Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

At Taubah

At Taubah (Pengampunan) surah 9 ayat 75


وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ عٰہَدَ اللّٰہَ لَئِنۡ اٰتٰىنَا مِنۡ فَضۡلِہٖ لَنَصَّدَّقَنَّ وَ لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ
Waminhum man ‘aahadallaha la-in aataanaa min fadhlihi lanash-shaddaqanna walanakuunanna minash-shaalihiin(a);

Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah:
“Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.
―QS. 9:75
Topik ▪ Perintah untuk berfikir dan menghayati
9:75, 9 75, 9-75, At Taubah 75, AtTaubah 75, At-Taubah 75
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Taubah (9) : 75. Oleh Kementrian Agama RI

Tersebut dalam riwayat yang diperoleh dari Hasan bin Sufyan, Ibnu Munzir bin Abu Hatim, Abu Syekh Asari dan lain-lain dari Abu Umamah Al-Bahili menerangkan tentang sebab turunnya ayat ini yang maksudnya sebagai berikut: Seorang yang bernama Sa'labah bin Hatib datang menghadap Rasulullah ﷺ lalu berkata: "Ya Rasulullah, aku mohon didoakan semoga Allah memberikan aku harta dan kekayaan." Rasulullah ﷺ menjawab: "Kasihan engkau Sa'labah.
Apakah engkau tak senang seperti aku ini?
Kalau aku ingin agar Allah menyuruh gunung itu berjalan bersamaku pasti gunung itu akan berjalan." Sa'labah berkata lagi: "Ya Rasulullah, demi Allah yang telah mengutus engkau dengan benar.
Aku ingin didoakan.
Aku berjanji bila Allah telah memberi aku harta dan kekayaan, aku memberikan semua hak orang atas harta dan kekayaanku itu." Rasulullah ﷺ berkata: "Kasihan engkau ya Sa'labah, sedikit harta tapi disyukuri adalah lebih baik daripada banyak harta tapi tidak disyukuri." Maka Sa'labah berkata lagi: "Ya Rasulullah, aku mohon agar engkau mendoakan aku." Akhirnya Rasulullah mendoakan: "Ya Allah, berilah Sa`labah harta dan kekayaan." Dan sesudah Nabi mendoakan, Sa'labah membeli seekor kambing diusahakannya memelihara kambing baik-baik sehingga diberkati oleh Allah sampai berkembang biak, dan akhirnya kambing itu memenuhi padang yang luas.

Kini Sa'labah telah mempunyai harta yang banyak, dan tersebutlah ia sebagai seorang yang kaya raya.
Salabah selalu sibuk dengan kambingnya yang banyak itu sehingga tidak cukup waktu salat berjemaah bersama Rasulullah ﷺ lagi.
Kadang-kadang dapat berjemaah siang hari tetapi malam hari tak dapat lagi.
Sedangkan kambingnya terus berkembang biak, sehingga padang yang luas tempat kambingnya sudah terasa sempit.
Maka kesibukan Sa'labah bertambah lagi sehingga waktu salat Jumat pun tidak sempat.
Begitu juga untuk menyalatkan orang mati yang biasanya ia rajin mendatangi.
Semua waktunya sudah habis untuk mengurus kambing.
Sering Rasulullah menanyakan Sa'labah karena tak tampak lagi di mesjid mengerjakan salat berjemaah dan salat Jumat.
Setelah Rasulullah ﷺ mendapat kabar, bahwa Sa'labah sudah disibukkan oleh kambingnya yang banyak dan terus berkembang biak memenuhi sebuah padang yang luas, maka Rasulullah ﷺ berkata: "Telah celaka Sa'labah bin Hatib."

Kemudian ketika Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kepada Rasulullah ﷺ untuk memungut zakat dari orang-orang wajib zakat, maka Rasulullah mengutus dua orang untuk memungut zakat, seorang dari kaum Bani Juhainah dan seorang dari kaum Bani Salam.
Kepada keduanya Rasulullah ﷺ perintahkan juga untuk memungut zakat unta dan kambing dan menemui Sa'labah meminta zakat kambingnya dan kepada seorang kaya dari Bani Salim.
Maka kedua utusan itu pergi menemui Sa`labah, disampaikannya perintah Rasulullah ﷺ dan diperlihatkan kepadanya.
Setelah diperlihatkan, maka Sa`labah berkata: "Pekerjaan saudara ini adalah memungut pajak, dan sebaiknya saudara pergi kepada yang lain dahulu, kemudian kembali lagi kemari." Kedua utusan Rasulullah ﷺ itu pergi dan meninggalkan Sa'labah untuk menemui Salamah meminta zakatnya.
Maka Salamah memberikan zakatnya seekor unta yang bagus sambil berkata: "Hanya dengan hartaku yang baik, aku dapat mendekatkan diri kepada Allah.

Setelah kedua orang itu menerima zakat dari Salamah maka keduanya pergi kembali menemui Sa`labah.
Setelah bertemu kedua utusan itu memperlihatkan kembali surat perintah Rasulullah ﷺ dan Sa`labah berkata: "Perbuatan ini adalah sama dengan memungut pajak, akan saya pikir-pikir dahulu, silakan saudara-saudara pergi ke tempat lain dahulu." Akhirnya kedua utusan itu kembali ke Madinah dan terus menemui Rasulullah ﷺ Sebelum mereka memberikan laporan, Rasulullah telah berkata: "Telah celakalah Sa'labah." Sedang untuk Salamah Rasulullah berdoa supaya dia mendapat berkat.
Maka sesudah itu turunlah ayat ini.

Sebagian karib kerabat Sa'labah mendengar, bahwa telah turun ayat yang berhubungan dengan perbuatan Sa'labah, maka disampaikannya kepada Sa'labah dengan perkataan: "Telah celakalah engkau hai Sa'labah, Allah telah menurunkan ayatnya kepada Rasulullah ﷺ yang berhubungan dengan perbuatan engkau." Sesudah itu Sa'labah datang menemui Rasulullah dengan membawa zakatnya sambil berkata: "Ya Rasulullah, aku datang menyerahkan zakatku, haraplah engkau terima." Rasulullah menolak zakat itu seraya berkata: "Allah subhanahu wa ta'ala telah melarang aku untuk menerima zakatmu." Maka Sa'labah menangis dan menyesali perbuatannya, tetapi penyesalan itu tak berguna lagi.
Rasulullah ﷺ meletakkan tanah di atas kepala Sa'labah sambil mengatakan: "Inilah contoh perbuatanmu, sebelum ini aku sudah memerintahkan supaya engkau mengeluarkan zakat, tetapi engkau tidak mematuhinya." Tidak mau Rasulullah menerimanya dan akhirnya Sa'labah pulang ke rumahnya.
Setelah Rasulullah wafat Sa'labah pergi menemui Abu Bakar semasa beliau menjadi khalifah sambil berkata: "Hai Abu Bakar, inilah zakatku, harap engkau terima." Abu Bakar menjawab: "Bagaimana aku akan menerima zakatmu sedangkan Rasulullah sendiri tidak mau menerimanya." Kemudian Sa'labah pergi pula menemui Umar bin Khattab dan kemudian kepada Usman bin Affan, masing-masing pada waktu menjadi khalifah untuk menyerahkan zakatnya, maka kedua-duanya menolak dengan jawaban yang sama seperti jawaban Abu Bakar.
Menurut riwayat, Sa'labah rusak binasa dan akhirnya jatuh miskin.

Ayat ini menerangkan tentang sifat orang-orang munafik yang suka berjanji dengan janji yang muluk-muluk, berani bersumpah dengan menyebut nama Allah untuk menguatkan janjinya itu.
Mereka berjanji akan menjadi orang pemurah, dermawan dan menjadi orang-orang baik.
Tetapi mereka dengan mudah saja melanggar janjinya itu.
Perbuatan yang seperti ini akan dijumpai pada setiap masa di mana saja.

At Taubah (9) ayat 75 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy At Taubah (9) ayat 75 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi At Taubah (9) ayat 75 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Di antara orang-orang munafik itu ada yang bersumpah dengan nama Allah dan berikrar kepada-Nya, "Apabila Allah memberikan harta dan karunia-Nya kepada mereka, niscaya mereka akan bersedekah dan menjadi golongan orang-orang yang saleh dalam perbuatan mereka."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah) lafal lanashshaddaqanna pada asalnya lanatashaddaqanna, kemudian huruf ta dimasukkan ke dalam huruf shad yang bagian asal kalimat, sehingga jadilah lanashshaddaqanna (dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.") orang yang dimaksud ialah Tsa'labah bin Hathib, pada suatu hari ia meminta kepada Nabi ﷺ supaya mendoakannya, semoga Allah memberinya rezeki harta, kelak ia akan menunaikan hak-haknya kepada setiap orang yang berhak menerimanya.
Kemudian Nabi ﷺ mendoakannya sesuai dengan permintaannya itu, akhirnya Allah memberinya harta yang banyak, sehingga ia lupa akan salat Jumat dan salat berjemaah yang biasa dilakukannya karena sibuk dengan hartanya yang banyak itu, dan lebih parah lagi ia tidak menunaikan zakatnya sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam ayat berikutnya, yaitu:

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Di antara orang-orang munafik yang miskin itu ada yang memutuskan berjanji kepada dirinya sendiri :
Seandainya Allah memberkan harta kepadanya, niscaya ia akan bersedekah, dan akan melakukan apa yang dilakukan orang-orang shalih terhadap hartanya, dan akan menempuh jalan orang-orang shalih.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
menjelaskan bahwa di antara orang-orang munafik itu terdapat seseorang yang telah memberikan janji dan ikrarnya kepada Allah dengan pernyataan, "Jika Allah memberinya kecukupan dari karunia-Nya, niscaya dia benar-benar akan menyedekahkan sebagian dari hartanya, dan niscaya dia benar-benar akan termasuk orang-orang yang saleh." Akan tetapi, dia tidak memenuhi janji yang telah diucap­kannya itu, tidak pula menepati apa yang telah diikrarkannya.
Maka Allah menimpakan kepada orang-orang seperti itu sebagai akibat dari perbuatannya sifat kemunafikan yang menetap dalam hatinya hingga hari mereka menghadap kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
pada hari kiamat nanti, semoga Allah melindungi kita dari hal seperti ini.

Kebanyakan ulama tafsir, antara lain Ibnu Abbas dan Al-Hasan Al-Basri, menyebutkan bahwa ayat yang mulia ini diturunkan berkenaan dengan sikap Sa'labah ibnu Hatib Al-Ansari.

Sehubungan dengannya telah disebutkan oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsir ayat ini, juga oleh Ibnu Abu Hatim, melalui hadis yang diriwayatkan oleh Ma'an ibnu Rifa'ah, dari Ali ibnu Yazid, dari Abu Abdur Rahman Al-Qasim ibnu Abdur Rahman maula Abdur Rahman ibnu Yazid ibnu Mu'awiyah, dari Abu Umamah Al-Bahili, dari Sa'labah ibnu Hatib Al-Ansari yang telah berkata kepada Rasulullah, "Doakanlah kepada Allah, semoga Dia memberiku rezeki harta benda." Rasulullah ﷺ bersabda, "Celakalah kamu, hai Sa'labah.
Sedikit rezeki yang engkau tunaikan syukurnya adalah lebih baik daripada rezeki banyak yang kamu tidak mampu mensyukurinya."

Kemudian di lain kesempatan Sa'labah memohon lagi.
Maka Rasul ﷺ bersabda, "Tidakkah kamu puas bila kamu meniru jejak Nabi Allah?
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, seandainya aku menghendaki agar gunung-gunung itu berubah menjadi emas dan perak untukku, niscaya akan berubah menjadi emas dan perak."

Sa'labah berkata.”Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, jika engkau berdoa kepada Allah dan Allah memberiku rezeki harta yang banyak, sungguh aku akan memberikan kepada orang yang berhak bagiannya masing-masing." Maka Rasulullah ﷺ berdoa, "Ya Allah, berilah Sa'labah rezeki harta yang banyak."

Perawi melanjutkan kisahnya, "Lalu Sa'labah mengambil seekor kambing betina, maka kambing itu berkembang dengan cepat seperti berkembangnya ulat.
sehingga kota Madinah penuh sesak dengan kambingnya.

Lalu Sa'labah ke luar dari kota Madinah dan tinggal di sebuah lembah yang ada di pinggiran kota Madinah, sehingga ia hanya dapat menunaikan salat berjamaah pada salat Lohor dan Asar saja, sedangkan salat-salat lainnya tidak.

Kemudian ternak kambingnya berkembang terus hingga makin bertambah banyak, lalu ia menjauh lagi dari Madinah, sehingga tidak pernah salat berjamaah lagi kecuali hanya salat Jumat.

Lama-kelamaan kambingnya terus bertambah banyak dan ber­kembang dengan cepat sebagaimana ulat berkembang, akhirnya salat Jumat pun ia tinggalkan.
Dan ia hanya dapat menghadang para pe­ngendara di hari Jumat untuk menanyakan kepada mereka tentang berita Madinah.

Maka Rasulullah ﷺ bersabda, 'Apakah yang telah dilakukan oleh Sa'labah?' Mereka menjawab, 'Wahai Rasulullah, dia telah memelihara ternak kambing, hingga kota Madinah penuh dengan ternaknya.' Lalu diceritakan kepada Nabi ﷺ semua yang dialami oleh Sa'labah.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda, 'Celakalah Sa'labah, celakalah Sa'labah, celakalah Sa'labah.' Dan Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya: 'Ambillah zakat dari sebagian harta mereka.
(At Taubah:103), hingga akhir ayat.' Ayat ini diturunkan berkenaan dengan fardu zakat.

Maka Rasulullah ﷺ mengirimkan dua orang lelaki untuk me­mungut zakat dari kaum muslim, yang seorang dari kalangan Juhainah, sedangkan yang lainnya dari kalangan Salim.
Kemudian Rasul ﷺ menyerahkan sepucuk surat kepada keduanya yang di dalamnya tertera bagaimana caranya memungut zakat harta dari kaum muslim.
Dan Rasulullah ﷺ berpesan kepada keduanya, 'Mampirlah kalian berdua kepada Sa'labah dan Fulan—seorang lelaki dari kalangan Bani Salim— dan ambillah zakat dari keduanya.'

Kedua utusan itu berangkat hingga keduanya sampai di rumah Sa'labah, lalu keduanya meminta zakat dari Sa'labah seraya mem­bacakan surat Rasulullah ﷺ kepadanya.
Tetapi Sa'labah menjawab, 'Ini tiada lain sama dengan jizyah (upeti), ini tiada lain sejenis dengan jizyah, saya tidak mengerti apa-apaan ini?
Sekarang pergilah dahulu kalian berdua hingga selesai dari tugas kalian, lalu kembalilah kalian kepadaku.'

Kedua utusan itu pergi melanjutkan tugasnya, dan ketika orang dari Bani Salim yang dituju oleh keduanya mendengar kedatangan keduanya, maka ia memeriksa ternak untanya yang paling unggul, lalu ia pisahkan dari yang lainnya untuk zakat.
Setelah itu ia datang menyambut kedatangan keduanya seraya membawa ternak pilihannya itu.

Ketika kedua utusan itu melihat ternak unggul itu, mereka berdua berkata, 'Kamu tidak diwajibkan memberikan yang jenis ini, dan kami tidak bermaksud mengambil jenis ini darimu.' Lelaki dari Bani Salim itu menjawab, 'Memang benar, tetapi ambillah ini, karena sesungguhnya saya berikan ini dengan sukarela, dan sesungguhnya saya telah mem­persiapkannya untuk zakat."

Maka kedua utusan itu terpaksa menerimanya, lalu pergi melanjut­kan tugasnya memungut zakat dari kaum muslim.
Setelah selesai, keduanya kembali kepada Sa'labah, dan Sa'labah berkata, 'Perlihatkanlah kepadaku surat kalian berdua." Lalu Sa'labah membacanya, sesudahnya ia berkata, 'Ini tiada lain sama dengan jizyah, ini adalah sejenis jizyah.
Pergilah kalian berdua, nanti aku akan berpikir terlebih dahulu.'

Keduanya pergi, kemudian langsung menghadap Nabi ﷺ Ketika Nabi ﷺ melihat keduanya, maka beliau bersabda, 'Celakalah Sa'labah,' padahal keduanya belum bercerita kepadanya.
Lalu Nabi ﷺ mendoa­kan keberkahan untuk lelaki dari kalangan Bani Salim (yang telah menunaikan zakatnya itui.
Kemudian keduanya menceritakan kepada Nabi ﷺ tentang apa yang dilakukan oleh Sa'labah dan apa yang dilakukan oleh lelaki dan Bani Salim.
Dan Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya: Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia­nya kepada kami.
pastilah kami akan bersedekah.” (At Taubah:75), hingga akhir ayat.

Saat itu di hadapan Rasulullah ﷺ terdapat seorang lelaki dari kalangan kerabat Sa'labah dan ia mendengar tentang hal tersebut.
Maka ia pergi dan mendatangi Sa'labah, lalu berkata kepadanya, 'Celakalah engkau, hai Sa'labah, sesungguhnya Allah telah menurunkan wahyu anu dan anu mengenai dirimu."

Maka dengan serta merta Sa'labah berangkat hingga sampai kepada Nabi ﷺ, lalu meminta kepada Nabi ﷺ agar mau menerima zakat­nya.
Tetapi Nabi ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah telah melarang aku untuk menerima zakat darimu.

Maka Sa'labah meraupkan debu ke kepalanya (sebagai ungkapan penye­salannya).
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: Ini adalah balasan amal perbuatanmu.
Aku telah memerintah­kannya kepadamu, tetapi kamu tidak menaatinya.

Setelah Rasulullah ﷺ menolak zakatnya, maka ia kembali ke rumah­nya, dan Rasulullah ﷺ wafat tanpa menerima suatu zakat pun darinya.

Kemudian Sa'labah datang kepada Abu Bakar r.a.
ketika menjadi khalifah, lalu berkata kepadanya, 'Sesungguhnya engkau telah menge­tahui kedudukanku di sisi Rasulullah dan kedudukanku di kalangan orang-orang Ansar, maka terimalah zakatku ini.' Abu Bakar berkata, 'Rasulullah ﷺ tidak mau menerimanya darimu (lalu bagaimana aku mau menerimanya darimu)." Abu Bakar menolak dan tidak mau menerimanya.
Dan Abu Bakar wafat tanpa mau menerima zakat darinya.

Ketika Umar r.a.
menjadi khalifah, Sa'labah datang kepadanya dan berkata, 'Wahai Amirul Mu’minin, terimalah zakatku ini.' Tetapi Umar r.a.
menjawab, 'Rasulullah ﷺ tidak mau menerimanya, demi­kian pula Abu Bakar.
Lalu bagaimana aku dapat menerimanya?' Khalifah Umar r.a.
wafat tanpa mau menerimanya.

Dan di saat Usman menjabat sebagai khalifah, Sa'labah datang kepadanya dan berkata, 'Terimalah zakatku ini.' Khalifah Usman menjawab, 'Rasulullah ﷺ tidak mau menerimanya, begitu pula Abu Bakar dan Umar, maka mana mungkin aku dapat menerimanya darimu?' Khalifah Usman tidak mau menerima zakatnya pula, dan akhirnya Sa'labah mati di masa pemerintahan Khalifah Usman."

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah At Taubah (9) Ayat 75

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani, Ibnu Marduwaih, Ibnu Abi Hatim, dan al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, dengan sanad yang dhaif, yang bersumber dari Abu Umamah.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Marduwaih, dari al-‘Aufi, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Tsa’labah bin Hatib berkata kepada Rasulullah ﷺ,: “Ya Rasulullah.
Berdoalah kepada Rabb agar Ia memberikan rizki kepadaku.” Nabi menjawab:
“Aduhai Tsa’labah.
Barang sedikit yang engkau syukuri lebih baik daripada banyak tetapi tidak dapat engkau syukuri.” Ia berkata lagi: “Demi Allah.
Jika Ia memberikan harta benda kepadaku, pasti akan kutunaikan kewajibanku terhadap orang yang berhakl.” Lalu Rasulullah berdoa untuk Tsa’labah, dan Allah mengabulkannya.
Mula-mula Tsa’labah memiliki seekor biri-biri.
Dari seekor itu kemudian beranak pinak sehingga memenuhi lorong di kota Madinah, sehingga ia pun terpaksa pindah ke tempat yang agak jauh.
Ia menggembalakan biri-birinya setelah setelah melaksanakan shalat berjamaah setiap waktu.
Karena semakin berkembang biak biri-birinya, tempat penggembalaan di Madinah tidak memungkinkannya lagi, sehingga terpaksa ia memindahkan ternaknya dari Madinah.
Dengan demikian, ia hanya sempat ke masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at.
Setelah pindah untuk ketiga kalinya, iapun tidak sempat lagi melaksanakan shalat berjamaah ataupun shalat Jum’at.
Ketika turun surah Baraa’ah ayat 103, Rasulullah ﷺ mengutus dua orang untuk mengambil harta sedekah dari orang-orang kaya, dengan membawa surat perintah.
Mereka mendatangi Tsa’labah dan membacakan surat itu.
Tsa’labah berkata: “Pergilah kepada yang lain lebih dahulu, sekiranya telah selesai mendatangi yang lain, mampirlah kembali kepadaku.” Setelah kedua kalinya kembali, Tsa’labah pun berkata: “Bukankah ini semacam upeti?” Maka pergilah kedua orang itu meninggalkan Tsa’labah.
Turunnya ayat tersebut di atas (Baraa’ah: 75-77) berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai ancaman kepada orang yang berjanji dengan bersumpah tapi tidak menunaikannya.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah At Taubah (التوبة‎‎)
Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat tennasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan berhubung kata At Taubah berulang kali disebut dalam surat ini.

Dinamakan juga dengan "Baraah" yang berarti berlepas diri yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh 'Ali r.a.
pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman
pembalasan atas amal­ amalan manusia hanya dari Allah
segala sesuatu menurut sunnatullah
perlin­dungan Allah bagi orang-orang yang beriman
kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

Kewajiban menafkahkan harta
macam-macam harta dalam agama serta peng­gunaannya
jizyah
perjanjian dan perdamaian
kewajiban umat Islam terhadap Nabinya
sebab-sebab orang Islam melakukan perang total
beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad s.aw. dengan Abu Bakar r.a. di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
perang Tabuk.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.


Gambar Kutipan Surah At Taubah Ayat 75 *beta

Surah At Taubah Ayat 75



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah At Taubah

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, "Pengampunan"‎) adalah surah ke-9 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti "Pengampunan" karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara'ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad S.A.W kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah9
Nama SurahAt Taubah
Arabالتوبة‎‎
ArtiPengampunan
Nama lainAl-Bara'ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu113
JuzJuz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat129
Jumlah kata2506
Jumlah huruf11116
Surah sebelumnyaSurah Al-Anfal
Surah selanjutnyaSurah Yunus
4.5
Rating Pembaca: 4.7 (15 votes)
Sending