QS. Luqman (Keluarga Luqman) – surah 31 ayat 6 [QS. 31:6]

وَ مِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّشۡتَرِیۡ لَہۡوَ الۡحَدِیۡثِ لِیُضِلَّ عَنۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ عِلۡمٍ ٭ۖ وَّ یَتَّخِذَہَا ہُزُوًا ؕ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ مُّہِیۡنٌ
Waminannaasi man yasytarii lahwal hadiitsi liyudhilla ‘an sabiilillahi bighairi ‘ilmin wayattakhidzahaa huzuwan uula-ika lahum ‘adzaabun muhiinun;

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan.
Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.
―QS. 31:6
Topik ▪ Neraka ▪ Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka ▪ Percakapan para ahli surga
31:6, 31 6, 31-6, Luqman 6, Luqman 6, Lukman 6

Tafsir surah Luqman (31) ayat 6

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Luqman (31) : 6. Oleh Kementrian Agama RI

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan herhubungan dengan Nadar bin Haris.
Ia membeli seorang hamba wanita yang bekerja sebagai penyanyi.
Ia menyuruh wanita itu bernyanyi untuk orang yang hendak masuk Islam.
Ia berkata kepadanya: “Berilah ia makanan, minuman dan nyanyian”.
Kemudian ia berkata kepada orang yang akan masuk Islam itu: “Ini adalah lebih baik dari yang diserukan Muhammad kepadamu, yaitu salat, puasa dan berperang membantunya”.

Menurut riwayat Muqatil, Nadar bin Haris ini adalah seorang pedagang yang sering pergi ke Persia.
Di sana ia membeli kitab-kitab yang bukan bahasa Arab, kemudian isi kitab itu disampaikannya kerpada orang-orang Quraisy, dengan mengatakan: “Jika Muhammad menceriterakan kepadamu kisah kaum Ad dan Samud, maka aku akan menceriterakan kepadamu kisah Rustam dan Isrindiar dan cerita-cerita raja-raja Persia”.
Kaum musyrikin Quraisy itu sering.
mendengarkan perkataan Nadar ini, dan berpaling mereka dari mendengarkan Alquran.

Ayat ini menerangkan bahwa di antara manusia itu ada yang tidak mengacuhkan perkataan yang bermanfaat, yang dapat menambah keyakinan manusia kepada agama dan memperbaiki budi pekertinya.
Mereka lebih suka mengatakan perkataan-perkataan yang tidak ada manfaatnya, menyampaikan khurafat-khurafat, dongengan-dongengan orang purbakala, lelucon-lelucon yang tidak ada artinya, seperti yang dilakukan Nadar bin Haris.
Kalau perlu mereka menggaji penyanyi-penyanyi untuk diperdengarkan suaranya kepada orang banyak.
Isi nyanyiannya dan suaranya itu dibuat sedemikian rupa sehingga dapat merangsang orang yang mendengarnya, melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang dan berakibat tambah menjauhkan seseorang dari agamanya.

Diriwayatkan dari Nafi’, ia berkata: “Aku berjalan bersama Abdullah bin Umar dalam suatu perjalanan , maka kedengaran-lah bunyi seruling, lalu Umar meletakkan anak jarinya ke lubang telinganya, agar ia tidak mendengar bunyi seruling itu dan ia menyimpang melalui jalan yang lain, kemudian ia berkata: “Ya Nafi”,
apakah engkau masih mendengar suara itu?”.
Aku menjawab: “Tidak”.
Maka ia mengeluarkan anak jarinya dari telinganya dan berkata: “Beginilah aku melihat yang diperbuat Rasulullah ﷺ, jika ia mendengar bunyi semacam itu”.

Pada riwayat yang lain dari Abdurrahman bin `Auf, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

Aku dilarang (mendengarkan)dua macam suara (bunyi) yang tidak ada artinya dan menimbulkan perbuatan jahat, yaitu suara lagu yang melalaikan dan seruling-seruling setan dan (kedua) suara ketika ditimpa musibah, yaitu yang menampar muka, mengoyak-ngoyak baju dan nyanyian setan.

Menurut Ibnu Masud, yang dimaksud dengan perkataan “lah wal hadis” dalam ayat ini, ialah nyanyian yang dapat menimbulkan kemunafikan di dalam hati.
Sebagian ulama mengatakan bahwa semua suara , perkataan, nyanyian, bunyi-bunyian yang dapat merusak ketaatan kepada Allah dan mendorong orang-orang yang mendengarnya melakukan perbuatan yang terlarang.
disebut “lahwal hadis”.

Dari ayat dan hadis-hadis di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dilarang itu ialah mendengarkan nyanyian yang dapat membangkitkan nafsu birahi yang menjurus ke perbuatan zina, seperti nyanyian yang berisi kata-kata kotor, demikian pula nyanyian atau musik yang menyebabkan pendengarnya mengerjakan perbuatan-perbuatan terlarang, seperti minum khamar dan sebagainya.

Mendengar nyanyian atau musik yang tujuannya untuk melapangkan pikiran waktu-waktu istirahat, waktu hari raya tidaklah di larang.
Bahkan disuruh mendengarkannya, jika nyanyian atau musik itu mempunyai arti yang baik, menambah iman, memperbaiki budi pekerti, menambah semangat bekerja dan berjuang.

Berkata Qusyairi: “Ditabuh gendang di hadapan Nabi ﷺ, waktu beliau memasuki kota Medinah, lalu Abu Bakar ingin menghentikannya, maka Rasulullah ﷺ berkata: “Biarkanlah mereka menabuh gendang, hai Abu Bakar, hingga orang-orang Yahudi mengetahui bahwa agama kita tidak sempit”.
Mereka menabuh gendang disertai dengan nyanyian-nyanyian dan syair-syair, di antara bait-baitnya berbunyi: “Nahnu Banatun Najjar.
Habbaza Muhammadun min Jar” (kami adalah wanita-wanita Bani Najjar.
alangkah baiknya nasib kami, Muhammad menjadi tetangga kami”.

Demikian pula Rasulullah ﷺ menyuruh menabuh gendang di waktu melaksanakan walimah suatu perkawinan.
Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan akibat mendengar dan memperdengarkan nyanyian, musik dan perkataan yang terlarang itu, yaitu mereka akan memperoleh azab yang sangat menghinakan di hari kiamat, akibat perbuatan mereka yang tidak mengindahkan yang hak dan memilih kebatilan, menukar petunjuk dengan dosa.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Di antara manusia ada yang membeli perkataan-perkataan yang batil dan menceritakannya kepada manusia dengan tujuan untuk menahan mereka dari Islam dan Al Quran tanpa mengetahui dosa dari apa yang mereka lakukan itu.
Mereka juga menjadikan agama Allah dan wahyu-Nya sebagai bahan olok-olokan.
Orang-orang yang melakukan hal itu akan mendapatkan azab yang menghinakan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna) maksudnya (untuk menyesatkan) manusia, lafal ayat ini dapat dibaca liyadhilla dan liyudhilla (dari jalan Allah) dari jalan Islam (tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu) kalau dibaca nashab yaitu wa yattakhidzahaa berarti diathafkan kepada lafal yudhilla, dan jika dibaca rafa’ yaitu wa yattakhidzuhaa, berarti diathafkan kepada lafal yasytarii (olok-olokan) menjadi objek ejekan dan olokan mereka.

(Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan) azab yang hina sekali.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Di antara manusia ada yang membeli permainan baru (yaitu semua yang melenakan dari ketaatan kepada Allah dan menghalangi ridha Allah), untuk menyesatkan manusia dari jalan petunjuk ke jalan hawa nafsu, menjadikan ayat-ayat Allah sebagai hinaan.
Mereka mendapatkan siksa yang menghinakan dan merendahkan mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Setelah menyebutkan keadaan orang-orang yang berbahagia, yaitu mereka yang menjadikan Kitabullah sebagai petunjuk mereka dan mereka beroleh manfaat dari mendengarkan bacaannya, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.
(Q.S. Az-Zumar [39]: 23), hingga akhir ayat.

Kemudian dalam pembahasan selanjutnya diterangkan perihal orang-orang yang celaka, yaitu mereka yang berpaling dari Kalamullah, tidak mau mendengarkannya dan tidak mau mengambil manfaat darinya.
Bahkan mereka lebih senang mendengarkan seruling, nyanyian dan suara musik.
Sebagaimana yang ditakwilkan oleh Ibnu Mas’ud sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.
(Q.S. Luqman [31]: 6) Yang dimaksud dengan lahwul hadis ialah, demi Allah, nyanyian.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Yunus, dari AbuSakhr, dari Ibnu Mu’awiyah Al-Bajali, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Abus Sahba Al-Bakri, bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Mas’ud saat ditanya mengenai makna firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.
(Q.S. Luqman [31]: 6) Maka Ibnu Mas’ud menjawab bahwa yang dimaksud adalah nyanyian.
Demi Allah yang tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Dia.

Telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Humaid Al-Kharait, dari Ammar, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Abus Sahba bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Mas’ud tentang firman-Nya: Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna.
(Q.S. Luqman [31]: 6) Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa yang dimaksud adalah nyanyian.

Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Abbas, Jabir, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Mujahid, Mak-hul, Amr ibnu Syu’aib, dan Ali ibnu Bazimah.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa firman-Nya: Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan.
(Q.S. Luqman [31]: 6) Maksudnya, nyanyian dan seruling (musik).

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan.
(Q.S. Luqman [31]: 6) Demi Allah, barangkali dia tidak mengeluarkan perbelanjaan untuk itu, tetapi yang dimaksud dengan istilah syira’ itu ialah menyukainya.
Sebab cukuplah kesesatan bagi seseorang bila ia memilih perkataan yang batil daripada perkataan yang hak, dan memilih hal yang mudarat daripada hal yang bermanfaat.

Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud dengan firman-Nya: mempergunakan perkataan yang tidak berguna.
(Q.S. Luqman [31]: 6) ialah membeli budak-budak perempuan untuk bernyanyi.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail Al-Ahmasi, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Khallad As-Saffar, dari Abdullah ibnu Zahr, dari Ali ibnu Yazid, dari Al-Qasim ibnu Abdur-Rahman, dari Abu Umamah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Tidak dihalalkan menjual budak-budak perempuan penyanyi dan tidak pula membeli mereka, dan memakan hasil jualan mereka haram.
Sehubungan dengan mereka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya, “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.” (Q.S. Luqman [31]: 6)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Ibnu Jarir melalui hadis Abdullah ibnu Zahr dengan lafaz yang semisal.
Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, dan ia menilai daif Ali ibnu Yazid yang telah disebutkan di atas.

Menurut kami, Ali dan gurunya serta orang-orang yang menerima riwayat darinya itu semuanya berpredikat daif.
Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Ad-Dahhak telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna.
(Q.S. Luqman [31]: 6) Bahwa yang dimaksud adalah kemusyrikan.

Hal yang sama dikatakan oleh Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, lalu dipilih oleh Ibnu Jarir, yang kesimpulannya mengatakan bahwa setiap perkataan yang menghalang-halangi ayat-ayat Allah dan mencegah untuk mengikuti jalan­Nya, itulah yang dinamakan lahwul hadis.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.
(Q.S. Luqman [31]: 6)

Sesungguhnya hal tersebut dikatakan menyesatkan karena bertentangan dengan Islam dan para pemeluknya.
Menurut qiraat yang membaca ya-dilla berarti huruf lam bermakna lamul ‘aqibah atau lamut ta’lil berdasarkan takdir Allah yang telah menetapkan bahwa mereka pasti berbuat demikian.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan.
(Q.S. Luqman [31]: 6)

Mujahid mengatakan bahwa orang tersebut menjadikan jalan Allah sebagai bahan olok-olokannya.
Sedangkan menurut Qatadah, makna yang dimaksud ialah orang tersebut menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan.
Pendapat Mujahid lebih utama.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.
(Q.S. Luqman [31]: 6)

Yakni sebagaimana mereka memperolok-olokkan ayat-ayat Allah dan jalan-Nya, maka mereka balas dihinakan kelak pada hari kiamat dengan azab yang kekal dan terus menerus.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Luqman (31) Ayat 6

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini (Luqman: 6) turun berkenaan dengan seorang Quraisy yang membeli seorang biduanita (yang dijadikan untuk menyesatkan manusia).
Ayat ini mengancam orang-orang yang berusaha menyesatkan manusia.

Diriwayatkan oleh Juwaibir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini (Luqman: 6) turun berkenaan dengan an-Nadlr bin al-Harits yang membeli seorang biduanita.
Apabila ia mendengar seseorang akan masuk Islam, ia mengajak orang tersebut datang kepada biduanita tersebut.
kemudian ia menyuruh biduanita itu menyediakan makanan dan minuman serta merayu orang tersebut dengan alunan suaranya.
An-Nadlr berkata kepada orang yang dibujuknya itu: “Ini lebih baik daripada ajakan Muhammad yang hanya menyuruh shalat, shaum, dan berperang untuk kemenangannya.” Ayat ini (Luqman: 6) menerangkan bahwa orang-orang yang berbuat seperti itu akan mendapat siksa yang sangat berat dari Allah subhanahu wa ta’ala

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Luqman (31) Ayat 6

HADIITS
حَدِيث

Lafaz hadiits mempunyai beberapa arti antaranya adalah:
(1) Sesuatu yang asalnya tidak ada kemudian ada;
(2) Sesuatu yang baru;
(3) Lafaz baik itu sedikit ataupun banyak.

Bentuk jamak dari lafaz ini yang biasa digunakan adalah ahaadiits. Selain itu, ia juga mempunyai bentuk jamak hidtsaan dan hudtsaan, namun keduanya jarang digunakan.

Raghib Al Isfahani menyatakan, lafaz hadiits berarti semua jenis lafaz yang sampai kepada manusia, baik diterima melalui telinga atau wahyu, baik diterima sewaktu terjaga dari tidur maupun sewaktu ter­tidur.

Di dalam Al Qur’an, lafaz al hadiits yang berbentuk tunggal diulang sebanyak 23 kali yaitu dalam surah:
-An Nisaa (4), ayat 42, 78, 87, 140;
-Al An’aam (6), ayat 68;
-Al A’raaf (7), ayat 185;
-Yusuf (12), ayat 111;
-Al Kahfi (18), ayat 6;
-Tha Ha (20), ayat 9;
-Luqman (31), ayat 6;
-Al Ahzab (33), ayat 53;
-Az Zumar (39), ayat 23;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 6;
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 24;
-Ath Thuur (52), ayat 34;
-An Najm (53), ayat 59;
-Al­ Waaqi’ah (56), ayat 81;
-At Tahrim (66), ayat 3;
-Al Qalam (68), ayat 44;
-Al Mursalat (77), ayat 50;
-An Naazi’aat (79), ayat 15;
-Al Buruuj (85), ayat 17;
-Al Ghaasyiah (88), ayat 1.

Sedangkan dalam bentuk jamak ahaadiits, lafaz ini diulang sebanyak lima kali yaitu dalam surah:
-Yusuf (12), ayat 6, 21 dan 101;
-Al Mu’minuun (23), ayat 44;
-Saba’ (34), ayat 19.

Di dalam Al Qur’an, lafaz ini baik itu dalam bentuk tunggal maupun jamak di gunakan untuk menunjukkan lima makna yaitu:

1. Kalam Allah atau Al Qur’an
Lafaz hadiits yang mempunyai maksud Kalam Allah terdapat dalam ayal-ayat berikut:
-Yusuf (12), ayat 111;
-Al­ A’raaf (7), ayat 185;
-Al Kahfi (18), ayat 6;
-Az Zumar (39), ayat 23;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 6;
-Ath Thuur (52), ayat 34;
-Al Waaqi’ah (56), ayat 81;
-Al Qalam (68), ayat 44;
-Al Mursalat (77), ayat 50;
-An Nisaa’ (4), ayat 78, 87.

Secara umum, ayat-ayat itu mem­bicarakan tentang sifat-sifat Kalam Allah dan sikap yang sepatutnya dilakukan oleh manusia pada Kalam Allah. Diantara sifat-sifat Kalam Allah yang disebut dalam ayat-ayat itu adalah Kalam Allah yaitu lafaz yang paling benar (ashdaqul hadiits), kisah-kisah yang ada di dalamnya menjadi pelajaran bagi orang yang mempunyai akal. la bukanlah cerita yang direka, menjelaskan segala sesuatu, menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Al Qur’an juga adalah lafaz yang paling baik dan indah (ahsanul hadiits). Di dalamnya terdapat lafaz-lafaz yang hampir serupa tetapi berbeda maksudnya (mutasyabih), keindah­an dan kemuliaan Al Qur’an menyebabkan­nya penuh dengan pujian (matsani), orang yang takut kepada Tuhannya gementar kulit­ nya apabila mendengar Al Qur’an, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang ketika mengingat Allah. Dengan sifat-sifatnya yang demikian, Al Qur’an tidak mungkin ditandingi. Oleh karena itu, Kalam Allah hendaklah difahami, diimani dan tidak boleh didustakan atau di­anggap remeh.

2. Perkataan atau pembicaraan manusia.
Lafaz hadiits yang mempunyai maksud perkataan atau pembicaraan manusia ter­dapat dalam ayat-ayat berikut:
-An Nisaa (4), ayat 140;
-Al An’aam (6), ayat 68;
-Luqrnan (31), ayat 6;
-Al Ahzab (33), ayat 53;
-At Tahrim (66), ayat 3.

Pada ayat-ayat ini, lafaz hadiits merujuk pada perkataan-perkataan di dunia yang diucap­kan oleh orang kafir, munafik, para sahabat dan juga perkataan Nabi Muhammad.

Dalam surah An Nisaa (4), ayat 42, lafaz hadiits merujuk pada pengakuan orang kafir di akhirat ketika mereka di dunia sebagai orang kafir dan melakukan maksiat.

3. Berita atau kabar tentang ke­jadian yang akan datang.
Lafaz hadiits yang mempunyai maksud pengabaran tentang masa depan dalam surah:
-An Najm (53), ayat 59;
-Al Ghaasyiah (88), ayat 1.

Dalam kedua ayat ini, lafaz hadiits menunjukkan arti hari kiamat dan hari pembalasan.

4. Kisah yang penuh pelajaran.
Lafaz hadiits dan ahaadiits berakna kisah atau kisah-kisah yang di dalam­nya ada pelajaran bagi manusia dalam ayat-ayat berikut:
-Tha Ha (20), ayat 9;
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 24;
-An Naazi’aat (79), ayat 15;
-Al Buruuj (85), ayat 17.

Kisah yang disebut dalam ayat-ayat ini ada­lah kisah malaikat yang bertamu kepada Nabi Ibrahim, kisah Nabi Musa, kisah Fir’aun dan kaum Tsamud. Semua ayat ini menggunakan lafaz hadiits dalam bentuk tunggal.

Sedangkan dalam surah Al Mu’minuun (23), ayat 44 dan surah Saba’ (34), ayat 19, lafaz yang digunakan dalam bentuk jamak (ahaadiits).

Dalam surah Al Mu’minun (23), ayat 44, kisah yang dimaksudkan adalah kisah-kisah kaum terdahulu secara umum yang mendustakan agama dan akhirnya men­dapat siksaan Allah.

Sedangkan kisah yang di­ maksudkan dalam surah Saba’ (34), ayat 19 adalah kisah kaum Saba’.

5. Mimpi.
Lafaz ahaadiits yang berarti mimpi hanya ada dalam surah Yusuf (12), ayat 6, 21 dan 101. Lafaz ahaadiits digunakan untuk arti mimpi karena hakikat mimpi adalah jiwa yang berbicara dalam tidur. Kesemuanya dalam bentuk jamak dan dikaitkan dengan anugerah Allah yang diberikan kepada Nabi Yusuf yaitu kemampuan menafsirkan mimpi-mimpi.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:178-179

Informasi Surah Luqman (لقمان)
Surat Luqman terdiri dari 34 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Ash Shaaffaat.

Dinamai “Luqman” karena pada ayat 12 disebutkan bahwa “Luqman” telah diberi oleh Allah ni’mat dan ilmu pengetahuan, oleh sebab itu dia bersyukur kepada-Nya atas ni’mat yang diberikan itu.
Dan pada ayat 13 sampai 19 terdapat nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya.

Ini adalah sebagai isyarat dari Allah supaya setiap ibu bapak melaksanakan pula terhadap anak-anak mereka sebagai yang telah dilakukan oleh Luqman.

Keimanan:

Al Qur’an merupakan petunjuk dan rahmat yang dirasakan benar-benar oleh orang­ orang mu’min
keadaan di langit dan di bumi serta keajaiban-keajaiban yang ter­dapat pada keduanya adalah bukti-bukti atas keesaan dan kekuasaan Allah
manusia tiada akan selamat kecuali dengan taat kepada perintah-perintah Tuhan dan berbuat amal-amal yang saleh
lima hal yang ghaib yang hanya diketahui oleh Allah sendiri
ilmu Allah meliputi segala-galanya baik yang lahir maupun yang batin.

Hukum:

Kewajiban patuh dan berbakti kepada ibu dan bapa selama tidak bertentangan dengan perintah-perintah Allah
perintah supaya memperhatikan alam dan keajaib­annya untuk memperkuat keimanan dan kepercayaan akan ke-Esaan Tuhan
pe­rintah supaya selalu bertakwa dan takut akan pembalasan Tuhan pada hari kiamat di waktu seseorang tidak dapat ditolong baik oleh anak atau bapaknya sekalipun.

Kisah:

Kisah Luqman, ilmu dan hikmat yang didapatnya.

Lain-lain:

Orang-orang yang sesat dari jalan Allah dan selalu mernperolok-olokkan ayat­ ayat Allah
celaan terhadap orang-orang musyrik karena tidak menghiraukan seruan untuk memperhatikan alam dan tidak menyembah Penciptanya
menghibur hati Rasulullah ﷺ terhadap keingkaran orang-orang musyrik karena hal ini bukanlah merupakan kelalaiannya
ni’mat dan karunia Allah tidak dapat dihitung,

Ayat-ayat dalam Surah Luqman (34 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Luqman (31) ayat 6 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Luqman (31) ayat 6 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Luqman (31) ayat 6 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Luqman - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 34 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 31:6
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Luqman.

Surah Luqman (Arab: لقمان, "Luqman al-Hakim") adalah surah ke-31 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari atas 34 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan setelah surah As-Saffat.
Nama Luqman diambil dari kisah tentang Luqman yang diceritakan dalam surah ini tentang bagaimana ia mendidik anaknya.

Nomor Surah 31
Nama Surah Luqman
Arab لقمان
Arti Keluarga Luqman
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 57
Juz Juz 21
Jumlah ruku' 4 ruku'
Jumlah ayat 34
Jumlah kata 550
Jumlah huruf 2171
Surah sebelumnya Surah Ar-Rum
Surah selanjutnya Surah As-Sajdah
4.4
Ratingmu: 4.4 (10 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/31-6







Pembahasan ▪ Luqman 6

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta