QS. Fushshilat (Yang dijelaskan) – surah 41 ayat 53 [QS. 41:53]

سَنُرِیۡہِمۡ اٰیٰتِنَا فِی الۡاٰفَاقِ وَ فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ حَتّٰی یَتَبَیَّنَ لَہُمۡ اَنَّہُ الۡحَقُّ ؕ اَوَ لَمۡ یَکۡفِ بِرَبِّکَ اَنَّہٗ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ
Sanuriihim aayaatinaa fiiaafaaqi wafii anfusihim hatta yatabai-yana lahum annahul haqqu awalam yakfi birabbika annahu ‘ala kulli syai-in syahiidun;

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar.
Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
―QS. 41:53
Topik ▪ Keutamaan Al Qur’an ▪ Keutamaan kalam Allah ▪ Memuliakan, menerima dan menyaji tamu
41:53, 41 53, 41-53, Fushshilat 53, Fushshilat 53, Fushilat 53, Fusilat 53, Fussilat 53

Tafsir surah Fushshilat (41) ayat 53

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Fushshilat (41) : 53. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang musyrik yang ragu-ragu kepada Al-Qur’an dan Rasulullah itu akan melihat dengan mata kepala mereka bukti-bukti kebenaran ayat-ayat Allah di segenap penjuru dunia dan pada diri mereka sendiri.
Mereka melihat dan menyaksikan sendiri kaum Muslimin dalam keadaan lemah dan tertindas selama berada di Mekah kemudian Rasulullah dan para sahabatnya hijrah ke Medinah meninggalkan kampung halaman yang mereka cintai.
Rasulullah ﷺ selama di Medinah bersama kaum Muhajirin dan Ansar membentuk dan membina masyarakat Islam.
Masyarakat baru itu semakin lama semakin kuat dan berkembang.
Hal ini dirasakan oleh orang-orang musyrik di Mekah, karena itu mereka pun selalu berusaha agar kekuatan baru itu dapat segera dipatahkan.

Kekuatan Islam dan kaum Muslimin pertama kali dirasakan oleh orang musyrik Mekah adalah ketika Perang Badar dan kemudian ketika mereka dicerai-beraikan dalam Perang Khandak.
Yang terakhir ialah di waktu Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin menaklukkan kota Mekah tanpa perlawanan dari orang-orang musyrik.
Akhirnya mereka menyaksikan manusia berbondong-bondong masuk Islam, termasuk orang-orang musyrik, keluarga, dan teman mereka sendiri.
Semuanya itu merupakan bukti-bukti kebenaran ayat-ayat Allah.
Allah berfirman:

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya.
Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.

(Q.S. An-Nasr [110]: 1-3)

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan lagi bahwa Dia menyaksikan segala perilaku hamba-hamba-Nya, baik berupa perkataan, perbuatan atau tingkah laku, dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati manusia.
Dia menyatakan bahwa Muhammad ﷺ adalah seorang yang benar, tidak pernah berbohong, semua yang disampaikannya sungguh benar, Allah berfirman:

Tetapi Allah menjadi saksi atas (Al-Qur’an) yang diturunkan-Nya kepadamu (Muhammad).
Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya.

(Q.S. An-Nisa’ [4]: 166)

Banyak orang mengatakan bahwa dengan mempelajari alam, termasuk diri kita sendiri, dapat membawa kepada pemahaman tentang adanya Tuhan.
Alam adalah buku yang menanti untuk dipelajari.
Akan tetapi, harapan Tuhan dalam menurunkan ayat di atas tidak selalu dipahami manusia.

Surah Yunus: 101 adalah salah satu di antara banyak ayat yang memberitahu kita bahwa hanya ilmuwan yang memiliki keimananlah yang dapat memahami Tuhan dengan mempelajari alam.

Katakanlah, “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!” Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman.
(Q.S. Yunus [10]: 101)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dalam waktu dekat, Kami akan menunjukkan kepada mereka bukti-bukti yang membenarkanmu, baik melalui benda-benda yang ada di belahan langit dan bumi maupun yang ada di dalam diri mereka, agar tampak kepada mereka bahwa yang kamu bawa itu adalah satu-satunya kebenaran.
Apakah hal itu mereka ingkari juga, dan tidak cukup bahwa Tuhanmu Mahatahu segala sesuatu?

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap penjuru) di segenap penjuru langit dan bumi, yaitu berupa api, tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan (dan pada diri mereka sendiri) yaitu berupa rapihnya ciptaan Allah dan indahnya hikmah yang terkandung di dalam penciptaan itu (sehingga jelaslah bagi mereka bahwa ia) yakni Alquran itu (adalah benar) diturunkan dari sisi Allah yang di dalamnya dijelaskan masalah hari berbangkit, hisab dan siksaan, maka mereka akan disiksa karena kekafiran mereka terhadap Alquran dan terhadap orang yang Alquran diturunkan kepadanya, yaitu Nabi ﷺ (Dan apakah Rabbmu tidak cukup bagi kamu) lafal Birabbika adalah Fa’il dari lafal Yakfi (bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?) lafal ayat ini menjadi Mubdal Minhu yakni, apakah tidak cukup sebagai bukti tentang kebenaranmu bagi mereka, yaitu bahwasanya Rabbmu tiada sesuatu pun yang samar bagi-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada sisi mereka sendiri.
(Q.S. Fushshilat [41]: 53)

Akan tampak bagi mereka bukti-bukti dan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu benar diturunkan dari sisi Allah kepada rasul-Nya, melalui bukti-bukti yang di luar itu yang terdapat di segenap ufuk, seperti kemenangan-kemenangan yang diperoleh Islam sehingga Islam muncul dan syiar di seluruh belahan bumi dan berada di atas agama lainnya.

Mujahid, Al-Hasan, dan As-Saddi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada pada diri mereka sendiri ialah kejadian Perang Badar, jatuhnya kota Mekah ke tangan kaum muslim, dan kejadian-kejadian lainnya yang menimpa mereka (orang-orang kafir) membuktikan pertolongan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya, dan terhinanya kebatilan bersama bala tentaranya pada kejadian-kejadian tersebut.

Dapat pula ditakwilkan bahwa makna yang dimaksud ialah tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di dalam diri manusia, misalnya bentuk tubuhnya, organ-organ tubuhnya, dan segala sesuatu yang ada dalam diri manusia seperti yang dijelaskan dalam ilmu bedah tubuh.
Semuanya itu menunjukkan kepada kebijaksanaan Penciptanya.
Demikian pula tanda-tanda kekuasaan Allah dapat dilihat melalui watak yang diciptakan-Nya di dalam dirinya, seperti akhlak yang berbeda-beda —ada yang baik dan ada yang buruk— dan lain sebagainya.
Juga melalui sepak terjang yang dialaminya, yang semuanya itu berjalan di bawah garis takdir Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak dapat dilampaui dan tidak dapat pula dilanggar atau diwaspadai.

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.
Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?
(Q.S. Fushshilat [41]: 53)

Yakni cukuplah Allah sebagai saksi terhadap segala perbuatan dan ucapan hamba-hamba-Nya.
Dia bersaksi bahwa Muhammad ﷺ benar dalam menyampaikan apa yang dia terima dari-Nya, seperti yang diungkapkan dalam ayat lain melalui firman:Nya:

(mereka tidak mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al-Qur’an yang diturunkan-Nya kepadamu.
Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 166), hingga akhir ayat.


Kata Pilihan Dalam Surah Fushshilat (41) Ayat 53

AAFAAQ
ءَافَاق

Lafaz aafaaq adalah bentuk jamak dari­ ufuq yang bermakna “sudut, atau daerah garisa bulat yang dapat dilihat di dalamnya pemandangan-pemandangan langit seakan-akan ia bertemu dengan bumi dan kelihatan lebih mendekati bumi yang kering,” Apabila dikatakan jawwab afaq artinya “banyak mengembara.” Ufuq ialah kaki langit atau tepinya atau cakrawala.

Kata afaaq disebut sekali saja di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Fushshilat (41), ayat 53.

As Sabuni menafsirkan kata aafaaq dengan apa yang ada di langit dan bumi, termasuk matahari, bulan, bintang-bintang, pohon-pohon, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya dari keajaiban yang terdapat di atas dan di bawahnya.”

Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dan Ibn Al Mundzir berkenaan dengan kata aafaaq pada surah Fushshilat (41), ayat 53, ia adalah negeri-negeri yang Allah bukakan dan berada di bawah kuasa umat Islam.

Az Zamakhsyari berpendapat, aafaaq bermakna segala yang Allah mudahkan bagi Rasulullah, khalifah-khalifah sesudahnya dan kemenangan agamanya di seluruh dunia, di Barat dan Timur umumnya serta negara Arab khususnya. la berupa pembukaan yang tidak mudah bagi khalifah-khalifah sebelumnya, mengalahkan negeri-negeri yang kuat, kemenangan golongan yang sedikit ke atas yang banyak, penguasaan golongan yang lemah ke atas yang kuat, berlakunya perkara-perkara luar biasa di tangan mereka. Tersebarnya dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia dan pelebaran kekuasaan Islam adalah sebagai tanda-tanda kebesarannya yang menguatkan keyakinan.

Kesimpulannya, makna kata aafaaq di dalam Al Qur’an ialah segala yang ada di muka bumi dan langit serta apa saja yang dimudahkan Allah bagi orang Islam.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:23

Informasi Surah Fushshilat (فصلت)
Surat Fushshilat terdiri atas 54 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Mu’min.

Dinamai “Fushshilat” (yang dijelaskan) karena ada hubungannya dengan perkataan “Fush­shilat” yang terdapat pada permulaan surat ini, yang berarti “yang dijelaskan”.
Maksudnya ayat­ ayatnya diperinci dengan jelas tentang hukum-hukum, keimanan, janji dan ancaman, budi pe­kerti, kisah dan sebagainya.

Dinamai juga dengan “Haa Miim As Sajdah” karena surat ini dimulai dengan “Haa Miim” dan dalam surat ini terdapat ayat Sajdah.

Keimanan:

Al Qur’an dan sikap orang-orang musyrik terhadapnya
kejadian-kejadian langit dan bumi dan apa yang ada pada keduanya membuktikan adanya Allah
semua yang terjadi dalam alam semesta tidak lepas dari pengetahuan Allah.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Lain-lain:

Hikmah diciptakannya gunung-gunung
anggota tubuh tiap-tiap orang menjadi saksi terhadap dirinya pada hari kiamat
azab yang ditimpakan kepada kaum ‘Aad dan Tsamud
Permohonan orang-orang kafir agar dikembalikan ke dunia untuk mengerjakan amal-amal saleh
berita gembira dari malaikat kepada orang­ orang yang beriman
anjuran menghadapi orang-orang kafir secara baik-baik
an­caman terhadap orang-orang yang mengingkari ke-Esaan Allah
sifat-sifat Al Qur’an Al Karim
manusia dan wataknya.

Ayat-ayat dalam Surah Fushshilat (54 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Fushshilat (41) ayat 53 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Fushshilat (41) ayat 53 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Fushshilat (41) ayat 53 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Fushshilat - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 54 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 41:53
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Fushshilat.

Surah Fussilat (Arab: فصّلت, "Yang Dijelaskan") adalah surah ke-41 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 54 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah yang diturunkan sesudah Surah Al-Mu’min ini dinamai Fussilat (Yang Dijelaskan) diambil dari kata Fushshilat yang terdapat pada permulaan surah ini.

Nomor Surah 41
Nama Surah Fushshilat
Arab فصلت
Arti Yang dijelaskan
Nama lain Ha Mim as-Sadjah, Mashabih
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 61
Juz Juz 24 (1-46) & juz 25 (47-54)
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 54
Jumlah kata 796
Jumlah huruf 3364
Surah sebelumnya Surah Al-Mu’min
Surah selanjutnya Surah Asy-Syura
4.8
Ratingmu: 4.5 (2 orang)
Sending







Pembahasan ▪ fusila 53 ▪ Surah Fussilat [41:53]

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta