QS. At Taubah (Pengampunan) – surah 9 ayat 2 [QS. 9:2]

فَسِیۡحُوۡا فِی الۡاَرۡضِ اَرۡبَعَۃَ اَشۡہُرٍ وَّ اعۡلَمُوۡۤا اَنَّکُمۡ غَیۡرُ مُعۡجِزِی اللّٰہِ ۙ وَ اَنَّ اللّٰہَ مُخۡزِی الۡکٰفِرِیۡنَ
Fasiihuu fiil ardhi arba’ata asyhurin waa’lamuu annakum ghairu mu’jiziillahi wa-annallaha mukhziil kaafiriin(a);

Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat melemahkan Allah, dan sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir.
―QS. 9:2
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat ▪ Sifat orang munafik
9:2, 9 2, 9-2, At Taubah 2, AtTaubah 2, At-Taubah 2

Tafsir surah At Taubah (9) ayat 2

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Taubah (9) : 2. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah menerangkan supaya kaum Muslimin memberi kesempatan kepada kaum musyrikin yang selalu mengkhianati janji untuk berjalan di muka bumi selama empat bulan dengan bebas dan aman tanpa diganggu oleh siapa pun dari kaum Muslimin, supaya mereka dapat berpikir lebih tenang untuk menentukan sikap mereka, mau masuk Islam atau tetap menentang kaum Muslimin.

Adapun mulai berlakunya masa empat bulan itu, menurut pendapat yang masyhur ialah dari tanggal 10 Zulhijah tahun ke 9 Hijrah sampai dengan tanggal 10 Rabiul Akhir ke 10 Hijrah.
Sesuai dengan yang diriwayatkan oleh Abu Masyar Al-Madany dari Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazi dan lain-lain yang maksudnya: “Rasulullah ﷺ mengutus Abu Bakar sebagai Amir haji tahun ke 9 Hijrah dan mengutus pula Ali bin Abu Talib dengan membawa 30 atau 40 ayat Bara’ah untuk dibacakan kepada manusia di Mina.

Adapun pendapat yang lain dari itu akan tetapi agar tidak bersimpang-siur perlu dibedakan antara empat yang dimaksud di sini dengan empat bulan yang diharamkan berperang secara umum seperti yang disebut dalam hadis yang sahih yang berbunyi:

Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana keadaan (bentuknya) pada hari yang diciptakan langit dan bumi.
Setahun ada dua belas bulan, empat bulan daripadanya diharamkan berperang, tiga bulan berturut-turut yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharam dan Rajab bulan yang terjepit yang terletak di antara Jumadil (Akhir) dan Syakban.
(H.R.
Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Dan empat bulan yang di dalam hadis ini pulalah yang dimaksud dalam surat-surat Al-Baqarah ayat 217, surat Al-Maidah ayat 2 dan lain-lainnya yang dilarang berperang secara umum.
Selanjutnya pada ayat ini Allah menerangkan bahwa jika orang-orang musyrikin itu masih menentang dan memusuhi Allah dan Rasul, maka mereka harus mengerti bahwa mereka tidak akan dapat melemahkan Allah dan mereka sendirilah yang memikul segala akibatnya dengan kehinaan.
Hal serupa itu sudah menjadi sunnatullah terhadap orang-orang kafir sebagaimana yang diterangkan dalam firman Allah:

Orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (Rasul-rasul), maka datanglah kepada mereka azab dari arah yang tidak mereka sangka.
Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia.
Dan sesungguhnya azab pada hari kiamat (akhirat) lebih besar kalau mereka mengetahuinya.

(Q.S.
Az Zumar: 25, 26)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kalian, orang-orang musyrik, akan mendapat perlindungan selama empat bulan dari saat pelepasan tanggung jawab itu.
Kalian dapat berpindah-pindah sekehendak kalian.
Ketahuilah bahwa kalian berada di bawah kekuasaan Allah di mana pun kalian berada.
Kalian tidak dapat melemahkan-Nya.
Dan Allah menentukan kehinaan bagi orang-orang yang membangkang.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka berjalanlah kalian) artinya berjalanlah kalian dengan aman, hai kaum musyrikin (di muka bumi selama empat bulan) dimulai pada bulan Syawal berdasarkan petunjuk yang akan disebutkan nanti.

Tiada keamanan lagi bagi kalian sesudah empat bulan itu (dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kalian tidak dapat melemahkan Allah) artinya terluput dari azab-Nya (dan sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir) Dialah yang membuat mereka hina di dunia melalui pembunuhan dan di akhirat kelak dengan siksaan neraka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Maka berjalanlah kalian (hai orang-orang musyrik) di muka bumi ini selama empat bulan, kalian boleh pergi kemana pun dengan tenang tanpa gangguan orang-orang mukmin.
Dan ketahuilah, bahwa kalian tidak akan terbebas dari siksa.
Sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir dan mewariskan kepada mereka aib di dunia dan neraka di akhirat.

Ayat ini turun bagi mereka yang mengadakan perjanjian mutlak bukan mu”aqqat (temporer), atau bagi orang yang mengadakan perjanjian kurang dari empat bulan, lalu digenapkan menjadi empat bulan, atau bagi orang yang memiliki perjanjian lalu ia melanggarnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Tafsir ayat ini tidak diterangkan secara terpisah pada kitab aslinya.


Kata Pilihan Dalam Surah At Taubah (9) Ayat 2

ARDH
أَرْض

Ardh adalah lafaz mufrad dan mu’annats, maknya adalah aradhun, urudh, dan aradhi, maknanya ialah bola bumi yang bergerak yang manusia berada di atasnya yaitu salah satu planet yang ada dan urutannya ketiga pada porosnya yang mengelilingi matahari dan planet yang didiami manusia. Ia juga lawan lautan yaitu tanah atau daratan. Apabila dikatakan ibn al-ardh artinya anak yang tidak diketahui bapak dan ibunya. Apabila disandarkan kepada sesuatu atau sandal artinya di bawahnya.

Lafaz ardh disebut sebanyak 130 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah
-Al­ Baqarah (2), ayat 11, 22, 27, 29, 30, 33, 36, 60, 61, 71, 107, 116, 117, 164, 164, 164, 168, 205, 251, 255, 255, 267, 273, 284;
-Ali Imran (3), ayat 5, 29, 83, 91, 109, 129, 133, 137, 156, 180, 189, 190, 191;
-An Nisaa (4), ayat 42, 97, 97, 100, 101, 126, 131, 131, 132, 170, 171;
-Al­ Maa’idah (5), ayat 17, 18, 21, 26, 31, 32, 32, 33, 33, 36, 40, 64, 97, 106, 120;
-Al An’aam (6), ayat 1, 3, 6, 11, 12, 14, 35, 38, 59, 71, 75, 101, 116, 165, 73, 79;
-Al A’raaf (7), ayat 10, 24, 54, 56, 73, 74, 74, 85, 96, 100, 110, 127, 128, 129, 137, 146, 158, 164, 176, 185, 187;
-Al Anfaal (8), ayat 26, 63, 67, 73;
-At Taubah (9), ayat 2, 25, 36, 38, 74, 116, 188;
-Yunus (10), ayat 3, 6, 14, 18, 23, 24,24,31, 54, 55, 61, 66, 78, 83, 99, 101;
-Hud (11), ayat6, 7, 20, 44, 61, 64, 85, 107, 108,116, 123;
-Yusuf(l2), ayat 9, 21, 55, 56, 73, 80, 101, 105, 109;
-Ar Ra’d (13), ayat 3, 4, 15, 16, 17, 18, 25, 31, 33, 41;
-Ibrahim (14), ayat 2, 8, 10, 13, 14, 19, 26, 32, 38, 48, 48;
-Al Hijr (15), ayat 19, 39, 85;
-An Nahl (16), ayat 3, 13, 15, 36, 45, 49, 52, 65, 73, 77;
-Al Israa (17), ayat 4, 37, 37, 44, 55, 76, 90, 95, 99, 102, 103, 104;
-Al Kahfi (18), ayat 7, 14, 26, 45, 47, 51, 84, 94;
-Maryam (19), ayat 40, 65, 90, 93;
-Tha Ha (20), ayat 4, 6, 53, 57, 63;
-Al Anbiyaa (21), ayat 4, 16, 19, 21, 30, 31, 44, 56, 71, 81, 105;
-Al Hajj (22), ayat 5, 18, 41, 46, 63, 64, 65, 65, 70;
-Al Mu’minuun (23), ayat 18, 71, 79, 84, 112;
-An Nuur (24), ayat 35, 41, 42, 55, 57, 64;
-Al Furqaan (25), ayat 2, 6, 59, 63;
-Asy Syu’araa (26), ayat 7, 24, 35, 152, 183;
-An Naml (27), ayat 25, 48, 60, 61, 62, 64, 65, 69, 75, 82, 87;
-Al Qashash (28), ayat 4, 5, 6, 19, 39, 57, 77, 81, 83;
-Al ‘Ankaabut (29), ayat 20, 22, 36, 39, 40, 44, 52, 56, 61, 63;
-Ar Rum (30), ayat 3, 8, 9, 18, 19, 22, 24, 25, 25, 26, 27, 42, 50;
-Luqman (31), ayat 10, 16, 18, 20, 25, 26, 27, 34;
-As Sajadah (32), ayat 4, 5, 10, 27;
-Al­ Ahzab (33), ayat 27, 27, 72;
-Saba (34), ayat 1, 2, 3, 9, 9, 14, 22, 24;
-Faathir (35), ayat 1, 3, 9, 38, 39, 40, 43, 44, 44;
-Yaa Siin (36), ayat 33, 36, 81;
-Ash Shaffaat (37), ayat 5;
-Shad (38), ayat 10, 26, 27, 28, 66;
-Az Zumar (39), ayat 5, 10, 21, 38, 44, 46, 47, 63, 67, 69, 74;
-Al Mu’min (40), ayat 21, 21, 26, 29, 57, 64, 68, 75, 82, 82;
-Fussilat (41), ayat 9, 11, 15, 39;
-Asy Syura (42), ayat 4, 5, 11, 12, 27, 29, 31, 42, 49, 53;
-Az Zukhruuf (43), ayat 9, 10, 60, 82, 84, 85;
-Ad Dukhaan (44), ayat 7, 29, 38;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 3, 5, 13, 22, 27, 36, 37;
-Al Ahqaaf (46), ayat 3, 4, 20, 32, 33;
-Muhammad (47), ayat 4, 7, 14;
-Al Hujurat (49), ayat 16, 18;
-Qaf (50), ayat 4, 38, 44, 50;
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 20, 23, 48;
-Ath Thuur (52), ayat 36;
-An Najm (53), ayat 31, 32;
-Al Qamar (54), ayat 12;
-Ar Rahman (55), ayat 10, 29, 33;
-Al Waqi’ah (56), ayat 4;
-Al Hadid (57), ayat 1, 2, 4, 5, 10, 21, 22, 17;
-Al Mujadalah (58), ayat 7;
-Al Hasyr (59), ayat 1, 24;
-Ash Shaff (61), ayat 1;
-Al Jumu’ah (62), ayat 1, 10;
-Al Munaafiquun (63), ayat 7;
-At Taghaabun (64), ayat 1, 3, 4;
-Ath­ Thalaaq (65), ayat 12;
-Al Mulk (67), ayat 15, 16, 24;
-Al Haaqqah (69), ayat 14;
-Al Ma’arij (70), ayat 14;
-Nuh (71), ayat 9, 17, 26;
-Al Jinn (72), ayat 10, 12;
-Al Muzzammil (73), ayat 14, 20;
-Al Mursalat (77), ayat 25;
-An Naba’ (78), ayat 6, 37;
-An Naazi’at (79), ayat 30;
-‘Abasa (80), ayat 26;
-Al Insyiqaaq (84), ayat 3;
-Al Buruuj (85), ayat 9;
-Ath Thaariq (86) ayat 12;
-Al Ghaasyiyah (88), ayat 20;
-Al Fajr (89), ayat 21;
-Asy Syams (91), ayat 6;
-Al Zalzalah (99), ayat 1, 2.

Dalam Al Qur’an, lafaz ardh mempunyai enam makna.

Pertama, bermakna bumi Palestina, Damsyik dan sebahagian Jordan, karena ia dikaitkan dengan al-muqaddasah (al-ardh al-muqaddasah). Makna ini diberikan oleh Ibn Qutaibah. Az Zamakhsyari berkata,
“Al-ardh al-muqaddasah ialah ardh bait al­ muqaddasah (bumi rumah yang suci), di mana ia adalah tempat para nabi dan orang Islam.”

Diriwayatkan oleh Mujahid dari Ibn ‘Abbas, “Ia adalah Tursina dan sekelilingnya.”

Qatadah berpendapat ia adalah Syam.

Sedangkan riwayat Ibn Zaid, As Suddi dan Ikrimah dari Ibn Abbas menyatakan ia adalah Ariha.

At Tabari berkata,
“Ia adalah ardh al­ muqaddasah sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Musa adalah bumi seperti bumi lain, tidak diketahui hakikat kebenarannya kecuali dengan khabar. Tidak ada khabar mengenainya yang benar-benar dapat di­ pastikan. Namun, ia tidak keluar dari bumi antara Sungai Al Furat (Euphart) dan Mesir sebagaimana yang disepakati oleh para ahli tafsir, sejarawan dan ulama.”

Kedua, ia bermakna bumi yang manusia diami sekarang sebagaimana mayoritas maksud dari ayat-ayat di atas.

Ketiga, ia bermaksud selain bumi yang tidak pada sifatnya yang dikenal atau bumi di hari akhirat sebagaimana yang terdapat dalam surah Ibrahim, ayat 48.

Dalam Sahih Bukhari dan Muslim terdapat hadits dari Ibn Hazim yang diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad, katanya Rasulullah berkata,
“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat di atas bumi yang amat putih bagaikan roti yang bulat dan pipih lagi putih, tidak terdapat di dalamnya penolong bagi seseorang.”
Dalam riwayat lain dijelaskan manusia berjalan di atas jambatan atau Ash Shiraath.

Keempat, bermakna tempat, sebagai­ mana pada surah Yusuf, ayat 9. Al Qurtubi menafsirkannya dengan tempat yang jauh dari ayahnya.” Begitu juga dengan penafsiran At Tabari, yang dimaksudkan dengan bumi di sini ialah suatu tempat dari bumi.

Kelima, bermakna bumi Mesir, yaitu yang terdapat dalam surah Al A’raaf, ayat 110; Tha Ha, ayat 57; 63, Asy Syu’araa, ayat 35; Ibrahim, ayat 13. Ini sebagaimana penafsiran yang dikemukakan oleh Asy Syawkani’ dan As­ Sabuni.’

Keenam, bermakna bumi Makkah yaitu yang terdapat dalam surah Al Qashash, ayat 57. Ayat ini mengabarkan kepada manusia tentang alasan kafir Quraisy yang tidak mengikuti petunjuk. Mereka berkata kepada Rasulullah, “Sekiranya kami menyertaimu menurut petunjuk yang engkau bawa itu, kami takut disakiti dan diperangi oleh mereka (kafir Quraisy) yang lain serta diusir dari negeri kami.”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:63-65

Informasi Surah At Taubah (التوبة‎‎)
Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat tennasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan berhubung kata At Taubah berulang kali disebut dalam surat ini.

Dinamakan juga dengan “Baraah” yang berarti berlepas diri yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh ‘Ali r.a.
pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman
pembalasan atas amal­ amalan manusia hanya dari Allah
segala sesuatu menurut sunnatullah
perlin­dungan Allah bagi orang-orang yang beriman
kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

Kewajiban menafkahkan harta
macam-macam harta dalam agama serta peng­gunaannya
jizyah
perjanjian dan perdamaian
kewajiban umat Islam terhadap Nabinya
sebab-sebab orang Islam melakukan perang total
beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad s.aw. dengan Abu Bakar r.a. di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
perang Tabuk.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.

Audio

Qari Internasional

Q.S. At-Taubah (9) ayat 2 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. At-Taubah (9) ayat 2 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. At-Taubah (9) ayat 2 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. At-Taubah (9) ayat 1-24 - Soraya Sofyan (Bahasa Indonesia)
Q.S. At-Taubah (9) ayat 1-24 - Soraya Sofyan (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. At-Taubah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 129 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 9:2
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah At Taubah.

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, "Pengampunan"‎) adalah surah ke-9 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti "Pengampunan" karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara'ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad S.A.W kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah9
Nama SurahAt Taubah
Arabالتوبة‎‎
ArtiPengampunan
Nama lainAl-Bara'ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu113
JuzJuz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat129
Jumlah kata2506
Jumlah huruf11116
Surah sebelumnyaSurah Al-Anfal
Surah selanjutnyaSurah Yunus
4.4
Ratingmu: 4.6 (12 orang)
Sending







Pembahasan ▪ surah attaubah ayat 2 ▪ tafsir at taubah 9:2 ▪ tafsir surat at taubah ayat 2 ▪ tafsir surat at taubah ayat ke dua ▪ terjemahan quran surah At-Taubah :(2)

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  





Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta