Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

At Taubah

At Taubah (Pengampunan) surah 9 ayat 123


یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا قَاتِلُوا الَّذِیۡنَ یَلُوۡنَکُمۡ مِّنَ الۡکُفَّارِ وَ لۡیَجِدُوۡا فِیۡکُمۡ غِلۡظَۃً ؕ وَ اعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ مَعَ الۡمُتَّقِیۡنَ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu qaatiluul-ladziina yaluunakum minal kuffaari walyajiduu fiikum ghilzhatan waa’lamuu annallaha ma’al muttaqiin(a);

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.
―QS. 9:123
Topik ▪ Takwa ▪ Pahala takwa ▪ Kelemahan manusia
9:123, 9 123, 9-123, At Taubah 123, AtTaubah 123, At-Taubah 123
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Taubah (9) : 123. Oleh Kementrian Agama RI

Pedoman dan petunjuk berperang yang ditunjukkan Allah dalam ayat ini kepada Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin lebih dahulu memerangi musuh-musuh Islam yang berada pada garis lingkaran yang terdekat dengan pusat kedudukan umat Islam kemudian dilanjutkan kepada lingkaran yang lebih jauh.

Hal ini didasarkan kepada prinsip, bahwa peperangan yang dilakukan umat Islam hanyalah untuk mengamankan jalannya dakwah Islam dan untuk melindungi keselamatan umat Islam, sedang dakwah tersebut juga dimulai dari orang-orang yang terdekat, dilanjutkan kepada orang-orang yang lebih jauh.
Dengan demikian, terlihat adanya garis sejajar antara dakwah Islam dan peperangan tersebut.
Petunjuk ini telah dilaksanakan dengan baik oleh Rasulullah ﷺ, baik dalam bidang dakwah maupun peperangan yang berfungsi untuk mengamankan dakwah tersebut.
Mengenai dakwah, beliau telah melaksanakannya lebih dahulu kepada keluarganya yang terdekat dan sahabat-sahabat karibnya, sesuai dengan petunjuk Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.
(Q.S.
Asy Syu'ara: 214)

Dan firman-Nya dalam ayat yang lain:

....dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya.
(Q.S.
Al-An'am: 92)

Kemudian dakwah ini beliau lanjutkan kepada masyarakat yang lebih luas, tidak saja dalam lingkungan negeri Arab, bahkan kepada raja-raja dan bangsa-bangsa sekitar Jazirah Arab.

Demikian pula dalam hal peperangan, sesuai dengan ayat tadi dimulai dari musuh-musuh Islam yang terdekat yang selalu melakukan tipu daya untuk menghalang-halangi jalannya dakwah Islam.
Kemudian dilanjutkan kepada suku-suku Arab yang lebih jauh dari pusat kedudukan atau basis umat Islam.
Sesudah Rasulullah ﷺ wafat, maka para khalifah meneruskan peperangan tersebut ke daerah-daerah yang lebih jauh, yaitu ke negeri Syam (Syria) dan Irak.
Kemudian menyusup ke benua Afrika (sebelah Barat) dan Persia, Khurasan, bahkan sampai ke pegunungan Hindukust (sebelah Timur) sesuai dengan perluasan dakwah Islam yang mereka lakukan menurut petunjuk dan perintah Allah subhanahu wa ta'ala:

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, dan tidak (pula) kepada hari kemudian.
(Q.S.
At Taubah: 29)

Musuh-musuh Islam yang terdekat kepada Rasulullah dan kaum muslimin ketika itu ialah orang-orang kafir yang terdiri dari kaum Yahudi yang berdiam di kota Madinah, kemudian di Khaibar dan selanjutnya mereka yang memerangi kaum Muslimin di perang Tabuk, dan sesudah itu musuh-musuh Islam di daerah-daerah Syam yang ketika itu berada dalam kekuasaan Romawi Timur yang berpusat di bizantium.

Taktik peperangan dengan cara memulai dari yang terdekat kepada yang jauh adalah tepat sekali ditinjau dari berbagai segi, yaitu dari segi kemungkinan fasilitas pengangkutan, perbekalan dan biaya.
Semakin dekat tempatnya, semakin mudah cara-cara pengangkutan dan dengan demikian semakin kecil pula biaya dan perbekalan yang diperlukan.
Semakin jauh tempat yang harus didatangi, semakin sukar pula pengangkutan dan semakin banyak pula waktu dan perbekalan yang diperlukan.
Dengan sendirinya semakin banyak tenaga yang dibutuhkan.

Prinsip mendahulukan yang dekat dari yang jauh ini juga diterangkan dalam bidang-bidang lainnya, yaitu:

a. Dalam kewajiban memberi nafkah dan sedekah harus dimulai dari yang terdekat, kemudian orang-orang yang lebih jauh, baik ditinjau dari segi kekerabatannya maupun dari segi tempatnya.
Atas dasar prinsip ini, maka zakat dan sedekah tidaklah boleh diberikan kepada orang-orang di desa lain apabila dalam desa itu sendiri masih ada orang-orang yang perlu diberi.

b. Dalam menghidangkan makanan dan minuman pada majelis perjamuan harus dimulai dari yang terdekat.
Rasulullah ﷺ telah memberikan contoh teladan dalam hal ini, di mana beliau mengedarkan minuman lebih dahulu kepada orang-orang yang duduk di kanan-kirinya walaupun mereka itu bukan orang-orang penting dan terkemuka, kemudian baru diteruskan kepada yang berikutnya.

c. Mengenai hak perwalian dalam pernikahan, juga kita lihat adanya prinsip ini.
Orang yang paling berhak untuk menjadi wali nikah bagi wanita Islam adalah orang-orang yang terdekat kepadanya, yaitu ayahnya, kemudian kakek lalu saudara lelaki dan paman dan seterusnya.

d. Demikian pula dalam berbuat kebajikan terhadap orang lain harus didahulukan yang terdekat, yaitu ibu, ayah dan seterusnya.

Selanjutnya dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala memberikan petunjuk-Nya agar kaum Muslimin mampu menggunakan kekerasan dan kekuatan terhadap orang-orang kafir yang menghalang-halangi dakwah Islam, apabila jalan diplomasi dan perlakuan yang lemah dan ramah tamah tidak mempan lagi untuk mereka.
Kaum Muslimin diperintahkan untuk bersikap adil, kasih sayang dan ramah tamah kepada orang-orang bukan Islam.
Akan tetapi bila mereka tetap mengganggu kepentingan umat Islam, terutama dakwah Islam, maka kaum Muslimin harus menggunakan kekuatan dan kekuasaan sehingga mereka menghentikan permusuhan terhadap Islam dan kaum Muslimin.
Hal ini tersebut pula dalam firman Allah pada ayat yang lain:

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka.
(Q.S.
At Taubah: 73)

Dengan demikian jelaslah bahwa kaum muslimin harus menggunakan dua macam sikap terhadap orang-orang kafir dan munafik, yaitu pertama sikap ramah tamah dan lemah lembut, bila sikap ini mendapat sambutan baik dari mereka.
Kedua sikap keras dan menggunakan kekuatan fisik, bila sikap yang pertama tadi sudah tak mempan.

Pada akhir ayat ini Allah meyakinkan orang-orang yang bertakwa, bahwa Dia senantiasa bersama mereka.
Artinya Allah memberikan jaminan kepada orang-orang yang bertakwa, yaitu yang senantiasa menjaga hukum-hukum dan ketentuan Allah, bahwa Dia akan selalu memberikan bantuan dan pertolongan-Nya.
Ketentuan-ketentuan Allah yang perlu diperhatikan dalam masalah peperangan ialah agar umat Islam tidak lalai dalam mempersiapkan segala sesuatu yang perlu untuk mencapai kemenangan, yaitu kekuatan fisik dan mental.
Kekuatan fisik mencakup prajurit yang berbadan sehat dan kuat, alat-alat senjata yang efektif, kubu-kubu pertahanan yang tangguh, serta perbekalan dan perlengkapan yang cukup.
Sedang kekuatan mental ialah semangat yang tinggi, kesabaran dan keuletan yang tangguh, serta siasat perang yang jitu serta disiplin yang kuat, dan persatuan yang kokoh.
Termasuk pula etika perang yang bermoral tinggi, yaitu tidak berlaku lalim terhadap wanita, anak-anak, orang tua yang lemah, serta tidak pula berlaku kejam terhadap orang-orang yang sudah menyerah atau tertawan selama mereka ini tidak membahayakan bagi kepentingan Islam dan umat Islam.
Akhirnya yang tidak pula kurang pentingnya untuk mencapai kemenangan ini ialah iman yang kokoh, serta ingat dan tawakal kepada Allah subhanahu wa ta'ala

At Taubah (9) ayat 123 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy At Taubah (9) ayat 123 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi At Taubah (9) ayat 123 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang Mukmin, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kalian, agar mereka tidak menjadi sumber malapetaka bagi kalian.
Dan jadilah kalian orang-orang yang tegas kepada mereka dalam pertempuran, dan jangan merasa iba kepada mereka.
Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa kepada-Nya, dengan pertolongan-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kalian itu) yakni mereka yang tinggal berdekatan dengan kalian, kemudian mereka yang dibilang tinggal berdekatan dengan kalian (dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripada kalian) artinya berlaku keraslah kalian terhadap mereka (dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa) bantuan dan pertolongan-Nya akan selalu menyertainya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Hai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan menjalankan syariat-Nya, mulailah dengan memerangi orang-orang kafir yang berada dekat dengan negeri Islam agar mereka tahu bahwa kalian itu memiliki sikap keras terhadap mereka.
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa, melindungi dan menolong mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk memerangi orang-orang kafir secara bertahap, mulai dari yang paling dekat jangkauannya dengan negeri Islam.
Karena itulah Rasulullah ﷺ mulai memerangi kaum musyrik di Jazirah Arabia terlebih dahulu.

Setelah selesai dari mereka, maka Allah memberikan kemenangan kepada Rasul-Nya atas kota Mekah, Madinah, Taif, Yaman.
Yamamah, Hajar, Khaibar, dan Hadramaut serta lain-lainnya dari daerah-daerah yang terdapat di dalam Jazirah Arabia.
Dan orang-orang dari seluruh kabilah Arab Badui mulai masuk ke dalam agama Allah (Islam) secara Kemudian Rasulullah ﷺ mulai memerangi ahli kitab.
Untuk itu beliau membuat persiapan guna berperang melawan kerajaan Romawi yang merupakan daerah yang paling dekat dengan Jazirah Arabia, dan mereka adalah orang-orang yang lebih utama untuk mendapat dakwah Islam, mengingat mereka adalah ahli kitab.
Hal ini telah dilakukan oleh Nabi ﷺ sampai di Tabuk.
kemudian beliau ﷺ kembali pulang karena melihat kondisi kaum muslim yang payah, negerinya sedang paceklik dan penghidupan yang sempit.
Hal ini terjadi pada tahun sembilan Hijriah.

Pada tahun sepuluh Hijriah Nabi ﷺ sibuk dengan haji wada'nya.
Tidak lama kemudian, beliau wafat, yaitu delapan puluh satu hari sesudah menunaikan haji wada'nya.
Allah telah memilihnya untuk tinggal di sisi-Nya.

Kemudian urusannya dipegang oleh penggantinya, yaitu Khalifah Abu Bakar As-Siddiq r.a.
Saat itu agama mulai agak menyimpang dan hampir saja goyah, lalu ditegakkan lagi oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
melalui Khalifah Abu Bakar.
Maka Abu Bakar mulai mengukuhkan pilar-pilarnya, mem­perkuat pondasi agama, menghajar orang-orang yang murtad dari agama­nya hingga ke akar-akarnya, serta mengembalikan ahli riddah kepada Islam.
Dia memungut zakat dari orang-orang yang membandel tidak mau bayar zakat, dan menjelaskan kebenaran kepada orang-orang yang tidak mengerti.
Dia melanjutkan misi yang dirintis oleh Rasulullah ﷺ

Kemudian Khalifah Abu Bakar mulai mempersiapkan pasukan Islam untuk memerangi orang-orang Romawi penyembah salib, juga untuk memerangi orang-orang Persia penyembah api.
Maka Allah telah membukakan banyak negeri berkat kepemimpinannya, dan mengalahkan Kisra dan Kaisar serta orang-orang yang tunduk kepada keduanya, sehingga ia dapat membelanjakan perbendaharaan yang dihasilkan dari kedua negeri itu untuk perjuangan di jalan Allah.
Perihalnya persis seperti yang pernah diberitakan oleh Rasulullah ﷺ sebelum itu.

Urusan itu baru dapat diselesaikan secara sempurna di tangan khalifah sesudahnya, yaitu Umar Al-Faruq alias Abu Hafs Umar ibnul Khattab r.a.
Melaluinya Allah mengalahkan kecongkakan orang-orang kafir yang atheis dan menekan orang-orang durhaka serta orang-orang munafik.
Khalifah Umar berhasil menguasai berbagai kerajaan di belahan timur dan barat dan membawa perbendaharaan harta dari negeri-negeri yang dibukanya —baik yang dekat maupun yang jauh— ke Madinah.
Lalu ia mengalokasikannya ke jalan-jalan yang diridai oleh syariat.

Setelah Khalifah Umar r.a.
wafat sebagai seorang syahid yang selama hidupnya dijalani dengan sikap yang terpuji, maka para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Ansar sepakat untuk mengangkat Usman ibnu Affan r.a.
sebagai khalifah yang menggantikannya.
Dalam masa pemerintahannya dia memakaikan kepada Islam pakaian kepemimpinan (pengaruh) dan perhiasan yang berlimpah (kekayaan yang berlimpah) dan hujah Allah berhasil ia sebarkan ke seluruh antero negeri yang dikuasainya, sehingga Islam tampak menang di belahan timur dan barat dari bumi ini, kalimah Allah menjadi tinggi, dan agama-Nya berada di atas.
Misi agama Islam yang hanif telah berhasil ia sampaikan kepada musuh-musuh Allah dengan cara yang paling tepat.
Setiap kali mereka beroleh kemenangan atas suatu umat, maka mereka beralih kepada umat yang lainnya, kemudian beralih lagi kepada umat lainnya yang durhaka lagi aniaya, demi mengamalkan firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang mengatakan:

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kalian itu.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan hendaklah mereka menemui kekerasan dari kalian.

Maksudnya, hendaklah orang-orang kafir itu merasakan adanya sikap yang keras dari kalian dalam perang kalian melawan mereka.
Karena sesungguhnya orang mukmin yang kamil ialah orang yang lemah lembut terhadap saudaranya yang mukmin dan keras terhadap musuhnya yang kafir seperti yang telah disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam firman Nya:

Maka Kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.
(Al Maidah:54)

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi kasih sayang sesama mereka.
(Al Fath:29)

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka.
(At Taubah:73)

Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Aku adalah orang yang banyak tertawa, tetapi banyak berperang.

Artinya, banyak tertawa di hadapan kekasihnya dan banyak berperang melawan musuh-musuhnya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Yakni perangilah orang-orang kafir dan bertawakallah kepada Allah serta ketahuilah bahwa Allah selalu beserta kalian jika kalian bertakwa dan taat kepada-Nya.

Demikianlah keadaan di masa tiga generasi yang merupakan sebaik-baik umat ini.
Mereka sangat lurus dan mengerjakan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
sehingga mereka selalu mengalami kemenangan atas musuh-musuh mereka.
Kemenangan demi kemenangan berhasil mereka raih dengan sangat banyak, dan musuh-musuh mereka masih tetap berada di bawah dan selalu mengalami kerugian.

Tetapi setelah terjadi banyak fitnah, kecenderungan golongan mulai muncul, dan perselisihan di antara raja-raja Islam terjadi di mana-mana, maka musuh-musuh Islam mulai berani mengganggu perbatasan-perbatasan negeri Islam.
Lalu musuh-musuh Islam maju menyerangnya dan tidak menemukan perlawanan yang berarti karena para raja sedang sibuk satu sama lainnya dengan urusan yang terjadi di antara sesama mereka.
Kemudian musuh lebih berani lagi majunya, lalu mereka merebut banyak negeri yang terletak jauh dari pusat.
Mereka maju terus dan menguasai banyak negeri yang tadinya di bawah kekuasaan Islam.
Semuanya itu terjadi atas kehendak Allah subhanahu wa ta'ala.

Setiap kali muncul seorang raja Islam yang taat kepada perintah-perintah Allah serta bertawakal kepada-Nya, maka Allah memberikan kemenangan kepadanya dan berhasil merebut kembali negerinya dari tangan musuh-musuh Islam berkat ketaatannya kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Hanya kepada Allah sajalah kita berharap, semoga kaum muslim dapat mengalahkan musuh-musuh-Nya yang kafir dan meninggikan kalimat Islam di seluruh negeri.
Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Mahamulia.

Informasi Surah At Taubah (التوبة‎‎)
Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat tennasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan berhubung kata At Taubah berulang kali disebut dalam surat ini.

Dinamakan juga dengan "Baraah" yang berarti berlepas diri yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh 'Ali r.a.
pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman
pembalasan atas amal­ amalan manusia hanya dari Allah
segala sesuatu menurut sunnatullah
perlin­dungan Allah bagi orang-orang yang beriman
kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

Kewajiban menafkahkan harta
macam-macam harta dalam agama serta peng­gunaannya
jizyah
perjanjian dan perdamaian
kewajiban umat Islam terhadap Nabinya
sebab-sebab orang Islam melakukan perang total
beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad s.aw. dengan Abu Bakar r.a. di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
perang Tabuk.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.


Gambar Kutipan Surah At Taubah Ayat 123 *beta

Surah At Taubah Ayat 123



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah At Taubah

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, "Pengampunan"‎) adalah surah ke-9 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti "Pengampunan" karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara'ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad S.A.W kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah9
Nama SurahAt Taubah
Arabالتوبة‎‎
ArtiPengampunan
Nama lainAl-Bara'ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu113
JuzJuz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat129
Jumlah kata2506
Jumlah huruf11116
Surah sebelumnyaSurah Al-Anfal
Surah selanjutnyaSurah Yunus
4.5
Rating Pembaca: 4.7 (21 votes)
Sending