QS. Ath Thaariq (Yang datang di malam hari) – surah 86 ayat 1 [QS. 86:1]

وَ السَّمَآءِ وَ الطَّارِقِ ۙ
Wassamaa-i wath-thaariq(i);

Demi langit dan yang datang pada malam hari,
―QS. 86:1
Topik ▪ Pergantian malam dan siang
86:1, 86 1, 86-1, Ath Thaariq 1, AthThaariq 1, At Tariq 1, At-Tariq 1

Tafsir surah Ath Thaariq (86) ayat 1

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ath Thaariq (86) : 1. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat-ayat ini dan pada beberapa ayat lain, Allah bersumpah dengan langit, matahari, bulan, dan malam karena terdapat padanya hal-hal, bentuk-bentuk, perjalanan-perjalanan, terbit dan tenggelamnya; maka keadaan yang ajaib dan luar biasa ini adalah bukti bagi orang yang berpikir dan memperhatikan bahwa ada penciptanya Yang Mahakuasa, tidak ada sekutu dalam penciptaannya.
Dalam ayat-ayat ini, Allah bersumpah dengan langit dan bintang yang terbit pada malam hari.
Sinarnya memecahkan kegelapan, dan menjadi petunjuk jalan kepada manusia pada waktu gelap di bumi dan di laut.
Dari bintang itu, manusia dapat mengetahui musim hujan dan hal-hal lain yang diperlukannya dalam kehidupan.
Ada beberapa arti yang dikemukakan oleh para mufasir mengenai bintang tersebut.
Pendapat yang terbaik adalah yang mengartikannya sebagai bintang yang bercahaya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Aku bersumpah demi langit dan bintang yang bermunculan di waktu malam.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Demi langit dan yang datang pada malam hari) lafal Ath-Thaariq pada asalnya berarti segala sesuatu yang datang pada malam hari, antara lain ialah bintang-bintang, karena bintang-bintang baru muncul bila malam tiba.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala bersumpah dengan menyebut nama langit dan semua bintang yang bersinar terang yang menghiasinya.
Untuk itu, maka disebutkan oleh firman-Nya:

{وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ}

Demi langit dan yang datang pada malam hari.
(Q.S. At-Tariq [86]: 1)

Kemudian dalam firman berikutnya disebutkan:

{وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ}

tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?
(Q.S. At-Tariq [86]: 2)

Lalu ditafsirkan oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala:

{النَّجْمُ الثَّاقِبُ}

(yaitu) bintang yang cahayanya menembus.
(Q.S. At-Tariq [86]: 3)

Qatadah dan lain-Lainnya mengatakan bahwa sesungguhnya bintang dinamakan Ath-Thariq tiada lain karena ia hanya dapat dilihat di malam hari, sedangkan siang hari tidak kelihatan.
Hal ini diperkuat dengan apa yang disebutkan di dalam hadis sahih yang mengatakan:

نَهَى أَنْ يَطْرُقَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ طُرُوقًا

Beliau ﷺ melarang seseorang mendatangi keluarganya di malam hari yang sudah larut.

Yakni dia pulang ke rumahnya dengan mengejutkan di malam hari.
Di dalam hadis lain yang mengandung doa telah disebutkan:

“إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ”

kecuali orang yang datang di tengah malam dengan membawa kebaikan, ya Tuhan Yang Maha Pemurah.

Mengenai firman Allah subhanahu wa ta’ala:

{الثَّاقِبُ}

yang cahayanya menembus.
(Q.S. At-Tariq [86]: 3)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah yang cahayanya terang.
As-Saddi mengatakan, makna yang dimaksud ialah yang menembus setan-setan apabila dilemparkan kepadanya.
Ikrimah mengatakan, makna yang dimaksud ialah yang cahayanya terang lagi membakar setan-setan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

{إِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ}

tidak ada suatu jiwa (diri) pun melainkan ada penjaganya.
(Q.S. At-Tariq [86]: 4)

Yaitu sesungguhnya pada tiap diri terdapat malaikat yang menjaganya ditugaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala agar melindunginya dari berbagai bencana dan penyakit.
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

لَهُ مُعَقِّباتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.
(Q.S. Ar-Ra’d [13]: 11)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

{فَلْيَنْظُرِ الإنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ}

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?
(Q.S. At-Tariq [86]: 5)

Ini mengingatkan manusia akan betapa lemahnya asal kejadiannya, sekaligus membimbingnya untuk mengakui adanya hari kemudian.
yaitu hari berbangkit.
Karena sesungguhnya Tuhan yang mampu menciptakannya dari semula mampu pula untuk mengembalikannya seperti keadaan semula, bahkan lebih mudah.
Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَؤُا الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ

Dan Dialah Yang Menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.
(Ar-Rum: 27)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

{خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ}

Dia diciptakan dari air yang terpancar.
(Q.S. At-Tariq [86]: 6)

Yaitu air mani yang dipancarkan oleh laki-laki dan bertemu dengan indung telur wanita, maka terjadilah anak dari percampuran keduanya dengan seizin Allah subhanahu wa ta’ala Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikut-nya:

{يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ}

yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.
(Q.S. At-Tariq [86]: 7)

Yakni dari sulbi laki-laki dan dari tulang dada wanita.

Syabib ibnu Bisyr telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.
(Q.S. At-Tariq [86]: 7) Yaitu sulbi laki-laki dan tara-ibul mar-ah (tulang dada wanita) yang warna air maninya kuning lagi agak encer, kejadian anak dari air mani keduanya.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Sa’id ibnu Jubair, Ikrimah, Qatadah, As-Saddi, dan lain-lainnya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Mis’ar, bahwa ia pernah mendengar Al-Hakam menceritakan pendapat Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.
(Q.S. At-Tariq [86]: 7) Lalu Ibnu Abbas mengatakan, “Inilah tara-ib,” seraya meletakkan tangannya ke dadanya.
Ad-Dahhak dan Atiyyah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa taribatul mar-ah artinya tempat kalung (liontin)nya.
Hal yang sama dikatakan oleh Ikrimah dan Sa’id ibnu Jubair.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa tara-ib artinya di antara susunya.
Diriwayatkan dari Mujahid bahwa tara-ib ialah antara’kedua pundak sampai dada.
Diriwayatkan pula dari Mujahid bahwa tara-ib berada di bawah kerongkongan.
Diriwayatkan dari Ad-Dahhak bahwa tara-ib terletak di antara kedua susu, kedua kaki, dan kedua mata.

Al-Lais ibnu Sa’d telah meriwayatkan dari Ma’mar ibnu Abu Habibah Al-Madani, bahwa Al-Lais telah mendapat berita darinya sehubungan dengan makna firman-Nya: yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.
(Q.S. At-Tariq [86]: 7)

Bahwa yang dimaksud ialah tetesan hati, dari sanalah asal mula terjadinya anak.
Diriwayatkan pula dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.
(Q.S. At-Tariq [86]: 7) Yakni di antara tulang sulbi dan bagian bawah kerongkongannya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

{إِنَّهُ عَلَى رَجْعِهِ لَقَادِرٌ}

Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah matinya).
(Q.S. At-Tariq [86]: 8)

Sehubungan dengan makna ayat ini ada dua pendapat.

Pertama, mengatakan bahwa Allah berkuasa mengembalikan air mani yang telah terpancarkan ini ke tempat asalnya keluar.
Hal ini dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, dan selain keduanya.

Pendapat yang kedua mengatakan, sesungguhnya Allah berkuasa menghidupkan kembali manusia yang diciptakan dari air mani ini sesudah matinya, lalu dibangkitkan untuk menuju negeri akhirat.
Karena sesungguhnya Tuhan yang menciptakan dari semula mampu mengembalikan (menghidupkan) ciptaan-Nya seperti semula.
Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan dalil yang menunjukkan hal ini di dalam Al-Qur’an di berbagai tempat.
Pendapat ini dikatakan oleh Ad-Dahhak dan dipilih oleh Ibnu Jarir.
Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

{يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ}

Pada hari ditampakkan segala rahasia.
(Q.S. At-Tariq [86]: 9)

Pada hari kiamat semua rahasia ditampakkan sehingga menjadi jelas dan terang, dan tiada lagi rahasia karena semuanya menjadi tampak kelihatan dan semua yang tadinya tersembunyi di hari itu menjadi kelihatan.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui Ibnu Ulnar, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“يُرْفَعُ لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ عِنْدَ اسْتِهِ يُقَالُ: هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ”

Bagi tiap orang yang khianat dinaikkan (dipasang) bendera pada pantatnya, lalu dikatakan bahwa ini adalah pengkhianatan si Fulan bin Fulan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

{فَمَا لَهُ}

maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu.
(Q.S. At-Tariq [86]: 10)

Yakni bagi manusia kelak di hari kiamat.

{مِنْ قُوَّةٍ}

satu kekuatan pun.
(Q.S. At-Tariq [86]: 10)

Maksudnya, kekuatan dalam dirinya.

{وَلا نَاصِرٍ}

dan tidak (pula) seorang penolong.
(Q.S. At-Tariq [86]: 10)

Yaitu dari luar dirinya.
Dengan kata lain, tiada seorang pun yang dapat menyelamatkan dirinya dari azab Allah dan tiada pula seorang pun yang dapat menolong orang lain dari azab Allah.


Kata Pilihan Dalam Surah Ath Thaariq (86) Ayat 1

THAARIQ
لطَّارِق

Lafaz ini mengandung empat makna asal yaitu yang datang pada waktu petang, pukulan, jenis dari sesuatu yang lunak atau empuk dan meletakkan atau menampal sesuatu ke atas sesuatu.

Jabl Thaariq maknanya Gibraltar dan Bughaaz Jabl Thaariq ialah Selat Gibraltar.

Al Mawardi berkata,
“Asal lafaz ath thurq ialah ad daqq yaitu mengetuk, darinya diambil lafaz al mitraqah (palu) dan dinamakan yang datang pada malam hari dengan ath thaariq karena ia berhajat sampai kepada apa yang diingininya dengan cara mengetuk.

Lafaz thaariq disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Ath Thaariq di dalam Al Qur’an berarti yang datang dan muncul pada waktu malam, yaitu bintang. Setiap bintang dinamakan thaariq karena ia kelihatan atau muncul pada waktu malam, oleh karena itu setiap yang datang pada waktu malam dinamakan thaariq.

Ibn Qutaibah memberikan makna thaariq dengan an najm yaitu bintang, dinamakan begitu karena ia muncul pada waktu malam.

Di dalam Al Qur’an lafaz ini ditafsirkan dengan ayat berikutnya yaitu an najmuts tsaaqib yang berarti al mudi’ (yang bercahaya) seolah-olah ia menolak kegelapan dengan cahayanya.

Lafaz ini juga merupakan nama bagi surah yang ke 86 yang diturunkan di Makkah, ia terdiri dari 17 ayat, 61 lafaz dan 239 huruf. Kandungan surah ini ialah bersumpah atas penjagaan manusia, berita mengenai situasinya di permulaan dan di akhir, membongkar rahasia-rahasia pada hari penghisaban, bersumpah lafaz-lafaz Al Qur’an adalah fasih dan tidak sembarangan atau senda gurau. Menurut sesetengah pakar terdapat satu ayat yaitu ayat 17 yang dimansuhkan dengan ayat as sayf (pedang) yang terdapat dalam surah At Taubah ayat 5.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:344

Informasi Surah Ath Thaariq (الطارق)
Surat Ath Thaariq terdiri atas 17 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Balad.

Dinamai “Ath Thaariq ” (yang datang di malam hari) diambil dari perkataan “Ath Thaariq” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Keimanan:

Tiap-tiap jiwa selalu dipelihara dan diawasi Allah
merenungkan asal kejadian diri sendiri yaitu dari air mani akan menghilangkan sifat sombong dan takabur
Allah kuasa menghidupkan manusia kembali pada hari kiamat, pada waktu itu tidak ada kekuatan yang dapat menolong selain Allah
Al Qur’an adalah pemisah antara yang hak dan yang batil.

Lain-lain:

Tiap-tiap jiwa selalu dipelihara dan diawasi Allah
merenungkan asal kejadian diri sendiri yaitu dari air mani akan menghilangkan sifat sombong dan takabur
Allah kuasa menghidupkan manusia kembali pada hari kiamat, pada waktu itu tidak ada kekuatan yang dapat menolong selain Allah
Al Qur’an adalah pemisah antara yang hak dan yang batil.

Ayat-ayat dalam Surah Ath Thaariq (17 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ath-Thaariq (86) ayat 1 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ath-Thaariq (86) ayat 1 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ath-Thaariq (86) ayat 1 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. At-Tariq (86) ayat 1-17 - Wita Sasika (Bahasa Indonesia)
Q.S. At-Tariq (86) ayat 1-17 - Wita Sasika (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ath-Thaariq - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 17 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 86:1
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Ath Thaariq.

Surah At-Tariq (bahasa Arab:الطّارق) adalah surah ke 86 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makiyah yang terdiri atas 17 ayat.
Dinamakan At-Tariq yang berarti Yang datang di malam hari diambil dari perkataan Ath Thaariq yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Nomor Surah 86
Nama Surah Ath Thaariq
Arab الطارق
Arti Yang datang di malam hari
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 36
Juz Juz 30
Jumlah ruku' 1 ruku'
Jumlah ayat 17
Jumlah kata 61
Jumlah huruf 254
Surah sebelumnya Surah Al-Buruj
Surah selanjutnya Surah Al-A’la
4.7
Ratingmu: 4.5 (27 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/86-1









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta