Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

At Taubah

At Taubah (Pengampunan) surah 9 ayat 101


وَ مِمَّنۡ حَوۡلَکُمۡ مِّنَ الۡاَعۡرَابِ مُنٰفِقُوۡنَ ؕۛ وَ مِنۡ اَہۡلِ الۡمَدِیۡنَۃِ ۟ۛؔ مَرَدُوۡا عَلَی النِّفَاقِ ۟ لَا تَعۡلَمُہُمۡ ؕ نَحۡنُ نَعۡلَمُہُمۡ ؕ سَنُعَذِّبُہُمۡ مَّرَّتَیۡنِ ثُمَّ یُرَدُّوۡنَ اِلٰی عَذَابٍ عَظِیۡمٍ
Wamimman haulakum minal a’raabi munaafiquuna wamin ahlil madiinati maraduu ‘alannifaaqi laa ta’lamuhum nahnu na’lamuhum sanu’adz-dzibuhum marrataini tsumma yuradduuna ila ‘adzaabin ‘azhiimin;

Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik, dan (juga) di antara penduduk Madinah.
Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya.
Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka.
Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.
―QS. 9:101
Topik ▪ Mengingat kematian ▪ Cobaan kubur ▪ Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka
9:101, 9 101, 9-101, At Taubah 101, AtTaubah 101, At-Taubah 101
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Taubah (9) : 101. Oleh Kementrian Agama RI

Setelah menyebutkan hal-ihwal ketiga macam golongan orang-orang mukmin yang utama, yakni sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan hal-ihwal orang-orang munafik, baik dari kalangan Badui maupun dari kalangan mereka yang bertempat tinggal di kota Madinah sendiri, sehingga terlihatlah dua hal yang sangat berlawanan.
Seakan-akan Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian dari orang-orang Badui yang berdiam di sekitar Madinah itu adalah orang-orang yang sangat munafik.
Kemunafikan dan kejahatan mereka amat keterlaluan.
Demikian pula, sebagian dari penduduk kota Madinah ini pun ada pula yang munafik.
Sebab itu berhati-hatilah kamu terhadap mereka."

Menurut keterangan Al-Bagawi, yang dimaksud dengan "kaum munafik Badui yang tinggal di sekitar kota Madinah" itu ialah mereka yang berasal dari Bani Muzainah, Bani Juhainah, Bani Asyja', Bani Aslam dan Bani Gifar.
Sedang yang dimaksudkan dengan "kaum munafik di kalangan penduduk kota Madinah sendiri" ialah orang-orang munafik yang berasal dari Bani Aus dan Khazraj.
Mereka ini sangat keterlaluan, dan sangat pandai menyembunyikan kemunafikan itu, sehingga sulit untuk diketahui oleh Rasulullah dan kaum Muslimin umumnya.
Mereka ini tidak dapat diharapkan untuk kembali kepada keimanan yang sesungguhnya.
Namun demikian, Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa mengetahui mereka ini, dan Dia akan menimpakan azab kepada mereka dua kali, yaitu kesengsaraan dan penderitaan batin di dunia ini serta pedihnya kematian.
Sesudah itu, di akhirat mereka akan dilemparkan ke dalam azab yang dahsyat dalam neraka Jahanam pada bahagian yang paling bawah.

Dapat disimpulkan, bahwa kaum munafik itu ada dua macam: Pertama ialah orang-orang yang dapat diketahui kemunafikan mereka dari sikap, perbuatan dan ucapan-ucapan mereka.
Kedua ialah mereka yang sangat pandai dalam menyembunyikan kemunafikan itu, sehingga sukar untuk diketahui.

Dan dua macam golongan munafik itu selalu ada sepanjang masa, apalagi kemunafikan dalam bidang politik.
Mereka ini rela menjadi kaki tangan bangsa asing untuk membinasakan bangsa, negara dan agama mereka sendiri.
Hal ini memerlukan kewaspadaan kita setiap saat.
Mereka ini sering berpura-pura sebagai pahlawan pembela agama Islam, akan tetapi mereka senantiasa mencari kesempatan untuk menghancurkan agama dan umatnya dari dalam dengan menggunakan tipu muslihat yang beraneka ragam ca

At Taubah (9) ayat 101 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy At Taubah (9) ayat 101 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi At Taubah (9) ayat 101 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Di antara orang-orang Arab Badui yang berada di sekitar Madinah, terdapat orang-orang yang bersifat munafik dan menyembunyikan kekufuran.
Dan di antara penduduk Madinah terdapat suatu kaum yang terbiasa bersikap munafik.
Begitu terbiasanya, mereka pun sangat lihai melakukan hal itu hingga tidak diketahui oleh orang lain.
Sampai-sampai engkau pun, Muhammad, tidak dapat melihat dan mengetahui hal itu.
Tetapi Allah mengetahui hakikat diri mereka.
Dia akan menyiksa mereka di dunia dua kali.
Pertama, dengan memberi kemenangan kepada kalian melawan mereka, sesuatu yang membangkitkan amarah mereka dan, kedua, dengan menampakkan keburukan dan membongkar kemunafikan mereka.
Kemudian, di akhirat kelak, mereka akan dikembalikan kepada azab neraka dan siksanya yang sangat keras.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Di antara orang-orang yang di sekeliling kalian) hai penduduk Madinah (dari kalangan orang-orang Arab badui ada orang-orang munafik) seperti orang-orang kabilah Aslam, kabilah Asyja` dan kabilah Ghiffar (dan juga di antara penduduk Madinah) ada orang-orang munafik pula.
(Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya) artinya kemunafikan mereka telah mendalam dan sudah mengakar di hati mereka.
(Kamu tidak mengetahui mereka) hai Muhammad (tetapi Kamilah yang mengetahui mereka.
Nanti mereka akan Kami siksa dua kali) dengan terungkapnya kemunafikan mereka, atau dibunuh di dunia dan disiksa di alam kubur (kemudian mereka akan dikembalikan) di akhirat nanti (kepada azab yang besar) yaitu siksa neraka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan di antara kaum Badui yang tinggal di sekeliling Madinah, juga di antara orang Madinah itu ada orang munafik.
Mereka tetap dan bahkan semakin bertambah dan keterlaluan dalam kemunafikannya.
Mereka menyembunyikan kemunafikan itu dari kamu (wahai Rasul), tetapi Kami mengetahuinya dan Kami akan menyiksa mereka dua kali; diperangi, ditawan dan dibuka kejelekannya di dunia.
Di akhirat, mereka akan mendapat siksa kubur setelah mati, kemudian pada Hari Kiamat mereka akan dikembalikan pada siksa yang sangat pedih di Neraka Jahanam.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
memberitahukan kepada Rasul-Nya bahwa di antara kabilah-kabilah Arab yang tinggal di sekitar Madinah terdapat orang-orang munafik, di kalangan penduduk Madinah pun terdapat orang-orang munafik.

Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya.

Maksudnya, terbiasa dengan kemunafikannya dan terus-menerus melakukannya.
Dikatakan syaitainu marid atau marid, dikatakan tamarrada fulanun 'Alallah, si Fulan telah membangkang dan angkuh terhadap Allah.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka.
Kami yang mengetahui mereka.

Hal ini tidaklah bertentangan dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang mengata­kan:

Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya.
Dan kamu benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka.
(Muhammad:30)

Karena apa yang disebutkan oleh ayat ini termasuk ke dalam pengertian mengenalkan tanda-tanda yang ada di dalam diri orang-orang munafik itu melalui sifat-sifat yang biasa mereka lakukan, sehingga mereka dapat dikenal melaluinya.
Bukan berarti Nabi ﷺ mengetahui secara persis semua orang munafik yang ada padanya.
Dan Nabi ﷺ mengetahui bahwa di kalangan sebagian orang-orang yang bergaul dengannya dari kalangan penduduk Madinah terdapat orang-orang munafik, sekalipun orang-orang itu melihat Nabi ﷺ pada setiap pagi dan petangnya.

Hal ini diakui kebenarannya melalui apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnad-nya.
Ia mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari An-Nu'man ibnu Salim, dari seorang lelaki, dari Jubair ibnu Mut'im r.a.
yang telah mengatakan bahwa ia pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka menduga bahwa tidak ada pahala bagi kami di Mekah." Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya: Sungguh pahala kalian akan datang kepada kalian, sekalipun kalian berada di dalam liang musang.
Jubair ibnu Mut'im mendengarkan sabda Rasulullah ﷺ dengan penuh perhatian, dan Rasul ﷺ bersabda, "Sesungguhnya di kalangan sahabat-sahabatku terdapat orang-orang munafik."

Dengan kata lain.
Nabi ﷺ telah membuka sebagian kedok orang-orang munafik yang suka mengisukan kata-kata yang tidak benar.
Di antara mereka yang mengeluarkan kata-kata tersebut adalah orang itu yang perkataannya terdengar oleh Jubair ibnu Mut'im.

Dalam tafsir firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang mengatakan:

dan mereka mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya.
(At Taubah:74)

Disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ memberitahukan kepada Huzaifah ibnul Yaman tentang empat belas atau lima belas orang munafik secara pribadi.
Hal ini merupakan suatu kekhususan yang tidak memberikan pengertian bahwa Nabi ﷺ telah mengetahui semua nama dan orang-orangnya secara keseluruhan.

Al-Hafiz ibnu Asakir di dalam biografi Abu Umar Al-Bairuti telah meriwayatkan melalui jalur Hisyam ibnu Ammar, bahwa:

telah mencerita­kan kepada kami Sadaqah ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Ibnu Jabir, telah menceritakan kepadaku seorang syekh di Beirat yang dikenal dengan nama julukan Abu Umar —yang menurut dugaan perawi dia telah mengatakan bahwa telah diceritakan kepadanya melalui Abu Darda— bahwa seorang lelaki yang bernama Harmalah datang menghadap Nabi ﷺ, lalu ia berkata, "Iman terletak di sini —seraya berisyarat ke arah lisannya— dan nifaq terletak di sini —seraya berisyarat dengan tangannya ke arah hatinya—, dan ia tidak ingat kepada Allah kecuali hanya sedikit." Maka Rasulullah ﷺ berdoa: Ya Allah, jadikanlah baginya lisan yang selalu berzikir, hati yang selalu bersyukur, dan berilah dia rezeki cinta kepadaku dan cinta kepada orang yang mencintaiku, serta jadikanlah urusannya kepada kebaikan.
Harmalah berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai banyak teman dari kalangan orang-orang munafik.
Dahulu saya adalah pemimpin mereka, bolehkah saya hadapkan mereka kepadamu?"
Rasulullah ﷺ bersabda: Barang siapa yang datang kepada kami, maka kami akan memohonkan ampun baginya, dan barang siapa yang tetap pendiriannya pada kemunafikannya, maka Allah lebih utama terhadapnya, dan jangan sekali-kali kamu menyingkap rahasia pribadi seorang pun.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Qatadah sehubungan dengan ayat ini: Qatadah pernah mengatakan bahwa apakah gerangan yang telah dilakukan oleh banyak kaum, mereka memaksakan dirinya untuk mengetahui hal ikhwal orang lain, dengan mengatakan bahwa si Fulan di surga dan si Anu di neraka.
Tetapi jika engkau tanyakan kepada seseorang di antara mereka tentang dirinya, ia pasti menjawab, "Tidak tahu." Demi umurku, engkau dengan bagianmu semestinya lebih engkau ketahui daripada bagian orang lain.
Sesungguhnya engkau (kalau demikian) berarti telah memaksakan dirimu untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dibebankan oleh seorang nabi pun sebelummu.
Nabi Allah —Nuh 'alaihis salam— telah berkata, sebagai­mana yang disitir oleh firman-Nya:

Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan?
(Asy -Syu'ara: 112)

Sedangkan Nabi Syu'aib 'alaihis salam mengatakan (yang disitir oleh firman-Nya):

Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagi kalian jika kalian orang-orang yang beriman.
Dan aku bukanlah seorang penjaga atas diri kalian.
(Huud:86)

Dan Allah subhanahu wa ta'ala.
telah berfirman kepada Nabi-Nya:

Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, Kami yang mengetahui mereka.

As-Saddi telah meriwayatkan dari Abu Malik, dari Ibnu Abbas sehu­bungan dengan ayat ini, bahwa Rasulullah ﷺ berdiri mengemukakan khotbahnya pada hari Jumat.
Beliau ﷺ antara lain bersabda: Keluarlah engkau, hai Fulan, karena sesungguhnya engkau adalah orang munafik! Dan keluarlah engkau, hai Anu, karena sesungguhnya engkau adalah orang munafik! Maka dikeluarkanlah sebagian dari mereka yang telah dibuka kedoknya dari dalam masjid.
Ketika mereka sedang ke luar, Umar r.a.
datang.
Maka Umar bersembunyi dari mereka karena malu tidak menghadiri salat Jumat.
Umar menduga bahwa orang-orang telah bubar dari salat Jumatnya.
Sebaliknya, mereka yang keluar pun bersembunyi dari Umar.
Mereka menduga bahwa Umar telah mengetahui perkara mereka.
Akhirnya Umar masuk ke dalam masjid, dan ternyata ia menjumpai orang-orang belum salat Jumat.
Lalu ada seorang lelaki dari kalangan kaum muslim berkata, "Bergembiralah, hai Umar.
Sesungguhnya Allah telah mempermalukan orang-orang munafik pada hari ini."

Ibnu Abbas mengatakan bahwa hal tersebut merupakan azab pertama, yaitu ketika mereka dikeluarkan dari dalam masjid, sedangkan azab yang kedua ialah siksa kubur.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh As-Sauri, dari As-Saddi, dari Abu Malik.

Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Nanti mereka akan Kami siksa dua kali.
Yakni dibunuh dan ditawan.
Dalam riwayat lain disebutkan dengan kelaparan dan siksa kubur.

...kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.

Menurut Ibnu Juraij adalah azab dunia dan azab kubur, kemudian mereka dikembalikan kepada azab yang besar, yaitu neraka.
Menurut Al-Hasan Al-Basri adalah azab di dunia dan azab kubur.

Abdur Rahman ibnu Zaid mengatakan, "Adapun azab di dunia, maka dalam bentuk harta benda dan anak-anak." Lalu Abdur Rahman ibnu Zaid membacakan firman-Nya:

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu.
Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia.
(At Taubah:55)

Bagi mereka musibah-musibah tersebut akan mengakibatkan azab, sedangkan bagi orang mukmin akan menjadi pahala, dan azab di akhirat bagi mereka adalah di dalam neraka.

...kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar

Yang dimaksud ialah dimasukkan ke dalam neraka.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Nanti mereka akan Kami siksa dua kali.
Menurut berita yang sampai kepadanya, makna yang dimaksud ialah mereka melihat kemajuan Islam yang sangat pesat yang di luar dugaan mereka, sehingga mengakibatkan mereka mendongkol dan terbakar oleh dendamnya.
Kemudian azab yang akan mereka alami di dalam kubur bila mereka telah memasukinya, lalu azab yang besar di dalam neraka yang menjadi tempat tinggal mereka kelak di hari kemudian, mereka kekal di dalamnya.

Sa'id telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya:

Nanti mereka akan Kami siksa dua kali.
Yaitu azab di dunia dan azab di alam kubur.

...kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.
Telah diriwayatkan kepada kami bahwa Nabi ﷺ telah membisikkan kepada Huzaifah perihal dua belas orang lelaki dari kalangan orang-orang munafik.
Lalu Nabi ﷺ mengatakan bahwa enam orang di antara mereka telah cukup disiksa oleh Dabilah, yaitu pelita dari api neraka Jahanam yang menyambar belikat salah seorang dari mereka hingga tembus sampai ke dadanya, sedangkan yang enam lainnya sekarat dalam kematiannya.

Menurut riwayat yang sampai kepada kami.
Khalifah Umar ibnul Khattab r.a.
bila ada seseorang yang mati dari kalangan mereka yang dicurigai, maka ia menunggu Huzaifah.
Jika Huzaifah menyalatkannya, maka barulah ia mau menyalatkannya.
Jika Huzaifah tidak mau menyalatkannya, maka Umar r.a.
tidak mau menyalatkannya pula.

Menurut riwayat lain yang sampai kepada kami, Khalifah Umar pernah berkata kepada Huzaifah, "Saya bertanya kepadamu dengan nama Allah, apakah saya termasuk salah seorang dari mereka?"
Huzaifah menjawab, "Tidak, dan aku tidak akan membukanya kepada seseorang pun sesudahmu."

Kata Pilihan Dalam Surah At Taubah (9) Ayat 101

A'RAAB
أَعْرَاب

Lafaz ini berasal dari kata 'urb yang bermakna bukan Ajam atau berbangsa Arab dan mereka adalah penduduk negeri Arab. Lafaz a'raab merujuk kepada"penduduk-penduduk Badwi dan lafaz ini tidak ada mufradnya.

Dalam kamus Al Munjid disebutkan, kata al a'raab bermakna penduduk-penduduk Badwi khususnya. Dan perkataan a'rabiy digunakan untuk menunjukkan kepada orang Badwi, atau orang yang tidak berpengetahuan atau jahil dalam kalangan bangsa Arab.

Lafaz ini disebut sebanyak 10 kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-At Taubah (9) ayat 90, 97, 98, 99, 101, 120;
-Al Ahzab (33) ayat 20;
-Al Fath (48) ayat 11, 16;
-Al Hujurat (49) ayat 14.

Wahbah Az Zuhaili menafsirkan kata al a'raab dalam surah Al Fath dengan "kabilah dari bangsa Arab Badwi yang ada di sekitar Madinah," pada surah ini Allah mengabarkan kepada rasulnya ketika kembali dari Hudaibiah, mereka akan membuat alasan keuzuran sehingga mereka dapat tinggal bersama keluarga dan tenggelam dalam kesibukan. Oleh karena itu, mereka tidak ikut pergi bersama Rasulullah ke Makkah pada tahun Hudaibiah untuk membuat umrah. Mereka adalah penduduk Arab yang ada di sekitar Madinah yaitu dari kabilah Aslam, Juhaynah, Muzaynah, Ghiffar, Asyja' dan Ad Dayl.

Al Qurtubi menafsirkan kata al­ a'raab dalam surah At Taubah pada ayat 97 dan 98 dengan "orang Arab di luar Madinah disebabkan kekufuran mereka karena tidak mengetahui hukum-hukum Allah, sebagai­ mana pendapat yang dikemukakan oleh Qatadah," sedangkan dalam ayat 99, lafaz al­ a'rab berrmakna, "bangsa Arab yang beriman kepada Allah yaitu Bani Muqarran dari suku Muzaynah sebagaimana yang disebut oleh Al Mahdawi."

Ibn Katsir memberikan tafsiran untuk ayat 101 dengan katanya ''Allah mengabarkan kepada rasul-Nya ada orang munafik dalam kalangan bangsa Arab yang tinggal di sekitar Madinah, dan begitu juga dalam penduduk Madinah sendiri." Demikian pula dalam ayat 120, Allah mencela orang yang tidak ikut bersama Rasulullah pada Perang Tabuk dari kalangan penduduk Madinah dan yang berada di sekitarnya. Dalam surah Al Ahzab, beliau menafsirkannya dengan penduduk Arab Badwi atau penduduk desa yang jauh dari kota Madinah.

Dalam surah Al Hujurat, makna kata a'raab ialah Bani Asad yang memperlihatkan keislaman mereka pada tahun berlakunya musim kemarau di mana tujuan mereka sebenarnya adalah menginginkan sedekah. Maka Allah menyuruh Rasulullah menyangkal keimanan mereka itu.

Kesimpulannya, makna umum lafaz a'raab adalah penduduk Arab secara umumnya baik itu yang terdapat di pedalaman, di sekitar kota Madinah atau penduduk Madinah. Makna khususnya adalah Bani Asad sebagaimana yang terkandung dalam surah Al-Hujurat.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal: 8

Informasi Surah At Taubah (التوبة‎‎)
Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat tennasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan berhubung kata At Taubah berulang kali disebut dalam surat ini.

Dinamakan juga dengan "Baraah" yang berarti berlepas diri yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh 'Ali r.a.
pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman
pembalasan atas amal­ amalan manusia hanya dari Allah
segala sesuatu menurut sunnatullah
perlin­dungan Allah bagi orang-orang yang beriman
kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

Kewajiban menafkahkan harta
macam-macam harta dalam agama serta peng­gunaannya
jizyah
perjanjian dan perdamaian
kewajiban umat Islam terhadap Nabinya
sebab-sebab orang Islam melakukan perang total
beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad s.aw. dengan Abu Bakar r.a. di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
perang Tabuk.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.


Gambar Kutipan Surah At Taubah Ayat 101 *beta

Surah At Taubah Ayat 101



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah At Taubah

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, "Pengampunan"‎) adalah surah ke-9 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti "Pengampunan" karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara'ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad S.A.W kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah 9
Nama Surah At Taubah
Arab التوبة‎‎
Arti Pengampunan
Nama lain Al-Bara'ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 113
Juz Juz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 129
Jumlah kata 2506
Jumlah huruf 11116
Surah sebelumnya Surah Al-Anfal
Surah selanjutnya Surah Yunus
4.7
Rating Pembaca: 4.9 (13 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku