Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Hud

Hud (Nabi Hud) surah 11 ayat 37


وَ اصۡنَعِ الۡفُلۡکَ بِاَعۡیُنِنَا وَ وَحۡیِنَا وَ لَا تُخَاطِبۡنِیۡ فِی الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ۚ اِنَّہُمۡ مُّغۡرَقُوۡنَ
Waashna’il fulka bia’yuninaa wawahyinaa walaa tukhaathibnii fiil-ladziina zhalamuu innahum mughraquun(a);

Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.
―QS. 11:37
Topik ▪ Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia
11:37, 11 37, 11-37, Hud 37, Hud 37, Hud 37
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Hud (11) : 37. Oleh Kementrian Agama RI

Menurut riwayat Ibnu Abbas panjang bahtera itu seribu dua ratus hasta.
Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah memerintahkan kepada Nuh a.s.
supaya membuat bahtera yang akan dipergunakan untuk menyelamatkannya dan pengikutnya yang beriman dari topan (air bah) yang akan melanda dan menenggelamkan permukaan bumi sebagai azab di dunia ini kepada orang-orang kafir dari kaumnya yang sangat membangkang dan durhaka itu.
Nabi Nuh a.s.
diperintahkan membuat bahtera penyelamat itu dengan petunjuk-petunjuk dan pengawasan dari Allah.

Dan masih banyak riwayat dan pendapat yang berbeda-beda, tetapi menurut Qatadah bahwa panjangnya tiga ratus hasta dan lebarnya lima puluh hasta dan ia tidak menyebutkan keterangan-keterangan lain.

Pendapat yang berbeda-beda itu adalah disebabkan tidak ada keterangan dalam perincian Alquran dan di dalam hadis-hadis yang sahih, tetapi kebanyakan pendapat-pendapat itu diambilkan dari sahabat Nabi dan Tabiin.
Selanjutnya pada ayat ini Allah memperingatkan Nuh a.s.
agar tidak lagi berbicara dengan kaumnya yang lalim (kafir) dan tidak lagi memohon supaya dosa mereka diampuni atau dihindarkan dari azab-Nya, karena sudah menjadi ketetapan Allah bahwa mereka akan ditenggelamkan dengan topan.

Larangan serupa ini telah terjadi pula terhadap Nabi Ibrahim a.s.
sewaktu dia memohonkan kepada Allah agar azab-Nya tidak ditimpakan kepada kaum Lut sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

Hai Ibrahim tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak.
(Q.S.
Hud: 76)

Hud (11) ayat 37 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Hud (11) ayat 37 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Hud (11) ayat 37 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Lalu Kami perintahkan kepadanya, "Buatlah sebuah bahtera untuk menyelamatkan kalian dengan pertolongan dan perlindungan Kami.
Tidak perlu lagi kamu utarakan kepada-Ku perihal orang-orang yang zalim itu.
Aku telah mengabulkan permintaanmu, dan telah Kuperintahkan agar mereka dibinasakan dengan cara ditenggelamkan."(1) (1) Lihat catatan kaki tafsir ayat 27, surat al-Mu'minun.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan buatlah bahtera) perahu (dengan pengawasan Kami) dengan pengawasan dan pemeliharaan Kami (dan petunjuk wahyu Kami) yakni perintah Kami (dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang lalim itu) orang-orang kafir itu, biarkanlah mereka binasa (sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan buatlah perahu dengan penjagaan, pengawasan, dan pertolongan Kami, dan janganlah engkau meminta agar Aku menunda (turunnya adazab terhadap) orang-orang yang mendzalimi diri sendiri itu dengan kekafiran mereka (yaitu kaummu).
Sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan oleh badai.
Dalam ayat ini terdapat penetapan (Allah memiliki mata) sesuai dengan apa yang layak nagi-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Dan buatlah bahtera itu.

Yakni kapal itu.

...dengan pengawasan Kami.

Maksudnya, di hadapan Kami.

...dan petunjuk wahyu Kami.

Yaitu dengan petunjuk dan pengajaran Kami kepadamu tentang apa yang harus kamu lakukan.

...dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa Allah memerintahkan Nabi Nuh agar menanam pohon-pohonan, setelah besar ditebang, lalu dike­ringkan, hal ini memakan waktu seratus tahun.
Kemudian Nabi Nuh meng­gergaji, menyerutnya, dan menghaluskannya selama seratus tahun lagi, sedangkan menurut pendapat lain adalah empat puluh tahun.

Muhammad ibnu Ishaq telah menceritakan dari kitab Taurat, bahwa Allah subhanahu wa ta'ala.
memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera itu dari kayu saj (jati) dengan panjang delapan puluh hasta dan lebar lima puluh hasta, dan hendaknya bahtera itu dicat dengan gar (ter) bagian luar dan dalamnya, hendaknya pula dibuatkan anjungan buat membelah air.

Qatadah mengatakan bahwa bahtera Nabi Nuh mempunyai panjang tiga ratus hasta dan lebarnya lima puluh hasta.

Dari Al-Hasan, disebutkan bahwa panjangnya enam ratus hasta dan lebarnya tiga ratus hasta.
Juga dari Al-Hasan dan Ibnu Abbas, disebut­kan bahwa panjangnya seribu dua ratus hasta dan lebarnya enam ratus hasta.
Sedangkan menurut pendapat lain, panjangnya dua ribu hasta, dan lebarnya seratus hasta.

Semuanya mengatakan bahwa tinggi bahtera Nabi Nuh adalah tiga puluh hasta, terdiri atas tiga tingkat, setiap tingkat mempunyai tinggi sepuluh hasta.
Tingkatan yang paling bawah untuk hewan dan binatang liar, yang tengah untuk manusia, sedangkan yang atas untuk burung-burung.
Disebutkan pula bahwa pintunya berada di bagian tengahnya, bagian atas bahtera itu beratap.

Imam Abu Ja'far ibnu Jarir telah menyebutkan sebuah asar yang garib melalui hadis Ali ibnu Zaid ibnu Jad'an, dari Yusuf ibnu Mahran, dari Abdullah ibnu Abbas.
Disebutkan bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan bahwa kaum Hawariyyin berkata kepada Isa ibnu Maryam, "Sebaiknya engkau mengirimkan seorang lelaki sebagai wakil dari kita semua untuk melihat bahtera itu, lalu dia akan menceritakannya kepada kita." Maka Isa ibnu Maryam membawa serta mereka pergi hingga sampai di sebuah bukit pasir, lalu Isa mengambil segenggam pasir dengan telapak tangannya dan berkata, "Tahukah kalian, apakah ini?"
Mereka menjawab, "Allah dan utusan-Nya lebih mengetahui." Isa .
menjawab, "Ini adalah mata kaki Ham ibnu Nuh."

Kemudian Nabi Isa memukul bukit pasir itu dengan tongkatnya seraya bersabda, "Berdirilah dengan seizin Allah." Tiba-tiba berdirilah Ham seraya menepiskan pasir yang ada di kepalanya yang telah beruban.
Isa bertanya kepadanya, "Apakah dalam keadaan seperti ini ketika kamu mati?"
Ham ibnu Nuh menjawab, "Tidak, aku meninggal dunia dalam usia yang masih muda.
Tetapi aku menduga bahwa kematian itu merupakan hari kiamat, karena itulah maka aku beruban."

Isa bertanya, "Ceritakanlah kepada kami tentang bahtera Nabi Nuh." Ham ibnu Nuh menjawab, "Panjangnya adalah seribu dua ratus hasta dan lebarnya enam ratus hasta.
Bahtera itu terdiri atas tiga tingkat, salah satunya untuk hewan dan binatang liar, yang lainnya untuk manusia, dan yang terakhir untuk burung-burung."

Ham melanjutkan kisahnya, "Setelah kotoran hewan terlalu banyak, maka Allah menurunkan wahyu kepada Nuh 'alaihis salam, memerintahkan kepadanya agar menggelitiki ekor gajah.
Maka Nuh 'alaihis salam menggelitikinya, lalu dari ekor gajah itu keluarlah seekor babi betina yang langsung melahap kotoran tersebut.
Dan ketika tikus-tikus muncul di dalam bahtera itu, mereka menggerogoti kayu-kayu dan tali temalinya.
Maka Allah menu­runkan wahyu kepada Nuh 'alaihis salam, memerintahkannya agar memukul wajah singa di antara kedua matanya.
Maka Nuh 'alaihis salam memukulnya, dan keluarlah burung elang jantan dan betina dari hidung singa itu, lalu keduanya me­nyambar tikus-tikus tersebut.

Isa berkata kepada Ham, "Bagaimanakah Nuh mengetahui bahwa daratan telah tenggelam?"
Ham menjawab, "Nuh 'alaihis salam mengutus burung gagak yang menyampaikan berita kepadanya.
Tetapi burung gagak itu menjumpai bangkai, lalu burung gagak itu hinggap padanya dan mema­kannya, maka Nuh 'alaihis salam berdoa kepada Allah, semoga burung gagak selalu dicekam rasa takut.
Karena itulah burung gagak tidak biasa tinggal di rumah-rumah.

Kemudian Nuh 'alaihis salam mengirimkan burung merpati, lalu burung merpati itu datang dengan membawa daun pohon zaitun pada paruhnya dan daun pohon tin pada kakinya.
Karena itulah Nuh 'alaihis salam mengetahui bahwa seluruh negeri telah tenggelam.
Lalu Nabi Nuh 'alaihis salam mengalung­kan ikat pinggangnya pada leher burung merpati dan mendoakannya agar hidupnya selalu dalam aman dan jinak.
Karena itulah maka burung-burung merpati biasa tinggal di rumah-rumah."

Kaum Hawariyyin berkata, "Wahai utusan Allah, bolehkah kami membawa Ham ini kepada keluarga kami dan duduk bersama kami seraya bercerita kepada kami?"
Isa menjawab, "Mana mungkin orang yang tidak mempunyai rezeki dapat mengikuti kalian?"
Maka Nabi Isa berkata kepada Ham, "Kembalilah kamu seperti semula dengan seizin Allah!" Maka kembalilah Ham dalam bentuk semulanya, yaitu berupa pasir.

Kata Pilihan Dalam Surah Hud (11) Ayat 37

FULK
فُلْك

Arti kata fulk adalah perahu atau kapal.

Kata ini diulang dua puluh tiga kali dalam Al Qur'an, Di antara satu ayat tersebut menceritakan kapal yang dinaiki oleh Nabi Yunus (a.s.), yaitu yang terdapat dalam surah Ash Shaffaat (37), ayat 140. Nabi Yunus meninggalkan kaumnya dan pergi menaiki kapal yang penuh dengan penumpang dan barang. Keadaan penuh sesak ini menyebabkan kapal menjadi berat dan hendak tenggelam. Akhirnya pimpinan kapal membuat undian untuk membuang sebahagian orang ke dalam laut supaya kapal menjadi ringan. Nabi Yunus termasuk orang yang mendapat undian tersebut. Akhirnya beliau dilempar ke laut dan dimakan oleh ikan. Ini merupakan hukuman duniawi bagi Nabi Yunus yang telah melakukan kesalahan, tetapi kesalahan tersebut tidak dijelaskan oleh Allah. Namun akhirnya Allah menyelamatkannya karena Nabi Yunus adalah orang yang rajin beribadah, bertasbih dan memuji Allah pada waktu dahulu mahupun ketika di dalam perut ikan tersebut.

Pada tujuh ayat yang lain kata fulk digunakan untuk menerangkan kapal Nabi Nuh (a.s.), yaitu yang terdapat dalam surah:
-Al A'raaf (7), ayat 64;
-Yunus (10) 73;
-Hud (11), ayat 37, 38;
-Al Mu'minuun (23), ayat 27, 28;
-Asy Syu'araa' (26), ayat 119.

Pada ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa Nabi Nuh diperintah Allah untuk membuat kapal. Dan setiap kali kaumnya yang kafir melewati tempat pembuatan kapal, mereka mencemooh dan menertawakan perbuatan Nabi Nuh itu. Namun kemudian Allah mendatangkan azab berupa banjir besar. Kaum Nabi Nuh yang tidak beriman mati tenggelam dalam banjir tersebut termasuk putera beliau yang tidak beriman-, sedangkan orang-orang yang beriman selamat karena naik kapal besar itu. Selain orang yang beriman, dalam kapal itu juga ada semua jenis hewan yang berpasangan (jantan dan betina). Akhirnya semua yang selamat dalam kapal bersyukur kepada Allah atas anugerah yang diberikan itu.

Sedangkan pada tiga belas ayat yang lain kata fulk digunakan untuk menunjukkan kapal-kapal yang menjadi alat pengangukutan barang dan manusia, yaitu yang terdapat dalam surah:
-Al Jaatsiyah (45), ayat 12;
-Al Zukhruf 43), ayat 12;
-Al Mu'min (40), ayat 80;
-Ya Siin (36), ayat 41;
-Faathir (35), ayat 12;
-Luqman (31), ayat 31;
-Ar Rum (30), ayat 46;
-Al Mu'minuun (23), ayat 22;
-Al Hajj (22), ayat 65;
-Al Israa' (17), ayat 66;
-An Nahl (16), ayat 14;
-Ibrahim (14), ayat 32;
-Al Baqarah (2), ayat 164.

Dalam ayat-ayat ini, Allah menegaskan kebolehan kapal-kapal itu berlayar di lautan luas sebagai kenderaan manusia dan bagi mengangkut barang-barang dagangan dan lainnya, yaitu tanda kasih sayang dan nikmat Allah kepada manusia yang mesti disyukuri, karena dengan adanya kapal-kapal itu, manusia dapat mencari rezeki bagi keperluan hidup mereka

Adapun dalam dua ayat, yaitu surah Al Ankabut (29), ayat 65 dan surah Yunus (10), ayat 22, kata fulk selain digunakan untuk menerangkan karunia Allah, ia juga dikaitkan dengan sikap manusia yang hanya ingat kepada Allah semasa menghadapi kesukaran dan bahaya saja, namun apabila kesukarannya hilang, dia mulai lupa terhadap Tuhannya.

Pada kedua ayat ini diceritakan, apabila manusia menaiki kapal dan kapal itu bergerak laju membawa penumpang-penumpangnya dengan tiupan angin yang baik, mereka pun bersukacita dengannya. Namun, ketika angin ribut yang kencang datang, dan ombak mengepung mereka dari segala penjuru serta mereka percaya mereka diliputi oleh bahaya; maka pada saat itu mereka semua berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan kepercayaan mereka kepadanya sambil merayu dengan berkata: "Sungguh jika Engkau (Ya Allah) selamatkan kami dari bahaya ini, kami tetap menjadi orang-orang yang bersyukur" Namun setelah Allah menyelamatkan mereka dan mereka berhasil mendarat, mereka kembali berlaku syirik kepadanya dan tidak mahu mensyukuri nikmatnya.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:442-443

Informasi Surah Hud (هود)
Surat Huud termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, terdiri dari 123 ayat diturunkan sesudah surat Yunus.
Surat ini dinamai surat Hud karena ada hubungan dengan terdapatnya kisah Nabi Hud 'alaihis salam dan kaumnya, dalam surat ini terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh 'alaihis salam, Shaleh 'alaihis salam, Ibrahim 'alaihis salam, Luth 'alaihis salam, Syu'aib 'alaihis salam.
dan Musa 'alaihis salam

Keimanan:

adanya 'Arsy Allah
kejadian alam dalam 6 pase
adanya golongan-golongan manusia di hari kiamat.

Hukum:

agama membolehkan menikmati yang baik-baik dan memakai perhiasan asal tidak berlebih-lebihan
tidak boleh berlaku sombong
tidak boleh mendo'a atau mengha­rapkan sesuatu yang tidak mungkin menurut sunnah Allah.

Kisah:

Kisah Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Huud a.s. dan kaumnya
kisah Shaleh a.s. dan kaumnya
kisah Ibrahim a.s. dan kaumnya
kisah Syuaib a.s. dan kaumnya
kisah Luth a.s. dan kaumnya
kisah Musa a.s, dan kaumnya.

Lain-lain:

Pelajaran-pelajaran yang diambil dari kisah-kisah para nabi
air sumber segala ke­hidupan
sembahyang itu memperkuat iman
sunnah Allah yang berhubungan de­ngan kebinasaan suatu kaum.


Gambar Kutipan Surah Hud Ayat 37 *beta

Surah Hud Ayat 37



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Hud

Surah Hud (Arab: هود , Hūd, "Nabi Hud") adalah surah ke-11 dalam al-Qur'an dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini terdiri dari 123 ayat diturunkan sesudah surah Yunus.
Surah ini dinamai surah Hud karena ada hubungan dengan kisah Nabi Hud dan kaumnya dalam surah.
terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh, Shaleh, Ibrahim, Luth, Syu'aib, dan Musa.

Nomor Surah 11
Nama Surah Hud
Arab هود
Arti Nabi Hud
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 52
Juz Juz 11 (ayat 1-5),

juz 12 (ayat 6-123)

Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 123
Jumlah kata 1948
Jumlah huruf 7820
Surah sebelumnya Surah Yunus
Surah selanjutnya Surah Yusuf
4.7
Rating Pembaca: 4.7 (29 votes)
Sending







✔ Tafsir surah hud ayat 3, Penjelasan surah hud ayat 37, tafsir surat hud ayat 37

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku