QS. At Taubah (Pengampunan) – surah 9 ayat 38 [QS. 9:38]

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَا لَکُمۡ اِذَا قِیۡلَ لَکُمُ انۡفِرُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اثَّاقَلۡتُمۡ اِلَی الۡاَرۡضِ ؕ اَرَضِیۡتُمۡ بِالۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا مِنَ الۡاٰخِرَۃِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا فِی الۡاٰخِرَۃِ اِلَّا قَلِیۡلٌ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu maa lakum idzaa qiila lakumuunfiruu fii sabiilillahiits-tsaaqaltum ilal ardhi aradhiitum bil hayaatiddunyaa mina-aakhirati famaa mataa’ul hayaatiddunyaa fii-aakhirati ilaa qaliilun;

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kamu,
“Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah,”
kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu?
Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat?
Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.
―QS. 9:38
Topik ▪ Zuhud ▪ Singkatnya umur dunia ▪ Allah memiliki kunci alam ghaib
9:38, 9 38, 9-38, At Taubah 38, AtTaubah 38, At-Taubah 38
English Translation - Sahih International
O you who have believed, what is (the matter) with you that, when you are told to go forth in the cause of Allah, you adhere heavily to the earth?
Are you satisfied with the life of this world rather than the Hereafter?
But what is the enjoyment of worldly life compared to the Hereafter except a (very) little.
―QS. 9:38

 

Tafsir surah At Taubah (9) ayat 38

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Taubah (9) : 38. Oleh Kementrian Agama RI

Pada tahun ke-9 Hijri, Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan kaum Muslimin agar bersiap-siap menghadapi serangan orang-orang Nasrani di Tabuk, suatu tempat yang terletak antara Madinah dengan Damaskus, lebih kurang 610 km dari Madinah dan 692 km dari Damaskus.
Pada saat sekarang berada di wilayah Kerajaan Saudi Arabia, daerah perbatasan dengan Yordania.
Perintah persiapan ini didasarkan atas berita yang sampai kepada kaum Muslimin dari kaum Nibthi yang membawa dagangan minyak negeri Syam, bahwa bangsa Romawi bersama kaum Nasrani Arab yang terdiri dari kaum Lakhm, Judzam dan lain-lain yang jumlahnya kira-kira 40 ribu orang, lengkap dengan persenjataan dan perbekalan serta dipimpin seorang panglima besar bernama Qubaz telah siap untuk menyerbu kota Madinah, memerangi kaum Muslimin.
Barisan perintis mereka sudah sampai di perbatasan yang bernama Baqlas.
Merupakan kebiasaan Nabi Muhammad ﷺ apabila akan menghadapi perang, demi kemaslahatan ia merahasiakan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan.
Tetapi kali ini Nabi Muhammad ﷺ secara terbuka memberi tahu kaum Muslimin tentang keadaan yang serba sulit dan susah, serta kekurangan, jauhnya jarak yang ditempuh, dan jumlah bala tentara dan kekuatan musuh yang akan dihadapi, agar mereka benar-benar mengadakan persiapan yang mantap.

Kaum Muslimin yang imannya teguh, kuat membaja, tanpa memikir keadaan yang serba sulit serta menyedihkan, bersiap-siap menunggu komando pemberangkatan.
Para dermawan tidak segan-segan menyumbang-kan kekayaannya untuk kepentingan jihad fisabilillah.
Utsman bin Affan menyumbang 10.000 dinar, 300 unta, lengkap dengan persenjataannya dan 50 kuda.
Abu Bakar as-Siddiq menyumbangkan semua kekayaannya yaitu 4.000 dirham.
Nabi Muhammad ﷺ bertanya,
“Apakah masih ada sesuatu yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?”
Beliau menjawab,
“Yang saya tinggalkan untuk keluargaku ialah Allah dan Rasul-Nya.”
Umar bin Khathab menyumbang seperdua dari harta kekayaannya.

Ashim bin ‘Adi menyumbangkan 70 wasaq kurma (satu wasaq = 60 gantang, 150 liter).
Kaum ibu juga tidak mau ketinggalan:
perhiasan emas mereka berupa gelang, anting-anting, kalung, dan lain sebagainya, disumbangkan dengan penuh keikhlasan demi suksesnya perjuangan kaum Muslimin.
Setelah segala sesuatunya dianggap siap, berangkatlah Nabi Muhammad ﷺ memimpin sebuah ekspedisi bersama 30.000 orang menuju Tabuk.
Muhammad bin Maslamah ditunjuk oleh Rasulullah ﷺ untuk mengurus kota Madinah dan beliau mempercayakan kepada Ali bin Abi thalib mengurus rumah tangganya.

Di samping itu ada beberapa tentara Muslimin yang bermalas-malasan dan enggan ikut serta pergi ke Tabuk dengan dalih antara lain, bahwa belum lama mereka kembali dari Perang hunain dan thaif.
Juga pada waktu itu musim panas sedang sangat teriknya, musim paceklik, sukar memperoleh kebutuhan sehari-hari seperti makanan dan lain sebagainya.
Karena sulitnya mendapat makanan sebiji kurma dibagikan untuk makanan dua orang, sedang pada waktu itu buah-buahan di Madinah seperti kurma sudah mulai masak, dan tak lama lagi bisa dipetik.

Ayat ini mencela dan mengutuk perbuatan orang-orang yang enggan berperang meskipun situasi memang sangat sulit.
Dari kejadian ini dapat diketahui dengan jelas, siapa di antara kaum Muslimin yang benar-benar beriman, dan siapa di antara mereka yang munafik, yang hanya pura-pura beriman.
Salah satu tanda bahwa iman seseorang itu benar ialah dia rela mengorbankan harta dan kalau perlu jiwanya untuk jihad di jalan Allah, sebagaimana firman Allah ﷻ:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah.
Mereka itulah orang-orang yang benar.
(al-Hujurat [49]: 15)

Sedangkan orang-orang munafik yang hanya pura-pura beriman, lebih mengutamakan kesenangan hidup di dunia daripada kebahagiaan di akhirat kelak yang sifatnya kekal abadi.
Padahal kesenangan di dunia bagaimanapun hebatnya tidaklah mempunyai arti apa-apa jika dibandingkan dengan kebahagiaan di akhirat.
Sabda Rasulullah ﷺ:

Demi Allah tiadalah dunia ini (jika dibandingkan) dengan akhirat kecuali (hanya) seperti salah seorang kamu yang mencelupkan jarinya ke dalam laut, kemudian diangkatnya.
Maka lihatlah apa yang hanya terbawa oleh jarinya.
(Riwayat Muslim, Ahmad dan at-Tirmidzi dari al-Miswar)