Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ar Rum

Ar Rum (Bangsa Romawi) surah 30 ayat 39


وَ مَاۤ اٰتَیۡتُمۡ مِّنۡ رِّبًا لِّیَرۡبُوَا۠ فِیۡۤ اَمۡوَالِ النَّاسِ فَلَا یَرۡبُوۡا عِنۡدَ اللّٰہِ ۚ وَ مَاۤ اٰتَیۡتُمۡ مِّنۡ زَکٰوۃٍ تُرِیۡدُوۡنَ وَجۡہَ اللّٰہِ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُضۡعِفُوۡنَ
Wamaa aataitum min riban liyarbuwa fii amwaalinnaasi falaa yarbuu ‘indallahi wamaa aataitum min zakaatin turiiduuna wajhallahi fa-uula-ika humul mudh’ifuun(a);

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.
Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).
―QS. 30:39
Topik ▪ Iman ▪ Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin ▪ Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan
30:39, 30 39, 30-39, Ar Rum 39, ArRum 39, Ar-Rum 39
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ar Rum (30) : 39. Oleh Kementrian Agama RI

Sebagian manusia menambahkan hartanya bukan untuk mencari keridaan Allah, tetapi untuk menambah banyaknya harta itu.
Pemberian seperti itu, yaitu dengan maksud memberi hadiah seorang dengan harapan akan dibalas dengan baik atau yang lebih banyak, tidak ada tambahannya di sisi Allah.
Dan si pemberi tidak akan mendapat pahala, tetapi hal itu tidak ada dosanya.
Demikian pendapat sebagian para ulama dan Sayid Qutb dalam bukunya: "Fi Zi lalil Quran" hal.
48 Jus 21.
Dan ayat ini turun karena adanya pemberian seperti itu.

Menurut Sya'by ayat itu maksudnya ialah bahwa usaha dan penghasilan yang diberikan kepada seseorang adalah untuk meringankannya, agar kelak dia dapat manfaat dari padanya dalam urusan dunianya.
Manfaat seperti itu, sebagai balasan dari usahanya, tidak ada tambahan di sisi Allah.
Hal itu diharamkan khususnya kepada Nabi ﷺ.
Tuhan berfirman:

Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
(Q.S.
Al Mudassir: 6)

Nabi dilarang memberi sesuatu dengan harapan mendapat balasan lebih banyak.

Para ulama berbeda pendapat mengenai si pemberi hadiah yang mengharapkan balasan lebih banyak.
Menurut Malik hal itu tergantung kepada keadaan.
Apabila balasan yang diharapkan itu dari si penerima yang lebih tinggi kedudukannya, maka hal itu tidak apa.
Seperti pemberian orang miskin kepada orang kaya, pemberian pelayan kepada tuannya, pemberian buruh kepada majikannya dan lain-lain.
Pendapat ini dianut juga oleh Imam Syafii.
Abu Hanifah berpendapat bahwa tidak ada balasan bagi si pemberi jika tidak diisyaratkan.
Dan pendapat ini juga termasuk salah satu fatwa (qaul) Syafii.
Beliau berkata: "Pemberian dengan mengharapkan balasan lebih banyak, batal, tidak ada manfaatnya, karena hal itu sama halnya dengan menjual dengan harga yang tidak diketahui.

Berkenaan dengan pemberian ini Nabi ﷺ pernah bersabda, yang diriwayatkan oleh 'Aisyah ra:

Rasulullah ﷺ menerima hadiah dan memberi balasan atas hadiah itu.
Beliau memberikan seekor unta perahan, dan tidak menyangkal pemiliknya ketika dia meminta balasan.
Beliau hanya mengingkari kemarahan pemberian hadiah itu karena pembalasan itu nilainya lebih dari nilai hadiah.
(H.R.
Bukhari)

Ali bin Abu Talib ra pernah menerangkan tentang pemberian yang benar.

Beliau mengatakan bahwa si pemberi tak luput dari tiga alternatif.

Pertama, si pemberi menginginkan rida Allah dengan pemberiannya itu dan mengharapkan pembalasan dari pada-Nya.

Kedua, dia ingin pujian dan sanjungan manusia dengan pemberiannya itu karena dia bersifat ria.

Ketiga dia ingin pembalasan dari si penerima hadiah.
Dalam ketiga hal ini
Nabi bersabda secara umum:

Perbuatan-perbuatan itu harus dengan niat, dan tiap-tiap manusia sesuai dengan yang diniatkannya.
(H.R.
Bukhari dan Muslim)

Adapun orang-orang yang menginginkan rida Allah dan mengharapkan pembalasan dari sisi-Nya dengan pemberian itu, maka pembalasan yang diharapkannya itu ada di sisi Allah dengan rahmat-Nya.
Hal ini ditegaskan oleh ayat 39 ini bagian akhir: "Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka orang-orang (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).

Begitu juga halnya orang yang ingin menghubungi familinya agar dia menjadi kaya, sehingga dia tidak menjadi beban bagi orang lain.
Niatnya seperti itu sama dengan golongan pemberi tersebut di atas.
Jika maksudnya untuk bermegah-megahan karena dunia, maka hal itu bukan karena Allah.
Dan jika pemberian itu dia maksudkan untuk mendapatkan hubungan keluarga dan famili, hal itu bukah karena Allah.

Adapun orang yang menginginkan sanjungan dan pujian manusia serta bersifat ria dengan pemberiannya itu, maka pemberian itu tak ada manfaatnya baginya.
Dia tidak diberi pahala di dunia maupun di akhirat kelak.
Dalam hal ini Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia.
(Q.S.
Al Baqarah: 264)

Adapun orang yang menginginkan pembalasan dari orang yang diberi itu, maka baginya apa yang diinginkannya itu dengan pemberiannya dia berhak menarik pemberian itu kembali selama dia belum menerima balasan sebanyak nilainya itu.
Demikian menurut lahir perkataan Umar bin Khatab dan Ali bin Abu Talib ra.
Dan bagaimana pendapat ulama mengenai hal ini telah diterangkan di atas.

Orang-orang yang memberi zakat dan yang menginginkan rida Allah, maka mereka itu adalah orang yang dilipat gandakan pahalanya.
Maksudnya ialah orang yang menafkahkan hartanya, seperti zakat, tanpa mengharapkan pembalasan dan ganti, maka pemberiannya itu akan dilipat gandakan Allah pahalanya.
Dengan syarat pemberian itu mencari keridaan Allah, dan ingin melepaskan kesengsaraan dan menutupi keperluan orang-orang yang berada dalam kesempitan.
Pemberian selain itu bukanlah termasuk amal saleh.

Ar Rum (30) ayat 39 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ar Rum (30) ayat 39 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ar Rum (30) ayat 39 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Harta yang kalian berikan kepada orang-orang yang memakan riba dengan tujuan untuk menambah harta mereka, tidak suci di sisi Allah dan tidak akan diberkahi.
Sedekah yang kalian berikan dengan tujuan untuk mengharapkan rida Allah, tanpa riya dan mengharapkan upah, maka itulah orang-orang yang memiliki kebaikan yang berlipat ganda.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan sesuatu riba atau tambahan yang kalian berikan) umpamanya sesuatu yang diberikan atau dihadiahkan kepada orang lain supaya orang lain memberi kepadanya balasan yang lebih banyak dari apa yang telah ia berikan, pengertian sesuatu dalam ayat ini dinamakan tambahan yang dimaksud dalam masalah muamalah (agar dia menambah pada harta manusia) yakni orang-orang yang memberi itu, lafal yarbuu artinya bertambah banyak (maka riba itu tidak menambah) tidak menambah banyak (di sisi Allah) yakni tidak ada pahalanya bagi orang-orang yang memberikannya.
(Dan apa yang kalian berikan berupa zakat) yakni sedekah (untuk mencapai) melalui sedekah itu (keridaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan) pahalanya sesuai dengan apa yang mereka kehendaki.
Di dalam ungkapan ini terkandung makna sindiran bagi orang-orang yang diajak bicara atau mukhathabin.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Harta yang kamu berikan sebagai hutang dengan tujuan mendapatkan riba, dan mencari tambahan dari hutang tersebut, agar ia tumbuh dan meningkat pada harta-harta manusia, maka ia di sisi Allah tidak bertambah, karena Allah justru membatalkan dan menghancurkannya.
Sementara apa yang kamu berikan dalam bentuk zakat dan sedekah kepada orang-orang yang berhak menerima demi mencari keridhaan Allah dan pahala dari-Nya, maka inilah yang diterima Allah dan dilipatgandakan untuk kalian dengan pelipatgandaan yang banyak.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Sesungguhnya pahala di sisi Allah itu hanyalah pahala zakat.
Karena itu, disebutkan dalam firman selanjutnya:

Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).
(Ar Ruum:39)

Merekalah orang-orang yang dilipatgandakan pahalanya oleh Allah, sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab sahih melalui sabda Nabi ﷺ:

Tidaklah seseorang menyedekahkan sesuatu yang semisal dengan sebiji kurma dari hasil yang halal, melainkan Tuhan Yang Maha Pemurah menerimanya dengan tangan kanan-Nya, lalu mengembangkannya buat pemiliknya sebagaimana seseorang di antara kalian memelihara anak kudanya atau anak untanya, hingga sebiji kurma itu menjadi lebih besar daripada Bukit Uhud.

Informasi Surah Ar Rum (الروم)
Surat Ar Ruum yang terdiri atas 60 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah diturun­kan sesudah ayat Al Insyiqaaq.

Dinamakan Ar Ruum karena pada permulaan surat ini, yaitu ayat 2, 3 dan 4 terdapat pemberitaan bangsa Rumawi yang pada mulanya dikalahkan oleh bangsa Persia, tetapi setelah beberapa tahun kemudian kerajaan Ruum dapat menuntut balas dan mengalahkan kerajaan Persia kembali.

Ini adalah salah satu dari mu'jizat Al Qur'an, yaitu memberitakan hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Dan juga suatu isyarat bahwa kaum muslimin yang demikian lemah­nya di waktu itu akan menang dan dapat menghancurkan kaum musyrikin.
Isyarat ini terbukti pertama kali pada perang Badar.

Keimanan:

Bukti-bukti atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ dengan memberitahukan kepada­nya hal yang ghaib seperti menangnya kembali bangsa Rumawi atas kerajaan Persia
bukti-bukti ke-Esaan Allah yang terdapat pada alam sebagai makhluk-Nya dan kejadian-kejadian pada alam itu sendiri
bukti-bukti atas kebenaran adanya hari berbangkit
contoh-contoh dan perumpamaanyang menjelaskan bahwa berhala­ berhala dan sembahan-sembahan itu tidak dapat menolong dan memberi manfa'at kepada penyembah-penyembahnya sedikitpun.

Hukum:

Kewajiban menyembah Allah dan mengakui ke-EsaanNya karena hal itu sesuai dengan fitrah manusia
kewajiban berda'wah
kewajiban memberikan nafkah (sedekah) kepada kaum kerabat, fakir miskin, rnusafir dan sebagainya
larangan mengikuti orang musyrik
hukum riba.

Kisah:

Pemberitaan tentang bangsa Rumawi sebagai suatu umat yang beragama walaupun dikalahkan pada mulanya oleh kerajaan Persia yang menyembah api akhirnya dapat menang kembali.

Lain-lain:

Manusia umumnya bersifat gembira dan bangga apabila mendapat nikmat dan ber­putus asa apabila ditimpa musibah, kecuali orang-orang yang beriman
kewajiban rasul hanya menyampaikan da'wah
kejadian-kejadian yang dialami oleh umat­ umat yang terdahulu patut menjadi i'tibar dan pelajaran bagi umat yang kemudian.

QS 30 Ar-Rum (37-40) - Indonesian - Nora Sampurna
QS 30 Ar-Rum (37-40) - Arabic - Nora Sampurna


Gambar Kutipan Surah Ar Rum Ayat 39 *beta

Surah Ar Rum Ayat 39



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ar Rum

Surah Ar-Rum (bahasa Arab: الرّوم) adalah surah ke-30 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 60 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sesudah surah Al-Insyiqaq.
Dinamakan Ar-Rum yang berarti Bangsa Romawi (Bizantium), karena pada permulaan surat ini, yakni ayat 2, 3 dan 4 (30:2-30:4) terdapat ramalan Al-Qur'an tentang kekalahan yang berlanjut dengan kebangkitan bangsa Romawi.

Nomor Surah 30
Nama Surah Ar Rum
Arab الروم
Arti Bangsa Romawi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 84
Juz Juz 21
Jumlah ruku' 6 ruku'
Jumlah ayat 60
Jumlah kata 820
Jumlah huruf 3472
Surah sebelumnya Surah Al-'Ankabut
Surah selanjutnya Surah Luqman
4.7
Rating Pembaca: 4.9 (11 votes)
Sending







✔ ar rum 39, Download tafsir qs rum 38-39

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku