Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

At Taubah

At Taubah (Pengampunan) surah 9 ayat 120


مَا کَانَ لِاَہۡلِ الۡمَدِیۡنَۃِ وَ مَنۡ حَوۡلَہُمۡ مِّنَ الۡاَعۡرَابِ اَنۡ یَّتَخَلَّفُوۡا عَنۡ رَّسُوۡلِ اللّٰہِ وَ لَا یَرۡغَبُوۡا بِاَنۡفُسِہِمۡ عَنۡ نَّفۡسِہٖ ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ لَا یُصِیۡبُہُمۡ ظَمَاٌ وَّ لَا نَصَبٌ وَّ لَا مَخۡمَصَۃٌ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا یَطَـُٔوۡنَ مَوۡطِئًا یَّغِیۡظُ الۡکُفَّارَ وَ لَا یَنَالُوۡنَ مِنۡ عَدُوٍّ نَّیۡلًا اِلَّا کُتِبَ لَہُمۡ بِہٖ عَمَلٌ صَالِحٌ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یُضِیۡعُ اَجۡرَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ
Maa kaana ahlil madiinati waman haulahum minal a’raabi an yatakhallafuu ‘an rasuulillahi walaa yarghabuu bianfusihim ‘an nafsihi dzalika biannahum laa yushiibuhum zhamaun walaa nashabun walaa makhmashatun fii sabiilillahi walaa yatha-uuna mauthi-an yaghiizhul kuffaara walaa yanaaluuna min ‘aduu-win nailaa ilaa kutiba lahum bihi ‘amalun shaalihun innallaha laa yudhii’u ajral muhsiniin(a);

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul.
Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh.
Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,
―QS. 9:120
Topik ▪ Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia
9:120, 9 120, 9-120, At Taubah 120, AtTaubah 120, At-Taubah 120
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Taubah (9) : 120. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan bahwa kaum Muslimin yang berdiam di kota Madinah, dan kaum Muslimin Badui yang berdiam di sekitar kota Madinah tidaklah sepantasnya mereka untuk tidak menyertai Rasulullah ﷺ ke medan perang dan tidak pula patut bagi mereka untuk tidak mencintai Rasulullah ﷺ karena lebih mencintai diri sendiri.
Bila mereka tidak ikut ke medan perang dan hanya tinggal di rumah, ini berarti mereka tidak bersedia menahan bermacam-macam penderitaan untuk membela agama Allah, mereka tidak merasakan haus, payah dan lapar, dan tidak pula menginjak daerah yang dipertahankan oleh orang-orang kafir, dan tidak pula ikut menimpakan suatu bencana kepada musuh sebagai yang dirasakan dan dilaksanakan oleh orang-orang yang ikut berperang.
Padahal jika mereka mengalami dan melaksanakan hal-hal tersebut niscaya akan dituliskan bagi mereka di sisi Allah sebagai amal saleh setiap kali mereka mengalami dan melaksanakannya, dan akan diberi ganjaran yang amat besar sebagai yang dilakukan terhadap orang-orang yang ikut berperang bersama Rasulullah.
Setiap kebajikan yang dilakukan oleh orang-orang mukmin baik yang berupa pengorbanan lahir maupun batin tidak akan disia-siakan Allah, apalagi kebajikan untuk membela agama-Nya.

Orang-orang yang tinggal di rumah tanpa alasan-alasan yang dibenarkan Allah, sesungguhnya hanya orang-orang yang mementingkan diri sendiri, tidak bersedia memberikan pengorbanan dan penderitaan untuk kepentingan bersama, dan untuk membela agama Allah.
Padahal kenikmatan yang mereka peroleh dalam rumah tangga mereka adalah semata-mata karunia dan rahmat dari Allah subhanahu wa ta'ala

Kesetiaan dan ketaatan Rasulullah haruslah dilakukan dalam segala situasi dan keadaan, baik pada waktu suka maupun pada saat duka dan bahaya, yang memerlukan pengorbanan atas kesenangan diri, kenikmatan hidup, harta benda dan jiwa raga.
Sebab itu bila datang suatu bahaya yang mengancam kepentingan bersama, kehormatan bangsa dan agama, maka setiap orang mukmin harus bangkit berjuang bersama-sama, tanpa memperhitungkan laba rugi bagi diri sendiri.
Ini adalah lebih mulia daripada yang hidup dalam kemewahan, tetapi kehilangan kehormatan diri, agama bangsa dan tanah airnya.

Allah subhanahu wa ta'ala tidak menyia-nyiakan setiap amal kebajikan dan pengorbanan yang diberikan oleh setiap orang mukmin.
Ganjaran pahala yang amat besar disediakan-Nya untuk orang-orang mukmin yang telah berjuang bersama Rasulullah, dan selanjutnya untuk orang-orang mukmin yang berjuang di jalan Allah sesudah Rasulullah hingga hari kiamat kelak.
Balasan setiap kebajikan adalah kebajikan pula.
Inilah ketentuan dari Allah subhanahu wa ta'ala

At Taubah (9) ayat 120 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy At Taubah (9) ayat 120 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi At Taubah (9) ayat 120 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tidak patut bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang tinggal di sekeliling mereka untuk tidak turut berjihad bersama Rasulullah.
Juga tidak layak bagi mereka untuk mementingkan diri sendiri dengan mengorbankan Rasulullah yang telah mempertaruhkan jiwanya.
Karena sebenarnya mereka tidak akan merasa kehausan, kelelahan dan kelaparan, dan juga tidak menginjakkan kaki di tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, serta tidak menerima kekalahan atau menjadi harta rampasan, melainkan telah dianggap sebagai perbuatan baik yang akan diganjar dengan sebaik-baik pahala.
Sesungguhnya Allah tidak akan menghilangkan pahala orang-orang yang telah menyempurnakan perbuatannya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Tidaklah patut bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab badui yang berdiam di sekitarnya tidak turut menyertai Rasulullah) bilamana beliau pergi berperang (dan tidak patut pula bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul) yaitu dengan cara mendahulukan kepentingan apa yang menjadi keridaannya daripada kemaslahatan diri sendiri di dalam menghadapi saat-saat yang sulit.
Ungkapan ayat ini merupakan nahi atau larangan, akan tetapi diungkapkan dalam bentuk kalimat khabar atau kalimat berita.
(Yang demikian itu) yaitu larangan untuk tidak pergi bersama Rasulullah ke medan perang (ialah karena mereka) disebabkan (tidak ditimpa kehausan) rasa dahaga (kepayahan) keletihan (dan kelaparan) yakni rasa lapar (pada jalan Allah dan tidak pula menginjak suatu tempat) lafal mauthi'an adalah mashdar akan tetapi maknanya sama dengan lafal wath'an (yang membangkitkan amarah) artinya yang membuat marah (orang-orang kafir dan tidak menimpakan kepada musuh) Allah (sesuatu bencana) membunuh, menawan atau membegal musuh (melainkan dituliskan bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh) dimaksud supaya mereka mau melaksanakan hal tersebut.
(Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik) pahala mereka tidak akan disia-siakan-Nya, bahkan Dia akan memberi mereka pahala.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Tidaklah pantas bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang tinggal di sekitar Madinah berdiam diri bersama keluarganya di rumahnya dan tidak turut menyertai Rasulullah berperang.
Juga tidak pantas bagi mereka lebih menyukai diri mereka bersantai, sedangkan Rasulullah berada dalam kesusahan dan kepayahan.
Sebab, tidaklah kehausan,kelaparan, dan kepayahan yang mereka rasakan dalam perjalanan dan jihad mereka di jalan Allah, juga tidaklah mereka menginjakkan kaki di suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan juga apa yang mereka terima dari musuh-musuh Allah dan musuh-musuh mereka, berupa terbunuh atau kekalahan, melainkan semua itu dicatat sebagai amal shalih yang ditetapkan bagi mereka.
Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, yang segera melaksanakan perintah Allah dan menjalankan hak Allah dan hak makhluk-Nya yang menjadi kewajibannya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
mencela orang-orang dari kalangan penduduk Madinah dan sekitarnya —yang terdiri atas orang-orang Arab Badui— yang tidak ikut perang bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk.
Mereka di­cela pula karena lebih mementingkan diri mereka sendiri daripada membantu perjuangan Rasulullah ﷺ dengan alasan masyaqqat yang akan dialaminya.
Maka sesungguhnya pahala mereka dikurangi dari diri mereka, sebab:

...mereka tidak ditimpa kehausan.

Kata zama-un artinya 'atasyun, yakni kehausan.

...dan tidak pula kepayahan.

Yakni kelelahan dan kepayahan.

...dan tidak pula kelaparan.

Makhmasah artinya maja'ah, yakni kelaparan.

...dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir.

Artinya, tidaklah mereka menginjak suatu tempat yang membuat hati musuh mereka gentar.

...dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh.

Yaitu beroleh kemenangan dan keberhasilan mengalahkan musuh di tempat itu.

...melainkan dituliskan bagi mereka.

berkat amal perbuatan mereka yang pada kenyataannya di luar ke­mampuan mereka.
Tetapi dari perbuatan mereka itu timbul amal-amal saleh dan pahala yang berlimpah.

Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.

Ayat ini semakna dengan ayat lain yang disebutkan oleh firman-Nya:

tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik.
(Al Kahfi:30)

Kata Pilihan Dalam Surah At Taubah (9) Ayat 120

DZHAMA'
ظَمَأ

Makna lafaz dzhama' ialah haus dahaga. Sedangkan lafaz dzha'maan digunakan untuk menyebut orang yang sedang haus dahaga. Lafaz dzhama' hanya disebut sekali saja di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah At Taubah (9), ayat 120. Begitu juga kata dzha'maan, ia diulang sekali saja di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah An Nuur (24), ayat 39.

Dalam surah At Taubah (9), ayat 120 Allah menegaskan apapun yang dialami dan dilakukan oleh orang beriman ketika berperang di jalan Allah (fisabilillah) baik itu berbentuk penat lelah atau rasa lapar dicatat sebagai amal shaleh termasuklah rasa haus dan dahaga semasa dalam perjuangan.

Dalam surah An Nuur (24), ayat 39, Allah memberikan perumpamaan amal kebaikan yang dilakukan oleh orang kafir seperti sedekah, silaturahim dan lain-lain, bagaikan fatamorgana di tanah rata yang disangkanya air oleh orang yang dahaga dzha'maan, lalu ia menuju ke arahnya sehingga apabila ia datang ke tempat itu, tidak ada sesuatu pun yang disangkanya itu. Demikianlah keadaan orang kafir, tidak mendapat faedah daripada amalnya sebagaimana yang disangkanya.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:360

Informasi Surah At Taubah (التوبة‎‎)
Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat tennasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan berhubung kata At Taubah berulang kali disebut dalam surat ini.

Dinamakan juga dengan "Baraah" yang berarti berlepas diri yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh 'Ali r.a.
pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman
pembalasan atas amal­ amalan manusia hanya dari Allah
segala sesuatu menurut sunnatullah
perlin­dungan Allah bagi orang-orang yang beriman
kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

Kewajiban menafkahkan harta
macam-macam harta dalam agama serta peng­gunaannya
jizyah
perjanjian dan perdamaian
kewajiban umat Islam terhadap Nabinya
sebab-sebab orang Islam melakukan perang total
beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad s.aw. dengan Abu Bakar r.a. di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
perang Tabuk.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.


Gambar Kutipan Surah At Taubah Ayat 120 *beta

Surah At Taubah Ayat 120



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah At Taubah

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, "Pengampunan"‎) adalah surah ke-9 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti "Pengampunan" karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara'ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad S.A.W kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah 9
Nama Surah At Taubah
Arab التوبة‎‎
Arti Pengampunan
Nama lain Al-Bara'ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 113
Juz Juz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 129
Jumlah kata 2506
Jumlah huruf 11116
Surah sebelumnya Surah Al-Anfal
Surah selanjutnya Surah Yunus
4.8
Rating Pembaca: 4.4 (28 votes)
Sending







✔ letak surat an nahi al luqman dan at taubah

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku