QS. Hud (Nabi Hud) – surah 11 ayat 48 [QS. 11:48]

قِیۡلَ یٰنُوۡحُ اہۡبِطۡ بِسَلٰمٍ مِّنَّا وَ بَرَکٰتٍ عَلَیۡکَ وَ عَلٰۤی اُمَمٍ مِّمَّنۡ مَّعَکَ ؕ وَ اُمَمٌ سَنُمَتِّعُہُمۡ ثُمَّ یَمَسُّہُمۡ مِّنَّا عَذَابٌ اَلِیۡمٌ
Qiila yaa nuuhu ihbith bisalaamin minnaa wabarakaatin ‘alaika wa’ala umamin mimman ma’aka wa-umamun sanumatti’uhum tsumma yamassuhum minnaa ‘adzaabun aliimun;

Difirmankan:
“Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu.
Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami”.
―QS. 11:48
Topik ▪ Iman ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala ▪ Pemilihan para nabi
11:48, 11 48, 11-48, Hud 48, Hud 48, Hud 48

Tafsir surah Hud (11) ayat 48

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Hud (11) : 48. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa setelah bahtera itu berlabuh di atas bukit Judiy beberapa waktu yang tidak diterangkan lamanya.
Menurut sebagian mufassirin bahwa lamanya satu bulan, maka setelah air bah surut, Allah memerintahkan kepada Nuh ‘alaihis salam supaya turun dari bahtera itu bersama-sama dengan para pengikutnya untuk membangun kehidupan baru dalam rangka meneruskan generasi umat manusia yang bertauhid dan bertakwa setelah orang-orang kafir dan kaumnya itu musnah tenggelam dalam azab topan itu.

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan agar Nuh ‘alaihis salam dan pengikut-pengikutnya turun dari bahtera itu disertai ucapan selamat sejahtera dan penuh keberkatan daripada-Nya bagi Nuh ‘alaihis salam serta para pengikutnya dari marabahaya topan, dan adanya janji Allah bahwa ia dan pengikutnya akan diberi berkah dalam menempuh kehidupan dunia dan akhirat.
Setelah mereka turun ke daratan, maka mereka mendapat keluasan dalam rezeki dan keperluan hidup yang mereka butuhkan untuk kepentingan mereka dan generasi selanjutnya.

Selanjutnya Allah menerangkan bahwa tidak semua dari generasi mereka yang akan berkembang biak di kemudian hari akan sama dengan mereka.
Tetapi ada di antara generasi yang berkembang biak itu menjadi umat-umat yang hanya dapat menikmati rezeki dan kesenangan dunia, kemudian di akhirat mereka akan menerima azab yang sangat pedih.
Mereka disesatkan oleh setan sehingga menjadi musyrik dan bergelimang dalam kelaliman dan kejahatan-kejahatan lainnya sehingga mereka tidak bisa memelihara keamanan dan kesejahteraan, bahkan sebagian menindas sebagian yang lain, mereka bercerai-berai dan berselisih menyimpang dari petunjuk agama yang dibawa oleh Rasul-rasul Allah.
Menurut keterangan Taqiyuddin Al-Maqrizi bahwa semua pengikut-pengikut Nuh ‘alaihis salam tidak ada yang meninggalkan keturunan kecuali tiga anaknya (Syam, Ham dan Yafis).
Dan pendapat ini dikuatkan dengan firman Allah:

Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.
(Q.S. As-Saffat [37]: 77)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Difirmankan melalui wahyu, “Wahai Nuh, turunlah ke bumi dari bahtera keselamatan dengan selamat sejahtera dan keberkahan Allah tercurahkan kepadamu dan orang-orang yang menyertaimu.
Mereka yang menyertaimu kelak akan menjadi umat-umat yang berbeda satu sama lainnya.
Sebagian dari mereka akan diberkahi dengan keimanan dan kepatuhan, sementara sebagian lainnya akan menjadi umat-umat yang terbuai dengan kesenangan dunia dan tidak tunduk kepada kebenaran.
Mereka yang disebut terakhir ini akan mendapatkan azab yang pedih dan menyakitkan di hari kiamat.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Difirmankan, “Hai Nuh! Turunlah) turunlah dari bahtera (dengan selamat) dengan selamat atau dengan hormat (dari Kami dan penuh keberkahan) penuh kebaikan (atasmu dan atas umat-umat yang mukmin dan orang-orang yang bersamamu”) di dalam bahtera, yang dimaksud adalah anak cucu dan keturunannya, yaitu orang-orang yang beriman (Dan ada pula umat-umat) dibaca rafa` yaitu umamun, makna yang dimaksud adalah umat-umat yang bersamamu (yang Kami beri kesenangan pada mereka) di dunia (kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami) di akhirat kelak, mereka adalah orang-orang kafir.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah berfirman :
Hai Nuh, turunlah dari perahumu dengan rasa aman dan keselamatan dari Kami serta keberkahan atasmu dan orang-orang yang bersamamu.
Dan di sana terdapat pula umat dan golongan yang celaka.
Kami berikan kesenangan semasa hidup di dunia, sampai datang ajal mereka, kemudian mereka mendapatkan siksa yang sangat pedih pada Hari Kiamat kelak.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
menceritakan firman-Nya kepada Nuh ‘alaihis salam ketika bahteranya telah berlabuh di atas Bukit Al-Judi, yaitu ucapan kesejahteraan yang ditujukan kepadanya, kepada orang-orang mukmin yang bersamanya, dan kepada seluruh orang mukmin dari kalangan keturunannya sampai hari kiamat.
Seperti yang dikatakan oleh Muhammad ibnu Ka’b, bahwa termasuk ke dalam ucapan sejahtera (salam) ini setiap orang mukmin —baik laki-laki maupun perempuan— sampai hari kiamat nanti.
Demikian pula mengenai azab dan kesenangan sementara, ditujukan kepada setiap orang kafir laki-laki dan perempuan sampai hari kiamat nanti.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa ketika Allah bermaksud menghentikan banjir besar, Dia mengirimkan angin ke atas permukaan bumi.
Maka air pun berhenti, dan semua sumber air di bumi yang berlimpah lagi besar tertutup, begitu pula semua pintu langit (yakni hujannya).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan difirmankan, “Hai bumi, telanlah airmu.”, hingga akhir ayat.

Maka air pun mulai berkurang dan menyurut serta mengering.

Menurut dugaan Ahli Kitab Taurat, berlabuhnya bahtera Nabi Nuh di atas Bukit Al-Judi adalah pada bulan tujuh tanggal tujuh belasnya.
Dan pada permulaan bulan kesepuluh Nuh ‘alaihis salam melihat puncak-puncak bukit.
Setelah berlalu empat puluh hari, Nuh membuka pintu bahteranya, lalu ia mengirimkan burung gagak untuk melihat keadaan air, tetapi burung gagak tidak kembali lagi.
Lalu Nuh mengirimkan burung merpati, dan burung merpati itu kembali lagi kepadanya karena tidak menemukan daratan untuk tempat hinggapnya.
Maka Nabi Nuh mengulurkan tangannya kepada merpati itu dan menangkapnya, lalu memasukkannya kembali kedalam bahtera.

Kemudian berlalulah tujuh hari, dan Nuh kembali mengirimkan burung merpati untuk melihat keadaan daratan.
Merpati itu kembali kepadanya pada sore harinya, sedangkan di paruhnya terdapat daun pohon zaitun.
Maka Nuh mengetahui bahwa air telah menyurut dari permukaan bumi

Nuh tinggal selama tujuh hari lagi, kemudian ia kembali mengirimkan burung merpati itu, dan ternyata burung merpati itu tidak kembali, maka Nuh mengetahui bahwa daratan telah muncul.
Setelah genap satu tahun sejak Allah mengirimkan banjir besar hingga Nuh mengirimkan burung merpati dan pada tanggal satu bulan pertama dari tahun berikutnya daratan telah tampak, maka Nuh membuka penutup bahteranya.
Dan pada bulan yang kedua dari tahun berikutnya, yaitu pada tanggal dua puluh enamnya:

Difirmankan, “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera.”, hingga akhir ayat.


Informasi Surah Hud (هود)
Surat Huud termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, terdiri dari 123 ayat diturunkan sesudah surat Yunus.
Surat ini dinamai surat Hud karena ada hubungan dengan terdapatnya kisah Nabi Hud ‘alaihis salam dan kaumnya, dalam surat ini terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh ‘alaihis salam, Shaleh ‘alaihis salam, Ibrahim ‘alaihis salam, Luth ‘alaihis salam, Syu’aib ‘alaihis salam.
dan Musa ‘alaihis salam

Keimanan:

adanya ‘Arsy Allah
kejadian alam dalam 6 pase
adanya golongan-golongan manusia di hari kiamat.

Hukum:

agama membolehkan menikmati yang baik-baik dan memakai perhiasan asal tidak berlebih-lebihan
tidak boleh berlaku sombong
tidak boleh mendo’a atau mengha­rapkan sesuatu yang tidak mungkin menurut sunnah Allah.

Kisah:

Kisah Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Huud a.s. dan kaumnya
kisah Shaleh a.s. dan kaumnya
kisah Ibrahim a.s. dan kaumnya
kisah Syuaib a.s. dan kaumnya
kisah Luth a.s. dan kaumnya
kisah Musa a.s, dan kaumnya.

Lain-lain:

Pelajaran-pelajaran yang diambil dari kisah-kisah para nabi
air sumber segala ke­hidupan
sembahyang itu memperkuat iman
sunnah Allah yang berhubungan de­ngan kebinasaan suatu kaum.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Hud (11) ayat 48 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Hud (11) ayat 48 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Hud (11) ayat 48 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Huud (11) ayat 47-49 - Gema Semesta (Bahasa Indonesia)
Q.S. Huud (11) ayat 47-49 - Gema Semesta (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Hud - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 123 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 11:48
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Hud.

Surah Hud (Arab: هود , Hūd, "Nabi Hud") adalah surah ke-11 dalam al-Qur'an dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini terdiri dari 123 ayat diturunkan sesudah surah Yunus.
Surah ini dinamai surah Hud karena ada hubungan dengan kisah Nabi Hud dan kaumnya dalam surah.
terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh, Shaleh, Ibrahim, Luth, Syu'aib, dan Musa.

Nomor Surah 11
Nama Surah Hud
Arab هود
Arti Nabi Hud
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 52
Juz Juz 11 (ayat 1-5),

juz 12 (ayat 6-123)

Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 123
Jumlah kata 1948
Jumlah huruf 7820
Surah sebelumnya Surah Yunus
Surah selanjutnya Surah Yusuf
4.6
Ratingmu: 4.2 (16 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta