QS. At Taubah (Pengampunan) – surah 9 ayat 41 [QS. 9:41]

اِنۡفِرُوۡا خِفَافًا وَّ ثِقَالًا وَّ جَاہِدُوۡا بِاَمۡوَالِکُمۡ وَ اَنۡفُسِکُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکُمۡ خَیۡرٌ لَّکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ
Anfiruu khifaafan watsiqaaalan wajaahiduu biamwaalikum wa-anfusikum fii sabiilillahi dzalikum khairun lakum in kuntum ta’lamuun(a);

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah.
Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
―QS. 9:41
Topik ▪ Sikap orang-orang arab badui terhadap Islam
9:41, 9 41, 9-41, At Taubah 41, AtTaubah 41, At-Taubah 41

Tafsir surah At Taubah (9) ayat 41

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Taubah (9) : 41. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini diterangkan bahwa berperang itu bukan lagi anjuran, tetapi wajib sehingga tidak seorang muslim pun yang dibenarkan untuk tidak ikut berperang.
Tiap-tiap orang yang sehat, tua, kaya dan miskin wajib tampil ke medan juang untuk membela Islam dan menegakkan kebenaran.
Orang-orang yang uzur yang dibenarkan syarak, seperti terlalu tua, lemah fisiknya, tak berdaya lagi, sakit keras dan lain-lain karena mereka akan menjadi beban saja apabila diikutsertakan dalam peperangan, tidak diwajibkan ikut berperang.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang lemah, orang-orang sakit dan orang-orang yang tidak memperoleh apa yang mereka nafkahkan apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya.
(Q.S. At-Taubah [9]: 91)

Mereka diperintahkan berjihad dan berperang melawan musuh-musuh Allah dan musuh-musuh agama-Nya, mendermakan harta dan dirinya untuk menegakkan keadilan meninggikan kalimat Allah.
Baik tampil ke medan perang maupun berjihad dengan harta dan jiwanya dengan maksud menjunjung tinggi derajat umat dan agama adalah lebih baik kalau betul-betul mengetahui akibat perbuatannya yang baik itu karena yang demikian tidak saja menjadi kebahagiaan mereka di dunia ini, tetapi juga menjadi kebahagiaan abadi kelak di akhirat.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hai orang-orang Mukmin, apabila datang seruan untuk berjihad, sambutlah seruan itu, baik secara pribadi maupun kelompok–sesuai dengan keadaan masing-masing–dengan semangat tempur dan kekuatan senjata.
Berjihadlah dengan harta dan jiwa untuk meninggikan agama Allah, karena dalam berjihad terdapat kekuatan dan kebaikan bagi kalian, apabila kalian mengetahuinya dengan baik dan benar[1].

[1] Di antara makna yang dimaksudkan di sini adalah “Pergilah untuk berperang dengan berkendaraan atau berjalan kaki, dengan peralatan perang yang ringan maupun berat.” Hal ini termasuk dalam taktik perang yang telah dikenal pada saat ini, di mana senjata- senjata ringan seperti pedang, digunakan untuk berperang dengan tentara, sedang senjata-senjata berat digunakan untuk menghancurkan benteng-benteng pertahanan musuh.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Berangkatlah kalian baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat) dalam keadaan bersemangat atau pun dalam keadaan tidak bersemangat.

Menurut penafsiran yang lain dikatakan bahwa arti ayat ini ialah baik dalam keadaan kuat maupun dalam keadaan lemah atau baik dalam keadaan berkecukupan maupun dalam keadaan kekurangan.

Akan tetapi ayat ini dinasakh oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala yang lain, yaitu, “Tiada dosa
(lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah…”
(Q.S. At-Taubah 91).

(dan berjihadlah dengan harta dan diri kalian di jalan Allah.

Yang demikian itu adalah lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui) bahwasanya hal ini lebih baik bagi diri kalian, oleh sebab itu jangan sekali-kali kalian merasa berat.

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan sikap orang-orang munafik, yaitu mereka yang enggan pergi berperang.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Hai orang-orang yang beriman, berangkatlah kalian semua untuk berjihad di jalan Allah, baik kalian yang muda maupun yang tua, baik merasa ringan maupun berat, dan bagaimanapun keadaan kalian.
Nafkahkanlah harta kalian di jalan Allah, dan berperanglah dengan diri kalian untuk menegakkan kalimat Allah.
Semua itu (keluar untuk berjihad dan menafkahkan harta) lebih baik bagi dunia dan akhirat kalian, daripada kemalasan kalian penahanan harta, dan berpaling dari berjihad, jika kalian mengetahui keutamaan berjihad dan pahala yang akan Allah berikan.
Kerjakanlah apa yang diperintahkan pada kalian dan jawablah seruan Allah dan Rasul-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari ayahnya, dari Abud Duha Muslim ibnu Sabih sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu firman-Nya:

Berangkatlah kalian, baik dalam keadan merasa ringan ataupun merasa berat.
Ayat ini adalah ayat yang mula-mula diturunkan dari surat Bara’ah.

Mu’tamir ibnu Sulaiman telah meriwayatkan dari ayahnya yang mengatakan bahwa Hadrami menduga sejumlah orang telah menceritakan kepadanya bahwa barangkali ada seseorang di antara mereka yang sakit dan berusia lanjut.
Lalu ia mengatakan, “Sesungguhnya aku tidak berdosa.” Maka Allah menurunkan firman-Nya:

Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat.

Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
memerintahkan untuk mobilisasi umum ikut dengan Rasulullah ﷺ pada tahun Perang Tabuk untuk memerangi musuh-musuh Allah dari kalangan orang-orang Romawi yang kafir dari Ahli Kitab.
Allah mengharuskan kaum mukmin untuk berangkat berperang bersama Rasulullah ﷺ dalam keadaan apa pun, baik ia dalam keadaan semangat maupun dalam keadaan malas, dan baik dalam keadaan sulit maupun dalam keadaan mudah.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat.

Ali ibnu Zaid telah meriwayatkan dari Anas, dari Abu Talhah, bahwa baik telah berusia tua maupun masih berusia muda semuanya harus berangkat, Allah tidak mau mendengar alasan dari seseorang pun.
Kemudian Abu Talhah berangkat menuju Syam dan berjihad hingga gugur.

Menurut riwayat lain, Abu Talhah membaca surat Bara’ah, lalu bacaannya itu sampai pada firman-Nya:

Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan diri kalian di jalan Allah.

Lalu ia berkata, “Saya berpendapat bahwa Tuhan kita telah meme­rintahkan kepada kita untuk berangkat berperang, baik yang telah berusia tua maupun yang masih muda.
Hai anak-anakku persiapkanlah perbekalan untukku!” Maka anak-anaknya berkata, “Semoga Allah merahmatimu.
Sesungguhnya engkau telah ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ hingga beliau wafat, dan bersama Abu Bakar hingga ia wafat, juga bersama Umar hingga ia wafat.
Maka biarkanlah kami yang berperang sebagai ganti darimu, wahai ayah.” Tetapi Abu Talhah menolak.
Maka ia pergi berjihad dengan menaiki kapal laut, lalu ia gugur.
Mereka yang bersamanya tidak menemukan suatu pulau pun untuk mengebumikan jenazahnya, kecuali sesudah sembilan hari.
Tetapi selama itu jenazahnya tidak membusuk.
Lalu mereka mengebumikannya di pulau yang baru mereka jumpai itu.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ikrimah, Abu Saleh, Al-Hasan Al-Basri.
Suhail ibnu Atiyyah, Muqatil ibnu Hayyan, Asy-Sya’bi, dan Zaid ibnu Aslam, bahwa mereka telah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini:

Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat.
Yakni baik telah berusia lanjut maupun berusia muda, semuanya harus berangkat.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah, Ad-Dahhak, Muqatil ibnu Hayyan dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, Mujahid mengatakan bahwa baik berusia muda maupun berusia tua.
dan baik kaya maupun miskin, semuanya harus berangkat.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Abu Saleh dan lain-lainnya.
Al-Hakam ibnu Utaibah mengatakan, baik dalam keadaan sibuk maupun dalam keadaan tidak sibuk.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat.
Artinya, berangkatlah kalian, baik dalam keadaan semangat ataupun dalam keadaan tidak bersemangat.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah.

Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya:

Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat.
Para sahabat mengatakan, di kalangan kami terdapat orang yang keberatan, orang yang mempunyai keperluan, orang yang miskin, orang yang sibuk, dan orang yang keadaannya mudah.
Maka Allah menurunkan firman-Nya menolak alasan mereka.
Tiada lain bagi mereka kecuali harus berangkat, baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat.
Yakni mereka tetap harus berangkat dalam keadaan apa pun yang mereka alami.

Al-Hasan ibnu Abul Hasan Al-Basri mengatakan pula bahwa baik dalam keadaan mudah ataupun dalam keadaan sulit, tetap harus berangkat.
Semua pendapat di atas berpandangan kepada pengertian umum yang terkandung di dalam ayat, dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Imam Abu Amr Al-Auza’i mengatakan, “Apabila perintah untuk berangkat berjihad ke arah negeri Romawi, maka semua orang yang merasa ringan dan berkendaraan harus berangkat.
Dan apabila perintah untuk berangkat berjihad ditujukan ke arah pantai-pantai ini, maka semua orang harus berangkat, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan baik mempunyai kendaraan ataupun jalan kaki.” Pendapat ini mengandung pengertian rincian tentang masalah tersebut.

Ibnu Abbas, Muhammad ibnu Ka’b, Ata Al-Khurrasani, dan lain-lainnya mengatakan bahwa ayat ini telah di-mansukh oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang.
(Q.S. At-Taubah [9]: 122)

Pembahasannya akan diterangkan kemudian.

As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat.
Baik dalam keadaan kaya ataupun miskin, dan baik dalam keadaan kuat ataupun lemah.
Pernah datang kepada beliau ﷺ seorang lelaki pada hari itu juga.
Mereka (para perawi) menduga bahwa lelaki itu adalah Al-Miqdad, seorang yang gemuk lagi besar.
Lalu Al-Miqdad mengadu kepada Rasulullah ﷺ tentang kegemukannya itu, dan meminta izin kepada beliau untuk tidak ikut berangkat.
Tetapi beliau menolak, dan pada hari itu juga turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat.
Setelah ayat ini diturunkan, para sahabat merasa keberatan dengan perintah itu.
Maka Allah me-mansukh-nya dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Tidak dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit, dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya.
(Q.S. At-Taubah [9]: 91)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Muhammad yang mengatakan bahwa Abu Ayyub ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Badar, kemudian ia tidak pernah ketinggalan dalam suatu peperangan pun bersama kaum muslim, kecuali sekali.
Abu Ayyub apabila membacakan firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat.
Lalu ia berkata, “Tiada pilihan lain bagiku kecuali harus berangkat berperang, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat.”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Sa’id ibnu Amr As-Sukuni, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, telah menceritakan kepada kami Jarir, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Maisarah, telah menceritakan kepadaku Abu Rasyid Al-Harrani yang mengatakan bahwa ia bersua dengan Al-Miqdad ibnul Aswad —seorang pasukan berkuda Rasulullah ﷺ— sedang duduk di atas sebuah peti uang di Himsa.
Ia kelihatan jauh lebih besar daripada peti yang didudukinya itu karena tubuhnya yang gemuk lagi besar, saat itu ia hendak pergi berperang.
Lalu aku (perawi) bertanya, “Sesungguh­nya Allah telah memberi maaf terhadap orang yang keadaannya seperti engkau ini.” Maka ia menjawab, “Telah diturunkan kepada kami surat Al-Bu’us (yakni ayat yang memerintahkan berangkat untuk berperang),” yaitu firman-Nya:

Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Hibban ibnu Zaid Asy-Syar’ubi yang’mengatakan, “Kami berangkat berperang bersama Safwan ibnu Amr yang saat itu menjabat sebagai wali kota Himsa.
Kami akan menuju ke arah Afsus sampai ke Jarajimah.
Kemudian di antara orang-orang yang berangkat itu aku melihat seorang lelaki yang sangat tua.
Karena usianya yang sangat tua itu kedua alis matanya hampir menutupi kedua matanya.
Ia dari kalangan penduduk kota Dimasyq.
Ia datang dengan mengendarai unta kendaraannya.
Lalu aku menghadap (mendekat) kepadanya dan berkata, ‘Hai paman sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada orang yang seusiamu ini.’ Lelaki tua itu menjawab seraya mengerenyitkan kedua alisnya, ‘Hai anak saudaraku, Allah telah memerintahkan kepada kita untuk berangkat berperang, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat.
Ingatlah, sesungguhnya orang yang disukai oleh Allah pasti akan diberi cobaan, kemudian Allah mengembalikannya dan mengekalkannya.
Dan sesungguhnya Allah itu mencoba hamba-hamba-Nya hanyalah kepada orang yang bersyukur, bersabar, dan berzikir, dan tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.’.”

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala.
menganjurkan untuk berinfak di jalan-Nya dan mengorbankan jiwa dan raga untuk memperoleh rida Allah dan Rasul-Nya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan berjihadlah dengan harta dan diri kalian di jalan Allah.
Yang demikian itu adalah lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.

Maksudnya, hal itu lebih baik bagi kalian di dunia dan akhirat, karena kalian membelanjakan harta yang sedikit, lalu Allah memberi kalian ganimah yang banyak dari musuh kalian di dunia, selain pahala kemulia-an yang kalian simpan di akhirat nanti di sisi-Nya, seperti apa yang telah disebutkan oleh Nabi ﷺ dalam salah satu hadisnya:

Allah menjamin bagi orang yang berjihad di jalan-Nya, jika Allah mewafatkannya, bahwa Dia akan memasukkannya ke dalam surga, atau mengembalikannya ke rumahnya (dalam keadaan selamat) dengan menggondolpahala atau ganimah (harta rampasan perang).

Karena itulah dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya:

Diwajibkan atas kalian berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kalian benci.
Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia amat baik bagi kalian, dan boleh jadi (pula) kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian.
Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.
(Al Baqarah:216)

Termasuk pula ke dalam pengertian ini sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Addi, dari Humaid, dari Anas, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda kepada seorang lelaki, “Masuk Islamlah kamu!” Lelaki itu menjawab, “Saya masih belum suka.” Rasulullah ﷺ bersabda:

Masuk Islamlah kamu, sekalipun dirimu belum suka.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah At Taubah (9) Ayat 41

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Hadlrami bahwa di antara kaum Muslimin mungkin terdapat orang-orang yang sakit atau lemah karena tua, sehingga merasa berdosa tidak ikut perang sabil.
Maka Allah menurunkan ayat ini (Baraa’ah: 41) yang memerintahkan berangkat perang, baik dengan perasaan ringan ataupun berat.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah At Taubah (9) Ayat 41

TSIQAAL
ثِقَال

Lafaz tsiqaaal adalah jamak, mufradnya adalah tsaqil. Mu’annatsnya tsaqilah dan jamaknya tsaqiilaat.

Kata tsaqiil mengandung makna lawan dari khafif (ringan), bekalan para musafir, susah dibawa atau digerakkan baiki itu secara materi maupun maknawi seperti nawmuhu tsaqiil. Ia juga berarti keadaan yang sukar, bahaya dan genting.

Tsaqilus sam’i berarti pendengarannya sukar.

Tsaqiilul fahm bermakna bodoh dan sebagainya

Lafaz tsiqaal disebut tiga kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al A’raaf (7), ayat 57;
-At Taubah (9), ayat 41;
-Ar Rad (13), ayat 12.

Lafaz tsiqaal mengandung dua makna berdasarkan konteks ayat yaitu :
– Sahaaban tsiqaalan seperti dalam surah Al A’raaf

تَّىٰٓ إِذَآ أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَٰهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ

Sahaaban bermakna awan dan tsiqaal berarti berat.

Sa’id Hawwa menyatakan, sahaaban tsiqaalan ialah air.

Muhammad Rasyid Rida mengungkapkan, sahaab ialah awan, sedangkan ats tsiqaal minhu (berat dengannya) disebabkan oleh ter­himpunnya air yang menguap atau naik ke atas, maksudnya awan yang tebal hasil dari uap air yang naik.

Tafsirannya, Allah yang mentadbir semua urusan makhluknya yang me­ngirimkan angin untuk membentuk awan yang tebal dan menurunkan air hujan bagi hamba-hamba Nya sebagai rahmat buat mereka.

Allah berfirman,

ٱنفِرُوا۟ خِفَافًا وَثِقَالًا

Lafaz tsiqaal pada ayat ini berkenaan dengan perkara jihad.

Dalam Tafsir Al Maraghi, tsiqaal dalam ayat ini bermakna pergilah berjihad dalam ke­adaan yang berat seperti dalam keada­an sakit, sedikit harta, sibuk, miskin, sedikit anak, malas, tua, kurus dan sebagainya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:122-123

Informasi Surah At Taubah (التوبة‎‎)
Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat tennasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan berhubung kata At Taubah berulang kali disebut dalam surat ini.

Dinamakan juga dengan “Baraah” yang berarti berlepas diri yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh ‘Ali r.a.
pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman
pembalasan atas amal­ amalan manusia hanya dari Allah
segala sesuatu menurut sunnatullah
perlin­dungan Allah bagi orang-orang yang beriman
kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

Kewajiban menafkahkan harta
macam-macam harta dalam agama serta peng­gunaannya
jizyah
perjanjian dan perdamaian
kewajiban umat Islam terhadap Nabinya
sebab-sebab orang Islam melakukan perang total
beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad s.aw. dengan Abu Bakar r.a. di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
perang Tabuk.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.

Audio

Qari Internasional

Q.S. At-Taubah (9) ayat 41 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. At-Taubah (9) ayat 41 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. At-Taubah (9) ayat 41 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. At-Taubah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 129 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 9:41
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah At Taubah.

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, "Pengampunan"‎) adalah surah ke-9 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti "Pengampunan" karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara'ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad S.A.W kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah 9
Nama Surah At Taubah
Arab التوبة‎‎
Arti Pengampunan
Nama lain Al-Bara'ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 113
Juz Juz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 129
Jumlah kata 2506
Jumlah huruf 11116
Surah sebelumnya Surah Al-Anfal
Surah selanjutnya Surah Yunus
4.7
Ratingmu: 4.5 (9 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/9-41







Pembahasan ▪ Q S 9:41 ▪ 9:41

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta