Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Asy Syu'araa

Asy Syu’araa (Penyair) surah 26 ayat 189


فَکَذَّبُوۡہُ فَاَخَذَہُمۡ عَذَابُ یَوۡمِ الظُّلَّۃِ ؕ اِنَّہٗ کَانَ عَذَابَ یَوۡمٍ عَظِیۡمٍ
Fakadz-dzabuuhu fa-akhadzahum ‘adzaabu yaumizh-zhullati innahu kaana ‘adzaaba yaumin ‘azhiimin;

Kemudian mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan.
Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar.
―QS. 26:189
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Menyiksa pelaku maksiat ▪ Kelemahan manusia
26:189, 26 189, 26-189, Asy Syu’araa 189, AsySyuaraa 189, Asy Syuara 189, Asy Syu’ara 189, Asy-Syu’ara 189
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Asy Syu'araa (26) : 189. Oleh Kementrian Agama RI

Karena penduduk Madyan tetap membangkang, Syuaib mengancam dengan menyuruh mereka menunggu azab yang akan didatangkan Allah.
Pada waktu yang dijanjikan Allah, datanglah malapetaka yang dahsyat menimpa mereka.
Pada hari itu, mereka merasakan terik panas yang sangat menyesakkan napas.
Tidak ada sesuatu pun yang dapat menolong mereka dari keadaan yang demikian, apakah berupa naungan rumah, ataupun air yang dapat diminum, dan sebagainya.
Oleh karena itu, mereka ke luar ke tanah lapang dan bernaung di bawah segumpal awan yang menyejukkan.
Dalam keadaan demikian, turunlah azab Allah berupa sambaran petir yang dahsyat yang ke luar dari gumpalan awan itu, dengan suara yang keras, dan menyebabkan bumi berguncang.
Mereka semua mati tersungkur dengan muka tertelungkup ke tanah.
Keadaan mereka itu seperti keadaan kaum Nabi Saleh yang ditimpa azab Allah sebelumnya.
Adapun Nabi Syuaib dan orang-orang yang beriman diselamatkan Allah dari azab itu.

Asy Syu'araa (26) ayat 189 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Asy Syu'araa (26) ayat 189 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Asy Syu'araa (26) ayat 189 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Akan tetapi, mereka tetap bersikukuh mendustakan Syu'ayb.
Lalu Allah menurunkan kepada mereka cuaca yang sangat panas, sehingga membuat mereka berlarian tanpa membawa naungan apa-apa.
Tatkala mereka semua berkumpul di bawah naungan awan, Allah menimpakan kepada mereka gumpalan-gumpalan api.
Mereka pun binasa di hari yang luar biasa dahsyat itu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kemudian mereka mendustakan Syuaib, lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan) yakni awan yang menaungi mereka sesudah hari yang panas sekali, kemudian awan itu menurunkan hujan api kepada mereka sehingga terbakarlah mereka semuanya (sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Maka kaum Syu’aib terus mendustakannya, sehingga mereka diterjang hawa panas yang sangat.
Mereka mencari tempat berlindung dari panas tersebut, mereka menemukan awan dan berlindung di bawahnya, mereka merasakan angin yang sejuk dan hawa yang dingin.
Manakala mereka telah berkumpul di bawahnya, ia pun berubah menjadi api yang membakar mereka.
Kebinasaan mereka seluruhnya terjadi di hari yang sangat menakutkan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Azab tersebut termasuk jenis dari apa yang dimintakan oleh mereka, yaitu ditimpakannya gumpalan dari langit kepada mereka.
Karena Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan azab yang menimpa mereka berupa panas yang tinggi selama tujuh hari, tiada sesuatu pun yang terlindungi dari panas tersebut.
Kemudian datanglah gumpalan awan yang besar menaungi mereka, lalu mereka pergi menuju arah awan itu dengan maksud menaungi diri mereka dengan naungannya dari sengatan panas yang sangat tinggi.
Setelah mereka semua kumpul di bawah awan besar itu, maka Allah menurunkan kepada mereka percikan api dari neraka dan luapan api yang sangat besar.
Bumi berguncang menggoyahkan mereka, dan mereka ditimpa oleh pekikan yang keras sehingga arwah mereka melayang, lalu binasalah mereka semuanya.
Karena itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar.
(Asy-Syu'ara': 189)

Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan gambaran kebinasaan mereka dalam tiga tempat tinggal.
Setiap tempat tinggal sesuai dengan teksnya.
Di dalam surat Al-A'raf disebutkan bahwa mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.
Demikian itu karena mereka telah mengatakan:

Sesungguhnya kami akan mengusir kamu, hai Syu’aib, dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami.
(Al-A'raf: 88)

Mereka menakut-nakuti Nabi Allah Syu'aib dan orang-orang yang mengikutinya, maka mereka ditimpa azab gempa bumi.
Dan di dalam surat Hud disebutkan:

dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur.
(Hud: 94)

Demikian itu karena mereka mengejek Nabi Syu'aib melalui perkataan mereka yang disitir oleh firman-Nya:

apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami.
Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.
(Hud: 87)

Mereka mengatakan demikian dengan nada yang sinis dan mengejek serta sebagai penghinaan, maka sesuailah bila mereka ditimpa oleh pekikan yang mengguntur untuk membungkam mereka.
Karena itu, disebutkan oleh firmari-Nya:

dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur.
(Hud : 94), hingga akhir ayat.

Sedangkan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit.
(Asy-Syu'ara': 187), hingga akhir ayat.

Yakni dengan nada ingkar dan tidak percaya akan terjadinya hal tersebut.
Maka sesuailah bila apa yang dianggap oleh mereka mustahil terjadi dikabulkan.

lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan.
Sesungguh­nya azab itu adalah azab hari yang besar.
(Asy-Syu'ara': 189)

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa sesungguhnya Allah mengirimkan awan kepada mereka; hingga manakala mereka semua telah berkumpul, maka Allah membuyarkan awan itu dari mereka dan memanggang mereka dengan sinar matahari sehingga terbakarlah mereka sebagaimana udang terbakar di atas penggorengan.

Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi mengatakan bahwa sesungguhnya penduduk Madyan diazab dengan tiga macam azab, yaitu gempa yang menimpa rumah tempat tinggal mereka sehingga mereka keluar darinya.
Setelah keluar dari rumahnya masing-masing, mereka tertimpa huru-hara yang sangat keras, lalu mereka lari bercerai-berai dan masuk kembali ke dalam rumah-rumah mereka, dan rumah-rumah mereka runtuh menimpa mereka.
Kemudian Allah mengirim awan kepada mereka.
Maka masuklah seseorang dari mereka ke bawah naungannya, lalu berkata, "Aku belum pernah merasakan naungan yang segar lagi sejuk seperti hari ini.
Maka kemarilah semua, hai orang-orang!" Kemudian mereka semuanya masuk ke bawah naungan awan itu, lalu terjadilah teriakan yang mengguntur sekali teriakan dan mereka semuanya mati karenanya.
Lalu Muhammad ibnu Ka'b membaca firman-Nya: lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan.
Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar.
(Asy-Syu'ara': 189)

Muhammad ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Haris, telah menceritakan kepadaku Al-Hasan, telah menceritakan kepadaku Sa'id ibnu Zaid (saudara Hammad ibnu Zaid), telah menceritakan kepada kami Hatim ibnu Abu Sagir, telah menceritakan kepadaku Yazid Al-Bahili, bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang makna firman-Nya: lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan.
(Asy-Syu'ara': 189), hingga akhir ayat.
Ibnu Abbas menjawab, "Allah menimpakan kepada mereka gempa dan panas yang membakar sehingga membuat napas mereka terasa sesak, lalu mereka keluar dari rumahnya masing-masing melarikan diri menuju padang pasir.
Maka Allah mengirimkan kepada mereka awan dan menaungi mereka dari sengatan sinar matahari yang membakar.
Mereka merasakan kesejukan dan kesegaran di bawah naungan awan itu.
Lalu sebagian dari mereka memanggil sebagian yang lain untuk bergabung di bawah naungan awan tersebut.
Manakala mereka semua telah berkumpul di bawah naungan awan itu, lalu Allah menimpakan api kepada mereka." Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, "Itulah azab di hari mereka dinaungi oleh awan, sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar."

Kata Pilihan Dalam Surah Asy Syu'araa (26) Ayat 189

DZULLAH
ظُلَّة

Arti lafaz dzhullah ialah sesuatu yang digunakan untuk berteduh seperti kemah. Bentuk jamaknya adalah dzhulalun.

Di dalam Al Qur'an dzhullah diulang dua kali yaitu dalam surah:
-Al A'raaf (7), ayat 171;
-Asy Syu'araa (26), ayat 189.

Dalam surah Al A'raaf (7), ayat 171 diceritakan ketika Bani Israil disumpah berjanji taat kepada ajaran yang dibawa Nabi Musa, Allah mengangkat Gunung Tursina ke atas mereka seolah-olah ia tempat berteduh dzhullah dan mereka menyangka gunung itu akan menimpa mereka.

Sedangkan dalam surah Asy Syu'araa (26), ayat 189 menceritakan tentang azab yang diterima oleh kaum Nabi Syu'alb karena mereka mendustakan ajaran Allah. Azab yang diterima oleh mereka diistilahkan di dalam Al Qur'an sebagai dzhullah, makna harfiahnya ialah "azab siksa hari awan mendung"

Imam Ibn Katsir menerangkan kaum Nabi Syu'aib diazab dengan cuaca yang panas selama tujuh hari, kemudian didatangkan awan di atas mereka, dan mereka pun berlindung di bawah awan itu dari panas. Namun, setelah mereka berkumpul di bawah awan itu, turunlah titisan api, jilatan api yang menyala besar, sedangkan bumi yang di bawah mereka mengalami gempa yang dahsyat.

Adapun lafaz dzhulalun diulang di dalam Al Qur'an sebanyak empat kali yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 210;
-Az Zumar (39), ayat 16 (dua kali);
-Luqman (31), ayat 32.

Surah Al Baqarah (2), ayat 210 menegaskan orang yang ingkar pada ajaran yang benar dihadapkan Allah pada awan­awan di hari kiamat yang berada di atas mereka, kemudian mereka diberi hukuman secara adil oleh Allah.

Surah Az Zumar (39), ayat 16 juga menegaskan orang kafir di neraka nanti disediakan lapisan-lapisan dari api yang menyerkup di atas mereka dan lapisan-lapisan dari api di bawah mereka.

Surah Luqman (31), ayat 32 menerangkan orang kafir apabila mereka dilamun serta diliputi oleh ombak yang besar seperti kelompok awan menyerkup, (dzhulalun). Pada saat itu, mereka semua berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan kepercayaan mereka kepadanya semata-mata. Kemudian apabila Allah menyelamatkan mereka ke daratan, sebahagian saja antara mereka yang bersikap adil lalu bersyukur kepada Allah serta mengesakannya.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:362-363

Informasi Surah Asy Syu'araa (الشعراء)
Surat ini terdiri dari 227 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamakan "Asy Syu'araa" (kata jamak dari "Asy Syaa 'ir" yang berarti penyair) diambil dari kata "Asy Syu­ araa' yang terdapat pada ayat 224, yaitu pada bagian terakhir surat ini, dikala Allah subhanahu wa ta'ala se­cara khusus menyebutkan kedudukan penyair-penyair.
Para penyair-penyair itu mempunyai sifat-sifat yang jauh berbeda dengan para rasul-rasul mereka diikuti oleh orang-orang yang sesat dan mereka suka memutar balikkan lidah dan mereka tidak mempunyai pendirian, perbuatan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka ucapkan.
Sifat-sifat yang demikian tidaklah sekali­ kali terdapat pada rasul-rasul.
Oleh karena demikian tidak patut bila Nabi Muhammad ﷺ dituduh sebagai penyair, dan Al Qur'an dituduh sebagai syair, Al Qur'an adalah wahyu Allah, bukan buatan manusia.

Keimanan:

Jaminan Allah akan kemenangan perjuangan rasul-rasul-Nya dan keselamatan mereka
Al Qur'an benar-benar wahyu Allah yang dibawa turun ke dunia oleh Ma­laikat Jibril a.s, (Ruuhul amiin) hanya Allah yang wajib disembah.

Hukum:

Keharusan memenuhi takaran dan timbangan
larangan menggubah syair yang be­risi cacian-cacian, khurafat-khurafat, dan kebohongan-kebohongan.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir'aun
kisah Nabi Ibrahim a.s. dengan kaum­nya
kisah Nabi Nuh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaum­nya (Tsamud)
kisah Nabi Hud a.s. dengan kaumnya('Aad)
kisah Nabi Luth a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu'ai'b a.s. dengan penduduk Aikah.

Lain-lain:

Kebinasaan suatu bangsa atau umat disebabkan mereka meninggalkan petunjuk­ petunjuk agama
tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam dan perobahan-pero­bahannya adalah bukti adanya Tuhan Yang Maha Esa
petunjuk-petunjuk Allah bagi pemimpin agar berlaku lemah lembut terhadap pengikut-pengikutnya
turun­nya kitab Al Qur'an dalam bahasa Arab sudah disebut dalam kitab-kitab suci dahulu.


Gambar Kutipan Surah Asy Syu’araa Ayat 189 *beta

Surah Asy Syu'araa Ayat 189



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Asy Syu'araa

Surah Asy-Syu'ara atau Surah Asy-Syu'ara' adalah surah ke-26 dari Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 227 ayat termasuk golongan surah-surah Makkiyyah.
Dinamakan Asy Syu'ara (kata jamak dari Asy Sya'ir yang berarti penyair) diambil dari kata Asy Syuara yang terdapat pada ayat 224.
Banyak nilai-nilai yang berharga dari bebagai kisah-kisah para Nabi yang umat mereka dipunahkan serta sebagian riwayat tiga hamba Allah yang dimuliakan Musa, Harun dan Ibrahim.

Nomor Surah 26
Nama Surah Asy Syu'araa
Arab الشعراء
Arti Penyair
Nama lain Tha Sin Mim, Al-Jami’ah
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 47
Juz Juz 19
Jumlah ruku' 11 ruku'
Jumlah ayat 227
Jumlah kata 1223
Jumlah huruf 5630
Surah sebelumnya Surah Al-Furqan
Surah selanjutnya Surah An-Naml
4.4
Rating Pembaca: 4.2 (20 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku