Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. At Taubah (Pengampunan) – surah 9 ayat 91 [QS. 9:91]

لَیۡسَ عَلَی الضُّعَفَآءِ وَ لَا عَلَی الۡمَرۡضٰی وَ لَا عَلَی الَّذِیۡنَ لَا یَجِدُوۡنَ مَا یُنۡفِقُوۡنَ حَرَجٌ اِذَا نَصَحُوۡا لِلّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ ؕ مَا عَلَی الۡمُحۡسِنِیۡنَ مِنۡ سَبِیۡلٍ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
Laisa ‘aladh-dhu’afaa-i walaa ‘alal mardha walaa ‘alaal-ladziina laa yajiduuna maa yunfiquuna harajun idzaa nashahuu lillahi warasuulihi maa ‘alal muhsiniina min sabiilin wallahu ghafuurun rahiimun;
Tidak ada dosa (karena tidak pergi berperang) atas orang yang lemah, orang yang sakit dan orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya.
Tidak ada alasan apa pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.
Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang,
―QS. At Taubah [9]: 91

There is not upon the weak or upon the ill or upon those who do not find anything to spend any discomfort when they are sincere to Allah and His Messenger.
There is not upon the doers of good any cause (for blame).
And Allah is Forgiving and Merciful.
― Chapter 9. Surah At Taubah [verse 91]

لَّيْسَ tidak

Not
عَلَى atas

on
ٱلضُّعَفَآءِ orang-orang yang lemah

the weak
وَلَا dan tidak

and not
عَلَى atas

on
ٱلْمَرْضَىٰ orang-orang yang sakit

the sick
وَلَا dan tidak

and not
عَلَى atas

on
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

those who
لَا tidak

not
يَجِدُونَ mereka memperoleh

they find
مَا apa

what
يُنفِقُونَ mereka nafkahkan

they (can) spend
حَرَجٌ berdosa/bersalah

any blame
إِذَا apabila

if
نَصَحُوا۟ mereka jujur/ikhlas

they (are) sincere
لِلَّهِ kepada Allah

to Allah
وَرَسُولِهِۦ dan RasulNya

and His Messenger.
مَا tidak

Not
عَلَى atas

(is) on
ٱلْمُحْسِنِينَ orang-orang yang berbuat kebaikan

the good-doers
مِن dari

any
سَبِيلٍ jalan

way (for blame).
وَٱللَّهُ dan Allah

And Allah
غَفُورٌ Maha Pengampun

(is) Oft-Forgiving,
رَّحِيمٌ Maha Penyayang

Most Merciful.

Tafsir

Alquran

Surah At Taubah
9:91

Tafsir QS. At Taubah (9) : 91. Oleh Kementrian Agama RI


Sabab Nuzul:
Ada beberapa riwayat yang menerangkan sebab turunnya ayat ini.
Di antaranya riwayat yang diterangkan oleh Ibnu Abi hatim dari Zaid bin sabit dia mengatakan,
"Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah.

Ketika aku menulis surah Baraah, kemudian pena kuletakkan di atas telingaku, maka turunlah wahyu yang memerintah-kan kami berperang.
Ketika Rasulullah memperhatikan wahyu yang diturun-kan kepadanya, tiba-tiba datang seorang buta, seraya berkata,
"Ya Rasulullah, bagaimana caranya agar saya ikut berperang, sedang saya orang buta,"
maka turunlah ayat ini.
"



Dalam ayat ini diterangkan, orang-orang yang dibolehkan tidak ikut berperang yakni bebas dari kewajiban ikut berperang.
Mereka ini tidak termasuk orang yang bersalah dan tidak berdosa karena meninggalkan kewajiban berperang bilamana mereka benar-benar mempunyai alasan yang dapat dibenarkan, dan alasan itu dikemukakannya dengan jujur dan ikhlas, yaitu:


1. Orang lemah, yaitu orang yang lemah fisiknya yang tidak memungkinkan dia ikut berperang, seperti orang lanjut usia, perempuan dan anak-anak, begitu juga orang cacat, seperti buta, pekak, lumpuh, patah, dan sebagainya.


2. Orang sakit yang tidak mungkin ikut berperang.
Tetapi kalau sudah sembuh mereka wajib ikut berperang.


3. Orang miskin yang tidak mempunyai sarana dan bekal untuk perang.

Ketiga golongan ini bebas dari kewajiban berperang.
Namun demikian karena kejujuran dan keikhlasannya kepada Allah dan Rasul, dia masih merasa berkewajiban untuk mengerjakan tugas-tugas yang lain seperti menjaga rumah dan kampung, mengawasi kalau ada mata-mata dan pengkhianat, memelihara rahasia, menyuruh orang agar tetap tenang, berbuat kebajikan dan berdoa, agar orang mukmin yang pergi berperang dilindungi oleh Allah dan mendapat kemenangan yang gilang-gemilang.


Ketiga macam orang-orang yang mempunyai alasan yang dibenarkan syara ini, betul-betul mereka ikhlas, beriman kepada Allah dan taat kepada Rasul, mereka tergolong orang-orang yang berbuat kebajikan.
Mereka ini tidak termasuk orang-orang yang bersalah, berdosa dan disiksa.
Pada akhir ayat ini dijelaskan, bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Artinya Allah banyak ampunan-Nya dan luas rahmat-Nya, terhadap hamba-hamba-Nya yang lemah dalam menunaikan kewajibannya, selama mereka jujur dan ikhlas kepada Allah dan kepada Rasul-Nya.

Tafsir QS. At Taubah (9) : 91. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Sesungguhnya orang-orang yang alasannya diterima untuk tidak ikut berperang adalah mereka yang lemah, sakit, miskin dan orang yang tidak mempunyai harta untuk dibelanjakan.
Jika mereka bersikap tulus ikhlas kepada Allah dan rasul-Nya dalam beragama, mereka berarti termasuk orang yang berbuat baik.


Dan orang yang berbuat baik seperti mereka itu tidak berdosa.
Ampunan dan kasih sayang Allah sungguh amat banyak dan luas.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Orang-orang yang uzur karena lemah, sakit dan orang-orang fakir yang tidak memiliki harta sama sekali untuk persiapan mereka berperang, mereka tidak berdosa jika mereka tidak ikut berperang selama mereka ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan syariat-Nya.
Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan dan menghukum orang yang tidak bisa ikut berjihad bersama Rasulullah karena uzur padahal dia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.


Dan Allah Maha Pengampun dan Penyayang bagi orang-orang yang berbuat baik.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Tiada dosa atas orang-orang yang lemah) yakni orang-orang jompo


(atas orang-orang yang sakit) seperti orang buta dan orang yang sakit parah yang tak sembuh-sembuh


(dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan) untuk berjihad


(apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya) sewaktu ia tidak pergi berjihad, yaitu tidak menimbulkan kekacauan dan rasa takut kepada orang-orang lain dan tetap menaati peraturan.


(Tidak atas orang-orang yang berbuat baik) yakni orang-orang yang melaksanakan hal tersebut


(jalan) alasan untuk menyalahkan mereka.


(Dan Allah Maha Pengampun) kepada mereka


(lagi Maha Penyayang) kepada mereka di dalam memberikan kelonggaran mengenai masalah tidak pergi berjihad ini.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala, menjelaskan uzur-uzur yang tiada dosa bagi pela­kunya bila tidak ikut perang.
Maka Allah menyebutkan sebagian darinya yang bersifat lazim bagi diri seseorang yang tidak dapat terlepas darinya, yaitu lemah keadaan tubuhnya sehingga tidak mampu bertahan dalam berjihad.
Uzur atau alasan lainnya yang bersifat permanen ialah tuna netra, pincang, dan lain sebagainya.
Karena itulah dalam ayat di atas golongan ini disebutkan di muka.

Alasan lainnya ialah yang bersifat insidental, seperti sakit yang menghambat penderitanya untuk dapat berangkat berjihad di jalan Allah, atau karena fakirnya hingga ia tidak mampu mempersiapkan diri untuk berjihad.

Maka terhadap mereka itu tidak ada dosa jika mereka berlaku ikhlas dalam ketidakberangkatannya untuk berjihad, tidak menggentarkan orang lain, tidak pula menghambat mereka, sedangkan mereka tetap berbuat baik dalam keadaannya itu.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman:

Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.
Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Abdul Aziz ibnu Rafi’, dari Abu Sumamah r.a. yang mengatakan bahwa orang-orang Hawariyyun (pengikut Nabi Isa) bertanya,
"Wahai Ruhullah (Nabi Isa), ceritakanlah kepada kami tentang orang yang berbuat ikhlas kepada Allah."
Nabi Isa menjawab,
"Orang yang lebih mementingkan hak Allah daripada hak manusia.
Dan apabila ia menghadapi dua perkara, yaitu perkara dunia dan perkara akhirat, maka ia memulainya dengan perkara akhirat, sesudah itu baru perkara dunianya."

Al-Auza’i mengatakan bahwa orang-orang keluar untuk melakukan salat istisqa, lalu Bilal ibnu Sa’d berdiri di antara mereka (untuk berkhot­bah).
Maka ia memulainya dengan mengucapkan puja dan puji kepada Allah subhanahu wa ta’ala., sesudah itu ia berkata,
"Hai orang-orang yang hadir, bukan­kah kalian mengakui berbuat dosa?"
Mereka menjawab,
"Ya, benar."
Bilal ibnu Sa’d berkata dalam doanya:

Ya Allah, sesungguhnya kami mendengar firman-Mu yang mengatakan,
"Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik."
Ya Allah, kami telah mengakui berbuat dosa, maka berikanlah ampunan bagi kami, rahmatilah kami, dan berilah kami siraman hujan.

Bilal mengangkat kedua tangannya, dan orang-orang pun mengangkat tangan mereka.
Maka hujan pun turun kepada mereka.

Qatadah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Aiz ibnu Amr Al-Muzani.
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Hatim, telah menceritakan kepada kami ay&hku, telah menceritakan ke­pada kami Hisyam ibnu Ubaidillah Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Jabir, dari Ibnu Farwah, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari Zaid ibnu Sabit yang mengatakan bahwa dia adalah juru tulis Rasulullah ﷺ, dan pada suatu hari ini ia sedang menulis surat Al-Bara’ah (QS. At-Taubah [9]).
Ketika Allah memerintahkan kepada kami (para sahabat) untuk berperang, saat itu aku (Zaid ibnu Sabit) sedang meletakkan pena di telinganya, sedangkan Rasulullah ﷺ menunggu firman selanjutnya yang akan diturunkan kepadanya.
Tetapi tiba-tiba datanglah seorang tuna netra dan berkata,
"Bagaimanakah dengan aku, wahai Rasulullah, sedangkan aku adalah orang yang tuna netra?"
Maka turunlah firman-Nya:

Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah., hingga akhir ayat.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan ayat ini, bahwa demikian itu terjadi ketika Rasulullah ﷺmemerintahkan kepada orang-orang untuk berangkat berperang bersama­nya.
Lalu datanglah segolongan orang dari kalangan sahabat, antara lain Abdullah ibnu Mugaffal ibnu Muqarrin Al-Muzani.
Mereka berkata, ”Wahai Rasulullah, bawalah kami serta."
Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka,
"Demi Allah, aku tidak menemukan kendaraan untuk membawa kalian."
Maka mereka pulang seraya menangis.
Mereka menyesal karena duduk tidak dapat ikut berjihad karena mereka tidak mempunyai biaya, tidak pula kendaraan untuk itu.
Ketika Allah melihat kesungguhan mereka dalam cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Allah menurunkan ayat yang menerima uzur (alasan mereka), yaitu firman-Nya:

Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah.
(QS. At-Taubah [9]: 91)
Sampai dengan firman-Nya:
maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).
(QS. At-Taubah [9]: 93)

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah At Taubah (9) Ayat 91

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Zaid bin Tsabit bahwa ketika Zaid bin Tsabit, penulis Rasulullah ﷺ sedang menulis surah At-Taubah sampai perintah jihad, ia meletakkan pena di telinganya.
Rasulullah ﷺ menunggu kelanjutan wahyu tersebut.
Tiba-tiba datanglah seorang buta seraya bertanya: “Bagaiman saya yang buta, ya Rasulullah?” Maka turunlah ayat ini (At-Taubah: 91) yang memberikan kelonggaran untuk tidak ikut berperang bagi orang yang lemah, sakit, cacat, ataupun miskin, asal mereka ikhlash kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah At Taubah (9) Ayat 91

HARAJ
حَرَج

Raghib Al Isfahani menyatakan makna asal dari lafaz haraj ialah tempat berkumpul dan rapatnya sesuatu seperti tanah yang banyak dengan pepohonan sehingga antara satu pohon dengan pohon lainnya rapat hampir tidak bercelah, terasa sempit dan sukar dilewati.
Oleh karena itu, lafaz ini juga diberi arti sempit dan sukar.
Juga diberi arti dosa dan haram karena perbuatan dosa mengakibatkan hati menjadi sempit.

Imam Mujahid dan Qatadah menyatakan, haraj juga diartikan ragu karena orang yang ragu hatinya juga terasa sempit.

Di dalam Al Qur’an, lafaz ini diulang sebanyak 15 kali yaitu dalam surah:
An Nisaa (4), ayat 65;
-Al Maa’idah (5), ayat 6;
-Al An’aam (6), ayat 125;
-Al A’raaf (7), ayat 2;
At Taubah (9), ayat 91;
Al Hajj (22), ayat 78;
An Nuur (24), ayat 61 (tiga kali);
Al Ahzab (33), ayat 37, 38, 50;
Al-Fath (48), ayat 17 (tiga kali).

Ketiga arti lafaz haraj yaitu sempit, dosa dan ragu digunakan di dalam Al Qur’an.

Lafaz haraj yang mempunyai arti sempit atau sukar berada dalam empat ayat yaitu dalam surah:
-Al An’aam (6), ayat 125;
Al Hajj (22), ayat 78;
-Al Maa’idah (5), ayat 6;
Al Ahzab (33), ayat 37.
Dalam surah Al An’aam (6), ayat 125 digambarkan dada orang kafir teramat sempit.
Allah menerangkan barang siapa yang Dia kehendaki untuk memberi hidayah dan petunjuk kepadanya, pasti Allah lapangkan dadanya menerima Islam; dan barang siapa yang Allah kehendaki di sesatkannya, pasti Dia menjadikan dadanya sesak sempit, seolah-olah dia sedang naik ke langit dengan susah payah.

Sedangkan dalam tiga ayat lagi, Allah menafikan kesukaran dan kesempitan dalam ajaran dan aturan yang Dia tetapkan bagi manusia.
Dengan kata lain, ajaran-ajaran agama Islam contohnya wudu‘ dan pernikahan penuh dengan kemudahan dan kelonggaran.

Dalam surah Al Hajj (22), ayat 78, Allah menerangkan Dia tidak membuat kesempitan atau kesukaran apapun dalam ajaran agama Islam.

Dalam surah Al Maa’idah (5), ayat 6, Allah menegaskan maksud perintah bersuci dengan air (wuduk) atau tanah debu (tayammum) bukanlah menyukarkan umat Islam dalam urusan agama, tetapi Allah hendak menyucikan mereka dari dosa-dosa.

Dalam surah Al Ahzab (33), ayat 37, Allah menegaskan alasan dibolehkan menikahi wanita bekas isteri anak angkat sendiri ada ah kemudahan, bukannya menyempitkan atau menyukarkan.
Agama Islam adalah agama yang penuh dengan rahmat dan mudah.
Dalam beberapa ayat, Allah memerintahkan nabi dan umat Islam selalu yakin dan tidak ragu dengan ajaran agama Islam.
Dalam konteks ini, lafaz haraj digunakan.

Lafaz haraj yang mempunyai arti ragu berada dalam dua tempat yaitu dalam surah:

-Al A’raaf (7), ayat 2 di mana Allah memerintah kan Nabi Muhammad supaya jangan ragu-ragu.
Apa yang diterimanya adalah wahyu dari Allah dan jangan merasa berat hati menyampaikannya kepada manusia.

An Nisaa (4), ayat 65. Allah menegaskan seseorang belum dianggap beriman dengan sebenar-benarnya sehingga dia memenuhi tiga syarat yaitu:

(1) Menjadikan rasul sebagai hakim bagi perkara-perkara yang diperselisihkan dengan cara menjadikan Al Qur’an dan sunnah sebagai rujukan dan sandaran,

(2) Hati orang beriman tidak merasa sempit dan ragu (haraj) sewaktu menerima keputusan rasul sehingga sikap menerima keputusan rasul itu bukan hanya sekedar sikap pura-pura,

(3) Dia benar-benar menerima keputusan Rasulullah dengan penuh pasrah, hati terbuka dan lapang dada sehingga jiwanya benar-benar tenang ketika menerima keputusan itu, baik dari segi zahir ataupun batin.

Abdur Rahman bin Nasir As Sa’di menegaskan, syarat pertama adalah tolok ukur tingkat keislaman seseorang.
Syarat kedua adalah tanda iman seseorang.
Sementara syarat ke tiga adalah tanda peringkat ihsan seseorang.
Barang siapa yang mempunyai tiga tingkatan ini secara sempurna, sempurnalah agamanya.

Sedangkan lafaz haraj yang berarti dosa dan haram berada dalam empat ayat yaitu dalam surah:
At Taubah (9), ayat 91;
-Anl Nuur (24), ayat 61 (tiga kali);
Al Ahzab (33), ayat 38, 50;
Al Fath (48), ayat 17 (tiga kali).

Dalam kesemua ayat ini, lafaz haraj dinafikan sehingga artinya adalah "tidak berdosa" Ungkapan ini digunakan untuk menghilangkan kesempitan atau kesusahan hati yang dirasakan orang beriman termasuk nabi, karena dalam menjalankan perintah Allah, mereka merasa kuatir tidak dapat memenuhi perintah Allah dengan sempurna dan takut melakukan dosa.

Dalam surah At Taubah (9), ayat 91, surah Al Fath (48), ayat 17 dan surah An Nuur (24), ayat 61 (tiga kali) disebutkan beberapa kelompok orang yang dianggap uzur sehingga apabila tidak ikut berperang (jihad), mereka tidak berdosa, tidak perlu bersedih dan berkecil hati.
Mereka adalah orang yang lemah badannya, orang yang sakit, orang yang tidak mempunyai harta untuk biaya perang, orang yang buta dan orang yang pincang.

Sedangkan dalam surah Al Ahzab (33), ayat 38 diterangkan, setelah Rasulullah menikah dengan Zainab binti Jahsyi, ramai orang yang mencela dan merendahkan beliau.
Hal ini karena Zainab binti Jahsyi adalah bekas isteri Zaid bin Haritsah yaitu anak angkat Rasulullah.
Namun, Allah menegaskan, menikahi bekas isteri anak angkat adalah boleh sehingga Rasulullah tidak berdosa dan tidak perlu berkecil hati melakukan ketetapan Allah ini.

Dalam surah Al Ahzab (33), ayat 50, Allah menerangkan dengan jelas wanita-wanita yang boleh dinikahi dan syaratsyarat yang mesti dipenuhi untuk menikahi mereka.
Selain itu, diterangkan juga hukum pernikahan khusus bagi Nabi Muhammad yaitu beliau boleh menikahi wanita beriman yang menghibahkan dirinya untuk dinikahi (wanita muuhibah dengan tanpa mahar), apabila memang beliau berkenan.
Aturan ini adalah khusus bagi nabi, bukan bagi umat Islam yang lain.
Allah menerangkan perkara ini secara terperinci supaya nabi tidak merasa berdosa dan merasa berat ketika melakukan perkara itu, karena memang dibolehkan Allah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 183-185

Unsur Pokok Surah At Taubah (التوبة‎‎)

Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan.

Dinamakan juga dengan "Baraah" yang berarti berlepas diri, yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh ‘Ali radhiyallahu ‘anhu pada musim musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

▪ Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman.
▪ Pembalasan atas amal amalan manusia hanya dari Allah.
▪ Segala sesuatu menurut sunnatullah.
▪ Perlindungan Allah bagi orang-orang yang beriman.
▪ Kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

▪ Kewajiban menafkahkan harta.
▪ Macam-macam harta dalam agama serta penggunaannya.
Jizyah.
▪ Perjanjian dan perdamaian.
▪ Kewajiban umat Islam terhadap Nabinya.
▪ Sebab-sebab orang Islam melakukan perang total.
▪ Beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad ﷺ dengan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
Perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
Perang Tabuk.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.

Audio

QS. At-Taubah (9) : 1-129 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 129 + Terjemahan Indonesia

QS. At-Taubah (9) : 1-129 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 129

Gambar Kutipan Ayat

Surah At Taubah ayat 91 - Gambar 1 Surah At Taubah ayat 91 - Gambar 2
Statistik QS. 9:91
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah At Taubah.

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, “Pengampunan”‎) adalah surah ke-9 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti “Pengampunan” karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara’ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah9
Nama SurahAt Taubah
Arabالتوبة‎‎
ArtiPengampunan
Nama lainAl-Bara’ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu113
JuzJuz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat129
Jumlah kata2506
Jumlah huruf11116
Surah sebelumnyaSurah Al-Anfal
Surah selanjutnyaSurah Yunus
Sending
User Review
4.7 (27 votes)
Tags:

9:91, 9 91, 9-91, Surah At Taubah 91, Tafsir surat AtTaubah 91, Quran At-Taubah 91, Surah At Taubah ayat 91

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 38 [QS. 6:38]

Allah Mahakuasa untuk sekadar mengabulkan permintaan orangorang musyrik seperti dalam ayat sebelumnya. Dan di antara contoh kekuasaan Allah adalah tidak ada seekor binatang yang merayap atau bergerak … 6:38, 6 38, 6-38, Surah Al An ‘aam 38, Tafsir surat AlAnaam 38, Quran Al Anaam 38, Al Anam 38, AlAnam 38, Al An’am 38, Surah Al Anam ayat 38

QS. Al Hajj (Haji) – surah 22 ayat 77 [QS. 22:77]

77. Orang beriman diperintahkan untuk beribadah kepada Allah Yang Maha Mengetahui keadaan manusia. Wahai orang-orang yang beriman, karena kamu sudah membenarkan dan meyakini bahwa sesungguhnya tidak a … 22:77, 22 77, 22-77, Surah Al Hajj 77, Tafsir surat AlHajj 77, Quran Al-Haj 77, Alhaj 77, Al Haj 77, Al-Hajj 77, Surah Al Hajj ayat 77

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Dari proses dakwah secara diam-diam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah, maka terdapat beberapa sahabat yang masuk Islam pertama kali. Mereka dikenal dengan sebutan ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Assabiqunal awwalun adalah sebutan untuk sahabat-sahabat nabi Muhammad yang pertama kali memeluk islam.

Contohnya: Abu Bakar Ash Shiddiq, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Khadijah ra. Assabiqunal awwalun artinya adalah orang-orang yang awal masuk atau memeluk agama islam.

Dalam QS. Al-Muddassir ayat 1-7 adalah menjadi dasar bagi Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melakukan dakwah di Mekkah secara ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
QS. Al Mudatsir adalah surah ke 74 dalam Alquran yang tergolong ke dalam surah Makkiyyah.

Pembahasan:

Ayat 1

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ

yaa ayyuhaal muddatstsir

Hai orang yang berkemul (berselimut)


Ayat 2

قُمْ فَأَنْذِرْ

Qum faandzir

bangunlah, lalu berilah peringatan


Ayat 3

وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ

warabbaka fakabbir

dan Tuhanmu agungkanlah


Ayat 4

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

wa shiyabaqa fathahhir

dan pakaianmu bersihkanlah


Ayat 5

وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

warrujja fahjur

dan perbuatan dosa tinggalkanlah


Ayat 6

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

wa laa tamnun tastakstir

dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.


Ayat 7

وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

walirabbaka fashbir

Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

Cara yang pertama kali ditempuh oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah secara terang- terangan adalah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Masyarakat Arab sebelum Islam memiliki kebiasaan buruk, juga memiliki kebiasaan baik. Di bawah ini yang tidak termasuk kebiasaan baik masyarakat Arab sebelum Islam adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Berikut ini yang bukan merupakan substansi dakwah Rasulullah di Mekkah adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #11
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #11 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #11 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #10

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di … Madinah Padang Arafat Gua Hira Ka’bah Masjid Al Haram Benar!

Pendidikan Agama Islam #15

Salah satu tokoh dalam kisah umat masa lalu yang dapat dipetik pelajaran sebagai teladan yang baik … Kisah Abu Lahab

Pendidikan Agama Islam #1

Arti fana adalah … selamanya fanatik selalu tidak ada akhir sementara Benar! Kurang tepat! Tuhan memiliki sifat Al Karim, yang

Instagram