Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. At Taubah (Pengampunan) – surah 9 ayat 108 [QS. 9:108]

لَا تَقُمۡ فِیۡہِ اَبَدًا ؕ لَمَسۡجِدٌ اُسِّسَ عَلَی التَّقۡوٰی مِنۡ اَوَّلِ یَوۡمٍ اَحَقُّ اَنۡ تَقُوۡمَ فِیۡہِ ؕ فِیۡہِ رِجَالٌ یُّحِبُّوۡنَ اَنۡ یَّتَطَہَّرُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ یُحِبُّ الۡمُطَّہِّرِیۡنَ
Laa taqum fiihi abadan lamasjidun ussisa ‘alattaqwa min au-wali yaumin ahaqqu an taquuma fiihi fiihi rijaalun yuhibbuuna an yatathahharuu wallahu yuhibbul muth-thahhiriin(a);
Janganlah engkau melaksanakan salat dalam masjid itu selama-lamanya.
Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya.
Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri.
Allah menyukai orang-orang yang bersih.
―QS. At Taubah [9]: 108

Daftar isi

Do not stand (for prayer) within it – ever.
A mosque founded on righteousness from the first day is more worthy for you to stand in.
Within it are men who love to purify themselves;
and Allah loves those who purify themselves.
― Chapter 9. Surah At Taubah [verse 108]

لَا janganlah

(Do) not
تَقُمْ kamu berdiri

stand
فِيهِ didalamnya

in it
أَبَدًا selama-lamanya

ever.
لَّمَسْجِدٌ sungguh mesjid

A masjid
أُسِّسَ didirikan

founded
عَلَى atas (dasar)

on
ٱلتَّقْوَىٰ takwa

the righteousness
مِنْ dari/sejak

from
أَوَّلِ pertama/awal

(the) first
يَوْمٍ hari

day
أَحَقُّ lebih hak/patut

(is) more worthy
أَن bahwa

that
تَقُومَ kamu berdiri/sembahyang

you stand
فِيهِ didalamnya

in it.
فِيهِ didalamnya

Within it
رِجَالٌ orang laki-laki

(are) men
يُحِبُّونَ mereka senang/ingin

who love
أَن bahwa

to
يَتَطَهَّرُوا۟ mereka membersihkan diri

purify themselves,
وَٱللَّهُ dan Allah

and Allah
يُحِبُّ Dia menyukai

loves
ٱلْمُطَّهِّرِينَ orang-orang yang bersih

the ones who purify themselves.

Tafsir

Alquran

Surah At Taubah
9:108

Tafsir QS. At Taubah (9) : 108. Oleh Kementrian Agama RI


Karena adanya maksud-maksud jahat kaum munafik dengan mendirikan bangunan tersebut, maka Allah melarang Rasul-Nya selama-lamanya untuk salat di tempat itu, karena apabila Rasulullah salat di sana bersama mereka berarti beliau merestui mereka mendirikan bangunan itu.


Selanjutnya Allah menegaskan kepada Rasul-Nya, bahwa mesjid yang dibangun sejak semula atas dasar ketakwaan kepada Allah, adalah lebih baik untuk dijadikan tempat ibadah bersama kaumnya untuk mempersatukan kaum Muslimin semuanya dalam segala hal yang diridai-Nya, yaitu saling mengenal dan bersama-sama berbuat kebajikan dan ketakwaan.


Yang dimaksud dengan mesjid yang didirikan pertama kali atas dasar ketakwaan, yang disebutkan dalam ayat ini, adalah
"mesjid Quba"
atau
"mesjid Nabi"
yang ada di kota Madinah, sebab kedua mesjid itu yang dibangun oleh Nabi dan kaum Muslimin atas dasar ketakwaan.


Selanjutnya dalam ayat ini Allah menerangkan alasan, mengapa mesjid tersebut lebih utama dari mesjid lainnya yang sengaja didirikan bukan atas dasar ketakwaan, karena di mesjid tersebut terdapat orang-orang yang suka membersihkan dirinya dari segala dosa.

Artinya mereka meramaikan mesjid dengan mendirikan salat serta berzikir dan bertasbih kepada Allah.
Dengan ibadah-ibadah tersebut, mereka ingin mensucikan diri dari segala dosa yang melekat pada diri mereka, sebagaimana orang-orang yang mangkir dari peperangan kemudian mereka menyadari kesalahan mereka, lalu berusaha mensucikan diri dari dosa tersebut dengan cara bertobat, bersedekah, dan memperbanyak amal saleh lainnya.

Melakukan ibadah salat berarti mensucikan diri lahir dan batin karena untuk melakukan salat disyaratkan sucinya badan, pakaian dan tempat, serta hadirnya hati dan pikiran yang dihadapkan kepada Allah semata.


Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa Allah menyukai orang-orang yang sangat menjaga kebersihan jiwa dan jasmaninya, karena mereka menganggap bahwa kesempurnaan manusia terletak pada kesucian lahir batinnya.

Oleh sebab itu, mereka sangat membenci kekotoran lahiriyah, seperti kotoran pada badan, pakaian dan tempat, maupun kotoran batin yang timbul karena perbuatan maksiat terus menerus, serta budi pekerti yang buruk, misalnya riya dalam beramal, ataupun kikir dalam menyumbangkan harta untuk memperoleh keridaan Allah.
Kecintaan Allah pada orang-orang yang suka mensucikan diri, adalah salah satu dari sifat-sifat kesempurnaan-Nya, Dia suka kepada kebaikan, kesempurnaan, kesucian, dan kebenaran.

Sebaliknya, Dia benci kepada sifat-sifat yang berlawanan dengan sifat-sifat tersebut.

Tafsir QS. At Taubah (9) : 108. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Janganlah engkau, Muhammad, melakukan salat di masjid itu selamanya.
Sesungguhnya masjid yang didirikan untuk mencari keridaan Allah sejak pertama kalinya, seperti masjid Quba’, adalah masjid yang layak dijadikan tempat untuk melakukan syiar-syiar keagamaan.


Di dalam masjid itu terdapat orang-orang yang suka menyucikan jiwa dan raga mereka dengan melaksanakan ibadah yang benar.
Allah mencintai dan memberi pahala kepada orang-orang yang mendekatkan diri dengan menyucikan jiwa dan raga.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Janganlah engkau (wahai Nabi) shalat di masjid itu selamanya, karena masjid yang dibangun atas dasar ketakwaan sejak hari pertama (yaitu Masjid Quba) lebih patut untuk tempatmu shalat.
Di masjid ini, orang-orang senang berthaharah membersihkan diri dengan air dari najis dan kotoran, sebagaimana mereka bersuci dengan sikap waradan beristighfar dari setiap dosa dan maksiat.


Allah menyukai orang-orang yang bersuci.
Apabila Masjid Quba dibangun atas dasar ketakwaan sejak hari pertama didirikan, maka masjid Rasulullah juga lebih utama dan pantas untuk shalat.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Janganlah kamu berdiri) melakukan salat


(dalam mesjid itu selama-lamanya) kemudian Nabi ﷺ mengirimkan segolongan para sahabatnya guna merobohkan dan membakarnya.
Kemudian mereka menjadikan bekas mesjid itu sebagai tempat pembuangan bangkai.


(Sesungguhnya mesjid yang didirikan) dibangun dengan berlandaskan kepada pondasi


(takwa, sejak hari pertama) yaitu mesjid yang didirikan oleh Nabi ﷺ sewaktu pertama kali beliau menginjakkan kakinya di tempat hijrahnya itu, yang dimaksud adalah mesjid Quba.
Demikianlah menurut penjelasan yang telah dikemukakan oleh Imam Bukhari


(adalah lebih berhak) daripada mesjid dhirar itu


(kamu salat) untuk melakukan salat


(di dalamnya.
Di dalamnya ada orang-orang) kaum Ansar


(yang ingin membersihkan diri.
Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih) artinya, Allah akan memberikan pahala kepada mereka.
Lafal al-muththahhiriina asalnya ialah al-mutathahhiriina kemudian huruf ta diidgamkan kepada huruf tha yang asal, kemudian jadilah al-muththahhiriina.
Ibnu Khuzaimah di dalam kitab sahihnya telah meriwayatkan sebuah hadis melalui Uwaimir bin Saidah, bahwasanya pada suatu hari Nabi ﷺ mendatangi mereka


(para sahabat) di mesjid Quba.
Kemudian beliau bersabda,
"Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memuji kalian dengan baik atas pembersihan diri kalian sehubungan dengan kisah mesjid kalian ini


(Quba).
Maka cara pembersihan apakah yang sedang kalian lakukan sekarang ini?"
Mereka menjawab,
"Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui apa-apa melainkan kami mempunyai tetangga-tetangga Yahudi, mereka lalu membasuh dubur mereka setelah buang air besar, maka kami pun melakukan pembasuhan seperti apa yang mereka lakukan."
Menurut hadis yang lain, yang telah diriwayatkan oleh Imam Bazzar disebutkan bahwa para sahabat mengatakan,
"Akan tetapi kami memakai batu terlebih dahulu, kemudian baru kami memakai air."
Maka Nabi ﷺ menjawab,
"Itulah yang benar, maka peganglah cara ini oleh kalian."

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Janganlah kamu melakukan salat dalam masjid itu selama-lamanya.

Larangan ini ditujukan kepada Nabi ﷺ, sedangkan umatnya mengikut kepada beliau dalam hal tersebut, yakni dilarang melakukan salat di dalam Masjid Dirar itu untuk selama-lamanya.

Kemudian Allah menganjurkan Nabi ﷺ untuk melakukan salat di Masjid Quba, karena Masjid Quba sejak permulaan pembangunannya dilandasi dengan takwa, yaitu taat kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya, juga untuk mempersatukan kalimat umat mukmin serta menjadi benteng dan tempat berlindung bagi Islam dan para pemeluknya.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman:

Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu salat di dalamnya.

Konteks ayat ini ditujukan kepada Masjid Quba.
Karena itulah dalam hadis sahih dari Rasulullah ﷺ disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

Melakukan salat di dalam masjid Quba sama pahalanya dengan melakukan umrah.

Di dalam hadis sahih lainnya disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ sering mengunjungi Masjid Quba, baik dengan berjalan kaki ataupun ber­kendaraan.
Dalam hadis lainnya lagi disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ membangun dan meletakkan batu pertamanya begitu beliau tiba di tempatnya, dan tempat beristirahatnya adalah di rumah Bani Amr ibnu Auf.
Malaikat Jibrillah yang membantunya untuk meluruskan arah kiblat masjid tersebut.

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Ala, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah ibnu Hisyam, dari Yunus ibnul Hari’s, dari Ibrahim ibnu Abu Maimunah, dari AbuSaleh, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi ﷺ, bahwa firman-Nya berikut ini:
Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri.
(QS. At-Taubah [9]: 108)
berkenaan dengan ahli Quba.
Mereka selalu bersuci dengan air, maka diturunkan-Nyalah ayat ini mengenai mereka, yakni sebagai pujian kepada mereka.

Imam Turmuzi dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Yunus ibnul Haris, tetapi ia daif.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa bila ditinjau dari jalur ini, hadis ini berpredikat garib.

Imam Tabrani mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Ali Al-Umari, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Humaid Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Salamah ibnul Fadl, dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Al-A’masy, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala :
Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri.
(QS. At-Taubah [9]: 108)
Maka Rasulullah ﷺ mengirimkan utusan kepada Uwaim ibnu Sa’idah untuk menanyakan,
"Cara bersuci apakah yang membuat Allah memuji kalian?"
Maka Uwaim menjawab,
"Wahai Rasulullah, tidak sekali-kali seseorang dari kami —baik lelaki maupun wanita-— selesai dari buang airnya, melainkan ia membasuh kemaluannya atau pantatnya."
Maka Nabi ﷺ bersabda,
"Itulah yang dimaksudkan."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan Ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abu Uwais telah menceritakan kepada kami Syurahbil, dari Uwaim ibnu Sa’idah Al-Ansari, ia menceritakan hadis berikut, bahwa Nabi ﷺ datang kepada mereka di Masjid Quba, lalu bersabda:
"Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala, telah memuji kalian dengan pujian yang baik dalam bersuci dalam konteks kisah masjid kalian ini.
Maka cara bersuci bagaimanakah yang biasa kalian lakukan?"
Mereka menjawab,
"Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui sesuatu pun melainkan kami mempunyai tetangga dari kalangan orang-orang Yahudi.
Mereka biasa membasuh pantat mereka sesudah buang air, maka kami melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan mereka."

Ibnu Khuzaimah telah meriwayatkannya pula di dalam kitab Sahih-nya.

Hasyim telah meriwayatkan dari Abdul Humaid Al-Madani, dari Ibrahim ibnul Ma’la Al-Ansari, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada Uwaim ibnu Sa’idah,
"Apakah yang membuat Allah memuji kalian melalui firman-Nya:
‘Di dalamnya ada orang-orang yang suka membersihkan diri.’ (QS. At-Taubah [9]: 108), hingga akhir ayat.
Mereka menjawab,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami biasa membasuh dubur kami dengan air (sehabis buang air besar)."

Sa’d.
dari Ibrahim ibnu Muhammad, dari Syurahbil ibnu Sa’d yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Khuzaimah ibnu Sabit berkata bahwa firman-Nya berikut ini diturunkan:
Di dalamnya ada orang-orang yang suka membersihkan diri.
Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.
(QS. At-Taubah [9]: 108)
Mereka biasa membasuh dubur mereka sehabis buang air besar.

Hadis lain adalah, Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan:


bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Adam, telah menceritakan kepada kami Malik (yakni Ibnu Migwal), bahwa ia pernah mendengar Sayyar (yakni Abul Hakam) meriwayatkan dari Syahr ibnu Hausyab, dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Salam yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ tiba di Quba, lalu bersabda:
Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala, telah memuji kalian dalam hal bersuci dengan pujian yang baik, maka ceritakanlah kepadaku.
Yang dimaksud Nabi ﷺ adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala :
Di dalamnya ada orang-orang yang suka membersihkan diri.
Maka mereka menjawab,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menjumpainya telah tercatat di dalam kitab Taurat sebagai suatu kewajiban, bahwa bersuci sehabis buang air adalah memakai air."


Segolongan ulama Salaf menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah Masjid Quba demikianlah menurut riawayat Ali bin Abu Talhah dari Ibnu Abbas.
Diriwayatkan pula oleh Abdur Razzaq, dari Ma’rnar, dari Az-Zuhri, dari Urwah ibnuz Zubair.
Atiyyah Al-Aufi, Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, Asy-Sya’bi, dan Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan hal yang sama.
Al-Bagawi menukil pendapat ini dari Sa’id ibnu Jubair dan Qatadah.

Tetapi di dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa masjid Rasul yang ada di dalam kota Madinah adalah masjid yang dibangun dengan landasan takwa.

Pendapat ini benar pula, dan tidak ada pertentangan antara ayat dan makna hadis ini.
Karena apabila Masjid Quba telah didirikan dengan landasan takwa sejak permulaannya, maka masjid Rasul pun demikian pula, bahkan lebih utama.
Karena itulah Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan di dalam kitab Musnad-nya bahwa:

telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Amir Al-Aslami, dari Imran ibnu Abu Anas, dari Sahl ibnu Sa’d, dari Ubay ibnu Ka’b, bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:
Masjid yang didirikan atas dasar takwa ialah masjidku ini.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid.

Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Disebutkan bahwa:


telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Rabi’ah ibnu Usman At-Taimi, dari Imran ibnu Abu Anas, dari Sahl ibnu Sa’d As-Sa’idi yang mengatakan,
"Pada masa Rasulullah ﷺ pernah ada dua orang lelaki bersitegang mengenai masalah masjid yang didirikan atas dasar takwa.
Salah seorangnya mengatakan masjid Rasul, sedangkan yang lain mengatakan Masjid Quba.
Lalu keduanya menghadap Nabi ﷺ dan menanyakan hal tersebut.
Maka beliau ﷺ bersabda:
‘Dia adalah masjidku ini.’

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid.

Hadis lainnya, Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami Lais, dari Imran ibnu Abu Anas, dari Sa’id ibnu Abu Sa’id Al-Khudri yang menceritakan bahwa pernah ada dua orang lelaki bersitegang mengenai masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak permulaanny a.
Salah seorang darinya mengatakan Masjid Quba, sedangkan menurut yang lainnya masjid Rasulullah ﷺ Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Dia adalah masjidku ini.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid.

Jalur lain, Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Lais, telah menceritakan kepadaku Imran ibnu Abu Anas, dari Ibnu Abu Sa’id, dari ayahnya yang menceritakan bahwa pernah ada dua orang lelaki bersitegang mengenai masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak permulaannya.
Maka yang seorang mengatakan Masjid Quba, sedangkan yang lainnya mengatakan masjid Rasul ﷺ Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Dia adalah masjidku.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Imam Nasai, dari Qutaibah, dari Al-Lais.
Hadis ini dinilai sahih oleh Imam Turmuzi.
Imam Muslim telah meriwayatkannya pula, seperti yang akan disebutkan kemudian.

Jalur lain, Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Unais ibnu Abu Yahya, telah menceritakan kepadaku ayahku yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Sa’id Al-Khudri berkata,
"Pernah ada dua orang lelaki —salah seorang dari kalangan Bani Khudrah, dan yang lainnya dari kalangan Bani Amr ibnu Auf— berselisih mengenai mas’id an didirikan atas dasar takwa.
Orang yang dari kalangan Bani Khudrah mengatakan masjid Rasulullah ﷺ.
sedangkan yang dari Bani Amr mengatakan Masjid Quba.
Lalu keduanya menghadap kepada Rasulullah ﷺ dan menanyakan tentang hal tersebut.
Maka Rasulullah ﷺ menjawab:
‘Dia adalah masjid ini.’ ditujukan kepada masjid Rasulullah ﷺ di Madinah."
Dalam hal ini perawi mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Masjid Quba.

Jalur lain, Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Unais.
Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Humaid Al-Kharrat Al-Madani, bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Salamah ibnu Abdur Rahman ibnu Abu Sa’id.
Untuk itu ia berkata,
"Apakah yang pernah engkau dengar dari ayahmu sehubungan dengan masjid yang didirikan atas dasar takwa?"
Maka Abu Salamah menjawab seraya mengisahkan apa yang telah diceritakan oleh ayahnya, bahwa sesungguhnya ia datang menghadap Rasulullah ﷺ Ia masuk menemui Rasulullah ﷺ di dalam rumah salah seorang istrinya.
Ia bertanya,
"Wahai Rasulullah, di manakah masjid yang didirikan atas dasar takwa?"
Rasulullah ﷺ mengambil segenggam batu kerikil, lalu menjatuh­kannya ke tanah seraya bersabda:
Dia adalah masjid kalian ini.
Humaid Al-Kharrat Al-Madani mengatakan,
"Aku pernah mendengar ayahmu menceritakan hal itu."


Imam Muslim meriwayatkannya secara munfarid dengan lafaz yang semisal melalui Muhammad ibnu Hatim, dari Yahya ibnu Sa’id dengan sanad yang sama.
Ia telah meriwayat­kannya pula dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah dan lain-lainnya, dari Hatim ibnu Ismail, dari Humaid Al-Kharrat dengan sanad yang sama.

Sejumlah orang dari kalangan ulama Salaf dan Khalaf mengatakan bahwa masjid yang dimaksud adalah Masjid Nabawi.
Hal ini diriwayatkan dari Umar ibnul Khattab, putranya (yaitu Abdullah Ibnu Umar), Zaid ibnu Sabit, dan Sa’id ibnul Musayyab.
Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu mendirikan salat di dalamnya.
Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri.
Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.


Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa sunat melakukan salat di masjid-masjid kuno yang sejak permulaannya dibangun untuk beribadah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Disunatkan pula melakukan salat berjamaah dengan jamaah orang-orang saleh dan ahli ibadah yang mengamalkan ilmunya, selalu memelihara dalam menyempurnakan wudu, dan membersihkan dirinya dari segala macam kotoran.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, dari Syu’bah, dari Abdul Malik ibnu Umair, bahwa ia pernah mendengar Syabib (yakni Abu Ruh) menceritakan hadis berikut dari salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ, bahwa Rasulullah ﷺ pernah melakukan salat Subuh bersama mereka dan membaca surat Ar-Rum, tetapi beliau mengalami hambatan dalam bacaannya.
Setelah selesai, beliau ﷺ bersabda:
Sesungguhnya kami baru saja mengalami hambatan dalam membaca Al-Qur’an.
Sesungguhnya banyak kaum dari kalangan kalian yang salat bersama kami tanpa melakukan wudu dengan baik.
Maka barang siapa yang ikut salat bersama kami, hendaklah ia melakukan wudunya dengan baik.

Kemudian Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini melalui dua jalur lain dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Syabib Abu Rauh, dari Zul Kala’, bahwa ia salat bersama Nabi ﷺ, lalu ia menceritakan hal yang sama.

Hal ini menunjukkan bahwa menyempurnakan bersuci dapat memudahkan orang yang bersangkutan dalam menjalankan ibadah, membantunya untuk menyelesaikan ibadahnya dengan sempurna, dan membantunya untuk menyelesaikan kewajiban-kewajibannya dalam ibadah.

Abul Aliyah telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.
Sesungguhnya bersuci dengan memakai air adalah baik, tetapi mereka adalah orang-orang yang membersihkan dirinya dari dosa-dosa.
Al-A’masy mengatakan bahwa tobat adalah dari dosa-dosa, dan bersuci adalah dari kemusyrikan.

Telah disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan melalui berbagai jalur di dalam kitab-kitab Sunnah dan kitab-kitab lainnya, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada penduduk Quba:

"Sesungguhnya Allah telah memuji kalian dalam hal bersuci, maka apakah yang telah kalian perbuat?"
Mereka menjawab,
"Kami bersuci dengan memakai air."

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Syabib, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Abdul Aziz yang mengatakan bahwa ia telah menemukan hadis ini dalam kitab ayahnya, dari Az-Zuhri.
dari Ubaidillah ibnu Abdullah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ayat berikut diturunkan berkenaan dengan ahli Quba, yaitu firman-Nya:

Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri.
Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.

Maka Rasulullah ﷺ bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab,
"Sesungguhnya kami mengiringi batu dengan siraman air (dalam bersuci sehabis buang air)."
(Hadis riwayat Al-Bazzar).


Kemudian ia mengatakan bahwa hadis ini diketengahkan oleh Muhammad ibnu Abdul Aziz secara munfarid dari Az-Zuhri.
Tiada yang meriwayatkan hadis ini dari Muhammad selain anaknya.

Sengaja kami menyebutkan hadis ini dengan lafaz yang telah disebutkan di atas karena memang hal inilah yang termasyhur di kalangan ulama fiqih.
Dan hal ini tidak banyak diketahui oleh ulama hadis mutaakhkhirin atau oleh mereka semuanya.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah At Taubah (9) Ayat 108

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dari ‘Ali bin Abi Thalhah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Abu ‘Amir berkata kepada sebagian kaum Anshar yang sedang mendirikan masjid: “Teruskanlah mendirikan masjidmu serta siapkanlah kekuatan dan senjata perangmu sekuat tenagamu.
Aku akan berangkat menemui Kaisar Romawi dan kembali membawa tentara Romawi untuk mengusir Muhammad dan shahabat-shahabatnya.” Ketika masjid itu selesai dibangun, mereka datang menghadap Nabi ﷺ dan berkata: “Kami telah selesai mendirikan masjid.
Kami sangat mengharapkan agar tuan shalat di masjid kami itu.” Maka turunlah ayat ini (At-Taubah: 108) yang melarang Nabi ﷺ shalat di masjid yang dibangun untuk menghancurkan umat Islam.

Diriwayatkan oleh al-Wahidi yang bersumber dari Sa’d bin Abi Waqqash bahwa kaum munafikin mendirikan masjid sebagai tandingan Masjid Quba’.
Mereka berharap agar Abu ‘Amir ar-Rahib nantinya menjadi imam mereka di masjid itu apabila ia berkunjung kesana.
Setelah masjid itu selesai dibangun, mereka menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata: “Kami telah selesai mendirikan masjid.
Untuk itu kami mengharapkan agar tuan shalat di masjid kami.” Maka turunlah ayat ini (At-Taubah: 108) yang melarang Rasulullah shalat di Masjid Dlirar, yaitu masjid yang dibangun untuk menghancurkan umat Islam.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Abu Hurairah, bahwa turunnya ayat,…fiihi rijaaluy yuhibbuuna ay yatathahharuu wallaahu yuhibbul muththahhiriin…(..
di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri.
Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih) (At-Taubah: 108) berkenaan dengan ahli Masjid Quba’ yang suka bersuci (istinja’) dengan air.

Diriwayatkan oleh ‘Umar bin Syabbah, dalam menceritakan kejadian-kejadian di Madinah, dari al-Walid bin Abi Sandar al Aslami, dari Yahya bin Sahl al-Anshari, yang bersumber dari Sahl al-anshari, bahwa ayat ini (At-Taubah: 108) turun berkenaan dengan ahli Quba’ yang suka bersuci (istinja’) dengan air.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Atha’, bahwa orang-orang Quba’ yang berhadats kecil selalu berwudlu dengan air.
Maka turunlah ayat ini (At-Taubah: 108) berkenaan dengan orang-orang yang dicintai Allah karena kesungguhan mereka dalam bersuci.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah At Taubah (التوبة‎‎)

Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan.

Dinamakan juga dengan "Baraah" yang berarti berlepas diri, yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh ‘Ali radhiyallahu ‘anhu pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

▪ Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman.
▪ Pembalasan atas amal amalan manusia hanya dari Allah.
▪ Segala sesuatu menurut sunnatullah.
▪ Perlindungan Allah bagi orang-orang yang beriman.
▪ Kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

▪ Kewajiban menafkahkan harta.
▪ Macam-macam harta dalam agama serta penggunaannya.
▪ Jizyah.
▪ Perjanjian dan perdamaian.
▪ Kewajiban umat Islam terhadap Nabinya.
▪ Sebab-sebab orang Islam melakukan perang total.
▪ Beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

▪ Nabi Muhammad ﷺ dengan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
▪ Perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
▪ Perang Tabuk.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.

Audio

QS. At-Taubah (9) : 1-129 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 129 + Terjemahan Indonesia



QS. At-Taubah (9) : 1-129 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 129

Gambar Kutipan Ayat

Surah At Taubah ayat 108 - Gambar 1 Surah At Taubah ayat 108 - Gambar 2
Statistik QS. 9:108
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah At Taubah.

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, “Pengampunan”‎) adalah surah ke-9 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti “Pengampunan” karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara’ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah 9
Nama Surah At Taubah
Arab التوبة‎‎
Arti Pengampunan
Nama lain Al-Bara’ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 113
Juz Juz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 129
Jumlah kata 2506
Jumlah huruf 11116
Surah sebelumnya Surah Al-Anfal
Surah selanjutnya Surah Yunus
Sending
User Review
4.8 (20 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

9:108, 9 108, 9-108, Surah At Taubah 108, Tafsir surat AtTaubah 108, Quran At-Taubah 108, Surah At Taubah ayat 108

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah At Taubah

۞ QS. 9:1 • Membuat perjanjian dengan orang musyrik • Allah bebas dari orang musyrikRasul bebas dari kemusyrikan dan orang musyrik

۞ QS. 9:2 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 9:3 • Tidak berkumpul dua agama di semenanjung Arab • Azab orang kafir • Allah bebas dari orang musyrikRasul bebas dari kemusyrikan dan orang musyrik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 9:4 • Tidak berkumpul dua agama di semenanjung Arab • Membuat perjanjian dengan orang musyrik

۞ QS. 9:5 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Tidak berkumpul dua agama di semenanjung ArabShalat rukun Islam

۞ QS. 9:6 • Tidak berkumpul dua agama di semenanjung Arab • Mengabulkan permohonan orang musyrik jika minta perlindungan

۞ QS. 9:7 • Tidak berkumpul dua agama di semenanjung Arab • Membuat perjanjian dengan orang musyrik

۞ QS. 9:8 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:9 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Berjual beli dengan Allah

۞ QS. 9:11 Islam menghapus dosa masa lalu • Shalat rukun IslamZakat rukun Islam • Mengakui kewajiban shalat dan zakat berarti menjaga jiwa •

۞ QS. 9:12 • Membuat perjanjian dengan orang musyrik

۞ QS. 9:14 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Azab orang kafir

۞ QS. 9:15 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:16 Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 9:17 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia • Penghapus pahala kebaikan

۞ QS. 9:18 Tauhid Uluhiyyah • Kewajiban beriman pada hari akhir • Sifat-sifat orang mukmin

۞ QS. 9:19 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Allah menggerakkan hati manusia • Kebodohan orang kafir • Perbedaan derajat manusia sesuai dengan amalnya • Keutamaan iman

۞ QS. 9:20 • Pahala iman • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Perbedaan derajat manusia sesuai dengan amalnya • Keutamaan iman • Perbedaan tingkat amal saleh

۞ QS. 9:21 Ar Rabb (Tuhan) • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga •

۞ QS. 9:22 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 9:23 Hukum memohon bantuan orang musyrik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 9:24 • Macam-macam fitnah • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 9:25 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 9:26 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Allah memperkokoh orang mukmin • Keikutsertaan malaikat dalam peperangan • Azab orang kafir

۞ QS. 9:27 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 9:28 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Tidak berkumpul dua agama di semenanjung Arab

۞ QS. 9:29 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat • Bersikap keras terhadap orang kafir

۞ QS. 9:30 • Mendustai Allah

۞ QS. 9:31 Tauhid Uluhiyyah • Mendustai Allah • Mensucikan Allah dari segala sekutu • Al Wahid (Maha Esa) • Islam agama para nabi

۞ QS. 9:32 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 9:33 Hikmah penurunan kitab-kitab samawiHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 9:35 • Nama-nama neraka • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 9:37 • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 9:39 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Dosa-dosa besar

۞ QS. 9:40 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Allah memperkokoh orang mukminAl Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 9:42 • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:44 Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:45 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:46 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:47 Al ‘Alim (Maha megetahui) • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 9:48 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 9:49 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:50 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 9:51 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Al Maula (Maha Penolong) • Segala sesuatu ada takdirnya • Kebaikan pada pilihan Allah •

۞ QS. 9:52 • Siksa orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 9:53 • Perbuatan orang kafir sia-sia • Penghapus pahala kebaikan

۞ QS. 9:54 • Perbuatan orang kafir sia-sia • Sifat orang munafik • Penghapus pahala kebaikan

۞ QS. 9:55 Sifat Iradah (berkeinginan) • Macam-macam fitnah • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:56 • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik

۞ QS. 9:57 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:58 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:59 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:60 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:61 • Sikap orang munafik terhadap Islam • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 9:62 • Kewajiban patuh kepada Rasul • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:63 • Nama-nama neraka • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 9:64 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:65 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 9:66 • Siksa orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 9:67 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 9:68 • Nama-nama neraka • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:69 • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:70 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 9:71 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 9:72 • Pahala iman • Nama-nama surga • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 9:73 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Bersikap keras terhadap orang kafir • Azab orang kafir • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:74 • Siksa orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 9:75 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:76 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 9:77 • Sifat orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 9:78 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Allamul Ghuyub (Maha Mengetahui alam gaib) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 9:79 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 9:80 • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah • Dosa terbesar

۞ QS. 9:81 • Nama-nama neraka • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:82 • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 9:83 • Sifat orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik

۞ QS. 9:84 Sholat jenazah orang munafik • Siksa orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik

۞ QS. 9:85 Sifat Iradah (berkeinginan) • Macam-macam fitnah • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:86 • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:87 • Allah menggerakkan hati manusia • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:88 • Pahala iman • Keutamaan iman

۞ QS. 9:89 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 9:90 • Azab orang kafir • Sifat orang munafik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 9:91 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 9:92 • Toleransi Islam

۞ QS. 9:93 • Allah menggerakkan hati manusia • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:94 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 9:95 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 9:96 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 9:97 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:98 Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Perbuatan dan niat

۞ QS. 9:99 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 9:100 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 9:101 • Keluasan ilmu Allah • Siksa kubur • Siksaan ahli neraka dilipatgandakan • Siksa orang munafik • Orang munafik dan siksa kubur

۞ QS. 9:102 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Pelebur dosa besar •

۞ QS. 9:103 Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:104 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 9:105 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Kebenaran hari penghimpunan • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 9:106 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:107 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 9:109 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Allah menggerakkan hati manusia • Siksa orang munafikHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 9:110 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 9:111 • Allah menepati janji • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Berjual beli dengan Allah • Perbuatan yang menghalangi api neraka

۞ QS. 9:112 Shalat rukun IslamPuasa rukun Islam • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 9:113 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Siksa orang kafir

۞ QS. 9:115 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 9:116 • Segala sesuatu milik Allah • Kekuasaan Allah • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong)

۞ QS. 9:117 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Ra’uf (Maha Kasih) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Allah menggerakkan hati manusia •

۞ QS. 9:118 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 9:120 • Balasan dan pahala dari Allah • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 9:121 • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Balasan dan pahala dari Allah • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 9:123 • Bersikap keras terhadap orang kafir

۞ QS. 9:124 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Bertambah dan berkurangnya iman

۞ QS. 9:125 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 9:126 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Sifat orang munafik

۞ QS. 9:127 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Allah menggerakkan hati manusia • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 9:129 Tauhid RububiyyahTauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan)

Ayat Pilihan

Pada hari yang amat sulit & orang kafir diseru sujud lalu mereka tak mampu, pandangan mereka kabur dipenuhi kehinaan.
Sesungguhnya dulu ketika di dunia mereka pernah diseru bersujud, tapi mereka menolak padahal mereka mampu.
QS. Al-Qalam [68]: 42

Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan,
niscaya Allah mengetahuinya.
Berbekallah,
dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa & bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal
QS. Al-Baqarah [2]: 197

Sifat baik tak sama dengan sifat buruk. Balaslah perlakuan tidak baik yang datang dari pihak lawan dengan perlakuaan yang lebih baik.
Perlakuan seperti itu akan membuat orang yang bermusuhan denganmu seolah-olah menjadi seorang teman yang tulus
QS. Fussilat [41]: 34

Hai manusia,
apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.
Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu & menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang,
QS. Al-Infitar [82]: 6-7

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

أَلَمْ dalam surah Al-Insyirah berarti ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

a lam nasyrah laka sadrak

''Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?''
--QS. Al-Insyirah [94] : 1

Surah Al-Insyirah turun sesudah surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Insyirah adalah surah ke-94 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Ad-Duha.

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ

Ayat diatas terdapat dalam Alquran surah Al-Insyirah ayat ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ

wa wada'na 'angka wizrak

''dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,''
--QS. Al-Insyirah [94] : 2

+

Array

Surah Al-Insyirah terdiri dari ... ayat.

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Insyirah adalah surah ke-94 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Ad-Duha.

Surah Al-Insyirah diawali dengan lafal ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

a lam nasyraḥ laka ṣadrak

'Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?'
--QS. Al-Insyirah [94] : 1

Pendidikan Agama Islam #25
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #25 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #25 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #10

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di … Wahyu pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkandung dalam surah … Sejak wahyu di Surah Al Muddasir : 1-7, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai berkhotbah. Awalnya nabi melakukan dakwah kepada … Khotbah Nabi Muhammad saat masih di Mekah, difokuskan langsung pada esensi-esensi utama, yaitu … … Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di kota Mekah kurang lebih selama …

Pendidikan Agama Islam #25

Surah Al-Insyirah terdiri dari … ayat.Surah Al-Insyirah diawali dengan lafal … أَلَمْ dalam surah Al-Insyirah berarti …وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ Ayat diatas terdapat dalam Alquran surah Al-Insyirah ayat …Surah Al-Insyirah turun sesudah surah …

Pendidikan Agama Islam #21

Pembukuan Alquran dilakukan pada masa khalifah … Setiap bencana dan musibah yang menimpa manusia di bumi sudah tertulis dalam kitab … Bu Nindi mempersiapkan pakaian bayi, karena bu Nindi tidak lama lagi akan melahirkan bayinya, perilaku bu Nindi termasuk meyakini … Allah Subhanahu Wa Ta`ala.Allah Subhanahu Wa Ta`ala tidak akan merubah nasib suatu kaum , sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya, arti ayat tersebut terdapat dalam Alquran surah ar-Rad ayat … Salah satu contoh hikmah beriman kepada qada bagi siswa adalah …

Kamus

Syu’aib `alaihis salam

Siapa itu Syu’aib `alaihis salam? Syu’aib (bahasa Arab: شعيب‎; Shuʕayb, Shuʕaib, Shuaib) (sekitar 1600 SM – 1500 SM) adalah seorang nabi yang diutus kepada kaum Madyan dan Aikah ...

ratib

Apa itu ratib? ra.tib puji-pujian atau doa kepada Tuhan yang diucapkan berulang-ulang, seperti lailahaillallah, Allahu akbar; zikir … •

Bulan Syawal

Apa itu Bulan Syawal? Bulan Syawal memiliki arti kebahagiaan. Bulan yang spesial ini terdiri dari 29 hari. Bulan ini mendapat arti kebahagiaan karena merupakan bulan yang penuh berkah. Pada tanggal 1 ...