Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

At Taubah

At Taubah (Pengampunan) surah 9 ayat 100


وَ السّٰبِقُوۡنَ الۡاَوَّلُوۡنَ مِنَ الۡمُہٰجِرِیۡنَ وَ الۡاَنۡصَارِ وَ الَّذِیۡنَ اتَّبَعُوۡہُمۡ بِاِحۡسَانٍ ۙ رَّضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ وَ اَعَدَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ تَحۡتَہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ اَبَدًا ؕ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ
Wassaabiquunal au-waluuna minal muhaajiriina wal anshaari waal-ladziina-attaba’uuhum biihsaanin radhiyallahu ‘anhum waradhuu ‘anhu wa-a’adda lahum jannaatin tajrii tahtahaal anhaaru khaalidiina fiihaa abadan dzalikal fauzul ‘azhiim(u);

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya.
Mereka kekal di dalamnya.
Itulah kemenangan yang besar.
―QS. 9:100
Topik ▪ Surga ▪ Keabadian surga ▪ Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka
9:100, 9 100, 9-100, At Taubah 100, AtTaubah 100, At-Taubah 100
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Taubah (9) : 100. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang yang terdahulu, lagi pula pertama-tama masuk Islam, baik dari kalangan Muhajirin yang berhijrah dari Mekah ke Madinah maupun dari kalangan Ansar, yaitu penduduk kota Madinah yang menyambut dengan baik kedatangan Rasulullah dan Muhajirin dan begitu pula para sahabat yang lain yang mengikuti ini dengan baik, ketiga golongan ini merupakan orang-orang mukmin yang paling tinggi martabatnya di sisi Allah disebabkan keimanan mereka yang teguh serta amal perbuatan mereka yang baik dan ikhlas sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ Allah subhanahu wa ta'ala senang dan rida kepada mereka, dan sebaliknya mereka pun rida kepada Allah.
Dan Allah menyediakan pahala yang amat mulia bagi mereka, yaitu surga Jannatunna'im yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, dan di sana mereka akan memperoleh kenikmatan yang tak terhingga.
Mereka akan kekal di sana selama-lamanya.
Itulah kemenangan besar yang akan mereka peroleh
.
Yang dimaksud dengan "As-Sabiqunal Awwalun" dari kalangan Muhajirin ialah mereka telah berhijrah dari Mekah ke Madinah sebelum terjadinya Perjanjian Hudaibiyah karena sampai pada saat ini kaum musyrikin senantiasa mengusir kaum Muslimin dari kampung halaman mereka, dan membunuh sebagian dari mereka, serta menghalang-halangi siapa saja yang ingin berhijrah.
Tidak ada cara lain bagi seorang mukmin untuk menyelamatkan diri dari kejahatan kaum musyrikin itu, kecuali menjauhkan diri dari mereka, atau menyerah kepada kehendak dan kemauan mereka.
Maka orang-orang yang memilih cara yang pertama, yaitu meninggalkan kota Mekah dan berhijrah ke Madinah sebelum terjadinya "Perdamaian Hudaibiyah" pada tahun keenam hijriah, serta berjuang di jalan Allah dengan harta benda dan jiwa raga mereka.
Semuanya adalah orang-orang yang benar-benar beriman, tak seorang munafik pun terdapat di antara mereka ini, karena pada masa itu belumlah timbul hal-hal yang mendorong orang untuk bersikap munafik, lain di mulut lain di hati.
Demikian pula sebaliknya, tak ada faktor lain yang mendorong seseorang untuk meninggalkan kampung halamannya kecuali keimanan yang murni dan keikhlasan dan perjuangan untuk menegakkan agama Islam.

Sebagaimana diketahui, orang yang mula-mula masuk Islam dan menyatakan imannya kepada Nabi Muhammad ﷺ.
dari kalangan keluarganya adalah Siti Khadijah, Ali bin Abu Talib dan Zaid bin Harisah.
Sedang dari kalangan luar keluarga Rasulullah ﷺ, orang yang mula-mula masuk Islam ialah Abu Bakar As-Siddiq yang juga dikenal sebagai orang yang menemani Rasulullah ﷺ waktu beliau berhijrah ke Madinah, dan yang mula-mula melakukan dakwah Islamiah bersama Rasulullah.
Di samping itu terdapat pula para sahabat yang oleh Rasulullah ﷺ telah dinyatakan sebagai orang-orang yang pasti masuk surga.
Selain itu banyak pula sahabat-sahabat lainnya yang mengikuti jejak mereka itu dalam keteguhan iman dan keikhlasan berjuang untuk menegakkan agama Allah tanpa mengutamakan kepentingan pribadi dan harta benda.

Yang dimaksud dengan "As-Sabiqunal Awwalun" dari kalangan Ansar ialah penduduk kota Madinah yang telah menyatakan ikrar kesetiaan mereka kepada pimpinan Rasulullah ﷺ di Aqabah, yaitu suatu tempat di Mina pada kali yang pertama pada tahun kesebelas dari kerasulan Muhammad ﷺ.
Ketika itu mereka berjumlah tujuh orang.
Kemudian pada kali yang kedua, yaitu pada tahun kedua belas terjadi pulalah ikrar kesetiaan di Aqabah itu juga, di kali ini mereka berjumlah tujuh puluh orang lelaki dan dua orang perempuan.
Sesudah itu diikuti pula oleh orang-orang lainnya setelah mereka didatangi oleh utusan Rasulullah yang bernama Abu Zarrah Musab bin Umar bin Hasyim yang membacakan ayat-ayat Alquran dan mengajarkan pengetahuan agama kepada mereka, dan yang diutus oleh Rasulullah dalam rombongan orang-orang yang mengucapkan ikrar kesetiaan di Aqabah di kali yang kedua itu, di waktu mereka hendak pulang kembali ke Madinah.
Demikian pula mereka yang telah beriman pada saat tibanya Rasulullah di Madinah, yaitu sebelum kaum muslimin memiliki kekuatan yang cukup tangguh.
Kekuatan itu barulah tumbuh setelah beberapa waktu sesudah berhijrahnya Rasulullah ke Madinah itu.
Daripada saat itu pulalah munculnya kaum munafik yang berpura-pura menyokong agama Islam.
Hal ini dijelaskan dalam firman Allah yang turun mengenai hal-ihwal peperangan Badar yang terjadi pada tahun kedua Hijriah.
Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

(Ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: "Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya."
(Q.S.
Al-Anfal: 49)

Dalam kelompok orang-orang munafik yang disebutkan dalam ayat ini, tak terdapat seorang pun dari kalangan kaum Muhajirin dan kaum Ansar yang paling dahulu masuk Islam seperti yang tersebut di atas, walaupun kaum Ansar itu semuanya berasal dari Bani Aus dan Khazraj.

Yang dimaksud dengan Allazinat tabu'uhum bi ihsan" (orang-orang yang telah mengikuti kaum As-Sabiqunal Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Ansar itu dengan baik) ialah mereka yang ikut berhijrah ke Madinah dan berjuang menegakkan agama Islam, atau mereka yang membuktikan kebaikan mereka dalam perbuatan dan perkataan setelah mendapatkan bimbingan dan pelajaran dari kaum As-Sabiqunal Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Ansar itu yang merupakan pemimpin-pemimpin yang diikuti, dan dijadikan suri teladan dalam tingkah laku, perbuatan, ucapan dan perjuangan menegakkan agama Allah atau orang-orang yang mengikuti mereka ini dalam ketaatan dan ketakwaan sampai hari kiamat.
Sedang orang-orang yang munafik hanya mengikuti secara lahiriah semata-mata, atau hanya mengikutinya dalam beberapa hal saja, sedang dalam hal-hal lainnya mereka mengingkarinya.

At Taubah (9) ayat 100 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy At Taubah (9) ayat 100 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi At Taubah (9) ayat 100 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang yang mengikuti jalan kelompok mukminin Muhajirin dan Anshar yang telah lebih dahulu masuk Islam kemudian melakukannya dengan baik dan dengan tidak segan-segan, maka Allah akan meridai mereka sehingga menerima perbuatan mereka dan mengganjar dengan kebaikan.
Mereka juga rida dan diberi kabar gembira dengan apa yang disediakan Allah bagi mereka yaitu berupa surga-surga yang dialiri sungai-sungai di bawah pepohonannya.
Maka mereka pun merasakan kenikmatan yang abadi.
Itulah kemenangan yang amat besar.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar) mereka adalah para sahabat yang ikut perang Badar atau yang dimaksud adalah semua para sahabat (dan orang-orang yang mengikuti mereka) sampai hari kiamat (dengan baik) dalam hal amal perbuatannya.
(Allah rida kepada mereka) melalui ketaatan mereka kepada-Nya (dan mereka pun rida kepada Allah) rida akan pahala-Nya (dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya) menurut suatu qiraat lafal tahtahaa dibaca dengan memakai huruf min sebelumnya sehingga bacaannya menjadi min tahtihaa (mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Itulah kemenangan yang besar).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan orang-orang yang mendahului orang lainnya dan yang pertama-tama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dari orang-orang Muhajirin, yaitu mereka yang meninggalkan kaum dan keluarga mereka untuk pindah menuju negeri Islam, dan orang Anshar, yaitu mereka yang menolong Rasulullah dari musuh-musuhnya (orang-orang kafir); dan orang-orang yang mengikuti mereka berbuat baik dalam keyakinan, perkataan dan perbuatan untuk mencari keridhaan Allah, merekalah orang yang mendapatkan keridhaan Allah karena ketaatan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Mereka pun ridha kepada Allah atas limpahan pahala yang mereka terima karena ketaatan dan keimanan mereka.
Allah menyediakan surga bagi mereka, yang mengalir di bawah istana dan pohon-pohonnya sungai-sungai.
Mereka kekal di dalamnya.
Itulah keberuntungan yang sangat besar.
Ayat ini menceritakan pujian Allah terhadap para sahabat dan kedudukan mereka yang mulia.
Sesungguhnya memuliakan para sahabat Rasulullah termasuk keimanan yang mendasar.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
menceritakan tentang rida-Nya kepada orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan kaum Muhajirin, Ansar, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik.
Allah rida kepada mereka, untuk itu Dia menyediakan bagi mereka surga-surga yang penuh dengan kenikmatan dan kenikmatan yang kekal lagi abadi.

Asy-Sya'bi mengatakan bahwa orang-orang yang terdahulu masuk islam dari kalangan kaum Muhajirin dan Ansar ialah mereka yang mengikuti bai'at Ridwan pada tahun Perjanjian Hudaibiyyah.

Abu Musa Al-Asy'ari, Sa'id ibnul Musayyab, Muhammad ibnu Sirin, Al-Hasan, dan Qatadah mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang salat menghadap ke dua arah kiblat bersama-sama Rasulullah ﷺ

Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi mengatakan bahwa Khalifah Umar ibnul Khattab melewati seorang lelaki yang sedang membaca firman­Nya berikut ini: Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar.
(At Taubah:100) Maka Umar memegang tangan lelaki itu dan bertanya, "Siapakah yang mengajarkan ayat ini kepadamu?"
Lelaki itu menjawab, "Ubay ibnu Ka'b." Umar berkata, "Kamu jangan berpisah dariku sebelum aku hadapkan kamu kepadanya." Setelah Umar menghadapkan lelaki itu kepada Ubay, Umar bertanya, "Apakah engkau telah mengajarkan bacaan ayat ini kepadanya dengan bacaan demikian?"
Ubay ibnu Ka'b menjawab, "Ya." Umar bertanya, "Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah ﷺ?"
Ubay ibnu Ka'b menjawab, "Ya." Umar berkata, "Sesungguhnya aku berpendapat sebelumnya bahwa kami (para sahabat) telah menduduki tingkatan yang tinggi yang tidak akan dicapai oleh orang-orang sesudah kita." Maka Ubay ibnu Ka'b menjawab bahwa yang membenarkan ayat ini terdapat pada permulaan surat Al-Jumu'ah.
yaitu firman-Nya:

dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka.
Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
(Al Jumuah:3)

Di dalam surat Al-Hasyr disebutkan melalui firman-Nya:

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar).
(Al Hasyr:10)

Dan dalam surat Al-Anfal disebutkan melalui firman-Nya:

Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu.
(Al Anfaal:75), hingga akhir ayat.

Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Telah diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri bahwa ia membaca rafa' lafaz Al-Ansar karena di- ataf-kan kepada As-Sabiqunal Awwaluna.

Allah subhanahu wa ta'ala.
telah memberitakan bahwa Dia telah rida kepada orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan kaum Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Maka celakalah bagi orang yang membenci mereka, mencaci mereka, atau membenci dan mencaci sebagian dari mereka.
Terlebih lagi terhadap penghulu para sahabat sesudah Rasul ﷺ dan yang paling baik serta paling utama di antara mereka, yaitu As-Siddiqul Akbar —khalifah Rasulullah yang pertama— Abu Bakar ibnu Abu Quhafah r.a.

Lain halnya dengan golongan yang terhina dari kalangan golongan Rafidah (Khawarij), mereka memusuhi sahabat yang paling utama, membenci mereka serta memusuhinya, semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut.
Hal ini jelas menunjukkan bahwa akal mereka telah terbalik dan kalbu mereka telah tertutup.
Maka mana mungkin mereka dinamakan sebagai orang yang beriman kepada Al-Qur'an bila mereka mencaci orang-orang yang telah diridai oleh Allah subhanahu wa ta'ala.?

Berbeda dengan golongan ahli sunnah, maka mereka rida kepada orang-orang yang diridai oleh Allah, mencaci orang-orang yang dicaci oleh Allah dan Rasul-Nya, memihak kepada orang-orang yang dipihak oleh Allah, dan memusuhi orang-orang yang dimusuhi oleh Allah.
Dengan demikian, mereka adalah orang-orang yang mengikuti (Rasul dan sahabat-sahabatnya), bukan orang-orang ahli bid'ah, dan mereka adalah orang-orang yang bertaklid, bukan orang-orang yang memulai.
Mereka itulah golongan Allah yang beruntung dan hamba-hamba-Nya yang beriman.

Kata Pilihan Dalam Surah At Taubah (9) Ayat 100

SAABIQ
سَابِق

Lafaz ini adalah ism fa'il dari kata kerja sabaqa. Asal makna lafaz ini ialah maju kehadapan dalam perjalanan.

Menurut Al Fayruz, as sabq dalam Al Qur'an mengandung beberapa makna yaitu:
(1) Wajib
(2) Berburu,
(3) Maju ke hadapan dengan niat melarikan diri;
(4) Mendahului atau meninggalkan;
(5) Mendahului dalam mukjizat dan kehinaan bagi musuh-musuh para nabi;
(6) Mendahului dalam tauhid dan iman.

Sedangkan lafaz saabiq bermakna yang mendahului dalam kebaikan.

Lafaz ini disebut dua kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Faathir (35), ayat 32;
-Yasin (36), ayat 40.

Lafaz saabiq dalam surah Faathir dikaitkan dengan al ­khairaat atau kebaikan dan ia mengandung makna:

1. Yang mendahului dalam ketakwaan secara mutlak sebagaimana pendapat Ikrimah, Ad Dahhak dan Al Farra'.

2. Yang mendahului manusia keseluruhannya dalam kebaikan sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Mujahid.

3. Yang alim, ini pendapat Sahl bin 'Abdullah.

4. Dzun Nun Al Masri berpendapat, ia bermakna orang yang tidak pernah lalai dari mengingati Allah.

5. Ibn 'Ata berpendapat, ia bermakna orang yang menjatuhkan keinginannya kepada keinginan kebenaran.

6. As Sabiq bermakna yang membaca Al Qur'an, beramal dengannya dan tahu makna-maknanya

7. As Sabiq bermakna yang mencintai Tuhannya.

8. 'Aisyah berkata,
"As Saabiq adalah orang yang beriman sebelum hijrah"

9. Diriwayatkan dari Ibn Abbas, Ibn Mas'ud dan Abl Al Darda', makna sabiq bi Al khairat ialah orang yang memasuki syurga tanpa hisab."

10. Ibn Katsir memberikan makna lafaz ini dengan orang yang menunaikan perkara-perkara yang wajib dan sunnah, meninggalkan yang haram dan makruh serta sebahagian yang harus.

Kesimpulannya, makna as saabiq disini mencakup semua makna diatas dan lebih dekatnya orang yang memasuki syurga tanpa hisab sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas, Ibn Mas'ud dan Abi Al Darda.

Dalam surah Yasin, lafaz saabiq dikaitkan dengan malam dan siang. Allah berfirman yang artinya, "Dan malam tidak mendahului siang karena tiap-tiap satunya beredar terapung di tempat edarannya masing-rnasing,"

Az Zamakhsyari berkata,
"Maknanya tanda-tanda malam tidak akan mendahului tanda-tanda siang dan keduanya adalah dua cahaya di mana siang tandanya terbitnya matahari dan malam munculnya bulan.

Apabila ditanya orang, "Mengapa matahari dijadikan tidak mudah mengejar (idrak) dan bulan tidak mendahului ?" Saya menjawab, "karena matahari tidak melintasi edarannya hingga satu tahun sedangkan bulan melintasi edarannya dalam satu bulan. Oleh karena itu, matahari sudah tentu bersifat tidak mudah mengejar (al­idrak), karena perjalanannya lambat dari perjalanan bulan dan bulan disifatkan dengan As sabq karena cepat perjalanannya.

Muhammad 'Abdus Salam Syahin berkata,
"Maknanya di sini, setiap dari keduanya tidak memasuki yang lain dalam kekuasaannya sehingga cahayanya bercampur, tetapi keduanya saling bergantian di bawah pengaturan Allah."

Jamak mudzakkar dari kata saabiq ialah sabiquun atau sabiqiin.

Lafaz sabiquun disebut empat kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Taubah (9), ayat 100;
-Al Mu'minuun (23), ayat 61;
-Al Waaqi'ah (56), ayat 10.

Dalam surah At Taubah, lafaz ini dihubungkan dengan al awwaaluun minal muhaajiriina wal anshaar artinya orang yang awal memeluk Islam dari golongan Muhajirin dan Anshar. Dalam surah ini, lafaz ini mengandung beberapa penafsiran yaitu:

1. Mereka adalah orang yang membai'at Rasulullah pada Bai'ah Ridwan atau yang hadir dan menyaksikan pada bai'at itu. Ini adalah pendapat 'Amir dan Asy Sya'bi.

2. Mereka adalah orang yang shalat dengan Rasulullah di dua kiblat dari kalangan Muhajirin. Ini adalah pendapat Abu Musa Al Asy'ari dan Sa'id bin Al Musayyab.

3. At Tabari menafsirkannya dengan orang yang mendahului manusia dengan menyatakan iman mereka kepada Allah dan rasul Nya dari kalangan Muhajirin yang berhijrah meninggalkan kaum dan keluarga mereka, memisahkan rumah dan negeri mereka serta kalangan Anshar yang membela dan menolong Rasulullah menghadapi musuh-musuhnya dari kalangan orang-orang kafir.

Dalam surah yang lain, Ar Raghib Al Isfahani berkata,
makna as sasbiquun adalah orang yang lebih dahulu mendapat ganjaran dari Allah dan syurga dengan amalan­ amalan yang shaleh.

Diriwayatkan oleh Ibn Jarir, Ibn Al Mundzir dan Ibn Abi Hatim dari Ibn Abbas, mereka adalah orang yang lebih dahulu mendapat kebahagiaan dari Allah.

Sa'ld Hawwa berkata,
"Lafaz ini bermakna mereka yang mendahului dalam berbuat kebaikan dan lebih dahulu memasuki syurga."

Muhammad bin Ka'ab dan Abu Hirzah Ya'qub bin Mujahid berpendapat, mereka adalah para nabi.

Menurut riwayat dari Ibn Abi Najih dari Mujahid dari Ibn Abbas berkata,
"Mereka ialah Yusya' bin Nun yang lebih dahulu beriman kepada Musa, seorang mu'min dari keluarga Yasin yang lebih dahulu beriman kepada (Isa, dan 'Ali bin Abi Talib yang lebih dahulu beriman kepada Nabi Muhammad."

As Suddi berkata,
"Mereka ialah yang mempunyai darjat yang tinggi."

Al Awza'i melaporkan dari Abi Saudah, mereka ialah orang yang lebih dahulu pergi ke masjid dan lebih dahulu keluar di jalan Allah.

Ibn Katsir berkata,
"Kesemua makna di atas bagi lafaz as saabiquun adalah benar karena makna umum bagi lafaz itu adalah orang yang bersegera melakukan kebaikan sebagaimana yang diperintahkan kepada mereka."

Kesimpulannya, makna as saabiquun terbahagi kepada dua, khusus dan umum.

Makna yang khusus terdapat dalam surah At Taubah yaitu mereka adalah orang Muhajirin dan Anshar.

Sedangkan yang umum terdapat dalam surah lain yang bermakna orang yang bersegera melakukan kebaikan sebagaimana yang diseru Allah kepadanya.

Sedangkan lafaz saabiqiin disebut sekali saja di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah Al Ankabut (29), ayat 39.

Al Raghlb dan Al Fayruz berkata,
"Lafaz ini mengandung makna peringatan dan penjelasan, mereka tidak akan mendahuluinya dan melepaskannya."

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah berkata,
"Berjalanlahl pasti orang yang menyendiri akan mendahului" Lalu beliau ditanya, "Siapa mereka, ya Rasulullah ?" Beliau menjawab, "Mereka adalah orang yang bergoyang dan bergetar hati mereka dengan zikrullah (berzikir kepada Allah)."

At Tabari juga menafsirkan ayat ini, "Ingatlah, wahai Muhammad! Tentang Qarun, Firaun dan Haman, di mana Nabi Musa mendatangkan kepada mereka bukti-bukti dan ayat-ayat yang terang, tetapi mereka takbur di muka bumi dengan tidak mempercayai ayat-ayat itu dan tidak mahu mengikuti Musa, maka diri mereka tidak dapat mendahului kami sehingga melepaskan diri mereka dari kami, malah kami akan mengatasi mereka dengan menjatuhkan azab kepada mereka."

Dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan, "Makna saabiqiin ialah mereka tidak dapat terlepas dari azab kami."

Kesimpulannya, lafaz sabiqiin dalam ayat ini bermakna mereka yaitu Qarun, Firaun dan Haman yang tidak terlepas dari azab Allah.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:287-289

Informasi Surah At Taubah (التوبة‎‎)
Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat tennasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti Pengampunan berhubung kata At Taubah berulang kali disebut dalam surat ini.

Dinamakan juga dengan "Baraah" yang berarti berlepas diri yang di sini maksudnya peryataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat surat ini.

Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh 'Ali r.a.
pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman
pembalasan atas amal­ amalan manusia hanya dari Allah
segala sesuatu menurut sunnatullah
perlin­dungan Allah bagi orang-orang yang beriman
kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah.

Hukum:

Kewajiban menafkahkan harta
macam-macam harta dalam agama serta peng­gunaannya
jizyah
perjanjian dan perdamaian
kewajiban umat Islam terhadap Nabinya
sebab-sebab orang Islam melakukan perang total
beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.

Kisah:

Nabi Muhammad s.aw. dengan Abu Bakar r.a. di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah
perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin)
perang Tabuk.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.


Gambar Kutipan Surah At Taubah Ayat 100 *beta

Surah At Taubah Ayat 100



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah At Taubah

Surah At-Taubah (Arab: التوبة , at-Tawbah, "Pengampunan"‎) adalah surah ke-9 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat.
Dinamakan At-Taubah yang berarti "Pengampunan" karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.
Dinamakan juga dengan Bara'ah yang berarti berlepas diri.Berlepas diri disini maksudnya adalah pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan sebagian besar pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Berbeda dengan surah-surah yang lain maka pada permulaan surat ini tidak terdapat ucapan basmalah, karena surah ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernapaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.

Surah ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad S.A.W kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.
Pengumuman ini disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib pada musim haji tahun itu juga.

Nomor Surah9
Nama SurahAt Taubah
Arabالتوبة‎‎
ArtiPengampunan
Nama lainAl-Bara'ah (Berlepas Diri),
Al-Mukshziyah (Melepaskan),
Al-Fadikhah (Menyingkap),
Al-Muqasyqisyah (Melepaskan)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu113
JuzJuz 10 (ayat 1-93), juz 11 (ayat 94-129)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat129
Jumlah kata2506
Jumlah huruf11116
Surah sebelumnyaSurah Al-Anfal
Surah selanjutnyaSurah Yunus
4.6
Rating Pembaca: 4.8 (12 votes)
Sending







PEMBAHASAN ✔ tafsir alquran surat attaubah ayat 100 menurut sunnah