Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. At Taubah (Pengampunan) – surah 9 ayat 5 [QS. 9:5]

فَاِذَا انۡسَلَخَ الۡاَشۡہُرُ الۡحُرُمُ فَاقۡتُلُوا الۡمُشۡرِکِیۡنَ حَیۡثُ وَجَدۡتُّمُوۡہُمۡ وَ خُذُوۡہُمۡ وَ احۡصُرُوۡہُمۡ وَ اقۡعُدُوۡا لَہُمۡ کُلَّ مَرۡصَدٍ ۚ فَاِنۡ تَابُوۡا وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتَوُا الزَّکٰوۃَ فَخَلُّوۡا سَبِیۡلَہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
Fa-idzaaansalakhal asyhurul hurumu faaqtuluul musyrikiina haitsu wajadtumuuhum wakhudzuuhum waahshuruuhum waaq’uduu lahum kulla marshadin fa-in taabuu wa-aqaamuush-shalaata waaatawuuzzakaata fakhalluu sabiilahum innallaha ghafuurun rahiimun;
Apabila telah habis bulan-bulan haram, maka perangilah orang-orang musyrik di mana saja kamu temui, tangkaplah dan kepunglah mereka, dan awasilah di tempat pengintaian.
Jika mereka bertobat dan melaksanakan salat serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka.
Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
―QS. At Taubah [9]: 5

And when the sacred months have passed, then kill the polytheists wherever you find them and capture them and besiege them and sit in wait for them at every place of ambush.
But if they should repent, establish prayer, and give zakah, let them (go) on their way.
Indeed, Allah is Forgiving and Merciful.
― Chapter 9. Surah At Taubah [verse 5]

فَإِذَا maka apabila

Then when
ٱنسَلَخَ telah habis

have passed
ٱلْأَشْهُرُ bulan-bulan

the months
ٱلْحُرُمُ Haram

sacred,
فَٱقْتُلُوا۟ maka bunuhlah

then kill
ٱلْمُشْرِكِينَ orang-orang musyrik

the polytheists
حَيْثُ dimana saja

wherever
وَجَدتُّمُوهُمْ kamu dapati/jumpai mereka

you find them
وَخُذُوهُمْ dan tangkaplah mereka

and seize them
وَٱحْصُرُوهُمْ dan kepunglah mereka

and besiege them
وَٱقْعُدُوا۟ dan duduk/intailah

and sit (in wait)
لَهُمْ bagi mereka

for them
كُلَّ tiap-tiap

(at) every
مَرْصَدٍ tempat pengintaian

place of ambush.
فَإِن maka jika

But if
تَابُوا۟ bertaubat

they repent
وَأَقَامُوا۟ dan mereka mendirikan

and establish
ٱلصَّلَوٰةَ sholat

the prayer
وَءَاتَوُا۟ dan mereka menunaikan

and give
ٱلزَّكَوٰةَ zakat

the zakah
فَخَلُّوا۟ maka berilah kebebasan

then leave
سَبِيلَهُمْ jalan mereka

their way.
إِنَّ sesungguhnya

Indeed,
ٱللَّهَ Allah

Allah
غَفُورٌ Maha Pengampun

(is) Oft-Forgiving,
رَّحِيمٌ Maha Penyayang

Most Merciful.

Tafsir

Alquran

Surah At Taubah
9:5

Tafsir QS. At Taubah (9) : 5. Oleh Kementrian Agama RI


Apabila telah selesai bulan-bulan yang diharamkan memerangi kaum musyrikin Mekah yaitu selama empat bulan terhitung mulai tanggal 10 Zulhijjah sampai dengan tanggal 10 Rabiul Akhir tahun 9 Hijriah, maka diperintahkan kepada kaum Muslimin untuk mengerjakan salah satu dari empat hal yang lebih bermanfaat bagi mereka, yaitu:


1. Memerangi kaum musyrikin di mana saja mereka berada, baik di tanah suci maupun di luarnya.

2. Menawan mereka.

3. Mengepung dan memenjarakan mereka.

4. Mengintai gerak gerik mereka dimana saja mereka berada.


Adapun membunuh atau memerangi mereka di mana saja, menurut Ibnu Katsir, pendapat yang masyhur ialah bahwa ayat ini umum dan ditakhsiskan dengan firman Allah:

وَلَا تُقَاتِلُوْهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتّٰى يُقٰتِلُوْكُمْ فِيْهِ فَاِنْ قٰتَلُوْكُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ

Dan janganlah kamu perangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu.
Jika mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka.

(al-Baqarah [2]: 191)


Adapun tentang menawan mereka, telah diperbolehkan pada ayat ini, sedang pada surah sebelumnya belum diperbolehkan seperti firman Allah:

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ اَنْ يَّكُوْنَ لَهٗٓ اَسْرٰى حَتّٰى يُثْخِنَ فِى الْاَرْضِ

Tidaklah pantas, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi.
(al-Anfal [8]: 67)


Ayat ini sesuai dengan hadis sahih antara lain sabda Nabi ﷺ:
Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengakui bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah rasul Allah, dan mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat.

(Riwayat Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin Umar).


Ayat ini adalah salah satu dari empat ayat yang dinamakan
"ayatul qital"
artinya
"ayat-ayat perang",
karena empat ayat ini diturunkan untuk membunuh atau berperang dengan memakai kekuatan senjata.


Pertama: ayat ini untuk membunuh atau memerangi kaum musyrikin.


Kedua: untuk memerangi Ahli Kitab yang disebutkan dalam firman Allah:

قَاتِلُوا الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَلَا يُحَرِّمُوْنَ مَا حَرَّمَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَلَا يَدِيْنُوْنَ دِيْنَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حَتّٰى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَّدٍ وَّهُمْ صَاغِرُوْنَ

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, mereka yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang telah diberikan Kitab, hingga mereka membayar jizyah (pajak) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.
(at-Taubah [9]: 29)


Ketiga: ialah memerangi orang-orang munafik yang disebut dalam firman Allah:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنٰفِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

Wahai Nabi! Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keras lah terhadap mereka.
Tempat mereka adalah Neraka Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
(At-Tahrim [66]: 9)


Keempat: ialah memerangi orang-orang bugat (yang membuat kerusuhan) yang disebutkan dalam firman Allah:

وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِ فَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْا اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

Dan apabila ada dua golongan orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya.
Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.
Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil.
Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
(al-Hujurat [49]: 9)


Di antara ulama tafsir ada yang berpendapat bahwa ayat ini dinasakhkan oleh firman Allah:

فَاِمَّا مَنًّاۢ بَعْدُ وَاِمَّا فِدَاۤءً حَتّٰى تَضَعَ الْحَرْبُ اَوْزَارَهَا

Selanjutnya apabila kamu telah mengalahkan mereka, tawanlah mereka, dan setelah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan, sampai perang selesai.
(Muhammad [47]: 4)


Di antara ulama ada yang berpendapat sebaliknya, yaitu ayat inilah yang menasakhkan ayat 4 Surah Muhammad tersebut, karena ayat ini turunnya kemudian.
Dan ada pula yang berpendapat bahwa ayat ini tidaklah bertentangan dengan ayat 4 Surah Muhammad dan ayat-ayat lainnya, karena semua ulama berpendapat tentang kewajiban memberantas kekufuran dan kesesatan yang semuanya tidak harus dengan peperangan tetapi hendaknya disesuaikan dengan faktor-faktor lainnya, seperti kemampuan dan keadaan.


Apabila kaum musyrikin itu bertobat dan kembali ke jalan yang benar dengan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengucapkan dua kalimah syahadat, mengerjakan salat dan menunaikan zakat, maka kepada mereka harus diberi kebebasan yang luas, tidak diperangi, tidak ditawan, tidak dikurung, dan tidak diintai gerak geriknya lagi.
Sebagai kesaksian lahiriyah beriman itu harus dengan mengucapkan dua kalimah syahadat setelah menyatakan masuk Islam.
Dan yang dimaksud dengan salat di sini ialah salat fardzu lima waktu yang menjadi rukun Islam dan menunjukkan kepatuhan beriman yang dituntut bagi setiap mukmin tanpa perbedaan dari segi apa pun, salat ini membersihkan jiwa dan memperbaiki akhlak:

اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ

Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar.
(al-‘Ankabut [29]: 45)


Dan karena salat itu mempunyai daya kekuatan mengadakan hubungan manusia dengan Tuhan.


وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

Dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.
(Tha Ha [20]: 14)


Tentang zakat di sini ialah zakat fardu (wajib) dalam Islam bagi orang-orang yang telah memenuhi syarat-syaratnya, karena zakat ini selain membersihkan jiwa orang yang berzakat dari sifat-sifat tidak terpuji seperti cinta harta dan bakhil atau kikir, juga sangat diperlukan untuk fakir miskin dan untuk kepentingan umum.
Tegasnya, orang-orang musyrik tidak boleh diperangi jika mereka masuk Islam dengan memenuhi tiga syarat yaitu:


1. Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan mengucapkan dua kalimah syahadat.
2. Melaksanakan salat fardu lima waktu.
3. Menunaikan wajib zakat apabila telah memenuhi syarat-syaratnya.


Sabda Rasulullah ﷺ:
Saya diperintahkan memerangi orang-orang hingga mereka bersyahadat bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka apabila mereka telah berbuat demikian, niscaya darah dan harta benda mereka terpelihara dari saya, kecuali dengan hak Islam dan hisab mereka terserah kepada Allah.
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Umar)


Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka sebagian ulama berpendapat bahwa orang-orang yang tidak melaksanakan salat lima waktu yang difardzukan tanpa udzur atau alasan yang dibolehkan syariat, dan orang-orang yang tidak mau menunaikan zakat yang sudah cukup syarat-syaratnya, maka hukumnya wajib dibunuh.
Sedang pendapat ulama lain mengatakan tidak wajib dibunuh, hanya ditazir oleh imam (penguasa) dengan memberikan hukuman penjara dan sebagainya menurut pertimbangannya, dan orang-orang yang tidak mau menunaikan zakat, maka imam berhak mengambil zakatnya dengan paksa.

Tafsir QS. At Taubah (9) : 5. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Apabila masa perlindungan selama empat bulan itu telah habis, maka perangilah orang-orang musyrik yang melanggar perjanjian di mana pun berada.
Tangkaplah mereka dengan kekerasan.


Kepunglah mereka dari segala penjuru.
Intailah mereka di semua tempat.


Apabila mereka telah bertobat dari kekufuran dan berpegang teguh kepada hukumhukum Islam dengan mengerjakan salat dan menunaikan zakat, berikanlah kebebasan kepada mereka, karena mereka telah masuk dalam agama Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun atas orang yang bertobat, dan Maha Penyayang pada hamba-hamba-Nya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Dan apabila telah habis empat bulan tersebut, yaitu bulan dimana orang-orang musyrik merasa aman dari kalian, maka umumkanlah peperangan kepada setiap musuh Allah di mana pun mereka berada., kepunglah tempat persembunyian mereka, lalu bunuhlah mereka, intailah mereka di mana pun berada.


Apabila mereka kembali dari kekufurannya lau masuk Islam, kemudian melaksanakan seluruh syariat Islam dengan mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat;
maka biarkanlah mereka, karena mereka telah menjadi saudara kalian dalam Islam.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat dan kembali, serta Maha Penyayang terhadap mereka.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Apabila sudah habis) telah habis


(bulan-bulan haram itu) hal ini merupakan batas maksimal masa penangguhan


(maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kalian jumpai mereka) baik di tanah suci maupun di luar tanah suci


(dan tangkaplah mereka) dengan menahannya


(kepunglah mereka) dalam benteng-benteng dan tempat-tempat perlindungan mereka sehingga mereka terpaksa harus bertempur dengan kalian atau menyerah masuk Islam


(dan intailah mereka di tempat pengintaian.) yakni jalan-jalan yang biasa mereka lalui.
Dinashabkannya lafal kulla karena huruf jarnya dicabut.


(Jika mereka bertobat) dari kekafiran


(dan mendirikan salat serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka.) jangan sekali-kali kalian menghambat dan mempersulit mereka


(Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.) terhadap orang yang bertobat.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Ulama tafsir berbeda pendapat mengenai makna yang dimaksud dari ‘bulan-bulan haram‘ dalam ayat ini.
Ibnu Jarir berpendapat, yang dimaksud dengan bulan-bulan haram di sini adalah seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

di antaranya empat bulan haram.
Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu.
(QS. At-Taubah [9], 36), hingga akhir ayat.

Demikianlah menurut Abu Ja’far Al-Baqir, tetapi Ibnu Jarir mengatakan bahwa akhir dari bulan-bulan haram bagi mereka adalah bulan Muharram.
Apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ini bersumberkan dari apa yang diriwayatkan oleh Ali ibnu AbuTalhah, dari ibnu Abbas.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Ad-Dahhak, tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, mengingat apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas ditinjau dan segi teksny a berasal dari riwayat Al-Aufi dari dia (Ibnu Abbas), yakni bukan melalui Ad-Dahhak.

Pendapat yang sama dikatakan oleh Mujahid, Amr ibnu Syu’aib, Muhammad ibnu Ishaq.
Qatadah, As-Saddi, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.
bahwa y ang dimaksud ialah bulan-bulan kemudahan bagi orang-orang musyrik yang lamanya empat bulan.
Hal ini di-nas-kan di dalam firman-Nya:

Maka berjalanlah kalian (kaum musyrik) di muka bumi selama empat bulan.
(QS. At-Taubah [9]: 2)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu.

Artinya, apabila telah habis masa empat bulan yang Kami haramkan bagi kalian memerangi orang-orang musyrik di masa-masa tersebut sebagai masa tangguh dari Kami buat mereka, maka di mana saja kalian jumpai mereka, bunuhlah mereka.
Penyebutan kembali lafaz al-asyhurul hurum dalam ayat ini lebih baik daripada seandainya dirujukkan dengan memakai damir.
Kemudian sehubungan dengan empat bulan Haram (suci) ini, kelak akan diterangkan hukum-hukumnya pada ayat lain sesudah At-Taubah ini.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

…maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kalian jumpai mereka.

Yakni di kawasan mana saja mereka berada.
Pengertian ayat ini umum.
Tetapi menurut pendapat yang terkenal, keumuman makna di-takhsis oleh hukum haram melakukan perang di Tanah Suci, yaitu oleh firman-Nya:

dan janganlah kalian memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kalian di tempat itu.
Jika mereka memerangi kalian (di tempat itu), maka bunuhlah mereka.
(QS. Al-Baqarah [2]: 191)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

…dan tangkaplah mereka.

Maksudnya, tawanlah mereka.
Dengan kata lain, jika kalian ingin membunuh mereka, kalian boleh membunuhnya, dan jika kalian ingin menahan mereka, kalian boleh menahan mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian.

Yakni janganlah kalian merasa puas hanya dengan keberadaan kalian di mata mereka, tetapi kepunglah mereka di benteng-benteng dan tempat-tempat perlindungannya, dan intailah mereka di jalan-jalan yang biasa mereka lalui, hingga bumi yang luas ini terasa sempit bagi mereka, dan akhirnya mereka terpaksa harus berperang melawan kalian atau masuk Islam.

Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Jika mereka bertobat, mendirikan salat, dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Karena itulah Khalifah Abu Bakar As-Siddiq r.a. memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat dengan berpegang kepada ayat yang mulia ini dan ayat-ayat lainnya yang semakna sebagai dalilnya.
Ayat ini mengharamkan memerangi mereka dengan syarat bila mereka mau melakukan perbuatan-perbuatan tersebut, yaitu masuk Islam dan menunaikan semua kewajibannya.

Pada permulaannya disebutkan hal yang paling tinggi di antara kewajiban-kewajiban tersebut, kemudian menyusul yang di bawahnya.
Karena sesungguhnya Rukun Islam yang paling mulia sesudah membaca kedua kalimah syahadat ialah salat yang merupakan hak Allah subhanahu wa ta’ala, Sesudah itu menunaikan zakat yang merupakan pertolongan buat orang-orang miskin dan orang-orang yang memerlukan bantuan.
Hal ini merupakan perbuatan mulia yang berkaitan dengan makhluk.
Untuk itulah salat dan zakat sering disebutkan secara bergandengan.


Di dalam kitab Sahihain dari Ibnu Umar r.a., dari Rasulullah disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Aku diperintahkan untuk memerangi orang-orang hingga mereka mau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, dan menunai­kan zakat.

Abu Ishaq telah meriwayatkan dari Abu Ubaidah, dari Abdullah ibnu Mas’ud r.a. yang mengatakan,
"Kalian diperintahkan untuk mendirikan salat dan menunaikan zakat.
Barang siapa yang tidak mau menunaikan zakat, maka salatnya tidak diterima."

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa Allah tidak mau menerima salat kecuali dengan zakat.
Dan ia mengatakan,
"Semoga Allah merahmati Abu Bakar, alangkah mendalamnya ilmu fiqihnya."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Humaid At-Tawil, dari Anas, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:
Aku diperintahkan untuk memerangi orang-orang hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Apabila mereka mau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan mereka menghadap ke arah kiblat kami, memakan sembelihan kami, dan mengerjakan salat kami, maka sesungguhnya telah diharamkan bagiku darah dan harta benda mereka kecuali menurut haknya, mereka mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan kaum muslim.

Imam Bukhari di dalam kitab Sahih-nya dan ahlus sunan —kecuali Ibnu Majah—telah meriwayatkannya melalui hadis Abdullah ibnul Mubarak dengan sanad yang sama.

Imam Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul A’la ibnu Wasil Al-Asadi, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Ar-Razi, dari Ar-Rabi’ ibnu Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:
Barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan ikhlas kepada Allah semata dan menyembah-Nya serta tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, maka ia meninggal dunia sedangkan Allah rida kepadanya.


Ar-Rabi’ ibnu Anas mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah berpegang kepada agama Allah yang didatangkan serta disampaikan oleh para rasul dari Tuhan mereka sebelum terjadi kekacauan dan perbedaan kecenderungan (yakni sebelum diubah oleh para pengikutnya sepeninggal mereka).
Hal yang membenarkan hal tersebut ada di dalam Kitabullah pada bagian yang paling akhir diturunkan, yaitu firman-Nya:

Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka.

Tobat mereka menghentikan penyembahan semua berhala, lalu beribadah (menyembah) Tuhan mereka (yakni Allah), mendirikan salat dan menunaikan zakat, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman di dalam ayat lain:

Jika mereka bertobat, mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudara kalian seagama.
(QS. At-Taubah [9]: 11)

Ibnu Murdawaih dan Muhammad ibnu Nasr Al-Marwazi telah meriwayatkannya di dalam Kitabus Salat-nya bahwa telah mencerita­kan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Hakam ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Abu Jafar Ar-Razi dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal.

Ayat yang mulia ini disebut ayat saif ‘(ayat perang) yang dikatakan oleh Ad-Dahhak ibnu Muzahim, bahwa ayat ini me-mansukh semua perjanjian perdamaian antara Nabi ﷺ dan semua orang dari kalangan kaum musyrik, begitu pula semua transaksi dan semua batas masa perjanjian.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan ayat ini, bahwa tidak ada lagi perjanjian dan tidak ada lagi jaminan terhadap seorang pun dari kalangan kaum musyrik sejak surat Bara’ah diturunkan dan berlalunya bulan-bulan haram (suci).
Sedangkan masa tangguh bagi orang musyrik yang mempunyai perjanjian perdamaian sebelum diturunkan surat Bara’ah ialah empat bulan, dimulai sejak dipermaklumatkan surat Bara’ah sampai dengan tanggal sepuluh dari permulaan bulan Rabi’ul Akhir.

Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubung­an dengan makna ayat ini, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala, memerintahkan Nabi ﷺ untuk mengangkat senjata terhadap orang-orang yang telah mengadakan perjanjian perdamaian dari kalangan kaum musyrik jika mereka tidak mau masuk Islam, dan terhadap orang-orang yang berani merusak dan melanggar perjanjian serta jaminannya, dan menghapuskan syarat yang pertama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Musa Al-Ansari yang mengatakan bahwa Sufyan ibnu Uyaynah mengatakan,
"Ali ibnu Abu Talib pernah menceritakan bahwa Nabi ﷺ telah mengirimkan empat pedang.
Pedang yang pertama ditujukan terhadap orang-orang musyrik Arab."
Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman:
maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kalian jumpai mereka.
(QS. At-Taubah [9]:5)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim secara ringkas.

Menurut kami, pedang yang kedua ditujukan untuk memerangi kaum Ahli Kitab, karena Allah subhanahu wa ta’ala, telah berfirman:

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh, sedangkan mereka dalam keadaan tunduk.
(QS. At-Taubah [9]: 29)

Pedang yang ketiga untuk memerangi orang-orang munafik, seperti yang disebutkan di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu.
(QS. At-Taubah [9]:73), hingga akhir ayat.

Pedang yang keempat untuk memerangi para pemberontak, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya.
Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.
(QS. Al-Hujuraat:9)

Kemudian ulama tafsir berbeda pendapat tentang ayat saif ini.
Menurut Ad-Dahhak dan As-Saddi, ayat saif ini dimansukh oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala, yang mengatakan:

dan sesudah itu kalian boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti.
(Muhammad:4)

Tetapi Qatadah berpendapat sebaliknya.

Kata Pilihan Dalam Surah At Taubah (9) Ayat 5

ASYHURUL HURUM
أَشْهُرُ ٱلْحُرُم

Lafaz di atas terdiri dari dua kata.
Pertama, lafaz asyhur dan kedua lafaz al hurum. Makna lafaz asyhur sudah dijelaskan, sedangkan al hurum adalah lafaz dalam bentuk jamak, mufradnya adalah al hirm atau al haram yaitu lawan al halal (halal) atau al mamnu (yang dilarang).

Al baitul haram adalah Ka’bah, Al Masjidil Haram ialah masjid yang di dalamnya Ka’bah dan al baladul haram artinya Makkah."

Atau ia jamak al harim yang memiliki makns apa yang diharamkan dan belum dipegang atau tempat yang luas di sekeliling istana raja yang perlu dijaga.

Lafaz asyhurul hurum disebut sekali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah At Taubah (9), ayat 5. Para ulama sepakat menyatakan makna asyhur al hurum ialah bulan-bulan yang mana orang Arab melarang diri mereka dari berperang.
Ia terdiri daripada empat bulan yaitu Zulkaedah, Zulhijjah, Muharam dan Rajab,

Az Zamakhsyari dan Ibn Katsir mendatangkan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ismail, dari Ayyub, dari Muhammad bin Sirin, dari Abi Bakrah, Nabi Muhammad berkhutbah ketika melaksanakan hajinya, beliau berkata,
"Ingatlah, zaman beredar seperti biasanya semenjak Allah mencipta langit dan bumi, satu tahun terdiri dari 12 bulan, antaranya empat yang haram yaitu tiga bulan daripadanya berurutan yaitu Zulkaedah, Zulhijjah dan Muharram, serta Rajab yang berada di antaraJumadi dan Sya’ban"

Dalam ayat di atas, beliau menafsirkan apabila berakhir empat bulan yang Kami haramkan kamu bagi mereka, maka perangilah mereka.
Sebagaimana juga yang diriwayatkan oleh At Tabari dari Ibn ‘Umar, Abu Hurairah, Abi Bakrah, Abi Najih, Qatadah" dan As-Suddi," Beliau mengungkapkan orang Arab jahiliyah mengagungkan dan memuliakan empat bulan itu serta mengharamkan di dalamnya berperang sesama mereka.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 78-79

Unsur Pokok Surah At Taubah (التوبة‎‎)

Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan.

Dinamakan juga dengan "Baraah" yang berarti berlepas diri, yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh ‘Ali radhiyallahu ‘anhu pada musim musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

▪ Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman.
▪ Pembalasan atas amal amalan manusia hanya dari Allah.
▪ Segala sesuatu menurut sunnatullah.
▪ Perlindungan Allah bagi orang-orang yang beriman.
▪ Kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

▪ Kewajiban menafkahkan harta.
▪ Macam-macam harta dalam agama serta penggunaannya.
Jizyah.
▪ Perjanjian dan perdamaian.
▪ Kewajiban umat Islam terhadap Nabinya.
▪ Sebab-sebab orang Islam melakukan perang total.
▪ Beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad ﷺ dengan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
Perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
Perang Tabuk.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.

Audio

QS. At-Taubah (9) : 1-129 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 129 + Terjemahan Indonesia

QS. At-Taubah (9) : 1-129 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 129

Gambar Kutipan Ayat

Surah At Taubah ayat 5 - Gambar 1 Surah At Taubah ayat 5 - Gambar 2
Statistik QS. 9:5
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah At Taubah.

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, “Pengampunan”‎) adalah surah ke-9 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti “Pengampunan” karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara’ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah9
Nama SurahAt Taubah
Arabالتوبة‎‎
ArtiPengampunan
Nama lainAl-Bara’ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu113
JuzJuz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat129
Jumlah kata2506
Jumlah huruf11116
Surah sebelumnyaSurah Al-Anfal
Surah selanjutnyaSurah Yunus
Sending
User Review
4.9 (15 votes)
Tags:

9:5, 9 5, 9-5, Surah At Taubah 5, Tafsir surat AtTaubah 5, Quran At-Taubah 5, Surah At Taubah ayat 5

▪ QS 9:5 ▪ qs attaubah [9] : 5 ▪ qs 9 5 ▪ qs 9::5 ▪ tafsir jalalain at taubah 5
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Ayat Lainnya

QS. Al Anbiyaa (Nabi-Nabi) – surah 21 ayat 112 [QS. 21:112]

112. Selama 13 tahun di Mekah Rasulullah bersikap diam tanpa perla-wanan menghadapi penindasan, pengusiran, pemboikotan dan rencana pembunuhan orang-orang kafir Mekah kepada beliau dan para sahabat hi … 21:112, 21 112, 21-112, Surah Al Anbiyaa 112, Tafsir surat AlAnbiyaa 112, Quran Al-Anbya 112, Al Anbiya 112, Alanbiya 112, Al-Anbiya’ 112, Surah Al Anbiya ayat 112

QS. Al Qashash (Kisah) – surah 28 ayat 62 [QS. 28:62]

62. Dan ingatlah dan ingatkan pula umatmu, wahai Nabi Muhammad, tentang siksa yang akan dialami oleh orang-orang musyrik di akhirat kelak, yaitu pada hari ketika mereka berdiri di hadapan Allah untuk … 28:62, 28 62, 28-62, Surah Al Qashash 62, Tafsir surat AlQashash 62, Quran AlQasas 62, Al Qasas 62, AlQasas 62, Al-Qasas 62, Surah Al Qasas ayat 62

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Nama anak lelaki Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Nama Ibu susuan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam lahir pada bulan ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lahir pada Senin, 12 Rabiul Awal, di Tahun Gajah. Lalu pada tanggal 17 Rabiul Awal ini merupakan hari ketika Rasulullah hijrah atau meninggalkan Mekkah menuju Madinah.

+

Array

Masyarakat Mekkah pada awal nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam berdakwah waktu itu sedang dilanda berbagai krisis, dan yang paling menonjol adalah krisis ...

Benar! Kurang tepat!

Nama isteri Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam selepas Khadijah ialah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #12
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #12 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #12 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #10

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di kota Mekah kurang lebih selama … 13 tahun 23 tahun 33 tahun

Pendidikan Agama Islam #12

Nama anak lelaki Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … Ali Hamzah Umar Hassan Qasim Benar! Kurang tepat! Nama

Pendidikan Agama Islam #21

Salah satu contoh hikmah beriman kepada qada bagi siswa adalah … jajan di kantin sekolah datang ke sekolah tepat waktu

Instagram