebagai lentera yang bersinar menyinari penduduk bumi?

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Tidakkah kalian perhatikan) kalian lihat


(bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?) sebagian di antaranya berada di atas sebagian yang lain.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?
(QS. Nuh [71]: 15)

Yakni berlapis-lapis satu lapis di atas lapis yang lainnya bersusun-susun.
Akan tetapi, apakah hal ini termasuk di antara perkara yang hanya dapat didengar saja (metafisika)?
Ataukah termasuk di antara perkara yang dapat dijangkau oleh indra melalui penyelidikan dan penemuan ilmiah (fisika)?
Karena sesungguhnya tujuh bintang yang beredar satu sama lainnya saling menutupi yang lainnya.
Yang paling dekat dengan kita adalah bulan yang berada di langit terdekat, ia menutupi bintang lainnya yang ada di atasnya, dan pada lapis yang kedua terdapat bintang ‘Utarid, dan pada lapis yang ketiga terdapat Zahrah (Venus).
Sedangkan matahari terdapat pada lapis yang keempat.
Mars pada lapis yang kelima, Musytari pada lapis yang keenam, dan Zuhal pada lapis yang ketujuh.
Adapun bintang-bintang lainnya yaitu bintang-bintang yang tetap (tidak beredar), maka semuanya berada di lapis yang kedelapan;
mereka menamakannya falak bintang-bintang yang menetap.
Dan para ahli falak yang berilmu syariat menamakannya dengan istilah Al-Kursi.
Dan falak yang kesembilan dinamakan Al-Atlas dan juga Al-Asir, yang menurut ahli ilmu falak pergerakannya kebalikan dari peredaran semua falak yang ada.
Yaitu peredarannya dimulai dari barat menuju ke timur, sedangkan semua falak kebalikannya yaitu dari arah timur ke arah barat, dan bersamaan dengannya beredar pula semua bintang mengikutinya.
Akan tetapi, bintang-bintang yang beredar mempunyai pergerakan yang berbeda dengan semua falaknya, karena sesungguhnya bintang-bintang tersebut beredar dari arah barat menuju ke arah timur.
Masing-masing darinya menempuh falaknya menurut kecepatannya.
Bulan menempuh garis edarnya setiap bulannya sekali, dan matahari menempuh garis edarnya setiap tahunnya sekali, dan Zuhal baru dapat menempuhnya selama tigapuluh tahun sekali.
Demikian itu berdasarkan luas falak masing-masing, sekalipun gerakan semuanya dalam hal kecepatannya berimbang.

Demikianlah kesimpulan dari apa yang dikatakan oleh ahli ilmu falak dalam bab ini dengan adanya perbedaan pendapat di kalangan mereka mengenai berbagai masalah yang cukup banyak, tetapi bukan termasuk ke dalam pembahasan kita sekarang ini.
Tujuan kita hanyalah untuk menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala:

telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?
Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita.
(QS. Nuh [71]: 15-16)

Yaitu Allah subhanahu wa ta’ala membedakan cahaya keduanya, dan menjadikan masing-masing dari keduanya sebagai tanda untuk mengetahui malam dan siang hari melalui terbit dan tenggelamnya matahari.
Allah telah menetapkan pula garis-garis edar dan manzilah-manzilah bagi bulan serta mengubah-ubah cahayanya.
Adakalanya cahayanya bertambah hingga sempurna, kemudian menurun (berkurang) hingga lenyap tersembunyi;
hal ini untuk mengetahui perjalanan bulan dan tahun, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).
Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak.
Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
(QS. Yunus [10]: 5)

Kata Pilihan Dalam Surah Nuh (71) Ayat 15

THIBAAQ
طِبَاق

Lafaz ini berbentuk jamak, mufradnya adalah thabaq atau thabaqah seperti lafaz jamal jamaknya jimaal, ia mengandung makna yang seimbang dan sesuai, penutup, hal atau keadaan, kelas dan tingkatan, muka bumi, golongan atau generasi dan sebagainya.

Thibaaqal ardh bermakna lapisan tanah.

Ath thibaaq menurut istilah ahli Balaghah ialah menghimpun dua makna yang bertentangan seperti menghidupkan dan mematikan.

Lafaz thibaaq dalam keadaan nasab (dibaca tibaqa) hanya disebut dua kali di dalam al Quran yaitu surah:
Al Mulk (67), ayat 3;
Nuh (71), ayat 15.
Lafaz ini dikaitkan dengan langit.

Ar Razi berkata,
"Lafaz tibaaqa bermakna sebahagian langit di atas sebahagian yang lain, begitu juga dengan pentafsiran Al Qurtubi beliau berkata,
"Ia bermakna sebahagiannya di atas sebahagian yang lain dan yang dilekatkan pada hujungnya seperti yang disebutkan dalam riwayat daripada Ibn Abbas."

At Tabari menafsirkannya dengan thabaq fawqa thabaq (satu lapisan di atas lapisan lainnya).

Ada yang berpendapat lafaz ini adalah mashdar (kata terbitan) yang membawa makna serupa dan sesuai, maknanya Allah menciptakan tujuh langit yang disamakan lapisan- lapisannya.

Kesimpulannya, lafaz thibaaqa di dalam Al Qur’an bermakna tujuh lapisan langit yang semuanya sama dan serupa.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 354

Unsur Pokok Surah Nuh (نوح)

Surat ini terdiri atas 28 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat An Nahl.

Dinamakan dengan surat "Nuh" karena surat ini seluruhnya menjelaskan dakwah dan do’a Nabi NuhNuh `alaihis salam kepada kaumnya untuk beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta`ala serta bertobat kepada-Nya.
▪ Perintah memperhatikan kejadian alam semesta.
▪ Dan kejadian manusia yang merupakan manifestasi kebesaran Allah.
▪ Siksaan Allah di dunia dan akhirat bagi kaum Nuh yang tetap kafir.
▪ Do’a Nabi Nuh `alaihis salam.

Audio

QS. Nuh (71) : 1-28 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 28 + Terjemahan Indonesia

QS. Nuh (71) : 1-28 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 28

Gambar Kutipan Ayat

Surah Nuh ayat 15 - Gambar 1 Surah Nuh ayat 15 - Gambar 2
Statistik QS. 71:15
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Nuh.

Surah Nuh (bahasa Arab:نوح, “Nuh”) adalah surah ke-71 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 28 ayat.
Dinamakan dengan surat Nuh karena surat ini seluruhnya menjelaskan ajakan, pengaduan dan doa Nabi Nuh terhadap kaumnya.

Nomor Surah71
Nama SurahNuh
Arabنوح
ArtiNabi Nuh
Nama lain
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu71
JuzJuz 28
Jumlah ruku’2 ruku’
Jumlah ayat28
Jumlah kata227
Jumlah huruf965
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma’arij
Surah selanjutnyaSurah Al-Jinn
Sending
User Review
4.3 (9 votes)
Tags:

71:15, 71 15, 71-15, Surah Nuh 15, Tafsir surat Nuh 15, Quran Nuh 15, Surah Nuh ayat 15

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. An Naazi’at (Malaikat-Malaikat Yang Mencabut) – surah 79 ayat 38 [QS. 79:38]

37-39. Di akhirat Allah akan memberi putusan kepada manusia, memisahkan mereka menjadi dua kelompok besar. Maka adapun orang yang melampaui batas dengan berlaku musyrik, kafir, dan maksiat, dan lebih … 79:38, 79 38, 79-38, Surah An Naazi’at 38, Tafsir surat AnNaaziat 38, Quran AnNaziat 38, An Naziat 38, An-Nazi’at 38, Surah An Naziat ayat 38

QS. Al Mu’min (Orang yang Beriman) – surah 40 ayat 45 [QS. 40:45]

45. Demikianlah dikisahkan bahwa seruan yang disampaikan oleh seorang mukmin yang menyembunyikan keimanannya itu tidak diterima oleh Fir‘aun dan pengikutnya. Fir‘aun bahkan merencanakan suatu perbuata … 40:45, 40 45, 40-45, Surah Al Mu’min 45, Tafsir surat AlMumin 45, Quran Al Mukmin 45, AlMukmin 45, Al-Mu’min 45, Surah Al Mumin ayat 45

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Setiap umat Islam wajib menuntut ilmu. Bagaimana hukum mempelajari Ilmu Agama?

Benar! Kurang tepat!

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam?

Benar! Kurang tepat!

Siapa nama Nabi setelah Nabi Isa 'Alaihissalam?

Benar! Kurang tepat!

+

Kewajiban menuntut ilmu terdapat pada Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
'Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.'
--QS. At Taubah [9] : 122

Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu?

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Enam Syarat Meraih Ilmu Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
1. Cerdas.
2. inginan yang kuat.
3. Sabar.
4. Bekal
5. Petunjuk guru.
6. Waktu yang lama.

Pendidikan Agama Islam #28
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #28 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #28 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #23

Al Falaq artinya … manusia waktu subuh waktu pagi langit senja demi waktu Benar! Kurang tepat! Qada dan qadar termasuk

Pendidikan Agama Islam #2

Allah memiliki sifat Yang Maha Mengumpulkan, yang artinya … Al ‘Azim Al Azhar Al ‘Aziz Al Akhir Al Jamii’ Benar!

Pendidikan Agama Islam #10

Wahyu pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkandung dalam surah … QS. Al Maidah : 33

Instagram