Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. At Taubah (Pengampunan) – surah 9 ayat 118 [QS. 9:118]

وَّ عَلَی الثَّلٰثَۃِ الَّذِیۡنَ خُلِّفُوۡا ؕ حَتّٰۤی اِذَا ضَاقَتۡ عَلَیۡہِمُ الۡاَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ وَ ضَاقَتۡ عَلَیۡہِمۡ اَنۡفُسُہُمۡ وَ ظَنُّوۡۤا اَنۡ لَّا مَلۡجَاَ مِنَ اللّٰہِ اِلَّاۤ اِلَیۡہِ ؕ ثُمَّ تَابَ عَلَیۡہِمۡ لِیَتُوۡبُوۡا ؕ اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ
Wa’alats-tsalaatsatil-ladziina khullifuu hatta idzaa dhaaqat ‘alaihimul ardhu bimaa rahubat wadhaaqat ‘alaihim anfusuhum wazhannuu an laa maljaa minallahi ilaa ilaihi tsumma taaba ‘alaihim liyatuubuu innallaha huwattau-waabur-rahiim(u);
dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan.
Hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.
―QS. At Taubah [9]: 118

And (He also forgave) the three who were left behind (and regretted their error) to the point that the earth closed in on them in spite of its vastness and their souls confined them and they were certain that there is no refuge from Allah except in Him.
Then He turned to them so they could repent.
Indeed, Allah is the Accepting of repentance, the Merciful.
― Chapter 9. Surah At Taubah [verse 118]

وَعَلَى dan atas

And on
ٱلثَّلَٰثَةِ tiga

the three
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

(of) those who
خُلِّفُوا۟ (mereka) ditinggalkan

were left behind,
حَتَّىٰٓ sehingga

until
إِذَا apabila

when
ضَاقَتْ terasa sempit

(was) straitened
عَلَيْهِمُ atas mereka

for them
ٱلْأَرْضُ bumi

the earth,
بِمَا dengan apa/padahal

though
رَحُبَتْ luas

it was vast.
وَضَاقَتْ dan terasa sempit

And (was) straitened
عَلَيْهِمْ atas mereka

for them
أَنفُسُهُمْ jiwa mereka

their own souls
وَظَنُّوٓا۟ dan mereka mengira

and they were certain
أَن bahwa

that
لَّا tidak ada

(there is) no
مَلْجَأَ tempat lari

refuge
مِنَ dari

from
ٱللَّهِ Allah

Allah
إِلَّآ kecuali/melainkan

except
إِلَيْهِ kepada-Nya

to Him.
ثُمَّ kemudian

Then
تَابَ Dia menerima taubat

He turned (in mercy)
عَلَيْهِمْ atas mereka

to them
لِيَتُوبُوٓا۟ agar mereka bertaubat

that they may repent.
إِنَّ sesungguhnya

Indeed,
ٱللَّهَ Allah

Allah,
هُوَ Dia

He
ٱلتَّوَّابُ Maha Penerima taubat

(is) the Acceptor of repentance,

Tafsir

Alquran

Surah At Taubah
9:118

Tafsir QS. At Taubah (9) : 118. Oleh Kementrian Agama RI


Dalam ayat ini kembali diungkapkan hal ihwal tiga orang di antara orang-orang mukmin yang mangkir dari Perang Tabuk, yaitu:
Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin Rabi.
Mereka ini semula dengan sengaja tidak ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ, tetapi kemudian mereka mengalami tekanan jiwa, dan dunia bagi mereka terasa sempit, karena orang-orang mukmin lainnya memandang mereka sebagai orang-orang yang tidak terhormat.

Mereka merasa yakin, bahwa hanya Allah-lah tempat berlindung dari segala siksaan-Nya.
Setelah datang kesadaran dan rasa penyesalan, maka mereka bertobat kepada Allah.

Allah pun menerima tobat itu, agar mereka tetap berada dalam keinsafan kembali kepada agama Allah dengan bimbingan Rasul-Nya.
Setelah terlanjur melakukan pelanggaran terhadap perintah-Nya.


Pada akhir ayat ini ditegaskan kembali bahwa Allah Maha Penerima Tobat serta Maha Pengasih kepada hamba-Nya.
Dia senantiasa menerima tobat hamba-Nya yang benar-benar bertobat kepada-Nya dan mengampuni dosa serta melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya kepada mereka, walaupun mereka itu telah terlanjur melakukan kesalahan yang menyebabkan mereka berhak untuk dijatuhi siksa.

Tafsir QS. At Taubah (9) : 118. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Dan Allah juga berkenan memaafkan tiga orang yang tidak turut berjihad dalam perang Tabuk yang bukan disebabkan oleh sifat munafik mereka.
Perkara mereka ini ditangguhkan sampai Allah menerangkan keputusan-Nya tentang mereka.


Maka pada saat pertobatan mereka benar-benar ikhlas dan penyesalan mereka sangat mendalam–sampai-sampai mereka merasakan bahwa bumi menjadi sempit bagi mereka, walaupun sebenarnya sangat luas, dan merasakan juga kesempitan jiwa akibat kesedihan yang sangat, serta mengetahui bahwa tidak ada tempat berlindung dari kemurkaan Allah kecuali dengan beristighfar kepada-Nya–pada saat itulah Allah memberi mereka petunjuk untuk bertobat.
Allah pun kemudian memaafkan mereka dan memerintahkan mereka agar tetap bertobat.


Sesungguhnya Allah sangat banyak menerima pertobatan orang-orang yang meminta ampunan, dan sangat besar rahmat-Nya kepada hamba- hamba-Nya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Demikian pula, Allah menerima taubat tiga orang Anshar yang berpaling dari peperangan (tidak ikut perang), yaitu Kaab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin Rabi.
Mereka meninggalkan Rasulullah kemudian mereka merasa sangat bersedih dan menyesal.


Sampai ketika mereka merasa bumi yang luas terasa sempit karena kesedihan dan penyesalan mereka karena berpalingnya mereka dan jiwa mereka terasa sempit karena kesedihan yang mereka rasakan, dan mereka meyakini bahwa tidak ada tempat berlindung selain kepada Allah, maka Allah memberi mereka taufik untuk kembali pada ketaatan dan keridhaan-Nya.
Sesungguhnya Allah Maha Menerima Taubat dan Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan) Allah menerima tobat pula


(terhadap tiga orang yang ditangguhkan) penerimaan tobat mereka melalui bukti yang menunjukkan hal itu


(sehingga apabila bumi terasa sempit oleh mereka padahal bumi itu luas) sekalipun kenyataannya bumi itu luas lantaran mereka tidak dapat menemukan tempat yang dapat mengganti hati mereka


(dan jika hati mereka pun terasa sempit pula) yakni hati mereka menjadi sempit lantaran susah dan asing disebabkan tobat mereka ditangguhkan penerimaannya sehingga hati mereka tidak gembira dan selalu tidak tenteram


(serta mereka menduga) dan merasa yakin


(bahwasanya) dibaca dengan takhfif, yaitu an


(tidak ada tempat lari dari siksa Allah melainkan kepada-Nya saja.
Kemudian Allah menerima tobat mereka) Allah memberikan taufik dan kekuatan kepada mereka untuk bertobat


(agar mereka tetap dalam tobatnya.
Sesungguhnya Allahlah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang).

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami keponakan Az-Zuhri (yaitu Muhammad ibnu Abdullah), dari pamannya (Muhammad ibnu Muslim Az-Zuhri), telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Abdullah ibnu Ka’b ibnu Malik, bahwa Ubaidillah ibnu Ka’b ibnu Malik yang menjadi juru penuntun Ka’b ibnu Munabbih setelah matanya buta mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ka’b ibnu Malik menceritakan hadis tentang dirinya ketika ia tidak ikut berangkat bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk.
Ka’b ibnu Malik mengatakan,
"Aku tidak pernah absen dari Rasulullah ﷺ dalam suatu peperangan pun yang dilakukannya, kecuali dalam Perang Tabuk.
Hanya dalam Perang Badar aku tidak ikut, dan tidak ada seorang pun yang ditegur karena tidak mengikutinya.
Karena sesungguhnya saat itu Rasulullah ﷺ berangkat hanya bertujuan untuk menghadang kafilah orang-orang Ouraisy, tetapi pada akhirnya Allah mempertemukan mereka dengan musuh mereka tanpa ada perjanjian sebelumnya.
Sesungguhnya aku ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam malam ‘Aqabah ketika kami mengucapkan janji setia kami kepada Islam, dan aku tidak suka bila malam itu diganti dengan Perang Badar, sekalipun Perang Badar lebih dikenal oleh orang daripadanya.
Termasuk berita yang menyangkut diriku ketika aku tidak ikut berangkat bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk ialah bahwa pada saat itu keadaanku cukup kuat dan cukup mudah, yaitu ketika aku absen dari Rasulullah ﷺ dalam peperangan tersebut.
Demi Allah, aku belum pernah mengumpulkan dua rahilah (unta kendaraan lengkap dengan perbekalannya) melainkan aku mampu mengumpulkannya buat perang itu.
Rasulullah ﷺ apabila hendak berangkat menuju suatu medan perang jarang sekali menyebutkan tujuannya, melainkan menyembunyi­kannya di balik tujuan yang lain.
Ketika tiba saat perang itu, maka Rasulullah ﷺ berangkat menuju medannya dalam musim yang panas sekali dan perjalanan yang sangat jauh serta padang sahara yang luas, juga akan menghadapi musuh yang sangat banyak.
Maka Rasulullah ﷺ memberikan kesempatan kepada kaum muslim untuk membuat persiapan sesuai dengan musuh yang akan mereka hadapi, dan beliau ﷺ memberitahukan kepada mereka tujuan yang akan ditempuhnya.
Saat itu jumlah kaum muslim yang bersama Rasulullah ﷺ sangat banyak sehingga sulit untuk dicatat jumlahnya."


Ka’b melanjutkan kisahnya,
"Jarang sekali seorang lelaki yang berkeinginan untuk absen melainkan ia menduga bahwa dirinya pasti tidak diketahui, selagi tidak turun wahyu kepada Nabi ﷺ dari Allah subhanahu wa ta’ala, yang memberitahukannya.
Rasulullah ﷺ berangkat ke medan Perang Tabuk di saat musim buah sedang masak dan naungan yang rindang, sedangkan diriku (Ka’b) lebih cenderung kepada kedua hal ini.
Rasulullah ﷺ melakukan persiapan untuk menghadapinya bersama-sama kaum muslim, dan aku pun pergi dengan mereka untuk membuat persiapan, tetapi aku kembali dalam keadaan masih belum dapat menyelesaikan sesuatu pun dari persiapanku.
Lalu aku berkata kepada diri sendiri, ‘Aku mampu membuat persiapan jika aku meng­hendakinya.’ Hal tersebut berkepanjangan dalam diriku, sedangkan orang lain terus membuat persiapannya dengan penuh kesungguhan.
Hingga pada suatu hari Rasulullah ﷺ dan kaum muslim berangkat, sedangkan aku masih belum menunaikan sesuatu pun dari persiapanku.
Dan aku berkata kepada diriku sendiri, ‘Aku akan membuat persiapanku dalam satu dua hari lagi, lalu aku akan berangkat menyusul Rasulullah ﷺ‘ Pada keesokan harinya setelah mereka semuanya pergi, aku pergi untuk membuat persiapanku, tetapi akhirnya aku kembali dalam keadaan masih belum mempersiapkan sesuatu pun dari urusanku itu.
Lalu pada keesokan harinya aku pergi lagi untuk membuat persiapan, tetapi aku kembali dalam keadaan belum menunaikan apa-apa.
Hal itu berkepanjangan atas diriku, hingga pasukan kaum muslim telah menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Kemudian aku berniat berangkat dan menyusul mereka —sebenar­nya alangkah baiknya bagiku bila niat tersebut kulakukan—, tetapi aku tidak mampu melakukan hal itu.
Sejak saat itu apabila keluar menemui orang-orang sesudah ke­berangkatan Rasulullah ﷺ, aku selalu dilanda kesedihan, karena aku memandang diriku sendiri tiada lain seperti seseorang yang tenggelam dalam kemunafikannya, atau sebagai seorang lelaki yang dimaafkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, karena berhalangan.
Rasulullah ﷺ tidak menyebut tentang diriku melainkan sesudah sampai di medan Tabuk.
Ketika beliau sudah sampai di Tabuk di saat beliau sedang duduk di tengah-tengah kaum muslim, beliau ﷺ bertanya, ‘Apakah yang telah dilakukan Ka’b ibnu Malik?’ Seorang lelaki dari kalangan Rasulullah, dia tertahan oleh dua lapis kain burdahnya dan memandang kepada kedua sisi pundaknya,’ yakni cenderung kepada duniawi.
Maka perkataannya itu dibantah oleh Mu’az ibnu Jabal, ‘Perkataanmu itu buruk sekali.
Demi Allah, wahai Rasulullah, sepanjang pengetahuan kami dia adalah orang yang baik.’ Rasulullah ﷺ diam."

Ka’b ibnu Malik melanjutkan kisahnya,
"Ketika sampai kepadaku berita yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ dalam perjalanan pulangnya dari medan Tabuk, maka diriku dilanda kesedihan dan kesusahan, lalu aku mulai berpikir mencari alasan dengan berdusta untuk menyelamatkan diriku dari murka Rasulullah ﷺ pada keesokan harinya.
Untuk itu, aku bermusyawarah dengan orang-orang yang pandai dari kalangan keluargaku.
Tetapi ketika diberitakan bahwa Rasulullah ﷺ kini telah dekat, maka lenyaplah kebatilan dari diriku, dan kini aku sadar bahwa diriku tidak akan selamat darinya dengan alasan apa pun.
Maka akhirnya aku Pada pagi harinya Rasulullah ﷺ tiba.
Kebiasaan Rasulullah ﷺ apabila baru tiba dari suatu perjalanan, beliau memasuki masjid terlebih dahulu, lalu salat dua rakaat, setelah itu duduk menghadapi orang-orang.
Ketika Rasulullah ﷺ telah melakukan hal itu, maka berdatangan­lah kepadanya orang-orang yang tidak ikut berperang, lalu mereka mengemukakan uzurnya dan bersumpah kepadanya untuk menguatkan alasannya.
Yang melakukan demikian ada delapan puluh orang lebih, maka Rasulullah ﷺ menerima lahiriah mereka dan memohonkan ampun kepada Allah untuk mereka, sedangkan mengenai isi hati mereka beliau serahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Setelah itu aku tiba dan mengucapkan salam kepadanya, maka ia kelihatan tersenyum sinis kepadaku, lalu bersabda, ‘Kemarilah!’ Aku berjalan ke arahnya hingga duduk di hadapannya, lalu ia bersabda, ‘Apakah yang menyebabkan kamu tidak ikut perang?
Bukankah kamu telah membeli kendaraan?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya jika aku duduk di hadapan selain engkau dari kalangan penduduk dunia, niscaya aku dapat keluar dari kemarahannya dengan berbagai alasan, sesungguhnya aku telah dianugerahi pandai berbicara.
Tetapi demi Allah, aku merasa yakin bahwa jika aku berbicara kepadamu pada hari ini dengan pembicaraan yang dusta hingga aku dapat membuatmu rida, niscaya Allah akan membuat engkau murka terhadap diriku dalam waktu yang dekat (yakni melalui wahyu-Nya yang menerangkan hal sebenarnya).
Dan sesungguhnya jika aku mengatakan hal yang sebenarnya kepadamu, niscaya engkau akan murka terhadap diriku karenanya, hanya saja aku benar-benar berharap semoga Allah memberikan akibat yang terbaik bagiku dalam kejujuranku ini.
Demi Allah, sebenarnya aku tidak mempunyai uzur (halangan) apa pun.
Demi Allah, aku belum pernah mengalami keadaan yang luas dan mudah seperti ketika aku tidak ikut perang bersamamu’."

Ka’b ibnu Malik melanjutkan kisahnya,
"Rasulullah ﷺ bersabda:
Adapun orang ini, maka ia berkata sejujurnya.
Sekarang pergilah hingga Allah memberikan keputusan.
Maka aku bangkit dan pergi, lalu bangkitlah banyak kaum lelaki dari kalangan Rasulullah ﷺ kepada Allah buat dirimu."

Ka’b melanjutkan kisahnya,
"Demi Allah, mereka terus-menerus menegurku hingga timbul perasaan dalam hatiku seandainya aku kembali kepada Rasulullah ﷺ, lalu aku berdusta terhadap diriku.
Kemudian aku bertanya kepada mereka, ‘Apakah ada orang lain yang mengalami seperti apa yang aku lakukan?’ Mereka menjawab, ‘Ya, engkau ditemani oleh dua orang lelaki yang kedua-duanya mengatakan hal yang sama dengan apa yang telah kamu katakan, lalu dijawab dengan jawaban yang sama seperti yang diutarakan kepadamu.’ Aku bertanya, ‘Siapakah keduanya itu?’ Mereka menjawab, ‘Mararah ibnu Rabi’ Al-Amiri dan Hilal ibnu Umayyah Al-Waqifi.’ Mereka menceritakan kepadaku perihal dua orang lelaki yang pernah ikut dalam Perang Badar, kedua-duanya adalah orang yang saleh, dan pada diri keduanya terdapat teladan yang baik bagi diriku.
Lalu aku meneruskan perjalananku setelah mereka menceritakan kedua orang itu kepadaku."

Ka’b ibnu Malik melanjutkan kisahnya,
"Rasulullah ﷺ melarang kaum muslim berbicara dengan kami bertiga dari kalangan orang-orang yang tidak ikut perang bersamanya.
Maka kami dijauhi oleh orang-orang.
Sikap mereka berubah total terhadap kami, hingga terasa olehku bahwa bumi yang aku huni ini bukanlah bumi yang pernah aku tinggal padanya dan bukanlah bumi yang aku kenal.
Kami tinggal dalam keadaan demikian selama lima puluh hari.
Kedua temanku itu diam saja dan hanya tinggal di dalam rumahnya masing-masing sambil menangis tiada henti-hentinya (menyesali perbuatannya), tetapi aku adalah orang yang paling sabar dan paling tahan dalam menderita di antara mereka.
Aku tetap ikut salat berjamaah bersama kaum muslim dan berkeliling Di pasar-pasar tanpa ada seorang pun yang mau berbicara kepadaku.
Dan aku datang menghadap Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang berada di majelisnya sesudah salat, lalu aku mengucapkan salam kepadanya, dan aku berkata kepada diriku sendiri bahwa apakah beliau menggerakkan kedua bibirnya menjawab salamku ataukah tidak.
Kemudian aku salat di dekatnya dan mencuri pandang ke arahnya.
Tetapi apabila aku menghadapi salatku, beliau memandang ke arahku, dan apabila aku memandang ke arahnya, maka beliau berpaling dariku.
Keadaan seperti itu berlangsung cukup lama kualami, semua orang muslim tidak mau berbicara kepadaku, hingga aku berjalan menelusuri tembok kebun milik Abu Qatadah.
yaitu saudara sepupuku dan orang yang paling aku sukai.
Lalu aku mengucapkan salam kepadanya, tetapi —demi Allah—- dia tidak menjawab salamku.
Lalu aku berkata, ‘Hai Abu Qatadah.
aku memohon kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah engkau mengetahui bahwa aku cinta kepada Allah dan Rasul-Nya?’."

Ka’b ibnu Malik melanjutkan kisahnya,
"Sepupuku itu diam saja."
Ka’b ibnu Malik mengulangi salam dan pertanyaannya, tetapi sepupunya itu tetap diam.
Ketika Ka’b ibnu Malik mengulangi lagi hal itu kepadanya, barulah ia menjawab,
"Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."
Maka berlinanganlah air mata Ka’b ibnu Malik, hingga pergi dan meniti jalan dengan bersembunyi di balik tembok.
Ketika aku (Ka’b ibnu Malik) sedang berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba aku bersua dengan seorang Nabti dari negeri Syam yang biasa mendatangkan bahan makanan untuk dijual di Madinah.
Dia bertanya,
"Siapakah yang akan menunjukkan Ka’b ibnu Malik kepadaku?"
Maka orang-orang menunjukkan kepadanya rumahku, hingga orang itu datang kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat untukku dari Raja Gassan.
Kebetulan aku adalah orang yang pandai baca tulis.
Ketika kubaca isinya, ternyata di dalamnya terdapat kata-kata berikut,
"Amma ba’du.
Sesung­guhnya telah sampai kepada kami suatu berita yang mengatakan bahwa temanmu (yakni Nabi ﷺ) telah menjauhimu, dan sesungguhnya Al­lah tidak menjadikanmu berada di negeri yang semuanya menghina dan menyia-nyiakanmu.
Maka bergabunglah dengan kami, kami pasti akan membantumu."

Ka’b ibnu Malik melanjutkan kisahnya,
"Setelah kubaca isi surat itu.
jiku berkata kepada diriku sendiri.
Inipun suatu malapetaka lagi.
Lalu aku menuju tempat pembakaran roti.
kemudian surat itu aku masukkan ke dalamnya.
Setelah berlalu empat puluh hari dari lima puluh hari yang telah kami sebutkan, tiba-tiba Rasulullah ﷺ —yakni utusannya— datang kepadaku seraya membawa pesan bahwa Rasulullah ﷺ memerintah­kan aku agar menjauhi istriku.
Aku bertanya, ‘Apakah aku harus menceraikannya ataukah harus bagaimana?’ Utusan itu menegaskan.
‘Tidak, tetapi kamu harus menjauhinya, janganlah kamu mendekatinya."
Hal yang sama telah dikatakan pula kepada kedua orang temanku."

Ka’b ibnu Malik melanjutkan kisahnya,
"Lalu aku berkata kepada istriku, ‘Pulanglah ke rumah orang tuamu dan tinggallah bersama mereka hingga Allah memutuskan perkaraku ini menurut apa yang dikehendaki-­Nya’."
Lain halnya dengan istri Hilal ibnu Umayyah (teman Ka’b yang juga dijauhkan).
Ia datang menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal adalah orang yang telah berusia lanjut lagi lemah keadaannya, dia pun tidak mempunyai pembantu, apakah engkau tidak suka bila aku melayaninya?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Tidak, tetapi dia tidak boleh mendekatimu."
Istri Hilal berkata,
"Sesungguhnya dia, demi Allah, tidak mempunyai selera apa pun.
Dia, demi Allah, masih terus-menerus menangis sejak peristiwa yang dialaminya sampai sekarang."

Ka’b ibnu Malik melanjutkan kisahnya,
"Lalu salah seorang istriku ada yang mengatakan kepadaku,’ Sebaiknya engkau meminta izin kepada Rasulullah ﷺ agar istrimu diberi izin untuk melayanimu seperti apa yang diizinkan kepada istri Hilal ibnu Umayyah untuk melayaninya.’ Aku berkata, ‘Demi Alah, aku tidak mau meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk istriku itu, apakah nanti yang akan dikatakan oleh Rasulullah ﷺ tentang diriku yang masih muda ini bila aku meminta izin kepadanya’."

Ka’b ibnu Malik melanjutkan kisahnya,
"Kami tinggal selama sepuluh hari dalam keadaan demikian, hingga genaplah lima puluh hari sejak Rasulullah ﷺ melarang orang-orang berbicara kepada kami."

Ka’b ibnu Malik melanjutkan kisahnya,
"Lalu aku melakukan salat Subuh pada pagi hari yang kelima puluhnya di atas loteng salah satu rumahku.
Ketika itu aku sedang duduk dalam keadaan seperti apa yang disebutkan oleh Allah, bahwa jiwaku merasa sempit dan bumi yang luas ini terasa sempit bagiku.
Dalam keadaan demikian aku mendengar suara seruan keras dari atas Bukit Sala’ yang menyerukan dengan suara keras sekali, ‘Bergembiralah engkau, hai Ka’b ibnu Malik!’ Maka aku menyungkur bersujud, dan aku mengetahui bahwa telah datang jalan keluar dari Allah subhanahu wa ta’ala., yaitu dengan menerima tobat kami.
Rasulullah ﷺ seusai salat Subuhnya memaklumatkan penerimaan tobat kami oleh Allah subhanahu wa ta’ala, Maka orang-orang pun pergi untuk menyampaikan berita gembira itu kepadaku dan kepada kedua orang temanku.
Ada seorang lelaki yang memacu kudanya dari kalangan kabilah Aslam, dan seorang lagi berlari menaiki puncak Bukit (Sala’) untuk menyerukan hal itu, dan ternyata suara lebih cepat daripada kuda.
Ketika datang kepadaku orang yang telah kudengar suaranya menyampaikan berita gembira dari atas bukit itu, maka aku tanggalkan kedua bajuku, lalu kuberikan kepadanya sebagai penghargaan atas jasanya, padahal, demi Allah, aku tidak mempunyai baju lagi yang selainnya pada saat itu.
Lalu aku meminjam dua lapis baju dan kukenakan, lalu aku berang­kat dengan tujuan akan menghadap Rasulullah ﷺ Setiap orang yang aku jumpai secara berbondong-bondong menyampaikan ucapan selamat mereka kepadaku karena tobatku diterima oleh Allah.
Mereka mengata­kan, ‘Selamat dengan penerimaan tobatmu oleh Allah.’ Ketika aku memasuki masjid, kujumpai Rasulullah ﷺ sedang duduk dikelilingi oleh orang banyak.
Maka Talhah ibnu Ubaidillah berlari kecil datang kepadaku dan menyalamiku serta mengucapkan selamat kepadaku.
Demi Allah dialah satu-satunya orang dari kalangan Muhajirin yang bangkit menyambutku."

Perawi mengatakan bahwa atas peristiwa itu Ka’b tidak pernah melupakan kebaikan Talhah ibnu Ubaidillah.

Ka’b melanjutkan kisahnya,
"Setelah aku mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ (dan beliau menjawab salamku), maka kelihatan wajah Rasulullah ﷺ bercahaya karena gembira, lalu bersabda:
‘Bergembiralah engkau dengan sebaik-baik hari yang kamu alami sejak kamu dilahirkan oleh ibumu.’ Aku bertanya, ‘Apakah dari sisimu, hai Rasulullah, ataukah dari sisi Allah?’ Rasul ﷺ menjawab, ‘Tidak, tetapi dari sisi Allah.’ Rasulullah ﷺ bila wajahnya bersinar hingga kelihatan seperti bulan purnama, maka hal itu merupakan suatu pertanda bahwa beliau sedang gembira.
Ketika aku duduk di hadapannya, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya untuk menunjukkan tobatku, aku melepaskan semua hartaku untuk aku sedekahkan kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Peganglah sebagian dari hartamu, hal itu lebih baik bagimu.’ Aku berkata, ‘Sesungguhnya aku hanya mau memegang bagianku yang ada di Khaibar.’ Dan aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah menyelamatkan diriku hanya dengan berkata benar, dan sesungguhnya termasuk tobatku ialah aku tidak akan berbicara melainkan sejujurnya selagi aku masih hidup’."

Ka’b ibnu Malik melanjutkan kisahnya,
"Demi Allah, aku tidak pernah mengetahui seseorang dari kalangan kaum muslim yang diuji dengan kejujuran dalam berbicara sejak aku mengucapkan kejujuran itu kepada Rasulullah, yakni dengan hasil yang lebih baik daripada apa yang pernah diujikan oleh Allah kepadaku.
Demi Allah, aku tidak punya niat melakukan suatu kedustaan pun sejak aku mengucapkan hal itu kepada Rasulullah ﷺ sampai sekarang.
Dan sesungguhnya aku berharap semoga Allah subhanahu wa ta’ala, memelihara diriku dari dusta dalam sisa usiaku."

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Ansar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka itu.
Sesung­guhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas danjiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja.
Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya.
Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar.
(At Taubah:117-119)

Ka’b ibnu Malik mengatakan,
"Demi Allah, tidak ada suatu nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadaku sesudah Dia memberiku petunjuk kepada Islam, yakni nikmat yang paling besar artinya bagiku selain dari kejujuranku kepada Rasulullah ﷺ pada hari itu.
Karena aku tidak mau berdusta kepadanya, sebab aku akan dibinasakan oleh Allah seperti apa yang telah Dia lakukan kepada orang-orang yang berdusta kepada Rasul ﷺ"

Allah subhanahu wa ta’ala, mengecam dengan kecaman yang sangat keras terhadap orang-orang yang berdusta kepada Rasul ﷺ melalui firman yang diturunkan-Nya, yaitu:

Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka.
Maka berpalinglah dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka Jahanam:
sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
Mereka akan bersumpah kepadamu agar kamu rida kepada mereka.
Tetapi jika sekiranya kamu rida kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak rida kepada orang-orang yang fasik itu.
(At Taubah:95-96)

Ka’b ibnu Malik mengatakan,
"Kami bertiga adalah orang-orang yang berbeda dengan mereka yang diterima uzurnya oleh Rasulullah ﷺ, ketika mereka tidak ikut perang, lalu Rasulullah ﷺ membaiat mereka dan memohonkan ampun kepada Allah buat mereka.
Sedangkan terhadap kami bertiga, Rasulullah ﷺ menangguhkan urusan kami hingga Allah subhanahu wa ta’ala, sendiri yang memutuskannya.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman:

…dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka.

Penangguhan Allah terhadap kami tentang urusan kami itu bukanlah karena pelanggaran kami yang tidak ikut perang, melainkan ditangguhkan dari orang-orang yang mengemukakan uzurnya dan bersumpah kepada Nabi untuk mempercayainya, lalu Nabi ﷺ menerima alasan mereka."

Hadis ini sahih lagi terbuktikan kesahihannya dan telah disepakati kesahihannya.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim melalui hadis Az-Zuhri dengan lafaz yang semisal.
Hadis ini mengandung tafsir ayat ini dengan penafsiran yang paling baik dan paling detail.

Hal yang sama telah diriwayatkan bukan hanya oleh seorang dari kalangan ulama Salaf dalam tafsir ayat ini, seperti apa yang telah diriwayatkan oleh Al-A’masy dari Abu Sufyan, dari Jabir ibnu Abdullah sehubungan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka., Mereka adalah Ka’b ibnu Malik, Hilal ibnu Umayyah, dan Mararah ibnu Rabi’, semuanya dari kalangan Ansar.


Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ad- Dahhak, Qatadah, As-Saddi, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
Semuanya mengatakan bahwa salah seorangnya adalah Mararah ibnu Rabi’ah.


Hal yang sama disebutkan dalam salah satu salinan dari kitab Muslim, disebutkan Ibnu Rabi’ah, sedangkan dalam salinan yang lainnya disebutkan Mararah ibnur Rabi’.
Di dalam suatu riwayat dari Ad-Dahhak disebutkan Mararah ibnur Rabi’, seperti yang terdapat di dalam kitab Sahihain, dan ini adalah yang benar.

Teks hadis yang menyebutkan bahwa mereka (orang-orang dari Perang Badar, menurut suatu pendapat, ini merupakan kekeliruan dari Az-Zuhri, karena sesungguhnya keikutsertaan seseorang dari mereka dalam Perang Badar tidak dikenal.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah At Taubah (9) ayat 118

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih dia berkata,
Telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahb dia berkata,
Telah mengabarkan kepadaku Yunus -Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya-, Ahmad berkata,
Dan telah menceritakan kepada kami Anbasah Telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab dia berkata,
Telah mengabarkan kepadaku Abdur Rahman bin Ka’ab bin Malik dia berkata,
Telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Ka’ab dan dia adalah anaknya yang biasa menuntun Ka’ab ketika dia buta. Dia berkata,
Aku mendengar Ka’b bin Malik menceritakan peristiwanya mengenai firman: dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, (At Taubah: 118). Diakhir ceritanya Ka’ab berkata,
wahai Rasulullah, sesungguhnya taubatku adalah melepaskan diri dari hartaku sebagai sedekah kepada Allah dan RasulNya. Maka Rasulullah bersabda:
"Tahanlah sebagian hartamu, hal tersebut lebih baik bagimu."

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4308

Unsur Pokok Surah At Taubah (التوبة‎‎)

Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan.

Dinamakan juga dengan "Baraah" yang berarti berlepas diri, yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh ‘Ali radhiyallahu ‘anhu pada musim musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

▪ Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman.
▪ Pembalasan atas amal amalan manusia hanya dari Allah.
▪ Segala sesuatu menurut sunnatullah.
▪ Perlindungan Allah bagi orang-orang yang beriman.
▪ Kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

▪ Kewajiban menafkahkan harta.
▪ Macam-macam harta dalam agama serta penggunaannya.
Jizyah.
▪ Perjanjian dan perdamaian.
▪ Kewajiban umat Islam terhadap Nabinya.
▪ Sebab-sebab orang Islam melakukan perang total.
▪ Beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad ﷺ dengan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
Perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
Perang Tabuk.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.

Audio

QS. At-Taubah (9) : 1-129 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 129 + Terjemahan Indonesia

QS. At-Taubah (9) : 1-129 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 129

Gambar Kutipan Ayat

Surah At Taubah ayat 118 - Gambar 1 Surah At Taubah ayat 118 - Gambar 2
Statistik QS. 9:118
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah At Taubah.

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, “Pengampunan”‎) adalah surah ke-9 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti “Pengampunan” karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara’ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah9
Nama SurahAt Taubah
Arabالتوبة‎‎
ArtiPengampunan
Nama lainAl-Bara’ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu113
JuzJuz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat129
Jumlah kata2506
Jumlah huruf11116
Surah sebelumnyaSurah Al-Anfal
Surah selanjutnyaSurah Yunus
Sending
User Review
4.2 (16 votes)
Tags:

9:118, 9 118, 9-118, Surah At Taubah 118, Tafsir surat AtTaubah 118, Quran At-Taubah 118, Surah At Taubah ayat 118

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 34 [QS. 7:34]

Orang-orang zalim yang melakukan perbuatan keji sebagaimana dijelaskan pada ayat-ayat terdahulu tidak langsung mendapatkan azab dan balasan perbuatan mereka, karena Allah telah menentukan waktu dan aj … 7:34, 7 34, 7-34, Surah Al A’raaf 34, Tafsir surat AlAraaf 34, Quran Al Araf 34, Al-A’raf 34, Surah Al Araf ayat 34

QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 81 [QS. 16:81]

Dan di samping itu, Allah juga menjadikan tempat-tempat bernaung dan berlindung bagimu dari berbagai bahaya dan situasi yang tidak menyenangkan, yang terbuat dari apa yang telah Dia ciptakan untuk kal … 16:81, 16 81, 16-81, Surah An Nahl 81, Tafsir surat AnNahl 81, Quran An-Nahl 81, Surah An Nahl ayat 81

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Berdasarkan bahasa, ijma artinya adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan infefensi hukum-hukum syariat dari sumber-sumber yang terpercaya disebut dengan ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Mujtahid (bahasa Arab: المجتهد) atau fakih (الفقيه) adalah seseorang yang dalam ilmu fikih sudah mencapai derajat ijtihad dan memiliki kemampuan istinbath (inferensi) hukum-hukum syariat dari sumber-sumber muktabar dan diandalkan.

Era ketidaktahuan juga disebut zaman ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Arti hadits maudhu' adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pengertian ijtihad menurut istilah adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #9
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #9 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #9 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #13

Apa makanan kegemaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Kurma muda yang masih basah Ayam bakar Cuka dan labu Daging

Pendidikan Agama Islam #3

Dalam Islam, pakaian harus … Mewah dan bersih mahal dan bagus mewah dan menarik bersih, rapi dan sopan bermerek Benar!

Pendidikan Agama Islam #14

Dalam Islam, pengendalian diri atau kontrol terhadap diri, disebut juga dengan … Muhahadah fi sabilillah Mujahadah Bi Qalbi Mujahadah An-Nafs

Instagram