QS. As Sajdah (Sajdah) – surah 32 ayat 27 [QS. 32:27]

اَوَ لَمۡ یَرَوۡا اَنَّا نَسُوۡقُ الۡمَآءَ اِلَی الۡاَرۡضِ الۡجُرُزِ فَنُخۡرِجُ بِہٖ زَرۡعًا تَاۡکُلُ مِنۡہُ اَنۡعَامُہُمۡ وَ اَنۡفُسُہُمۡ ؕ اَفَلَا یُبۡصِرُوۡنَ
Awalam yarau annaa nasuuqul maa-a ilal ardhil juruzi fanukhriju bihi zar’an ta’kulu minhu an’aamuhum wa-anfusuhum afalaa yubshiruun(a);

Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri.
Maka apakah mereka tidak memperhatikan?
―QS. 32:27
Topik ▪ Menyeru pada ketakwaan
32:27, 32 27, 32-27, As Sajdah 27, AsSajdah 27, As-Sajdah 27

Tafsir surah As Sajdah (32) ayat 27

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. As Sajdah (32) : 27. Oleh Kementrian Agama RI

Apakah orang-orang kafir itu buta, sehingga tidak dapat melihat bukti-bukti kebesaran dan kekuasaan Allah?
Di antaranya ialah: Allah menghalau awan ke tempat yang kering dan tandus yang tidak mempunyai tumbuh-tumbuhan di tempat itu.
Awan itu berubah menjadi air hujan yang menimpa tanah itu yang memungkinkan manusia mengalirkan air ke tanah-tanah yang kering, kemudian tanah itu menjadi subur dan ditumbuhi oleh bermacam-macam tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman, sebagian tanaman itu dimakan oleh manusia dan sebagian lagi oleh binatang ternak piaraan mereka.
Apakah mereka tidak melihat bukti-bukti yang demikian itu sehingga mereka dapat mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah, menghidupkan manusia yang telah mati dan membangkitkan mereka dari kuburnya?
Jika mereka mau memperhatikan tentulah mereka akan sampai kepada keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa, tidak ada yang sukar bagi-Nya.
Jika Dia menghendaki cukuplah Dia mengatakan “kun” (jadilah), maka jadilah yang dikehendaki-Nya itu.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Apakah penglihatan mereka benar-benar buta dan tidak bisa melihat bahwa Kami mengalirkan air hujan–melalui sungai–menuju tanah yang tak berpepohonan?
Lalu, dengan air itu, Kami menumbuhkan tanaman yang menjadi makanan hewan ternak, sementara mereka sendiri memakan buah dan bijinya?
Sekali lagi, apakah mereka buta sehingga tidak dapat menyaksikan bukti-bukti kekuasaan Allah menghidupkan orang mati?

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau awan yang mengandung air ke bumi yang tandus) yakni bumi yang tidak ada tumbuh-tumbuhan padanya (lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya dapat makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan?) hal tersebut sehingga menuntun mereka untuk mengetahui, bahwa Kami mampu untuk mengembalikan mereka hidup kembali sesudah mereka mati nanti.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Apakah orang-orang yang tidak mempercayai kebangkitan setelah kematian itu tidak melihat bahwa Kami menggiring air ke bumi yang kering lagi keras yang tidak bertanaman, lalu Kami menumbuhkan tanaman dengan berbagai macam warna yang dimakan oleh ternak-ternak mereka, dan mereka juga ikut memakannya sehingga mereka bisa hidup??
Apakah mereka tidak melihat nikmat-nikmat ini dengan mata mereka, lalu mereka pun akan mengetahui bahwa Allah yang melakukan hal itu mampu untuk menghidupkan manusia yang mati dan membangkitkan mereka dari alam kubur mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus.
(As Sajdah:27)

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan kasih sayang-Nya kepada makhluk-Nya dan kebaikan-Nya kepada mereka, yang antara lain Dia menghalau air yang adakalanya diturunkan dari langit (hujan) atau dari hulu-hulu sungai yang diturunkan dari atas bukit, lalu mengalir ke dataran-dataran rendah yang memerlukannya tepat pada waktunya.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

ke bumi yang tandus.
(As Sajdah:27)

Yaitu tanah yang tidak ada tetumbuhannya.
Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.
(Al Kahfi:8)

Yakni kering, tidak dapat menumbuhkan sesuatu pun.

Dan bukanlah yang dimaksud oleh firman-Nya: ke bumi yang tandus.
(As Sajdah:27) tanah Mesir saja, bahkan itu adalah sebagian dari makna yang dimaksud, Sekalipun banyak kalangan ulama tafsir yang menjadikannya sebagai contoh, tetapi sebenarnya bukan hanya tanah Mesir saja yang dimaksud oleh ayat ini.

Ditakwilkan demikian karena memang tanah Mesir itu sendiri merupakan tanah yang datar lagi luas serta keras.
Ia memerlukan air, tetapi bukan berupa air hujan, karena seandainya diturunkan hujan yang lebat padanya, tentulah bangunan-bangunannya akan roboh.
Karena itulah maka Allah menghalau air ke negeri Mesir melalui Sungai Nil yang membawa air hujan dari negeri Habsyah, yang mengandung lumpur merah, dan lumpur merah itu menutupi sebagian tanah Mesir yang merupakan tanah yang berpasir lagi tandus dan sangat memerlukan lumpur itu.
Berkat adanya lumpur itulah maka tanah Mesir dapat menumbuhkan tetumbuhan.
Dengan demikian, berarti setiap tahunnya para penduduk negeri Mesir dapat memanfaatkan air dari hujan yang diturunkan bukan di negerinya, juga beroleh lumpur dari bumi yang bukan berasal dari buminya.
Mahasuci Allah Yang Mahabijaksana, Mahamulia, Maha Pemberi anugerah, lagi Maha Terpuji selama-lamanya.

Ibnu Lahi’ah telah meriwayatkan dari Qais ibnu Hajjaj, dari seseorang yang menceritakan asar ini kepadanya, bahwa ketika negeri Mesir ditaklukkan, maka para penduduknya datang menghadap kepada Amr ibnul As yang saat itu menjabat sebagai amir di negeri Mesir, mereka datang menghadap kepadanya saat menjelang tiba suatu bulan yang menurut mereka disebut Ba’unah.
Mereka berkata, “Wahai Amirul Mu-minin, sesungguhnya Sungai Nil kami setiap tahunnya ada suatu bulan yang ia tidak mau mengalirkan airnya pada bulan itu.” Amr ibnul As bertanya, “Mengapa begitu?”
Mereka menjawab, “Apabila telah berlalu dua belas hari dari bulan ini, maka kami mencari seorang gadis yang menjadi anak pertama dari kedua orang tuanya.
Lalu kami membujuk kedua orang tuanya hingga dapat kami bawa untuk tumbal.
Dan kami pakaikan kepada anak gadis itu segala macam pakaian dan perhiasan yang terbaik yang ada di masa sekarang, sesudah itu kami lemparkan dia ke Sungai Nil (sebagai tumbal agar mau mengalir).” Amr ibnul As berkata’ kepada mereka, “Hal seperti itu tidak ada dalam Islam, sesungguhnya Islam itu menghapus apa yang biasa dilakukan sebelumnya.” Maka mereka diam saja di bulan Ba’unah itu tanpa mengadakan korban, sedangkan Sungai Nil tidak mengalir, sehingga hampir saja mereka berniat akan meninggalkan negeri Mesir.
Kemudian Amr ibnul As berkirim surat kepada Khalifah Umar ibnul Khattab untuk menceritakan perihal tradisi tersebut.
Maka Khalifah Umar menjawab suratnya yang isinya mengatakan, “Sesungguhnya apa yang kamu lakukan itu benar, dan sekarang aku kirimkan bersama surat ini kepadamu suatu kartu yang padanya tertulis surat dariku.
Lemparkanlah kartu ini ke Sungai Nil.” Setelah surat Khalifah Umar tiba dan dibaca oleh Amr ibnul As, ternyata di dalamnya tertulis kalimat berikut: Dari hamba Allah Umar Amirul Mu-minin, ditujukan kepada Sungai Nil penduduk negeri Mesir.
Amma Ba’du: Sesungguhnya kamu jika memang mengalir karena kehendakmu sendiri, maka janganlah kamu mengalir.
Dan sesungguhnya jika memang Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasalah yang mengalirkanmu, maka kami memohon kepada Allah semoga Dia membuatmu mengalir.
Maka Amr ibnul As melemparkan surat itu ke Sungai Nil.
Pada pagi hari Sabtu Allah telah membuat Sungai Nil menjadi mengalir sedalam enam belas hasta hanya dalam waktu satu malam.
Dan Allah telah menghapuskan tradisi itu dari negeri Mesir sampai sekarang.

Al-Hafiz Abul Qasim Al-Lalka’i At-Tabari telah meriwayatkan asar ini di dalam Kitabus Sunah-nya.

Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang darinya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri.
Maka apakah mereka tidak memperhatikan?
(As Sajdah:27)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain:

maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.
Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit).
(‘Abasa: 24-25)

Karena itulah dalam surat ini disebutkan:

Maka apakah mereka tidak memperhatikan?
(As Sajdah:26)

Ibnu Abu Nujaih telah meriwayatkan dari seorang lelaki dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: ke bumi yang tandus.
(As Sajdah:27) Yaitu bumi yang tidak mendapat air hujan dalam kadar yang mencukupinya terkecuali melalui banjir yang melewatinya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Mujahid, bahwa yang dimaksud adalah tanah yang ada di negeri Yaman.

Al-Hasan rahimahullah telah mengatakan, yang dimaksud adalah kota-kota yang ada di antara negeri Yaman dan negeri Syam.

Ikrimah, Ad-Dahhak, Qatadah, As-Saddi, dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa tanah yang tandus ialah tanah yang tidak ada tetumbuhannya lagi berdebu (berpasir).

Menurut kami, ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain, yaitu:

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati Kami hidupkan bumi itu.
(Yaa Siin:33), hingga akhir ayat.


Kata Pilihan Dalam Surah As Sajdah (32) Ayat 27

JURUZ
جُرُز

Arti kata juruz ialah bumi gersang yang tidak ada tanaman di atasnya. Kata juruz di­ ulang dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Kahfi (18), ayat 8 dan surah As Sajdah (32), ayat 27.

Dalam surah Al Kahfi (18), ayat 8, Allah menerangkan Dia menciptakan dunia se­bagai tempat yang dihiasi dengan perhiasan namun ia akan musnah. Dunia hanya tempat ujian manusia, siapakah antara mereka yang terbaik amalnya. Dunia bukan tempat yang kekal. Dalam ayat ini, Allah menegaskan dunia ini akan hilang, hancur, kosong, ber­akhir, pergi dan rusak.

Allah berfirman artinya, “Dan se­ sungguhnya kami benar-benar akan men­jadikan apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus (sha’iidan juruz)”. Maksudnya, setelah Allah menghiasi dunia dengan berbagai perhiasan, nantinya Dia akan meng­hancurkannya dan membinasakan semua apa yang ada di atasnya. Ada juga yang mengartikan “sha’iidan juruz” dengan bumi itu tidak dapat ditanami dan tidak dapat dimanfaatkan kembali.

Sedangkan dalam surah As Sajdah (32), ayat 27 Allah menerangkan diantara ke­kuasaanNya yaitu Dia menghalau awan yang mengandung air ke bumi yang tandus (al ardhil juruz), lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang dimakan oleh hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Semestinya yang demikian ini difikirkan manusia sehingga dia beriman kepada Allah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:171

Informasi Surah As Sajdah (السجدة)
Surat As Sajdah terdiri atas 30 ayat termasuk golongan surat Makkiyyah diturunkan sesudah surat Al Mu’minuun.
Dinamakan “As Sajdah” berhubung pada surat ini terdapat ayat sajdah, yaitu ayat yang kelima belas).

Keimanan:

Menyatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ itu benar-benar seorang rasul dan menjelaskan bahwa kepada musyrikin Mekah belum pernah diutus seorang rasulpun se­belumnya
menegaskan bahwa Allah Maha Esa, bahwa Dia-lab yang menguasai alam semesta dan Dialah yang mengatumya dengan aturan yang paling sempurna
me­nyatakan bahwa hari berbangkit benar-benar akan terjadi.

Hukum:

Anjuran melakukan shalat malam (shalat tahajud dan shalat witr).

Lain-lain:

Keterangan mengenai kejadian manusia di dalam rahim dan fase-fase yang dilalui­ nya sampai ia menjadi manusia
penjelasan bagaimana keadaan orang-orang mu’min di dunia dan ni’mat serta pahala-pahala yang disediakan Allah bagi mereka di akhirat
kehinaan yang menimpa orang-orang kafir di akhirat dan mereka pada waktu itu meminta supaya dikembalikan saja ke dunia untuk bertobat dan berbuat ke­ baikan, tetapi keinginan ini ditolak
keingkaran kaum musyrikin terhadap hari ber­bangldt dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah mustahil.

Ayat-ayat dalam Surah As Sajdah (30 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. As-Sajdah (32) ayat 27 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. As-Sajdah (32) ayat 27 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. As-Sajdah (32) ayat 27 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. As-Sajdah (32) ayat 23-30 - Abenk Alter (Bahasa Indonesia)
Q.S. As-Sajdah (32) ayat 23-30 - Abenk Alter (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. As-Sajdah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 30 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 32:27
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah As Sajdah.

Surah As-Sajdah (bahasa Arab :السّجدة) adalah surah ke-32 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 30 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Al-Mu’minun.
Dinamakan As-Sajdah berhubung pada surah ini terdapat ayat Sajdah (sujud), yaitu ayat yang kelima belas.

Nomor Surah32
Nama SurahAs Sajdah
Arabالسجدة
ArtiSajdah
Nama lainAl-Madhāji’, Alif Lam Mim As-Sajdah
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu75
JuzJuz 21
Jumlah ruku'3 ruku'
Jumlah ayat30
Jumlah kata375
Jumlah huruf1564
Surah sebelumnyaSurah Luqman
Surah selanjutnyaSurah Al-Ahzab
4.5
Ratingmu: 4.3 (9 orang)
Sending









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  





Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta