Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Ar Ra’d (Guruh (petir)) – surah 13 ayat 41 [QS. 13:41]

اَوَ لَمۡ یَرَوۡا اَنَّا نَاۡتِی الۡاَرۡضَ نَنۡقُصُہَا مِنۡ اَطۡرَافِہَا ؕ وَ اللّٰہُ یَحۡکُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُکۡمِہٖ ؕ وَ ہُوَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ
Awalam yarau annaa na’tiil ardha nanqushuhaa min athraafihaa wallahu yahkumu laa mu’aqqiba lihukmihi wahuwa sarii’ul hisaab(i);
Dan apakah mereka tidak melihat bahwa Kami mendatangi daerah-daerah (orang yang ingkar kepada Allah), lalu Kami kurangi (daerah-daerah) itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?
Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya;
Dia Mahacepat perhitungan-Nya.
―QS. Ar Ra’d [13]: 41

Have they not seen that We set upon the land, reducing it from its borders?
And Allah decides;
there is no adjuster of His decision.
And He is swift in account.
― Chapter 13. Surah Ar Ra’d [verse 41]

أَوَلَمْ ataukah tidak / bukan

Did not
يَرَوْا۟ mereka melihat

they see
أَنَّا bahwasanya Kami

that We
نَأْتِى Kami mendatangi

come
ٱلْأَرْضَ bumi/daerah

(to) the land,
نَنقُصُهَا Kami menguranginya

reducing it
مِنْ dari

from
أَطْرَافِهَا tepi-tepinya

its borders?
وَٱللَّهُ dan Allah

And Allah
يَحْكُمُ menetapkan

judges;
لَا tidak

(there is) no
مُعَقِّبَ dapat menolak

adjuster
لِحُكْمِهِۦ bagi ketetapan hukumNya

(of) His Judgment.
وَهُوَ dan Dia

And He
سَرِيعُ Maha Cepat

(is) Swift
ٱلْحِسَابِ perhitungan

(in) the reckoning.

Tafsir

Alquran

Surah Ar Ra’d
13:41

Tafsir QS. Ar Ra’d (13) : 41. Oleh Kementrian Agama RI


Dalam ayat ini, Allah ﷻ memperlihatkan pula sisi lain dari kekuasaan-Nya dalam menimpakan hukuman terhadap orang-orang kafir, yaitu dengan cara mengurangi luas daerah negeri mereka sedikit demi sedikit.
Pengurangan daerah mereka itu, mungkin disebabkan bencana alam yang diturunkan Allah kepada mereka, sehingga sebagian dari daerah mereka menjadi rusak dan tidak dapat didiami lagi;
atau karena terjadi peperangan, sehingga wilayah kekuasaannya dikuasai bangsa lain dan mereka menjadi terdesak atau diusir dari negeri mereka.


Selanjutnya, dalam ayat ini dijelaskan kekuasaan Allah dalam hal menetapkan hukum menurut hikmah dan kehendak-Nya, dan hukum yang telah ditetapkan-Nya tidak akan dapat ditolak atau dibantah oleh siapapun juga.


Pada akhir ayat ini, ditegaskan bahwa Allah cepat sekali mengadakan perhitungan terhadap perbuatan hamba-Nya, sehingga mereka yang beriman dan berbuat kebajikan akan memperoleh ganjaran kebaikan, sedang mereka yang ingkar kepada-Nya dan berbuat kezaliman pasti mendapat siksa dan kemurkaan-Nya.

Segala perbuatan hamba-Nya tidak akan luput dari perhitungan Allah.

Tafsir QS. Ar Ra’d (13) : 41. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Sesungguhnya tanda-tanda siksa dan kekalahan telah ada.
Apakah mereka tidak melihat bahwa Kami mendatangi tanah yang telah mereka kuasai, pada saat orang-orang Mukmin mengambilnya dari orang-orang musyrik sebagian demi sebagian.


Dengan demikian, Kami telah mengikis daerah kekuasaan di sekitar mereka.
Allah sendirilah yang menentukan kemenangan, kekalahan, pahala, dan siksa.


Tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya.
Perhitungan-Nya cepat dan tepat, tidak memerlukan waktu yang panjang, karena bagi-Nya pengetahuan segala sesuatu, sedang bukti-bukti nyata telah ada[1].


[1] Ayat ini mengandung penemuan penemuan baru tentang bumi.
Yaitu, pertama, bahwa kecepatan rotasi bumi dan resultannya menyebabkan dua kutubnya bertambah datar, maka terjadi pengurangan pada dua tepian bumi.


Kedua, molekul-molekul atmosfer yang meluncur sangat cepat apabila telah melampaui ruang gravitasi bumi akan terlempar jauh ke luar kawasannya.
Karena hal itu terjadi secara terus menerus, maka terjadi pengurangan pada tepian-tepian bumi secara terus-menerus pula.


Penemuan ini bisa kita pakai sebagai tafsiran lain dari kata al-ardl yang di sini dan mayoritas buku tafsir diartikan dengan tanah kekuasaan musuh Islam.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Apakah orang-orang kafir itu tidak melihat bahwa Kami mendatangi bumi untuk menguranginya dari tepi-tepinya, yaitu lewat penalukkan kaum muslimin terhadap negeri-negeri kaum musyrik dan menggabungkannya dengan negeri-negeri kaum muslimin?
Allah menetapkan hukun, dan tiada yang dapat menolak hukum dan ketetapan-Nya, dan Dia sangat cepat perhitungan-Nya.
Karena itu, janganlah mereka meminta azab disegerakan, karena setiap yang akan datang itu dekat.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan apakah mereka tidak melihat) yang dimaksud adalah penduduk Mekah


(bahwa sesungguhnya Kami mendatangkan daerah-daerah) orang-orang kafir


(lalu Kami kurangi daerah-daerah itu dari tepi-tepinya?) yaitu melalui pembukaan/penaklukan yang dilakukan oleh Nabi ﷺ


(Dan Allah menetapkan hukum) atas makhluk-Nya menurut kehendak-Nya


(tidak ada yang dapat menolak) tiada seorang pun yang dapat menolak


(ketetapan-Nya, dan Dialah Yang Maha Cepat hisab-Nya.)

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami men­datangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?

Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksudnya adalah ‘tidakkah mereka (orang-orang kafir itu) melihat bahwa Kami memberikan kemenangan kepada Muhammad ﷺ melalui penaklukan yang dilakukannya daerah demi daerah?’.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa maksudnya ‘apakah mereka tidak melihat kepada negeri itu yang dibinasakan, sedangkan di daerah yang lainnya terjadi keramaian?’.

Mujahid dan Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit), dari tepi-tepinya?
Yakni kerusakannya.


Menurut Al-Hasan dan Ad-Dahhak, makna yang dimaksud ialah kemenangan kaum muslim atas orang-orang musyrik.

Ibnu Abbas —menurut riwayat Al-Aufi— menyebutkan bahwa makna yang dimaksud ialah berkurangnya penduduk daerah itu dan berkurangnya keberkatan daerah tersebut.

Menurut Mujahid, makna yang dimaksud ialah berkurangnya jiwa, hasil buah-buahan, dan rusaknya daerah itu.


Asy-Sya’bi mengatakan,
"Jika yang berkurang itu adalah daerahnya, tentulah kamu akan merasakan bahwa bumi semakin sempit bagimu.
Tetapi yang berkurang ialah jiwa penduduknya dan hasil buah-buahannya."


Hal yang sama dikatakan oleh Ikrimah.
Ikrimah mengatakan,
"Seandainya yang dikurangi itu adalah buminya, tentulah kamu tidak dapat menemukan suatu tempat pun buat kamu duduk (tinggal),"
tetapi makna yang dimaksud ialah kematian.

Menurut suatu riwayat, Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah rusaknya daerah-daerah itu dengan kematian ulama, ahli fiqih, dan ahli kebaikannya.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, bahwa makna yang dimaksud ialah meninggalnya ulamanya.

Sehubungan dengan pengertian ini Al-Hafiz Ibnu Asakir telah mengatakan dalam biografi Ahmad ibnu Abdul Aziz Abul Qasim Al-Masri (seorang pemberi wejangan penduduk Asbahan) bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Talhah ibnu Asad Al-Murri di Dimasyq, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Ajari di Mekah, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Namzal syair berikut yang ia tujukan bagi dirinya sendiri:
Bumi menjadi hidup selagi orang alimnya hidup.
Bilamana ada seorang alim darinya yang mati, maka matilah sebagian dari daerahnya.
Perihalnya sama dengan bumi yang tetap hidup selagi hujan masih menyiraminya, dan jika hujan tidak menyirami­nya, maka akan terjadi kerusakan pada daerah-daerahnya (yang tidak tersirami hujan).

Pendapat pertamalah yang paling utama, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah kemenangan agama Islam atas kemusyrikan daerah demi daerah.
Makna ayat ini semisal dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu.
(QS. Al-Ahqaaf [46]: 27), hingga akhir ayat.

Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Kata Pilihan Dalam Surah Ar Ra’d (13) Ayat 41

ATHRAAF
أَطْرَاف

Lafaz ini adalah jamak dari ath tharf, digunakan bagi mufrad dan jamak.
la mengandung makna mata seperti pada makna ayat "laa yartaddu ilaihim tharfuhum wa af idatuhum hawaa’", sisi sesuatu, penghabisan segala sesuatu, pandangan, daerah, arah, golongan.
Athraaf juga jamak dari ath thirf.

Al Asma’i berkata,
"Ia bermakna yang baik dari seekor kuda, manusia dan sebagainya."

Lafaz ini disebut tiga kali dalam Al Qur’an yaitu pada surah:
-Ar Ra’d (13), ayat 41,
-Tha Ha (20), ayat 130,
-Al Anbiyaa (21), ayat 44.
Ibn Faris berkata,
"Ia mempunyai dua makna.

Pertama, ath tharf yang menunjukkan kepada batasan sesuatu dan tepinya.

Kedua, ath tharf yang menunjukkan kepada pergerakan pada sebahagian anggota yaitu menggerakkan pelupuk mata.

Al Fayruz Abadi berkata,
"Maksud dalam surah Ar Ra’d ialah tepi-tepinya dan ini berdasarkan penafsiran siapa yang menjadikan maksud nanqushuha min atraafihaa adalah pembukaan negeri-negeri.
Bagi siapa yang menafsirkannya dengan kematian ulamanya, maka maksud atraf al ardh ialah ulamaulama dan pembesar-pembesarnya."

Ibn Arafah menerangkan, "Makna min atraafihaa ialah dibuka di sekitar Makkah ke atas Nabi Muhammad, maknanya, "Tidakkah kamu melihat kami membuka dan membebaskan kepada orang Islam bahagian dari bumi sebagaimana yang dijelaskan kepada mereka terangnya apa yang kami janjikan kepada Nabi Muhammad."

Ibn Abbas dan Mujahid berkata,
"Ia bermakna kematian ulamaulama dan pembesar-pernbesarnya, sebagaimana yang disebut Waki’ bin Al Jarrah dari Talhah bin ‘Umayr, dari Ata’ bin Abi Rabah, di mana maksudnya ialah kematian ulama-ulamanya dan yang terpilih dari penduduknya.

Diriwayatkan juga dari Ibn Abbas, Mujahid dan Ibn Juraij, maksudnya ialah hilangnya keberkatan bumi, buah-buahannya dan penduduknya.
Ada yang berpendapat, kerusakannya disebabkan kejahatan pembesar-pembesarnya dan makna ini yang disetujui oleh Al Qurtubi.
Beliau berkata,
"Kejahatan dan kezaliman merusakkan negeri dengan penduduknya yang terbunuh serta terangkatnya dari bumi sebuah keberkatan." Sedangkan dalam surah Tha Ha dihubungkan dengan an-nahar yaitu tengah hari.

Al- Fayruz Abadi berpendapat, maksudnya ialah dua jam dari awal tengah hari dan akhirnya.
Ia juga bermaksud lawan bagi anan’ al lail yaitu pada saat dan waktu untuk bertahajjud.
Dalam Tafsir Al-Jalalain, ia bermaksud shalat Zuhur karena waktunya masuk ketika matahari condong yaitu tepi dari bahagian yang pertama dan tepi dari bahagian kedua.

Kesimpulannya, maksud lafaz athraaf terbagi kepada dua.

Pertama, bermaksud kekalahan negeri sehingga terbunuhnya ulama serta para pembesar-pembesarnya sebagaimana dalam surah Ar Ra’d dan Al Anbiyaa.

Kedua, bermaksud shalat Zuhur atau awal tengah hari dan akhirnya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 84-85

Unsur Pokok Surah Ar Ra’d (الرعد)

Surat Ar-Ra’d ini terdiri atas 43 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Surat ini dinamakan "Ar-Ra’d" yang berarti "guruh" karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya, "Dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya",
menunjukkan sifat kesucian dan kesempumaan Allah subhanahu wa ta’ala.
Dan lagi sesuai dengan sifat Alquran yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan harapan kepada manusia.

Isi yang terpenting dari surat ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat.
Bagi Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dari ketaatan atau keingkaran terhadap hukum Allah.

Keimanan:

▪ Allah-lah yang menciptakan alam semesta serta mengaturnya.
▪ Ilmu Allah meliputi segala sesuatu.
▪ Adanya malaikat yang selalu memelihara manusia yang datang silih berganti, yaitu malaikat Hafazhah.
▪ Hanya Allah yang menerima do’a dari hamba Nya.
▪ Memberi taufiq hanya hak Allah, sedang tugas para rasul menyampaikan agama Allah.

Hukum:

▪ Manusia dilarang mendoakan yang jelek-jelek untuk dirinya.
▪ Kewajiban mencegah perbuatan-perbuatan yang mungkar.

Kisah:

▪ Kisah pengalaman nabi-nabi zaman dahulu.

Lain-lain:

▪ Beberapa sifat yang terpuji.
▪ Perumpamaan bagi orang-orang yang menyembah berhala dan orang-orang yang menyembah Allah.
▪ Allah tidak mengubah nasib suatu bangsa sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri.

Ayat-ayat dalam Surah Ar Ra’d (43 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43

Lihat surah lainnya

Audio

QS. Ar-Ra'd (13) : 1-43 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 43 + Terjemahan Indonesia

QS. Ar-Ra'd (13) : 1-43 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 43

Gambar Kutipan Ayat

Surah Ar Ra'd ayat 41 - Gambar 1 Surah Ar Ra'd ayat 41 - Gambar 2
Statistik QS. 13:41
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Ar Ra’d.

Surah Ar-Ra’d (bahasa Arab:الرّعد, ar-Ra’d, “Guruh”) adalah surah ke-13 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 43 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan Ar-Ra’d yang berarti Guruh (Petir) karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya …dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya, menunjukkan sifat kesucian dan kesempurnaan Allah subhanahu wa ta’ala, dan lagi sesuai dengan sifat Alquran yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan harapan kepada manusia.
Isi yang terpenting dari surah ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat.
Bagi Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dan ketaatan atau keingkaran terhadap hukum Allah.

Nomor Surah13
Nama SurahAr Ra’d
Arabالرعد
ArtiGuruh (petir)
Nama lain
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu96
JuzJuz 13 (ayat 1-43)
Jumlah ruku’3 ruku’
Jumlah ayat43
Jumlah kata854
Jumlah huruf3541
Surah sebelumnyaSurah Yusuf
Surah selanjutnyaSurah Ibrahim
Sending
User Review
4.5 (29 votes)
Tags:

13:41, 13 41, 13-41, Surah Ar Ra'd 41, Tafsir surat ArRad 41, Quran Ar Rad 41, Ar-Ra’d 41, Surah Ar Rad ayat 41

▪ Qs ar ra\du 41
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Hajj (Haji) – surah 22 ayat 37 [QS. 22:37]

37. Allah menjelaskan bahwa daging hewan kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, karena kurban itu bukan sesajen dan Allah tidak membutuhkan darah dan daging, tetapi yang s … 22:37, 22 37, 22-37, Surah Al Hajj 37, Tafsir surat AlHajj 37, Quran Al-Haj 37, Alhaj 37, Al Haj 37, Al-Hajj 37, Surah Al Hajj ayat 37

QS. Yunus (Nabi Yunus) – surah 10 ayat 91 [QS. 10:91]

Mendengar pernyataan Firaun bahwa dia beriman dan menyerahkan diri ketika ajal akan menghampirinya, lalu dijawab dalam ayat ini dengan pernyataan keras, Mengapa baru sekarang kamu beriman, padahal ses … 10:91, 10 91, 10-91, Surah Yunus 91, Tafsir surat Yunus 91, Quran Yunus 91, Surah Yunus ayat 91

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Allah memiliki sifat Al Kariim yang tercantum dalam Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

Tuhan memiliki sifat Al Karim, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala merupakan zat Yang ..

Benar! Kurang tepat!

Tuhan memiliki sifat Al Matiin, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah zat Yang ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Arti fana adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Dalam Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al Matiin yang tercantum dalam Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #1
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #1 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #1 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #6

Alquran bertindak sebagai Hudan, yang artinya adalah … pelindung penyemangat penyinar di alam kubur pewaris sebuah petunjuk Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #7

Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum … amaliyah i’tiqadiyah fiqih jinayah khuluqiyah Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #2

Allah memiliki sifat Yang Maha Mengumpulkan, yang artinya … Al Akhir Al ‘Azim Al Jamii’ Al ‘Aziz Al Azhar Benar!

Instagram