QS. Ath Thalaaq (Talak) – surah 65 ayat 7 [QS. 65:7]

لِیُنۡفِقۡ ذُوۡ سَعَۃٍ مِّنۡ سَعَتِہٖ ؕ وَ مَنۡ قُدِرَ عَلَیۡہِ رِزۡقُہٗ فَلۡیُنۡفِقۡ مِمَّاۤ اٰتٰىہُ اللّٰہُ ؕ لَا یُکَلِّفُ اللّٰہُ نَفۡسًا اِلَّا مَاۤ اٰتٰىہَا ؕ سَیَجۡعَلُ اللّٰہُ بَعۡدَ عُسۡرٍ یُّسۡرًا
Liyunfiq dzuu sa’atin min sa’atihi waman qudira ‘alaihi rizquhu falyunfiq mimmaa aataahullahu laa yukallifullahu nafsan ilaa maa aataahaa sayaj’alullahu ba’da ‘usrin yusran;

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.
Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.
Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya.
Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.
―QS. 65:7
Topik ▪ Ayat yang berhubungan dengan Ibnu Ummi Maktum
65:7, 65 7, 65-7, Ath Thalaaq 7, AthThalaaq 7, Ath Thalaq 7, At Talaq 7

Tafsir surah Ath Thalaaq (65) ayat 7

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ath Thalaaq (65) : 7. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa kewajiban ayah memberikan upah kepada perempuan yang menyusukan anaknya menurut kemampuannya.
Jika kemampuan ayah itu hanya dapat memberi makan karena rezekinya sedikit, maka hanya itulah yang menjadi kewajibannya.
Allah tidak akan memikulkan beban kepada seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya, sebagaimana firman-Nya:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 286)

Dalam ayat lain juga dijelaskan:

Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 233)

Tidak ada yang kekal di dunia.
Pada suatu waktu, Allah akan mem-berikan kelapangan sesudah kesempitan, kekayaan sesudah kemiskinan, kesenangan sesudah penderitaan.
Allah berfirman: Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.
(asy-Syarh/94: 6)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang yang memiliki banyak rezeki dari Allah hendaknya memberi nafkah dari rezeki yang banyak itu.
Dan orang yang memiliki sedikit rezeki hendaklah memberi nafkah dari sebagian harta yang diberikan Allah kepadanya itu.
Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar apa yang Allah berikan.
Allah akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hendaklah memberikan nafkah) kepada istri-istri yang telah ditalak, dan kepada istri-istri yang sedang menyusukan (orang yang mampu menurut kemampuannya.

Dan orang yang dibatasi) disempitkan (rezekinya hendaklah memberi nafkah dari apa yang didatangkan kepadanya) yaitu dari rezeki yang telah diberikan kepadanya (oleh Allah) sesuai dengan kemampuannya.

(Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya.

Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan) dan ternyata Allah memberikan kelapangan itu melalui kemenangan-kemenangan yang dialami oleh kaum muslimin.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.
(Q.S. At-Talaq [65]: 7)

Artinya, hendaklah orang tua si bayi atau walinya memberi nafkah kepada bayinya sesuai dengan kemampuannya.

Dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.
Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya.
(Q.S. At-Talaq [65]: 7)

Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya: (Q.S. Al-Baqarah [2]: 286)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Hakkam, dari Abu Sinan yang mengatakan bahwa Umar ibnul Khattab r.a.
pernah bertanya mengenai Abu Ubaidah.
Maka dikatakan kepadanya, bahwa sesungguhnya Abu Ubaidah mengenakan pakaian yang kasar dan memakan makanan yang paling sederhana.
Maka Khalifah Umar r.a.
mengirimkan kepadanya seribu dinar, dan mengatakan kepada kurirnya, “Perhatikanlah apakah yang dilakukan olehnya dengan uang seribu dinar ini jika dia telah menerimanya.” Tidak lama kemudian Abu Ubaidah mengenakan pakaian yang halus dan memakan makanan yang terbaik, lalu kurir itu kembali kepada Umar r.a.
dan menceritakan kepadanya perubahan tersebut.
Maka Umar mengatakan bahwa semoga Allah merahmatinya.
Dia menakwilkan ayat ini, yaitu firman-Nya: Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.
Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.
(Q.S. At-Talaq [65]: 7)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.
(Q.S. At-Talaq [65]: 7)

Ini merupakan janji dari Allah, dan janji Allah itu benar dan tidak akan disalahi-Nya.
Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
(Q.S. Alam Nasyrah [94]: 5-6)

Imam Ahmad telah meriwayatkan sebuah hadis sehubungan dengan hal ini yang baik dikemukakan di sini.
Untuk itu dia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnul Qasim, telah menceritakan kepada kami Abul Hamid ibnu Bahram, telah menceritakan kepada kami Syahr ibnu Hausyab yang mengatakan bahwa Abu Hurairah r.a.
pernah bercerita bahwa di zaman yang silam pernah ada seorang lelaki dan istrinya yang hidup dalam kemiskinan, keduanya tidak mampu menghasilkan apa pun.
Dan di suatu hari suaminya datang dari perjalanannya, lalu masuk ke dalam rumah menemui istrinya, sedangkan perutnya keroncongan dicekam rasa lapar yang berat.
Lelaki itu bertanya kepada istrinya, “Apakah engkau mempunyai sesuatu makanan?”
Istrinya menjawab, “Ya, bergembiralah kita telah diberi rezeki oleh Allah.” Lalu si suami mendesaknya dan mengatakan, “Celakalah engkau ini, aku menginginkan sesuatu makanan yang ada padamu.” Si istri menjawab, “Ya, tunggu sebentar,” seraya mengharapkan rahmat dari Allah.
Dan ketika suaminya menunggu cukup lama, akhirnya ia berkata, “Celakalah kamu ini, sekarang bangkitlah dan ambillah jika engkau memiliki sesuatu, lalu datangkanlah kepadaku, karena sesungguhnya aku benar-benar sangat lelah dan lapar sekali.” Istrinya menjawab, “Baiklah, sekarang aku akan membuka dapurku, jangan kamu terburu-buru.” Setelah suaminya diam sesaat dan si istri menunggu suaminya berbicara lagi kepadanya, si istri berkata kepada dirinya sendiri, “Sebaiknya sekarang aku bangkit untuk melihat dapurku.” Lalu ia bangkit dan menuju ke dapurnya, maka ia melihat ke dapurnya dan merasa terkejut karena penuh dengan paha kambing (yang sedang dipanggang), sedangkan penggilingan tepungnya bergerak sendiri menggiling tepung.
Maka ia bangkit menuju tempat penggilingan tepung itu dan membersihkannya, lalu mengeluarkan kambing panggang yang ada pada dapur pembakarannya.
Kemudian Abu Hurairah melanjutkan, bahwa demi Tuhan yang jiwa Abul Qasim berada di tangan kekuasaan-Nya.
Demikianlah yang dimaksud oleh ucapan Muhammad ﷺ:

Seandainya wanita itu hanya mengambil adonan yang ada pada penggilingannya dan tidak membersihkannya, niscaya penggilingannya itu akan tetap bekerja menggiling sampai hari kiamat nanti.

Di tempat lain Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amir, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, dari Hisyam, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa seorang lelaki masuk menemui keluarganya; dan ketika ia melihat kelaparan yang melanda keluarganya, ia keluar menuju hutan.
Ketika istri lelaki itu melihat keadaan demikian, maka ia bangkit menuju tempat penggilingan tepungnya.
Kemudian ia siapkan penggilingan tepung itu, dan ia menuju pula ke tempat perapian dapurnya, lalu menyalakannya.
Kemudian ia berdoa, “Ya Allah, berilah kami rezeki.” Lalu ia melihat ke arah pancinya dan ternyata pancinya telah penuh dengan makanan.
Kemudian pergi ke arah dapurnya, dan ternyata ia menjumpai perapian dapurnya telah penuh pula dengan roti.
Ketika suaminya datang, langsung bertanya, “Apakah kamu mendapatkan sesuatu makanan sesudah kepergianku?”
Istrinya menjawab, “Ya, dari Tuhan kita,” seraya berisyarat ke arah penggilingan tepungnya.
Kemudian kisah ini diceritakan kepada Nabi ﷺ Maka Nabi ﷺ bersabda:

Ingatlah, sesungguhnya jika wanita itu tidak mengangkat penggilingannya (yakni membersihkannya), niscaya ia akan tetap berputar sampai hari kiamat.


Informasi Surah Ath Thalaaq (الطلاق)
Surat ini terdiri atas 12 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al lnsaan.

Dinamai surat Ath-thalaaq karena kebanyakan ayat-ayatnya mengenai masalah talak dan yang berhubungan dengan masalah itu.

Keimanan:

Dalam surat ini diterangkan hukurn-hukum mengenai thalaq, iddah dan kewajiban masing-masing suami dan isteri dalam masa-masa talaq dan iddah, agar tak ada pihak yang dirugikan dan keadilan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Kemudian disebutkan perintah kepada orang-orang mu’min supaya bertakwa kepada Allah yang telah mengutus seorang Rasul yang memberikan petunjuk kepada mereka. Maka siapa yang beriman akan dimasukkan ke dalam syurga dan kepada yang ingkar diberikan peringatan bagaimana nasibnya orang-orang ingkar di masa dahulu.

Ayat-ayat dalam Surah Ath Thalaaq (12 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ath-Thalaaq (65) ayat 7 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ath-Thalaaq (65) ayat 7 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ath-Thalaaq (65) ayat 7 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ath-Thalaaq - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 12 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 65:7
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Ath Thalaaq.

Surah At-Talaq (Arab: الطّلاق ,"Talak") adalah surah ke-65 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 12 ayat.
Dinamakan At-Talaq karena kebanyakan ayat-ayatnya mengenai masalah talak dan yang berhubungan dengan masalah itu.

Nomor Surah 65
Nama Surah Ath Thalaaq
Arab الطلاق
Arti Talak
Nama lain an-Nisa'us Sugra
(an-Nisa' yang kecil)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 99
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 12
Jumlah kata 289
Jumlah huruf 1203
Surah sebelumnya Surah At-Tagabun
Surah selanjutnya Surah At-Tahrim
4.7
Ratingmu: 4.9 (9 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/65-7







Pembahasan ▪ surah qs at-thalaq 65:7 ▪ (QS Ath Tholaq: 7) ▪ (QS Ath Tholaq: 7) allah ▪ QS 65:7 ▪ Tafsir al marigi ath thalaq 7 ▪ terjemah at talaq 7

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim