QS. Hud (Nabi Hud) – surah 11 ayat 87 [QS. 11:87]

قَالُوۡا یٰشُعَیۡبُ اَصَلٰوتُکَ تَاۡمُرُکَ اَنۡ نَّتۡرُکَ مَا یَعۡبُدُ اٰبَآؤُنَاۤ اَوۡ اَنۡ نَّفۡعَلَ فِیۡۤ اَمۡوَالِنَا مَا نَشٰٓؤُاؕ اِنَّکَ لَاَنۡتَ الۡحَلِیۡمُ الرَّشِیۡدُ
Qaaluuu yaa syu’aibu ashalaatuka ta’muruka an natruka maa ya’budu aabaa’unaa au an naf’ala fii amwaalinaa maa nasyaa-u innaka antal haliimurrasyiid(u);

Mereka berkata:
“Hai Syu’aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami.
Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal”.
―QS. 11:87
Topik ▪ Balasan dan pahala dari Allah
11:87, 11 87, 11-87, Hud 87, Hud 87, Hud 87

Tafsir surah Hud (11) ayat 87

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Hud (11) : 87. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah menerangkan reaksi yang dihadapi oleh Syuaib ‘alaihis salam dan kaumnya sebagai bantahan atas dua macam isi dakwahnya itu, yaitu:

Pertama: supaya mereka menyembah Allah Yang Maha Esa dan tidak boleh mempersekutukan-Nya dengan menyembah berhala-berhala dan sebagainya.

Kedua: supaya mereka menyempurnakan takaran dan timbangan dan tidak boleh menguranginya.

Terhadap isi dakwah yang pertama, mereka membantah dengan mengatakan: “Apakah salatmu yang ditimbulkan oleh kekacauan pikiran yang tidak menentu dan perbuatan gila, itulah yang mendorong dan memerintahkanmu supaya menyuruh kami meninggalkan sembahan kami dari berhala-berhala dan patung-patung yang disembah oleh nenek moyang kami semenjak berabad-abad?”
Mereka sengaja menyebutkan salat Syuaib ‘alaihis salam karena ia terkenal banyak melakukan salat sehingga menjadi ejekan dengan cemoohan bagi mereka, karena mereka menyangka bahwa perbuatannya itu adalah perbuatan gila dan kekacauan pikiran yang tidak menentu.
Sesungguhnya Syuaib ‘alaihis salam adalah nabi yang terbanyak salatnya.
Apabila kaumnya melihatnya sedang melakukan salat mereka saling mengedipkan mata dan ketawa, maka salat itu adalah di antara syiar-syiar agama yang menjadi bahan tertawaan mereka.

Adapun terhadap isi dakwahnya yang kedua, mereka membantah dengan mengatakan: “Apakah salat itu yang memerintahkanmu supaya melarang dan mengekang kebebasan kami dalam memperkembangkan harta kekayaan kami menurut kepandaian dan kecerdikan dengan segala macam tipu daya sesuai dengan kemauan dan keinginan kami?
Sungguh kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.” Menurut Ibnu Abbas, yang mereka sebutkan pada Syuaib ‘alaihis salam itu adalah merupakan ejekan terhadapnya sedang yang mereka maksud ialah sebaliknya, yakni lawan dari dua sifat itu.
Pendapat ini sesuai dan seirama dengan percakapan mereka sebelumnya yang sifat dan tujuannya adalah mengejek.

Pendapat lain mengatakan bahwa sifat penyantun lagi berakal yang mereka sebutkan kepada Syuaib ‘alaihis salam itu tetap menurut artinya yang asal berdasarkan prasangka mereka semula yaitu sebelum Syuaib menyampaikan dakwahnya itu kepada mereka.
Seolah-olah mereka mengatakan: “Kamu selama ini sangat penyantun lagi berakal, mengapa sekarang kamu mau menyusahkan kami?”
Pendapat ini seirama dengan perkataan kaum Samud kepada Nabi Saleh ‘alaihis salam yang diterangkan dalam firman Allah:

Kaum Samud berkata: “Hai Saleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami?
Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.”

(Q.S. Hud [11]: 62)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dengan nada mencemooh dan meremehkan mereka berkata, “Wahai Syu’aib, agamamukah yang menyuruhmu agar kami meninggalkan patung-patung yang disembah oleh nenek moyang kami atau agar kami tidak menggunakan harta sesuka kami menurut kemaslahatan dari sudut pandang kami?
Sesungguhnya itu adalah tindakan yang sangat bodoh dan salah, serta tidak sesuai dengan kepribadianmu yang kami kenal pintar dan bijaksana dalam berpendapat.
Kamu telah dikenal sebagai orang yang sangat penyantun lagi berakal.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Mereka berkata) kepada Nabi Syuaib dengan nada mengejek (“Hai Syuaib! Apakah salatmu menyuruhmu) membebankan kepadamu (agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami) yaitu berhala-berhala (atau) melarang kami (mencegah kami melakukan apa yang kami kehendaki tentang harta kami) maksudnya hal ini tidak benar sama sekali, tidak ada seorang pun yang menyeru kepada kebaikan.

(Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.”) mereka mengatakan demikian dengan nada mengejek dan mencemoohkan Nabi Syuaib.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Mereka berkata :
Hai Syuaib, apakah shalat yang senantiasa kamu kerjakan itu menyuruhmu agar kami meninggalkan berhala-berhala dan patung-patung yang telah disembah oleh para leluhur kami, atau melarang kami bekerja mencari harta dengan yang kami bisa, yaitu dengan mengurangi timbangan dan menipu??
Mereka berkata (untuk mengejeknya) :
Sesungguhnya engkau sangat pandai lagi baik dalam mengurusi harta.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Mereka menjawab Syu’aib dengan nada memperolok-olok, semoga Allah melaknat mereka.

Apakah sembahyangmu.

Menurut Al-A’masy, makna yang dimaksud ialah apakah kitab bacaanmu.

…menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami.

Yakni berhala-berhala dan patung-patung.

…atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki ten­tang harta kami.

Lalu kami tidak lagi melakukan kecurangan dalam takaran hanya karena ucapanmu.
Yang dimaksud adalah harta kami, kami berbuat menurut apa yang kami kehendaki.

Al-Hasan mengatakan sehubungan dengan firman-Nya :

Apakah sembahyangmu menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami?
Yakni demi Allah, sesungguhnya salat Syu’aib benar-benar memerintah­kan kepada mereka agar meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang mereka.

As-Sauri mengatakan sehubungan firman-Nya:

…atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami.
Yang-mereka maksudkan ialah zakat.

Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal

Ibnu Abbas, Maimun ibnu Mahran, Ibnu Juraij, Aslam, dan Ibnu Jarir mengatakan bahwa mereka mengucapkan kalimat tersebut kepada Nabi Syu’aib dengan nada memperolok-olok.
Mereka adalah musuh Allah, semoga Allah melaknat mereka, dan memang laknat Allah menimpa mereka.


Informasi Surah Hud (هود)
Surat Huud termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, terdiri dari 123 ayat diturunkan sesudah surat Yunus.
Surat ini dinamai surat Hud karena ada hubungan dengan terdapatnya kisah Nabi Hud ‘alaihis salam dan kaumnya, dalam surat ini terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh ‘alaihis salam, Shaleh ‘alaihis salam, Ibrahim ‘alaihis salam, Luth ‘alaihis salam, Syu’aib ‘alaihis salam.
dan Musa ‘alaihis salam

Keimanan:

adanya ‘Arsy Allah
kejadian alam dalam 6 pase
adanya golongan-golongan manusia di hari kiamat.

Hukum:

agama membolehkan menikmati yang baik-baik dan memakai perhiasan asal tidak berlebih-lebihan
tidak boleh berlaku sombong
tidak boleh mendo’a atau mengha­rapkan sesuatu yang tidak mungkin menurut sunnah Allah.

Kisah:

Kisah Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Huud a.s. dan kaumnya
kisah Shaleh a.s. dan kaumnya
kisah Ibrahim a.s. dan kaumnya
kisah Syuaib a.s. dan kaumnya
kisah Luth a.s. dan kaumnya
kisah Musa a.s, dan kaumnya.

Lain-lain:

Pelajaran-pelajaran yang diambil dari kisah-kisah para nabi
air sumber segala ke­hidupan
sembahyang itu memperkuat iman
sunnah Allah yang berhubungan de­ngan kebinasaan suatu kaum.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Hud (11) ayat 87 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Hud (11) ayat 87 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Hud (11) ayat 87 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Hud - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 123 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 11:87
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Hud.

Surah Hud (Arab: هود , Hūd, "Nabi Hud") adalah surah ke-11 dalam al-Qur'an dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini terdiri dari 123 ayat diturunkan sesudah surah Yunus.
Surah ini dinamai surah Hud karena ada hubungan dengan kisah Nabi Hud dan kaumnya dalam surah.
terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh, Shaleh, Ibrahim, Luth, Syu'aib, dan Musa.

Nomor Surah 11
Nama Surah Hud
Arab هود
Arti Nabi Hud
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 52
Juz Juz 11 (ayat 1-5),

juz 12 (ayat 6-123)

Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 123
Jumlah kata 1948
Jumlah huruf 7820
Surah sebelumnya Surah Yunus
Surah selanjutnya Surah Yusuf
4.9
Ratingmu: 4.9 (13 orang)
Sending







Pembahasan ▪ play muratal qs hud 87

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta