QS. Ar Ra’d (Guruh (petir)) – surah 13 ayat 43 [QS. 13:43]

وَ یَقُوۡلُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَسۡتَ مُرۡسَلًا ؕ قُلۡ کَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًۢا بَیۡنِیۡ وَ بَیۡنَکُمۡ ۙ وَ مَنۡ عِنۡدَہٗ عِلۡمُ الۡکِتٰبِ
Wayaquulul-ladziina kafaruu lasta mursalaa qul kafa billahi syahiidan bainii wabainakum waman ‘indahu ‘ilmul kitaab(i);

Berkatalah orang-orang kafir:
“Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul”.
Katakanlah:
“Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab”.
―QS. 13:43
Topik ▪ Setiap nabi menerima ujian
13:43, 13 43, 13-43, Ar Ra’d 43, ArRad 43, Ar Rad 43, Ar-Ra’d 43

Tafsir surah Ar Ra'd (13) ayat 43

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ar Ra’d (13) : 43. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menunjukkan suatu dialog antara orang-orang kafir Mekah dan Rasulullah, di mana mereka mengingkari kerasulannya dengan mengatakan: “Engkau bukanlah seorang yang dijadikan Rasul.” Untuk menghadapi pengingkaran ini, maka Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad menjawabnya dengan mengatakan kepada mereka: “Cukuplah Allah menjadi saksi dalam pertentangan yang terjadi antara aku dan kamu.
Juga orang-orang yang mempunyai ilmu tentang Al-Kitab dari kalangan kamu yang telah masuk Islam dapat pula menjadi saksi tentang kebenaran kerasulanku.”

Sesuai dengan penegasan Allah dalam ayat yang lalu, bahwa tugas pokok Nabi Muhammad adalah menyampaikan agama Islam ini kepada manusia, maka beliau tidak perlu gelisah dalam menghadapi sikap ingkar dari kaum kafir tersebut.
Hal tersebut diserahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebab Dialah yang mengangkat dan mengutusnya menjadi Rasul-Nya.

Ulama-ulama ahlul kitab yang telah masuk Islam mereka menganut agama Islam karena mereka telah mengetahui bahwa dalam kitab Injil dan Taurat yang diwahyukan Allah kepada Nabi Isa dan Nabi Musa telah ada keterangan yang jelas tentang akan datangnya Nabi dan Rasul terakhir, yaitu Muhammad ﷺ., oleh karena itu mereka sama sekali tidak mengingkari kerasulan beliau.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tujuan yang dilakukan oleh orang-orang yang ingkar dan tidak tunduk kepada kebenaran adalah agar mereka mengatakan kepadamu, wahai Nabi, “Kamu bukan seorang utusan Allah.” Katakan kepada mereka, “Cukuplah bagiku, bahwa Allah dan orang yang mengetahui hakikat Al Quran dengan bukti-bukti kebenaran yang dapat dipahami oleh akal sehat, menjadi hakim antara aku dan kalian.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Berkatalah orang-orang kafir) kepadamu (“Kamu bukan seorang yang dijadikan rasul.” Katakanlah) kepada mereka (“Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kalian) atas kebenaranku (dan antara orang yang mempunyai ilmu Kitab.”) dari kalangan orang-orang yang beriman, Yahudi dan Nasrani.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang yang kafir mengatakan kepada Nabi Allah :
Wahai Muhammad, Allah tidak mengutusmu.
Katakanlah kepada mereka :
Cukuplah Allah sebagai saksi atas kebenaranku dan kedustaan kalian.
Cukuplah persaksian orang-orang yang memiliki ilmu al-Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani, yaitu orang-orang yang telah beriman kepada risalahku dan ajaran yang aku bawa dari sisi Allah, serta mengikuti kebenaran, lalu menyatakan persaksian tersebut dan tidak menyembunyikannya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah berfirman, bahwa orang-orang kafir itu mendustakanmu (Muhammad) dan mereka mengatakan:

Kamu bukan seorang yang dijadikan rasul.

Artinya, Allah tidaklah menjadikanmu sebagai seorang rasul.

Katakanlah, “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kalian.

Yakni cukuplah Allah sebagai saksi antara aku dan kalian yang menyaksikan atas diriku terhadap apa yang aku sampaikan dari risalah­Nya, dan menjadi saksi atas kalian, hai orang-orang yang berdusta dalam ucapannya, apa yang kalian buat-buat itu adalah kedustaan belaka.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan antara orang yang mempunyai ilmu Al-Kitab.”

Menurut suatu pendapat, ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Salam, menurut Mujahid.
Tetapi pendapat ini dinilai garib, mengingat ayat ini adalah ayat Makkiyyah, sedangkan Abdullah ibnu Salam hanya baru masuk Islam setelah Nabi ﷺ tiba di Madinah.

Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah yang dikemukakan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, bahwa mereka adalah sebagian dari kalangan pemeluk agama Yahudi dan Nasrani.
Qatadah menegaskan bahwa di antara mereka adalah Ibnu Salam, Salman, dan Tamim Ad-Dari.

Dalam suatu riwayat yang bersumberkan darinya Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Allah subhanahu wa ta’ala.
Disebutkan bahwa Sa’id ibnu Jubair mengingkari bila makna yang dimaksud oleh ayat ini adalah Abdullah ibnu Salam, dengan alasan bahwa ayat ini Makkiyyah.
Dan ia membaca ayat ini: dan antara orang yang mempunyai ilmu Al-Kitab.
(Ar Ra’du:43) Lalu ia mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah ilmu dari sisi Allah.
Bacaan yang sama dikemukakan oleh Mujahid dan Al-Hasan Al-Basri.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui hadis Harun Al-A’war, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah ﷺ membaca ayat ini dengan bacaan:

…dan antara orang yang mempunyai ilmu Al-Kitab.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa hadis ini tidak ada pokoknya melalui riwayat Az-Zuhri di kalangan para perawi yang siqah.

Menurut kami, hadis ini telah diriwayatkan oleh Abu Ya’la di dalam kitab Musnad-nya melalui jalur Harun ibnu Musa melalui Sulaiman ibnu Arqam — sedangkan dia berpredikat daif—, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya secara marfu’ pula, tetapi masih belum kuat.

Pendapat yang benar sehubungan dengan masalah ini ialah yang mengatakan bahwa firman-Nya:

…dan antara orang yang mempunyai.

Lafaz min adalah isim jinis yang pengertiannya mencakup ulama ahli kitab yang menjumpai sifat Nabi Muhammad dan ciri khasnya dalam kitab-kitab mereka yang terdahulu melalui berita-berita gembira yang diwartakan oleh para nabi.
Perihalnya sama dengan pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.
Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Yaitu), orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil.
(Al A’raf:156-157)

Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?
(Asy Syu’ara:197), hingga akhir ayat.

Demikian pula dalam ayat-ayat lainnya yang semisal yang di dalamnya disebutkan berita tentang ulama Bani Israil, bahwa mereka mengetahui hal tersebut melalui kitab-kitab suci mereka.
Telah disebutkan pula di dalam hadis mengenai para rahib yang diriwayatkan melalui Abdullah ibnu Salam, bahwa ia telah masuk Islam di Mekah sebelum hijrah.

Al-Hafiz Abu Na’im Al-Asbahani di dalam kitab Dalailun Nubuwwah (yaitu sebuah kitab yang besar) menyebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad At-Tabrani, telah menceritakan kepada kami Abdan ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Musaffa, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, dari Muhammad ibnu Hamzah ibnu Yusuf ibnu Abdullah ibnu Salam, dari ayahnya, dari kakeknya (yaitu Abdullah ibnu Salam), bahwa ia pernah berkata kepada para rahib Yahudi, “Sesungguhnya aku bermaksud memperbaharui perjanjian di masjid bapak kami, Ibrahim dan Ismail.” Maka berangkatlah Ibnu Salam menuju tempat Rasulullah ﷺ yang saat itu masih berada di Mekah.
Ibnu Salam menjumpai orang-orang baru pulang dari menunaikan ibadah haji, dan ia menjumpai Rasulullah ﷺ di Mina.
Saat itu beliau sedang dikelilingi oleh banyak orang.
Maka ia ikut bergabung bersama orang-orang itu.

Ketika Rasulullah ﷺ melihatnya, beliau bertanya, “Apakah kamu yang bernama Abdullah ibnu Salam?”
Ia menjawab, “Ya.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Mendekatlah kamu.” Ibnu Salam mendekat kepada Rasulullah ﷺ, kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Saya mau ber­tanya kepadamu dengan nama Allah, hai Abdullah ibnu Salam.
Bukankah kamu menjumpai di dalam kitab Taurat nama Rasulullah?”
Ibnu Salam balik bertanya, “Ceritakanlah tentang Tuhan kita!” Rasulullah ﷺ pada saat itu juga kedatangan Malaikat Jibril yang langsung berdiri di hadapannya.
Lalu Malaikat Jibril menyampaikan firman Allah subhanahu wa ta’ala.: Katakanlah, “Dialah Allah Yang Maha Esa.
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (Al-Ikhlas: 1-2), hingga akhir surat.

Kemudian Rasulullah ﷺ membacakan surat Al-Ikhlas itu kepada Abdullah ibnu Salam Setelah itu Ibnu Salam berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah.” Setelah peristiwa itu Abdullah ibnu Salam kembali ke Madinah dan menyembunyikan keislamannya.

Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, Abdullah ibnu Salam sedang berada di atas pohon kurma, memetik buahnya.
Maka setelah mendengar berita itu ia menjatuhkan dirinya dari atas pohon kurma.

Ibunya berkata, “Ya Allah, apa yang engkau lakukan ini?
Seandainya yang datang itu adalah Musa ibnu Imran, tidaklah layak bagimu menjatuhkan dirimu dari puncak pohon kurma itu.” Abdullah ibnu Salam menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya aku lebih gembira dengan kedatangan Rasulullah ﷺ ketimbang Musa ibnu Imran saat dia diutus.” Hadis ini berpredikat garib sekali.

Demikianlah akhir dari tafsir surat Ar-Ra’d, segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala.


Informasi Surah Ar Ra'd (الرعد)
Surat Ar Ra’d ini terdiri atas 43 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Surat ini dinamakan “Ar Ra’d” yang berarti “guruh” karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya “Dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya”,
menunjukkan sifat kesucian dan kesempumaan Allah subhanahu wa ta’ala Dan lagi sesuai dengan sifat Al Qur’an yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan ha­rapan kepada manusia.

Isi yang terpenting dari surat ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat.
Bagi Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dari ketaatan atau ke­ ingkaran terhadap hukum Allah.

Keimanan:

Allah-lah yang menciptakan alam semesta serta mengaturnya
ilmu Allah meliputi segala sesuatu
adanya malaikat yang selalu memelihara manusia yang datang silih berganti, yaitu malaikat Hafazhah
hanya Allah yang menerima do’a dari hamba­ Nya
memberi taufiq hanya hak Allah, sedang tugas para rasul menyampaikan agama Allah.

Hukum:

Manusia dilarang mendo’akan yang jelek-jelek untuk dirinya
kewajiban mencegah perbuatan-perbuatan yang mungkar.

Kisah:

Kisah pengalaman nabi-nabi zaman dahulu.

Lain-lain:

Beberapa sifat yang terpuji
perumpamaan bagi orang-orang yang menyembah ber­hala dan orang-orang yang menyembah Allah
Allah tidak merobah nasib sesuatu bangsa sehingga mereka merobah keadaan mereka sendiri.

Ayat-ayat dalam Surah Ar Ra'd (43 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ar-Ra'd (13) ayat 43 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ar-Ra'd (13) ayat 43 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ar-Ra'd (13) ayat 43 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ar-Ra'd - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 43 & Terjemahan


Gambar



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Ar-Ra'd (bahasa Arab:الرّعد, ar-Ra'd, "Guruh") adalah surah ke-13 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 43 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan Ar-Ra'd yang berarti Guruh (Petir) karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya ...dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya, menunjukkan sifat kesucian dan kesempurnaan Allah subhanahu wa ta'ala, dan lagi sesuai dengan sifat Al-Quran yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan harapan kepada manusia.
Isi yang terpenting dari surah ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat.
Bagi Allah subhanahu wa ta'ala tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dan ketaatan atau keingkaran terhadap hukum Allah.

Nomor Surah13
Nama SurahAr Ra'd
Arabالرعد
ArtiGuruh (petir)
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu96
JuzJuz 13 (ayat 1-43)
Jumlah ruku'3 ruku'
Jumlah ayat43
Jumlah kata854
Jumlah huruf3541
Surah sebelumnyaSurah Yusuf
Surah selanjutnyaSurah Ibrahim
4.7
Ratingmu: 4.7 (21 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/13-43









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta