Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. At Taubah (Pengampunan) – surah 9 ayat 111 [QS. 9:111]

اِنَّ اللّٰہَ اشۡتَرٰی مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَنۡفُسَہُمۡ وَ اَمۡوَالَہُمۡ بِاَنَّ لَہُمُ الۡجَنَّۃَ ؕ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَیَقۡتُلُوۡنَ وَ یُقۡتَلُوۡنَ ۟ وَعۡدًا عَلَیۡہِ حَقًّا فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ وَ الۡقُرۡاٰنِ ؕ وَ مَنۡ اَوۡفٰی بِعَہۡدِہٖ مِنَ اللّٰہِ فَاسۡتَبۡشِرُوۡا بِبَیۡعِکُمُ الَّذِیۡ بَایَعۡتُمۡ بِہٖ ؕ وَ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ
Innallahaasytara minal mu’miniina anfusahum wa-amwaalahum bianna lahumul jannata yuqaatiluuna fii sabiilillahi fayaqtuluuna wayuqtaluuna wa’dan ‘alaihi haqqan fiittauraati wal-injiili wal quraani waman aufa bi’ahdihi minallahi faastabsyiruu bibai’ikumul-ladzii baaya’tum bihi wadzalika huwal fauzul ‘azhiim(u);
Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau-pun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.
Mereka berperang di jalan Allah;
sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Alquran.
Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah?
Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.
―QS. At Taubah [9]: 111

Indeed, Allah has purchased from the believers their lives and their properties (in exchange) for that they will have Paradise.
They fight in the cause of Allah, so they kill and are killed.
(It is) a true promise (binding) upon Him in the Torah and the Gospel and the Qur’an.
And who is truer to his covenant than Allah?
So rejoice in your transaction which you have contracted.
And it is that which is the great attainment.
― Chapter 9. Surah At Taubah [verse 111]

إِنَّ sesungguhnya

Indeed,
ٱللَّهَ Allah

Allah
ٱشْتَرَىٰ membeli

(has) purchased
مِنَ dari

from
ٱلْمُؤْمِنِينَ orang-orang mukmin

the believers
أَنفُسَهُمْ diri mereka

their lives
وَأَمْوَٰلَهُم dan harta mereka

and their wealth,
بِأَنَّ dengan/bahwasanya

because
لَهُمُ untuk mereka

for them
ٱلْجَنَّةَ surga

(is) Paradise.
يُقَٰتِلُونَ mereka berperang

They fight
فِى di

in
سَبِيلِ jalan

(the) way
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah,
فَيَقْتُلُونَ maka/lalu mereka membunuh

they slay
وَيُقْتَلُونَ dan mereka dibunuh

and they are slain.
وَعْدًا janji

A promise
عَلَيْهِ atasnya

upon Him
حَقًّا benar

true,
فِى dalam

in
ٱلتَّوْرَىٰةِ Taurat

the Taurat
وَٱلْإِنجِيلِ dan Injil

and the Injeel
وَٱلْقُرْءَانِ dan Al Quran

and the Quran.
وَمَنْ dan siapakah

And who
أَوْفَىٰ lebih menepati

(is) more faithful
بِعَهْدِهِۦ dengan janjinya

to his promise
مِنَ dari

than
ٱللَّهِ Allah

Allah?
فَٱسْتَبْشِرُوا۟ maka bergembiralah kamu

So rejoice
بِبَيْعِكُمُ dengan jual belimu

in your transaction

Tafsir

Alquran

Surah At Taubah
9:111

Tafsir QS. At Taubah (9) : 111. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini menerangkan bahwa Allah membeli jiwa raga dan harta kaum mukmin, yang dibayar-Nya dengan surga.
Artinya, Allah membalas segala perjuangan dan pengorbanan yang telah diberikan kaum mukmin itu, baik berupa jiwa raga maupun harta mereka dengan balasan yang sebaik-baiknya, yaitu kenikmatan dan kebahagiaan di surga kelak.

Ini merupakan ungkapan yang sangat indah untuk menimbulkan kegairahan bagi umat manusia untuk berjihad, karena menggambarkan suatu transaksi jual beli yang sangat menguntungkan manusia.
Pengorbanan yang telah mereka berikan berupa harta dan jiwa raga akan ditukar dengan sesuatu yang sangat berharga, yang tidak pernah dilihat oleh mata manusia, tidak pernah didengar oleh telinga, dan nilainya jauh lebih tinggi dari pada harta benda dan apa saja yang telah dikorbankan.

Di samping itu jual beli yang terjadi antara Allah dan kaum Muslimin ini tidak akan pernah dibatalkan.
Tidak seperti transaksi jual beli yang terjadi antara sesama manusia, yang kadang-kadang dapat dibatalkan.

Lagi pula jual beli antar sesama manusia hanya berupa pertukaran antara barang dan uang yang sama nilainya.
Sedang balasan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang beriman jauh lebih tinggi nilainya dari pada pengorbanan yang telah diberikan atau perjuangan yang telah dilakukannya.


Balasan yang berlipat ganda yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya adalah semata-mata karena kasih sayang-Nya dan merupakan kehormatan kepada hamba-Nya yang beriman, sebab pada hakekatnya diri manusia adalah milik-Nya, karena Dialah Penciptanya;
dan harta benda mereka itupun adalah milik-Nya, karena Dialah yang menganugerahkan kepada mereka.
Namun demikian, bila manusia berjihad dengan mengorbankan harta benda dan jiwa raga mereka, maka Allah tetap memberikan balasan yang berlipat ganda nilainya padahal Allah sendiri pada hakekatnya tidak memerlukan harta benda dan jiwa raga mereka.


Selanjutnya dalam ayat ini, Allah menerangkan bagaimana cara menyerahkan jiwa dan harta yang akan dibeli oleh Allah dengan surga, yaitu dengan berperang di jalan Allah untuk membela kebenaran dan keadilan.
Inilah yang akan menyampaikan mereka kepada keridaan-Nya;
adakalanya mereka dapat menumpas musuh-musuh Allah yang selalu menghambat jalannya dakwah Islamiyah, adakalanya mereka gugur dalam peperangan, sebagai syuhada dalam membela agama Allah.

Namun tidak ada perbedaan antara keduanya dalam menerima pahala dan balasan dari Allah.


Allah menegaskan bahwa janji-Nya untuk memberikan pahala akan ditepati-Nya, bahkan telah ditetapkan-Nya sedemikian rupa dalam kitab Taurat, Injil, dan Alquran.
Kitab suci terakhir ini tidak akan dapat dihapuskan oleh siapapun juga, karena Allah telah menjamin keselamatan Alquran dari tangan-tangan jahil.


Selanjutnya Allah menegaskan bahwa tidak ada yang melebihi Allah dalam hal menepati janji, karena Dia Maha Kuasa untuk menepati janji-Nya, dan tidak pernah lupa ataupun ragu pada hamba-Nya.
Oleh sebab itu, Allah akan memberi kabar gembira yang pasti akan mereka peroleh dari jual beli harta dan jiwa mereka dengan Allah.


Pada akhir ayat ini Allah kembali memberikan penegasan bahwa keberuntungan yang akan mereka peroleh benar-benar suatu keberuntungan yang amat besar, tidak ada yang melebihinya.
Sedang keberuntungan yang telah mereka peroleh sebelumnya yang berupa kemenangan terhadap musuh-musuh Islam, serta kepemimpinan, kekuasaan dan kerajaan, hanyalah keberuntungan yang merupakan jalan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.

Tafsir QS. At Taubah (9) : 111. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Allah menegaskan janji-Nya kepada orang-orang Mukmin yang mengorbankan jiwa dan harta mereka di jalan-Nya, dengan cara menukar jiwa dan harta mereka itu dengan surga sebagai harga dari apa yang mereka korbankan itu.
Mereka berjihad di jalan Allah, sehingga dapat membunuh musuh-musuh Allah atau mati syahid di jalan-Nya.


Allah telah menegaskan kebenaran janji ini dalam Tawrat dan Injil, sebagaimana ditegaskan dalam Alquran.
Tidak ada seorang pun yang ketulusan dan ketepatan janjinya melebihi Allah.


Maka bergembiralah, wahai orang-orang Mukmin yang berjihad, dengan janji ini, karena kalian telah mengorbankan jiwa dan harta kalian yang fana dan menggantinya dengan surga yang kekal untuk itu.
Jual beli seperti ini adalah suatu keuntungan yang besar bagi kalian.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri mereka.
Sebagai pengganti itu, Allah memberikan surga untuk mereka.


Allah telah mempersiapkan (didalam surga itu) berbagai kenikmatan karena mereka telah menyerahkan seluruh jiwa dan harta mereka untuk berjihad di jalan Allah, memerangi musuh-musuh-Nya, menegakkan kalimat-Nya, dan memenangkan agama-Nya, kemudian mereka membunuh atau terbunuh.
Semua itu adalah janji Allah yang hak di dalam Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, dan di dalam Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa, dan di dalam Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.


Tiada seorang pun yang bisa lebih menepati janji melebihi Allah bagi orang yang memenuhi apa yang Allah janjikan.
Maka dari itu, tampakkanlah kegembiraan kalian (hai orang-orang mukmin) dengan jual beli yang kalian lakukan dengan Allah ini, dan dengan balasan yang telah dijanjikan Allah, yaitu surga dan keridhaan-Nya.


Jual beli ini adalah keberuntungan yang sangat besar.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka) lantaran mereka menginfakkannya di jalan ketaatan kepada-Nya, seperti untuk berjuang di jalan-Nya


(dengan memberikan surga untuk mereka.
Mereka berperang pada jalan Allah lalu mereka membunuh atau dibunuh) ayat ini merupakan kalimat baru yang menjadi penafsir bagi makna yang terkandung di dalam lafal fa yuqtaluuna wa yaqtuluuna, artinya sebagian dari mereka ada yang gugur dan sebagian yang lain meneruskan pertempurannya


(sebagai janji yang benar) lafal wa`dan dan haqqan keduanya berbentuk mashdar yang dinashabkan fi`ilnya masing-masing yang tidak disebutkan


(di dalam Taurat, Injil dan Alquran?) artinya tiada seorang pun yang lebih menepati janjinya selain dari Allah.


(Maka bergembiralah) dalam ayat ini terkandung pengertian iltifat/perpindahan pembicaraan dari gaib kepada mukhathab/dari orang ketiga kepada orang kedua


(dengan jual-beli yang telah kalian lakukan itu dan yang demikian itu) yaitu jual-beli itu


(adalah kemenangan yang besar) yang dapat mengantarkan kepada tujuan yang paling didambakan.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala, memberitahukan bahwa Dia membeli dari hamba-hamba-Nya yang beriman, diri dan harta benda mereka yang telah mereka korbankan di jalan Allah dengan surga.
Hal ini termasuk karunia dan kemurahan serta kebajikan-Nya kepada mereka.
Karena sesungguhnya Allah telah menerima apa yang telah dikorbankan oleh hamba-hamba-Nya yang taat kepada-Nya, lalu menukarnya dengan pahala yang ada di sisi-Nya dari karunia-Nya.
Al-Hasan Al-Basri dan Qatadah mengatakan,
"Mereka yang berjihad di jalan Allah, demi Allah, telah berjual beli kepada Allah, lalu Allah memahalkan harganya."

Syamr ibnu Atiyyah mengatakan,
"Tiada seorang muslim pun melainkan pada lehernya terkalungkan baiat kepada Allah yang harus ia tunaikan atau ia mati dalam keadaan tidak menunaikannya."
Kemudian Syamr ibnu Atiyyah membaca ayat ini.
Karena itulah maka dikatakan bahwa barang siapa yang berangkat di jalan Allah, berarti dia telah berbaiat kepada Allah.
Dengan kata lain, Dia menerima transaksinya dan akan memenuhi balasannya.

Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi dan lain-lainnya mengatakan bahwa Abdullah ibnu Rawwahah r.a. pernah berkata kepada Rasulullah ﷺ dalam malam ‘Aqabah,
"Berilah persyaratan bagi Tuhanmu dan bagi dirimu sesuka hatimu."
Maka Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Aku memberikan syarat bagi Tuhanku, hendaklah kalian menyembah-Nya dan janganlah kalian mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun.
Dan aku memberikan syarat bagi diriku, hendaklah kalian membelaku sebagaimana kalian membela diri dan harta benda kalian sendiri.
Mereka (para sahabat) bertanya,
"Apakah yang akan kami peroleh jika kami mengerjakan hal tersebut?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Surga."
Mereka berkata,
"Jual beli yang menguntungkan, kami tidak akan mundur dan tidak akan mengundurkan diri."
Lalu turunlah firman-Nya:

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri., hingga akhir ayat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.

Maksudnya, baik mereka terbunuh atau membunuh, atau keduanya mereka alami, maka sudah menjadi ketetapan bagi mereka beroleh Balasan surga karena itu dalam hadist Sahihain disebutkan:

Allah menjamin bagi orang yang berangkat berjihad di jalan-Nya, yang tidak sekali-kali ia berangkat melainkan untuk berjihad di jalan-Ku dan membenarkan rasulrasul-Ku, bahwa jika Allah mewafatkannya, maka Dia akan memasukkannya ke dalam surga atau mengembalikannya pulang ke tempat tinggalnya yang ia berangkat darinya seraya memperoleh pahala yang digondolnya atau ganimah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

(Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam kitab Taurat, Injil, dan Alquran.


Hal ini merupakan pengukuhan dari janji tersebut, dan sebagai berita bahwa Allah telah mencatat janji yang telah Dia ikrarkan kepada diri­Nya ini, lalu Dia menurunkannya kepada rasulrasul-Nya melalui kitabkitab-Nya yang besar, yaitu Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa, dan Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?

Karena sesungguhnya Dia tidak pernah mengingkari janji.
Ayat ini semakna dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala, lainnya yaitu:

Dan siapakah orang yang lebih benar perkataannya daripada Allah?
(QS. An-Nisa’ [4]: 87)

Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?
(QS. An-Nisa’ [4]: 122)

Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Maka bergembiralah dengan jual beli yang lelah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

Maksudnya, bergembiralah orang yang menjalani transaksi ini dan menunaikan janji ini, karena dia akan mendapat keberuntungan yang besar dan nikmat yang kekal.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah At Taubah (9) Ayat 111

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi bahwa ‘Abdullah bin Rawahah bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Apakah kewajiban-kewajiban terhadap Rabb dan diri tuan menurut kehendak tuan?”

Rasul menjawab:
“Aku telah menetapkan kewajiban terhadap Rabb-ku untuk beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya, sedang kewajiban-kewajiban terhadapku ialah agar kalian menjagaku sebagaimana kalian menjaga diri dan harta kalian.” Mereka berkata: “Apabila kami melaksanakan itu, apa bagian kami?” Beliau menjawab:
“Surga.” Mereka berkata: “Perdagangan yang sangat menguntungkan.
Kami tidak akan membatalkannya dan tidak akan minta dibatalkan.
Ayat ini (At-Taubah: 111) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang menegaskan bahwa Allah akan mengganti kerugian harta dan jiwa kaum Mukminin dengan surga.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah At Taubah (9) Ayat 111

QUR’AAN
قُرْءَان

Dari sudut bahasa, qur’aan adalah mashdar dari kata kerja qara’a yang berarti al maqru’ (yang dibaca), menurut bahasa Arab al maqru’ qur’anan dinamakan al maf’ul. Apabila ia dihubungkan dengan syara’ maka qur’aan menjadi Kalamullah.

Al Qur’an juga adalah ism ‘alm (nama yang diketahui) bagi kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad, sebagaimana lafaz Taurat.
Ia adalah ism ‘alm bagi kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa dan juga Injil adalah ism ‘alm bagi kitab yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa ini adalah pendapat Imam Syafi’i, Ibn Manzur dan Abi Hayyan.

Al Fayruz berkata,
"Dinamakan Al Qur’an karena ia menghimpun surah-surah dan menggabungkannya.

Ada juga yang mengatakan ia dinamakan Al Qur’an karena terhimpun di dalamnya kisah-kisah, perintah, larangan, janji, ancaman, atau karena ia penghimpun kitab terdahulu yang diturunkan oleh Allah, atau ia menghimpun di dalamnya seluruh ilmu-ilmu."

Lafaz qur’aan disebut 70 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 185;
An Nisaa‘ (4), ayat 82;
Al Maa’idah (5), ayat 101;
Al An’aam (6), ayat 19;
Al A’raaf (7), ayat 204;
At Taubah (9), ayat 111;
Yunus (10), ayat 15, 37, 61;
Yusuf (12), ayat 2, 3;
Ar Ra’d (13), ayat 31;
Al Hijr (15), ayat 1, 87, 91;
An Nahl (16), ayat 98;
Al Israa‘ (17), ayat 9, 41, 45, 46, 60, 78, 78, 82, 88, 89, 106;
Al Kahfi (18), ayat 54;
Tha Ha (20), ayat 2, 113, 114;
Al Furqaan (25), ayat 30, 32;
An Naml (27), ayat 1, 6, 76, 92;
Al Qashash (28), ayat 85;
Ar Rum (30), ayat 58;
Saba‘ (34), ayat 31;
Yaa Siin (36), ayat 2, 69;
Az Zumar (39), ayat 27, 28;
Fushshilat (41), ayat 3, 26, 44;
Asy Syuura (42), ayat 7;
Az Zukhruf (43), ayat 3, 31;
Al Ahqaf (46), ayat 29;
Muhammad (47), ayat 24;
Al Qamar (54), ayat 22, 32, 40;
Ar Rahmaan (55), ayat 2;
Al Waaqi’ah (56), ayat 77;
Al Hasyr (59), ayat 21;
Al Jinn (72), ayat 1;
Al Muzzammil (73), ayat 4, 20;
Al Qiyaamah (75), ayat 17, 18;
Al Insaan (76), ayat 23;
Al Insyiqaaq (84), ayat 21;
Al Buruuj (85), ayat 21.
Menurut Istilah, Al Qur’an ialah kalamullah yang diturunkan kepada Muhammad, melalui wahyu secara berangsur-angsur dalam bentuk ayat maupun surah selama 23 tahun kerasulan Nya.
Ia bermula dari Al Fatihah dan diakhiri dengan An Naas, dinukilkan secara tersusun (tawatur mutlaq) sebagai mukjizat dan bukti kebenaran risalah Islam serta mendapat pahala membacanya.

Wahyu Al Qur’an mula diturunkan pada tahun 610. Nabi Muhammad menerimanya ketika sedang bersendirian di gua Hira, pada pertengahan Jabal Nur (gunung cahaya) dalam bulan Ramadan.
Pada suatu malam, pada akhir bulan itu, malaikat Jibril datang kepadanya menyampaikan wahyu pertama, yaitu awal surah Al Alaq (91), ayat 1-5.
Penurunan Al Qur’an terbahagi kepada tiga tahap:

1. Al Qur’an turun ke lauhul mahfuz.
Buktinya Allah menyatakan yang bermakna, "Bahkan dialah Al Qur’an yang mulia, berada di lauh mahfuz".
(Al Buruuj (85), ayat 21).

2. Al Qur’an turun ke baytul ‘izzah di sama’ ad dunyaa.
Allah menyatakan yang bermakna, "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang penuh berkah."

Begitu juga dengan makna ayat Allah menyatakan, "Bulan Ramadan yang diturunkan di dalamnya Al Qur’an"."

Sesungguhnya Kami menurunkannya (Quran) pada malam Al qadr (laylatul qadr)"

Diriwayatkan oleh Al Hakim dengan perawinya dari Sa’id bin Jubair dari Ibn Abbas, beliau berkata,
"Al Qur’an mencakup zikir dan peringatan.
Maka ia diletakkan di baytul ‘izzah dari As samsa’ad dunya, lalu Jibril menyampaikannya kepada Nabi Muhammad"

Dilaporkan oleh Al Hakim dan Al Bayhaqi dan selain keduanya dari perawinya Mansur dari Sa’id bin Jubayr dari Ibn Abbas katanya, "Al Qur’an diturunkan sekaligus ke samaa’ ad dunya, dan dia berada di tempat bintang-bintang, lalu Allah menurunkan (dengan perantara Jibril) kepada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur"

3. Al Qur’an diturunkan dengan perantara Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, sebagaimana ayat Allah yang bermakna, "Dia turun bersama dengan Ar Ruh Al am in (fibril), ke dalam hatimu (wahai Muhammad), supaya engkau memberi peringatan."

Pembukuan Al Qur’an terjadi pada zaman Khalifah Abu Bakar atas pandangan Umar, disebabkan peperangan Al Yamamah pada tahun 12 H dan peperangan demi memerangi orang murtad yang dipimpin oleh Musaylamah Al Kadzdzab, yaitu peperangan Hamiyah Al Watis yang banyak mengorbankan para hafiz dan qurra’ dari kalangan sahabat pada tahun 633 M.
Tugas ini diserahkan kepada Zaid bin Tsabit karena beliau adalah salah seorang penghafal Al Qur’an dan penulis wahyu bagi Rasulullah.
Dalam penulisan ini Abu Bakar dan Umar meletakkan dua syarat ketat dan teliti, yaitu:

(1).
Ditulis apa yang ditulis di depan Rasulullah;
(2).
Ia dihafal di dalam dada para sahabat.

Tidak diterima apa yang ditulis melainkan terdapat dua saksi yang adil ia ditulis di depan Rasulullah.

Di zaman Khalifah Utsman bin Affan, kawasan pemerintahan Islam sudah meluas ke segenap penjuru negeri.
Maka setiap negeri belajar dan membaca qira’at dari sahabat yang tinggal di negeri itu.
Misalnya penduduk Syam menggunakan qira’at Abi bin Ka’ab, penduduk Kufah membaca dengan qira’at Abdullah bin Mas’ud dan sebagainya.
Terdapat perbedaan antara qira’at itu sehingga ianya menimbulkan perselisihan dan perdebatan dalam membaca Al Qur’an, bahkan sampai ke tahap sebahagian mereka mengkafirkan sebahagian yang lain.
Hal ini diketahui oleh Hudzaifah bin Al Yaman ketika pembukaan Armenia dan Azarbeijan, lalu ia mengadukannya kepada Khalifah Uthman, Dengan adanya perselisihan ini, beliau kuatir ia akan meluas.
Kemudian, beliau mengambil inisiatif menulis beberapa mushaf yang dikirimkan ke negeri-negeri dan menyuruh mereka membakar setiap mushaf yang ada serta tidak menggunakan selain mushaf yang dikirim.
Untuk menyempurnakan ide ini, beliau mengadakan kumpulan untuk menyeragamkan teks Al Qur’an itu yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit yang pernah menjadi juru tulis Nabi, bersama dengan Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Al ‘As dan Abd Ar Rahman bin Al Harits bin Hisyam.
Kemudian, Khalifah Utsman mengirimkan utusan kepada Hafsah binti Umar supaya diberikan kepadanya sebuah mushaf yang ada padanya, yaitu mushaf yang menghimpunkan Al Qur’an pada zaman Khalifah Abu Bakar dan menyuruh empat kumpulan penulis menulisnya.

Di dalam penulisan ini, kumpulan penulis yang terdiri dari empat sahabat tidak akan menulis di dalam mushaf kecuali ianya benar-benar Al Qur’an, diketahui ia benar-benar diturunkan pada akhir penurunannya (al ‘ardah al akhirah) dan yakin kebenarannya dari Nabi Muhammad" dengan "fas’aw ilaa dzikrillah".
Apabila mereka berselisih dalam penulisan itu, mereka kembali kepada bahasa Quraisy karena Al Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka sebagaimana yang dikatakan oleh Utsman dalam hadits sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari.

Setelah itu, beliau mengembalikan mushaf yang dipinjam dari Hafsah tadi dan mengirimkan beberapa mushaf yang ditulis itu ke seluruh negeri dan beliau memerintahkan supaya mushaf lain dibakar.
Pembukuan dan suntingan Al Qur’an adalah berdasarkan resensi rasmi yang terjadi pada tahun 650 M.

Al Qu’ran adalah sumber pertama bagi umat Islam.
Ia adalah rujukan pertama dari sudut hukum, pengajaran, penafsiran dan sebagainya, sumber selanjutnya adalah hadits atau sunnah.
Ia terdiri dari 114 surah, di mana setiap surah itu tersusun dari sejumlah ayat-ayat.

Keseluruhan Al Qur’an terbagi kepada tiga puluh juz.
Setiap juz terbagi menjadi dua hizb (bahagian) dan jenis pembagian ini biasanya disertai dengan tanda di tepi halaman muka surat mushaf Al Qur’an.

Terdapat lafaz qur’aan yang disandarkan kepada lafaz ”fajr" yaitu dalam surah Al Israa‘ (17), ayat 78.
Ibn Katsir menafsirkan lafaz qur’aanal fajr dengan shalat subuh.
Diriwayatkan Sa’id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad bersabda, "Kelebihan orang yang shalat berjemaah dari orang yang shalat sendirian adalah 25 derajat dan malaikat berkumpul semasa shalat fajar pada waktu malam dan siang."

At Tabari menafsirkannya, "Sesungguhnya apa yang engkau baca di dalam shalat fajar (shalat subuh) dari Al Qur’an akan menjadi saksi dan disaksikan oleh malaikat pada waktu malam dan siang, sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah, Abu Darda, Abu Ubaidah bin Abdullah."

Ibn Abbas, Mujahid, Ad Dahhak, Ibn Zaid berpendapat qur’aanal fajr bermakna shalat subuh.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 496-499

Unsur Pokok Surah At Taubah (التوبة‎‎)

Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan.

Dinamakan juga dengan "Baraah" yang berarti berlepas diri, yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh ‘Ali radhiyallahu ‘anhu pada musim musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

▪ Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman.
▪ Pembalasan atas amal amalan manusia hanya dari Allah.
▪ Segala sesuatu menurut sunnatullah.
▪ Perlindungan Allah bagi orang-orang yang beriman.
▪ Kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

▪ Kewajiban menafkahkan harta.
▪ Macam-macam harta dalam agama serta penggunaannya.
Jizyah.
▪ Perjanjian dan perdamaian.
▪ Kewajiban umat Islam terhadap Nabinya.
▪ Sebab-sebab orang Islam melakukan perang total.
▪ Beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad ﷺ dengan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
Perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
Perang Tabuk.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.

Audio

QS. At-Taubah (9) : 1-129 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 129 + Terjemahan Indonesia

QS. At-Taubah (9) : 1-129 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 129

Gambar Kutipan Ayat

Surah At Taubah ayat 111 - Gambar 1 Surah At Taubah ayat 111 - Gambar 2
Statistik QS. 9:111
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah At Taubah.

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, “Pengampunan”‎) adalah surah ke-9 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti “Pengampunan” karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara’ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah9
Nama SurahAt Taubah
Arabالتوبة‎‎
ArtiPengampunan
Nama lainAl-Bara’ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu113
JuzJuz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat129
Jumlah kata2506
Jumlah huruf11116
Surah sebelumnyaSurah Al-Anfal
Surah selanjutnyaSurah Yunus
Sending
User Review
4.3 (9 votes)
Tags:

9:111, 9 111, 9-111, Surah At Taubah 111, Tafsir surat AtTaubah 111, Quran At-Taubah 111, Surah At Taubah ayat 111

▪ belajar dari kesalahan ▪ At-Taubah/9: 111 ▪ QS 9:111 ▪ tafsir at taubah 111
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Ayat Lainnya

QS. Al Jinn (Jin) – surah 72 ayat 21 [QS. 72:21]

21. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk melanjutkan menyampaikan pesan Allah, Katakanlah wahai Nabi Muhammad, “Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu tanpa iz … 72:21, 72 21, 72-21, Surah Al Jinn 21, Tafsir surat AlJinn 21, Quran Al Jin 21, Aljin 21, Al-Jinn 21, Surah Al Jin ayat 21

QS. Thaa Haa (Ta Ha) – surah 20 ayat 122 [QS. 20:122]

122. Allah Maha Pengasih kepada makhluk-Nya, tidak terkecuali kepada Adam. Meski dia telah melakukan kesalahan karena terbujuk setan, namun kemudian Tuhannya tetap memilih dia sebagai khalifah. Ketika … 20:122, 20 122, 20-122, Surah Thaa Haa 122, Tafsir surat ThaaHaa 122, Quran Thoha 122, Thaha 122, Ta Ha 122, Surah Toha ayat 122

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Bu Nindi mempersiapkan pakaian bayi, karena bu Nindi tidak lama lagi akan melahirkan bayinya, perilaku bu Nindi termasuk meyakini ... Allah Subhanahu Wa Ta`ala.

Benar! Kurang tepat!

Pembukuan Alquran dilakukan pada masa khalifah ...

Benar! Kurang tepat!

Setiap bencana dan musibah yang menimpa manusia di bumi sudah tertulis dalam kitab ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Allah Subhanahu Wa Ta`ala tidak akan merubah nasib suatu kaum , sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya, arti ayat tersebut terdapat dalam Alquran surah ar-Rad ayat ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
'Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.'
--QS. Ar Ra'd [13] : 11

Salah satu contoh hikmah beriman kepada qada bagi siswa adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #21
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #21 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #21 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #21

Bu Nindi mempersiapkan pakaian bayi, karena bu Nindi tidak lama lagi akan melahirkan bayinya, perilaku bu Nindi termasuk meyakini …

Pendidikan Agama Islam #18

Arti al-Kaafirun adalah … orang musyrik orang-orang kafir orang yang tidak bisa baca tulis orang-orang munafik orang-orang kaffah Benar! Kurang

Pendidikan Agama Islam #4

Setelah Yakin, dalam surah Al-A’raf ayat 26, pakaian terbaik ada di mata Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah … Pakaian yang

Instagram