Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Ar Ra’d (Guruh (petir)) – surah 13 ayat 39 [QS. 13:39]

یَمۡحُوا اللّٰہُ مَا یَشَآءُ وَ یُثۡبِتُ ۚۖ وَ عِنۡدَہٗۤ اُمُّ الۡکِتٰبِ
Yamhuullahu maa yasyaa-u wayutsbitu wa’indahu ummul kitaab(i);
Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki.
Dan di sisi-Nya terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).
―QS. Ar Ra’d [13]: 39

Daftar isi

Allah eliminates what He wills or confirms, and with Him is the Mother of the Book.
― Chapter 13. Surah Ar Ra’d [verse 39]

يَمْحُوا۟ menghapus

(Is) eliminated
ٱللَّهُ Allah

(by) Allah
مَا apa

what
يَشَآءُ Dia kehendaki

He wills,
وَيُثْبِتُ dan Dia menetapkan

and confirms,
وَعِندَهُۥٓ dan disisinya

and with Him
أُمُّ Ummul

(is) the Mother (of) the Book. *[meaning includes next or prev. word]
ٱلْكِتَٰبِ Kitab

(is) the Mother (of) the Book. *[meaning includes next or prev. word]

Tafsir

Alquran

Surah Ar Ra’d
13:39

Tafsir QS. Ar Ra’d (13) : 39. Oleh Kementrian Agama RI


Pada ayat ini, Allah ﷻ menerangkan satu sisi dari kekuasaan-Nya, yaitu menghapuskan atau menetapkan apa-apa yang dikehendaki-Nya, baik mengenai syariat-Nya atau nasib manusia.


Tanda-tanda adanya penghapusan dan penetapan Allah, ialah adanya siang dan malam yang datang silih berganti, adanya gelap dan terang, hidup dan mati, kuat dan lemah, sehat dan sakit, bahagia dan sengsara, kaya dan miskin, dan sebagainya.


Pada akhir ayat ini, Allah ﷻ menjelaskan bahwa di sisi-Nya atau Lauh Mahfuzh terdapat Ummul Kitab.
Semua peristiwa dan kejadian yang terjadi di alam ini tertulis di Lauh Mahfuzh yang tidak akan mengalami perubahan dan penggantian apapun.


Berdasarkan pengertian tersebut maka ayat ini juga merupakan bantahan terhadap tuntutan kaum kafir dan musyrik yang meminta kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mendatangkan ayat-ayat atau bukti-bukti kenabian dan kerasulannya, selain Al-Quran.
Hal tersebut tidak akan pernah terjadi, kecuali jika hal itu termasuk dalam ketentuan yang ditetapkan Allah atau telah ada dalam Lauh Mahfuzh.

Tafsir QS. Ar Ra’d (13) : 39. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Allah bebas menghapus dan menetapkan syariat dan mukjizat yang Dia kehendaki.
Inti ajaran semua syariat yang tetap dan tidak mungkin berubah, yaitu kemahaesaan-Nya, inti-inti kebaikan, dan lain-lain, ada pada-Nya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Allah menghapuskan hukumhukum yang dikehendaki-Nya dan selainnya, dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya karena suatu hikmah yang diketahui-Nya.
Di sisi-Nya terdapat induk kitab, yaitu Lauh Mahfuzh, yang didalamnya telah ditetapkan semua ihwal makhluk hingga hari Kiamat.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Allah menghapuskan) daripada kitab itu


(apa yang dikehendaki-Nya dan menetapkan) dapat dibaca yutsbitu atau yutsabbitu, artinya hukumhukum dan masalah-masalah lainnya yang dikehendaki-Nya untuk dihapus atau ditetapkan


(dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab) asal kitab yang tidak berubah sedikit pun daripadanya, yaitu kitabkitab-Nya di zaman azali.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Mengenai makna firman Allah subhanahu wa ta’ala, yang mengatakan:

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).


Ulama tafsir berselisih pendapat mengenai penafsirannya.


As-Sauri, Waki’, dan Hasyim telah meriwayatkan dari Ibnu Abu Laila, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa Allah-lah yang mengatur urusan sunnah (hukum).
Maka Dia menghapuskan apa yang dikehendaki-Nya, terkecuali nasib celaka, nasib bahagia, hidup, dan mati.


Di dalam riwayat lain sehubungan dengan makna firman-Nya:

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).
Disebutkan bahwa segala sesuatu yang Dia kehendaki untuk dihapus, Dia menghapusnya, kecuali mati, hidup, celaka, dan bahagia, karena sesungguhnya urusan tersebut telah diselesaikan oleh-Nya.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).
Kecuali hidup, mati, celaka, dan bahagia, hal tersebut tidak berubah.


Mansur mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Mujahid tentang doa seseorang seperti berikut:
"Ya Allah, jika namaku berada dalam golongan orang-orang yang berbahagia, maka tetapkanlah namaku itu di antara mereka.
Dan jika namaku berada dalam golongan orang-orang yang celaka, maka hapuskanlah namaku dari golongan mereka, dan jadikanlah namaku termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berbahagia."
Maka Mujahid menjawab,
"Baik."
Kemudian Mansur menjumpainya lagi setahun kemudian atau lebih, dan ia menanyakan pertanyaan yang sama kepada Mujahid.
Maka Mujahid membacakan firman-Nya:
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati.
(QS. Ad-Dukhaan [44]: 3), hingga akhir dua ayat berikutnya.
Kemudian Mujahid berkata bahwa Allah memberikan ketetapan dalam malam yang diberkati segala sesuatu yang akan terjadi dalam masa satu tahun menyangkut masalah rezeki atau musibah.
Kemudian Dia men­dahulukan apa yang Dia kehendaki dan menangguhkan apa yang Dia kehendaki.
Adapun mengenai ketetapan-Nya tentang kebahagiaan dan kecelakaan, maka hal ini telah ditetapkan-Nya dan tidak akan diubah lagi.

Al-A’masy telah meriwayatkan dari Abu Wa’il (yaitu Syaqiq ibnu Salamah) bahwa dia sering sekali mengucapkan doa berikut:
"Ya Allah, jikalau Engkau telah mencatat kami termasuk orang-orang yang celaka, maka sudilah kiranya Engkau menghapusnya, dan catatlah kami ke dalam golongan orang-orang yang bahagia.
Dan jika Engkau telah mencatat kami ke dalam golongan orang-orang yang berbahagia, maka tetapkanlah keputusan itu.
Karena sesungguhnya Engkau menghapuskan apa yang Engkau kehendaki dan menetapkan apa yang engkau kehendaki, di sisi­Mu terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz)."
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Mu’az ibnu Hisyam, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Abu Hakimah Ismah, dari Abu Usman An-Nahdi, bahwa Umar ibnul Khattab r.a. mengucapkan doa berikut dalam tawafnya di Baitullah seraya menangis:
Ya Allah, jika Engkau telah mencatat nasibku celaka atau berdosa, maka hapuskanlah, karena sesungguhnya Engkau menghapuskan apa yang Engkau kehendaki dan menetapkan apa yang Engkau kehendaki, dan di sisi-Mu terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz), maka jadikanlah (catatan nasibku) bahagia dan mendapat ampunan.

Hammad telah meriwayatkan dari Khalid Al-Hazza, dari Abu Qilabah, dari Ibnu Mas’ud r.a., bahwa dia pun membaca doa tersebut.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Syarik, dari Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Khassaf, dari Abu Hamzah, dari Ibrahim, bahwa Ka’b berkata kepada Umar ibnul Khattab,
"Wahai Amirul Mukminin, seandainya tidak ada suatu ayat dalam Kitabullah (Al Qur’an), tentulah aku akan menceritakan kepadamu apa yang akan terjadi sampai hari kiamat."
Umar ibnul Khattab bertanya,
"Ayat apakah itu?"
Ka’b menjawab bahwa ayat tersebut adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala, yang mengatakan:

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki., hingga akhir ayat.

Pengertian semua pendapat di atas menyimpulkan bahwa takdir itu dapat dihapus oleh Allah menurut apa yang Dia kehendaki darinya, dan Dia menetapkan apa yang Dia kehendaki darinya.


Pendapat ini barangkali berpegang kepada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Disebutkan bahwa:


telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan (yaitu As-Sauri), dari Abdullah ibnu Isa, dari Abdullah ibnu Abul Ja’d, dari Sauban yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Sesungguhnya seorang lelaki benar-benar terhalang dari rezekinya disebabkan dosa yang dikerjakannya, dan tiada yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tiada yang dapat menambah usia kecuali perbuatan baik.

Imam Nasai dan Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Sufyan As-Sauri dengan sanad yang sama.
Di dalam hadis sahih telah disebutkan bahwa silaturahmi menambah usia.
Di dalam hadis lainnya disebutkan:

Sesungguhnya doa dan qada (takdir), kedua-duanya benar-benar saling tolak menolak di antara langit dan bumi.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Sahl ibnu Askar, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ibnu Jarir, dari Ata, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Allah mempunyai Lauh Mahfuz yang besarnya sejauh perjalanan lima ratus tahun, terbuat dari batu permata (intan) putih yang mempunyai dua penyanggah terbuat dari yaqut.
Setiap hari Allah memeriksanya sebanyak tiga ratus enam puluh kali periksaan.
Dia menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang dikehendaki, di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab.


Al-Lais ibnu Sa’d telah meriwayatkan dari Ziyad ibnu Muhammad, dari Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi, dari Fudalah ibnu Ubaid, dari Abu Darda yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Az-Zikr (Lauh Mahfuz) dibuka pada saat malam hari tinggal tiga jam lagi.
Pada jam yang pertama dilakukan pemeriksaan oleh Allah padanya yang tiada seorang pun melihat pemeriksaan itu selain Dia, maka Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki.
hingga akhir hadis, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Al-Kalbi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).
Bahwa Allah menghapuskan sebagian dari rezeki dan menambahkannya, dan Dia menghapuskan sebagian dari ajal (usia) dan menambahkannya.
Ketika ditanyakan kepadanya,
"Siapakah yang menceritakan hal itu kepadamu?"
Al-Kalbi menjawab bahwa yang menceritakannya adalah Abu Saleh, dari Jabir ibnu Abdullah ibnu Rabbab, dari Nabi ﷺ Sesudah itu ia ditanya mengenai makna ayat ini, maka ia menjawab,
"Allah mencatat semua keputusan.
Apabila hari Kamis, maka dibiarkanlah sebagian darinya segala sesuatu yang tidak mengandung pahala, tidak pula siksaan.
Seperti ucapanmu, ‘Saya makan, saya minum, saya masuk, saya keluar, dan lain sebagainya,’ yang menyangkut pembicaraan, sedangkan pembicaraan itu benar.
Dan Dia menetapkan apa yang ada pahalanya serta apa yang ada sanksi siksaannya."

Ikrimah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Kitab itu ada dua, yaitu Kitab (catatan) yang Allah menghapuskan sebagian darinya menurut apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki darinya, dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetap­kan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz).
Hal ini menyangkut perihal seseorang yang melakukan amal ketaatan selama suatu masa, kemudian ia kembali mengerjakan perbuatan maksiat kepada Allah, lalu ia mati dalam keadaan sesat, maka hal inilah yang dihapuskan.
Dan yang ditetapkan ialah perihal seseorang yang mengerja­kan kemaksiatan kepada Allah, tetapi telah ditetapkan baginya kebaikan hingga ia mati, sedangkan dia dalam keadaan taat kepada Allah.
Maka dialah yang ditetapkan oleh Allah.

Tetapi telah diriwayatkan dari Sa’id ibnu Jubair, bahwa makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
(Al-Baqarah:284)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).
Allah mengganti apa yang Dia kehendaki, maka Dia menghapuskannya,

…dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, maka Dia tidak menggantinya.
dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz).
Kesimpulan maknanya ialah ‘di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab yang di dalamnya terkandung hal yang dihapuskan, hal yang diganti, dan hal yang ditetapkan’.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).
Ayat ini semakna dengan firman-Nya dalam ayat yang lain:

Ayat apa saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya.
(Al-Baqarah:106), hingga akhir ayat.

Ibnu Abu Nujaih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya:


Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).

Bahwa orang-orang kafir Quraisy, ketika ayat berikut ini diturunkan:

Dan tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah.
Mereka berkata,
"Sekarang kita tidak melihat Muhammad memiliki suatu kemampuan pun.
Sesungguhnya dia tidak berdaya."
Maka turunlah ayat ini sebagai ancaman dan peringatan terhadap mereka.
Dengan kata lain, disebutkan bahwa sesungguhnya bila Kami menghendaki, tentulah Kami mengadakan baginya sebagian dari urusan Kami menurut apa yang Kami kehendaki.
Dan Allah menetapkan pada bulan Ramadan (ketetapan-Nya), maka Dia menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan rezekirezeki manusia serta musibah-musibah mereka, dan semua yang Dia berikan dan yang Dia bagikan buat mereka.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan.
(apa yang Dia kehendaki).
Bahwa barang siapa yang ajalnya telah datang, maka ia dimatikan, dan Allah menetapkan kehidupan bagi orang yang ditetapkan-Nya masih hidup hingga sampai pada ajalnya.
Pendapat ini dipilih oleh Abu Ja’far ibnu Jarir rahimahullah.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz).

Maksudnya, perkara halal dan perkara haram.


Sedangkan menurut Qatadah, makna yang dimaksud ialah keseluruhan Kitab dan pokoknya.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ar Ra’d (13) Ayat 39

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Mujahid bahwa ketika turun ayat ini (ar-Ra’du: 38), orang-orang Quraisy berkata: “Kami berpendapat, kalau demikian engkau ini (Muhammad) tidak memiliki apapun dan segalanya telah selesai.” Maka Allah menurunkan ayat selanjutnya (ar-Ra’d: 39) yang menegaskan bahwa Allah-lah yang menghapuskan dan menetapkan segala sesuatunya, dan al-Qur’an itu sebagai mukjizat Muhammad.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah Ar Ra’d (الرعد)

Surat Ar-Ra’d ini terdiri atas 43 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Surat ini dinamakan "Ar-Ra’d" yang berarti "guruh" karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya, "Dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya",
menunjukkan sifat kesucian dan kesempumaan Allah subhanahu wa ta’ala.
Dan lagi sesuai dengan sifat Alquran yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan harapan kepada manusia.

Isi yang terpenting dari surat ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat.
Bagi Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dari ketaatan atau keingkaran terhadap hukum Allah.

Keimanan:

▪ Allah-lah yang menciptakan alam semesta serta mengaturnya.
▪ Ilmu Allah meliputi segala sesuatu.
▪ Adanya malaikat yang selalu memelihara manusia yang datang silih berganti, yaitu malaikat Hafazhah.
▪ Hanya Allah yang menerima do’a dari hamba Nya.
▪ Memberi taufiq hanya hak Allah, sedang tugas para rasul menyampaikan agama Allah.

Hukum:

▪ Manusia dilarang mendoakan yang jelek-jelek untuk dirinya.
▪ Kewajiban mencegah perbuatan-perbuatan yang mungkar.

Kisah:

▪ Kisah pengalaman nabi-nabi zaman dahulu.

Lain-lain:

▪ Beberapa sifat yang terpuji.
▪ Perumpamaan bagi orang-orang yang menyembah berhala dan orang-orang yang menyembah Allah.
▪ Allah tidak mengubah nasib suatu bangsa sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri.

Ayat-ayat dalam Surah Ar Ra’d (43 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43

Lihat surah lainnya

Audio

QS. Ar-Ra'd (13) : 1-43 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 43 + Terjemahan Indonesia



QS. Ar-Ra'd (13) : 1-43 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 43

Gambar Kutipan Ayat

Surah Ar Ra'd ayat 39 - Gambar 1 Surah Ar Ra'd ayat 39 - Gambar 2
Statistik QS. 13:39
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Ar Ra’d.

Surah Ar-Ra’d (bahasa Arab:الرّعد, ar-Ra’d, “Guruh”) adalah surah ke-13 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 43 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan Ar-Ra’d yang berarti Guruh (Petir) karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya …dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya, menunjukkan sifat kesucian dan kesempurnaan Allah subhanahu wa ta’ala, dan lagi sesuai dengan sifat Alquran yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan harapan kepada manusia.
Isi yang terpenting dari surah ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat.
Bagi Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dan ketaatan atau keingkaran terhadap hukum Allah.

Nomor Surah 13
Nama Surah Ar Ra’d
Arab الرعد
Arti Guruh (petir)
Nama lain
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 96
Juz Juz 13 (ayat 1-43)
Jumlah ruku’ 3 ruku’
Jumlah ayat 43
Jumlah kata 854
Jumlah huruf 3541
Surah sebelumnya Surah Yusuf
Surah selanjutnya Surah Ibrahim
Sending
User Review
4.3 (27 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

13:39, 13 39, 13-39, Surah Ar Ra'd 39, Tafsir surat ArRad 39, Quran Ar Rad 39, Ar-Ra’d 39, Surah Ar Rad ayat 39

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Ar Ra’d

۞ QS. 13:1 Ar Rabb (Tuhan) • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 13:2 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Kekuasaan Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Segala sesuatu ada takdirnya

۞ QS. 13:3 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Kekuasaan Allah

۞ QS. 13:4 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala

۞ QS. 13:5 • Kesabaran Allah terhadap kejahatan hamba • Kekuasaan Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 13:6 • Siksaan Allah sangat pedih • Ar Rabb (Tuhan) • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 13:7 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 13:8 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Segala sesuatu ada takdirnya

۞ QS. 13:9 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Al Kabir (Maha Besar) • Al Muta’ali (Maha Luhur) •

۞ QS. 13:10 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 13:11 Hukum alam • Tugas-tugas malaikat • Kebenaran dan hakikat takdir • Ketentuan Allah tak dapat dihindari • Azab orang kafir

۞ QS. 13:12 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Kekuasaan Allah

۞ QS. 13:13 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Sifat-sifat malaikat • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 13:14 Tauhid Uluhiyyah • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia • Kelemahan tuhan selain Allah • Siksa orang kafir

۞ QS. 13:15 Tauhid Uluhiyyah • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 13:16 Tauhid RububiyyahTauhid Uluhiyyah • Hanya Allah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah

۞ QS. 13:17 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala

۞ QS. 13:18 • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Orang kafir menebus dirinya pada hari kiamat • Sifat hari penghitungan • Nama-nama surga

۞ QS. 13:19 Ar Rabb (Tuhan) • Sikap manusia terhadap kitab samawi

۞ QS. 13:20 • Sifat-sifat orang mukmin

۞ QS. 13:21 Ar Rabb (Tuhan) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Sifat-sifat orang mukmin

۞ QS. 13:22 Ar Rabb (Tuhan) • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Sifat-sifat orang mukmin

۞ QS. 13:23 • Tugas-tugas malaikat • Nama-nama surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Sifat ahli surga •

۞ QS. 13:24 • Tugas-tugas malaikat • Sifat ahli surga

۞ QS. 13:25 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 13:26 • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir • Segala sesuatu ada takdirnya

۞ QS. 13:27 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan) • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 13:28 • Sifat-sifat orang mukmin

۞ QS. 13:29 • Pahala iman • Nama-nama surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Iman adalah ucapan dan perbuatan •

۞ QS. 13:30 Tauhid RububiyyahTauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Ar Rabb (Tuhan) • Al Rahman (Maha Pengasih)

۞ QS. 13:31 • Allah menepati janji • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Malikul Mulk (Maha Pemilik kerajaan) • Kebenaran hari penghimpunan • Allah menggerakkan hati manusia

۞ QS. 13:32 • Azab orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 13:33 Tauhid Uluhiyyah • Keluasan ilmu Allah • Ketentuan Allah tak dapat dihindari • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 13:34 • Azab orang kafir • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 13:35 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Makanan dan minuman ahli surga • Azab orang kafir

۞ QS. 13:36 Tauhid Uluhiyyah • Sikap manusia terhadap kitab samawi

۞ QS. 13:37 • Al Wali (Maha Pelindung) • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 13:38 • Segala sesuatu ada takdirnya

۞ QS. 13:39 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Kebenaran dan hakikat takdir

۞ QS. 13:40 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 13:41 • Sifat hari penghitungan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 13:42 • Keluasan ilmu Allah • Kekuatan umat Islam di dunia • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 13:43 Al Syahid (Maha Menyaksikan)

Ayat Pilihan

Hai orang-orang yang beriman,
sesungguhnya (meminum) khamar,
berjudi, (berkorban untuk) berhala,
mengundi nasib dengan panah,
adalah termasuk perbuatan syaitan.
Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.
QS. Al-Ma’idah [5]: 90

Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.
Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya,
maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh & janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.
QS. Al-Kahf [18]: 110

Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara & menguasai) manusia.
Raja manusia. Sembahan manusia.
Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin & manusia
QS. An-Nas [114]: 1-6

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Salah satu Asmaul Husna adalah Al Akhir, yang berarti ...

Benar! Kurang tepat!

Allah memiliki sifat Yang Maha Mengumpulkan, yang artinya ...

Benar! Kurang tepat!

Salah satu Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al 'Adl, yang berarti bahwa Allah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Sifat adil Allah berlaku untuk ...

Benar! Kurang tepat!

Keberadaan Asmaul Husna, dijelaskan dalam Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #2
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #2 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #2 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #26

Sebab-sebab turunnya ayat Alquran disebut … Nama lain dari surah Al-Insyirah adalah … Jumlah surah-surah dalam Alquran adalah … Pesan utama dari kandungan Alquran adalah … Surah yang terpanjang dalam Alquran adalah …

Pendidikan Agama Islam #13

Nama pedang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … … Apa nama peperangan pertama yang berlaku dalam sejarah Islam? … Apa makanan kegemaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam? … Apa warna kesukaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam? … Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang berselawat kepadaku sekali, maka Allah akan berselawat kepadanya … kali.”

Pendidikan Agama Islam #8

Sumber kedua hukum dalam menetapkan Hukum tentang Alquran adalah … Hukum penggunaan hadis sebagai dasar hukum adalah … Orang yang menceritakan hadits disebut … Undang-undang tentang penggunaan Hadits-Maudu adalah … Berikut adalah hadits yang rusak, kecuali …

Kamus

Ayat Mutasyabihat

Apa itu Ayat Mutasyabihat? Jenis ayat menurut maknanya Ada dua jenis ayat dibagi menurut maknanya:

Ayat Muhkamat yakni ayat dengan makna jelas dan langsung.
Ayat Mutasyabihat yakni dengan makna sama...

bandarsah

Apa itu bandarsah? ban.dar.sah tempat mengaji (belajar) agama Islam; surau; langgar; musala … •

Semit

Siapa itu Semit? Semit (dari bahasa Ibrani Alkitab שם, “Sem”; bahasa Arab: ساميّ‎, Syam, diterjemahkan dengan arti “nama”) adalah suatu istilah yang mula-mula digunaka...