Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Ath Thalaaq (Talak) – surah 65 ayat 1 [QS. 65:1]

یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ اِذَا طَلَّقۡتُمُ النِّسَآءَ فَطَلِّقُوۡہُنَّ لِعِدَّتِہِنَّ وَ اَحۡصُوا الۡعِدَّۃَ ۚ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ رَبَّکُمۡ ۚ لَا تُخۡرِجُوۡہُنَّ مِنۡۢ بُیُوۡتِہِنَّ وَ لَا یَخۡرُجۡنَ اِلَّاۤ اَنۡ یَّاۡتِیۡنَ بِفَاحِشَۃٍ مُّبَیِّنَۃٍ ؕ وَ تِلۡکَ حُدُوۡدُ اللّٰہِ ؕ وَ مَنۡ یَّتَعَدَّ حُدُوۡدَ اللّٰہِ فَقَدۡ ظَلَمَ نَفۡسَہٗ ؕ لَا تَدۡرِیۡ لَعَلَّ اللّٰہَ یُحۡدِثُ بَعۡدَ ذٰلِکَ اَمۡرًا
Yaa ai-yuhaannabii-yu idzaa thallaqtumunnisaa-a fathalliquuhunna li’iddatihinna waahshuul ‘iddata waattaquullaha rabbakum laa tukhrijuuhunna min buyuutihinna walaa yakhrujna ilaa an ya’tiina bifaahisyatin mubai-yinatin watilka huduudullahi waman yata’adda huduudallahi faqad zhalama nafsahu laa tadrii la’allallaha yuhditsu ba’da dzalika amran;
Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu idah itu, serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu.
Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya dan janganlah (diizinkan) keluar kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas.
Itulah hukum-hukum Allah, dan barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh, dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.
Kamu tidak mengetahui barangkali setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru.

―QS. Ath Thalaaq [65]: 1

O Prophet, when you (Muslims) divorce women, divorce them for (the commencement of) their waiting period and keep count of the waiting period, and fear Allah, your Lord.
Do not turn them out of their (husbands’) houses, nor should they (themselves) leave (during that period) unless they are committing a clear immorality.
And those are the limits (set by) Allah.
And whoever transgresses the limits of Allah has certainly wronged himself.
You know not;
perhaps Allah will bring about after that a (different) matter.
― Chapter 65. Surah Ath Thalaaq [verse 1]

يَٰٓأَيُّهَا wahai

O
ٱلنَّبِىُّ Nabi

Prophet!
إِذَا apabila

When
طَلَّقْتُمُ kamu menceraikan

you divorce
ٱلنِّسَآءَ isteri-isteri

[the] women,
فَطَلِّقُوهُنَّ maka ceraikanlah mereka

then divorce them
لِعِدَّتِهِنَّ bagi iddah mereka

for their waiting period,
وَأَحْصُوا۟ dan hitunglah

and keep count
ٱلْعِدَّةَ iddah itu

(of) the waiting period,
وَٱتَّقُوا۟ dan bertakwalah

and fear
ٱللَّهَ Allah

Allah,
رَبَّكُمْ Tuhan kalian

your Lord.
لَا tidak/jangan

(Do) not
تُخْرِجُوهُنَّ kamu keluarkan mereka

expel them
مِنۢ dari

from
بُيُوتِهِنَّ rumah-rumah mereka

their houses,
وَلَا dan tidak/jangan

and not
يَخْرُجْنَ mereka keluar

they should leave
إِلَّآ kecuali

except
أَن bahwa

that
يَأْتِينَ mereka mendatangkan/berbuat

they commit
بِفَٰحِشَةٍ dengan kekejian

an immorality
مُّبَيِّنَةٍ terang/nyata

clear.
وَتِلْكَ dan itu

And these
حُدُودُ batas-batas/hukumhukum

(are the) limits
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah.
وَمَن dan barang siapa

And whoever
يَتَعَدَّ melampaui batas/melanggar

transgresses
حُدُودَ batas-batas/hukumhukum

(the) limits
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah

Tafsir

Alquran

Surah Ath Thalaaq
65:1

Tafsir QS. Ath Thalaaq (65) : 1. Oleh Kementrian Agama RI


Dalam ayat ini, khithab (seruan) Allah ditujukan kepada Nabi Muhammad, tetapi pada hakikatnya dimaksudkan juga kepada umatnya yang beriman.
Allah menyerukan kepada orang-orang mukmin apabila mereka ingin menceraikan (menalak) istri-istri mereka, agar melakukannya ketika istrinya langsung bisa menjalani idahnya, yaitu pada waktu istri-istri itu suci dari haid dan belum dicampuri, sebagaimana dijelaskan dalam satu hadis Nabi ﷺ yang berasal dari Ibnu ‘Umar:

‘Abdullah bin ‘Umar telah menalak istrinya dalam keadaan haid.

Lalu ‘Umar bin Khaththab menanyakan hal itu kepada Nabi ﷺ, lalu beliau memerintahkan ‘Abdullah bin ‘Umar merujuk istrinya, menahan istrinya (tinggal bersama) sampai masa suci.
Lalu menunggu masa haidnya lagi sampai suci, maka setelah itu jika ia menginginkan tinggal bersama istrinya (maka lakukanlah), dan jika ia ingin menalak istrinya (maka lakukanlah) sebelum menggaulinya.

Demikianlah masa idah yang diperintahkan Allah ketika perempuan ditalak.
(Riwayat Bukhari dan Muslim)


Seorang suami yang akan menalak istrinya, agar meneliti dan memperhitungkan betul kapan idah istrinya mulai dan kapan berakhir, agar istri langsung bisa menjalani idahnya sehingga tidak menunggu terlalu lama.

Suami juga diminta melaksanakan hukumhukum dan memenuhi hak-hak istri yang harus dipenuhi selama masa idah.
Hendaklah suami itu takut kepada Allah dan jangan menyalahi apa yang telah diperintahkan-Nya mengenai talak, yaitu menjatuhkan talak pada masa yang direstui-Nya dan memenuhi hak istri yang di talak.

Antara lain, janganlah sang suami mengeluarkan istri yang ditalaknya dari rumah yang ditempatinya sebelum ditalak dengan alasan marah dan sebagainya, karena menempatkan istri itu pada tempat yang layak adalah hak istri yang telah diwajibkan Allah selama ia masih dalam idah.



Sang suami juga dilarang untuk mengeluarkan istri yang sedang menjalani idah dari rumah yang ditempatinya.

Apalagi membiarkan keluar sekehendaknya, karena yang demikian merupakan pelanggaran agama, kecuali apabila istri terang-terangan mengerjakan perbuatan keji, seperti melakukan perbuatan zina dan sebagainya.
Jika sang istri berkelakuan tidak sopan terhadap mertua, maka bolehlah ia dikeluarkan dari tempat tinggalnya.

Demikianlah batas-batas dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan Allah mengenai talak, idah, dan sebagainya.


Oleh karena itu, barang siapa melanggar hukumhukum Allah itu, berarti ia berbuat zalim kepada dirinya sendiri.
Andaikata Allah menakdirkan satu perubahan, lalu hati suami berbalik menjadi cinta lagi kepada istrinya yang telah ditalaknya dan merasa menyesal atas perbuatannya kemudian ia ingin rujuk kembali, maka baginya sudah tertutup jalan, bila keinginannya itu dilaksanakan sesudah habis masa idahnya karena ia telah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadanya.
Istri yang dimaksud di sini ialah istri yang sudah atau masih haid dan sudah dicampuri sesudah akad nikah.
Ada pun istri yang masih kecil atau sudah ayisah (tidak haid lagi) atau belum dicampuri sesudah akad nikah, apabila ditalak, mempunyai hukum idah tersendiri.
Berbeda dengan hukum yang berlaku seperti tersebut di atas.


Tafsir QS. Ath Thalaaq (65) : 1. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Wahai Nabi, jika kamu hendak menjatuhkan talak kepada istri-istrimu maka jatuhkanlah talak itu ketika mereka sedang dalam keadaan suci yang tidak dicampuri.
Tepatkanlah hitungan masa idah dan bertakwalah kepada Tuhanmu.


Jangan izinkan istri-istri yang kamu jatuhi talak itu keluar dari tempat mereka ditalak.
Jangan izinkan mereka keluar kecuali jika melakukan perbuatan keji yang sangat nyata.


Ketentuan- ketentuan itu merupakan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah untuk para hamba-Nya.
Barangsiapa yang melanggar ketentuan Allah maka sesungguhnya ia telah menzalimi diri sendiri.


Kamu, hai orang yang melanggar, tidak mengetahui barangkali Allah akan mewujudkan sesuatu yang tidak diperkirakan, sesudah talak itu, sehingga kedua pasangan suami-istri itu kembali saling mencintai.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai Nabi, jika engkau dan orang-orang mukmin hendak menceraikan istri kalian, ceraikanlah mereka dengan memperhatikan idah mereka (yaitu ketika sudah suci dan belum kembali dicampuri).
Perhatikanlah masa idah agar kalian mengetahui waktu rujuk jika kalian hendak merujuk mereka.


Takutlah kepada Allah, Tuhan kalian.
Janganlah kalian mengusir istri-istri yang kalian cerai dari rumah yang mereka tempati sampai batas idah mereka usai (tiga masa haid untuk selain perempuan yang masih remaja dan selain wanita yang sudah lanjut usia serta wanita hamil).


Mereka tidak diperkenankan diusir dari rumah kecuali jika mereka melakukan perbuatan maksiat, seperti berzina.
Yang demikian itu adalah hukum Allah yang disyariatkan kepada hamba-hamba-Nya.


Siapa saja yang melanggar hukumhukum Allah maka ia telah menzalimi dirinya sendiri dan ia terjerumus ke dalam kebinasaan.
Engkau tidak akan tahu, wahai orang yang menceraikan istri, bahwa bisa jadi sesudah perceraian itu Allah berkehendak terhadap sesuatu yang tidak kalian sangka-sangka sehingga kalian ingin merujuk mereka kembali.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Hai Nabi!) makna yang dimaksud ialah umatnya, pengertian ini disimpulkan dari ayat selanjutnya.
Atau makna yang dimaksud ialah, katakanlah kepada mereka


(apabila kalian menceraikan istri-istri kalian) apabila kalian hendak menjatuhkan talak kepada mereka


(maka hendaklah kalian ceraikan mereka pada waktu mereka menghadapi idahnya) yaitu pada permulaan idah, seumpamanya kamu menjatuhkan talak kepadanya sewaktu ia dalam keadaan suci dan kamu belum menggaulinya.
Pengertian ini berdasarkan penafsiran dari Rasulullah ﷺ sendiri menyangkut masalah ini, demikianlah menurut hadis yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim


(dan hitunglah waktu idahnya) artinya jagalah waktu idahnya supaya kalian dapat merujukinya sebelum waktu idah itu habis


(serta bertakwalah kepada Allah Rabb kalian) taatlah kalian kepada perintah-Nya dan larangan-Nya.


(Janganlah kalian keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka diizinkan keluar) dari rumahnya sebelum idahnya habis


(kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji) yakni zina


(yang terang) dapat dibaca mubayyinah, artinya terang, juga dapat dibaca mubayyanah, artinya dapat dibuktikan.
Maka bila ia melakukan hal tersebut dengan dapat dibuktikan atau ia melakukannya secara jelas, maka ia harus dikeluarkan untuk menjalani hukuman hudud.


(Itulah) yakni hal-hal yang telah disebutkan itu


(hukumhukum Allah dan barang siapa yang melanggar hukumhukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri.
Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu) sesudah perceraian itu


(sesuatu hal yang baru) yaitu rujuk kembali dengan istri yang telah dicerainya, jika talak yang dijatuhkannya itu baru sekali atau dua kali.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Nabi ﷺ diprioritaskan mendapat khitab (perintah) dari ayat ini sebagai penghormatan dan kemuliaan baginya, kemudian menyusul buat umatnya sesudahnya.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar).
(QS. At-Talaq [65]: l)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sawab ibnu Sa’id Al-Hubari, telah menceritakan kepada kami Asbat ibnu Muhammad, dari Sa’id, dari Qatadah, dari Anas yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menceraikan Siti Hafsah, lalu Hafsah pulang ke rumah keluarganya.
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar).
(QS. At-Talaq [65]: l) Maka dikatakan kepada Nabi ﷺ,
"Rujukilah dia, karena sesungguhnya dia (Hafsah) adalah seorang wanita yang banyak berpuasa dan banyak salatnya, dan dia termasuk salah seorang dari istri-istrimu di surga nanti."

Ibnu Jarir meriwayatkan hadis ini melalui Ibnu Basysyar, dari Abdul A’la, dari Sa’id, dari Qatadah, lalu ia sebutkan hal yang semisal secara mursal.


Telah diriwayatkan pula melalui berbagai jalur, bahwa Rasulullah ﷺ pernah menceraikan Siti Hafsah, kemudian beliau ﷺ merujuknya kembali.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, telah menceritakan kepadaku Aqil, dari Ibnu Syihab, telah menceritakan kepadaku Salim bahwa Abdullah ibnu Umar pernah menceritakan kepadanya bahwa dirinya pernah menceraikan salah seorang istrinya yang sedang dalam haid.
Kemudian Umar r.a. (ayahnya) menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah ﷺ Maka Rasulullah ﷺ marah dan bersabda:
Dia harus merujuknya, kemudian memegangnya hingga suci dari haidnya, lalu berhaid lagi dan bersuci, maka (sesudah itu) bila dia ingin menceraikannya, ia boleh menceraikannya dalam keadaan suci, sebelum dia menggaulinya.
Itulah idah yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala (untuk dijalani).

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam tafsir ayat ini.
Dia telah meriwayatkannya pula di berbagai tempat (bagian) lain dari kitab sahihnya.
Sedangkan Imam Muslim telah meriwayatkannya dengan teks yang berbunyi seperti berikut:

Itulah idah yang diperintahkan oleh Allah untuk dijalani bila menceraikan wanita.

Para pemilik kitab hadis dan kitab musnad telah meriwayatkan hadis ini melalui berbagai jalur dan dengan lafaz yang beraneka ragam lagi banyak, yang rinciannya dapat dijumpai di dalam kitabkitab fiqih yang membahas masalah-masalah hukum.
Akan tetapi, lafaz yang paling diperlukan dan paling penting untuk diketengahkan di sini adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya melalui Ibnu Juraij.
Ia mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abuz Zubair, bahwa ia pernah mendengar Abdur Rahman ibnu Aiman maula Izzah bertanya kepada Ibnu Umar, sedangkan Abuz Zubair mendengarnya,
"Bagaimanakah pendapatmu tentang seorang lelaki yang menceraikan istrinya dalam keadaan haid?"
Maka Ibnu Umar menjawab bahwa dirinya pernah menceraikan istrinya yang sedang haid di masa Rasulullah ﷺ Maka Rasulullah ﷺ bersabda:


Dia harus merujuknya.
Maka Ibnu Umar merujuknya.
Dan Nabi ﷺ bersabda:
Jika istrinya telah bersuci, dia boleh menceraikannya atau tetap memegangnya (sebagai istri).
Ibnu Umar melanjutkan, bahwa Nabi ﷺ membaca firman-Nya:
Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar).
(QS. At-Talaq [65]: 1)

Al-A’masy telah meriwayatkan dari Malik ibnul Haris, dari Abdur Rahman ibnu Zaid, dari Abdullah sehubungan dengan makna firman-Nya:
maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar).
(QS. At-Talaq [65]: 1)
Makna yang dimaksud ialah dalam keadaan suci tanpa disetubuhi.


Telah diriwayatkan pula hal yang semisal dari Ibnu Umar, Ata, Mujahid, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Qatadah, Maimun ibnu Mahran, dan Muqatil ibnu Hayyan.
Ini merupakan riwayat yang bersumber dari Ikrimah dan Ad-Dahhak.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan sehubungan dengan makna firman-Nya:
maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar).
(QS. At-Talaq [65]: 1)
Bahwa seseorang tidak boleh menceraikan istrinya yang dalam keadaan haid;
tidak boleh pula dalam keadaan suci, sedangkan dia telah menyetubuhinya.
Tetapi hendaknya dia membiarkannya hingga berhaid lagi, lalu bersuci, kemudian ia baru boleh menjatuhkan talaknya sekali.

Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar).
(QS. At-Talaq [65]: 1)
Bahwa yang dimaksud dengan idah ialah saat suci dan saat haid.
Seseorang diperbolehkan menceraikan istrinya dalam keadaan hamil lagi positif kehamilannya.
Dan ia tidak boleh menceraikannya, sedangkan ia telah menyetubuhinya dan tidak diketahui apakah istrinya dalam keadaan hamil atau tidak.


Berangkat dari pengertian ini, para ulama fiqih menyusun hukumhukum talak dan mereka membaginya menjadi talak sunnah dan talak bid’ah.
Yang dimaksud dengan talak sunnah ialah bila seseorang menceraikan istrinya dalam keadaan suci tanpa menyetubuhinya atau dalam keadaan hamil yang telah jelas kehamilannya.
Dan talak bid’ah ialah bila seseorang menceraikan istrinya dalam keadaan berhaid atau dalam keadaan suci, sedangkan dia telah menyetubuhinya di masa sucinya itu, dan tidak diketahui apakah istrinya telah hamil atau tidak.
Talak yang ketiga ialah talak yang bukan sunnah dan bukan pula bid’ah, yaitu talak yang dijatuhkan terhadap istri yang masih belum balig, wanita yang tidak berhaid, dan wanita (istri) yang belum disetubuhi.
Penjelasan mengenai hal ini secara rinci berikut semua cabang yang berkaitan dengannya di sebutkan di dalam kitabkitab fiqih;
hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan hitunglah waktu idah itu.
(QS. At-Talaq [65]: 1)

Yakni peliharalah dan ketahuilah permulaan dan batas berakhirnya, agar masa idah tidak memanjang bagi si istri, yang berakibat terhalang dari melakukan perkawinan.

serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu.
(QS. At-Talaq [65]: 1)

Yaitu dalam hal tersebut.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar.
(QS. At-Talaq [65]: 1)

Artinya, dalam masa idahnya ia berhak mendapatkan tempat tinggal yang dibebankan kepada pihak suami selama istrinya masih menjalani idah darinya, si suami tidak boleh mengusirnya dari tempat tinggalnya, dan si istri tidak boleh pula keluar darinya, karena terikat dengan hak suaminya juga.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.
(QS. At-Talaq [65]: 1)

Yakni mereka tidak boleh diizinkan keluar dari rumah tempat tinggal mereka terkecuali jika wanita yang bersangkutan melakukan perbuatan keji yang terang (yakni terbukti perbuatan kejinya).
Maka dia baru boleh diusir dari tempat tinggalnya.
Yang dimaksud dengan perbuatan fahisyah ialah mencakup perbuatan zina.
Ini menurut pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Sa’id ibnul Musayyab, Asy-Sya’bi, Al-Hasan, ibnu Sirin, Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Abu Qilabah, Abu Saleh, Ad-Dahhak, Zaid ibnu Aslam, Ata Al-Khurrasani, As-Sadi, Sa’id ibnu Abu Hilal, dan lain-lainnya.
Juga mencakup bilamana wanita yang bersangkutan bersikap membangkang atau bersikap menghina keluarga suami dan menyakiti mereka dengan lisannya dan juga dengan perbuatannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ubay ibnu Ka’b, Ibnu Abbas, Ikrimah, dan ulama Salaf lainnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Itulah hukumhukum Allah.
(QS. At-Talaq [65]: 1)


Yakni hukumhukum syariat:Nya dan batasan-batasan haram-Nya.

dan barang siapa yang melanggar hukumhukum Allah.
(QS. At-Talaq [65]: 1)

Maksudnya, keluar dan menyimpang darinya ke jalan lain dan tidak mau mengikutinya.

maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.
(QS. At-Talaq [65]: 1)

dengan perbuatannya itu.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru.
(QS. At-Talaq [65]: 1)

Yaitu sesungguhnya Kami biarkan wanita yang diceraikan tetap berada di tempat tinggal suaminya dalam masa idahnya, karena barangkali si suami menyesali talak yang telah dijatuhkannya, dan Allah menggerakkan hati suami untuk merujuknya.
Bila demikian, maka urusannya mudah dan gampang.

Az-Zuhri telah meriwayatkan dari Ubaidillah ibnu Abdullah, dari Fatimah binti Qais sehubungan dengan makna firman-Nya:
Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru.
(QS. At-Talaq [65]: 1)
Yakni keinginan untuk rujuk.


Hal yang semisal telah dikatakan oleh Asy-Sya’bi, Ata, Qatadah, Ad-Dahhak, Muqatil ibnu Hayyan, dan As-Sauri.


Berangkat dari pengertian ini ada sejumlah ulama Salaf dan para pendukungnya —seperti Imam Ahmad rahimahullah— mengatakan bahwa tidak wajib memberikan tempat tinggal bagi wanita yang diceraikan habis-habisan (telah habis talaknya), demikian pula bagi istri yang ditinggal mati oleh suaminya.

Mereka yang berpendapat demikian berpedoman pula kepada hadis Fatimah binti Qais Al-Fihriyyah ketika diceraikan oleh suaminya (yaitu Abu Amr ibnu Hafs) pada talak yang terakhir, yaitu talak yang ketiga.
Saat itu Abu Amr tidak ada di tempat, yaitu berada di negeri Yaman;
ia mengirimkan kurirnya untuk menyampaikan talaknya itu, juga bersamaan dengan itu ia mengirimkan kepada kurirnya sejumlah gandum sebagai nafkah untuk istri yang diceraikannya.
Maka istrinya marah karena hanya gandum yang dikirimkan kepadanya.
Lalu Abu Amr mengatakan,
"Demi Allah, tiada kewajiban atas kami memberi nafkah kepadamu."
Fatimah binti Qais datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ mengadukan masalahnya, maka Rasulullah ﷺ bersabda:

Engkau tidak punya hak nafkah darinya.


Menurut lafaz hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan pula:


dan (tidak pula) tempat tinggal.

Pada mulanya Rasulullah ﷺ memerintahkannya untuk menjalani idahnya di rumah Ummu Syarik, kemudian beliau ﷺ mencabut perintahnya dan bersabda:

Ummu Syarik adalah seorang wanita yang sering didatangi oleh sahabat-sahabatku, tunaikanlah masa idahmu di rumah Ibnu Ummi Maktum, karena sesungguhnya dia adalah seorang lelaki yang tuna netra, engkau dapat menanggalkan pakaian (jilbab)mu.
dan seterusnya.

Imam Ahmad telah meriwayatkan hadis ini melalui jalur lain dengan lafaz yang lain;
untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Mujalid, telah menceritakan kepada kami Amir yang mengatakan bahwa aku tiba di Madinah, lalu aku mengunjungi Fatimah binti Qais.
Maka dia mencerita­kan kepadaku bahwa suaminya telah menceraikannya di masa Rasulullah ﷺ dan beliau ﷺ mengirimkan suaminya bersama suatu pasukan khusus.
Fatimah binti Qais melanjutkan kisahnya, bahwa lalu saudara lelaki suaminya berkata kepadaku,
"Keluarlah kamu dari rumah (saudaraku) ini."
Maka aku menjawab,
"Sesungguhnya aku berhak mendapat nafkah dan tempat tinggal hingga masa idahku habis."
Saudara suamiku berkata,
"Tidak."
Fatimah binti Qais melanjutkan kisahnya, bahwa lalu aku menghadap Rasulullah ﷺ dan kukatakan kepadanya,
"Sesungguhnya si Fulan telah menceraikanku, dan saudara lelakinya mengusirku dari rumah suamiku, dia tidak memberiku tempat tinggal dan nafkah."
Maka Rasulullah ﷺ menanyai saudara suaminya,
"Mengapa kamu dan anak perempuan keluarga Qais ini?"
Ia menjawab,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya saudaraku telah menceraikannya tiga kali seluruhnya."
Fatimah binti Qais melanjutkan, bahwa lalu Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:

Perhatikanlah, hai anak perempuan keluarga Qais, sesungguhnya nafkah dan tempat tinggal bagi istri dibebankan pada suaminya selama si suami masih punya hak untuk merujuknya.
Dan apabila si suami tidak punya hak lagi untuk merujuknya, maka tiada nafkah dan tiada tempat tinggal lagi.
Sekarang keluarlah engkau dan tinggallah di rumah si Fulanah.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda lagi kepadanya:
Tinggallah kamu di rumah Ibnu Ummi Maktum, karena sesungguhnya dia adalah seorang yang tuna netra dan tidak dapat melihatmu.
hingga akhir hadis.


Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdullah Al-Bazzar At-Tusturi, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim As-Sawwaf, telah menceritakan kepada kami Bakr ibnu Bakkar, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Yazid Al-Bajali, telah menceritakan kepada kami Amir Asy-Sya’bi, bahwa ia masuk menemui Fatimah binti Qais saudara perempuan Ad-Dahhak ibnu Qais Al-Qurasyi, suaminya bernama Abu Amr ibnu Hafs ibnul Mugirah Al-Makhzumi.
Maka Fatimah binti Qais menceritakan bahwa sesungguhnya Abu Amr ibnu Hafs mengirimkan kurirnya kepadaku untuk menyampaikan talaknya terhadapku, sedangkan ia berada dalam rombongan pasukan yang diberangkatkan ke negeri Yaman.
Maka aku menuntut nafkah dari walinya dan juga tempat tinggal, tetapi mereka (orang-orang yang menjadi walinya) mengatakan,
"Dia tidak mengirimkan sesuatu pun kepada kami hal tersebut dan tidak pula memesankannya kepada kami."
Maka aku menemui Rasulullah ﷺ dan kukatakan kepadanya,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Amr ibnu Hafs telah mengirimkan kurirnya kepadaku untuk menceraikanku.
Lalu aku meminta kepada para walinya agar aku diberi tempat tinggal dan nafkah.
Tetapi mereka mengatakan, ‘Dia tidak mengirimkan apa pun kepada kami mengenai hal tersebut’."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya tempat tinggal dan nafkah itu hanyalah bagi wanita yang suaminya masih mempunyai hak untuk merujuknya.
Dan jika wanita tidak halal lagi bagi suaminya sebelum kawin dengan lelaki lain, maka tiada nafkah baginya dan juga tiada tempat tinggal.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai, dari Ahmad ibnu Yahya As-Sufi, dari Abu Na’im Al-Fadl ibnu Dakin, dari Sa’id ibnu Yazid Al-Ahmasi Al-Bajali Al-Kufi.
Abu Hatim Ar-Razi mengatakan bahwa dia adalah seorang syekh (guru) yang sering diambil riwayat hadisnya.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ath Thalaaq (65) Ayat 1

Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ‘Abdul Yazid (Abu Rukanah) menalak istrinya (ummu Rukanah), kemudian ia menikah lagi dengan seorang wanita Madinah.
Istrinya mengadu kepad Rasulullah ﷺ dengan berkata: “Ya Rasulullah, tidak akan terjadi hal seperti ini kecuali karena si rambut pirang.” Ayat ini (ath-Thalaaq: 1) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang menegaskan bahwa kewajiban seorang suami terhadap istrinya yang ditalak tetap harus ditunaikan sampai habis masa idah, tapi dilarang tidur bersama.

Menurut adz-Dzahabi, isnaad hadits ini lemah dan isi beritanya salah, karena peristiwa ‘Abdu Yazid terjadi sebelum Islam sampai kepadanya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Qatadah yang bersumber dari Anas.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah; dan diriwayatkan pula oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Ibnu Sirin, tetapi keduanya mursal, bahwa Rasulullah ﷺ menalak istrinya yang bernama Hafshah.
Ia pun pulang kepada keluarganya.
Ayat ini (ath-Thalaq: 1) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang memerintahkan kepada Rasulullah ﷺ agar memberi nafkah kepada Hafshah sampai habis masa idah.
Dan dikatakan (oleh Jibril) agar Rasulullah rujuk kembali, karena Hafshah termasuk wanita ahli shaum dan bangun malam (Shalat)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Muqatil bahwa ayat ini (ath-Thalaq: 1) turun berkenaan dengan ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, Thufail bin al-Harits, dan ‘Amr bin Sa’id al-‘Ash yang menalak istri mereka yang sedang haid.
Ayat ini (ath-Thalaq: 1) melarang perbuatan seperti itu.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Ath Thalaaq (65) Ayat 1

HUDUUD
حُدُود

Lafaz huduud adalah bentuk jamak dari lafaz tunggal hadd. Lafaz ini bermakna sesuatu yang menghalangi dua benda sehingga kedua-duanya tidak dapat berkumpul antara yang satu sama lain.

Lafaz ini dalam bentuk mufrad tidak di sebut di dalam Al Qur’an tetapi dalam bentuk jamak sebanyak 12 kali lafaz hudud disebut dengan diikuti lafz al-jalalah menjadikannya huduudullah yaitu didalam surah:
-Al Baqaarah (2), ayat 187, 229 (empat kali), 230 (dua kali);
An Nisaa (4), ayat 13;
At Taubah (9), ayat 112;
-Al Mujaadalah (58), ayat 4;
Ath Thalaaq (65), ayat 1 (dua kali).

Hanya sekali saja disebut dengan diikuti lafaz ganti (damir) huduudahuu yaitu dalam surah An Nisaa (4), ayat 14. Sedangkan dalam bentuk hudduda maa anzalallah disebut sekali saja yaitu dalam surah At Taubah (9), ayat 97 sehingga jumlah keseluruhan ulangan lafaz hudud di dalam Al Qur’an adalah 14 kali.

Yang dimaksudkan dengan huduudullah atau hudduda maa anzalallah adalah atural-aturan Allah yang berbentuk perintah dan larangan.
Hukumhukum Allah dan syari’atnya dinamakan huddud karena ia adalah pembatas yang ditetapkan oleh Allah dan tidak boleh dilanggar.
Dalam dua ayat, huddud digunakan unttuk menunjukkan hukumhukum Allah secara umum, bukan hukum dalam kasus tertentu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.

Ia menjadi aturan bagi manusia sebagaimana dalam surah At Taubah (9), ayat 97, di mana Allah menerangkan orang Arab yang tinggal di pedalaman adalah orang yang pengetahuannya begitu rendah tentang aturan Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.

Begitu juga dalam surah surah At Taubah (9), ayat 112, di mana Allah menjelaskan antara sifat orang beriman yang dijanjikan syurga adalah orang yang selalu mematuhi aturan Allah secara konsisten.

وَٱلْحَٰفِظُونَ لِحُدُودِ ٱللَّهِۗ

Selain dua ayat diatas, lafaz huduud selalu digunakan untuk menegaskan aturan Allah secara khusus yaitu:

1. Hukum dan aturan tentang puasa dan i’tikaf yang terdapat dalam surah Al Baqarah (2), ayat 187.

2. Hukum dan aturan talak, rujuk, khulu’ dan ‘iddah yaitu yang terdapat dalam surah Al Baqarah (2), ayat 229, 230 dan surah Ath Thalaaq (65), ayat 1.

3. Hukum dan aturan zihar dan kafaratnya yaitu yang terdapat dalam surah Al Mujaadalah (58), ayat 4.

4. Hukum dan aturan pembagian waris yaitu yang terdapat dalam surah An Nisaa (4), ayat 13 dan 14.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 200-201

Unsur Pokok Surah Ath Thalaaq (الطلاق)

Surat ini terdiri atas 12 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al-lnsaan.

Dinamai surat Ath-thalaaq karena kebanyakan ayat-ayatnya mengenai masalah talak dan yang berhubungan dengan masalah itu.

Keimanan:

▪ Dalam surat ini diterangkan hukurn-hukum mengenai thalaq, iddah dan kewajiban masing-masing suami dan isteri dalam masa-masa talaq dan iddah, agar tak ada pihak yang dirugikan dan keadilan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
▪ Kemudian disebutkan perintah kepada orang-orang mukmin supaya bertakwa kepada Allah yang telah mengutus seorang Rasul yang memberikan petunjuk kepada mereka.
Maka siapa yang beriman akan dimasukkan ke dalam syurga dan kepada yang ingkar diberikan peringatan bagaimana nasibnya orang-orang ingkar di masa dahulu.

Audio

QS. Ath-Thalaaq (65) : 1-12 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 12 + Terjemahan Indonesia

QS. Ath-Thalaaq (65) : 1-12 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 12

Gambar Kutipan Ayat

Surah Ath Thalaaq ayat 1 - Gambar 1 Surah Ath Thalaaq ayat 1 - Gambar 2
Statistik QS. 65:1
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Ath Thalaaq.

Surah At-Talaq (Arab: الطّلاق ,”Talak”) adalah surah ke-65 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 12 ayat.
Dinamakan At-Talaq karena kebanyakan ayat-ayatnya mengenai masalah talak dan yang berhubungan dengan masalah itu.

Nomor Surah65
Nama SurahAth Thalaaq
Arabالطلاق
ArtiTalak
Nama lainan-Nisa’us Sugra
(an-Nisa’ yang kecil)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu99
JuzJuz 28
Jumlah ruku’2 ruku’
Jumlah ayat12
Jumlah kata289
Jumlah huruf1203
Surah sebelumnyaSurah At-Tagabun
Surah selanjutnyaSurah At-Tahrim
Sending
User Review
5 (1 vote)
Tags:

65:1, 65 1, 65-1, Surah Ath Thalaaq 1, Tafsir surat AthThalaaq 1, Quran Ath Thalaq 1, At Talaq 1, Surah At Tolaq ayat 1

▪ QS 65:1
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Shaad (Shaad) – surah 38 ayat 40 [QS. 38:40]

39-40. Kami berikan kepada Nabi Sulaiman kerajaan, kekayaan, dan kekuasaan yang tidak Kami berikan kepada siapa pun sesudahnya. Inilah anugerah Kami yang agung kepadamu, wahai Nabi Sulaiman; maka beri … 38:40, 38 40, 38-40, Surah Shaad 40, Tafsir surat Shaad 40, Quran Shad 40, Sad 40, Surah Shad ayat 40

QS. Az Zukhruf (Perhiasan) – surah 43 ayat 71 [QS. 43:71]

71. Di dalam surga nanti kepada mereka yang beriman dan bertakwa itu diedarkan piring-piring dari emas yang berisi aneka macam makanan yang lezat dan juga gelas-gelas minum yang berisi aneka macam min … 43:71, 43 71, 43-71, Surah Az Zukhruf 71, Tafsir surat AzZukhruf 71, Quran Az-Zukhruf 71, Surah Az Zukruf ayat 71

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Alquran bertindak sebagai Hudan, yang artinya adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2, Allah berfirman bahwa Alquran adalah pedoman untuk orang ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
ذٰلِکَ الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی لِّلۡمُتَّقِیۡنَ

Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang muttaqin (bertakwa),
--QS. 2:2

Sifat dasar hukum Alquran adalah keseimbangan dalam hal aspek material dan psikologis, yang disebut sebagai ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Alquran dimulai dengan surah Al Fatihah (pembukaan) dan berakhir dengan surah ...

Benar! Kurang tepat!

Alquran adalah panduan dan pedoman manusia bagi mereka yang beriman. Ini dikonfirmasikan oleh Allah dalam surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
ہٰذَا بَصَآئِرُ لِلنَّاسِ وَ ہُدًی وَّ رَحۡمَۃٌ لِّقَوۡمٍ یُّوۡقِنُوۡنَ

(Alquran) ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.
--QS. 45:20

Pendidikan Agama Islam #6
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #6 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #6 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #20

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat maka diganti oleh sahabat sebagai pemimpin ummat disebut … Saifullah Abu Bakar Ash

Kuis Agama Islam #31

Menyampaikan ajaran Alquran dan sunnah Nabi Muhammad kepada orang lain yang belum mengetahui disebut dengan … Presentasi Tanya Jawab Pidato

Pendidikan Agama Islam #9

Era ketidaktahuan juga disebut zaman … sanawiyah jahiliyah madaniyah makiyah abu jahal Benar! Kurang tepat! Orang yang memiliki kemampuan untuk

Instagram