Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. At Taubah (Pengampunan) – surah 9 ayat 37 [QS. 9:37]

اِنَّمَا النَّسِیۡٓءُ زِیَادَۃٌ فِی الۡکُفۡرِ یُضَلُّ بِہِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا یُحِلُّوۡنَہٗ عَامًا وَّ یُحَرِّمُوۡنَہٗ عَامًا لِّیُوَاطِـُٔوۡا عِدَّۃَ مَا حَرَّمَ اللّٰہُ فَیُحِلُّوۡا مَا حَرَّمَ اللّٰہُ ؕ زُیِّنَ لَہُمۡ سُوۡٓءُ اَعۡمَالِہِمۡ ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡکٰفِرِیۡنَ
Innamaannasiyu ziyaadatun fiil kufri yudhallu bihil-ladziina kafaruu yuhilluunahu ‘aaman wayuharrimuunahu ‘aaman liyuwaathi-uu ‘iddata maa harramallahu fayuhilluu maa harramallahu zui-yina lahum suwu a’maalihim wallahu laa yahdiil qaumal kaafiriin(a);
Sesungguhnya pengunduran (bulan haram) itu hanya menambah kekafiran.
Orang-orang kafir disesatkan dengan (pengunduran) itu, mereka menghalalkannya suatu tahun dan mengharamkannya pada suatu tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang diharamkan Allah, sekaligus mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah.
(Setan) dijadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan buruk mereka.
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
―QS. At Taubah [9]: 37

Daftar isi

Indeed, the postponing (of restriction within sacred months) is an increase in disbelief by which those who have disbelieved are led (further) astray.
They make it lawful one year and unlawful another year to correspond to the number made unlawful by Allah and (thus) make lawful what Allah has made unlawful.
Made pleasing to them is the evil of their deeds;
and Allah does not guide the disbelieving people.
― Chapter 9. Surah At Taubah [verse 37]

إِنَّمَا sesungguhnya hanyalah

Indeed,
ٱلنَّسِىٓءُ mengundur-undurkan

the postponing
زِيَادَةٌ menambah

(is) an increase
فِى dalam

in
ٱلْكُفْرِ kekafiran

the disbelief,
يُضَلُّ disesatkan

are led astray
بِهِ dengannya

by it
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

those who
كَفَرُوا۟ kafir/ingkar

disbelieve.
يُحِلُّونَهُۥ mereka menghalalkannya

They make it lawful
عَامًا suatu tahun

one year
وَيُحَرِّمُونَهُۥ dan mereka mengharamkannya

and make it unlawful
عَامًا tahun yang lain

(another) year,
لِّيُوَاطِـُٔوا۟ agar mereka menyesuaikan

to adjust
عِدَّةَ bilangan

the number
مَا apa

which
حَرَّمَ mengharamkan

has made unlawful
ٱللَّهُ Allah

Allah
فَيُحِلُّوا۟ maka mereka menghalalkan

and making lawful
مَا apa

what
حَرَّمَ mengharamkan

has made unlawful
ٱللَّهُ Allah

Allah
زُيِّنَ dihiasi

Is made fair-seeming
لَهُمْ bagi mereka

to them
سُوٓءُ seburuk-buruk

(the) evil
أَعْمَٰلِهِمْ perbuatan mereka

(of) their deeds.
وَٱللَّهُ dan Allah

And Allah
لَا tidak

(does) not
يَهْدِى memberi petunjuk

guide
ٱلْقَوْمَ kaum

the people –

Tafsir

Alquran

Surah At Taubah
9:37

Tafsir QS. At Taubah (9) : 37. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini menerangkan bahwa pengunduran keharaman (kesucian) bulan kepada bulan berikutnya seperti pengunduran bulan Muharam ke bulan Safar dengan maksud agar pada bulan Muharam itu diperbolehkan berperang, adalah suatu kekafiran karena mengganggap dirinya sama dengan Tuhan dalam menetapkan hukum.


Telah jelas dan diakui semenjak Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bahwa pada bulan-bulan haram itu tidak dibolehkan berperang.

Tetapi karena orang-orang musyrikin itu tidak dapat menguasai dirinya untuk tidak berperang selama tiga bulan berturut-turut yaitu pada bulan Zulkaidah, Zulhijah dan Muharam, maka kesucian pada bulan itu digeser ke bulan lain sehinggga mereka mendapat kesempatan untuk berperang pada bulan Muharam.


Hal ini biasa mereka lakukan ketika mereka berada di Mina.

Ketika para jamaah berkumpul di sana berdirilah seorang pemimpin dari bulan Safar.
"
Lalu pemimpin itu menghalalkan bagi mereka bulan Muharam dan mengharamkan bulan Safar, dan menamakan bulan Muharam itu dengan nama lain yaitu Nasiah.


Demikianlah watak orang musyrik, karena didorong oleh keinginan dan hawa nafsu, mereka berani menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan telah berani pula mengharamkan apa yang dihalalkan, karena mereka telah dipengaruhi nafsu setan, dan tentu saja orang yang berwatak itu tidak akan mendapat petunjuk dari Allah.

Tafsir QS. At Taubah (9) : 37. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Mengakhirkan bulan-bulan haram atau sebagian bulan-bulan itu dari apa yang telah ditetapkan Allah–sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah–tidak lain hanyalah sebagai pertanda semakin larutnya mereka dalam kekufuran yang akan membuat mereka semakin tersesat.
Orang-orang Arab pada jaman jahiliyah menghalalkan bulan-bulan ini untuk membenarkan dilakukannya perperangan.


Kemudian mereka menjadikan bulan yang halal menjadi haram.
Mereka mengatakan,
"Bulan diganti dengan bulan"
agar mereka dapat menyesuaikan dengan jumlah bulan-bulan yang diharamkan Allah.


Hawa nafsu mereka memperbagus pekerjaan-pekerjaan yang buruk.
Allah tidak akan memberi petunjuk menuju jalan kebaikan kepada orang-orang yang bersikeras dalam kekufuran.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Yang dilakukan oleh bangsa Arab pada masa jahiliyah adalah mengharamkan empat bulan dalam setahun untuk berperang, akan tetapi mereka tidak membatasi dan menentukan bulan-bulan apa saja yang telah Allah haramkan itu.
Maka terkadang mereka memundur-mundurkan bulan tersebut ataupun mendahulukannya dan menjadikan bulan-bulan yang dibolehkan perang sebagai pengganti bulan-bulan yang diharamkan itu, mereka melakukannya sesuai kebutuhan dan keinginan mereka untuk melakukan peperangan.


Semuanya itu hanyalah menambah kekufuran mereka, setan menyesatkan mereka dengan itu semua.
Mereka menghalalkan peperangan pada bulan-bulan yang diharamkan itu setahun penuh dan mengharamkannya setahun penuh.


Itu semua mereka lakukan untuk menggenapkan jumlah bulan yang diharamkan, yaitu selama empat bulan.
Mereka menghalalkan apa yang telah Allah haramkan (bulan-bulan itu) dan setan menjadikan mereka menganggap baik perbuatan buruk mereka itu.


Dan Allah tidak memberi petunjuk akan pahala dan kebenaran kepada orang-orang kafir.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu) yaitu menangguhkan kesucian bulan haram tersebut kepada bulan yang lain seperti tradisi yang biasa dilakukan pada zaman jahiliah.
Mereka biasa mengakhirkan kesucian bulan Muharam, bilamana waktu bulan Muharam tiba sedangkan mereka masih dalam peperangan, maka mereka memindahkan kesucian bulan Muharam kepada bulan Safar


(adalah menambah kekafiran) karena kekafiran terhadap ketentuan hukum yang telah ditetapkan Allah dalam bulan Muharam itu


(disesatkan) dapat dibaca yadhallu dan dapat pula dibaca yadhillu


(orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkan) perbuatan mengundur-undurkan itu


(pada suatu tahun dan mereka mengharamkannya pada tahun yang lain agar mereka dapat menyesuaikan) supaya penghalalan dan pengharaman bulan mereka dan pergantiannya cocok


(dengan bilangan) hitungan


(yang Allah mengharamkannya) yakni bulan-bulan yang diharamkan oleh Allah.
Dalam hal ini mereka tidak menambah-nambahkan atas empat bulan yang diharamkan itu dan pula mereka tidak menguranginya hanya mereka tidak memperhatikan lagi ketentuan-ketentuan waktu yang telah ditetapkan Allah


(maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah.
Setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu) sehingga mereka menduganya sebagai perbuatan yang baik


(Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir).

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Melalui ayat ini Allah mencela orang-orang musyrikin karena perbuatan mereka yang dengan seenaknya mengubah syariat Allah dengan pendapat-pendapat mereka yang rusak.
Mereka berani mengubah hukumhukum Allah dengan hawa nafsu mereka, berani pula menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh-Nya.
Karena sesungguhnya mereka dengan kekuatan yang mereka miliki, kefanatikan, keberanian, dan kekerasan hati mereka, mereka berani melanggar kesucian tiga bulan Haram yang mengharam­kan mereka melakukan keperluan mereka, yaitu memerangi musuh-musuh mereka.
Di masa lalu sebelum Islam, mereka pernah menghalal­kan bulan Haram dan menangguhkannya sampai bulan Safar.
Karenanya mereka menghalalkan bulan Haram dan mengharamkan bulan Halal, dengan tujuan agar bersesuaian dengan bilangan bulan yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala., yaitu empat bulan.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:


Sesungguhnya mengundur-undur bulan Haram itu adalah menambah kekafiran.Bahwa istilah ‘menangguh-nangguhkan bulan Haram‘ pada awal mulanya dilakukan oleh Junadah Ibnu Auf Ibnu Umayyah Al-Kannani.
Dia biasa datang ke musim haji setiap tahunnya, dan ia diberi nama julukan ‘Abu Sumamah’.
Lalu ia berseru,
"Ingatlah, sesungguhnya Abu Sumamah adalah orang yang tidak pernah memutuskan (silaturahmi) dan tidak pernah dicela.
Ingatlah, sesungguhnya Safar tahun ini halal."
Dia menghalalkannya untuk orang-orang, kemudian di tahun berikutnya dia mengharamkannya untuk mereka.Yang demikian itulah apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dalam firman-Nya:

Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu adalah menambah kekafiran.
Makna yang dimaksud ialah ‘ mereka menghalalkan bulan Haram dalam satu tahun, sedangkan pada tahun berikutnya mereka mengharamkan­nya’.
Al-Aufi telah meriwayatkan hal yang semisal dari Ibnu Abbas.

Lais ibnu Abu Sulaim telah meriwayatkan dari Mujahid bahwa dahulu ada seorang lelaki dari kalangan haji dengan mengendarai keledai miliknya.
Lalu ia berkata,
"Hai manusia, sesungguhnya aku adalah orang yang tidak pernah dicela dan tidak pernah diputuskan, dan tidak ada yang menolak apa yang aku katakan.
Sesungguhnya kami mengharamkan bulan Haram dan menangguhkan bulan Safar."
Kemudian ia datang lagi pada tahun berikutnya dan mengatakan kata-kata yang semisal, lalu ia berkata."Sesungguhnya sekarang kami haramkan bulan Safar dan kami menangguhkan bulan Haram."
Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya:

…agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya.
Yakni yang empat bulan itu.

…maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah.
karena mereka, menangguhkan bulan yang haram itu.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu adalah menambah kekafiran.
, hingga akhir ayat.
Ada seorang lelaki dari kalangan Jahiliah.
Pada awal mulanya mereka di masa Jahiliah tidak berani melakukan serangan terhadap sebagian dari mereka dalam bulan-bulan Haram.
Seseorang bersua dengan pembunuh ayahnya tanpa berani memanjangkan tangan terhadapnya (tidak berani menyentuhnya) karena menghormat bulan Haram.
Tetapi di saat Al-Qalmas muncul, dia berkata,
"Marilah kita berangkat untuk mengadakan serangan."
Mereka menjawab,
"Bulan ini adalah bulan Muharram."
Al-Qalmas menjawab,
"Kita tangguhkan untuk tahun ini, dua bulan sekarang kita kosongkan saja.
Apabila datang tahun depan, kita bayar, lalu kita jadikan keduanya sebagai bulan Haram."
Maka hal tersebut diberlakukan.
Kemudian ketika tahun depan tiba, ia berkata,
"Janganlah kalian mengadakan peperangan dalam bulan Safar.
Jadikanlah ia sebagai bulan Haram, sama dengan bulan Muharram.
kedua-duanya kita haramkan."


Apa yang disebutkan dalam riwayat Ini terkandung ke-garib-an, dan kebenarannya masih perlu dipertimbang­kan.
Dikatakan demikian karena sesungguhnya mereka dalam satu tahun hanya mengharamkan tiga bulan itu saja, sedangkan pada tahun berikutnya mereka mengharamkan lima bulan.
Lalu manakah kebenaran riwayat ini bila ditinjau dengan yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dalam firman-Nya:

…mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Abu Najih, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya:

Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu adalah menambah kekafiran., hingga akhir ayat.
Allah memfardukan ibadah haji dalam bulan Zul Hijjah.
Tetapi orang-orang musyrik di masa lalu menamakan Zul Hijjah dengan sebutan bulan Muharram, bulan Safar menjadi Rabi’, bulan Rabi’ menjadi bulan Jumada, sedangkan bulan Jumada mereka namakan menjadi Rajab, Sya’ban menjadi Ramadan.
Syawwal menjadi Zul Qa’dah.
Terkadang mereka melakukan hajinya dalam bulan Zul Hijjah, kemudian mereka diam, tidak menyebutkan Muharram.
Lalu mereka kembali dan menamakannya menjadi Safar.
dan mereka menamakan Rajab menjadi Jumadil Akhir, lalu Sya’ban menjadi Ramadan, Syawwal menjadi Ramadan, Zul Qa’dah menjadi Syawwal.
Zul Hijjah menjadi Zul Qa’dah, Muharram menjadi Zul Hijjah dan mereka melakukan hajinya dalam bulan itu, yang menurut peristilahan mereka disebut Zul Hijjah.
Kemudian mereka kembali melakukan keadaan tersebut, dan mereka melakukan hajinya setiap bulan selama dua tahun, hingga pada bulan yang terakhir dari dua tahun itu (yakni dalam bulan Zul Qa’dah) bertepatan dengan haji yang dilakukan oleh Abu Bakar.
Kemudian Nabi ﷺ melakukan hajinya yang bersesuaian dengan bulan Zul Hijjah.
Yang demikian itu dinyatakan oleh Nabi ﷺ melalui sabdanya yang mengatakan,
"Sesungguhnya zaman ini berputar seperti keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi."

Apa yang dikatakan oleh Mujahid ini masih perlu dipertimbangkan pula kebenarannya.
karena mengapa bisa dianggap sah haji yang dilakukan oleh Abu Bakar, padahal hal itu dilakukan dalam bulan Zul Qa’dah.
Kalau demikian.
berarti mana kebenaran dari pendapat ini?
Sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala, telah berfirman:

Dan (ini lah) suatu permaklumatan dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik.
(QS. At-Taubah [9]: 3), hingga akhir ayat.

Karena sesungguhnya hal itu dipermaklumatkan dalam hajinya Abu Bakar.
Seandainya haji yang dilakukannya itu bukan dalam bulan Zul Hijjah, niscaya Allah tidak akan mengatakan dalam firman-Nya:

pada hari haji akbar.
(QS. At-Taubah [9]: 3)

Dan bukanlah suatu kepastian adanya perbuatan mereka yang selalu menangguh-nangguhkan bulan Haram menjadi penyebab adanya apa yang disebutkan olehnya bahwa tahun terus berputar atas mereka, dan haji yang dilakukan oleh mereka setiap bulan selama dua tahun.
Karena sesungguhnya perbuatan nasi’ (menangguh-nangguhkan bulan Haram) tetap terjadi, sekalipun tanpa itu.

Sesungguhnya mereka di saat menghalalkan bulan Muharram dalam satu tahun, maka mereka mengharamkan penggantinya (yaitu bulan Safar), dan sesudahnya adalah bulan Rabi’, dan dari Rabi’ hingga akhir tahun tetap seperti tatanan yang semula, begitu pula bilangan dan nama bulan-bulannya.

Kemudian pada tahun yang kedua mereka mengharamkan bulan Muharram dan tetap membiarkan keharamannya yang sesudahnya adalah bulan Safar, kemudian Rabi’ hingga akhir tahun.
mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharam-kannya pada tahun yang lain agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang dinaramkan Allah.
(QS. At-Taubah [9]: 37)
Yakni menyesuaikan bilangan bulan-bulan yang diharamkan oleh Allah, yaitu selama empat bulan.
Hanya mereka terkadang mendahulukan pengharaman bulan ketiga dari ketiga bulan yang berturut-turut itu (yakni bulan Muharram) dan terkadang mereka menangguhkannya sampai bulan Safar.


Dalam pembahasan yang lalu—sehubungan dengan sabdaNabi ﷺ yang mengatakan,
"Sesungguhnya zaman itu berputar,"
hingga akhir hadis— telah disebutkan bahwa sesungguhnya perkara mengenai bilangan bulan-bulan itu dan pengharaman sebagian darinya adalah sesuai dengan apa yang telah disebutkan di dalam ketetapan Allah, baik bilangannya maupun urutannya.
Dan bukanlah seperti apa yang dikatakan oleh sebagian orang-orang Arab Jahiliah yang bodoh yang memutuskan pengharaman sebagian darinya atas sebagian yang lain melalui nasi’.

Ibnu Abu Hatim mengatakan.
telah menceritakan kepada kami Saleh ibnu Bisyr ibnu Salamah At-Tabrani, telah menceritakan kepada kami Makki ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ubaidah, dari Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar yang menceritakan bahwa Rasullah ﷺ berdiri di Aqabah dan sejumlah kaum muslim sebanyak apa yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala, berkumpul menghadap Nabi ﷺ untuk mendengarkan khotbahnya.
Mula-mula Nabi ﷺ memuji kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dengan pujian-pujian yang layak bagi-Nya, kemudian beliau ﷺ bersabda:
Dan sesungguhnya perbuatan menangguh-nangguhkan bulan Haram itu termasuk perbuatan setan, menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain.


Mereka menganggap haram bulan Muharram dan menghalalkan bulan Safar di suatu tahun.
sedangkan di tahun lainnya mereka menghalalkan bulan Muharram.
Itulah yang dinamakan nasi’

Imam Muhammad ibnu Ishaq di dalam kitab Sirah-nya.
telah mengupas masalah ini dengan kupasan yang baik lagi berfaedah.
Ia mengatakan.
orang yang mula-mula menangguh-nangguhkan bulan Haram di kalangan orang-orang Arab, yang karenanya ia menghalal­kan sebagian dari yang diharamkan Allah dan mengharamkan sebagian dari apa yang dihalalkan oleh-Nya di antara bulan-bulan itu, adalah Al-Qalmas.
Nama aslinya ialah Huzaifah ibnu Abdu Faqim ibnu Addi ibnu Amir ibnu Sa’labah ibnul Haris ibnu Malik ibnu Kinanah ibnu Khuzaimah ibnu Mudrikah ibnu Ilyas ibnu Mudar ibnu Nizar ibnu Ma’ad ibnu Adnan.
Kemudian kedudukannya digantikan oleh anaknya yang bernama Abbad.
Setelah Abbad, diganti oleh anaknya (yaitu Qala’ ibnu Abbad), lalu diganti oleh anaknya (yaitu Umayyah ibnu Qala’), lalu diganti oleh anaknya (yaitu Auf ibnu Umayyah), dan terakhir oleh anaknya (yaitu Abu Sumamah) yang nama aslinya yaitu Junadah ibnu Auf.
Dia adalah orang terakhir yang berbuat nasi’, di masanya berdirilah agama Islam.

Di masa lalu orang- orang Arab apabila selesai dari hajinya berkumpul menghadap kepada Junadah ibnu Auf, lalu Junadah berdiri di kalangan mereka dan berkhotbah kepada mereka.
Di dalam isi khotbahnya itu ia mengharamkan bulan Rajab, bulan Zul Qa’dah, dan bulan Zul Hijjah, dan menghalalkan bulan Muharram di suatu tahun, lalu menggantikannya dengan bulan Safar, dan di tahun lainnya ia mengharamkannya.
Dia melakukan demikian untuk menyesuaikan bilangan bulan-bulan yang diharamkan oleh Allah.
Dengan kata lain, ia menghalalkan bulan yang diharamkan oleh Allah.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah At Taubah (9) Ayat 37

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abu Malik bahwa kaum kafir menjadikan tiga belas bulan untuk tiap tahun, sehingga jatuhnya bulan Muharam itu pada bulan Safar.
Dengan demikian mereka dapat menghalalkan hal-hal yang diharamkan dalam bulan Muharam.
Maka Allah menurunkan ayat ini (At-Taubah: 37) yang menegaskan bahwa perbuatan seperti itu hanya menambah kekufuran mereka sendiri.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah At Taubah (9) Ayat 37

A’MAAL
أَعْمَٰل

jamak dari ‘amal yang bermakna pekerjaan dan perbuatan.

Dalam Kamus Al Munjid dijelaskan, ‘amal adalah perbuatan yang disengaja atau dengan maksud.

A’maal mencakup perbuatan hati dan anggota badan, ia mengisyaratkan perbuatan yang berterusan, sebagaimana Allah menerangkan, ya’maluuna lahuu maa yasyaa.

Al Kafawi menyatakan, perbuatan itu dikatakan ‘amaal apabila ia terbit dari fikiran dan renungan.
Oleh karena itu, ia dikaitkan dengan ‘ilm, sehingga sebagian sastrawan berkata,
hukum) yaitu hasil dari ‘illah (sebab timbulnya hukum itu)."

Al Baqarah (2), ayat 139, 139, 167, 217;
Ali Imran (3), ayat 22;
• Al Maa’idah (5), ayat 53;
• Al A’raaf (7), ayat 147;
Al Anfaal (8), ayat 48;
At Taubah (9), ayat 17, 37, 69;
Hud (11), ayat 15, 111;
Ibrahim (14), ayat 18;
An Nahl (16), ayat 63,
Al Kahfi (18), ayat 103, 105;
• Al Mu’minuun (23), ayat 63;
An Nuur (24), ayat 39;
An Naml (27), ayat 4, 24;
Al Qashash (28), ayat 55;
• Al ‘Ankaabut (29) ayat 38,
Al Ahzab (33) ayat 19, 71;
Asy Syuura (42) ayat 15;
• Al Ahqaaf (46) ayat 19;
Muhammad (47) ayat 1, 4, 8, 9, 28, 30, 32, 33, 35;
Al Hujurat (49) ayat 2, 14;
• Al Zalzalah (99) ayat 6.
Al Qurtubi ketika menafsirkan ayat 217 surah Al Baqarah:

"Dan siapa yang murtad di antara kamu, maka mereka itu sia-sia amalan amalannya di dunia dan di akhirat."

Beliau mengutip penjelasan Ar Rabi’ "Perbuatan-perbuatan buruk yang mereka lakukan, neraka adalah wajib bagi mereka"

Ibnu Mas’ud dan As Suddi pula berkata,
"Perbuatan-perbuatan baik yang mereka tinggalkan akan menjauhkan mereka dari syurga.
Amalan-amalan baik disandarkan kepada mereka karena mereka disuruh melakukannya, sedangkan amalan amalan jahat disandarkan kepada mereka karena mereka melakukannya’"

At Tabari ketika menjelaskan tafsir surah Al Zalzalah, beliau berkata,
"Pada hari kiamat, manusia akan dibangkitkan berkelompok-kelompok dan terpisah di sebelah kiri dan di sebelah kanan bagi diperlihatkan amalan-amalan mereka.
Bagi mereka yang berbuat baik di dunia dan taat kepada Allah, maka Allah menyediakan baginya pada hari itu karamah dan kemuliaan sebagai balasan bagi ketaatannya kepada Nya di dunia.
Dan bagi yang berbuat jahat dan melakukan maksiat kepada Allah, maka Allah menyediakan baginya kesengsaraan dan kehinaan di neraka, sebagai balasan bagi perbuatannya dan kekufurannya di dunia."

Kesimpulannya, musyrik, kafir, munafik dan sebagainya, dan juga bersifat lebih cenderung kepada perkara keduniaan yang dihiasi oleh syaitan.
Tetapi penggunaan sebenarnya Al Qashash, Asy Syuura, Al Ahqaaf, Muhammad (ayat 30), Al Zalzalah, dan sedikit sekali disandarkan kepada orang beriman, yaitu pada surah Al Ahzab, Muhammad (ayat 35), dan Al Hujurat (ayat 14).
Walau bagaimanapun, a’maal adalah perbuatan yang berterusan dan bersifat umum yang didasari oleh fikiran dan renungan.
Oleh karena itu, orang menjadi kafir karena ia tahu akan sebuah kebenaran, tetapi mengingkarinya.
Sedangkan orang menjadi beriman karena ia tahu akan kebenaran dan berusaha mengikutinya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:5

Unsur Pokok Surah At Taubah (التوبة‎‎)

Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan.

Dinamakan juga dengan "Baraah" yang berarti berlepas diri, yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh ‘Ali radhiyallahu ‘anhu pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

▪ Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman.
▪ Pembalasan atas amal amalan manusia hanya dari Allah.
▪ Segala sesuatu menurut sunnatullah.
▪ Perlindungan Allah bagi orang-orang yang beriman.
▪ Kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

▪ Kewajiban menafkahkan harta.
▪ Macam-macam harta dalam agama serta penggunaannya.
Jizyah.
▪ Perjanjian dan perdamaian.
▪ Kewajiban umat Islam terhadap Nabinya.
▪ Sebab-sebab orang Islam melakukan perang total.
▪ Beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad ﷺ dengan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
Perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
Perang Tabuk.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.

Audio

QS. At-Taubah (9) : 1-129 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 129 + Terjemahan Indonesia



QS. At-Taubah (9) : 1-129 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 129

Gambar Kutipan Ayat

Surah At Taubah ayat 37 - Gambar 1 Surah At Taubah ayat 37 - Gambar 2
Statistik QS. 9:37
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah At Taubah.

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, “Pengampunan”‎) adalah surah ke-9 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti “Pengampunan” karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara’ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah 9
Nama Surah At Taubah
Arab التوبة‎‎
Arti Pengampunan
Nama lain Al-Bara’ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 113
Juz Juz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 129
Jumlah kata 2506
Jumlah huruf 11116
Surah sebelumnya Surah Al-Anfal
Surah selanjutnya Surah Yunus
Sending
User Review
4.9 (29 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

9:37, 9 37, 9-37, Surah At Taubah 37, Tafsir surat AtTaubah 37, Quran At-Taubah 37, Surah At Taubah ayat 37

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah At Taubah

۞ QS. 9:1 • Membuat perjanjian dengan orang musyrik • Allah bebas dari orang musyrikRasul bebas dari kemusyrikan dan orang musyrik

۞ QS. 9:2 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 9:3 • Tidak berkumpul dua agama di semenanjung Arab • Azab orang kafir • Allah bebas dari orang musyrikRasul bebas dari kemusyrikan dan orang musyrik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 9:4 • Tidak berkumpul dua agama di semenanjung Arab • Membuat perjanjian dengan orang musyrik

۞ QS. 9:5 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Tidak berkumpul dua agama di semenanjung ArabShalat rukun Islam

۞ QS. 9:6 • Tidak berkumpul dua agama di semenanjung Arab • Mengabulkan permohonan orang musyrik jika minta perlindungan

۞ QS. 9:7 • Tidak berkumpul dua agama di semenanjung Arab • Membuat perjanjian dengan orang musyrik

۞ QS. 9:8 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:9 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Berjual beli dengan Allah

۞ QS. 9:11 Islam menghapus dosa masa lalu • Shalat rukun IslamZakat rukun Islam • Mengakui kewajiban shalat dan zakat berarti menjaga jiwa •

۞ QS. 9:12 • Membuat perjanjian dengan orang musyrik

۞ QS. 9:14 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Azab orang kafir

۞ QS. 9:15 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:16 Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 9:17 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia • Penghapus pahala kebaikan

۞ QS. 9:18 Tauhid Uluhiyyah • Kewajiban beriman pada hari akhir • Sifat-sifat orang mukmin

۞ QS. 9:19 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Allah menggerakkan hati manusia • Kebodohan orang kafir • Perbedaan derajat manusia sesuai dengan amalnya • Keutamaan iman

۞ QS. 9:20 • Pahala iman • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Perbedaan derajat manusia sesuai dengan amalnya • Keutamaan iman • Perbedaan tingkat amal saleh

۞ QS. 9:21 Ar Rabb (Tuhan) • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga •

۞ QS. 9:22 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 9:23 Hukum memohon bantuan orang musyrik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 9:24 • Macam-macam fitnah • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 9:25 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 9:26 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Allah memperkokoh orang mukmin • Keikutsertaan malaikat dalam peperangan • Azab orang kafir

۞ QS. 9:27 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 9:28 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Tidak berkumpul dua agama di semenanjung Arab

۞ QS. 9:29 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat • Bersikap keras terhadap orang kafir

۞ QS. 9:30 • Mendustai Allah

۞ QS. 9:31 Tauhid Uluhiyyah • Mendustai Allah • Mensucikan Allah dari segala sekutu • Al Wahid (Maha Esa) • Islam agama para nabi

۞ QS. 9:32 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 9:33 Hikmah penurunan kitab-kitab samawiHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 9:35 • Nama-nama neraka • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 9:37 • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 9:39 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Dosa-dosa besar

۞ QS. 9:40 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Allah memperkokoh orang mukminAl Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 9:42 • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:44 Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:45 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:46 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:47 Al ‘Alim (Maha megetahui) • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 9:48 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 9:49 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:50 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 9:51 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Al Maula (Maha Penolong) • Segala sesuatu ada takdirnya • Kebaikan pada pilihan Allah •

۞ QS. 9:52 • Siksa orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 9:53 • Perbuatan orang kafir sia-sia • Penghapus pahala kebaikan

۞ QS. 9:54 • Perbuatan orang kafir sia-sia • Sifat orang munafik • Penghapus pahala kebaikan

۞ QS. 9:55 Sifat Iradah (berkeinginan) • Macam-macam fitnah • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:56 • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik

۞ QS. 9:57 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:58 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:59 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:60 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:61 • Sikap orang munafik terhadap Islam • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 9:62 • Kewajiban patuh kepada Rasul • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:63 • Nama-nama neraka • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 9:64 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:65 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 9:66 • Siksa orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 9:67 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 9:68 • Nama-nama neraka • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:69 • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:70 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 9:71 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 9:72 • Pahala iman • Nama-nama surga • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 9:73 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Bersikap keras terhadap orang kafir • Azab orang kafir • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:74 • Siksa orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 9:75 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:76 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 9:77 • Sifat orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 9:78 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Allamul Ghuyub (Maha Mengetahui alam gaib) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 9:79 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 9:80 • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah • Dosa terbesar

۞ QS. 9:81 • Nama-nama neraka • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:82 • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 9:83 • Sifat orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik

۞ QS. 9:84 Sholat jenazah orang munafik • Siksa orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik

۞ QS. 9:85 Sifat Iradah (berkeinginan) • Macam-macam fitnah • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:86 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:87 • Allah menggerakkan hati manusia • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:88 • Pahala iman • Keutamaan iman

۞ QS. 9:89 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 9:90 • Azab orang kafir • Sifat orang munafik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 9:91 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 9:92 • Toleransi Islam

۞ QS. 9:93 • Allah menggerakkan hati manusia • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:94 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 9:95 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 9:96 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:97 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:98 Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Perbuatan dan niat

۞ QS. 9:99 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 9:100 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 9:101 • Keluasan ilmu Allah • Siksa kubur • Siksaan ahli neraka dilipatgandakan • Siksa orang munafik • Orang munafik dan siksa kubur

۞ QS. 9:102 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Pelebur dosa besar •

۞ QS. 9:103 Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:104 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 9:105 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Kebenaran hari penghimpunan • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 9:106 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:107 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 9:109 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Allah menggerakkan hati manusia • Siksa orang munafikHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 9:110 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:111 • Allah menepati janji • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Berjual beli dengan Allah • Perbuatan yang menghalangi api neraka

۞ QS. 9:112 Shalat rukun IslamPuasa rukun Islam • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 9:113 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Siksa orang kafir

۞ QS. 9:115 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 9:116 • Segala sesuatu milik Allah • Kekuasaan Allah • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong)

۞ QS. 9:117 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Ra’uf (Maha Kasih) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Allah menggerakkan hati manusia •

۞ QS. 9:118 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 9:120 • Balasan dan pahala dari Allah • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 9:121 • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Balasan dan pahala dari Allah • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 9:123 • Bersikap keras terhadap orang kafir

۞ QS. 9:124 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Bertambah dan berkurangnya iman

۞ QS. 9:125 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 9:126 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:127 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Allah menggerakkan hati manusia • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 9:129 Tauhid RububiyyahTauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan)

Ayat Pilihan

Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya & menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya,
dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
QS. Al-Baqarah [2]: 284

Firman Allah Ta’ala,

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Dan katakanlah,
“Wahai Rabb-ku,
tambahkanlah kepadaku ilmu.”
QS. Ta Ha [20]: 114

Barang siapa yang membunuh seorang manusia,
bukan karena orang itu (membunuh) orang lain,
atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi,
maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.
QS. Al-Ma’idah [5]: 32

(Ismail) menjawab:
“Ayahku,
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu,
insya Allah kau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”
QS. As-Saffat [37]: 102

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Nama Ibu susuan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Nama isteri Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam selepas Khadijah ialah ...

Benar! Kurang tepat!

Masyarakat Mekkah pada awal nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam berdakwah waktu itu sedang dilanda berbagai krisis, dan yang paling menonjol adalah krisis ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam lahir pada bulan ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lahir pada Senin, 12 Rabiul Awal, di Tahun Gajah. Lalu pada tanggal 17 Rabiul Awal ini merupakan hari ketika Rasulullah hijrah atau meninggalkan Mekkah menuju Madinah.

Nama anak lelaki Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #12
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #12 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #12 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #7

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah … Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum … Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum … Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Pendidikan Agama Islam #28

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam? … Siapa nama Nabi setelah Nabi Isa ‘Alaihissalam? … Setiap umat Islam wajib menuntut ilmu. Bagaimana hukum mempelajari Ilmu Agama? … Kewajiban menuntut ilmu terdapat pada Alquran surah … Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu? …

Pendidikan Agama Islam #3

Pembatasan aurat wanita adalah … Berikut ini yang bukan termasuk orang-orang pertama yang menyambut ajakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah … Dalam Islam, pakaian harus … Sebelum berpakaian, kita harus … Bagian tubuh yang tidak ditampakkan sesuai dengan ajaran Islam disebut …

Kamus

junub

Apa itu junub? ju.nub keadaan kotor karena keluar mani atau bersetubuh yang mewajibkan seseorang mandi dengan membasahi (membersihkan) tubuh dari ujung rambut sampai ke ujung kaki … •

Ibnu Khaldun

Siapa itu Ibnu Khaldun? Ibnu Khaldun, nama lengkap: Abu Zayd ‘Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami (عبد الرحمن بن محمد بن خلدون الحضرمي) (lahir 27 Mei 1...

Yunani

Di mana itu Yunani? Yunani, nama resmi Republik Hellenik, juga dikenal sejak zaman purba sebagai Hellas adalah sebuah negara tempat lahirnya budaya Dunia Barat yang berada di Eropa bagian tenggara, te...