QS. Hud (Nabi Hud) – surah 11 ayat 53 [QS. 11:53]

قَالُوۡا یٰہُوۡدُ مَا جِئۡتَنَا بِبَیِّنَۃٍ وَّ مَا نَحۡنُ بِتَارِکِیۡۤ اٰلِہَتِنَا عَنۡ قَوۡلِکَ وَ مَا نَحۡنُ لَکَ بِمُؤۡمِنِیۡنَ
Qaaluuu yaa huudu maa ji-atanaa bibai-yinatin wamaa nahnu bitaarikii aalihatinaa ‘an qaulika wamaa nahnu laka bimu’miniin(a);

Kaum ‘Ad berkata:
“Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.
―QS. 11:53
Topik ▪ Setiap nabi menerima ujian
11:53, 11 53, 11-53, Hud 53, Hud 53, Hud 53

Tafsir surah Hud (11) ayat 53

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Hud (11) : 53. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan tantangan kaum Hud ‘alaihis salam terhadap dakwah yang disampaikan Hud ‘alaihis salam dengan cara membangkang dan mengatakan, bahwa Hud ‘alaihis salam tidak memberikan bukti yang nyata sedikit pun yang menunjukkan kebenarannya sebagai Rasul Allah yang ditugaskan untuk menyampaikan dakwah kepada mereka.
Sebab itu mereka tidak akan meninggalkan penyembahan berhala-berhala dan patung-patung hanya karena mendengar omongannya yang tidak beralasan, dan menyatakan bahwa mereka tidak akan percaya kepadanya.
Tantangan kaum Hud yang keras ini kelihatan pada mulanya didasarkan kepada tidak adanya bukti yang nyata yang disampaikan oleh Nabi Hud ‘alaihis salam kepada mereka tentang kebenarannya sebagai Rasul Allah.
Akan tetapi bila diperhatikan dari cara, gaya dan isi dari tantangan kaumnya itu, maka dapat disimpulkan bahwa mereka hakikatnya hanya membangkang, bukan karena tidak adanya bukti atau dalil yang nyata.
Jelaslah bahwa dengan adanya tantangan itu mereka tidak ada harapan lagi untuk beriman.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Mereka berkata, “Wahai Hud, kamu tidak menunjukkan kepada kami bukti yang menguatkan kebenaran seruanmu.
Kami juga tidak akan meninggalkan sembahan kami hanya karena ucapanmu.
Apakah patut kami meninggalkan tuhan-tuhan kami, sementara kami tidak mempercayaimu?”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kaum Ad berkata, “Hai Hud! Kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata) yang menunjukkan kebenaran perkataanmu itu (dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu) hanya karena ucapanmu itu (dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Mereka (kaum “Ad) berkata :
Hai Hud, kamu tidak mendatangkan suatu bukti nyata yang menunjukkan kebenaran apa yang kamu serukan itu, dan kami tidak akan meninggalkan tuhan-tuhan yang kami sembah karena perkataanmu itu.
Dan kami tidak akan mempercayai apa yang kamu serukan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
menceritakan bahwa mereka mengatakan kalimat berikut kepada nabi mereka:

…kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata.

Maksudnya, hujah dan bukti yang membenarkan apa yang kamu akui itu.

…dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu.

Yakni hanya karena perkataanmu, “Tinggalkanlah sembahan-sembahan itu,” lalu kami meninggalkan mereka:

…dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu

Artinya, kami tidak akan membenarkan dan tidak akan mempercayaimu.


Kata Pilihan Dalam Surah Hud (11) Ayat 53

AALIHAH
ءَالِهَة

Lafaz ini adalah dalam bentuk jamak, mufradnya adalah al-ilah. Asalnya seperti wazan (bentuk kata) fi’al dan menjadi ism maf’ul atau bermakna ma’luh artinya yang dipertuhankan atau disembah.

Al ilah mengandung makna Allah dan setiap sesuatu yang dijadikan sembahan selainnya, maka ia adalah ilah (tuhan) bagi penyembahnya. Al aalihah juga bermakna al ashnaam (berhala-berhala) karena menurut keyakinan mereka ia patut disembah.

Lafaz aalihah disebut 34 kali di dalam Al Qur’an yaitu pada surah:
-Al An’aam (6), ayat 19, 74;
-Al A’raaf (7), ayat 127; 138,
-Hud (11), ayat 53, 54, 101;
-Al Israa (17), ayat 42;
-Al Kahfi (18), ayat 15;
-Maryam (19), ayat 46, 81;
-Al Anbiyaa (21), ayat 21, 22, 23, 24, 36, 59, 62, 68, 99;
-Al Furqaan (25), ayat 3, 42;
-Yaa Siin (36), ayat 23, 74;
-Ash Shaffat (37), ayat 36, 86, 91;
-Shad (38), ayat 5, 6;
-Az Zukhruf (43), ayat 45, 58;
-Al Ahqasf (46), ayat 22, 28;
-Nuh (71), ayat 23.

Dalam Tafsir Al Khazin, dalam surah Al An’aam dijelaskan makna aalihah ialah al ashnaam (berhala-berhala) yang mereka sembah. Dan dalam surah Al Anbiyaa ayat 21, beliau memberi makna tuhan-tuhan atau berhala-berhala yang dibuat dari batu dan anak sapi serta selain dari keduanya yang dibuat dari tembaga yang diambil dari bumi.

Begitu juga yang diriwayatkan dari Ibn Abbas bermakna ash ashnaam (berhala­ berhala atau tuhan-tuhan) yang mereka (orang musyrik) mengatakan ia anak-anak perempuan Allah. Sedangkan dalam surah Al Anbiyaa, ayat 22, beliau memberi makna tuhan-tuhan atau sembahan-sembahan yang ada di bumi dan di langit.

An Nasafi menafsirkan, aalihah yang terdapat dalam surah Al Anbiyaa, ayat 22, menghidupkan yang mati dan dari bumi adalah sifat bagi alihah karena alihah dijadikan dari perut bumi seperti emas, perak dan tembaga atau batu serta disembah di bumi.

Kesimpulannya, kata aalihah di dalam Al Qur’an ditujukan kepada berhala-berhala yang disembah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:44-45

Informasi Surah Hud (هود)
Surat Huud termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, terdiri dari 123 ayat diturunkan sesudah surat Yunus.
Surat ini dinamai surat Hud karena ada hubungan dengan terdapatnya kisah Nabi Hud ‘alaihis salam dan kaumnya, dalam surat ini terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh ‘alaihis salam, Shaleh ‘alaihis salam, Ibrahim ‘alaihis salam, Luth ‘alaihis salam, Syu’aib ‘alaihis salam.
dan Musa ‘alaihis salam

Keimanan:

adanya ‘Arsy Allah
kejadian alam dalam 6 pase
adanya golongan-golongan manusia di hari kiamat.

Hukum:

agama membolehkan menikmati yang baik-baik dan memakai perhiasan asal tidak berlebih-lebihan
tidak boleh berlaku sombong
tidak boleh mendo’a atau mengha­rapkan sesuatu yang tidak mungkin menurut sunnah Allah.

Kisah:

Kisah Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Huud a.s. dan kaumnya
kisah Shaleh a.s. dan kaumnya
kisah Ibrahim a.s. dan kaumnya
kisah Syuaib a.s. dan kaumnya
kisah Luth a.s. dan kaumnya
kisah Musa a.s, dan kaumnya.

Lain-lain:

Pelajaran-pelajaran yang diambil dari kisah-kisah para nabi
air sumber segala ke­hidupan
sembahyang itu memperkuat iman
sunnah Allah yang berhubungan de­ngan kebinasaan suatu kaum.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Hud (11) ayat 53 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Hud (11) ayat 53 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Hud (11) ayat 53 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Hud - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 123 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 11:53
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Hud.

Surah Hud (Arab: هود , Hūd, "Nabi Hud") adalah surah ke-11 dalam al-Qur'an dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini terdiri dari 123 ayat diturunkan sesudah surah Yunus.
Surah ini dinamai surah Hud karena ada hubungan dengan kisah Nabi Hud dan kaumnya dalam surah.
terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh, Shaleh, Ibrahim, Luth, Syu'aib, dan Musa.

Nomor Surah 11
Nama Surah Hud
Arab هود
Arti Nabi Hud
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 52
Juz Juz 11 (ayat 1-5),

juz 12 (ayat 6-123)

Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 123
Jumlah kata 1948
Jumlah huruf 7820
Surah sebelumnya Surah Yunus
Surah selanjutnya Surah Yusuf
4.5
Ratingmu: 4.7 (21 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim