QS. Fushshilat (Yang dijelaskan) – surah 41 ayat 23 [QS. 41:23]

وَ ذٰلِکُمۡ ظَنُّکُمُ الَّذِیۡ ظَنَنۡتُمۡ بِرَبِّکُمۡ اَرۡدٰىکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ مِّنَ الۡخٰسِرِیۡنَ
Wadzalikum zhannukumul-ladzii zhanantum birabbikum ardaakum fa-ashbahtum minal khaasiriin(a);

Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.
―QS. 41:23
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Menyiksa pelaku maksiat ▪ Azab orang kafir
41:23, 41 23, 41-23, Fushshilat 23, Fushshilat 23, Fushilat 23, Fusilat 23, Fussilat 23

Tafsir surah Fushshilat (41) ayat 23

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Fushshilat (41) : 23. Oleh Kementrian Agama RI

Dugaan orang-orang kafir bahwa Allah tidak mengetahui dan tidak melihat perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukannya adalah persangkaan yang tidak baik.
Persangkaan yang demikian akan menimbulkan keberanian untuk melakukan perbuatan-perbuatan terlarang, sehingga berakibat kerugian pada diri sendiri.
Akibat persangkaan yang demikian itu, mereka akan mendapat kerugian dan kehinaan di dunia dan azab pedih di akhirat nanti.

Dari ayat ini, dapat dipahami bahwa sangkaan yang baik ialah meyakini bahwa Allah mengetahui segala perbuatan hamba-Nya sejak dari yang halus sampai kepada yang besar, sejak dari yang nampak sampai kepada yang tersembunyi, dan Allah mengetahui segala isi hatinya.
Jika seseorang telah memercayai yang demikian, maka ia selalu meneliti segala yang akan diperbuatnya, mana yang diridai Allah dan mana yang tidak diridai-Nya.
Ia akan menghentikan serta menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak diridai Allah, karena ia telah yakin bahwa Allah melihat dan mengetahui semua perbuatannya itu.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Abu Dawud., dan Ibnu Majah dari Jabir bin ‘Abdullah:

Rasulullah ﷺ bersabda, “Kamu jangan sekali-kali mati kecuali berbaik sangka kepada Allah.
(Riwayat Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Para ulama berpendapat bahwa sangkaan itu ada dua macam:

Pertama:
Sangkaan yang baik, yaitu menyangka bahwa Allah mempunyai rahmat, keutamaan, dan kebaikan yang akan dilimpahkan-Nya kepada manusia, sebagaimana tersebut dalam hadis Qudsi:

Allah berfirman, “Aku menuruti sangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”
(Riwayat Muslim dari Anas)

Kedua:
Sangkaan yang jelek, yaitu menyangka bahwa Allah tidak mengetahui segala perbuatan hamba-hamba-Nya.
Menurut Qatadah, sangkaan itu ada dua macam, yaitu: pertama, sangkaan yang menyelamatkan seperti yang diterangkan firman Allah:

Sesungguhnya aku yakin, bahwa (suatu saat) aku akan menerima perhitungan terhadap diriku.
(Q.S. Al-Haqqah [69]: 20)

Dan firman Allah: (Yaitu) mereka yang yakin, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 46)

Kedua, sangkaan yang merusak, seperti yang diterangkan firman Allah ini.
Umar bin Khaththab berkata tentang ayat ini, “Mereka adalah orang-orang yang terus-menerus berbuat maksiat, tidak bertobat dari perbuatan itu, dan mereka berdebat tentang ampunan Tuhan, sehingga mereka meninggalkan dunia tidak membawa apa-apa.” Kemudian Umar membaca ayat ini.
Al-hasan al-Bashri berkata, “Sesungguhnya satu kaum yang diperdaya oleh angan-angannya yang kosong sehingga mereka meninggal dunia, dan tiadalah mereka mempunyai suatu kebaikan pun.
Salah seorang dari mereka berkata, ‘Sesungguhnya aku berbaik sangka terhadap Tuhanku.
Sesungguhnya ia telah berdusta.
Jika baik sangkaannya, tentu baik pula amalnya.” Kemudian Al-hasan al-Bashrimembaca ayat ini.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Prasangka buruk yang kalian tujukan terhadap Tuhan itu membuat kalian hancur.
Dan pada hari kiamat kelak, kalian betul-betul merugi.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan yang demikian itu) menjadi Mubtada (adalah prasangka kalian) menjadi Badal dari lafal Dzaalika (yang kalian sangka terhadap Rabb kalian) menjadi Na`at, sedangkan Khabar Mubtada ialah (akan menghancurkan kalian) akan membinasakan diri kalian sendiri (maka jadilah kalian termasuk orang-orang yang merugi.”)

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Dugaan yang tidak benar ini adalah keyakinan kalian, karena kalian meyakini bahwa Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kalian perbuat.
Hal inilah yang merusak dan membinasakan diri kalian di hadapan Tuhan kalian.

maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.
(Q.S. Fushshilat [41]: 23)

Yakni kelak di tempat pemberhentian di hari kiamat, kalian merugikan diri kalian sendiri dan keluarga kalian.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Ammar, dari Abdur Rahman ibnu Yazid, dari Abdullah r.a.
yang mengatakan bahwa pada suatu hari ia menutupi dirinya dengan kain kelambu Ka’bah di Ka’bah, lalu datanglah tiga orang lelaki, yaitu seorang Quraisy dan dua orang iparnya dari kabilah Saqif, atau seorang Saqif bersama dua orang Quraisy saudara iparnya.
Mereka berperut buncit semuanya, tetapi pengetahuan mereka minim sekali.
Lalu mereka mengatakan suatu pembicaraan yang terdengar kurang jelas oleh Abdullah ibnu Mas’ud (yang sedang bersembunyi di balik kain kelambu Ka’bah).
Salah seorang dari mereka mengatakan, “Bagaimanakah pendapat kalian, apakah Allah mendengar perkataan kita sekarang ini?”
Yang lain menjawab, “Sesungguhnya bila kita keraskan suara kita, Dia mendengar­nya.
Tetapi bila kita tidak mengeraskannya, Dia tidak mendengarnya.” Yang lainnya lagi mengatakan, “Bila Dia mendengar sesuatu dari pembicaraan kita, berarti Dia mendengar semuanya.” Abdullah ibnu Mas’ud melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia menceritakan peristiwa itu kepada Nabi ﷺ Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu.
(Q.S. Fushshilat [41]: 22) sampai dengan firman-Nya: termasuk orang-orang yang merugi.
(Q.S. Fushshilat [41]: 23)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dari Hannad, dari Abu Mu’awiyah dengan sanad yang semisal.

Imam Ahmad, Imam Muslim, dan Imam Turmuzi telah mengetengahkannya pula melalui hadis Sufyan Ats-Tsauri, dari Al-A’masy, dari Imarah ibnu Umair, dari Wahb ibnu Rabi’ah, dari Abdullah ibnu Mas’ud dengan lafaz yang semisal.

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkannya pula melalui hadis kedua Sufyan (Sufyan Ats-Tsauri dan Sufyan ibnu Uyaynah), keduanya dari Mansur, dari Mujahid, dari Abu Ma’mar, dari Abdullah ibnu Sakhbarah, dari Ibnu Mas’ud r.a.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Bahz ibnu Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi ﷺ sehubungan dengan makna firman-Nya: dari persaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu.
(Q.S. Fushshilat [41]: 22) Nabi ﷺ bersabda: Sesungguhnya kamu dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan mulut yang tersumbat dan mula-mula anggota tubuh seseorang dari kamu yang berbicara adalah paha (kaki) dan tangannya.

Ma’mar mengatakan bahwa lalu Al-Hasan membaca firman-Nya: Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, prasangka itu telah membinasakan kamu.
(Q.S. Fushshilat [41]: 23) Kemudian Al-Hasan mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Aku selalu bersama hamba-Ku menurut dugaannya terhadap-Ku, dan Aku selalu bersamanya bila dia menyeru-Ku.” Kemudian Al-Hasan diam seraya merenungkannya, lalu mengatakan, “Ingatlah, sesungguhnya amal perbuatan manusia itu menurut prasangka mereka terhadap Tuhan mereka.
Adapun orang mukmin, maka dia berbaik prasangka terhadap Tuhannya, karenanya ia beramal baik.
Adapun orang kafir dan orang munafik, keduanya berburuk prasangka terhadap Allah, karena itu keduanya beramal buruk.” Kemudian Al-Hasan mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman: Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu.
(Q.S. Fushshilat [41]: 22) sampai dengan firman-Nya: Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, prasangka itu telah membinasakan kamu.
(Q.S. Fushshilat [41]: 23), hingga akhir ayat.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami An-Nadr ibnu Ismail Al-Qas alias Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Laila, dari Abu Zubair, dari Jabir r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Jangan sekali-kali seseorang dari kalian mati, melainkan dalam keadaan berbaik prasangka kepada Allah.
Karena sesungguhnya ada suatu kaum yang menjadi binasa karena buruk prasangka mereka kepada Allah.
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman: Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka ‘ jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.
(Q.S. Fushshilat [41]: 23)


Informasi Surah Fushshilat (فصلت)
Surat Fushshilat terdiri atas 54 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Mu’min.

Dinamai “Fushshilat” (yang dijelaskan) karena ada hubungannya dengan perkataan “Fush­shilat” yang terdapat pada permulaan surat ini, yang berarti “yang dijelaskan”.
Maksudnya ayat­ ayatnya diperinci dengan jelas tentang hukum-hukum, keimanan, janji dan ancaman, budi pe­kerti, kisah dan sebagainya.

Dinamai juga dengan “Haa Miim As Sajdah” karena surat ini dimulai dengan “Haa Miim” dan dalam surat ini terdapat ayat Sajdah.

Keimanan:

Al Qur’an dan sikap orang-orang musyrik terhadapnya
kejadian-kejadian langit dan bumi dan apa yang ada pada keduanya membuktikan adanya Allah
semua yang terjadi dalam alam semesta tidak lepas dari pengetahuan Allah.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Lain-lain:

Hikmah diciptakannya gunung-gunung
anggota tubuh tiap-tiap orang menjadi saksi terhadap dirinya pada hari kiamat
azab yang ditimpakan kepada kaum ‘Aad dan Tsamud
Permohonan orang-orang kafir agar dikembalikan ke dunia untuk mengerjakan amal-amal saleh
berita gembira dari malaikat kepada orang­ orang yang beriman
anjuran menghadapi orang-orang kafir secara baik-baik
an­caman terhadap orang-orang yang mengingkari ke-Esaan Allah
sifat-sifat Al Qur’an Al Karim
manusia dan wataknya.

Ayat-ayat dalam Surah Fushshilat (54 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Fushshilat (41) ayat 23 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Fushshilat (41) ayat 23 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Fushshilat (41) ayat 23 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Fushshilat - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 54 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 41:23
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Fushshilat.

Surah Fussilat (Arab: فصّلت, "Yang Dijelaskan") adalah surah ke-41 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 54 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah yang diturunkan sesudah Surah Al-Mu’min ini dinamai Fussilat (Yang Dijelaskan) diambil dari kata Fushshilat yang terdapat pada permulaan surah ini.

Nomor Surah 41
Nama Surah Fushshilat
Arab فصلت
Arti Yang dijelaskan
Nama lain Ha Mim as-Sadjah, Mashabih
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 61
Juz Juz 24 (1-46) & juz 25 (47-54)
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 54
Jumlah kata 796
Jumlah huruf 3364
Surah sebelumnya Surah Al-Mu’min
Surah selanjutnya Surah Asy-Syura
4.8
Ratingmu: 4.2 (20 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim