Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ibrahim

Ibrahim (Nabi Ibrahim) surah 14 ayat 37


رَبَّنَاۤ اِنِّیۡۤ اَسۡکَنۡتُ مِنۡ ذُرِّیَّتِیۡ بِوَادٍ غَیۡرِ ذِیۡ زَرۡعٍ عِنۡدَ بَیۡتِکَ الۡمُحَرَّمِ ۙ رَبَّنَا لِیُـقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ فَاجۡعَلۡ اَفۡئِدَۃً مِّنَ النَّاسِ تَہۡوِیۡۤ اِلَیۡہِمۡ وَارۡ زُقۡہُمۡ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَشۡکُرُوۡنَ
Rabbanaa innii askantu min dzurrii-yatii biwaadin ghairi dzii zar’in ‘inda baitikal muharrami rabbanaa liyuqiimuush-shalaata faaj’al af-idatan minannaasi tahwii ilaihim waarzuqhum minats-tsamaraati la’allahum yasykuruun(a);

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.
―QS. 14:37
Topik ▪ Tugas-tugas malaikat
14:37, 14 37, 14-37, Ibrahim 37, Ibrahim 37, Ibrahim 37
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ibrahim (14) : 37. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan saat Ibrahim a.s.
akan kembali ke Palestina menemui istrinya Sarah meninggalkan istrinya Hajar dan putranya Ismail yang masih kecil di Mekah, di tengah-tengah padang pasir yang tandus tanpa ditemani oleh seorang manusia pun, tanpa bekal untuk keluarganya yang ditinggalkan.
Waktu itulah ia berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, mohon agar keluarganya itu dilindungi dan diselamatkan dari segala bahaya dan bencana yang mungkin akan menimpanya.

Ibrahim a.s.
adalah Nabi dan Rasul yang diutus menyeru raja Namruz, raja Babilonia dan rakyatnya agar mereka mengikuti agama Allah.
Setelah menerima siksaan, halangan dan ancaman dari raja Namruz dan pengikut-pengikutnya Ibrahim meninggalkan Babilonia dan akhirnya menetap di Palestina bersama istrinya Sarah dan pembantu istrinya seorang wanita yang bernama Hajar.
Karena Sarah wanita yang mandul, maka Ibrahim a.s.
tidak mempunyai seorang putra pun sedang umurnya telah menginjak masa tua.
Sekalipun demikian keinginannya untuk mempunyai seorang putra tetap merupakan cita-cita yang selalu diidam-idamkannya.
Karena itu dinikahinyalah pembantu istrinya bernama Hajar itu setelah mendapat izin dan persetujuan dari Sarah.
Dari pernikahan itu lahirlah seorang putra yang bernama Ismail dan dengan kelahiran itu pula terkabullah cita-cita Ibrahim yang diingininya selama ini.

Kesayangan Ibrahim kepada putranya Ismail dan bertambah cintanya kepada Hajar menimbulkan rasa cemas dan iri hati pada diri Sarah.
Cemas karena khawatir akan berkurang cinta Ibrahim kepadanya, iri hati karena ia sendiri tidak dapat memenuhi keinginan Ibrahim untuk memperoleh seorang putra sebagai penerus hidupnya, sedang pembantunya Hajar dapat memenuhi keinginan suaminya itu.
Oleh Sarah perasaan hatinya itu disampaikan kepada suaminya Ibrahim, dan meminta dengan sangat agar Ibrahim membawa dan menjauhkan Hajar dan putranya Ismail daripadanya, sehingga ia tidak lagi melihat kebahagiaan Hajar dan semakin bertambah dewasanya Ismail.
Ibrahim dapat merasakan betapa dalam cintanya kepada Sarah.
Ia pun khawatir kalau-kalau Sarah merana jika permintaan itu tidak dikabulkan.
Karena itu Ibrahim pun mengabulkan permintaan Sarah itu.
Maka dibawanya Hajar dan putranya Ismail yang masih kecil itu berjalan mengikuti arah yang dikehendaki oleh kaki untanya tanpa tujuan dalam keadaan hiba dan terharu mengingat nasib yang akan dialami oleh istrinya dan putranya nanti.
Dalam keadaan yang demikian, tanpa disadarinya sampailah ia ke daerah yang asing baginya, suatu daerah yang terletak di antara bukit-bukit batu yang gersang yang sekarang bernama kota Mekah.

Pada waktu itu Mekah merupakan daerah dataran rendah padang pasir yang belum didiami oleh seorang manusia pun.
Tidak ditemukan suatu sumber air.
Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari bahwa di tempat itu terdapat sepohon kayu, dan di bawah pohon kayu itulah Ibrahim dan keluarganya berteduh dan melepaskan lelah dari perjalanan yang jauh dari Palestina sampai ke Mekah sekarang ini.
Setelah beberapa hari Ibrahim menemani Hajar dan putranya di tempat itu, ia pun teringat kepada istrinya Sarah yang ditinggalkannya di Palestina.
Akan kembali ke Palestina itu, ia tak sampai hati pula meninggalkan Hajar dan putranya.
Dalam keadaan demikian ia pun memutuskan akan kembali ke Palestina dan meminta persetujuan dari Hajar.
Di waktu ia meminta persetujuan dan kerelaan hati Hajar, maka Hajar bertanya kepada Ibrahim: "Apakah Allah yang memerintahkan kepadamu agar aku ditempatkan di daerah sunyi lagi tandus ini?"
Ibrahim menjawab: "Benar." Hajar menjawab: "Jika demikian Dia (Allah) tidak menyia-nyiakan kita."

Maka berangkatlah Ibrahim ke Palestina menemui istrinya Sarah dan meninggalkan istri dan putranya Ismail yang masih kecil di tempat itu di tengah-tengah panas matahari membakar padang pasir tanpa rumah tempat berteduh, tanpa perbekalan yang cukup, kecuali sekendi air untuk pelepas haus.
Maka sampailah Hajar dan putranya kepada suatu tempat, yang waktu itu semua perbekalan dan air minum telah habis.
Putranya Ismail menangis kehausan sedang air susunya tidak mengalir lagi.
Ia bermaksud mencari air, dan ditidurkannyalah putranya di bawah pohon tempat ia berteduh itu.
Ia pun pergi ke mana saja yang dianggapnya ada air, namun ia tidak menemukannya setetes pun.
Ia pun pergi ke mana saja, tanpa disadarinya ia telah berlari-lari kecil pulang balik tujuh kali antara bukit Safa dan bukit Marwah tetapi ia belum juga memperoleh air barang setetes pun.
Maka dengan rasa sedih dan putus asa, ia kembali ke tempat putranya yang ditinggalkan.
Waktu itu Ismail sedang menangis kehausan sambil memukul-mukulkan kakinya ke tanah.
Maka Hajar pun berdoa menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.

Dalam keadaan yang demikian, Ibrahim yang sedang melanjutkan perjalanannya ke Palestina, ingat akan istri dan putranya yang ditinggalkan, ingat akan nasib yang mungkin sedang dideritanya, karena diperkirakan makanan dan air yang ia tinggalkan telah habis maka ia pun berdoa sebagai yang terpaham dalam ayat itu: "Wahai Tuhanku, aku telah menempatkan sebagian keturunanku, yaitu istri dan anakku Ismail, yang akan melanjutkan keturunanku di lembah padang pasir yang tandus lagi gersang, di dekat tempat akan didirikan Kakbah rumah-Mu nanti yang dihormati, yang Engkau akan melarang manusia mencemarkan kehormatannya, dan yang akan Engkau jadikan daerah sekitarnya sebagai daerah haram, yaitu dilarang di tanah itu berperang dan menumpahkan darah."

Doa Ibrahim dan istrinya Hajar itu dikabulkan Tuhan.
Maka waktu itu juga terpancarlah air dari tanah bekas pukulan kaki anaknya Ismail yang sedang menangis itu.
Maka di saat itu pula timbullah pada diri Hajar rasa syukur kepada Allah atas rahmat-Nya yang tiada terhingga dan timbullah dalam hatinya harapan akan kelangsungan hidupnya dan putranya lalu diminumkannya air itu kepada putranya Ismail.
Karena khawatir air itu habis dan lenyap kembali ke dalam pasir, maka ia mengumpulkan air itu dengan tangannya seraya berkata: "Zam Zam! (Berkumpullah! Berkumpullah!)" Dan terkumpullah air itu tidak kering-kering sampai sekarang dan bernama telaga Zamzam.
Dengan adanya telaga Zamzam di tempat itu, banyaklah orang yang lewat meminta air ke sana.
Tatkala Bani Jurhum melihat adanya sumber air di tempat itu, maka mereka minta izin kepada Hajar tinggal bersama di sana, dan Hajar pun mengabulkan permintaan itu.
Sejak itu mulailah kehidupan di daerah yang tandus itu, semakin hari semakin banyak pendatang yang menetap.
Akhirnya timbullah negeri dan kebudayaan, sehingga daerah tersebut menjadi tempat jalan lintas perdagangan antara barat dan timur.

Setelah Ismail dewasa, ia pun menikah dengan salah seorang wanita Bani Jurhum, pendatang baru itu, yang kemudian menurunkan keturunan yang merupakan cikal bakal negeri itu.
Keturunan itu berkembang biak, mendiami negeri Mekah dan sekitarnya.
Dari keturunan Ismail inilah nanti lahir Nabi Muhammad di kemudian hari sebagai Nabi dan Rasul Allah yang penghabisan.

Dalam ayat di atas selanjutnya diterangkan bahwa Ibrahim a.s.
berdoa kepada Tuhan agar memelihara keturunannya yang ada di Mekah, menjadikan mereka sebagai orang-orang taat mengerjakan salat, menghambakan dan menundukkan dirinya kepada Tuhan agar memelihara keturunannya itu, menjadikan hati manusia cenderung, cinta dan kasih kepada keturunannya itu diberi rezeki, didatangkan bahan makanan, buah-buahan ke negeri yang tandus itu, karena di negeri itu tidak mungkin hidup tumbuh-tumbuhan yang diperlukan sebagai bahan makanan.
Doa Nabi Ibrahim dikabulkan Allah subhanahu wa ta'ala, terbukti sejak dahulu hingga sekarang banyak manusia yang mengunjungi Baitullah untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah, melihat bekas peninggalan-peninggalan dan perjuangan Nabi Muhammad ﷺ.
dan para sahabatnya.
Demikian pula banyak didatangkan ke bumi yang tandus itu pelbagai macam barang keperluan yang diperlukan penghuni negeri itu, seperti bahan makanan, buah-buahan, barang pakaian sampai barang mewah.
Doa Nabi Ibrahim ini akan lebih nyata terlihat dengan ditemukannya emas hitam (minyak tanah) di negeri itu yang tidak ternilai harganya sehingga Saudi Arabia dewasa ini termasuk salah satu negara yang terkaya di dunia.
Penganugerahan karunia yang berlipat ganda itu ditegaskan dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami?
Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

(Q.S Al Qasas: 57)

Allah subhanahu wa ta'ala menganugerahkan rezeki dan kekayaan yang banyak kepada penduduk dan negeri Arab itu agar penduduk negeri itu mensyukuri nikmat Allah dengan menjaga Baitullah, melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan-Nya.

Dari ayat ini dipahamkan bahwa segala sesuatu yang diperoleh selama hidup di dunia ini adalah untuk keperluan beribadat kepada Tuhan dengan hasil yang diperoleh itu dapat disempurnakan pelaksanaan perintah-perintah Allah dan penghentian larangan-Nya, bukan semata-mata untuk kepentingan dan kesenangan diri sendiri.

Ibrahim (14) ayat 37 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ibrahim (14) ayat 37 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ibrahim (14) ayat 37 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ya Tuhan kami, kata Ibrahim melanjutkan doanya, "aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah Mekah yang tidak ditumbuhi pepohonan, di rumah-Mu yang Engkau lindungi dari tangan-tangan jahat dan Engkau jadikan daerah sekitarnya aman.
Ya Tuhan kami, berilah mereka kehormatan mengerjakan salat di rumah ini.
Jadikanlah orang-orang yang berhati mulia mencintai keturunanku itu dengan mengunjungi rumah-Mu.
Berilah rezeki berupa buah-buahan yang Engkau kirimkan melalui para pendatang, agar mereka mensyukuri nikmat-Mu dengan mengerjakan salat dan berdoa.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Ya Rabb kami! Sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku) sebagian daripada mereka, yaitu Nabi Ismail dan Siti Hajar ibunya (di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman) yaitu Mekah (di dekat rumah Engkau yang suci) sebelum banjir besar terjadi (ya Rabb agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati) kalbu-kalbu (sebagian manusia cenderung) condong dan merindukan (kepada mereka) Sahabat Ibnu Abbas mengatakan, seandainya Nabi Ibrahim mengatakan di dalam doanya, yaitu af-idatan naasi yang artinya semua hati manusia, maka orang-orang Persia, Romawi dan semua manusia niscaya akan cenderung ke Baitullah (dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.") dan memang doanya diperkenankan, yaitu dengan disuplaikannya buah-buahan dari Thaif ke Mekah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak terdapat tanaman dan air di dekat rumah-Mu yang disucikan (Baitullah al-Muharram).
Wahai Rabb kami, aku melakukan hal itu karena perintah-Mu, agar mereka melaksanakan shalat sesuai ketentuan-ketentuannya.
Karena itu, jadikanlah hati sebagian makhluk-Mu cenderung kepada mereka, dan berilah mereka rizki di tempat ini dari aneka macam buah-buahan, agar mereka bersyukur kepada-Mu atas besarnya nikmat-nikmat-Mu.
Allah pun mengabulkan doanya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Hal ini menunjukkan bahwa doa ini adalah doa yang berikutnya sesudah doa yang pertama yang dipanjatkannya ketika ia pergi meninggalkan Hajar dan putranya (Nabi Ismail), hal ini terjadi sebelum Baitullah dibangun.
Sedangkan doa yang kedua ini dipanjatkannya sesudah ia membangun Baitullah sebagai pengukuhannya dan ungkapan keinginannya yang sangat akan rida Allah subhanahu wa ta'ala.
Untuk itulah di dalam doanya disebutkan:

...di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat.

Menurut Ibnu Jarir, ayat ini berkaitan dengan firman-Nya, "al-muharram." Dengan kata lain, sesungguhnya saya menjadikannya sebagai tanah yang haram (suci) agar penduduknya dapat mendirikan salat di dekatnya.

...maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.

Ibnu Abbas, Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, dan lain-lainnya mengatakan bahwa seandainya Nabi Ibrahim dalam doanya mengatakan, "Af-idatan nasi," (yakni tanpa min) yang artinya 'hati seluruh umat manusia', maka tentulah orang-orang Romawi, Persia, Yahudi, dan Nasrani serta manusia lainnya akan berdesak-desakan memenuhinya.
Akan tetapi, Nabi Ibrahim mengatakan, "Minan nas," yakni sebagian manusia.
Dengan demikian, maka hal ini khusus bagi kaum muslim saja.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan.

Agar hal itu dapat dijadikan sebagai pembantu bagi mereka untuk mengerjakan ketaatan kepada-Mu, dan mengingat Mekah adalah sebuah lembah yang tidak memiliki tumbuh-tumbuhan, maka dimohonkan agar mereka beroleh buah-buahan untuk makan mereka.
Allah subhanahu wa ta'ala.
mengabul­kan permohonan Nabi Ibrahim ini, seperti yang dinyatakan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagi kalian), dari sisi Kami?
(Al Qashash:57)

Ini merupakan sebagian dari kebaikan Allah, kemuliaan, rahmat, dan berkah-Nya, Mengingat di Tanah Suci Mekah tidak terdapat pepohonan yang berbuah, untuk itulah maka didatangkan kepadanya segala macam buah-buahan dari daerah-daerah yang ada di sekitarnya sebagai perkenan dari Allah atas doa Nabi Ibrahim 'alaihis salam

Kata Pilihan Dalam Surah Ibrahim (14) Ayat 37

AF'IDAH
أَفْـِٔدَة

Lafaz ini berbentuk jamak dan mufradnya adalah al fuad yang berarti al qalb yaitu hati atau jantung.

Menurut Al Lihyani, lafaz ini adalah mudzakkar dan tidak ada mu'annats, al qalb berada di dalam diri manusia dan makhluk lainnya seperti hewan yang memiliki jantung atau hati. Al fuad berada di relung hati (lubuknya), dikatakan al fu'aad bermakna penutup hati dan ia menjadi sanubarinya.

Dalam sebuah hadis dijelaskan:
"Akan datang kepada kamu ahli Yaman dimana halus sanubari mereka dan lembut hati mereka"

Ia juga bermakna jantung dan lelaki maf'ud artinya lelaki penakut yang lemah jantungnya seperti orang kurus dan lemah.

Dalam Kamus Al Munjid, kata al fu'aad digunakan juga untuk menunjukkan akal.

Kata af'idah disebut sebanyak 11 kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al An'aam (6), ayat 110, 113;
-Ibrahim (14), ayat 37, 43;
-An Nahl (16), ayat 78;
-Al Mu'minuun (23), ayat 78;
-As Sajadah (32), ayat 9;
-Al Ahqaaf (46), ayat 26;
-Al Mulk (67), ayat 23;
-Al Humazah (104), ayat 7.

Sa'id Hawwa menukilkan dari An Nasafi dalam menafsirkan ayat 7 dari surah Al Humazah, api yang dinyalakan itu masuk ke dalam diri mereka sehingga masuk ke dada-dada mereka dan naik menjulang ke fuad mereka. Fuaad itu adalah relung hati, tidak ada sesuatu yang paling lembut dalam badan manusia selain daripada fuad dan tidak ada yang paling dahsyat sakitnya selain daripada fu'ad ketika ditimpa penyakit. Maka, bagaimana apabila api neraka naik menjulang ke atasnya dan membakarnya.

Dikatakan, dikhususkan af'idah di sini karena ia adalah tempat tertanam kekufuran dan akidah yang rusak. Az Zamakhsyari menafsirkan ayat 110 dari surah Al­ An'aam, Sedangkan pada ayat 113 dari surah yang sama, beliau menafsirkan af'idah dengan hati orang kafir.

Al Qurtubi menafsirkan kata af'idah pada ayat 37 dari surah Ibrahim dengan hati karena diungkapkan tentang hati sebelumnya dengan menggunakan kata fu'aad dan dikaitkan pula af'idah disini dengan kata kerja tahwi yang bermakna cenderung dan mau. Sedangkan dalam ayat 43, beliau menukilkan pandangan Ibn Abbas yang mengatakan makna af'idatuhum hawaa' adalah hati sanubari mereka itu kosong dari kebaikan.

Kesimpulannya, kata af'idah dalam bentuk jamak pada ayat-ayat ini lebih banyak dikaitkan dengan penglihatan dan pendengaran dan disudahi setiap ayat dengan menerangkan manusia kebanyakannya kufur dan ingkar. Semua pendapat ulama saling berkaitan. Af'idah bermakna lubuk hati atau sanubari. Ia adalah tempat tertanamnya keimanan dan kekufuran.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:22-23

Informasi Surah Ibrahim (إبراهيم)
Surat Ibrahim ini terdiri atas 52 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah karena diturunkan di Mekah sebelum Hijrah.

Dinamakan surat "IBRAHIM",
karena surat ini mengan­dung do'a Nabi Ibrahim 'alaihis salam yaitu pada ayat 35 sampai dengan 41.
Do'a ini isinya antara lain:
permohonan agar keturunannya mendirikan shalat, dijauhkan dari menyembah berhala-berhala dan agar Mekah dan daerah sekitarnya menjadi daerah yang aman dan makmur.
Do'a Nabi Ibra­ him 'alaihis salam ini telah diperkenankan oleh Allah s.w.t sebagaimana telah terbukti keamanannya sejak dahulu sampai sekarang.
Do'a tersebut dipanjatkan beliau ke hadirat Allah subhanahu wa ta'ala sesudah selesai membina Ka'bah bersama puteranya Ismail 'alaihis salam, di dataran tanah Mekah yang tandus.

Keimanan:

Al Qur'an adalah pembimbing manusia ke jalan Allah
segala sesuatu dalam alam ini kepunyaan Allah
keingkaran manusia terhadap Allah tidaklah mengurangi kesempumaan-Nya
nabi-nabi membawa mu'jizat atas izin Allah semata-mata
Allah kuasa mematikan manusia dan membangkitkannya kembali dalam bentuk baru
ilmu Allah meliputi yang lahir dan yang batin.

Hukum:

Perintah mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian harta, baik secara rahasia maupun secara terang-terangan,

Kisah:

Kisah Nabi Musa a.s. dengan kaumnya, serta kisah para rasul zaman dahulu.

Lain-lain:

Sebabnya rasul-rasul diutus dengan bahasa kaumnya sendiri
perumpamaan tentang perbuatan dan perkataan yang hak dengan yang bathil
kejadian langit dan bumi mengandung hikmah-hikmah
macam-macam ni'mat Allah kepada manusia dan janji Allah kepada hamba-hamba yang mensyukuriNya.


Gambar Kutipan Surah Ibrahim Ayat 37 *beta

Surah Ibrahim Ayat 37



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ibrahim

Surah Ibrahim (bahasa Arab:إبراهيم, Ibrāhīm, "Nabi Ibrahim") adalah surah ke-14 dalam al-Quran.
Surah ini terdiri atas 52 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyyah karena diturunkan di Mekkah sebelum Hijrah.
Dinamakan Ibrahim, karena surah ini mengandung doa Nabi Ibrahim yaitu ayat 35 sampai dengan 41.
Doa ini isinya antara lain: permohonan agar keturunannya mendirikan salat, dijauhkan dari menyembah berhala-berhala dan agar Mekkah dan daerah sekitarnya menjadi daerah yang aman dan makmur.
Doa Nabi Ibrahim ini telah diperkenankan oleh Allah sebagaimana telah terbukti keamanannya sejak dahulu sampai sekarang.
Doa tersebut dipanjatkan dia ke hadirat Allah sesudah selesai membina Ka'bah bersama puteranya Ismail, di dataran tanah Mekkah yang tandus.

Nomor Surah14
Nama SurahIbrahim
Arabإبراهيم
ArtiNabi Ibrahim
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu72
JuzJuz 13 (ayat 1-52)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat52
Jumlah kata833
Jumlah huruf3541
Surah sebelumnyaSurah Ar-Ra’d
Surah selanjutnyaSurah Al-Hijr
4.8
Rating Pembaca: 4.4 (16 votes)
Sending







✔ QS ibrahim 78, surat ibrahim ayat 37