QS. At Taubah (Pengampunan) – surah 9 ayat 121 [QS. 9:121]

وَ لَا یُنۡفِقُوۡنَ نَفَقَۃً صَغِیۡرَۃً وَّ لَا کَبِیۡرَۃً وَّ لَا یَقۡطَعُوۡنَ وَادِیًا اِلَّا کُتِبَ لَہُمۡ لِیَجۡزِیَہُمُ اللّٰہُ اَحۡسَنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ
Walaa yunfiquuna nafaqatan shaghiiratan walaa kabiiratan walaa yaqtha’uuna waadiyan ilaa kutiba lahum liyajziyahumullahu ahsana maa kaanuu ya’maluun(a);

dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
―QS. 9:121
Topik ▪ Takwa ▪ Amal shaleh sebagai pintu kebaikan ▪ Penyesalan yang tiada berarti
9:121, 9 121, 9-121, At Taubah 121, AtTaubah 121, At-Taubah 121

Tafsir surah At Taubah (9) ayat 121

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Taubah (9) : 121. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan, bahwa mereka yang tinggal di rumah dan tidak berangkat ke medan perang bersama Rasulullah, tentulah tidak ikut memberikan sumbangan bagi perjuangan baik yang kecil maupun yang besar, dan mereka pun tidak ikut merasakan kepayahan melintasi suatu lembah pun.
Lain halnya dengan orang-orang yang ikut berperang.
Mereka berbuat dan mengalami hal yang demikian itu niscaya dituliskan di sisi Allah sebagai amal saleh, karena Allah akan memberikan kepada mereka balasan yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada apa yang telah mereka sumbangkan dan apa yang mereka perbuat itu.

Orang-orang yang ikut berperang serta menyumbangkan harta bendanya untuk di jalan Allah, berarti telah melakukan dua macam pengorbanan yang mulia, yaitu pengorbanan harta benda dan pengorbanan jiwa raga.
Pengorbanan yang paling mulia tentulah berhak untuk diberi ganjaran yang paling mulia pula, bahwa ganjaran itu lebih tinggi daripada pengorbanan yang telah diberikannya.
Mengenai hal ini telah ada suatu ketentuan dalam agama Islam sebagaimana firman Allah:

Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.
(Q.S. Al-An’am [6]: 160)

Perlu diingat bahwa pahala yang besar itu tidak hanya diberikan Allah kepada orang mukmin yang mengorbankan harta benda dan jiwa raga dalam peperangan saja melainkan juga kepada orang-orang mukmin yang melakukan amal kebajikan dalam bidang yang lain.
Namun demikian pengorbanan yang diberikan dalam berjihad di medan perang untuk membela agama adalah lebih mulia daripada pengorbanan untuk kepentingan yang lain sehingga pengorbanan harta yang sedikit jumlahnya untuk keperluan jihad sama nilainya dengan pengorbanan harta yang banyak untuk kebajikan yang lain.
Dan penderitaan yang sedikit yang diderita dalam berjihad sama nilainya dengan penderitaan besar yang dialami dalam perbuatan amal yang lain.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dan juga, mujahidin itu tidak mengeluarkan harta, baik kecil maupun besar, dan juga tidak bepergian di jalan Allah, melainkan telah dicatat oleh Allah dalam lembaran amal saleh mereka.
Dengan demikian, mereka menerima pahala terbaik yang berhak diterima oleh orang-orang yang mengerjakannya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan mereka tiada menafkahkan) dalam rangka melaksanakan hal tersebut (suatu nafkah yang kecil) sekali pun berupa sebiji buah kurma (dan tidak pula yang besar dan tidak melintasi suatu lembah) dengan berjalan kaki (melainkan dituliskan bagi mereka) amal saleh pula (karena Allah memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan) sebagai pahalanya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan tidaklah mereka mengeluarkan nafkah, baik sedikit maupun banyak di jalan Allah, dan tidaklah mereka melewati lembah bersama Rasulullah untuk berjihad, kecuali Allah telah menetapkan pahala amal shalih bagi mereka.
Allah akan membalas mereka dengan sebaik-baik balasan atas amal shalih yang mereka kerjakan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, bahwa tidak sekali-kali mereka membelanjakan hartanya dalam perang di jalan Allah:

…suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar.

Yakni pembelanjaan yang sedikit dan pembelanjaan yang banyak.

…dan tidak melintasi suatu lembah

Yaitu dalam perjalanan mereka menuju medan pertempuran melawan musuhi

…melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula).

Dalam ayat ini disebutkan lahum, bukan dengan memakai damir bihi, karena perbuatan-perbuatan tersebut dilakukan oleh mereka.
Karena itulah dalam ayat selanjutnya disebutkan oleh firman-Nya:

…karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan)yang lebih baik daripada apayang telah mereka kerjakan.

Amirul Mu’minin Usman ibnu Affan r.a.
telah mempunyai bagian yang sangat besar dari apa yang disebutkan oleh ayat yang mulia ini.
Demikian itu karena dalam perang ini (Tabuk) ia telah membelanjakan pem­belanjaan yang besar dan harta yang sangat banyak, seperti apa yang disebutkan oleh Abdullah ibnu Imam Ahmad:

Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Al-Ganawi, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad ibnu Abdul Waris, telah menceritakan kepadaku Sulaiman ibnul Mugirah.
telah menceritakan kepadaku Al-Walid ibnu Abu Hisyam, dari Farqad ibnu Abu Talhah, dari Abdur Rahman ibnu Hubab As-Sulami yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ berkhotbah dan menganjurkan kepada kaum muslim untuk mempersiapkan pasukan Usrah.
Maka Usman ibnu Affan berkata, “Saya menyumbangkan seratus ekor unta berikut pelananya.” Nabi ﷺ kembali menganjurkan, dan Usman ibnu Affan r.a.
ber­kata lagi, “Saya sumbangkan seratus ekor unta lagi berikut pelananya.” Lalu Rasulullah ﷺ turun satu anak tangga dari mimbarnya, kemudian kembali menganjurkan kepada orang-orang (untuk mempersiapkan pasukan Usrah).
Maka Usman ibnu Affan berkata, “Saya sumbangkan seratus ekor unta lagi berikut pelananya.” – Perawi mengatakan bahwa ia melihat Rasulullah ﷺ berisyarat dengan tangannya menunjukan rasa takjub.
hal ini di­ peragakan oleh perawi- Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: Tiada memudaratkan Usman sesudah apa yang dilakukannya sekarang.

Abdullah mengatakan pula bahwa:

telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Ma’ruf, telah menceritakan kepada kami Damrah, telah men­ceritakan kepada kami Abdullah ibnu Syauzab, dari Abdullah ibnul Qasim, dari Kasir maula Abdur Rahman ibnu Samurah, dari Abdur Rahman ibnu Samurah yang menceritakan bahwa Usman ibnu Affan r.a.
datang kepada Nabi ﷺ dengan membawa seribu dinar yang digondol di dalam bajunya.
Ketika itu Nabi ﷺ sedang mempersiapkan pasukan Usrah.
Maka Usman r.a.
menuangkan semua uang yang dibawanya itu ke pangkuan Nabi ﷺ Maka aku (Abdur Rahman ibnu Samurah) melihat Nabi ﷺ membolak-balikkan uang itu dengan tangannya seraya bersabda: Tiada yang membahayakan Usman lagi sesudah apa yang diamalkannya pada hari ini.
Kalimat ini diucapkan oleh Rasulullah ﷺ secara berulang-ulang.

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…dan tidak (pula) mereka melintasi suatu lembah, melainkan dicatatkan bagi mereka (amal saleh)., hinggaakhir ayat.
Tidak sekali-kali suatu kaum yang berangkat ke medan jihad di jalan Allah bertambah jauh dari keluarganya, melainkan mereka makin bertambah dekat kepada Allah.


Informasi Surah At Taubah (التوبة‎‎)
Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat tennasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan berhubung kata At Taubah berulang kali disebut dalam surat ini.

Dinamakan juga dengan “Baraah” yang berarti berlepas diri yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh ‘Ali r.a.
pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman
pembalasan atas amal­ amalan manusia hanya dari Allah
segala sesuatu menurut sunnatullah
perlin­dungan Allah bagi orang-orang yang beriman
kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

Kewajiban menafkahkan harta
macam-macam harta dalam agama serta peng­gunaannya
jizyah
perjanjian dan perdamaian
kewajiban umat Islam terhadap Nabinya
sebab-sebab orang Islam melakukan perang total
beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad s.aw. dengan Abu Bakar r.a. di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
perang Tabuk.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.

Audio

Qari Internasional

Q.S. At-Taubah (9) ayat 121 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. At-Taubah (9) ayat 121 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. At-Taubah (9) ayat 121 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. At-Taubah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 129 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 9:121
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah At Taubah.

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, "Pengampunan"‎) adalah surah ke-9 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti "Pengampunan" karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara'ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad S.A.W kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah 9
Nama Surah At Taubah
Arab التوبة‎‎
Arti Pengampunan
Nama lain Al-Bara'ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 113
Juz Juz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 129
Jumlah kata 2506
Jumlah huruf 11116
Surah sebelumnya Surah Al-Anfal
Surah selanjutnya Surah Yunus
4.9
Ratingmu: 4.5 (29 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta