Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

At Taubah

At Taubah (Pengampunan) surah 9 ayat 36


اِنَّ عِدَّۃَ الشُّہُوۡرِ عِنۡدَ اللّٰہِ اثۡنَا عَشَرَ شَہۡرًا فِیۡ کِتٰبِ اللّٰہِ یَوۡمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ مِنۡہَاۤ اَرۡبَعَۃٌ حُرُمٌ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ ۬ۙ فَلَا تَظۡلِمُوۡا فِیۡہِنَّ اَنۡفُسَکُمۡ وَ قَاتِلُوا الۡمُشۡرِکِیۡنَ کَآفَّۃً کَمَا یُقَاتِلُوۡنَکُمۡ کَآفَّۃً ؕ وَ اعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ مَعَ الۡمُتَّقِیۡنَ
Inna ‘iddatasyyuhuuri ‘indallahiitsnaa ‘asyara syahran fii kitaabillahi yauma khalaqas-samaawaati wal ardha minhaa arba’atun hurumun dzalikaddiinul qai-yimu falaa tazhlimuu fiihinna anfusakum waqaatiluul musyrikiina kaaffatan kamaa yuqaatiluunakum kaaffatan waa’lamuu annallaha ma’al muttaqiin(a);

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.
Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.
―QS. 9:36
Topik ▪ Takwa ▪ Keutamaan takwa ▪ Toleransi Islam
9:36, 9 36, 9-36, At Taubah 36, AtTaubah 36, At-Taubah 36
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Taubah (9) : 36. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa Dia telah menetapkan bilangan bulan itu dua belas semenjak Dia menciptakan langit dan bumi.
Yang dimaksud dengan bulan di sini ialah bulan Qamariah karena dengan perhitungan Qamariah itulah Allah menetapkan waktu untuk mengerjakan ibadat yang fardu dan ibadat yang sunat dan beberapa ketentuan lain.
Maka menunaikan ibadah haji, puasa, ketetapan mengenai idah wanita yang diceraikan dan masa menyusui ditentukan dengan bulan Qamariah.

Di antara bulan-bulan yang dua belas itu ada empat bulan yang ditetapkan sebagai bulan haram yaitu bulan Zulkaidah, Zulhijah, Muharam dan Rajab.
Keempat bulan itu harus dihormati dan pada waktu itu tidak boleh melakukan peperangan.
Ketetapan ini berlaku pula dalam syariat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sampai kepada syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Kalau ada yang melanggar ketentuan ini maka pelanggaran itu bukanlah karena ketetapan itu sudah berubah, tetapi semata-mata karena menuruti kemauan hawa nafsu sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum musyrikin.
Biasanya orang-orang Arab amat patuh kepada ketetapan ini sehingga apabila seseorang terbunuh saudaranya atau bapaknya lalu ia bertemu dengan pembunuhnya pada salah satu bulan haram ini dia tidak akan berani menuntut balas, karena menghormati bulan haram itu.
Padahal orang Arab sangat terkenal semangatnya untuk menuntut bela dan membalas dendam.
Itulah ketetapan yang harus dipenuhi karena pelanggaran terhadap ketentuan ini sama saja dengan menganiaya diri sendiri karena Allah telah memuliakan dan menjadikannya bulan-bulan yang harus dihormati.
Kecuali kalau kita dikhianati atau diserang pada bulan haram itu maka dalam hal ini wajib mempertahankan diri dan membalas kejahatan dengan kejahatan pula sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram, katakanlah: "Berperang pada bulan itu adalah dosa besar tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya lebih besar (dosanya) di sisi Allah.
Dan membuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh." Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran).

(Q.S.
Al-Baqarah: 217)

Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada kaum Muslimin supaya memerangi kaum musyrikin karena mereka memerangi kaum Muslimin.
Mereka memerangi kaum Muslimin bukan karena balas dendam, atau fanatik kesukuan atau merampas harta benda sebagaimana biasa mereka lakukan di masa yang lalu terhadap kabilah lain, tetapi maksud utama adalah menghancurkan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan memadamkan cahayanya.
Maka wajiblah bagi setiap muslim bangun serentak memerangi mereka sampai agama Islam itu tegak dan agama mereka hancur binasa.
Hendaklah ditanamkan ke dalam dada setiap muslim semangat jihad yang berkobar-kobar serta tekad dan keyakinan bahwa mereka pasti menang karena Allah selamanya menolong orang-orang yang bertakwa kepada-Nya.

At Taubah (9) ayat 36 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy At Taubah (9) ayat 36 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi At Taubah (9) ayat 36 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya jumlah bulan pada tahun kamariah menurut hukum dan ketentuan Allah, serta menurut apa yang telah diterangkan dalam kitab--kitab suci-Nya sejak awal kejadian alam, adalah dua belas bulan.
Di antara dua belas bulan itu terdapat empat bulan ketika berperang pada saat itu diharamkan, yaitu Rajab, Zulkaidah, Zulhijah dan Muharam.
Pengharaman empat bulan tersebut di atas adalah termasuk ajaran agama Allah yang benar, yang bersifat konstan, tidak mengalami perubahan atau pergantian.
Maka janganlah berbuat lalim kepada diri kalian pada bulan-bulan ini dengan menghalalkan perang.
Tapi jangan pula kalian berpangku tangan jika musuh menyerang.
Perangilah, hai orang-orang Mukmin, kelompok orang-orang musyrik tanpa terkecuali, seperti mereka memerangi kalian semuanya.
Yakinlah bahwa Allah adalah penolong bagi orang-orang yang takut pada Allah.
Berpegang teguhlah kepada perintah Allah dan jauhilah semua larangan-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya bilangan bulan) jumlah bulan pertahunnya (pada sisi Allah adalah dua belas bulan dalam Kitabullah) dalam Lohmahfuz (di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya) bulan-bulan tersebut (empat bulan suci) yang disucikan, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharam dan Rajab.
(Itulah) penyucian bulan-bulan yang empat tersebut (agama yang lurus) artinya agama yang mustaqim (maka janganlah kalian menganiaya dalam bulan-bulan tersebut) dalam bulan-bulan yang empat itu (diri kalian sendiri) dengan melakukan kemaksiatan.
Karena sesungguhnya perbuatan maksiat yang dilakukan dalam bulan-bulan tersebut dosanya lebih besar lagi.
Menurut suatu penafsiran disebutkan bahwa dhamir fiihinna kembali kepada itsnaa `asyara, artinya dalam bulan-bulan yang dua belas itu (dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya) seluruhnya dalam bulan-bulan yang dua belas itu (sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang takwa) pertolongan dan bantuan-Nya selalu menyertai mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya bilangan bulan menurut hukum Allah dan yang telah ditetapkan di Lauhul Mahfudz ada dua belas bulan.
Yaitu ketika Allah menciptakan langit dan bumi; dan di antara bulan-bulan tersebut ada empat bulan yang diharamkan (diharamkan berperang di dalamnya), yaitu bulan Dzulqa dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.
Dan itulah agama yang lurus.
Maka janganlah kalian menzhalimi diri sendiri pada bulan-bulan itu, karena sangat diharamkannya itu, dan perbuatan zhalim di bulan-bulan itu lebih berat dari bulan-bulan selainnya.
Tapi bukan berarti perbuatan zhalim pada selain bulan itu dibolehkan.
Dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian.
Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa menjadi pelindung dan penolong mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Ayyub, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sirin.
dari Abu Bakrah, bahwa Nabi ﷺ berkhotbah dalam haji wada'nya.
Antara lain beliau ﷺ bersabda: Ingatlah, sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya sejak hari Allah menciptakan langit dan bumi.
Satu tahun terdiri atas dua belas bulan, empat bulan di antaranya adalah bulan-bulan haram (suci), tiga di antaranya berturut-turut, yaitu Zul Q 'dah, Zul Hijjah, dan Muharram, yang lainnya ialah Rajab Mudar, yang terletak di antara bulan Jumada (Jumadil Akhir) dan Sya’ban.
Lalu Nabi ﷺ bertanya, "Ingatlah, hari apakah sekarang?"
Kami (para sahabat) menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi ﷺ diam sehingga kami menduga bahwa beliau akan memberinya nama bukan dengan nama biasanya.
Lalu beliau bersabda.”Bukankah hari ini adalah Hari Raya Kurban?"
Kami menjawab, "Memang benar." Kemudian beliau ﷺ bertanya, "Bulan apakah sekarang?"
Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau ﷺ diam sehingga kami menduga bahwa beliau akan memberinya nama bukan dengan nama biasanya.
Lalu beliau ﷺ bersabda, "Bukankah sekarang ini bulan Zul Hijjah?"
Kami menjawab, "Memang benar." Kemudian beliau ﷺ bertanya, "Negeri apakah ini?"
Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau ﷺ diam sehingga kami men­duga bahwa beliau akan memberinya nama bukan dengan nama biasanya.
Lalu beliau ﷺ bersabda, "Bukankah negeri ini?"
Kami menjawab, "Memang benar." Setelah itu Nabi ﷺ bersabda: Maka sesungguhnya darah dan harta benda kalian —menurut seingat (perawi) beliau mengatakan pula 'dan kehormatan kalian'— diharamkan atas kalian seperti keharaman (kesucian) hari kalian sekarang, dalam bulan kalian, dan di negeri kalian ini.
Dan kelak kalian akan menghadap kepada Tuhan kalian, maka Dia akan menanyai kalian tentang amal perbuatan kalian.
Ingatlah, janganlah kalian berbalik menjadi sesat sesudah (sepeninggal)ku, sebagian dari kalian memukul (memancung) leher sebagian yang lain.
Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikan?
Ingatlah, hendaklah orang yang hadir (sekarang) di antara kalian menyampaikan kepada orang yang tidak hadir, karena barangkali orang yang menerimanya dari si penyampai lebih memahaminya daripada sebagian orang yang mendengarnya secara langsung.

Imam Bukhari meriwayatkannya di dalam kitab Tafsir dan lain-lainnya.
Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Ayyub, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Abdur Rahman ibnu Abu Bakrah, dari ayahnya dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ma'mar, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Asy'as, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya semula sejak hari Allah menciptakan langit dan bumi.
Dan sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan Langit dan bumi diantaranya empat bulan haram (suci), tiga di antaranya berturut-turut, yaitu Zul Qa'dah, Zul Hijjah, dan Muharram, sedangkan lainnya ialah Rajab Mudar yang terletak di antara bulan Jumada dan bulan Sya'ban.

Al-Bazzar meriwayatkannya melalui Muhammad ibnu Ma'mar dengan sanad yang sama, kemudian ia mengatakan bahwa tidak diriwayatkan melalui Abu Hurairah kecuali melalui jalur ini.
Ibnu Aun dan Qurrah telah meriwayatkannya dari Ibnu Sirin, dari Abdur Rahman ibnu Abu Bakrah, dari ayahnya dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepadaku Musa ibnu Abdur Rahman Al-Masruqi, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnu Hubab, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ubaidah Ar-Rabazi, telah menceritakan kepadaku Sadaqah ibnu Yasar, dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ melakukan khotbahnya dalam haji wada' di Mina pada pertengahan hari-hari Tasyriq.
Antara lain beliau ﷺ bersabda: Hai manusia, sesungguhnya zaman itu berputar, keadaan zaman pada hari ini sama dengan keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi.
Dan sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, empat bulan di antaranya ialah bulan-bulan haram (suci), yang pertama ialah Rajab Mudar yang jatuh di antara bulan Jumada dan Sya’ban.
lalu Zul Qa’dah, Zul Hijjah, dan Muharram.

Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan hal yang semisal atau sama dengan hadis di atas, dari hadis Musa ibnu Ubaidah, dari Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar.

Hammad ibnu Salamah mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ali ibnu Zaid, dari Abu Hamzah Ar-Raqqasyi, dari pamannya yang berpredikat sebagai sahabat.
Paman Abu Hamzah Ar-Raqqasyi mengata­kan bahwa ia memegang tali kendaraan unta Rasulullah ﷺ pada pertengahan hari-hari Tasyriq seraya menguakkan orang-orang agar menjauh darinya.
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: Ingatlah, sesungguhnya zaman itu berputar seperti keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi.
Dan sesungguhnya bilangan bulan itu di sisi Allah ada dua belas bulan menurut ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi.
Di antaranya empat bulan haram (suci), maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri dalam bulan yang empat itu.

Sa'id ibnu Mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-Kalbi, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: di antaranya empat bulan haram (suci).
(At Taubah:36) Yaitu bulan Rajab, Zul Qa'dah, Muharram, dan Zul Hijjah.

Mengenai sabda Rasulullah ﷺ dalam salah satu hadis, yaitu:

Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi.

Hal ini merupakan taqrir (pengakuan) dari Rasulullah ﷺ dan sebagai pengukuhan terhadap urusan itu sesuai dengan apa yang telah dijadikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
sejak semua, tanpa mendahulukan dan menangguh-nangguhkan dan mengganti.
Seperti yang disabdakannya sehubungan dengan keharaman (kesucian) kota Mekah, yaitu:

Sesungguhnya kota ini disucikan oleh Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi, maka kota ini tetap suci karena disucikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
sampai hari kiamat.

Hal yang sama dikatakannya pula dalam bab ini, yaitu: Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi.

Dengan kata lain, keadaan zaman pada hari ini sama dengan keadaannya sejak diciptakan oleh Allah —yakni tetap berputar— sebagai suatu ketetapan dari-Nya sejak Dia menciptakan langit dan bumi.

Sebagian ulama tafsir dan ahli ilmu kalam telah mengatakan berkenaan dengan hadis tersebut, bahwa yang dimaksud dengan sabdanya, "Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi",
sesungguhnya hal itu bertepatan dengan haji yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ di tahun itu, yaitu dalam bulan Zul Hijjah.
Orang-orang Arab di masa dahulu pun sering menangguh-nangguhkan bulan haram ini.
Selama bertahun-tahun mereka selalu mengerjakan hajinya di luar bulan Zul Hijjah, bahkan kebanyakan ibadah haji mereka dilakukan di luar bulan Zul Hijjah.
Dan mereka menduga bahwa haji yang dilakukan oleh Abu Bakar As-Siddiq dalam tahun sembilan Hijriah dilakukan bulan Zul Qa'dah.
Tetapi kebenaran pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, seperti apa yang akan kami jelaskan dalam pembahasan tentang Nasi’.

Hal yang lebih aneh daripada ini ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Tabrani dari sebagian ulama Salaf dalam sejumlah hadis yang menyatakan, "Sesungguhnya haji kaum muslim, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Nasrani pernah bertepatan dalam hari yang sama, yaitu Hari Raya Kurban pada tahun haji wada'."

Syekh Alamud Din As-Sakhawi di dalam kitabnya Al-Masyhurfi Asmail Ayyam wasy Syuhur telah menyebutkan bahwa bulan Muharram di namakan Muharram karena ia merupakan bulan yang diharamkan (disucikan).
Menurut pendapat penulis (As-Sakhawi), dinamakan demikian untuk mengukuhkan keharamannya.
Mengingat orang-orang Arab di masa lalu berpandangan labil terhadapnya, terkadang dalam satu tahun mereka menghalalkannya, sedangkan di tahun yang lain mengharamkannya.
Kata muharram dijamakkan menjadi muharramat, maharim, dan maharim.

Bulan Safar, dinamakan demikian karena rumah-rumah mereka kosong dari para penghuninya, sebab penghuninya pergi untuk berperang dan mengadakan perjalanan.
Dikatakan safaral makanu, apabila tempat yang dimaksud kosong, tak berpenghuni.
Dijamakkan menjadi asfar, sama wazannya dengan lafaz jamal yang bentuk jamaknya ajmal.

Bulan Rabi'ul AwwaL dinamakan demikian karena mereka menetap di rumahnya masing-masing.
Al-irtiba' artinya tinggal di keramaian daerah tempat tinggal.
Bentuk jamaknya adalah arbi’a, sama wazannya dengan lafaz nasibun yang bentuk jamaknya ansiba.
Dapat pula dijamakkan menjadi arba'ah, sama wazannya dengan ragifun yang bentuk jamaknya argifah.
Rabi'ul Akhir sama ketentuannya dengan Rabi'ul Awwal.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...di antaranya empat bulan haram.

Hal ini diharamkan pula oleh orang-orang Arab di masa silam.
Demi­kianlah menurut kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian besar dari mereka, kecuali sejumlah orang dari kalangan mereka yang dikenal dengan sebutan golongan Al-Basal.
Mereka mengharamkan delapan bulan dari setiap tahunnya sebagai ungkapan rasa fanatik dan pengetatan hukum atas diri mereka.

Adapun mengenai sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:

Tiga bulan di antaranya berturut-turut, yaitu Zul Qa’dah, Zul Hijjah, dan Muharram, lalu Rajab Mudar yang terletak di antara bulan Jumada dan Sya'ban.

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ meng-idafah-kan (mengaitkan)nya dengan Mudar, untuk menjelaskan kepada mereka kebenaran perkataan orang-orang Mudar terhadap bulan Rajab, bahwa bulan Rajab terletak di antara bulan Jumada dan Sya'ban.
Bukan seperti yang diduga oleh orang-orang Rabi'ah yang mengatakan bahwa bulan Rajab yang diharamkan (disucikan) ialah bulan yang terletak di antara bulan Sya'ban dan Syawwal, yaitu Ramadan sekarang.
Maka Nabi ﷺ menjelaskan, bahwa yang dimaksud adalah Rajab Mudar, bukan Rajab Rabi'ah.

Sesungguhnya bulan yang diharamkan ada empat, tiga bulan di antaranya berurutan letaknya, sedangkan yang satunya lagi terpisah, hal ini tiada lain demi menunaikan manasik haji dan umrah.
Maka diharamkan (disucikan) satu bulan sebelum bulan haji, yaitu bulan Zul Qa'dah, karena mereka dalam bulan itu beristirahat tidak mau berperang, dan diharamkan bulan Zul Hijjah karena dalam bulan itu mereka menunaikan ibadah haji dan sibuk dengan penunaian manasiknya.
Kemudian diharamkan pula satu bulan sesudahnya —yaitu bulan Muharram— agar orang-orang yang telah menunaikan haji pulang ke negerinya yang jauh dalam keadaan aman.

Kemudian diharamkan bulan Rajab di pertengahan tahun, untuk melakukan ziarah ke Baitullah dan melakukan ibadah umrah padanya, bagi orang yang datang kepadanya dari daerah yang jauh dari Jazirah Arabia.
Maka mereka dapat menunaikan ibadah umrahnya, lalu kembali ke negerinya masing-masing dalam keadaan aman.

Itulah (ketetapan) agama yang lurus.

Maksudnya, itulah syariat yang lurus yang harus diikuti demi menger­jakan perintah Allah sehubungan dengan bulan bulan yang Haram yang dijadikan-Nya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan-Nya di dalam ketetapan Allah yang dahulu.
Dalam firman selanjutnya Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman:

maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu.
(At Taubah:36)

Yakni dalam bulan-bulan Haram itu janganlah kalian berbuat aniaya terhadap diri kalian sendiri, karena dalam bulan-bulan Haram itu sanksi berbuat dosa jauh lebih berat daripada dalam hari-hari lainnya.
Sebagai­mana perbuatan maksiat yang dilakukan di dalam Kota Suci Mekah, berlipat ganda dosanya, karena ada firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang mengatakan:

dan siapa yang dimaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya Kami akan rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.
(Al Hajj:25)

Demikian pula dalam bulan suci, perbuatan dosa diperberat sanksinya.
Karena itulah di dalam mazhab Imam Syafii dan segolongan ulama disebutkan bahwa hukuman diat diperberat dalam bulan itu.
Sebagai­mana diat diperberat pula terhadap orang yang melakukan pembunuhan di dalam Tanah Suci atau membunuh orang yang sedang ihram.

Hammad ibnu Salamah telah meriwayatkan dari Ali ibnu Zaid, dari Yusuf ibnu Mahran.
dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri dalam bulan yang empat itu.
(At-Taubah:36) Yakni dalam semua bulan.

Ali Ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubung­an dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah.
(At Taubah:36), hingga akhir ayat.
Maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri dalam semua bulan.
Kemudian dikecualikan dari semua bulan itu sebanyak empat bulan.
Keempat bulan itu dijadikan sebagai bulan Haram (suci) yang kesuciannya diagungkan, dan sanksi atas perbuatan dosa yang dilakukan padanya diperbesar serta pahala amal saleh yang dilakukan di dalamnya diperbesar pula.

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri dalam bulan yang empat itu.
(At Taubah:36) Sesungguhnya melakukan perbuatan aniaya dalam bulan-bulan Haram, maka dosa dan sanksinya jauh lebih besar daripada melakukan perbuatan aniaya dalam bulan-bulan yang lain, sekalipun pada prinsipnya perbuatan aniaya itu —kapan saja dilakukan— dosanya tetap besar.
Tetapi Allah lebih memperbesar urusan-Nya sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya.

Selanjutnya Qatadah mengatakan, "Sesungguhnya Allah telah memilih banyak pilihan dari kalangan makhluk-Nya.
Dia memilih dari kalangan para malaikat yang dijadikan-Nya sebagai utusan-utusan-Nya, juga dari kalangan manusia Dia memilih orang-orang yang dijadikan-Nya sebagai utusan-utusan-Nya.
Dia memilih dari Kalam-Nya, yaitu Al-Qur'an, dari bumi ini masjid-masjid, dari bulan-bulan ini bulan Ramadan dan bulan-bulan Haram, dari hari-hari ini memilih hari Jumat, dan dari malam-malam hari Dia memilih Lailatul Qadar.
Oleh sebab itu, agungkanlah apa yang diagungkan oleh Allah, karena sesungguhnya pengagungan itu hanyalah kepada apa yang diagungkan oleh Allah.
Demikianlah menurut orang yang berakal dan berpemahaman."

As-Sauri telah meriwayatkan dari Qais ibnu Muslim, dari Al-Hasan, dari Muhammad Ibnul HAnafiah bahwa makna yang dimaksud ialah 'Janganlah kalian melakukan hal-hal yang diharamkan padanya demi menghormati kesuciannya'.

Muhammad ibnu Ishaq telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu.
(At Taubah:36) Maksudnya, janganlah kalian menjadikan keharamannya berubah menjadi halal, janganlah pula kalian menghalalkan keharamannya seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang musyrik, karena sesungguhnya nasi’ (penangguhan bulan Haram) yang biasa mereka lakukan itu merupakan penambahan kekafiran mereka.
disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undur itu.
(At Taubah:37), hingga akhir ayat.

Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Dan perangilah kaum musyrik itu semuanya.

Artinya, perangilah oleh kalian semua orang musyrik itu.

...sebagaimana mereka pun memerangi kalian semua.

Yaitu sebagaimana mereka semua memerangi kalian.

...dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Para ulama berbeda pendapat tentang keharaman hukum melalui peperangan dalam bulan-bulan Haram, apakah hukum ini di-mansukh atau muhkam.
Ada dua pendapat mengenainya, yaitu:

Pendapat pertama, merupakan pendapat yang terkenal.
Menurut pendapat ini hukumnya telah di-mansukh, karena di sini Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman:

...maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu.

Lalu diperintahkan untuk memerangi orang-orang musyrik.
Makna lahiriah nas (teks) menunjukkan keumuman pengertiannya, yakni perintah ini bersifat umum tanpa ada ikatan waktu.
Seandainya melakukan peperangan terhadap kaum musyrik diharamkan dalam bulan-bulan Haram, sudah dipastikan ada ikatannya, yaitu dengan lepasnya bulan-bulan Haram.
Juga karena Rasulullah ﷺ ketika mengepung penduduk Taif terjadi dalam bulan Haram.
yaitu bulan Zul Qa'dah, seperti yang disebutkan di dalam kitab Sahihain, bahwa Nabi ﷺ berangkat untuk memerangi orang-orang Hawazin dalam bulan Syawwal.
Setelah Nabi ﷺ berhasil mematahkan dan mencerai-beraikan mereka, lalu menjarah harta rampasan mereka, maka sisa-sisa mereka berlindung di kota Taif.
Maka Nabi ﷺ menuju Taif dan mengepung mereka selama empat puluh hari, lalu pulang ke Madinah tanpa membukanya.
Dan terbukti bahwa Nabi ﷺ melakukan pengepungannya itu dalam bulan Haram.

Pendapat kedua mengatakan bahwa memulai peperangan dalam bulan-bulan Haram hukumnya haram, dan bahwa keharaman melakukan peperangan dalam bulan-bulan Haram ini tidak di-mansukh, karena firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang mengatakan:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar syiar-syiar Allah dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan Haram.
(Al Maidah:2)

Bulan Haram dengan bulan Haram dan pada sesuatu yang patut dihormati berlaku hukum qisas.
Oleh sebab itu, barang siapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia yang seimbang dengan serangannya terhadap kalian.
(Al Baqarah:194), hingga akhir ayat.

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu.
(At Taubah:5), hinggaakhirayat.

Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan bahwa bulan-bulan Haram itu adalah empat bulan yag telah ditetapkan setiap tahunnya, bukan bulan-bulan tas-yir, menurut salah satu di antara dua pendapat.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan perangilah kaum musyrik itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya.

Dapat ditakwilkan bahwa ayat ini terputus dari ayat sebelumnya, kemudian ia dianggap sebagai kalimat baru yang menjelaskan hukum yang lain.
Dan hal ini termasuk ke dalam Bab "Menggugah dan Memberikan Semangat untuk Hal yang Dimaksud".
Dengan kata lain, sebagaimana mereka menghimpun kekuatannya untuk memerangi kalian saat mereka hendak memerangi kalian, maka himpunlah kekuatan kalian untuk memerangi mereka, bila kalian hendak memerangi mereka.
Dan perangilah mereka sama dengan apa yang mereka lakukan terhadap kalian.

Dapat pula diinterprestasikan bahwa telah diberi izin oleh Allah bagi kaum mukmin untuk memerangi orang-orang musyrik dalam bulan-bulan Haram, jika mereka (orang-orang musyrik) memulainya terlebih dahulu, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Bulan Haram dengan bulan Haram dan pada sesuatu yang patut dihormati berlaku hukum qisas.
(Al Baqarah:194)

dan janganlah kalian memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kalian di tempat itu.
Jika mereka memerangi kalian (di tempat itu), maka bunuhlah mereka.
(Al Baqarah:191), hingga akhir ayat.

Demikianlah jawaban tentang pengepungan yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ terhadap ahli Taif yang pengepungan tersebut terus berlangsung sampai masuk bulan Haram, karena sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ itu merupakan kelanjutan dari pepe­rangan melawan orang-orang Hawazin dan para hulafa (teman-teman sepakta)nya dari kalangan Bani Saqif (penduduk kota Taif).
Karena sesungguhnya merekalah yang terlebih dahulu memulai peperangan, menghimpun pasukan, serta menyerukan perang dan bertanding di medan perang.
Maka pada saat itu juga Rasulullah ﷺ menerima tantangan mereka, seperti yang telah disebutkan jauh sebelum ini.

Ketika orang-orang Hawazin berlindung di benteng kota Taif, maka Rasulullah ﷺ dan kaum muslim datang ke Taif untuk mengeluarkan mereka dari Benteng Taif.
Akhirnya mereka berhasil membunuh sebagian dari pasukan kaum muslim yang mencoba naik ke benteng mereka.
Kemudian pengepungan dilanjutkan dengan manjaniq (pelontar batu) dan senjata jarak jauh lainnya selama kurang lebih empat puluh.

Pengepungan tersebut dimulai pada bulan Halal dan berlanjut sampai ke bulan Haram selama beberapa hari.
Setelah itu Rasulullah ﷺ kembali ke Madinah meninggalkan mereka.
Hal ini dilakukan oleh Rasulullah ﷺ karena mengingat bahwa dapat dimaafkan melanjutkan sesuatu itu dalam kondisi tertentu yang tidak dapat dimaafkan bila dilakukan pada permulaannya.
Hal seperti ini merupakan suatu perkara yang telah menjadi ketetapan hukum, dan hal yang semisal dengannya dalam hukum banyak di dapat.

Berikut ini akan kami sebutkan hadis-hadis yang menceritakan tentang hal tersebut.
Hal ini telah kami catat di dalam kitab Sirah.

[Penulis (Ibnu Kasir) tidak menuturkan hadis-hadis yang telah dijanjikannya itu, maka harap direnungkan.
pent]

Kata Pilihan Dalam Surah At Taubah (9) Ayat 36

KAAFFAH
كَآفَّة

Ism manshub (berbaris atas) karena dalam kedudukan haal yaitu menggambarkan keadaan. Maknanya jamii'a yaitu keseluruhan.

Berasal dari kata al kaff dan asal maknanya ialah al man' yaitu penolakan, menghalang atau melindungi. Dikatakan untuk ujung tangan, kaff yaitu telapak tangan karena ia melindungi seluruh anggota badan dengannya, rajul makfuuf bermakna matanya menghalangnya dari melihat. Ibn Qutaibah dan Al Yazidi memberikan makna lafaz ini dengan makna di atas.

Ia disebut lima kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 208;
-At Taubah (9); ayat 36 (dua kali), 122;
-Saba' (34), ayat 28.

Allah berfirman,

ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً

Al Qurtubi berkata,
lafaz kaffah dalam ayat ini adalah haal atau keadaan bagi lafaz as silm (Islam) yang bermakna jamii'a yaitu keseluruhan. Dipetik dari kata kafafta, maknanya engkau menghalang yaitu "Janganlah engkau menghalang seseorang masuk Islam"

Pakar tafsir menyatakan, ia dinamakan kaffah karena ia melarang mereka dari perpecahan

Lafaz kaffah dalam kesemua ayat-ayat ini bermakna keseluruhan, namun berbeda perkara dan keadaan.

Dalam surah At Taubah (9), ayat 36, adalah perintah Allah kepada orang mukmin untuk memerangi orang musyrik secara menyeluruh seperti mereka memerangi mereka.
Allah berfirman,

وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً

Ibn Katsir menyatakan, terdapat dua pentafsiran dalam ayat ini.

Pertama, ayat ini terputus dari kalimat sebelumnya dan membentuk hukum baru sehingga ia menjadi suruhan dan galakan. Tafsirannya, "Sebagaimana mereka berhimpun bagi memerangi kamu, apabila mereka memerangi kamu berhimpunlah kamu juga bagi memerangi mereka sebagaimana mereka memerangi kamu"

Kedua, ayat ini adalah izin bagi orang mukmin memerangi orang musyrik pada bulan Muharam, sekiranya mereka memulainya seperti dalam firman Allah yang berarti,

Dan janganlah kamu memerangi mereka di dalam Masjidil Haram, sehingga mereka memerangi kamu di dalamnya, sekiranya mereka memerangi kamu maka bunuhlah mereka

Dan juga Allah berfirman yang artinya,

Bulan Muharam (dibalas) dengan bulan Muharam dan kehormatan itu berbalasan juga.

Dalam surah At Taubah, ayat 122 menceritakan tentang larangan keseluruhan orang mukmin dari keluar berperang.
Allah berfirman,

وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةًۚ

Asy Syaukani berkata,
para pakar berbeda pendapat mengenai makna dalam ayat ini.

Pertama, sebahagian pakar menyatakan ayat ini adalah sisa-sisa hukum berjihad. Ini karena apabila Allah menurunkan perintah berjihad dan berperang, orang muslim apabila diseru oleh Rasulullah untuk memerangi orang kafir, kesemua mereka keluar berjihad sehingga Madinah menjadi kosong dan sunyi. Lalu Allah mengabarkan kepada mereka, tindakan mereka kurang tepat sekiranya mereka semua keluar berjihad. Sebaliknya, hendaklah segolongan dari mereka menetap dan belajar serta mendalami ilmu pengetahuan, seterusnya mengajarkan kepada orang yang berperang apabila mereka pulang dari berperang.

Kedua, sebahagian lagi menyatakan ayat ini bukanlah sisa-sisa dari hukum berjihad, namun mempunyai hukum tersendiri berkenaan dengan suruhan keluar mencari dan mendalami ilmu agama sepertimana kewajiban keluar berjihad di jalan Allah.

Dari sini, terdapat dua safar (keluar mengembara) yaitu, keluar bagi berjihad dan keluar bagi menuntut ilmu. Tentunya kewajiban keluar menuntut ilmu berlaku apabila tidak ada penuntut yang belajar di tempatnya melainkan dengan keluar mengembara untuk belajar.

Sedangkan dalam surah Saba', lafaz kaffah berkaitan dengan perutusan Rasulullah bagi semua manusia. Allah berfirman,

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا

Muhammad Ali As Sabuni menafsirkan ayat ini, "Kami tidak mengutusmu wahai Muhammad, untuk orang Arab saja, namun kami mengutusmu untuk keseluruhan makhluk, membawa berita gembira bagi orang yang beriman dengan nikmat syurga dan membawa peringatan bagi orang kafir tentang siksaan api neraka.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:507-509

Informasi Surah At Taubah (التوبة‎‎)
Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat tennasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan berhubung kata At Taubah berulang kali disebut dalam surat ini.

Dinamakan juga dengan "Baraah" yang berarti berlepas diri yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh 'Ali r.a.
pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman
pembalasan atas amal­ amalan manusia hanya dari Allah
segala sesuatu menurut sunnatullah
perlin­dungan Allah bagi orang-orang yang beriman
kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

Kewajiban menafkahkan harta
macam-macam harta dalam agama serta peng­gunaannya
jizyah
perjanjian dan perdamaian
kewajiban umat Islam terhadap Nabinya
sebab-sebab orang Islam melakukan perang total
beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad s.aw. dengan Abu Bakar r.a. di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
perang Tabuk.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.


Gambar Kutipan Surah At Taubah Ayat 36 *beta

Surah At Taubah Ayat 36



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah At Taubah

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, "Pengampunan"‎) adalah surah ke-9 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti "Pengampunan" karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara'ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad S.A.W kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah 9
Nama Surah At Taubah
Arab التوبة‎‎
Arti Pengampunan
Nama lain Al-Bara'ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 113
Juz Juz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 129
Jumlah kata 2506
Jumlah huruf 11116
Surah sebelumnya Surah Al-Anfal
Surah selanjutnya Surah Yunus
4.8
Rating Pembaca: 4.8 (28 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku