QS. Ash Shaffaat (Barisan-barisan) – surah 37 ayat 102 [QS. 37:102]

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَہُ السَّعۡیَ قَالَ یٰبُنَیَّ اِنِّیۡۤ اَرٰی فِی الۡمَنَامِ اَنِّیۡۤ اَذۡبَحُکَ فَانۡظُرۡ مَاذَا تَرٰی ؕ قَالَ یٰۤاَبَتِ افۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ ۫ سَتَجِدُنِیۡۤ اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ مِنَ الصّٰبِرِیۡنَ
Falammaa balagha ma’ahussa’ya qaala yaa bunai-ya innii ara fiil manaami annii adzbahuka faanzhur maadzaa tara qaala yaa abatiif’al maa tu’maru satajidunii in syaa-allahu minash-shaabiriin(a);

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:
“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.
Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab:
“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
―QS. 37:102
Topik ▪ Allah memiliki Sifat Masyi’ah (berkehendak)
37:102, 37 102, 37-102, Ash Shaffaat 102, AshShaffaat 102, Al-Shaffat 102, AshShaffat 102, Ash Shafat 102, Ash Shaffat 102

Tafsir surah Ash Shaffaat (37) ayat 102

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ash Shaffaat (37) : 102. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian ayat ini menerangkan ujian yang berat bagi Ibrahim.
Allah memerintahkan kepadanya agar menyembelih anak satu-satunya sebagai korban di sisi Allah.
Ketika itu, Ismail mendekati masa balig atau remaja, suatu tingkatan umur sewaktu anak dapat membantu pekerjaan orang tuanya.

Menurut Al-Farra’, usia Ismail pada saat itu 13 tahun.
Ibrahim dengan hati yang sedih memberitahukan kepada Ismail tentang perintah Tuhan yang disampaikan kepadanya melalui mimpi.
Dia meminta pendapat anaknya mengenai perintah itu.
Perintah Tuhan itu berkenaan dengan penyembelihan diri anaknya sendiri, yang merupakan cobaan yang besar bagi orang tua dan anak.
Sesudah mendengarkan perintah Tuhan itu, Ismail dengan segala kerendahan hati berkata kepada ayahnya agar melaksanakan segala apa yang diperintahkan kepadanya.
Dia akan taat, rela, dan ikhlas menerima ketentuan Tuhan serta menjunjung tinggi segala perintah-Nya dan pasrah kepada-Nya.
Ismail yang masih sangat muda itu mengatakan kepada orang tuanya bahwa dia tidak akan gentar menghadapi cobaan itu, tidak akan ragu menerima qada dan qadar Tuhan.
Dia dengan tabah dan sabar akan menahan derita penyembelihan itu.
Sikap Ismail sangat dipuji oleh Allah dalam firman-Nya:

Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Ismail di dalam Kitab (Al-Qur’an).
Dia benar-benar seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi.

(Maryam: 54)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Anak itu pun lahir dan tumbuh.
Ketika anak itu menginjak dewasa dan telah pantas mencari nafkah, Ibrahim diuji dengan sebuah mimpi.
Ia berkata, “Wahai anakku, dalam tidur aku bermimpi berupa wahyu dari Allah yang meminta aku untuk menyembelihmu.
Bagaimana pendapat kamu?”
Anak yang saleh itu menjawab, “Wahai bapakku, laksanakanlah perintah Tuhanmu.
Insya Allah kamu akan dapati aku termasuk orang-orang yang sabar.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim) yaitu telah mencapai usia sehingga dapat membantunya bekerja, menurut suatu pendapat bahwa umur anak itu telah mencapai tujuh tahun.

Menurut pendapat yang lain bahwa pada saat itu anak Nabi Ibrahim berusia tiga belas tahun (Ibrahim berkata, “Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat) maksudnya, telah melihat (dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu!) mimpi para nabi adalah mimpi yang benar, dan semua pekerjaan mereka berdasarkan perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala (maka pikirkanlah apa pendapatmu!”) tentang impianku itu, Nabi Ibrahim bermusyawarah dengannya supaya ia menurut, mau disembelih, dan taat kepada perintah-Nya.

(Ia menjawab, “Hai bapakku) huruf Ta pada lafal Abati ini merupakan pergantian dari Ya Idhafah (kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu) untuk melakukannya (Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”) menghadapi hal tersebut.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Manakala Ismail dewasa dan berjalan bersama ayahnya, ayahnya berkata kepadanya : Sesungguhnya aku bermimpi menyembelihmu, apa pendapatmu?? (Mimpi para nabi adalah haq). Maka Ismail menjawab demi meraih ridha Rabbnya, berbakti kepada bapaknya dan membantunya untuk menaati Allah : Lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu untuk menyembelihku, engkau akan melihatku insya Allah sabar, taat dan hanya berharap pahala dari Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim.
(Ash Shaaffat:102)

Yakni telah tumbuh menjadi dewasa dan dapat pergi dan berjalan bersama ayahnya.
Disebutkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam setiap waktu pergi menengok anaknya dan ibunya di negeri Faran, lalu melihat keadaan keduanya.
Disebutkan pula bahwa untuk sampai ke sana Nabi Ibrahim mengendarai buraq yang cepat larinya, hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.
Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Ata Al-Khurrasani, dan Zaid ibnu Aslam serta lain-lainnya sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka tatkala anak itu sampai (pada usia sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, (Ash Shaaffat:102) Maksudnya, telah tumbuh dewasa dan dapat bepergian serta mampu bekerja dan berusaha sebagaimana yang dilakukan ayahnya.

Maka tatkala anak itu sampai (pada usia sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.
Maka pikirkanlah apa pendapatmu! ” (Ash Shaaffat:102)

Ubaid ibnu Umair mengatakan bahwa mimpi para nabi itu adalah wahyu, kemudian ia membaca firman-Nya: Ibrahim berkata, “Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.
Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” (Ash Shaaffat:102)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain ibnul Junaid, telah menceritakan kepada kami Abu Abdul Malik Al-Karnadi, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Israil ibnu Yunus, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Mimpi para nabi itu merupakan wahyu.

Hadis ini tidak terdapat di dalam kitab-kitab Sittah dengan jalur ini.

Dan sesungguhnya Ibrahim memberitahukan mimpinya itu kepada putranya agar putranya tidak terkejut dengan perintah itu, sekaligus untuk menguji kesabaran dan keteguhan serta keyakinannya sejak usia dini terhadap ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan baktinya kepada orang tuanya.

Ia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintah­kan kepadamu.” (Ash Shaaffat:102)

Maksudnya, langsungkanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu untuk menyembelih diriku.

insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Ash Shaaffat:102)

Yakni aku akan bersabar dan rela menerimanya demi pahala Allah subhanahu wa ta’ala Dan memang benarlah, Ismail ‘alaihis salam selalu menepati apa yang dijanjikannya.
Karena itu, dalam ayat lain disebutkan melalui firman-Nya:

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an.
Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya dan dia adalah seorang rasul dan nabi.
Dan ia menyuruh ahlinya untuk salat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya.
(Maryam:54-55)


Informasi Surah Ash Shaffaat (الصافات)
Surat Ash Shaaffaat terdiri atas 182 ayat termasuk golongan surat Makkiyyah diturunkan se­ sudah surat Al An’aam.

Dinamai dengan “Ash Shaaffaat” (yang bershaf-shaf) ada hubungannya dengan perkataan “AshShaaffaat” yang terletak pada ayat permulaan surat ini yang mengemukakan bagaimana para malaikat yang berbaris di hadapan Tuhannya yang bersih jiwanya, tidak dapat digoda oleh syai­tan.
Hal ini hendaklah menjadi i’tibar bagi manusia dalarn menghambakan dirinya kepada Allah.

Keimanan:

Dalil-dalil tentang ke-Esaan Allah
adanya hari berbangkit
adanya padang mahsyar dan adanya hari kiamat
malaikat-malaikat selalu bertasbih kepada Allah.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Nuh a.s.
kisah Ibrahim a.s.
kisah Ismail a.s.
kisah Musa a.s. dan Harun a.s.
kisah Dyas a.s.
kisah Luth a.s.
kisah Yunus a.s.

Lain-lain:

Sikap orang-orang kafir terhadap Al Qur’an
tuduh menuduh antara orang-orang kafir dengan pengikut-pengikutnya di hari Kiamat keni’matan di surga
tentang pohon zaqqum
celaan terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa Allah ber­anak
seorang yang baik belum tentu menurunkan keturunan yang baik pula.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ash-Shaffaat (37) ayat 102 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ash-Shaffaat (37) ayat 102 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ash-Shaffaat (37) ayat 102 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ash-Shaffaat - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 182 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 37:102
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Ash Shaffaat.

Surah As-Saffat (bahasa Arab:الصّافات, "Yang Bersaf-Saf") adalah surah ke-37 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 182 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Al-An'am.
Dinamai dengan As-Saffat (Yang Bersaf-Saf) diambil dari kata serupa yang terletak pada ayat permulaan surah ini yang menceritakan bagaimana para malaikat yang bersih jiwanya berbaris di hadapan Tuhannya di mana mereka tidak dapat digoda oleh setan.

Nomor Surah37
Nama SurahAsh Shaffaat
Arabالصافات
ArtiBarisan-barisan
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu56
JuzJuz 23
Jumlah ruku'5 ruku'
Jumlah ayat182
Jumlah kata866
Jumlah huruf3903
Surah sebelumnyaSurah Ya Sin
Surah selanjutnyaSurah Sad
4.5
Ratingmu: 4.3 (29 orang)
Sending









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  





Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta