QS. At Taubah (Pengampunan) – surah 9 ayat 28 [QS. 9:28]

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنَّمَا الۡمُشۡرِکُوۡنَ نَجَسٌ فَلَا یَقۡرَبُوا الۡمَسۡجِدَ الۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِہِمۡ ہٰذَا ۚ وَ اِنۡ خِفۡتُمۡ عَیۡلَۃً فَسَوۡفَ یُغۡنِیۡکُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖۤ اِنۡ شَآءَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu innamaal musyrikuuna najasun falaa yaqrabuul masjidal haraama ba’da ‘aamihim hadzaa wa-in khiftum ‘ailatan fasaufa yughniikumullahu min fadhlihi in syaa-a innallaha ‘aliimun hakiimun;

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini.
Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
―QS. 9:28
Topik ▪ Ayat yang berhubungan dengan Abdullah bin Ubay bin Salul
9:28, 9 28, 9-28, At Taubah 28, AtTaubah 28, At-Taubah 28

Tafsir surah At Taubah (9) ayat 28

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Taubah (9) : 28. Oleh Kementrian Agama RI

Setelah Rasulullah ﷺ menunjuk Abu Bakar menjadi Amirul Hajj, maka Rasulullah memberi tugas kepada Ali bin Abu Talib supaya mendampingi Abu Bakar membacakan ayat-ayat permulaan surat At-Taubah di hadapan orang banyak.
Maka timbullah kecemasan di kalangan kaum muslimin karena khawatir akan menghadapi kesulitan makanan akibat orang-orang musyrik tidak dibolehkan masuk ke Mekah untuk melakukan ibadah haji.
Orang-orang musyrik itu biasanya apabila datang ke Mekah untuk mengerjakan haji mereka membawa bahan-bahan makanan sebagai barang dagangan.
Hal ini mempengaruhi orang-orang Islam sehingga mereka bertanya satu sama lain, dari manakah kita akan mendapat makanan sekiranya orang-orang musyrik itu tidak dibolehkan lagi masuk Mekah.
Maka turunlah ayat ini yang menerangkan kepada orang-orang mukmin bahwa orang-orang musyrik itu adalah hukumnya najis, disebabkan akidah mereka kotor dan rusak, mereka menyembah berhala dan patung, percaya kepada tahayul dan khurafat.
Mereka makan barang yang kotor, seperti bangkai dan darah.
Perjudian dan perzinaan mereka anggap perbuatan yang baik, Orang-orang yang kotor akidah dan perbuatannya dilarang datang ke Masjidil Haram.
Karena itu setelah berakhir tahun 9 hijriah mereka dilarang masuk ke tanah suci terutama memasuki Masjidil Haram.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang Mukmin, sesungguhnya jiwa orang-orang musyrik itu, akibat kesyirikan mereka, adalah najis, dan akidah mereka pun sesat.
Oleh karena itu, janganlah kalian perbolehkan mereka untuk memasuki al-Masjid al-Haram setelah tahun 9 Hijriyah ini.
Apabila kalian takut miskin karena terputusnya hubungan dagang mereka dengan kalian, maka sesungguhnya Allah akan menggantinya untuk kalian dan akan memberikan kekayaan dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki.
Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala urusan kalian dan Mahabijaksana dalam mengaturnya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis) maksudnya kotor karena batin mereka najis (maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam) artinya, mereka tidak boleh memasuki tanah suci (sesudah tahun ini) yakni tahun kesembilan Hijriah.

(Dan jika kalian khawatir menjadi beban) fakir oleh sebab orang-orang musyrik itu tidak mau lagi berdagang dengan kalian (maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepada kalian dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki) dan memang Allah telah membuat mereka kaya sesudah itu melalui banyaknya futuh/kemenangan dan jizyah yang berhasil mereka peroleh.

(Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis dan kotor, janganlah kalian membiarkan mereka tinggal di sekitar Masjidil Haram setelah tahun ini, yaitu tahun sembilah Hijrah.
Jika kamu takut miskin karena hubungan perdagangan kamu terputus dengan mereka, sesungguhnya Allah akan menggantinya dan Allah akan mencukupkan kalian dengan karunia-Nya jika Dia menghendaki.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui keadaan kalian dan Maha Bijaksana dalam mengurus keadaan kalian.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin lagi suci agama dan dirinya agar mengusir orang-orang musyrik dari Masjidil Haram, karena mereka adalah orang-orang yang najis agama (akidah)nya.
Dan sesudah turunnya ayat ini mereka tidak boleh lagi mendekati Masjidil Haram.

Ayat ini diturunkan pada tahun sembilan Hijriah.
Karena itulah maka Rasulullah ﷺ mengutus Ali untuk menemani Abu Bakar r.a.
di tahun itu.
Dan Nabi ﷺ memerintahkan kepadanya untuk menyerukan pengumuman di kalangan orang-orang musyrik, bahwa sesudah tahun ini tidak boleh lagi ada orang musyrik berhaji dan tidak boleh lagi ada orang tawaf di Baitullah dengan telanjang.
Dengan demikian, maka Allah telah menyempurnakan agama-Nya dan menetapkan hal ini sebagai syariat dan keputusan-Nya.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadaku Abuz Zubair, bahwa ia pernah mendengar Jabir ibnu Abdullah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.
Kecuali sebagai seorang budak atau seseorang dari kalangan ahli zimmah (kafir zimmi).

Telah diriwayatkan pula secara marfu’ dari jalur lain.
Imam Ahmad mengatakan,

telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Al-Asy’as (yakni Ibnu Siwar), dari Al-Hasan, dari Jabir yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Tidak boleh lagi memasuki masjid kita ini sesudah tahun ini seorang musyrik pun terkecuali kafir zimmi dan pelayan-pelayan (budak-budak) mereka.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid dengan predikat marfu’.
tetapi yang lebih sahih sanadnya berpredikat mauquf.

Imam Abu Amr A!-Aaza”i telah menceritakan bahwa Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz menulis surat yang menyatakan, “Laranglah orang-orang Yahudi dan Nasrani memasuki masjid-masjid kaum muslim!” Lalu larangannya itu ia iringkan dengan menyebutkan firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.

Ata mengatakan bahwa seluruh Tanah Suci Mekah adalah masjid, karena Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman:

…maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.

Ayat ini menunjukkan bahwa orang musyrik itu najis, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis sahih (lawan katanya), yaitu:

Orang mukmin itu tidak najis.

Adapun kenajisan tubuh orang musyrik, menurut pendapat jumhur ulama sebenarnya tubuh dan diri orang musyrik tidaklah najis, karena Allah subhanahu wa ta’ala.
telah menghalalkan sembelihan Ahli Kitab.
Tetapi sebagian kalangan mazhab Zahiri mengatakan bahwa tubuh orang musyrik najis.

Asy’as telah meriwayatkan dari Al-Hasan, “Barang siapa yang berjabat tangan dengan mereka (orang musyrik), hendaklah ia berwudu.” Demikian menurut riwayat Ibnu Jarir.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan jika kalian khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepada kalian dari karunia-Nya.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa demikian itu karena orang-orang muslim mengatakan, “Niscaya semua pemasaran akan terputus dari kita, perniagaan kita akan bangkrut, dan akan lenyaplah pangsa pasar yang biasa kita kuasai dan menghasilkan keuntungan bagi kita.” Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan firman-Nya: Dan jika kalian khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepada kalian dari karunia-Nya.
(Q.S. At-Taubah [9]: 28) Yakni dari sumber lain.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala.: jika Dia menghendaki.
(Q.S. At-Taubah [9]: 28) Sampai dengan firman-Nya: sedangkan mereka dalam keadaan tunduk.
(Q.S. At-Taubah [9]: 29) Maksudnya, hal tersebut merupakan ganti dari apa yang kalian khawatirkan, yaitu khawatir pemasaran kalian akan terputus.
Maka Allah memberikan ganti kepada mereka dari apa yang diputuskan oleh kaum musyrik berupa upeti yang diberikan oleh kaum Ahli Kitab kepada kaum muslim, sebagai jizyah.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.

Dia mengetahui semua y ang menjadi maslahat bagi kalian.

…lagi Mahabijaksana.

Dia Mahabijaksana dalam semua yang diperintahkan dan yang dilarang­Nya, karena sesungguhnya Allah Mahasempurna dalam semua perbuatan dan ucapan-Nya, lagi Mahaadil terhadap makhluk-Nya dan Mahaadil dalam semua urusan-Nya.
Mahasuci lagi Mahatinggi Allah.
Karena itulah maka Dia memberikan ganti kepada kaum muslim atas usaha mereka yang hilang itu dengan harta jizyah yang mereka ambil dari orang-orang kafir zimmi.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah At Taubah (9) Ayat 28

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum musyrikin biasa datang ke Mekah membawa makanan untuk dijual di sana.
Setelah kaum musyrikin dilarang datang ke Mekah (dengan turunnya awal surah Baraa’ah ayat 28), kaum Muslimin berkata: “Darimana kita dapatkan makanan?” Maka Allah menurunkan kelanjutan ayat tersebut (Baraa’ah: 28), yang menegaskan bahwa Allah akan memberikan kecukupan dengan karunia-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Abusy Syaikh, yang bersumber dari Sa’id bin Jubair.
Hadits seperti ini bersumber pula dari ‘Ikrimah, ‘Athiyyah al ‘Aufi, adl-Dlahhak, Qatadah dan lain-lain.
Bahwa ketika turun ayat, innamal musyrikun najasung falaa yaqrabul masjidal haraama ba’da ‘aamihim haadzaa…(… sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini…) (Baraa’ah: 28) kaum Muslimin menjadi gelisah karena dilarangnya kaum musyrikin memasuki Mekah.
Mereka berkata: “Siapa yang akan membawa makanan dan pakaian untuk kita?” Maka turunlah kelanjutan ayat tersebut (Baraa’ah: 28) yang menegaskan bahwa Allah yang akan memberikan kecukupan kepada mereka.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah At Taubah (التوبة‎‎)
Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat tennasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan berhubung kata At Taubah berulang kali disebut dalam surat ini.

Dinamakan juga dengan “Baraah” yang berarti berlepas diri yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh ‘Ali r.a.
pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman
pembalasan atas amal­ amalan manusia hanya dari Allah
segala sesuatu menurut sunnatullah
perlin­dungan Allah bagi orang-orang yang beriman
kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

Kewajiban menafkahkan harta
macam-macam harta dalam agama serta peng­gunaannya
jizyah
perjanjian dan perdamaian
kewajiban umat Islam terhadap Nabinya
sebab-sebab orang Islam melakukan perang total
beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad s.aw. dengan Abu Bakar r.a. di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
perang Tabuk.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.

Audio

Qari Internasional

Q.S. At-Taubah (9) ayat 28 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. At-Taubah (9) ayat 28 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. At-Taubah (9) ayat 28 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. At-Taubah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 129 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 9:28
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah At Taubah.

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, "Pengampunan"‎) adalah surah ke-9 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti "Pengampunan" karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara'ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad S.A.W kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah 9
Nama Surah At Taubah
Arab التوبة‎‎
Arti Pengampunan
Nama lain Al-Bara'ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 113
Juz Juz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 129
Jumlah kata 2506
Jumlah huruf 11116
Surah sebelumnya Surah Al-Anfal
Surah selanjutnya Surah Yunus
4.6
Ratingmu: 4.8 (10 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/9-28







Pembahasan ▪ Tentang QS 9:28

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta