Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

At Taubah

At Taubah (Pengampunan) surah 9 ayat 34


یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡاَحۡبَارِ وَ الرُّہۡبَانِ لَیَاۡکُلُوۡنَ اَمۡوَالَ النَّاسِ بِالۡبَاطِلِ وَ یَصُدُّوۡنَ عَنۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ وَ الَّذِیۡنَ یَکۡنِزُوۡنَ الذَّہَبَ وَ الۡفِضَّۃَ وَ لَا یُنۡفِقُوۡنَہَا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ۙ فَبَشِّرۡہُمۡ بِعَذَابٍ اَلِیۡمٍ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu inna katsiiran minal ahbaari warruhbaani laya’kuluuna amwaalannaasi bil baathili wayashudduuna ‘an sabiilillahi waal-ladziina yaknizuunadz-dzahaba wal fidh-dhata walaa yunfiquunahaa fii sabiilillahi fabasy-syirhum bi’adzaabin aliimin;

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.
Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,
―QS. 9:34
Topik ▪ Azab orang kafir
9:34, 9 34, 9-34, At Taubah 34, AtTaubah 34, At-Taubah 34
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Taubah (9) : 34. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini diterangkan bahwa kebanyakan pemimpin dan pendeta orang Yahudi dan Nasrani telah dipengaruhi oleh cinta harta dan pangkat.
Karena itu mereka tidak segan-segan menguasai harta orang lain dengan jalan yang tidak benar dan dengan terang-terangan menghalang-halangi manusia beriman kepada agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ.
Sebab kalau mereka membiarkan pengikut mereka membenarkan dan menerima dakwah Islam tentulah mereka tidak dapat lagi bersikap sewenang-wenang terhadap mereka dan akan hilanglah pengaruh dan kedudukan yang mereka nikmati selama ini.
Pemimpin-pemimpin dan pendeta-pendeta Yahudi dan Nasrani itu telah melakukan berbagai cara untuk mengambil harta orang lain, di antaranya:

1.
Membangun makam nabi-nabi dan pendeta-pendeta dan mendirikan gereja-gereja yang dinamai dengan nama-Nya itu.
Dengan demikian mereka dapat hadiah, nazar dan wakaf-wakaf yang dihadiahkan kepada makam dan gereja itu.
Kadang-kadang mereka meletakkan gambar orang-orang suci mereka atau patung-patungnya, lalu gambar-gambar, patung-patung itu disembah dan dimintai bermacam-macam permintaan dan keinginan sebagai imbalannya.
Supaya permintaan mereka dikabulkan, mereka hendaklah memberikan hadiah uang dan sebagainya.
Dengan demikian terkumpullah uang yang banyak dan uang itu dikuasai sepenuhnya oleh pendeta itu.
Ini adalah suatu tindakan yang bertentangan dengan agama yang dibawa oleh para rasul karena membawa kepada kemusyrikan dan mengambil harta orang dengan memakai nama nabi dan orang-orang suci.

2.
Yang khusus dilakukan oleh pendeta-pendeta Nasrani yaitu menerima uang dari seseorang sebagai imbalan atas pengampunan dosa yang diperbuatnya.
Seseorang yang berdosa dapat diampuni dosanya bila ia datang ke gereja menemui bapak pendeta dan mengakui di hadapannya semua dosa dan maksiat yang dilakukannya, mereka percaya dengan penuh keyakinan bahwa bila bapak pendeta itu telah mengampuni dosanya, ini berarti Tuhan telah mengampuninya karena bapak pendeta itu adalah wakil Tuhan di atas bumi.
Kepada mereka yang telah memberikan uang tebusan dosa itu diberikan kartu pengampunan seakan-akan kartu ini nanti yang akan diperlihatkannya kepada Tuhan di akhirat nanti di hari pembalasan yang menunjukkan bahwa mereka sudah bersih dari segala dosa.

3.
Imbalan memberikan fatwa-fatwa baik menghalalkan yang haram maupun mengharamkan yang halal sesuai dengan keinginan raja-raja, penguasa-penguasa dan orang-orang kaya.
Bila pembesar dan orang kaya itu ingin melakukan suatu tindakan yang bertentangan dengan kebenaran seperti membalas dendam dan bertindak kejam terhadap suatu golongan yang mereka anggap sebagai penghalang bagi terlaksananya keinginan mereka atau mereka anggap sebagai musuh, mereka minta kepada pendeta supaya dikeluarkan suatu fatwa yang membolehkan mereka bertindak sewenang-wenang terhadap orang-orang itu, meskipun fatwa itu bertentangan dengan ajaran agama mereka seakan-akan ajaran agama itu dianggap sepi dan seakan-akan kitab Taurat itu hanya lemberan kertas yang boleh diubah-ubah semau mereka.
Hal ini sangat dicela oleh Allah dalam firman-Nya:

Katakanlah: "Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Nabi Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahuinya.
(Q.S.
Al-An'am: 91)

4.
Mengambil harta orang lain yang bukan sebangsa atau seagama dengan mereka dengan melaksanakan kecurangan, pengkhianatan pencurian dan sebagainya dengan alasan bahwa Allah mengharamkan penipuan dan pengkhianatan hanya terhadap orang-orang Yahudi saja.
Adapun terhadap orang-orang yang tidak sebangsa dan seagama dengan mereka maka hal ini dibolehkan.
Hal ini dijelaskan Allah dengan firman-Nya:

Di antara ahli kitab ada orang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikan kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya.
Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi." Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahuinya.

(Q.S.
Ali Imran: 75)

5.
Mengambil rente (riba).
Orang-orang Yahudi sangat terkenal dalam hal ini, karena ada di antara pendeta-pendeta mereka yang menghalalkannya meskipun dalam kitab mereka riba itu diharamkan.
Ada pula di antara pendeta-pendeta itu yang menfatwakan bahwa mengambil riba dari orang-orang Yahudi adalah halal.
Demikian pula pendeta-pendeta Nasrani ada yang menghalalkan sebagian riba meskipun mengharamkan sebagian yang lain.

Demikian cara-cara yang mereka praktekkan dalam mengambil dan menguasai harta orang lain untuk kepentingan diri mereka sendiri dan untuk memuaskan nafsu dan keinginan mereka.
Adapun cara-cara mereka menghalangi manusia dari jalan Allah ialah dengan merusak akidah tauhid dan merusak ajaran agama yang murni.
Orang-orang Yahudi telah pernah menyembah patung anak sapi, pernah mengatakan bahwa Uzair adalah anak Allah, dan banyak sekali mereka memutarbalikkan ayat-ayat Allah dan mengubah-ubahnya sesuai dengan keinginan dan hawa nafsu mereka sebagaimana telah dijelaskan pada ayat-ayat yang lalu yang tersebut dalam surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa' dan Al-Maidah.
Mereka secara terang-terangan mengingkari Nabi Musa a.s.
sebagai nabi padahal dialah pembawa akidah yang murni yang kemudian dirusak oleh pendeta-pendeta Yahudi.
Demikian pula orang-orang Nasrani telah menyelewengkan akidah tauhid yang dibawa oleh Nabi Isa a.s.
sehingga mereka menganggapnya sebagai Tuhan.
Oleh karena itu mereka baik kaum Yahudi maupun Nasrani selalu menentang ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ.
bahkan selalu menghina beliau dengan berbagai cara dan selalu menentang dan mendustakan Alquranul Karim.
Mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk memadamkan cahaya Allah tetapi Allah sudah menetapkan bahwa Dia akan menyempurnakan cahaya itu.
Tentulah segala usaha dan daya upaya mereka akan menemui kegagalan tetapi pastilah hanya kehendak Allahlah yang berlaku dan terlaksana.
Allah berfirman:

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya.
(Q.S.
At Taubah: 32)

Demikianlah tindak-tanduk kebanyakan dari pimpinan dan pendeta kaum Yahudi dan Nasrani.
Mereka karena sifat serakah, loba dan tamak akan harta benda, mengumpulkan sebanyak-banyaknya dan mempergunakan sebagian dari harta itu untuk menghalangi manusia mengikuti jalan Allah.
Oleh sebab itu Allah akan melemparkan mereka kelak di akhirat ke dalam neraka dan akan menyiksa mereka dengan azab yang sangat pedih.
Mengenai pengumpulan harta ini dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, walaupun ditujukan kepada kaum Yahudi dan Nasrani, tetapi para mufassirin berpendapat bahwa ayat ini mencakup juga kaum muslimin.
Maka siapa saja yang karena tamak dan serakahnya berusaha mengumpulkan harta kemudian menyimpannya dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka ia diancam Allah akan dimasukkan ke dalam neraka baik dia beragama Yahudi, Nasrani maupun beragama Islam.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa setelah turun ayat ini, maka kaum Muslimin merasa berkeberatan dan berkata: "Kami tidak sampai hati bila kami tidak meninggalkan untuk anak-anak kami barang sedikit dari harta kami." Umar berkata: "Saya akan melapangkan hartamu." Lalu beliau pergi bersama Saban kepada Nabi dan mengatakan kepadanya: "Hai Nabi Allah, ayat ini amat terasa berat bagi sahabat engkau." Rasulullah menjawab: "Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan zakat melainkan agar harta yang tinggal di tanganmu menjadi bersih." Allah hanya menetapkan hukum warisan terhadap harta yang masih ada sesudah matimu." Umar mengucapkan takbir atas penjelasan Rasulullah itu, kemudian Nabi berkata kepada Umar: "Aku akan memberitahukan kepadamu sesuatu yang paling baik untuk dipelihara, yaitu perempuan saleh yang apabila seorang suami memandangnya dia merasa senang, dan apabila disuruh dia mematuhinya dan apabila dia berada di tempat lain perempuan itu menjaga kehormatannya."

At Taubah (9) ayat 34 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy At Taubah (9) ayat 34 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi At Taubah (9) ayat 34 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang Mukmin, ketahuilah bahwa banyak di antara orang alim dari kalangan Yahudi dan rahib-rahib Nasrani yang menghalalkan harta orang secara tidak benar, menyalahgunakan kepercayaan dan ketundukan orang lain kepada mereka dalam setiap perkataan mereka, dan menghalang-halangi orang untuk masuk Islam.
Wahai Nabi, orang-orang yang mengusai dan menyimpan harta benda berupa emas maupun perak, dan tidak menunaikan zakatnya, ingatkanlah mereka akan siksa yang sangat pedih.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan) yakni mengambil (harta benda orang lain dengan cara yang batil) seperti menerima suap dalam memutuskan hukum (dan mereka menghalang-halangi) manusia (dari jalan Allah) dari agama-Nya.
(Dan orang-orang) lafal ini menjadi mubtada/permulaan kata (yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya) dimaksud ialah menimbunnya (pada jalan Allah) artinya mereka tidak menunaikan hak zakatnya dan tidak membelanjakannya ke jalan kebaikan (maka beritahukanlah kepada mereka) beritakanlah kepada mereka (akan siksa yang pedih) yang amat menyakitkan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Hai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, dan mengikuti syariat-Nya.
Sesungguhnya banyak dari orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani mengambil harta orang-orang dengan jalan yang batil, seperti menerima suap dan sebagainya, juga melarang mereka untuk masuk ke dalam agama Islam dan menghalang-halangi mereka dari jalan Allah.
Dan orang-orang yang memiliki harta, tetapi mereka enggan menunaikan zakat dan tidak mengeluarkan dari harta itu hak-hak dan kewajibannya.
Maka berilah kabar gembira kepada mereka (bahwa mereka akan mendapatkan) siksa yang sangat pedih.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

As-Saddi mengatakan bahwa al-ahbar adalah menurut istilah orang Yahudi, sedang ar-ruhban adalah menurut istilah di kalangan orang-orang Nasrani.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendata mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?
(Al Maidah:63)

Ar-Ruhban adalah ahli ibadah di kalangan orang-orang Nasrani, sedangkan ulama mereka disebut pastur, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Yang demikian itu disebabkan di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib.
(Al Maidah:82)

Makna yang dimaksud ialah perintah untuk waspada terhadap ulama su' (ulama yang jahat) dan ahli ibadah yang sesat, seperti apa yang dikatakan oleh Sufyan ibnu Uyaynah, "Orang yang rusak dari kalangan ulama kami, maka dia lebih mirip dengan orang Yahudi, dan orang yang rusak dari kalangan ahli ibadah kami, maka dia lebih mirip dengan orang Nasrani.'"

Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan:

Sesungguhnya kalian benar-benar akan meniru perbuatan orang-orang sebelum kalian, satu langkah demi satu langkah.
Para sahabat bertanya, "Apakah yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani?"
Nabi ﷺ menjawab, "Lalu siapa lagi?"
Menurut riwayat lain, mereka mengatakan Persia dan Romawi, maka Nabi ﷺ menjawab, "Lalu siapa lagi kalau bukan mereka?"

Makna yang dimaksud ialah peringatan agar kita jangan meniru mereka dalam ucapan dan keadaan kita.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.

Demikian itu karena mereka (para rahib dan orang-orang alim Yahudi) menukar agama mereka dengan duniawiah, dan mereka memakan harta para pengikutnya melalui kedudukan dan kepemimpinan mereka, seperti yang terjadi di kalangan orang-orang alim Yahudi di masa Jahiliah, mereka mempunyai kehormatan tersendiri, dan mereka membebankan kepada para pengikutnya untuk membayar upeti, hadiah, serta pajak untuk kepentingan diri mereka sendiri.

Setelah Allah mengutus Rasul-Nya, mereka tetap menjalankan kesesatan, kekufuran, dan keingkaran mereka karena ketamakan mereka untuk mempertahankan kedudukan tersebut.
Tetapi Allah memadamkan­nya dengan nur (cahaya) kenabian, mencabutnya dari mereka, memberi ganti mereka dengan kehinaan dan dipandang remeh, serta mereka kembali dengan membawa murka dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.

Yakni di samping mereka memakan barang yang haram, mereka juga menghalang-halangi manusia supaya jangan mengikuti jalan yang benar, dan mencampuradukkan perkara yang hak dengan perkara yang batil, lalu menampakkan di kalangan orang-orang bodohnya bahwa mereka menyeru kepada kebaikan, padahal kenyataannya tidaklah seperti apa yang mereka duga.
Bahkan mereka adalah para penyeru kepada neraka, dan kelak di hari kiamat mereka tidak akan mendapat pertolongan.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah., hingga akhir ayat.

Mereka yang disebutkan oleh ayat ini merupakan golongan yang ketiga dari pemimpin manusia, karena sesungguhnya manusia itu merupakan beban bagi para ulama, semua hamba Allah, dan orang-orang yang memiliki harta.
Apabila keadaan mereka rusak, maka keadaan manusia pun rusak pula, seperti apa yang dikatakan oleh Ibnul Mubarak dalam bait syairnya:

Tiada yang merusak agama kecuali para raja, orang-orang alim.
dan rahib-rahib yang su' (jahat).

Pengertian al-kanzu menurut riwayat Malik, dari Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar ialah harta yang tidak ditunaikan zakatnya.

As-Sauri dan lain-lainnya telah meriwayatkan dari Ubaidillah Dari Nafi', dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa harta yang zakatnya dibayar bukanlah al-kanzu (harta simpanan), sekalipun harta tersebut disimpan di bawah bumi lapis ketujuh.
Dan harta benda yang tampak, tetapi tidak dibayarkan zakatnya, maka harta itulah yang disebut al-kanzu.
Hal ini telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Jabir, dan Abu Hurairah secara mauquf dan marfu’.

Umar ibnul Khattab dan lain-lainnya mengatakan bahwa suatu harta yang zakatnya ditunaikan bukan dinamakan harta simpanan, sekalipun ditanam di dalam tanah.
Sedangkan suatu harta yang tidak ditunaikan zakatnya, maka harta itu adalah harta simpanan, kelak pemiliknya akan disetrika dengannya (di hari kiamat), sekalipun harta itu ada di permukaan bumi.

Imam Bukhari telah meriwayatkan melalui hadis Az-Zuhri, dari Khalid ibnu Aslam yang mengatakan bahwa kami keluar bersama Abdullah ibnu Umar, lalu Abdullah ibnu Umar berkata, "Ini sebelum diturunkan ayat zakat.
Setelah ayat zakat diturunkan, maka Allah menjadikan zakat sebagai pencuci harta benda."

Hal yang sama telah dikatakan oleh Umar ibnu Abdul Aziz dan Irak ibnu Malik, bahwa ayat ini di-mansukh oleh firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang mengatakan:

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka.
(At Taubah:103), hingga akhir ayat.

Sa'id ibnu Muhammad ibnu Ziyad telah meriwayatkan dari Abu Umamah yang mengatakan, "Perhiasan pedang termasuk barang simpanan, dan aku tidak sekali-kali berbicara kepada kalian melainkan apa yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ"

Cukup banyak hadis yang menyebutkan tentang pujian kepada mempersedikit emas dan perak, dan celaan terhadap memperbanyak memiliki keduanya.
Berikut ini kami ketengahkan sebagian dariny apa yang cukup untuk membuktikan keseluruhannya.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami As-Sauri, telah menceritakan kepadaku Abu Husain, dari Abud Duha, dari Ja'dah ibnu Hubairah, dari Ali r.a.
sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak., hingga, akhir ayat.
Bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda: Celakalah bagi emas.
celakalah bagi perak.
Nabi ﷺ mengucapkannya sebanyak tiga kali.
Ali r.a.
melanjutkan kisahnya, bahwa hal tersebut terasa berat oleh para sahabat, dan mereka mengatakan, "Harta apakah yang boleh kami miliki?"
Maka Umar r.a.
berkata, "Aku akan mempertanyakan hal ini buat kalian." Umar r.a.
bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya sahabat-sahabatmu merasa keberatan.
Mereka menanyakan harta apakah yang boleh mereka miliki?"
Rasulullah ﷺ bersabda: Lisan yang selalu berzikir kepada Allah, hati yang selalu bersyukur, dan istri yang membantu seorang di antara kalian untuk agamanya.

hadis lain:

Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Amr ibnu Murrah, dari Abu Muhammad ibnu Ja'far.
telah menceritakan kepada kami Syu'bah, telah menceritakan kepadaku Salim ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Abul Huzail, telah menceritakan kepada kami seorang temanku, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Celakalah bagi emas dan perak.
Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa temannya itu berangkat bersama Umar ibnul Khattab menghadap Rasulullah ﷺ, lalu Umar bertanya, "Wahai Rasulullah, sabdamu mengatakan, 'Celakalah bagi emas dan perak.' lalu harta apa yang boleh kami simpan0'" Rasulullah ﷺ menjawab: Lisan yang berzikir, hati yang bersyukur, dan istri yang membantu urusan akhirat.

Dalam hadis lainnya Imam Ahmad mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Amr ibnu Murrah, dari ayahnya, dari Salim ibnu Abul Ja'd, dari Sauban yang mengatakan bahwa setelah diturunkan ayat mengenai emas dan perak pada permulaannya, mereka bertanya, "Harta apakah yang boleh kami ambil?"
Umar melanjutkan kisahnya, bahwa dialah yang akan menanyakan masalah itu kepada Rasulullah ﷺ Kemudian ia memacu untanya hingga berada di belakang unta Nabi ﷺ, lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, harta apakah yang boleh kami ambil?
Maksudnya yang boleh mereka miliki.
Maka Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya: Hati yang bersyukur, lisan yang berzikir, dan istri yang membantu seseorang di antara kalian untuk urusan akhiratnya.

Imam Turmuzi dan Imam Ibnu Majah telah meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Salim ibnu Abul Ja'd.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan.
Telah diriwayatkan pula dari Imam Bukhari.
bahwa Salim mendengar hadis ini dari Sauban.

Menurut kami, karena itulah sebagian dari mereka meriwayat­kannya secara mursal (yakni hanya sampai kepada tabi’in saja).

Dalam hadis lainnya lagi Ibnu Abu Hatim mengatakan:

telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Humaid ibnu Malik, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ya'la Al-Muharibi, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Gailan ibnu Jami' Al-Muharibi.
dari Usman ibnu Abul Yaqzan, dari Ja'far ibnu Iyas, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman Allah subhanahu wa ta'ala.: Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak.
(At-Taubah:34) hingga akhir ayat Maka hal itu terasa berat oleh kaum muslim, dan mereka mengatakan, "Tiada seorang pun di antara kita yang bakal meninggalkan harta simpanan sepeninggalnya buat anak-anaknya." Maka Umar berkata, "Aku akan memberi jalan kepada kalian." Maka Umar pergi menghadap Nabi ﷺ, dan kepergiannya itu diikuti oleh Sauban, lalu Umar bertanya, "Wahai Nabi Allah, sesungguhnya sahabat-sahabatmu merasa keberatan dengan ayat ini." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah tidak memfardukan zakat kecuali hanya untuk membersihkan harta kalian yang masih tersisa (tersimpan), dan sesungguhnya Allah telah memfardukan mawaris (pembagian waris) hanyalah terhadap harta kalian yang masih tersisa sepeninggal kalian.
Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa setelah mendengar jawaban itu Umar r.a.
bertakbir.
Kemudian Nabi ﷺ bersabda pula kepadanya: Maukah aku ceritakan kepadamu tentang simpanan yang paling baik buat seseorang?' Yaitu wanita (istri) yang saleh, apabila suami memandangnya, maka ia membuat suaminya gembira, dan apabila suami memerintahinya.
maka ia menaati suaminya, dan apabila suami tidak ada di tempat, maka ia memelihara kehormatan suaminya.

Imam Abu Daud dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya serta Ibnu Murdawaih telan meriwayatkan pula hadis ini melalui Yahya ibnu Ya'la dengan sanad yang sama.
Imam Hakim mengatakan, hadis ini sahih dengan syarat Bukhari dan Muslim, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.

Dalam hadis lain Imam Ahmad mengatakan bahwa:

telah mencerita­kan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Al-Auza'i, dari Hissan ibnu Atiyyah yang mengatakan bahwa Syaddad ibnu Aus r.a.
pernah melakukan suatu perjalanan, lalu ia turun istirahat di suatu tempat, kemudian berkata kepada pelayannya, "Ambilkanlah bekal makanan kita untuk kita main-mainkan." Maka aku (perawi) memprotes kata-katanya itu.
Lalu ia berkata, "Tidak sekali-kali aku berbicara suatu kalimat sejak aku masuk Islam melainkan aku mengungkapkannya dengan kata-kata kiasan, selain dari kalimatku berikut.
Maka janganlah kamu menghafal kata-kataku tadi, tetapi hafalkanlah apa yang akan aku kemukakan kepada kalian sekarang ini.
Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Apabila seseorang ingin menyimpan emas dan perak, maka simpanlah (hafalkanlah) kalimat-kalimat berikut, 'Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kesabaran dalam mengerjakan perkara (agama) ini dan keteguhan hati dalam hidayah.
Dan aku memohon kepada Engkau (jadikanlah diriku orang yang) bersyukur atas nikmat-Mu.
Aku memohon kepada Engkau (jadikanlah diriku orang yang) beribadah kepada-Mu dengan baik.
Aku memohon kepada Engkau ( anugerahilah diriku) hati yang selamat.
Aku memohon kepada Engkau (anugerahilah diriku) lisan yang benar.
Aku memohon kepada Engkau (anugerahi­lah diriku) dari kebaikan segala sesuatu yang Engkau ketahui, dan aku berlindung kepada Engkau dari kejahatan semua yang Engkau ketahui.
Dan aku memohon ampun kepada Engkau dari segala dosa yang Engkau ketahui, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui semua yang gaib'.”

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah At Taubah (9) ayat 34
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Hushain dari Zaid bin Wahb dia berkata,
Aku melewati Abu Dzar ketika dia berada di Rabadzah. Maka aku bertanya kepadanya, Apa yang menyebabkan kamu berada di sini? Dia menjawab,
Ketika aku berada di Syam, aku membaca ayat, Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. (At Taubah: 34). Mu'awiyah berkata,
Ayat ini bukan berkenaan dengan kita, tetapi ayat ini berkenaan dengan Ahlu kitab. Abu Dzar berkata,
maka aku katakan kepadanya bahwa ayat ini berkenaan dengan kita dan mereka.

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur'an - Nomor Hadits: 4293

Kata Pilihan Dalam Surah At Taubah (9) Ayat 34

FIDHDHAH
فِضَّة

Arti kata fidhdhah adalah perak, yaitu sejenis logam yang berwarna putih dan berkilat (digunakan untuk membuat perhiasan, uang dan lain-lain).

Kata fidhdhah diulang enam kali dalam Al Qur'an, yaitu dalam surah:
-At Taubah (9), ayat 34;
-Ali Imran (3), ayat 14;
-Az Zukhruf (43), ayat 33;
-Al Insaan (76), ayat 15, 16 dan 21.

Pada surah Ali Imran (3), ayat 14 Allah menerangkan bahawa manusia mempunyai kecenderungan untuk mencintai perkara-perkara duniawi. Pada ayat ini Allah menyebutkan tujuh perkara yang menjadi daya tarik dunia paling utama bagi manusia, salah satu dari tujuh perkara tersebut adalah perak (fidhdhah). Meskipun secara naluriah manusia mempunyai kecenderungan untuk mencintai perkara-perkara tersebut namun Allah mengingatkan bahawa ada kenikmatan yang lebih baik daripada kenikmatan dunia tersebut, yaitu kenikmatan di akhirat yang berupa syurga dengan segala kenikmatan di dalamnya.

Manusia dapat dikelompokkan menjadi dua dalam mengelola kecenderungannya mencintai dunia ini, yaitu:

(1). Manusia yang menjadikan perkara-perkara dunia itu sebagai maksud dan matlamat utamakan dalam hidup di dunia ini, sehingga hati, fikiran dan perbuatannya selalu sibuk dengan urusan dunia dan lupa terhadap nasibnya di kehidupan akhirat;

(2). Manusia yang menyadari bahawa perkara-perkara dunia tersebut merupakan ujian dari Allah untuk mengetahui siapakah hamba-hamba-Nya yang lebih mengutamakan ketaatan dan keridhaan kepada Allah berbanding kenikmatan dan kelezatan dunia, sehingga mereka dapat menjadikan dunia sebagai alat untuk memperbanyak bekal untuk kehidupan di akhirat.

Pada surah At Taubah (9), ayat 34 Allah menerangkan salah satu bentuk manusia yang tergoda dengan kenikmatan dan kemegahan duniawi. Mereka adalah orang-orang yang suka menyimpan emas dan perak (fidhdhah) dan tidak mau mengeluarkan zakat atau menafkahkannya untuk kebajikan. Kenikmatan sementara yang dirasakan oleh manusia di dunia sehingga dia lupa kepada Allah menyebabkannya tidak dapat merasakan kenikmatan di akhirat bahkan mereka akan dibalas oleh Allah dengan siksa yang pedih.

Pada surah Az Zukhruf (43), ayat 33 hingga 35 diterangkan bahwa Allah mampu membuatkan rumah yang atap, tangga, pintu dan ranjang tidurnya terbuat dari perak (fidhdhah) untuk orang-orang yang kufur kepada-Nya. Namun Allah tidak melakukannya karena kenikmatan dunia tersebut adalah kecil nilainya apabila dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat, sehingga kenikmatan hidup di akhirat semestinya menjadi matlamat utama manusia, bukannya kemegahan dunia. Selain dari pada itu kemegahan dunia sering kali menyebabkan manusia melampaui batas dalam kekafiran dan kemaksiatan. Oleh karena itu tidak dibuatnya rumah megah untuk orang-orang yang kufur dan juga tidak diberikannya kenikmatan-kenikmatan dunia yang lain kepada sebahagian manusia adalah untuk kemaslahatan manusia itu sendiri, yaitu supaya mereka tidak lupa diri dengan banyak melakukan kemaksiatan. Ini menunjukkan bahawa Allah sangat menyayangi hambanya.

Sedangkan pada surah Al Insaan (76), ayat 15, 16 dan 21 Allah menggambarkan kenikmatan dan kemegahan hidup di syurga. Di antara kemegahan itu adalah bejana yang digunakan adalah terbuat daripada perak (fidhdhah), piala-piala yang digunakan untuk minum bentuknya seperti kaca (nampak jelas isinya), namun ianya juga terbuat dari perak; dan juga gelang-gelang yang digunakan oleh penduduk syurga terbuat dari perak (fidhdhah). Orang yang akan mendapatkan kenikmatan dan kemegahan hidup ini adalah orang-orang yang hati dan akhlaknya baik (Abraar), mempercayai hari akhir dan yang mau memberi makan kepada orang miskin, anak yatim dan para tawanan perang dengan penuh keikhlasan, sebagaimana yang diterangkan oleh ayat-ayat sebelumnya.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:434-435

Informasi Surah At Taubah (التوبة‎‎)
Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat tennasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan berhubung kata At Taubah berulang kali disebut dalam surat ini.

Dinamakan juga dengan "Baraah" yang berarti berlepas diri yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh 'Ali r.a.
pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman
pembalasan atas amal­ amalan manusia hanya dari Allah
segala sesuatu menurut sunnatullah
perlin­dungan Allah bagi orang-orang yang beriman
kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

Kewajiban menafkahkan harta
macam-macam harta dalam agama serta peng­gunaannya
jizyah
perjanjian dan perdamaian
kewajiban umat Islam terhadap Nabinya
sebab-sebab orang Islam melakukan perang total
beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad s.aw. dengan Abu Bakar r.a. di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
perang Tabuk.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.


Gambar Kutipan Surah At Taubah Ayat 34 *beta

Surah At Taubah Ayat 34



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah At Taubah

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, "Pengampunan"‎) adalah surah ke-9 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti "Pengampunan" karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara'ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad S.A.W kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah9
Nama SurahAt Taubah
Arabالتوبة‎‎
ArtiPengampunan
Nama lainAl-Bara'ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu113
JuzJuz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat129
Jumlah kata2506
Jumlah huruf11116
Surah sebelumnyaSurah Al-Anfal
Surah selanjutnyaSurah Yunus
4.6
Rating Pembaca: 4.6 (16 votes)
Sending







✔ kajian tafsir Attaubah 34, makalah surah at taubah 34