Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. At Taubah (Pengampunan) – surah 9 ayat 36 [QS. 9:36]

اِنَّ عِدَّۃَ الشُّہُوۡرِ عِنۡدَ اللّٰہِ اثۡنَا عَشَرَ شَہۡرًا فِیۡ کِتٰبِ اللّٰہِ یَوۡمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ مِنۡہَاۤ اَرۡبَعَۃٌ حُرُمٌ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ ۬ۙ فَلَا تَظۡلِمُوۡا فِیۡہِنَّ اَنۡفُسَکُمۡ وَ قَاتِلُوا الۡمُشۡرِکِیۡنَ کَآفَّۃً کَمَا یُقَاتِلُوۡنَکُمۡ کَآفَّۃً ؕ وَ اعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ مَعَ الۡمُتَّقِیۡنَ
Inna ‘iddatasyyuhuuri ‘indallahiitsnaa ‘asyara syahran fii kitaabillahi yauma khalaqas-samaawaati wal ardha minhaa arba’atun hurumun dzalikaddiinul qai-yimu falaa tazhlimuu fiihinna anfusakum waqaatiluul musyrikiina kaaffatan kamaa yuqaatiluunakum kaaffatan waa’lamuu annallaha ma’al muttaqiin(a);
Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.
Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya.
Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.
―QS. At Taubah [9]: 36

Daftar isi

Indeed, the number of months with Allah is twelve (lunar) months in the register of Allah (from) the day He created the heavens and the earth;
of these, four are sacred.
That is the correct religion, so do not wrong yourselves during them.
And fight against the disbelievers collectively as they fight against you collectively.
And know that Allah is with the righteous (who fear Him).
― Chapter 9. Surah At Taubah [verse 36]

إِنَّ sesungguhnya

Indeed,
عِدَّةَ bilangan

(the) number
ٱلشُّهُورِ bulan

(of) the months
عِندَ disisi

with
ٱللَّهِ Allah

Allah
ٱثْنَا dua

(is) twelve *[meaning includes next word]
عَشَرَ belas

(is) twelve *[meaning includes prev. word]
شَهْرًا bulan

months
فِى didalam

in
كِتَٰبِ ketetapan

(the) ordinance
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah
يَوْمَ pada hari

(from the) Day
خَلَقَ Dia menciptakan

He created
ٱلسَّمَٰوَٰتِ langit(jamak)

the heavens
وَٱلْأَرْضَ dan bumi

and the earth;
مِنْهَآ diantaranya

of them,
أَرْبَعَةٌ empat

four
حُرُمٌ yang dihormati

(are) sacred.
ذَٰلِكَ demikian itu

That
ٱلدِّينُ agama

(is) the religion
ٱلْقَيِّمُ yang lurus

the upright,
فَلَا maka jangan

so (do) not
تَظْلِمُوا۟ kamu menganiaya

wrong
فِيهِنَّ didalamnya

therein
أَنفُسَكُمْ diri kalian sendiri

yourselves.
وَقَٰتِلُوا۟ dan perangilah

And fight
ٱلْمُشْرِكِينَ orang-orang musyrik

the polytheists
كَآفَّةً semuanya

all together,
كَمَا sebagaimana

as
يُقَٰتِلُونَكُمْ mereka memerangi kamu

they fight you

Tafsir

Alquran

Surah At Taubah
9:36

Tafsir QS. At Taubah (9) : 36. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menetapkan jumlah bulan itu dua belas, semenjak Dia menciptakan langit dan bumi.
Yang dimaksud dengan bulan di sini ialah bulan Qamariah karena dengan perhitungan Qamariah itulah Allah menetapkan waktu untuk mengerjakan ibadah yang fardzu dan ibadah yang sunat dan beberapa ketentuan lain.

Maka menunaikan ibadah haji, puasa, ketetapan mengenai ‘iddah wanita yang diceraikan dan masa menyusui ditentukan dengan bulan Qamariah.


Di antara bulan-bulan yang dua belas itu ada empat bulan yang ditetapkan sebagai bulan haram yaitu bulan Zulkaidah, Zulhijah, Muharam dan Rajab.

Keempat bulan itu harus dihormati dan pada waktu itu tidak boleh melakukan peperangan.
Ketetapan ini berlaku pula dalam syariat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sampai kepada syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Salah satu hikmah diberlakukannya bulan-bulan haram ini, terutama bulan Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam adalah agar pelaksanaan haji di Mekah bisa berlangsung dengan damai.
Rentang waktu antara Zulkaidah dan Muharam sudah cukup untuk mengamankan pelaksanaan ibadah haji.


Kalau ada yang melanggar ketentuan ini, maka pelanggaran itu bukanlah karena ketetapan itu sudah berubah, tetapi semata-mata karena menuruti kemauan hawa nafsu sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum musyrikin.
Biasanya orang-orang Arab amat patuh kepada ketetapan ini sehingga apabila seseorang terbunuh, baik saudara atau bapaknya bertemu dengan pembunuhnya pada salah satu bulan haram ini, maka dia tidak berani menuntut balas, karena menghormati bulan haram itu.

Padahal orang Arab sangat terkenal semangatnya untuk menuntut bela dan membalas dendam.
Itulah ketetapan yang harus dipenuhi, karena pelanggaran terhadap ketentuan ini sama saja dengan menganiaya diri sendiri, sebab Allah telah memuliakan dan menjadikannya bulan-bulan yang harus dihormati.

Kecuali kalau kita dikhianati atau diserang pada bulan haram itu, maka dalam hal ini wajib mempertahankan diri dan membalas kejahatan dengan kejahatan pula.
Firman Allah:

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيْهِ قُلْ قِتَالٌ فِيْهِ كَبِيْرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَكُفْرٌۢ بِهٖ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَاِخْرَاجُ اَهْلِهٖ مِنْهُ اَكْبَرُ عِنْدَ اللّٰهِ وَالْفِتْنَةُ اَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا يَزَالُوْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ حَتّٰى يَرُدُّوْكُمْ عَنْ دِيْنِكُمْ اِنِ اسْتَطَاعُوْا وَمَنْ يَّرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَاُولٰۤىِٕكَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ وَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram.
Katakanlah,
"Berperang dalam bulan itu adalah (dosa) besar.
Tetapi menghalangi (orang) dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) Masjidilharam, dan mengusir penduduk dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) dalam pandangan Allah.
Sedangkan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.
Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup.
Barang siapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."
(al-Baqarah [2]: 217)


Ayat ini memerintahkan kepada kaum Muslimin agar memerangi kaum musyrikin karena mereka merusak perjanjian yang sudah disepakati dan memerangi kaum Muslimin.
Mereka memerangi kaum Muslimin bukan karena balas dendam, fanatik kesukuan, atau merampas harta benda sebagaimana biasa mereka lakukan pada masa yang lalu terhadap kabilah lain, tetapi maksud utama adalah menghancurkan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan memadamkan cahayanya.
Maka wajiblah bagi setiap muslim bangun serentak memerangi mereka sampai agama Islam itu tegak dan mereka hancur binasa.
Hendaklah ditanamkan ke dalam dada setiap muslim semangat jihad serta tekad dan keyakinan bahwa mereka pasti menang karena Allah selamanya menolong orang-orang yang bertakwa kepada-Nya.

Tafsir QS. At Taubah (9) : 36. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Sesungguhnya jumlah bulan pada tahun kamariah menurut hukum dan ketentuan Allah, serta menurut apa yang telah diterangkan dalam kitabkitab suci-Nya sejak awal kejadian alam, adalah dua belas bulan.
Di antara dua belas bulan itu terdapat empat bulan ketika berperang pada saat itu diharamkan, yaitu Rajab, Zulkaidah, Zulhijah dan Muharam.


Pengharaman empat bulan tersebut di atas adalah termasuk ajaran agama Allah yang benar, yang bersifat konstan, tidak mengalami perubahan atau pergantian.
Maka janganlah berbuat lalim kepada diri kalian pada bulan-bulan ini dengan menghalalkan perang.


Tapi jangan pula kalian berpangku tangan jika musuh menyerang.
Perangilah, hai orang-orang Mukmin, kelompok orang-orang musyrik tanpa terkecuali, seperti mereka memerangi kalian semuanya.


Yakinlah bahwa Allah adalah penolong bagi orang-orang yang takut pada Allah.
Berpegang teguhlah kepada perintah Allah dan jauhilah semua larangan-Nya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Sesungguhnya bilangan bulan menurut hukum Allah dan yang telah ditetapkan di Lauhul Mahfudz ada dua belas bulan.
Yaitu ketika Allah menciptakan langit dan bumi;
dan di antara bulan-bulan tersebut ada empat bulan yang diharamkan (diharamkan berperang di dalamnya), yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.


Dan itulah agama yang lurus.
Maka janganlah kalian menzalimi diri sendiri pada bulan-bulan itu, karena sangat diharamkannya itu, dan perbuatan zalim di bulan-bulan itu lebih berat dari bulan-bulan selainnya.


Tapi bukan berarti perbuatan zalim pada selain bulan itu dibolehkan.
Dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian.


Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa menjadi pelindung dan penolong mereka.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Sesungguhnya bilangan bulan) jumlah bulan pertahunnya


(pada sisi Allah adalah dua belas bulan dalam Kitabullah) dalam Lohmahfuz


(di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya) bulan-bulan tersebut


(empat bulan suci) yang disucikan, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharam dan Rajab.


(Itulah) penyucian bulan-bulan yang empat tersebut


(agama yang lurus) artinya agama yang mustaqim


(maka janganlah kalian menganiaya dalam bulan-bulan tersebut) dalam bulan-bulan yang empat itu


(diri kalian sendiri) dengan melakukan kemaksiatan.
Karena sesungguhnya perbuatan maksiat yang dilakukan dalam bulan-bulan tersebut dosanya lebih besar lagi.
Menurut suatu penafsiran disebutkan bahwa dhamir fiihinna kembali kepada itsnaa `asyara, artinya dalam bulan-bulan yang dua belas itu


(dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya) seluruhnya dalam bulan-bulan yang dua belas itu


(sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang takwa) pertolongan dan bantuan-Nya selalu menyertai mereka.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Ayyub, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sirin.
dari Abu Bakrah, bahwa Nabi ﷺ berkhotbah dalam haji wada’nya.
Antara lain beliau ﷺ bersabda:
Ingatlah, sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya sejak hari Allah menciptakan langit dan bumi.

Satu tahun terdiri atas dua belas bulan, empat bulan di antaranya adalah bulan-bulan haram (suci), tiga di antaranya berturut-turut, yaitu Zul Q ‘dah, Zul Hijjah, dan Muharram, yang lainnya ialah Rajab Mudar, yang terletak di antara bulan Jumada (Jumadil Akhir) dan Sya’ban.
Lalu Nabi ﷺ bertanya,
"Ingatlah, hari apakah sekarang?"
Kami (para sahabat) menjawab,
"Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."
Nabi ﷺ diam sehingga kami menduga bahwa beliau akan memberinya nama bukan dengan nama biasanya.
Lalu beliau bersabda."Bukankah hari ini adalah Hari Raya Kurban?"
Kami menjawab,
"Memang benar."
Kemudian beliau ﷺ bertanya,
"Bulan apakah sekarang?"
Kami menjawab,
"Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."
Beliau ﷺ diam sehingga kami menduga bahwa beliau akan memberinya nama bukan dengan nama biasanya.
Lalu beliau ﷺ bersabda,
"Bukankah sekarang ini bulan Zul Hijjah?"
Kami menjawab,
"Memang benar."
Kemudian beliau ﷺ bertanya,
"Negeri apakah ini?"
Kami menjawab,
"Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."
Beliau ﷺ diam sehingga kami men­duga bahwa beliau akan memberinya nama bukan dengan nama biasanya.
Lalu beliau ﷺ bersabda,
"Bukankah negeri ini?"
Kami menjawab,
"Memang benar."
Setelah itu Nabi ﷺ bersabda:
Maka sesungguhnya darah dan harta benda kalian —menurut seingat (perawi) beliau mengatakan pula ‘dan kehormatan kalian’— diharamkan atas kalian seperti keharaman (kesucian) hari kalian sekarang, dalam bulan kalian, dan di negeri kalian ini.
Dan kelak kalian akan menghadap kepada Tuhan kalian, maka Dia akan menanyai kalian tentang amal perbuatan kalian.
Ingatlah, janganlah kalian berbalik menjadi sesat sesudah (sepeninggal)ku, sebagian dari kalian memukul (memancung) leher sebagian yang lain.
Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikan?
Ingatlah, hendaklah orang yang hadir (sekarang) di antara kalian menyampaikan kepada orang yang tidak hadir, karena barangkali orang yang menerimanya dari si penyampai lebih memahaminya daripada sebagian orang yang mendengarnya secara langsung.

Imam Bukhari meriwayatkannya di dalam kitab Tafsir dan lain-lainnya.
Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Ayyub, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Abdur Rahman ibnu Abu Bakrah, dari ayahnya dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Asy’as, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:
Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya semula sejak hari Allah menciptakan langit dan bumi.
Dan sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan Langit dan bumi diantaranya empat bulan haram (suci), tiga di antaranya berturut-turut, yaitu Zul Qa’dah, Zul Hijjah, dan Muharram, sedangkan lainnya ialah Rajab Mudar yang terletak di antara bulan Jumada dan bulan Sya’ban.

Al-Bazzar meriwayatkannya melalui Muhammad ibnu Ma’mar dengan sanad yang sama, kemudian ia mengatakan bahwa tidak diriwayatkan melalui Abu Hurairah kecuali melalui jalur ini.
Ibnu Aun dan Qurrah telah meriwayatkannya dari Ibnu Sirin, dari Abdur Rahman ibnu Abu Bakrah, dari ayahnya dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepadaku Musa ibnu Abdur Rahman Al-Masruqi, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnu Hubab, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ubaidah Ar-Rabazi, telah menceritakan kepadaku Sadaqah ibnu Yasar, dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ melakukan khotbahnya dalam haji wada’ di Mina pada pertengahan hari-hari Tasyriq.
Antara lain beliau ﷺ bersabda:
Hai manusia, sesungguhnya zaman itu berputar, keadaan zaman pada hari ini sama dengan keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi.
Dan sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, empat bulan di antaranya ialah bulan-bulan haram (suci), yang pertama ialah Rajab Mudar yang jatuh di antara bulan Jumada dan Sya’ban.
lalu Zul Qa’dah, Zul Hijjah, dan Muharram.

Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan hal yang semisal atau sama dengan hadis di atas, dari hadis Musa ibnu Ubaidah, dari Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar.

Hammad ibnu Salamah mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ali ibnu Zaid, dari Abu Hamzah Ar-Raqqasyi, dari pamannya yang berpredikat sebagai sahabat.
Paman Abu Hamzah Ar-Raqqasyi mengata­kan bahwa ia memegang tali kendaraan unta Rasulullah ﷺ pada pertengahan hari-hari Tasyriq seraya menguakkan orang-orang agar menjauh darinya.
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda:
Ingatlah, sesungguhnya zaman itu berputar seperti keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi.
Dan sesungguhnya bilangan bulan itu di sisi Allah ada dua belas bulan menurut ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi.
Di antaranya empat bulan haram (suci), maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri dalam bulan yang empat itu.

Sa’id ibnu Mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Al-Kalbi, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:
di antaranya empat bulan haram (suci).
(QS. At-Taubah [9]: 36)
Yaitu bulan Rajab, Zul Qa’dah, Muharram, dan Zul Hijjah.


Mengenai sabda Rasulullah ﷺ dalam salah satu hadis, yaitu:

Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi.


Hal ini merupakan taqrir (pengakuan) dari Rasulullah ﷺ dan sebagai pengukuhan terhadap urusan itu sesuai dengan apa yang telah dijadikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sejak semua, tanpa mendahulukan dan menangguh-nangguhkan dan mengganti.
Seperti yang disabdakannya sehubungan dengan keharaman (kesucian) kota Mekah, yaitu:

Sesungguhnya kota ini disucikan oleh Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi, maka kota ini tetap suci karena disucikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sampai hari kiamat.

Hal yang sama dikatakannya pula dalam bab ini, yaitu:
Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi.

Dengan kata lain, keadaan zaman pada hari ini sama dengan keadaannya sejak diciptakan oleh Allah —yakni tetap berputar— sebagai suatu ketetapan dari-Nya sejak Dia menciptakan langit dan bumi.

Sebagian ulama tafsir dan ahli ilmu kalam telah mengatakan berkenaan dengan hadis tersebut, bahwa yang dimaksud dengan sabdanya,
"Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi",
sesungguhnya hal itu bertepatan dengan haji yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ di tahun itu, yaitu dalam bulan Zul Hijjah.
Orang-orang Arab di masa dahulu pun sering menangguh-nangguhkan bulan haram ini.
Selama bertahun-tahun mereka selalu mengerjakan hajinya di luar bulan Zul Hijjah, bahkan kebanyakan ibadah haji mereka dilakukan di luar bulan Zul Hijjah.
Dan mereka menduga bahwa haji yang dilakukan oleh Abu Bakar As-Siddiq dalam tahun sembilan Hijriah dilakukan bulan Zul Qa’dah.
Tetapi kebenaran pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, seperti apa yang akan kami jelaskan dalam pembahasan tentang Nasi’.


Hal yang lebih aneh daripada ini ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Tabrani dari sebagian ulama Salaf dalam sejumlah hadis yang menyatakan,
"Sesungguhnya haji kaum muslim, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Nasrani pernah bertepatan dalam hari yang sama, yaitu Hari Raya Kurban pada tahun haji wada’."

Syekh Alamud Din As-Sakhawi di dalam kitabnya Al-Masyhurfi Asmail Ayyam wasy Syuhur telah menyebutkan bahwa bulan Muharram di namakan Muharram karena ia merupakan bulan yang diharamkan (disucikan).
Menurut pendapat penulis (As-Sakhawi), dinamakan demikian untuk mengukuhkan keharamannya.
Mengingat orang-orang Arab di masa lalu berpandangan labil terhadapnya, terkadang dalam satu tahun mereka menghalalkannya, sedangkan di tahun yang lain mengharamkannya.
Kata muharram dijamakkan menjadi muharramat, maharim, dan maharim.

Bulan Safar, dinamakan demikian karena rumah-rumah mereka kosong dari para penghuninya, sebab penghuninya pergi untuk berperang dan mengadakan perjalanan.
Dikatakan safaral makanu, apabila tempat yang dimaksud kosong, tak berpenghuni.
Dijamakkan menjadi asfar, sama wazannya dengan lafaz jamal yang bentuk jamaknya ajmal.

Bulan Rabi’ul AwwaL dinamakan demikian karena mereka menetap di rumahnya masing-masing.
Al-irtiba’ artinya tinggal di keramaian daerah tempat tinggal.
Bentuk jamaknya adalah arbi’a, sama wazannya dengan lafaz nasibun yang bentuk jamaknya ansiba.
Dapat pula dijamakkan menjadi arba’ah, sama wazannya dengan ragifun yang bentuk jamaknya argifah.
Rabi’ul Akhir sama ketentuannya dengan Rabi’ul Awwal.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…di antaranya empat bulan haram.

Hal ini diharamkan pula oleh orang-orang Arab di masa silam.
Demi­kianlah menurut kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian besar dari mereka, kecuali sejumlah orang dari kalangan mereka yang dikenal dengan sebutan golongan Al-Basal.
Mereka mengharamkan delapan bulan dari setiap tahunnya sebagai ungkapan rasa fanatik dan pengetatan hukum atas diri mereka.

Adapun mengenai sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:

Tiga bulan di antaranya berturut-turut, yaitu Zul Qa’dah, Zul Hijjah, dan Muharram, lalu Rajab Mudar yang terletak di antara bulan Jumada dan Sya’ban.

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ meng-idafah-kan (mengaitkan)nya dengan Mudar, untuk menjelaskan kepada mereka kebenaran perkataan orang-orang Mudar terhadap bulan Rajab, bahwa bulan Rajab terletak di antara bulan Jumada dan Sya’ban.
Bukan seperti yang diduga oleh orang-orang Rabi’ah yang mengatakan bahwa bulan Rajab yang diharamkan (disucikan) ialah bulan yang terletak di antara bulan Sya’ban dan Syawwal, yaitu Ramadan sekarang.
Maka Nabi ﷺ menjelaskan, bahwa yang dimaksud adalah Rajab Mudar, bukan Rajab Rabi’ah.

Sesungguhnya bulan yang diharamkan ada empat, tiga bulan di antaranya berurutan letaknya, sedangkan yang satunya lagi terpisah, hal ini tiada lain demi menunaikan manasik haji dan umrah.
Maka diharamkan (disucikan) satu bulan sebelum bulan haji, yaitu bulan Zul Qa’dah, karena mereka dalam bulan itu beristirahat tidak mau berperang, dan diharamkan bulan Zul Hijjah karena dalam bulan itu mereka menunaikan ibadah haji dan sibuk dengan penunaian manasiknya.
Kemudian diharamkan pula satu bulan sesudahnya —yaitu bulan Muharram— agar orang-orang yang telah menunaikan haji pulang ke negerinya yang jauh dalam keadaan aman.

Kemudian diharamkan bulan Rajab di pertengahan tahun, untuk melakukan ziarah ke Baitullah dan melakukan ibadah umrah padanya, bagi orang yang datang kepadanya dari daerah yang jauh dari Jazirah Arabia.
Maka mereka dapat menunaikan ibadah umrahnya, lalu kembali ke negerinya masing-masing dalam keadaan aman.

Itulah (ketetapan) agama yang lurus.

Maksudnya, itulah syariat yang lurus yang harus diikuti demi menger­jakan perintah Allah sehubungan dengan bulan bulan yang Haram yang dijadikan-Nya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan-Nya di dalam ketetapan Allah yang dahulu.
Dalam firman selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman:

maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu.
(QS. At-Taubah [9]: 36)

Yakni dalam bulan-bulan Haram itu janganlah kalian berbuat aniaya terhadap diri kalian sendiri, karena dalam bulan-bulan Haram itu sanksi berbuat dosa jauh lebih berat daripada dalam hari-hari lainnya.
Sebagai­mana perbuatan maksiat yang dilakukan di dalam Kota Suci Mekah, berlipat ganda dosanya, karena ada firman Allah subhanahu wa ta’ala, yang mengatakan:

dan siapa yang dimaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya Kami akan rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.
(Al Hajj:25)

Demikian pula dalam bulan suci, perbuatan dosa diperberat sanksinya.
Karena itulah di dalam mazhab Imam Syafii dan segolongan ulama disebutkan bahwa hukuman diat diperberat dalam bulan itu.
Sebagai­mana diat diperberat pula terhadap orang yang melakukan pembunuhan di dalam Tanah Suci atau membunuh orang yang sedang ihram.

Hammad ibnu Salamah telah meriwayatkan dari Ali ibnu Zaid, dari Yusuf ibnu Mahran.
dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri dalam bulan yang empat itu.
(At-Taubah:
36)
Yakni dalam semua bulan.

Ali Ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubung­an dengan makna firman-Nya:
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah.
(QS. At-Taubah [9]: 36), hingga akhir ayat.
Maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri dalam semua bulan.
Kemudian dikecualikan dari semua bulan itu sebanyak empat bulan.
Keempat bulan itu dijadikan sebagai bulan Haram (suci) yang kesuciannya diagungkan, dan sanksi atas perbuatan dosa yang dilakukan padanya diperbesar serta pahala amal saleh yang dilakukan di dalamnya diperbesar pula.

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri dalam bulan yang empat itu.
(QS. At-Taubah [9]: 36)
Sesungguhnya melakukan perbuatan aniaya dalam bulan-bulan Haram, maka dosa dan sanksinya jauh lebih besar daripada melakukan perbuatan aniaya dalam bulan-bulan yang lain, sekalipun pada prinsipnya perbuatan aniaya itu —kapan saja dilakukan— dosanya tetap besar.
Tetapi Allah lebih memperbesar urusan-Nya sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya.

Selanjutnya Qatadah mengatakan,
"Sesungguhnya Allah telah memilih banyak pilihan dari kalangan makhluk-Nya.
Dia memilih dari kalangan para malaikat yang dijadikan-Nya sebagai utusan-utusan-Nya, juga dari kalangan manusia Dia memilih orang-orang yang dijadikan-Nya sebagai utusan-utusan-Nya.
Dia memilih dari Kalam-Nya, yaitu Alquran, dari bumi ini masjidmasjid, dari bulan-bulan ini bulan Ramadan dan bulan-bulan Haram, dari hari-hari ini memilih hari Jumat, dan dari malam-malam hari Dia memilih Lailatul Qadar.
Oleh sebab itu, agungkanlah apa yang diagungkan oleh Allah, karena sesungguhnya pengagungan itu hanyalah kepada apa yang diagungkan oleh Allah.
Demikianlah menurut orang yang berakal dan berpemahaman."

As-Sauri telah meriwayatkan dari Qais ibnu Muslim, dari Al-Hasan, dari Muhammad Ibnul HAnafiah bahwa makna yang dimaksud ialah ‘Janganlah kalian melakukan hal-hal yang diharamkan padanya demi menghormati kesuciannya’.

Muhammad ibnu Ishaq telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu.
(QS. At-Taubah [9]: 36)
Maksudnya, janganlah kalian menjadikan keharamannya berubah menjadi halal, janganlah pula kalian menghalalkan keharamannya seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang musyrik, karena sesungguhnya nasi’ (penangguhan bulan Haram) yang biasa mereka lakukan itu merupakan penambahan kekafiran mereka.
disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undur itu.
(QS. At-Taubah [9]: 37), hingga akhir ayat.

Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan perangilah kaum musyrik itu semuanya.

Artinya, perangilah oleh kalian semua orang musyrik itu.

…sebagaimana mereka pun memerangi kalian semua.

Yaitu sebagaimana mereka semua memerangi kalian.


…dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Para ulama berbeda pendapat tentang keharaman hukum melalui peperangan dalam bulan-bulan Haram, apakah hukum ini di-mansukh atau muhkam.
Ada dua pendapat mengenainya, yaitu:

Pendapat pertama, merupakan pendapat yang terkenal.
Menurut pendapat ini hukumnya telah di-mansukh, karena di sini Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman:

…maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu.

Lalu diperintahkan untuk memerangi orang-orang musyrik.
Makna lahiriah nas (teks) menunjukkan keumuman pengertiannya, yakni perintah ini bersifat umum tanpa ada ikatan waktu.
Seandainya melakukan peperangan terhadap kaum musyrik diharamkan dalam bulan-bulan Haram, sudah dipastikan ada ikatannya, yaitu dengan lepasnya bulan-bulan Haram.
Juga karena Rasulullah ﷺ ketika mengepung penduduk Taif terjadi dalam bulan Haram.
yaitu bulan Zul Qa’dah, seperti yang disebutkan di dalam kitab Sahihain, bahwa Nabi ﷺ berangkat untuk memerangi orang-orang Hawazin dalam bulan Syawwal.
Setelah Nabi ﷺ berhasil mematahkan dan mencerai-beraikan mereka, lalu menjarah harta rampasan mereka, maka sisa-sisa mereka berlindung di kota Taif.
Maka Nabi ﷺ menuju Taif dan mengepung mereka selama empat puluh hari, lalu pulang ke Madinah tanpa membukanya.
Dan terbukti bahwa Nabi ﷺ melakukan pengepungannya itu dalam bulan Haram.

Pendapat kedua mengatakan bahwa memulai peperangan dalam bulan-bulan Haram hukumnya haram, dan bahwa keharaman melakukan peperangan dalam bulan-bulan Haram ini tidak di-mansukh, karena firman Allah subhanahu wa ta’ala, yang mengatakan:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar syiarsyiar Allah dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan Haram.
(Al Maidah:2)

Bulan Haram dengan bulan Haram dan pada sesuatu yang patut dihormati berlaku hukum qisas.
Oleh sebab itu, barang siapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia yang seimbang dengan serangannya terhadap kalian.
(Al Baqarah:194), hingga akhir ayat.

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu.
(QS. At-Taubah [9]:5), hinggaakhirayat.

Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan bahwa bulan-bulan Haram itu adalah empat bulan yag telah ditetapkan setiap tahunnya, bukan bulan-bulan tas-yir, menurut salah satu di antara dua pendapat.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan perangilah kaum musyrik itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya.

Dapat ditakwilkan bahwa ayat ini terputus dari ayat sebelumnya, kemudian ia dianggap sebagai kalimat baru yang menjelaskan hukum yang lain.
Dan hal ini termasuk ke dalam Bab
"Menggugah dan Memberikan Semangat untuk Hal yang Dimaksud".
Dengan kata lain, sebagaimana mereka menghimpun kekuatannya untuk memerangi kalian saat mereka hendak memerangi kalian, maka himpunlah kekuatan kalian untuk memerangi mereka, bila kalian hendak memerangi mereka.
Dan perangilah mereka sama dengan apa yang mereka lakukan terhadap kalian.


Dapat pula diinterprestasikan bahwa telah diberi izin oleh Allah bagi kaum mukmin untuk memerangi orang-orang musyrik dalam bulan-bulan Haram, jika mereka (orang-orang musyrik) memulainya terlebih dahulu, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Bulan Haram dengan bulan Haram dan pada sesuatu yang patut dihormati berlaku hukum qisas.
(Al Baqarah:194)

dan janganlah kalian memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kalian di tempat itu.
Jika mereka memerangi kalian (di tempat itu), maka bunuhlah mereka.
(Al Baqarah:191), hingga akhir ayat.

Demikianlah jawaban tentang pengepungan yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ terhadap ahli Taif yang pengepungan tersebut terus berlangsung sampai masuk bulan Haram, karena sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ itu merupakan kelanjutan dari pepe­rangan melawan orang-orang Hawazin dan para hulafa (teman-teman sepakta)nya dari kalangan Saqif (penduduk kota Taif).
Karena sesungguhnya merekalah yang terlebih dahulu memulai peperangan, menghimpun pasukan, serta menyerukan perang dan bertanding di medan perang.
Maka pada saat itu juga Rasulullah ﷺ menerima tantangan mereka, seperti yang telah disebutkan jauh sebelum ini.

Ketika orang-orang Hawazin berlindung di benteng kota Taif, maka Rasulullah ﷺ dan kaum muslim datang ke Taif untuk mengeluarkan mereka dari Benteng Taif.
Akhirnya mereka berhasil membunuh sebagian dari pasukan kaum muslim yang mencoba naik ke benteng mereka.
Kemudian pengepungan dilanjutkan dengan manjaniq (pelontar batu) dan senjata jarak jauh lainnya selama kurang lebih empat puluh.

Pengepungan tersebut dimulai pada bulan Halal dan berlanjut sampai ke bulan Haram selama beberapa hari.
Setelah itu Rasulullah ﷺ kembali ke Madinah meninggalkan mereka.
Hal ini dilakukan oleh Rasulullah ﷺ karena mengingat bahwa dapat dimaafkan melanjutkan sesuatu itu dalam kondisi tertentu yang tidak dapat dimaafkan bila dilakukan pada permulaannya.
Hal seperti ini merupakan suatu perkara yang telah menjadi ketetapan hukum, dan hal yang semisal dengannya dalam hukum banyak di dapat.

Berikut ini akan kami sebutkan hadishadis yang menceritakan tentang hal tersebut.
Hal ini telah kami catat di dalam kitab Sirah.

[Penulis (Ibnu Kasir) tidak menuturkan hadishadis yang telah dijanjikannya itu, maka harap direnungkan.
pent]

Kata Pilihan Dalam Surah At Taubah (9) Ayat 36

KAAFFAH
كَآفَّة

Ism manshub (berbaris atas) karena dalam kedudukan haal yaitu menggambarkan keadaan.
Maknanya jamii’a yaitu keseluruhan.

Berasal dari kata al kaff dan asal maknanya ialah al man’ yaitu penolakan, menghalang atau melindungi.
Dikatakan untuk ujung tangan, kaff yaitu telapak tangan karena ia melindungi seluruh anggota badan dengannya, rajul makfuuf bermakna matanya menghalangnya dari melihat.
Ibnu Qutaibah dan Al Yazidi memberikan makna lafaz ini dengan makna di atas.

Ia disebut lima kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 208;
At Taubah (9); ayat 36 (dua kali), 122;
Saba‘ (34), ayat 28.
Allah berfirman,

ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً

Al Qurtubi berkata,
lafaz kaffah dalam ayat ini adalah haal atau keadaan bagi lafaz as silm (Islam) yang bermakna jamii’a yaitu keseluruhan.
Dipetik dari kata kafafta, maknanya engkau menghalang yaitu "Janganlah engkau menghalang seseorang masuk Islam"

Pakar tafsir menyatakan, ia dinamakan kaffah karena ia melarang mereka dari perpecahan

Lafaz kaffah dalam kesemua ayat-ayat ini bermakna keseluruhan, namun berbeda perkara dan keadaan.

Dalam surah At Taubah (9), ayat 36, adalah perintah Allah kepada orang mukmin untuk memerangi orang musyrik secara menyeluruh seperti mereka memerangi mereka.
Allah berfirman,

وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً

Ibnu Katsir menyatakan, terdapat dua pentafsiran dalam ayat ini.

Pertama, ayat ini terputus dari kalimat sebelumnya dan membentuk hukum baru sehingga ia menjadi suruhan dan galakan.
Tafsirannya, "Sebagaimana mereka berhimpun bagi memerangi kamu, apabila mereka memerangi kamu berhimpunlah kamu juga bagi memerangi mereka sebagaimana mereka memerangi kamu"

Kedua, ayat ini adalah izin bagi orang mukmin memerangi orang musyrik pada bulan Muharam, sekiranya mereka memulainya seperti dalam firman Allah yang berarti,

Dan janganlah kamu memerangi mereka di dalam Masjidil Haram, sehingga mereka memerangi kamu di dalamnya, sekiranya mereka memerangi kamu maka bunuhlah mereka

Dan juga Allah berfirman yang artinya,

Bulan Muharam (dibalas) dengan bulan Muharam dan kehormatan itu berbalasan juga.

Dalam surah At Taubah, ayat 122 menceritakan tentang larangan keseluruhan orang mukmin dari keluar berperang.
Allah berfirman,

وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةًۚ

Asy Syaukani berkata,
para pakar berbeda pendapat mengenai makna dalam ayat ini.

Pertama, sebahagian pakar menyatakan ayat ini adalah sisa-sisa hukum berjihad.
Ini karena apabila Allah menurunkan perintah berjihad dan berperang, orang muslim apabila diseru oleh Rasulullah untuk memerangi orang kafir, kesemua mereka keluar berjihad sehingga Madinah menjadi kosong dan sunyi.
Lalu Allah mengabarkan kepada mereka, tindakan mereka kurang tepat sekiranya mereka semua keluar berjihad.
Sebaliknya, hendaklah segolongan dari mereka menetap dan belajar serta mendalami ilmu pengetahuan, seterusnya mengajarkan kepada orang yang berperang apabila mereka pulang dari berperang.

Kedua, sebahagian lagi menyatakan ayat ini bukanlah sisa-sisa dari hukum berjihad, namun mempunyai hukum tersendiri berkenaan dengan suruhan keluar mencari dan mendalami ilmu agama sepertimana kewajiban keluar berjihad di jalan Allah.

Dari sini, terdapat dua safar (keluar mengembara) yaitu, keluar bagi berjihad dan keluar bagi menuntut ilmu.
Tentunya kewajiban keluar menuntut ilmu berlaku apabila tidak ada penuntut yang belajar di tempatnya melainkan dengan keluar mengembara untuk belajar.

Sedangkan dalam surah Saba‘, lafaz kaffah berkaitan dengan perutusan Rasulullah bagi semua manusia.
Allah berfirman,

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا

Muhammad Ali As Sabuni menafsirkan ayat ini, "Kami tidak mengutusmu wahai Muhammad, untuk orang Arab saja, namun kami mengutusmu untuk keseluruhan makhluk, membawa berita gembira bagi orang yang beriman dengan nikmat syurga dan membawa peringatan bagi orang kafir tentang siksaan api neraka.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:507-509

Unsur Pokok Surah At Taubah (التوبة‎‎)

Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan.

Dinamakan juga dengan "Baraah" yang berarti berlepas diri, yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh ‘Ali radhiyallahu ‘anhu pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

▪ Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman.
▪ Pembalasan atas amal amalan manusia hanya dari Allah.
▪ Segala sesuatu menurut sunnatullah.
▪ Perlindungan Allah bagi orang-orang yang beriman.
▪ Kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

▪ Kewajiban menafkahkan harta.
▪ Macam-macam harta dalam agama serta penggunaannya.
Jizyah.
▪ Perjanjian dan perdamaian.
▪ Kewajiban umat Islam terhadap Nabinya.
▪ Sebab-sebab orang Islam melakukan perang total.
▪ Beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad ﷺ dengan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
Perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
Perang Tabuk.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.

Audio

QS. At-Taubah (9) : 1-129 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 129 + Terjemahan Indonesia

QS. At-Taubah (9) : 1-129 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 129

Gambar Kutipan Ayat

Surah At Taubah ayat 36 - Gambar 1 Surah At Taubah ayat 36 - Gambar 2
Statistik QS. 9:36
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah At Taubah.

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, “Pengampunan”‎) adalah surah ke-9 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti “Pengampunan” karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara’ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah 9
Nama Surah At Taubah
Arab التوبة‎‎
Arti Pengampunan
Nama lain Al-Bara’ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 113
Juz Juz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 129
Jumlah kata 2506
Jumlah huruf 11116
Surah sebelumnya Surah Al-Anfal
Surah selanjutnya Surah Yunus
Sending
User Review
4.8 (28 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

9:36, 9 36, 9-36, Surah At Taubah 36, Tafsir surat AtTaubah 36, Quran At-Taubah 36, Surah At Taubah ayat 36

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah At Taubah

۞ QS. 9:1 • Membuat perjanjian dengan orang musyrik • Allah bebas dari orang musyrikRasul bebas dari kemusyrikan dan orang musyrik

۞ QS. 9:2 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 9:3 • Tidak berkumpul dua agama di semenanjung Arab • Azab orang kafir • Allah bebas dari orang musyrikRasul bebas dari kemusyrikan dan orang musyrik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 9:4 • Tidak berkumpul dua agama di semenanjung Arab • Membuat perjanjian dengan orang musyrik

۞ QS. 9:5 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Tidak berkumpul dua agama di semenanjung ArabShalat rukun Islam

۞ QS. 9:6 • Tidak berkumpul dua agama di semenanjung Arab • Mengabulkan permohonan orang musyrik jika minta perlindungan

۞ QS. 9:7 • Tidak berkumpul dua agama di semenanjung Arab • Membuat perjanjian dengan orang musyrik

۞ QS. 9:8 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:9 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Berjual beli dengan Allah

۞ QS. 9:11 Islam menghapus dosa masa lalu • Shalat rukun IslamZakat rukun Islam • Mengakui kewajiban shalat dan zakat berarti menjaga jiwa •

۞ QS. 9:12 • Membuat perjanjian dengan orang musyrik

۞ QS. 9:14 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Azab orang kafir

۞ QS. 9:15 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:16 Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 9:17 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia • Penghapus pahala kebaikan

۞ QS. 9:18 Tauhid Uluhiyyah • Kewajiban beriman pada hari akhir • Sifat-sifat orang mukmin

۞ QS. 9:19 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Allah menggerakkan hati manusia • Kebodohan orang kafir • Perbedaan derajat manusia sesuai dengan amalnya • Keutamaan iman

۞ QS. 9:20 • Pahala iman • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Perbedaan derajat manusia sesuai dengan amalnya • Keutamaan iman • Perbedaan tingkat amal saleh

۞ QS. 9:21 Ar Rabb (Tuhan) • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga •

۞ QS. 9:22 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 9:23 Hukum memohon bantuan orang musyrik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 9:24 • Macam-macam fitnah • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 9:25 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 9:26 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Allah memperkokoh orang mukmin • Keikutsertaan malaikat dalam peperangan • Azab orang kafir

۞ QS. 9:27 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 9:28 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Tidak berkumpul dua agama di semenanjung Arab

۞ QS. 9:29 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat • Bersikap keras terhadap orang kafir

۞ QS. 9:30 • Mendustai Allah

۞ QS. 9:31 Tauhid Uluhiyyah • Mendustai Allah • Mensucikan Allah dari segala sekutu • Al Wahid (Maha Esa) • Islam agama para nabi

۞ QS. 9:32 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 9:33 Hikmah penurunan kitab-kitab samawiHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 9:35 • Nama-nama neraka • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 9:37 • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 9:39 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Dosa-dosa besar

۞ QS. 9:40 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Allah memperkokoh orang mukminAl Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 9:42 • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:44 Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:45 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:46 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:47 Al ‘Alim (Maha megetahui) • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 9:48 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 9:49 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:50 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 9:51 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Al Maula (Maha Penolong) • Segala sesuatu ada takdirnya • Kebaikan pada pilihan Allah •

۞ QS. 9:52 • Siksa orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 9:53 • Perbuatan orang kafir sia-sia • Penghapus pahala kebaikan

۞ QS. 9:54 • Perbuatan orang kafir sia-sia • Sifat orang munafik • Penghapus pahala kebaikan

۞ QS. 9:55 Sifat Iradah (berkeinginan) • Macam-macam fitnah • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:56 • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik

۞ QS. 9:57 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:58 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:59 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:60 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:61 • Sikap orang munafik terhadap Islam • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 9:62 • Kewajiban patuh kepada Rasul • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:63 • Nama-nama neraka • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 9:64 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:65 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 9:66 • Siksa orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 9:67 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 9:68 • Nama-nama neraka • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:69 • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:70 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 9:71 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 9:72 • Pahala iman • Nama-nama surga • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 9:73 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Bersikap keras terhadap orang kafir • Azab orang kafir • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:74 • Siksa orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 9:75 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:76 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 9:77 • Sifat orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 9:78 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Allamul Ghuyub (Maha Mengetahui alam gaib) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 9:79 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 9:80 • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah • Dosa terbesar

۞ QS. 9:81 • Nama-nama neraka • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:82 • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 9:83 • Sifat orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik

۞ QS. 9:84 Sholat jenazah orang munafik • Siksa orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik

۞ QS. 9:85 Sifat Iradah (berkeinginan) • Macam-macam fitnah • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:86 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:87 • Allah menggerakkan hati manusia • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:88 • Pahala iman • Keutamaan iman

۞ QS. 9:89 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 9:90 • Azab orang kafir • Sifat orang munafik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 9:91 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 9:92 • Toleransi Islam

۞ QS. 9:93 • Allah menggerakkan hati manusia • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:94 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 9:95 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 9:96 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:97 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:98 Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Perbuatan dan niat

۞ QS. 9:99 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 9:100 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 9:101 • Keluasan ilmu Allah • Siksa kubur • Siksaan ahli neraka dilipatgandakan • Siksa orang munafik • Orang munafik dan siksa kubur

۞ QS. 9:102 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Pelebur dosa besar •

۞ QS. 9:103 Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:104 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 9:105 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Kebenaran hari penghimpunan • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 9:106 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:107 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 9:109 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Allah menggerakkan hati manusia • Siksa orang munafikHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 9:110 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:111 • Allah menepati janji • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Berjual beli dengan Allah • Perbuatan yang menghalangi api neraka

۞ QS. 9:112 Shalat rukun IslamPuasa rukun Islam • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 9:113 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Siksa orang kafir

۞ QS. 9:115 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 9:116 • Segala sesuatu milik Allah • Kekuasaan Allah • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong)

۞ QS. 9:117 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Ra’uf (Maha Kasih) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Allah menggerakkan hati manusia •

۞ QS. 9:118 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 9:120 • Balasan dan pahala dari Allah • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 9:121 • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Balasan dan pahala dari Allah • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 9:123 • Bersikap keras terhadap orang kafir

۞ QS. 9:124 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Bertambah dan berkurangnya iman

۞ QS. 9:125 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 9:126 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:127 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Allah menggerakkan hati manusia • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 9:129 Tauhid RububiyyahTauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan)

Ayat Pilihan

Sungguh Allah adalah Tuhan yang memberikan nikmat & kebaikan bagi manusia.
Di antara wujud rahmat-Nya itu adalah penundaan hukuman yang akan dikenakan atas orang-orang y
g berdusta. Namuni kebanyakan manusia tak mensyukuri karuniaNya
QS. An-Naml [27]: 73

Katakanlah:
“Berjalanlah di muka bumi,
kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu”.
QS. Al-An’am [6]: 11

Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya,
pasti Allah mengetahui.

Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit & apa-apa yang ada di bumi.
Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
QS. Ali ‘Imran [3]: 29

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Al-Lihyaniy berpendapat bahwa Alquran secara etimologi memiliki arti ...

Benar! Kurang tepat!

Selain berisi kisah-kisah umat terdahulu, dalam Alquran juga terdapat tamsil sebagai peringatan bagi manusia. Tamsil artinya ...

Benar! Kurang tepat!

Alquran adalah mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Di bawah ini merupakan bukti bahwa Alquran adalah mukjizat yang terbesar adalah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Fungsi utama kandungan Alquran yang menjelaskan kisah umat terdahulu adalah sebagai ...

Benar! Kurang tepat!

Yang berarti ''menggabungkan sesuatu dengan yang lain'' adalah lafaz ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #16
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #16 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #16 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #9

Arti hadits maudhu’ adalah … Pengertian ijtihad menurut istilah adalah … Orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan infefensi hukum-hukum syariat dari sumber-sumber yang terpercaya disebut dengan … Berdasarkan bahasa, ijma artinya adalah … Era ketidaktahuan juga disebut zaman …

Pendidikan Agama Islam #22

Karena rajin belajar maka Afit selalu juara dalam setiap perlombaan antar sekolah, pernyataan tersebut merupakan contoh … Takdir yang bisa diubah dinamakan … Salah satu contoh takdir muallaq (bisa diubah) adalah … Matahari berputar mengelilingi sumbunya, termasuk contoh takdir … Yang tidak termasuk cara beriman kepada qada dan qadar Allah adalah …

Pendidikan Agama Islam #12

Masyarakat Mekkah pada awal nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah waktu itu sedang dilanda berbagai krisis, dan yang paling menonjol adalah krisis … Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir pada bulan … Nama isteri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selepas Khadijah ialah … Nama anak lelaki Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … … Nama Ibu susuan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … …

Kamus

Surga Firdaus

Apa itu Surga Firdaus? Berikut ini nama-nama surga, tingkatan, dan para kandidat penghuninya: 1. Surga Firdaus, diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta`ala dari emas. Kandidat penghuninya dijelaskan pad...

An Nafii’

Apa itu An Nafii’? Allah itu An-Nafi’ . Artinya adalah Allah itu Maha Pemberi Manfaat. Dia mampu memberikan manfaat yang besar kepada seluruh makhluk-Nya. Contohnya adalah Allah menciptak...

Mahmud al-Alusi

Siapa itu Mahmud al-Alusi? Abū al-Thanā ‘Shihāb ad-Dīn Sayyid Maḥmūd ibn’ Abd Allāh al-Ḥusaynī al-Ālūsī al-Baghdādī adalah seorang sarjana Islam Arab yang terkenal karena m...