QS. Hud (Nabi Hud) – surah 11 ayat 18 [QS. 11:18]

وَ مَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا ؕ اُولٰٓئِکَ یُعۡرَضُوۡنَ عَلٰی رَبِّہِمۡ وَ یَقُوۡلُ الۡاَشۡہَادُ ہٰۤؤُلَآءِ الَّذِیۡنَ کَذَبُوۡا عَلٰی رَبِّہِمۡ ۚ اَلَا لَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الظّٰلِمِیۡنَ
Waman azhlamu mimmaniiftara ‘alallahi kadziban uula-ika yu’radhuuna ‘ala rabbihim wayaquulul asyhaadu ha’ulaa-il-ladziina kadzabuu ‘ala rabbihim alaa la’natullahi ‘alazh-zhaalimiin(a);

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah?
Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata:
“Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka”.
Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim,
―QS. 11:18
Topik ▪ Azab orang kafir
11:18, 11 18, 11-18, Hud 18, Hud 18, Hud 18

Tafsir surah Hud (11) ayat 18

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Hud (11) : 18. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa orang-orang yang paling aniaya terhadap dirinya dan terhadap orang lain ialah mereka yang berbuat dusta terhadap Allah dengan ucapan dan perbuatan yaitu mereka yang mendustakan hukum Allah dan sifat-sifat-Nya atau yang mengangkat pemimpin-pemimpin mereka sebagai penolong-penolong yang dapat memberi syafaat di akhirat kelak tanpa izin Allah, atau mereka yang beranggapan bahwa Allah mempunyai anak seperti anggapan orang-orang Arab jahiliah bahwa malaikat-malaikat itu anak-anak perempuan Allah dan anggapan orang-orang Nasrani bahwa Nabi Isa a.s.
itu anak Allah, atau mereka yang mendustakan Rasul-rasul Allah dengan maksud menghalangi manusia beriman.
Pada hari kiamat nanti segala amal perbuatan mereka akan dihadapkan ke hadirat Allah untuk diadili dan ketika itu para malaikat, para Nabi, dan orang-orang mukmin yang saleh akan tampil sebagai saksi bahwa mereka adalah orang-orang yang membuat dusta terhadap Allah dan dengan persaksian itu akan terbongkarlah kepalsuan-kepalsuan mereka, dan mereka akan dikutuk oleh Allah sebagai balasan dari kelaliman mereka.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(Yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang lalim permintaan maafnya, dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk.
(Q.S.
Al-Mu’minun: 52)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tak ada yang lebih lalim terhadap dirinya dan jauh dari kebenaran daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan lalu menyandangkan kebohongan itu kepada Allah.
Sesungguhnya mereka ini akan dihadapkan kepada Tuhan untuk diperhitungkan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka lakukan.
Pada saat itu saksi-saksi dari para malaikat, para Nabi dan lainnya akan berkata, “Mereka adalah orang-orang yang telah melakukan kejahatan dan kezaliman yang paling keji terhadap Pencipta mereka! Sesungguhnya laknat Allah akan menimpa mereka disebabkan perbuatan mereka yang zalim.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan siapakah) tidak ada seorang pun (yang lebih lalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah?) dengan menisbatkan sekutu terhadap-Nya dan menganggapnya mempunyai anak.

(Mereka itu akan dihadapkan kepada Rabb mereka) kelak di hari kiamat di antara semua makhluk-Nya (dan para saksi akan berkata) lafal asyhaad adalah bentuk jamak dari lafal syahiid yang artinya saksi.

Mereka adalah para malaikat, mereka memberikan kesaksian, bahwa para rasul telah menyampaikan risalahnya, adapun orang-orang kafir mereka cap sebagai pendusta (“Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” Ingatlah, kutukan Allah dilimpahkan atas orang-orang yang lalim) yaitu orang-orang musyrik.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Tidak ada seorang pun yang lebih zhalim dari orang yang mengada-adakan kebohongan kepada Allah.
Mereka semua akan dihadapkan kepada Rabb mereka pada Hari Kiamat untuk memperhitungkan perbuatan mereka.
Para saksi dari malaikat, nabi dan selainnya berkata :
Orang-orang inilah yang telah berdusta atas Rabb mereka di dunia, dan Allah telah murka kepada mereka.
Maka Allah melaknat mereka dengan laknat yang tidak terputus, karena kezhaliman mereka telah menjadi sifat yang mendarah daging bagi mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
menerangkan keadaan orang-orang yang mendustakan-Nya, juga tentang dipermalukan-Nya mereka di hari akhirat kelak di hadapan mata kepala semua makhluk dari kalangan para malaikat, para rasul, para nabi, serta seluruh umat manusia dan jin.
Sehubungan dengan hal ini Imam Ahmad mengatakan,

telah menceritakan kepada kami Bahz dan Affan, keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Safwan ibnu Muharriz yang mengatakan bahwa ia dalam keadaan memegang tangan Ibnu Umar di saat-ada seorang lelaki bertanya kepadanya, “Apakah yang telah engkau dengar dari Rasulullah ﷺ tentang najwa (berbisik) di hari kiamat kelak?”
Ibnu Umar menjawab, bahwa ia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala.
mendekati orang mukmin, lalu meletak­kan perlindungan dan naungan-Nya di atas orang mukmin itu sehingga orang mukmin itu dalam keadaan tertutup dari pan­dangan manusia.
Lalu Allah menyebutkan semua dosanya.
Allah berfirman kepadanya, “Tahukah kamu dosa ini?
Tahukah kamu dosa itu?
Tahukah kamu dosa anu?” Setelah Allah menyebutkan semua dosanya dan orang mukmin yang bersangkutan merasakan bahwa dirinya pasti binasa, maka Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosamu itu sewaktu di dunia, dan sesungguhnya Aku sekarang mengampuninya bagimu hari ini.” Kemudian diberikan kepadanya kitab catatan amal-amal kebaikannya.
Adapun terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik, maka para saksi akan berkata, ” Orang-Orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka.” Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab Sahihain melalui hadis Qatadah dengan sanad yang sama.


Kata Pilihan Dalam Surah Hud (11) Ayat 18

ASYHAAD
أَشْهَٰد

Lafaz ini adalah jamak asy syahid seperti kata nashir jamaknya anshar, sahib jamaknya ashab maknanya malaikat yang menyampaikan apa yang disaksikan. Ia juga bermakna lidah sebagaimana ungkapan:

maa lahuu ra’yu walaa syahiid

Maksudnya, “dia tidak mempunyai pandangan dan tidak pula punya Iisan.” la juga bermakna sesiapa yang melaksanakan penyaksian atau dalil. Salat asy ­syaahid adalah shalat Maghrib karena ia adalah shalat yang dikerjakan ketika bintang-bintang muncul dan shalat fajr karena seorang musafir menunaikannya seakan-akan seperti orang tempatan (syahid) yang tidak boleh mengqasarkannya.

Lafaz ini disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah
-Hud (11 ), ayat 18;
-Al Mu’min (40), ayat 51.

Ibn Manzur berkata,
“Lafaz asyhaad dalam ayat itu bermakna para malaikat.”

Pendapat lain mengatakan ia adalah para nabi dan orang yang beriman yang menjadi saksi ke atas pendusta-pendusta Muhammad.

Dalam surah Al Mu’min, asyhaad bermakna malaikat sebagaimana yang diriwayatkan dari Mujahid.

Rasyid Rida berpendapat, penafsiran asyhaad dalam surah Al Mu’min adalah orang yang melaksanakan perintahnya dari kalangan malaikat, para nabi dan rasul serta orang beriman supaya menyaksikan atau menjadi saksi ke atas mereka (orang kafir).

Begitu juga dengan penafsiran Az Zamakhsyari, ia bermakna penjaga-­penjaga dari kalangan para malaikat, para nabi dan orang beriman dari umat Muhammad yang bertugas sebagai orang yang memberi keterangan kepada umat manusia (tentang yang benar dan yang salah)

Kesimpulannya, lafaz asyhaad bermakna para malaikat, nabi dan orang beriman sebagai saksi atas orang kafir.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:77

Informasi Surah Hud (هود)
Surat Huud termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, terdiri dari 123 ayat diturunkan sesudah surat Yunus.
Surat ini dinamai surat Hud karena ada hubungan dengan terdapatnya kisah Nabi Hud ‘alaihis salam dan kaumnya, dalam surat ini terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh ‘alaihis salam, Shaleh ‘alaihis salam, Ibrahim ‘alaihis salam, Luth ‘alaihis salam, Syu’aib ‘alaihis salam.
dan Musa ‘alaihis salam

Keimanan:

adanya ‘Arsy Allah
kejadian alam dalam 6 pase
adanya golongan-golongan manusia di hari kiamat.

Hukum:

agama membolehkan menikmati yang baik-baik dan memakai perhiasan asal tidak berlebih-lebihan
tidak boleh berlaku sombong
tidak boleh mendo’a atau mengha­rapkan sesuatu yang tidak mungkin menurut sunnah Allah.

Kisah:

Kisah Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Huud a.s. dan kaumnya
kisah Shaleh a.s. dan kaumnya
kisah Ibrahim a.s. dan kaumnya
kisah Syuaib a.s. dan kaumnya
kisah Luth a.s. dan kaumnya
kisah Musa a.s, dan kaumnya.

Lain-lain:

Pelajaran-pelajaran yang diambil dari kisah-kisah para nabi
air sumber segala ke­hidupan
sembahyang itu memperkuat iman
sunnah Allah yang berhubungan de­ngan kebinasaan suatu kaum.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Hud (11) ayat 18 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Hud (11) ayat 18 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Hud (11) ayat 18 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Hud - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 123 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 11:18
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Hud.

Surah Hud (Arab: هود , Hūd, "Nabi Hud") adalah surah ke-11 dalam al-Qur'an dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini terdiri dari 123 ayat diturunkan sesudah surah Yunus.
Surah ini dinamai surah Hud karena ada hubungan dengan kisah Nabi Hud dan kaumnya dalam surah.
terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh, Shaleh, Ibrahim, Luth, Syu'aib, dan Musa.

Nomor Surah11
Nama SurahHud
Arabهود
ArtiNabi Hud
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu52
JuzJuz 11 (ayat 1-5),

juz 12 (ayat 6-123)

Jumlah ruku'0
Jumlah ayat123
Jumlah kata1948
Jumlah huruf7820
Surah sebelumnyaSurah Yunus
Surah selanjutnyaSurah Yusuf
4.6
Ratingmu: 4.4 (14 orang)
Sending







Pembahasan ▪ surah HUD 18 ▪ surat hud ayat 11 ▪ alquran surat hud ayat 18

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta