Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

At Taubah

At Taubah (Pengampunan) surah 9 ayat 61


وَ مِنۡہُمُ الَّذِیۡنَ یُؤۡذُوۡنَ النَّبِیَّ وَ یَقُوۡلُوۡنَ ہُوَ اُذُنٌ ؕ قُلۡ اُذُنُ خَیۡرٍ لَّکُمۡ یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ یُؤۡمِنُ لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ رَحۡمَۃٌ لِّلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ ؕ وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡذُوۡنَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ لَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ
Waminhumul-ladziina yu’dzuunannabii-ya wayaquuluuna huwa udzunun qul udzunu khairin lakum yu’minu billahi wayu’minu lilmu’miniina warahmatul(n)-lil-ladziina aamanuu minkum waal-ladziina yu’dzuuna rasuulallahi lahum ‘adzaabun aliimun;

Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan:
“Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”.
Katakanlah:
“Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”.
Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.
―QS. 9:61
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala
9:61, 9 61, 9-61, At Taubah 61, AtTaubah 61, At-Taubah 61
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Taubah (9) : 61. Oleh Kementrian Agama RI

Menurut sesuatu riwayat pada suatu ketika terjadilah pertemuan antara sesama orang munafik, di antara mereka adalah Jullas bin Suwaid bin Samit, Mikhasi bin Umar dan Wadi'ah bin Sabit.
Di antara mereka ada yang hendak mempergunjingkan Nabi, maka sebagian mereka melarangnya dengan alasan kekhawatiran akan sampai kepada Nabi, dan ini akan menyusahkan mereka, lalu di antara mereka ada yang berkata: "Muhammad itu adalah terlalu percaya pada tiap-tiap sesuatu yang didengarnya asalkan saja kita bersumpah meyakinkannya." Maka turunlah ayat ini.

Ayat ini menerangkan bahwa di antara golongan munafik terdapat orang-orang yang menyakiti Nabi Muhammad ﷺ.
mereka mempergunjingkannya dan mengatakan bahwa Nabi itu terlalu cepat terpengaruh tanpa memikirkan dan meneliti kebenaran sesuatu yang didengarnya itu.
Tuduhan mereka ini atas dasar bahwa perlakuan Nabi Muhammad ﷺ.
kepada mereka serupa saja dengan perlakuan beliau kepada orang-orang mukmin secara umum.
Hal mana menunjukkan bahwa Nabi itu dapat dipengaruhi sebagaimana beliau terpengaruh oleh ucapan-ucapan mereka.
Atas dasar ini mereka memandang adanya suatu cacat pada Nabi Muhammad ﷺ.
dan cacat seperti ini jika terdapat pada penguasa seperti raja tentu akan tersingkirlah orang-orang yang baik, berkumpullah di sekeliling raja orang-orang yang pandai menjilat.

Setelah Allah menerangkan apa yang terjadi di kalangan orang-orang munafik itu, Muhammad ﷺ.
diperintah mendengar segala yang disampaikan kepadanya sambil mengadakan penelitian untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang sesungguhnya dan yang dibuat-buat.
Keadaan Nabi Muhammad ﷺ.
melebihi raja-raja (penguasa) yang meskipun mereka itu dipandang bijaksana namun adakalanya juga terpedaya oleh kata-kata manis dari para penjilat.
Berlainan halnya dengan Nabi Muhammad ﷺ.
karena ia beriman kepada Allah yang selalu menuntun dan melindunginya.
Ia mempercayai apa yang didengarnya dari orang-orang yang beriman dari kalangan Muhajirin dan Ansar yang telah menunjukkan ketabahan dalam menghadapi percobaan-percobaan dan fitnahan dari golongan orang-orang musyrik.
Nabi itu bukanlah mendengar sesuatu dengan penelitian, tetapi dia juga pembawa rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Memanglah ia penyebab kegagalan dan kerugian bagi orang-orang yang penuh di hatinya kemunafikan, yang menyatakan sesuatu berlainan dengan apa yang disimpan dalam hatinya.
Pada akhir ayat ini Allah menerangkan azab yang sepedih-pedihnya yang akan menjadi hukuman bagi orang-orang munafik yang menuduh Nabi dengan tuduhan-tuduhan yang tidak pada tempatnya.

Dari segi hukum, ayat ini mengandung larangan Tuhan menyakiti Rasul, baik pada masa hidupnya maupun sesudah wafatnya.
Menyakiti Rasul pada masa hidupnya dapat berbentuk:

a.
Meragukan kerasulannya atau menganggapnya ahli sihir.
Orang-orang yang menyakiti Rasul seperti ini hukumnya kafir karena mereka mengingkari kerasulannya.
b.
Mengganggu ketenangan rumah tangganya seperti bertamu terlalu lama atau berkata di hadapannya dengan suara keras.
Pekerjaan seperti ini hukumnya haram sebagaimana diutarakan dalam Alquran.
Firman Allah:

Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar).
(Q.S.
Al-Ahzab: 53)

Dan firman-Nya lagi:

/i>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.
(Q.S.
Al-Hujurat: 2)

Menyakiti Rasul setelah wafatnya sama halnya dengan menyakitinya pada masa hidupnya seperti mempergunjingkan ibu bapaknya, keluarganya dengan menghina dan menjelek-jelekkannya.
Keimanan seseorang kepada Rasul menimbulkan rasa cinta kepadanya.
Orang yang cinta kepada sesuatu, tentulah sesuatu yang dicintainya itu selalu dipandangnya besar dan mulia.

At Taubah (9) ayat 61 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy At Taubah (9) ayat 61 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi At Taubah (9) ayat 61 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Di antara manusia terdapat orang-orang munafik yang dengan sengaja menyakiti Nabi dan menimpakan keburukan kepadanya.
Mereka menuduh bahwa ia senang mendengar segala yang dikatakan kepadanya, baik berupa kebenaran maupun kebohongan.
Mereka menuduh pula bahwa Nabi telah tertipu oleh apa yang didengarnya.
Katakanlah kepada mereka, wahai Muhammad, bahwa orang yang kalian perbincangkan dengan tuduhan semacam itu, tidak sebagaimana yang kalian duga.
Dia adalah pendengar kebaikan yang tidak akan mendengar kecuali perkataan yang benar, tidak tertipu oleh kebatilan dan percaya kepada Allah dan wahyu-Nya.
Rasulpun mempercayai orang-orang Mukmin karena keimanan mereka mencegah untuk berbuat dusta.
Rasul adalah rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kalian, dan Allah telah menyediakan siksa yang pedih dan abadi bagi orang-orang yang menyakiti Nabi.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Di antara mereka) orang-orang munafik (ada yang menyakiti Nabi) dengan mencelanya dan menyampaikan perkataannya kepada kaum munafikin (dan mereka mengatakan) bilamana mereka dicegah dari perbuatan tersebut supaya jangan menyakiti nabi ("Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.") yakni Nabi selalu mendengar apa yang dikatakan kepadanya dan selalu menerimanya.
Bilamana kami bersumpah kepadanya bahwa kami tidak menyatakannya, maka dia mempercayai kami.
(Katakanlah,) "Ia (mempercayai) mendengarkan (semua yang baik bagi kalian) bukannya mendengarkan hal-hal yang buruk (ia beriman kepada Allah, mempercayai) artinya selalu percaya (orang-orang mukmin) atas semua berita yang telah disampaikan mereka, akan tetapi ia tidak mempercayai orang-orang selain mereka.
Huruf lam di sini adalah lam zaidah, dimaksud untuk memberikan pengertian yang membedakan antara iman karena sadar dan iman karena faktor lainnya (dan menjadi rahmat) bila dibaca rafa' maka diathafkan kepada lafal udzunun, dan bila dibaca jar maka diathafkan kepada lafal khairin (bagi orang-orang yang beriman di antara kalian." Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka siksa yang pedih).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Di antara orang-orang munafik itu ada yang menyakiti Rasulullah dengan perkataan mereka.
Mereka berkata :
Dia (Muhammad) mempercayai semua yang didengarnya.
Katakanlah (wahai Rasul) kepada mereka :
Sesungguhnya Muhammad adalah orang yang mendengarkan setiap kebaikan, beriman kepada Allah, mempercayai berita yang dikatakan oleh orang-orang mukmin.
Dia adalah rahmat bagi pengikutnya dan bagi yang mendapatkan petunjuk Allah.
Dan siapa pun yang menyakiti Rasulullah dengan cara apa pun, akan mendapatkan siksa yang sangat pedih.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
menyebutkan bahwa di antara orang-orang munafik terdapat suatu kaum yang senantiasa menyakiti Rasulullah ﷺ dengan ucapannya mengenai diri Rasulullah ﷺ, dan mereka mengatakan:

Dia mempercayai semua apa yang didengarnya.

Yakni orang yang mengucapkan sesuatu kepadanya, maka dia membenarkannya di antara kami, dan orang yang bercerita kepadanya, maka dia selalu mempercayainya.
Dan apabila kita datang kepadanya, lalu kita bersumpah kepadanya, niscaya dia membenarkan kita.
Demikianlah menurut penafsiran yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Katakanlah, "Ia mempercayai semua yang baik bagi kalian."

Dengan kata lain, telinga yang dimilikinya adalah lebih baik, ia menge­tahui mana yang benar dan mana yang dusta.

...ia beriman kepada Allah dan mempercayai orang-orang mukmin.

Artinya percaya dan membenarkan orang-orang mukmin.

...dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kalian.

Yakni ia merupakan hujah yang menghantam orang-orang kafir.
Karena itulah dalam Firman selanjutnya disebutkan:

Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah At Taubah (9) Ayat 61

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabtal bin al-Harits datang kepada Rasulullah ﷺ seraya duduk-duduk dan mendengarkan pembicaraan Rasul.
Pembicaraan tersebut disampaikannya kepada kaum munafikin dengan menambahkan bahwa Muhammad itu udzun (orang yang selalu mempercayai omongan orang lain), sebagai ejekan kepada Nabi ﷺ, maka turunlah ayat ini (Baraa’ah: 61) berkenaan dengan Nabtal bin al-Harits.
Ayat ini membenarkan bahwa Nabi itu orang yang suka mempercayai pembicaraan yang baik.
Beliau itu suka mempercayai pembicaraan yang baik.
Beliau beriman kepada Allah dan percaya kepada omongan kaum Mukminin.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah At Taubah (التوبة‎‎)
Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat tennasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan berhubung kata At Taubah berulang kali disebut dalam surat ini.

Dinamakan juga dengan "Baraah" yang berarti berlepas diri yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh 'Ali r.a.
pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman
pembalasan atas amal­ amalan manusia hanya dari Allah
segala sesuatu menurut sunnatullah
perlin­dungan Allah bagi orang-orang yang beriman
kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

Kewajiban menafkahkan harta
macam-macam harta dalam agama serta peng­gunaannya
jizyah
perjanjian dan perdamaian
kewajiban umat Islam terhadap Nabinya
sebab-sebab orang Islam melakukan perang total
beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad s.aw. dengan Abu Bakar r.a. di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
perang Tabuk.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.


Gambar Kutipan Surah At Taubah Ayat 61 *beta

Surah At Taubah Ayat 61



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah At Taubah

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, "Pengampunan"‎) adalah surah ke-9 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti "Pengampunan" karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara'ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad S.A.W kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah 9
Nama Surah At Taubah
Arab التوبة‎‎
Arti Pengampunan
Nama lain Al-Bara'ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 113
Juz Juz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 129
Jumlah kata 2506
Jumlah huruf 11116
Surah sebelumnya Surah Al-Anfal
Surah selanjutnya Surah Yunus
4.9
Rating Pembaca: 4.9 (15 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku