Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

At Taubah

At Taubah (Pengampunan) surah 9 ayat 84


وَ لَا تُصَلِّ عَلٰۤی اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ مَّاتَ اَبَدًا وَّ لَا تَقُمۡ عَلٰی قَبۡرِہٖ ؕ اِنَّہُمۡ کَفَرُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ وَ مَا تُوۡا وَ ہُمۡ فٰسِقُوۡنَ
Walaa tushalli ‘ala ahadin minhum maata abadan walaa taqum ‘ala qabrihi innahum kafaruu billahi warasuulihi wamaatuu wahum faasiquun(a);

Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya.
Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.
―QS. 9:84
Topik ▪ Keluh-kesah manusia
9:84, 9 84, 9-84, At Taubah 84, AtTaubah 84, At-Taubah 84
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Taubah (9) : 84. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala melarang menyalati jenazah orang-orang munafik.
Juga melarang berdoa di atas kuburannya sesudah dikuburkan, seperti yang biasa dilakukan Rasulullah terhadap orang-orang mukmin yang sudah dikubur sebagaimana tersebut dalam hadis berikut:

Adalah Nabi apabila sesudah menguburkan seorang mayat, beliau berdiri di kubur itu seraya berkata, "Mintakanlah ampunan bagi saudaramu ini doakanlah agar dia tetap (dalam keimanan) sebab sekarang dia sedang ditanya." (Riwayat Abu Dawud dan al-Bazzar dari 'Utsman)

Peristiwa yang terjadi pada 'Abdullah bin Ubay ini cukup menggentarkan orang-orang munafik lainnya, suatu penghinaan yang cukup berat dijatuhkan atas diri mereka.
Tetapi mereka masih tetap dalam kemunafikannya.
Ini merupakan hukuman bagi mereka di dunia, sebab mereka selalu ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya.
Mereka tergolong orang-orang yang fasik, terlampau berani mempermainkan perintah dan larangan Allah.

At Taubah (9) ayat 84 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy At Taubah (9) ayat 84 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi At Taubah (9) ayat 84 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Jika salah seorang dari mereka meninggal dunia, jangan salatkan jenazahnya dan jangan berdiri di kuburnya saat penguburannya, sebab mereka sepanjang hidupnya mengingkari Allah dan Rasul-Nya dan mati dalam keadaan tidak mematuhi agama Allah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Ketika Nabi ﷺ melakukan salat jenazah atas kematian Ibnu Ubay (pemimpin orang-orang munafik), maka turunlah firman-Nya:
(Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan jenazah seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya) untuk keperluan menguburkannya atau menziarahinya.
(Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik) yaitu dalam keadaan kafir.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Janganlah pernah engkau (wahai Rasul) menyalatkan jenazah seorang pun yang mati dari orang-orang munafik selamanya.
Dan jangan pernah engkau berdiri di kuburannya untuk mendoakannya.
Karena mereka adalah orang-orang yang kufur terhadap Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.
Hukum ini umum berlaku bagi siapa saja yang diketahui kemunafikannya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
memerintahkan kepada Rasul-Nya agar berlepas diri dari orang-orang munafik, jangan menyalatkan jenazah seorang pun dari mereka yang mati, dan janganlah berdiri di kuburnya untuk memohonkan ampun baginya atau berdoa untuknya, karena sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam kekafirannya.

Hal ini merupakan hukum yang bersifat umum berlaku terhadap setiap orang yang telah dikenal kemunafikannya, sekalipun penyebab turunnya ayat ini berkenaan dengan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, pemimpin orang-orang munafik.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnu Isma'il, dari Abu Usamah, dari Ubaidillah, dari Nafi', dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa ketika Abdulah ibnu Ubay mati, maka anaknya yang juga bernama Abdullah datang menghadap Rasulullah ﷺ dan meminta baju gamis Rasul ﷺ untuk dipakai sebagai kain kafan ayahnya.
Maka Rasulullah ﷺ memberikan baju gamisnya kepada Abdullah.
Kemudian Abdullah meminta kepada Rasul ﷺ untuk menyalatkan jenazah ayahnya.
Maka Rasulullah ﷺ bangkit untuk menyalatkannya.
Tetapi Umar bangkit pula dan menarik baju Rasulullah ﷺ seraya berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau akan menyalatkan jenazahnya, padahal Tuhanmu telah melarangmu menya­latkannya?"
Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah hanya memberiku pilihan.
Dia telah berfirman “Kamu mohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja).
Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka.” Dan aku akan melakukannya lebih dari tujuh puluh kali.
Umar berkata, "Dia orang munafik." Tetapi Rasulullah ﷺ tetap menyalatkannya.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan ayat ini, yaitu firman-Nya:

Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang pun yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya.

Kemudian Imam Bukhari meriwayatkannya dari Ibrahim ibnul Munzir, dari Anas ibnu Iyad, dari Ubaidillah (yakni Ibnu Umar Al-Umari) dengan sanad yang sama.
Antara lain disebutkan bahwa Nabi ﷺ tetap menyalatkannya, maka kami (para sahabat) ikut salat bersamanya, lalu Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya:

Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang pun yang mati di antara mereka., hingga akhir ayat.

Imam Ahmad telah meriwayatkan hal yang semisal dengan hadis ini melalui hadis Umar ibnul Khattab juga.
Untuk itu, Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ya'qub, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Az-Zuhri, dari Ubaidillah ibnu Abdullah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Umar ibnul Khattab r.a.
mengatakan, "Ketika Abdullah ibnu Ubay mati, Rasulullah ﷺ diun­dang untuk ikut menyalatkan jenazahnya.
Maka Rasulullah ﷺ bangkit untuk menyalatkannya.
Ketika beliau berdiri di hadapan jenazah itu dengan maksud akan menyalatkannya, maka aku (Umar) berpindah tempat hingga aku berdiri di depan dadanya, lalu aku berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah engkau akan menyalatkan musuh Allah —si Abdullah ibnu Ubay— ini yang telah melakukan hasutan pada hari anu dan hari anu?' seraya menyebutkan bilangan hari-hari yang telah dilakukannya.
Rasulullah ﷺ hanya tersenyum, hingga ketika aku mendesaknya terus, maka Rasulullah ﷺ bersabda, 'Minggirlah dariku, hai Umar.
Sesungguhnya aku disuruh memilih, maka aku memilih.
Allah telah berfirman kepadaku: Kamu mohonkan ampun bagi mereka.
(At Taubah:80), hingga akhir ayat.
Seandainya aku mengetahui bahwa jika aku melakukannya lebih dari tujuh puluh kali, lalu mendapat ampunan, niscaya aku akan menambah­kannya.' Kemudian Rasulullah ﷺ menyalatkannya, berjalan mengiringi jenazahnya, dan berdiri di kuburnya hingga selesai dari pengebumiannya.
Umar berkata, 'Saya sendiri merasa aneh mengapa kali ini saya berani berbuat demikian kepada Rasulullah ﷺ Hanya Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.
Tetapi tidak lama kemudian turunlah ayat berikut,' yaitu firman-Nya: Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang-pun yang mati di antara mereka.
(At Taubah:84), hingga akhir ayat.
Sesudah itu Rasulullah ﷺ tidak pernah lagi menyalatkan jenazah orang munafik, tidak pula berdiri di kuburnya hingga beliau wafat."

Imam Bukhari meriwayatkannya dari Yahya ibnu Bukair, dari Al-Lais, dari Aqil, dari Az-Zuhri dengan sanad yang sama, lalu disebutkan hal yang semisal.
Antara lain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Minggirlah dariku, hai Umar." Ketika Umar mendesaknya terus, maka Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya aku disuruh memilih, maka aku memilih.
Dan seandainya aku mengetahui bahwa bila aku memohonkan ampun baginya lebih dari tujuh puluh kali diampuni baginya, niscaya aku akan menambahkannya.
Lalu Rasulullah ﷺ menyalatkannya.
Setelah itu beliau pergi, dan tidak lama kemudian turunlah dua ayat dari surat Al-Bara’ah (At-Taubah) yang dimulai dari firman-Nya: Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang pun yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya.
(At Taubah:84), hingga akhir ayat berikutnya.
Umar berkata, "Sesudah itu saya merasa heran mengapa saya begitu berani terhadap Rasulullah ﷺ, padahal Rasulullah ﷺ jelas lebih mengetahui."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik, dari Ibnuz Zubair, dari Jabir yang menceritakan bahwa ketika Abdullah ibnu Ubay meninggal dunia, maka anaknya datang menghadap kepada Nabi ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau jika tidak mendatanginya, maka kami tetap akan merasa kecewa karenanya." Maka Nabi ﷺ datang dan menjumpai jenazahnya telah dimasukkan ke dalam liang kuburnya.
Rasul ﷺ bersabda, "Mengapa kalian tidak mengundangku sebelum kalian memasukkannya ke dalam liang kubur?"
Lalu jenazahnya dikeluarkan dari liang kubur, dan Rasul ﷺ meludahinya dari bagian atas hingga telapak kakinya, lalu memakaikan baju gamis yang dipakainya kepada jenazah itu.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Usman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyaynah, dari Amr yang telah mendengar Jabir ibnu Abdullah menceritakanJiadis berikut, bahwa Nabi ﷺ datang kepada jenazah Abdullah ibnu Ubay sesudah dimasukkan ke dalam kuburnya.
Beliau memerintahkan agar dikeluarkan, maka jenazah itu dikeluarkan.
Kemudian Rasulullah ﷺ meletakkannya di atas kedua lututnya dan meludahinya serta memakai­kan baju gamisnya kepada jenazah itu.

Imam Abu Bakar Ahmad ibnu Amr ibnu Abdul Khaliq Al-Bazzar dalam kitab Musnad-nya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Mujalid, telah menceritakan kepada kami Amir.
telah menceritakan kepada kami Jabir.
Dan telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Migra Ad-Dausi, telah menceritakan kepada kami Mujalid, dari Asy-Sya'bi, dari Jabir yang mengatakan bahwa ketika pemimpin orang-orang munafik mati —menurut Yahya ibnu Sa'id disebutkan— di Madinah, sebelumnya ia berwasiat minta disalatkan oleh Nabi ﷺ Maka anaknya datang menghadap Nabi ﷺ dan berkata, "Sesungguhnya ayahku telah berwasiat bahwa ia minta agar dikafani dengan baju gamismu." Teks ini ada pada hadis yang diriwayatkan oleh Abdur Rahman ibnu Migra.
Yahya dalam hadisnya mengatakan.”Lalu Nabi ﷺ menyalatkannya dan memakaikan baju gamisnya kepada jenazah itu." Lalu Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya: Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang pun yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya.
(At Taubah:84)

Dalam riwayatnya Abdur Rahman menambahkan bahwa Nabi ﷺ menanggalkan baju gamisnya, kemudian memberikannya kepada anak pemimpin munafik itu, lalu beliau berangkat dan menyalatkannya serta berdiri di kuburnya.
Setelah beliau pergi dari tempat itu, datanglah Malaikat Jibril menyampaikan firman-Nya: Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang pun yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya.
(At Taubah:84)

Sanad hadis ini tidak ada masalah, hadis yang sebelumnya menjadi syahid yang menguatkannya.

Qatadah mengatakan bahwa Abdullah ibnu Ubay ketika sedang sakit keras mengirimkan utusannya kepada Rasulullah ﷺ untuk mengun­dangnya.
Ketika Nabi ﷺ masuk menemuinya, maka Nabi Saw bersabda, "Cintamu kepada agama Yahudi membinasakan dirimu." Abdullah ibnu Ubay berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mengundangmu untuk memohonkan ampun bagiku, dan aku tidak mengundangmu untuk menegurku." Kemudian Abdullah meminta kepada Nabi ﷺ agar baju gamis Nabi ﷺ diberikan kepadanya untuk ia pakai sebagai kain kafan.
Lalu Nabi ﷺ memberikannya.
Setelah Abdullah ibnu Ubay mati, Nabi ﷺ menyalatkannya dan berdiri di kuburnya (mendoakannya).
Maka Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya:

Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang pun yang mati di antara mereka., hingga akhir ayat.

Sebagian ulama Salaf menyebutkan, "Sesungguhnya Nabi ﷺ mau memberikan baju gamisnya kepada Abdullah ibnu Ubay karena Abdullah ibnu Ubay pernah memberikan baju gamisnya kepada Al-Abbas —paman Nabi ﷺ— di saat datang ke Madinah.
Saat itu Nabi ﷺ mencari baju gamis yang sesuai dengan ukuran tubuh paman­nya, tetapi tidak menemukannya kecuali pakaian Abdullah ibnu Ubay, karena Abdullah ibnu Ubay sama tinggi dan besarnya dengan Al-Abbas.
Maka Rasulullah ﷺ melakukan hal itu sebagai balas jasa kepadanya.
Sesudah itu —yakni sesudah turunnya ayat ini— Rasulullah ﷺ tidak lagi menyalatkan jenazah seorang pun dari orang-orang munafik yang mati, tidak pula berdiri di kuburnya."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya'qub, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari ayahnya, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Abu Qatadah, dari ayahnya yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ apabila diundang untuk menghadiri jenazah, terlebih dahulu menanyakan tentangnya.
Jika orang-orang menyebutnya dengan sebutan memuji karena baik, maka beliau bangkit dan mau menyalatkannya.
Tetapi jika keadaan jenazah itu adalah sebaliknya, maka beliau ﷺ hanya bersabda, "Itu terserah kalian," dan beliau tidak mau menyalatkannya.

Disebutkan bahwa Khalifah Umar ibnul Khattab tidak mau menyalatkan jenazah orang yang tidak dikenalnya, kecuali bila Huzaifah ibnul Yaman mau menyalatkannya, maka barulah ia mau menyalatkannya, karena Huzaifah ibnul Yaman mengetahui satu per satu dari orang-orang munafik itu, Nabi ﷺ telah menceritakan hal itu kepadanya.
Oleh sebab itu, Huzaifah ibnul Yaman diberi julukan sebagai pemegang rahasia yang tidak diketahui oleh sahabat lainnya.

Abu Ubaid di dalam Kitabul Garib mengatakan sehubungan dengan hadis Umar, bahwa ia pernah hendak menyalatkan jenazah seorang lelaki, tetapi Huzaifah menjentiknya seakan-akan bermaksud mencegahnya supaya jangan menyalatkan jenazah orang itu.
Kemudian diriwayatkan dari sebagian ulama bahwa istilah al-mirz yang disebutkan dalam hadis ini ialah menjentik dengan ujung jari.

Setelah Allah subhanahu wa ta'ala.
melarang menyalatkan jenazah orang-orang munafik dan berdiri di kubur mereka untuk memohonkan ampun bagi mereka, maka perbuatan seperti itu terhadap orang-orang mukmin merupakan amal taqarrub yang paling besar, yakni melakukan kebalikannya, dan pelakunya akan mendapat pahala yang berlimpah, seperti yang disebutkan di dalam kitab-kitab Sahih dan kitab-kitab hadis yang lainnya melalui hadis Abu Hurairah r.a.
yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Barang siapa yang menyaksikan jenazah hingga menyalatkannya, maka baginya pahala satu qirat, dan barang siapa yang menyaksikannya hingga mengebumikannya, maka baginya pahala dua qirat.
Ketika ditanyakan, "Apakah dua qirat itu?"
Maka Nabi ﷺ bersabda, "Yang paling kecil di antara keduanya besarnya sama dengan Bukit Uhud."

Adapun mengenai berdiri di kubur orang mukmin yang meninggal dunia.
maka Imam Abu Daud menyebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Ibrahim Ibnu Musa Ar-Razi telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Abdullah ibnu Buhair, dari Hani' (yaitu Abu Sa'id Al-Bariri maula Usman ibnu Affan) dari Usman ibnu Affan yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ apabila telah selesai dari menge­bumikan jenazah, maka beliau berdiri di kuburannya dan bersabda:

Mohonkanlah ampun bagi saudara kalian, dan mintakanlah keteguhan buatnya, karena sesungguhnya sekarang ia akan ditanyai.

Hadis diriwayatkan secara munfarid oleh Imam Abu Daud.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah At Taubah (9) ayat 84
Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata,
telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Ubaidullah berkata,
telah menceritakan kepada saya Nafi' dari Ibnu Umar ra. bahwa ketika Abdullah bin Ubay wafat, anaknya datang menemui Nabi ﷺ lalu berkata:
Wahai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Berikanlah kepadaku baju anda untuk aku gunakan mengafani (ayahku) dan shalatlah untuknya serta mohonkanlah ampunan baginya. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan bajunya kepadanya lalu berkata:
Izinkanlah aku untuk menshalatkannya. Ketika Beliau hendak menshalatkannya tiba-tiba Umar bin Al Khaththab ra. datang menarik Beliau seraya berkata:
Bukankah Allah telah melarang anda untuk menshalatkan orang munafiq? Maka Beliau bersabda:
Aku berada pada dua pilihan dari firman Allah Ta'ala (QS. At-Taubah ayat 80, yang artinya): Kamu mohonkan ampun buat mereka atau kamu tidak mohonkan ampun buat mereka (sama saja bagi mereka). Sekalipun kamu memohonkan ampun buat mereka sebanyak tujuh puluh kali, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka. Maka Beliau ﷺ menshalatkannya. Lalu turunlah ayat: QS. At Taubah ayat 84 (yang artinya): Janganlah kamu shalatkan seorangpun yang mati dari mereka selamanya dan janganlah kamu berdiri di atas kuburannya.

Shahih Bukhari, Kitab Jenazah - Nomor Hadits: 1190

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah At Taubah (9) Ayat 84

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim), yang bersumber dari Ibnu ‘Umar, serta bersumber pula dari ‘Umar, Anas, Jabir dan lain-lain bahwa ketika ‘Abdullah bin Ubay mati, datanglah anaknya kepada Rasulullah ﷺ meminta gamis beliau untuk kain kafan bapaknya.
Rasulullah ﷺ memberikannya.
Iapun meminta agar Rasulullah bersedia menyalatkan mayat bapaknya.
Ketika Rasulullah akan menyalatkannya, ‘Umar bin al-Khaththab berdiri memgang baju Rasulullah dan berkata: “Ya Rasulullah, apakah tuan akan menyalatkan dia sedangkan Allah telah melarang menyalatkan mayat kaum munafik?” Beliau menjawab:
“Allah menyuruhku memilih dengan firman-Nya, ‘istaghfir lahum au laa tastaghfirlahm ing tastaghfirlahum sab’iina marrah…(… kamu memohon ampun bagi mereka atau tidak kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali..) (Baraa’ah: 80).
Dan sekiranya aku tahu bahwa dosanya akan diampuni dengan dimintakan ampunan lebih dari tujuh puluh kali, pasti aku akan melakukannya.” Maka ‘Umar berkata lagi: “Ia itu orang munafik.” Namun Rasulullah ﷺ tetap menyalatkannya.
Maka turunlah ayat ini (Baraa’ah: 84) sebagai larangan menyalatkan orang yang mati dalam keadaan kafir dan munafik.
Sejak turun ayat tersebut, Rasulullah ﷺ tidak mau lagi menyalatkan kaum munafikin.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah At Taubah (9) Ayat 84

QABR
قَبْر

Lafaz ini adalah ism mufrad, jamaknya ialah qubuur, artinya tempat menguburkan manusia yang sudah mati, dan tanah yang keras.

Al Kafawi berkata,
"Ia adalah lubang yang biasanya dijadikan kubur di dalamnya."

Al Fayruz Abadi berkata,
"Ia adalah rumah orang mati."

Dalam Kamus Dewan, kubur bermakna tempat mengubur mayat, makam dan lubang (liang).

Lafaz qabr disebut sekali di dalam Al Qur'an, yaitu dalam surah At Taubah (9) ayat 84.

Sebuah riwayat daripada Nafi' yang bersumber dari Ibn Umar, katanya, "Ketika Abdullah bin Ubay meninggal, anaknya datang kepada Rasulullah dan berkata,
"Berikan kepadaku bajumu untuk aku mengapankannya. Shalatkanlah ia dan mohonkanlah ampunan baginya" Lalu beliau memberikan bajunya, kemudian beliau berkata,
"Izinkanlah aku menyalatkannya." Beliau pun diizinkan. Ketika beliau hendak menyalatkannya, 'Umar bin Khattab menariknya dan berkata,
"Tidakkah Allah melarang menyalatkannya orang munafik?" Beliau menjawab, "Aku berada di antara dua kebaikan. Adakah aku akan memohon ampunan baginya ataupun tidak. Kemudian, turunlah ayat ini:

وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰٓ أَحَدٍ مِّنْهُم مَّاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِۦٓۖ

Maksudnya, janganlah berdiri di atas kuburnya untuk menguburkannya atau menziarahinya.

Al Khazin menjelaskan, "Setelah turunnya ayat ini, nabi tidak pernah menyalatkannya orang munafik dan tidak pernah juga berdiri di atas kubur mereka."

Az Zujjaj berkata,
"Makna ayat

وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِۦٓۖ

Rasulullah apabila hendak menguburkan mayat, beliau berdiri di atasnya untuk beberapa saat dan berdoa untuknya, maka beliau dilarang berbuat demikian (kepada jenazah orang munafik). Ada yang berpendapat maknanya, "Janganlah kamu melaksanakan segala urusan bagi menguburkan dan menguruskan atau membersihkan kuburnya."

Kesimpulannya, lafaz qabr dihubungkan dengan damir "hu" (nya) atau kata ganti nama yang kembali kepada Abdullah bin Ubay, sehingga makna qabrihi bermakna kuburnya.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:447-448

Informasi Surah At Taubah (التوبة‎‎)
Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat tennasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan berhubung kata At Taubah berulang kali disebut dalam surat ini.

Dinamakan juga dengan "Baraah" yang berarti berlepas diri yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh 'Ali r.a.
pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman
pembalasan atas amal­ amalan manusia hanya dari Allah
segala sesuatu menurut sunnatullah
perlin­dungan Allah bagi orang-orang yang beriman
kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

Kewajiban menafkahkan harta
macam-macam harta dalam agama serta peng­gunaannya
jizyah
perjanjian dan perdamaian
kewajiban umat Islam terhadap Nabinya
sebab-sebab orang Islam melakukan perang total
beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad s.aw. dengan Abu Bakar r.a. di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
perang Tabuk.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.


Gambar Kutipan Surah At Taubah Ayat 84 *beta

Surah At Taubah Ayat 84



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah At Taubah

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, "Pengampunan"‎) adalah surah ke-9 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti "Pengampunan" karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara'ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad S.A.W kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah9
Nama SurahAt Taubah
Arabالتوبة‎‎
ArtiPengampunan
Nama lainAl-Bara'ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu113
JuzJuz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat129
Jumlah kata2506
Jumlah huruf11116
Surah sebelumnyaSurah Al-Anfal
Surah selanjutnyaSurah Yunus
4.8
Rating Pembaca: 4.8 (10 votes)
Sending







PEMBAHASAN ✔ At taubah ayat 84, Attaubah 84