Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

At Taubah

At Taubah (Pengampunan) surah 9 ayat 113


مَا کَانَ لِلنَّبِیِّ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ یَّسۡتَغۡفِرُوۡا لِلۡمُشۡرِکِیۡنَ وَ لَوۡ کَانُوۡۤا اُولِیۡ قُرۡبٰی مِنۡۢ بَعۡدِ مَا تَبَیَّنَ لَہُمۡ اَنَّہُمۡ اَصۡحٰبُ الۡجَحِیۡمِ
Maa kaana li-nnabii-yi waal-ladziina aamanuu an yastaghfiruu lilmusyrikiina walau kaanuu uulii qurba min ba’di maa tabai-yana lahum annahum ashhaabul jahiim(i);

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.
―QS. 9:113
Topik ▪ Neraka ▪ Nama-nama neraka ▪ Rasul bebas dari kemusyrikan dan orang musyrik
9:113, 9 113, 9-113, At Taubah 113, AtTaubah 113, At-Taubah 113
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Taubah (9) : 113. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang mukmin untuk mengajukan permohonan kepada Allah agar Dia memberikan ampun kepada orang yang musyrik walaupun mereka adalah kerabat Nabi atau kerabat dari orang-orang mukmin.
Lebih-lebih apabila Nabi dan orang-orang mukmin telah mendapatkan bukti yang jelas, bahwa mereka yang dimohonkan ampunan itu adalah calon-calon penghuni neraka karena perbuatan dan tindak-tanduk mereka telah menunjukkan keingkaran mereka kepada Allah subhanahu wa ta'ala

Pada ayat ke 80 surat At-Taubah ini juga, Allah subhanahu wa ta'ala telah menerangkan bahwa Dia tidak akan memberikan ampunan bagi orang-orang munafik, karena mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya sehingga sama saja halnya, apakah Rasulullah memintakan ampun untuk mereka atau pun tidak.
Dan dalam ayat ke 48 dan 116 surat An-Nisa Allah telah menegaskan pula, bahwa Dia tidak akan memberikan ampun kepada siapa saja yang menjadi musyrik, yaitu mempersekutukan Allah dengan yang lain.

Orang-orang yang mempersekutukan Allah walaupun mereka mengaku beriman dan menyembah kepada Allah, namun di samping itu mereka beriman dan menyembah selain Allah.
Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak mempunyai iman tentang kesempurnaan dan kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala Oleh sebab itu dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa kemusyrikan itu adalah suatu kelaliman yang besar, dan merupakan dosa yang tak diampuni.
Itulah sebabnya, maka Lukman Al-Hakim memberikan pelajaran kepada putranya, beliau berkata:

Janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar.
(Q.S.
Lukman: 13)

Dalam riwayat yang menjelaskan sebab turunnya ayat ini yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ibnu Jarir dan lain-lain dari Said Ibnu Musayyab, dari ayahnya, diterangkan bahwa ketika paman Nabi Muhammad, Abu Talib, akan meninggal dunia maka Nabi datang mengunjunginya, dan ketika itu Abu Jahal dan Abdullah Ibnu Abu Umayyah berada pula di sampingnya, Nabi lalu berkata kepada pamannya: "Hai Paman, ucapkanlah kalimat "la ilaha illallah" dengan kalimat itu kelak di hari kiamat aku akan mempunyai alasan untuk memintakan ampunan bagimu kepada Allah subhanahu wa ta'ala

Mendengar ucapan Nabi kepada pamannya itu, maka Abu Jahal dan Abdullah segera pula berkata kepada Abu Talib: "Apakah engkau tidak senang kepada agama Abdul Muttalib?"
Kemudian Nabi senantiasa mengulangi permintaannya itu kepada Abu Talib, tetapi kedua pemuka kaum kafir Quraisy itu segera pula mengulangi ucapan mereka seperti tersebut di atas, sehingga akhirnya Abu Talib mengucapkan kata-katanya yang terakhir kepada mereka: "Aku tetap dalam agama Abdul Muttalib." Ia enggan mengucapkan kalimat "la ilaha illallah".
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Demi Allah, aku akan memohonkan ampun untukmu kepada Allah selama aku tidak dilarang untuk berbuat demikian." Maka turunlah ayat ini yang dengan tegas melarang Nabi dan kaum muslimin untuk memohonkan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik, walaupun mereka termasuk keluarga terdekat.

Dan khusus mengenai Abu Talib, maka Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman kepada Rasulullah sebagai berikut:

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.
(Q.S.
Al-Qasas: 56)

Abu Talib ini meninggal dunia di kota Mekah kira-kira tiga tahun sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah.
Oleh sebab itu sebagian ulama menganggap tidak benar turunnya ayat ini mengenai Abu Talib sebab ayat ini terdapat dalam surat At-Taubah yang termasuk kelompok surat-surat Madaniah.
Akan tetapi ulama-ulama lain mengatakan bahwa mengenai turunnya ayat ini ada dua macam kemungkinan, yaitu:

Pertama: ayat ini turun tak lama sesudah meninggalnya Abu Talib, kemudian ayat tersebut digabungkan kepada surat Bara`ah (At-Taubah), akibat ada kesamaannya mengenai hukum-hukum yang khusus tentang ketidakbolehan orang-orang mukmin mendoakan ampunan bagi orang-orang kafir, di samping persamaan mengenai celaan terhadap orang-orang musyrik.

Kedua: Mungkin juga ayat tersebut turun bersamaan ayat-ayat lainnya dalam surat Bara'ah (At-Taubah) ini yang menjelaskan bahwa tentang permintaan ampunan oleh Rasulullah ﷺ untuk Abu Talib semenjak wafatnya Abu Talib sampai pada saat turunnya ayat tersebut Rasulullah senantiasa memohonkan ampun kepada Allah untuk pamannya itu, sebab sikap yang keras terhadap orang-orang kafir, dan melepaskan hubungan dari mereka hanyalah terdapat dalam ayat-ayat surat At-Taubah ini.

Dalam ayat di atas terdapat isyarat bahwa mendoakan orang-orang yang telah mati dalam kekafirannya agar mereka memperoleh ampunan dan rahmat Allah adalah terlarang.
Dan larangan ini mencakup segala macam dan cara berdoa, baik doa-doa yang biasa dilakukan sesudah salat dan dalam upacara tertentu maupun doa yang hanya berupa sebutan "almarhum" atau "almagfur lahu" di samping nama seseorang.
Yang sebenarnya kata-kata tersebut hanya boleh dihubungkan kepada orang-orang mukmin, dan tidak boleh dihubungkan kepada orang-orang yang telah mati dalam kekafiran.
Tetapi ini sering kali kurang disadari oleh sebagian kaum muslim, baik di kalangan orang-orang awam maupun kalangan terpelajar.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Muslim dan Abu Daud dari Abu Hurairah, ia mengatakan: Bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengunjungi makam lalu beliau menangis sehingga menyebabkan orang-orang yang berada di sekitarnya pun menangis pula, kemudian beliau bersabda: "Aku telah meminta izin kepada Allah untuk memohonkan ampun untuk ibuku tetapi Allah tidak mengizinkan, dan aku meminta izin untuk mengunjungi makam ibuku, maka Allah telah mengizinkan.
Oleh sebab itu kamu boleh mengunjungi makam, karena hal itu akan mengingatkan kamu kepada kematian.

Dengan adanya larangan Allah dalam ayat ini kepada Nabi dan orang-orang mukmin untuk memintakan ampun bagi orang-orang musyrik, dapatlah diambil kesimpulan bahwa kenabian dan keimanan yang sejati tidak membolehkan seseorang untuk memanjatkan doa ke hadirat Allah subhanahu wa ta'ala untuk mengampuni orang-orang musyrik itu dalam keadaan bagaimana juga walaupun mereka adalah termasuk kaum kerabat yang dicintai.
Hal itu disebabkan karena bagi Nabi dan orang-orang mukmin sudah cukup jelas dari berbagai bukti kenyataan, bahwa orang-orang musyrik itu telah mati dalam kekafiran sehingga dengan demikian mereka adalah merupakan calon-calon penghuni neraka, maka tidaklah selayaknya untuk dimintakan ampun kepada Allah, karena perbuatan mereka tidak diridai-Nya.

At Taubah (9) ayat 113 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy At Taubah (9) ayat 113 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi At Taubah (9) ayat 113 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Nabi dan orang-orang Mukmin tidak boleh memohonkan ampunan bagi orang-orang musyrik-- meskipun mereka adalah orang-orang terdekat mereka--saat mereka mengetahui bahwa orang-orang musyrik yang mati dalam kekafiran berhak menjadi penghuni neraka untuk selamanya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan permohonan ampunan Nabi ﷺ buat pamannya, yaitu Abu Thalib dan sekaligus berkenaan pula dengan permohonan ampunan sebagian para sahabat terhadap kedua orang-orang tua mereka masing-masing yang musyrik.
(Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu kaum kerabat)nya, yakni familinya sendiri (sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang yang musyrik itu adalah penghuni-penghuni Jahim) yakni neraka, lantaran mereka mati dalam keadaan kafir.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Tidak sepantasnya Nabi Muhammad صلی الله عليه وسلم dan orang-orang Mukmin memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang-orang musyrik setelah mereka mati, meskipun mereka adalah sanak kerabat Nabi dan orang-orang Mukmin apabila mereka mati dalam keadaan menyekutukan Allah, menyembah berhala, dan sesudah jelas bahwa mereka adalah para penghuni Neraka Jahanam karena mereka mati dalam keadaan musyrik.
Allah tidak mengampuni dosa orang-orang musyrik, sebagaimana firman-Nya :
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa orang yang menyekutukan-Nya, dan firman-Nya :
Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka Allah mengharamkan surga baginya.
(Qs.Al-Maidah :
72).

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari Ibnul Musayyab, dari ayahnya yang mengatakan bahwa ketika Abu Talib sedang menjelang ajalnya, Nabi ﷺ masuk menemuinya, saat itu di sisi Abu Talib terdapat Abu Jahal dan Abdullah ibnu Abu Umayyah.
Maka Nabi ﷺ bersabda: Hai paman, ucapkanlah, "Tidak ada Tuhan selain Allah!" sebagai suatu kalimat yang kelak aku akan membelamu dengannya di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala.
Maka Abu Jahal dan Abdullah ibnu Abu Umayyah berkata, "Hai Abu Talib apakah engkau tidak suka dengan agama Abdul Muttalib?"
Abu Talib menjawab.”Saya berada pada agama Abdul Muttalib." Maka Nabi ﷺ bersabda: Sungguh aku benar-benar akan memohonkan ampun buatmu selagi aku tidak dilarang untuk mendoakanmu.
Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya:

Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahim.
Imam Ahmad mengatakan bahwa sehubungan dengan peristiwa ini diturunkan pula firman Allah subhanahu wa ta'ala.: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.
(Al Qashash:56)

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkan hadis ini.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Adam, telah menceritakan kepada kami Sufyan.
dari Abu Ishaq, dari Abul Khalil, dari Ali r.a.
yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar seorang lelaki memohonkan ampun bagi kedua orang tuanya, padahal kedua orang tuanya itu musyrik.
Maka aku (Ali) berkata, "Apakah lelaki itu memohonkan ampun bagi kedua orang tuanya, padahal kedua orang tuanya musyrik?"
Lelaki itu menjawab, "Bukankah Ibrahim telah memohonkan ampun bagi ayahnya?"
Ali r.a.
melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia menceritakan hal itu kepada Nabi ﷺ Maka turunlah ayat ini: Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik.
(At Taubah:113), hingga akhir ayat.

Imam Ahmad mengatakan, "Kalimat 'ketika menjelang kematiannya' saya tidak tahu apakah Sufyan yang mengatakannya ataukah dikatakan oleh Israil, atau memang dalam hadisnya disebutkan kalimat ini." Menurut kami (penulis), hal ini telah dibuktikan melalui riwayat dari Mujahid, bahwa Mujahid mengatakan 'bahwa ketika Abu Talib menjelang kematiannya'.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Zubaid ibnul Hari s Al-Yami, dari Muharib ibnu Disar, dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya yang menceritakan, "Ketika kami bersama Nabi ﷺ dalam suatu perjalanan, lalu Nabi ﷺ membawa kami turun istirahat.
Saat itu jumlah kami kurang lebih seribu orang, semuanya berkendaraan.
Lalu Nabi ﷺ melakukan salat dua rakaat, sesudah itu Nabi ﷺ menghadapkan wajahnya ke arah kami, sedangkan air mata mengalir dari kedua matanya.
Umar ibnul Khattab bangkit mendekatinya dan mengucapkan kesetiaannya, lalu bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah gerangan yang telah menimpamu?' Rasulullah ﷺ menjawab: 'Sesungguhnya aku telah meminta kepada Tuhanku untuk memohonkan ampun buat ibuku, tetapi Dia tidak mengizinkanku, maka kedua mataku mengalirkan air mataku karena kasihan kepadanya di neraka.
Dan sesungguhnya aku telah melarang kalian dari tiga perkara, aku telah melarang kalian ziarah kubur, maka sekarang ziarahilah kubur, semoga ziarah kubur mengingatkan kebaikan bagi kalian.
Dan aku telah melarang kalian memakan daging kurban sesudah tiga hari, maka sekarang makanlah dan simpanlah sesuka kalian.
Dan aku telah melarang kalian meminum minuman dengan memakai wadah, maka sekarang minumlah kalian dengan memakai wadah apa pun, tetapi janganlah kalian meminum minuman yang memabukkan'.”

Ibnu Jarir meriwayatkan melalui hadis Alqamah ibnu Marsad, dari Sulaiman ibnu Buraidah, dari ayahnya, bahwa ketika Nabi ﷺ tiba di Mekah, beliau mendatangi suatu kuburan, lalu duduk di dekatnya dan kelihatan seperti orang yang sedang berbicara, lalu bangkit seraya menangis.
Maka kami bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami melihat semua yang engkau perbuat." Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya aku meminta izin kepada Tuhanku untuk menziarahi kuburan ibuku, maka Dia memberikan izin kepadaku.
Dan aku meminta izin kepada-Nya untuk memohonkan ampun buat ibuku, tetapi Dia tidak mengizinkannya.
Maka belum pernah kelihatan Rasulullah ﷺ menangis lebih banyak daripada hari itu.

Ibnu Abu Hatim telah mengatakan dalam kitab Tafsir-nya bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Khaddasy, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Wahb, dari Ibnu Juraij, dari Ayyub ibnu Hani', dari Masruq, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan, "Di suatu hari Rasulullah ﷺ keluar menuju pekuburan, lalu kami mengikutinya.
Rasulullah ﷺ sampai di pekuburan itu dan duduk di salah satunya, lalu melakukan munajat cukup lama.
Setelah itu beliau menangis, dan kami pun ikut menangis karena tangisannya.
Kemudian bangkitlah Umar ibnul Khattab menuju ke arahnya, maka Rasul ﷺ memanggilnya dan memanggil kami, lalu bersabda, 'Apakah yang membuat kalian menangis?' Kami menjawab, 'Kami menangis karena tangisanmu.' Rasul ﷺ.
bersabda: 'Sesungguhnya kuburan yang tadi aku duduk di dekatnya adalah kuburan Aminah (ibunda Nabi ﷺ).
Dan sesungguhnya aku meminta izin kepada Tuhanku untuk menziarahinya, maka Dia memberikan izin kepadaku'.”

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengetengahkan hadis ini pula melalui jalur lain bersumberkan dari riwayat Ibnu Mas'ud yang isinya hampir sama.
Di dalam riwayatnya ini disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,

"Sesungguhnya aku meminta izin kepada Tuhanku untuk mendoakan ibuku, tetapi Dia tidak mengizinkan aku melakukannya, dan diturunkanlah kepadaku firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang mengatakan:
'Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman.', hingga akhir ayat.
Maka aku pun merasa sedih sebagaimana sedihnya seorang anak terhadap orang tuanya.
Dan aku telah melarang kalian menziarahi kuburan, maka sekarang berziarahlah, karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingat­kan akhirat."

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah At Taubah (9) ayat 113
Dan telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya At-Tujibi telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Wahb dia berkata,
telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dia berkata,
telah mengabarkan kepadaku Said bin Al-Musayyab dari bapaknya dia berkata,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menziarahi Abu Thalib di saat-saat dirinya tengah menghadapi sakaratul maut. Beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah turut berada di sana. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
Paman! Ucaplah Dua Kalimah Syahadat, aku akan menjadi saksi kamu di hadapan Allah. Lalu Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah mencelah, 'Wahai Abu Thalib sanggupkah kamu meninggalkan agama Abdul Muththalib? ' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak berputus asa malah tetap mengajarnya mengucap Dua Kalimah Syahadat serta berkali-kali mengulanginya. Sehingga Abu Thalib menjawab sebagai ucapan terakhir kepada mereka, bahwa dia tetap bersama dengan agama Abdul Muththalib, dan enggan mengucapkan Kalimah Syahadat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda:
Demi Allah, aku akan mohonkan ampunan dari Allah untukmu, sehingga Allah menurunkan ayat: (Tidak dibenarkan bagi Nabi dan orang-orang yang beriman meminta ampun bagi orang-orang yang syirik sekalipun orang itu kaum kerabat sendiri setelah nyata bagi mereka bahwa orang-orang syirik itu adalah ahli neraka) (Qs. AtTaubah: 113). Lalu Allah menurunkan firman-Nya berkenaan dengan peristiwa Abu Thalib: '(Sesungguhnya kamu wahai Muhammad tidak berkuasa memberi hidayat petunjuk kepada siapa yang kamu kasihi supaya dia menerima Islam tetapi Allah jualah yang berkuasa memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia jualah yang lebih mengetahui siapakah orang-orang yang (bersedia) untuk mendapat petunjuk memeluk Islam) '. (Qs. Al Qashash: 56). Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Abd bin Humaid keduanya berkata,
telah mengabarkan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Hasan Al-Hulwani dan Abd bin Humaid keduanya berkata,
telah menceritakan kepada kami Ya'qub -yaitu Ibnu Ibrahim bin Sa'ad- dia berkata,
telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih keduanya dari az-Zuhri dengan sanad ini semisalnya. Hanya saja hadits Shalih selesai pada perkataannya, 'lalu Allah menurunkan firman-Nya tentangnya, ' dan dia tidak menyebutkan dua ayat tersebut. Dan dia menyebutkan di dalam haditsnya, 'Dan keduanya kembali mengucapkan perkataan tersebut, 'pada hadits Ma'mar adalah sebagai pengganti kalimat ini. Dan mereka berdua tetap berpedoman padanya.

Shahih Muslim, Kitab Iman - Nomor Hadits: 35

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah At Taubah (9) Ayat 113

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) dari Sa’id bin al-Musayyab yang bersumber dari bapaknya.
Menurut zhahirnya, ayat ini turun di Mekah.
Bahwa ketika Abu Thalib hampir menghembuskan nafasnya yang terakhir, datanglah Rasulullah ﷺ kepadanhya.
Didapatinya Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berada di sisinya.
Nabi ﷺ bersabda: “Wahai pamanku.
Ucapkanlah: laa ilaaha illallaah (tidak ada tuhan selain Allah), agar dengan mengucapkan kalimat itu saya dapat membela Pamanda di hadapan Allah.” Berkatalah Abu Jahl dan ‘Abdullah: “Hai Abu Thalib, apakah engkau benci dengan agama ‘Abdul Muthalib?” kedua orang itu tidak henti-hentinya membujuk Abu Thalib, sehingga kalimat terakhir yang ia ucapkan pun sesuai dengan agama ‘Abdul Muthalib.
Nabi ﷺ bersabda: “Aku akan memintakan ampun untuk Pamanda selagi aku tidak dilarang berbuat demikian.” Maka turunlah ayat ini (Baraa’ah: 113) sebagai larangan untuk memintakan ampun bagi kaum musyrikin.
Ayat lain yang diturunkan berkenaan dengan usaha Nabi untuk mengislamkan Abu Thalib ialah surah al-Qashash atau 56, yang menegaskan bahwa Nabi tidak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang ia sayangi selagi tidak diberi petunjuk oleh Allah.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, yang bersumber dari ‘Ali bin Abi Thalib.
Menurut at-Tirmidzi hadits ini hasan, bahwa ‘Ali bin Abi Thalib mendengar seorang laki-laki sedang memohonkan ampun kepada Allah bagi kedua ibu bapaknya yang musyrik.
‘Ali bertanya kepadanya: “Apakah engkau memintakan ampun bagi kedua orang tuamu yang musyrik?” Ia menjawab:
“Ibrahim pun memintakan ampun bagi bapaknya yang musyrik.” Hal ini disampaikan oleh ‘Ali kepada Rasulullah ﷺ.
Maka turunlah ayat ini (Baraa’ah: 113) yang melarang kaum Mukminin memintakan ampun bagi kaum musyrik.

Diriwayatkan oleh al-Hakim, al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwa pada suatu hari Rasulullah pergi ke kuburan.
Beliau duduk di sebuah kuburan serta berdoa di sana lama sekali, kemudian menangis.
Ibnu Mas’ud pun jadi menangis karena tangisan beliau itu.
Rasulullah bersabda: “Kuburan yang aku duduk di sisinya itu adalah kuburan ibuku.
Aku minta izin kepada Rabb-ku untuk mendoakannya, tetapi Dia tidak memberi izin kepadaku.” Permohonan Nabi itu dijawab dengan turunnya ayat ini (Baraa’ah: 113) yang melarang kaum Mukminin memintakan ampun bagi kaum musyrikin.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari Buraidah.
Hadits ini menurut lafal Ibnu Marduwaih, bahwa ketika Nabi ﷺ bersama Buraidah berhenti di ‘Asfan, teringatlah beliau kepada kuburan ibunya.
Beliau berwudlu dan shalat, kemudian menangis dan bersabda: “Aku minta izin kepada Rabb-ku agar aku dapat memintakan ampunan untuk ibuku, akan tetapi aku dilarang-Nya.” Ayat ini (Baraa’ah: 113) turun berkenaan dengan larangan tersebut.

Keterangan: ath-Thabari dan Ibnu Marduwaih meriwayatkan juga hadits seperti di atas yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, dengan tambahan bahwa peristiwa itu terjadi setelah beliau pulang dari Peperangan Tabuk, ketika berangkat ke Mekah untuk mengerjakan umrah dan berhenti di pendakian ‘Asfan.
Menurut Ibnu Hajar, ayat ini (Baraa’ah: 113) bisa jadi turun dengan beberapa sebab.
Mungkin berkenaan dengan Abu Thalib, mungkin juga berkenaan dengan Ibnu Nabi (Aminah), atau berkenaan dengan kisah ‘Ali, atau kesemuanya itu menjadi sebab turunnya ayat tersebut.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah At Taubah (التوبة‎‎)
Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat tennasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan berhubung kata At Taubah berulang kali disebut dalam surat ini.

Dinamakan juga dengan "Baraah" yang berarti berlepas diri yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh 'Ali r.a.
pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman
pembalasan atas amal­ amalan manusia hanya dari Allah
segala sesuatu menurut sunnatullah
perlin­dungan Allah bagi orang-orang yang beriman
kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

Kewajiban menafkahkan harta
macam-macam harta dalam agama serta peng­gunaannya
jizyah
perjanjian dan perdamaian
kewajiban umat Islam terhadap Nabinya
sebab-sebab orang Islam melakukan perang total
beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad s.aw. dengan Abu Bakar r.a. di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
perang Tabuk.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.


Gambar Kutipan Surah At Taubah Ayat 113 *beta

Surah At Taubah Ayat 113



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah At Taubah

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, "Pengampunan"‎) adalah surah ke-9 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti "Pengampunan" karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara'ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad S.A.W kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah 9
Nama Surah At Taubah
Arab التوبة‎‎
Arti Pengampunan
Nama lain Al-Bara'ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 113
Juz Juz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 129
Jumlah kata 2506
Jumlah huruf 11116
Surah sebelumnya Surah Al-Anfal
Surah selanjutnya Surah Yunus
4.7
Rating Pembaca: 4.5 (11 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku