QS. Ar Ra’d (Guruh (petir)) – surah 13 ayat 38 [QS. 13:38]

وَ لَقَدۡ اَرۡسَلۡنَا رُسُلًا مِّنۡ قَبۡلِکَ وَ جَعَلۡنَا لَہُمۡ اَزۡوَاجًا وَّ ذُرِّیَّۃً ؕ وَ مَا کَانَ لِرَسُوۡلٍ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِاٰیَۃٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ لِکُلِّ اَجَلٍ کِتَابٌ
Walaqad arsalnaa rusulaa min qablika waja’alnaa lahum azwaajan wadzurrii-yatan wamaa kaana lirasuulin an ya’tiya biaayatin ilaa biidznillahi likulli ajalin kitaabun;

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan.
Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah.
Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).
―QS. 13:38
Topik ▪ Takdir ▪ Segala sesuatu ada takdirnya ▪ Sikap Yahudi terhadap agama-agama samawi
13:38, 13 38, 13-38, Ar Ra’d 38, ArRad 38, Ar Rad 38, Ar-Ra’d 38

Tafsir surah Ar Ra'd (13) ayat 38

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ar Ra’d (13) : 38. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa Dia telah mengutus Rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad ﷺ.
dan mereka telah dikaruniai istri dan keturunan.

Hal ini wajar menunjukkan bahwa kehidupan keluarga dan berketurunan adalah hal yang wajar dan merupakan salah satu dari sunatulllah bagi makhluk-Nya yang hidup di muka bumi ini yang juga berlaku bagi para Nabi dan Rasul-rasul-Nya.
Hidup berkeluarga tidak boleh dianggap sebagai penghalang dalam beragama dan dalam perjuangan bagi kemajuan pribadi, masyarakat dan bangsa.
Bahkan pernikahan menurut ajaran Islam, selain berfaedah untuk melanjutkan keturunan juga adalah memberikan ketenangan dan ketenteraman serta kestabilan dalam kehidupan yang wajar.
Di samping itu pernikahan pun mempererat silaturahim antara keluarga-keluarga yang bersangkutan dan dapat pula menjadi sarana bagi dakwah Islamiah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ

Oleh karena hidup berkeluarga adalah suatu naluri yang wajar dan merupakan sunatullah, maka manusia tak boleh menantangnya.
Oleh sebab itu adalah suatu pandangan yang amat keliru apabila ada pemimpin agama yang mempunyai sikap dan anggapan bahwa mereka harus menjauhi hidup berkeluarga agar tidak menganggu tugas-tugas mereka dalam menjalankan agama.
Sikap hidup membujang atau tabattul dan peraturan-peraturan yang melarang pemimpin-pemimpin agama untuk hidup berkeluarga adalah hal-hal yang tidak dikenal dalam agama Islam dan sangat ditentangnya.
Perkawinan dan anak merupakan suatu nikmat dan rahmat Allah kepada hamba-Nya.
Karenanya perlu dipelihara sebaik-baiknya.

Dalam suatu riwayat disebutkan orang-orang Yahudi mencela Nabi Muhammad ﷺ.
karena beliau mempunyai beberapa orang istri.
Kata mereka, kalau benar-benar Muhammad adalah Nabi dan Rasul tentulah ia akan menyibukkan diri dengan tugas-tugas kenabiannya saja dan tidak akan mempedulikan wanita.
Di samping itu mereka meminta bermacam-macam bukti tentang kenabiannya selain Alquran yang menjadi mukjizat-Nya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala telah membantah mereka itu dengan menegaskan bahwa Nabi Muhammad bukanlah Rasul Allah yang pertama melainkan sebelum itu Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus beberapa Rasul dan semuanya adalah manusia yang memerlukan makan dan minum, berkeluarga dan berketurunan serta melakukan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang lainnya, berjalan di pasar dan sebagainya.
Dalam hal ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
untuk menegaskan:

Sesungguhnya aku ini hanya manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku.
(Q.S.
Al-Kahfi: 110)

Kemudian dalam ayat yang sedang dibacakan ini ditegaskan tentang kewajaran dan kebolehan para Rasul itu hidup berkeluarga dan berketurunan.
Allah menegaskan bahwa Dia mengaruniai mereka istri dan keturunan.
Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ.
bersabda:

Adapun aku, aku berpuasa dan berbuka, aku bersalat di waktu malam juga tidur, aku juga makan daging dan juga menikahi wanita, maka siapa yang tidak suka kepada sunahku tiadalah ia termasuk umatku.
(H.R.
Bukhari)

Adapun ayat-ayat atau bukti-bukti kenabian dan kerasulan yang dituntut oleh orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad ﷺ.
berulang kali tegaskan dalam Alquran, bahwa masalah tersebut adalah di bawah wewenang Allah semata-mata.
Para Rasul hanya mampu memperlihatkan suatu mukjizat dengan izin Allah.

Mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad ﷺ.
adalah Alquran yang membawa ajaran-ajaran, hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang menuntun manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Alquran senantiasa terpelihara kemurniannya dan tak satu pun makhluk dapat menandinginya, baik isi maupun bahasanya.

Ayat-ayat atau bukti-bukti dan mukjizat tidaklah muncul begitu saja melainkan haruslah sesuai dengan hikmah Allah dan selaras pula dengan masanya.
Masing-masing masa tersebut mempunyai ciri tersendiri yang telah ditetapkan Allah.
Setiap peristiwa yang terjadi di alam ini adalah menuruti ketentuan atau takdir-Nya baik mengenai waktunya, maupun mengenai tempat dan cara serta sebab-sebab terjadinya.
Maka suatu mukjizat tidak akan timbul sebelum waktu yang telah ditetapkan Allah.
Ajal seseorang serta umur, rezeki dan peristiwa-peristiwa yang dialami di dunia dan di akhirat adalah terjadi sesuai dengan ketentuan Allah.
Manusia tak dapat meminta agar ajalnya datang lebih cepat atau pun lebih lambat dari apa yang telah ditetapkan Allah dalam takdir-Nya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Apabila orang-orang musyrik heran bahwa kamu mempunyai istri dan keturunan, serta meminta mukjizat selain Al Quran, maka sebetulnya Kami telah mengutus sebelummu rasu-rasul yang juga mempunyai istri dan anak.
Rasul adalah manusia biasa, lengkap dengan sifat-sifatnya.
Hanya saja, dia adalah orang yang terbaik di antara mereka.
Seorang nabi tidak mungkin mendatangkan suatu mukjizat menurut kehendaknya atau kehendak kaumnya.
Tetapi, yang mendatangkannya adalah Allah, dan Dialah yang mengizinkan nabi untuk mendatangkan mukjizat itu.
Atas dasar itu setiap generasi mempunyai ketentuan dan mukjizat dari Allah yang sesuai dengan keadaan mereka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Ayat ini diturunkan ketika orang-orang kafir mencela Nabi ﷺ karena istrinya banyak, yaitu:

(Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan) yakni anak-anak, sedangkan engkau adalah salah satu di antara para rasul itu.

(Dan tidak ada hak bagi seorang rasul) di antara para rasul itu (mendatangkan sesuatu ayat melainkan dengan izin Allah) karena para rasul itu tiada lain hanyalah hamba-hamba yang diasuh-Nya.

(Bagi tiap-tiap masa) zaman (ada kitab) yang tertera di dalamnya tentang batas masa berlakunya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ketika mereka bertanya :
Mengapa kamu, wahai Rasul, menikah dengan wanita??
Maka, sesungguhnya Kami telah mengutus sebelummu Rasul-rasul dari kalangan manusia, dan Kami juga memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.
Jika mereka mengatakan :
Seandainya ia memang seorang Rasul, niscaya ia telah mendatangkan mukjizat-mukjizat yang kami minta, maka tidak ada kekuasaan bagi seorang Rasul untuk mendatangkan mukjizat yang diinginkan kaumnya kecuali dengan seizin Allah.
Tiap-tiap perkara yang ditetapkan Allah memiliki ketetapan dan masa tertentu yang telah ditulis Allah di sisi-Nya, yang tidak bisa dimajukan dan ditunda.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
menyebutkan bahwa sebagaimana Kami telah mengutusmu, hai Muhammad, sebagai seorang rasul dan kamu seorang manusia, begitu pula Kami telah mengutus rasul-rasul sebelum kamu dari kalangan manusia, mereka makan makanan, berjalan di pasar-pasar, dan beristri serta mempunyai anak.
dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.

Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman kepada rasul-Nya yang paling utama dan yang menjadi penutup para rasul:

Katakanlah, “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku.” (Al Kahfi:110)

Di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Adapun aku berpuasa dan berbuka, berdiri (salat) dan tidur, makan daging dan mengawini wanita.
Maka barang siapa yang tidak suka dengan sunnah (tuntunanku), dia bukan termasuk golonganku.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Al-Hajjaj ibnu Artah, dari Mak-hul yang mengatakan bahwa Abu Ayyub pernah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Ada empat perkara yang termasuk sunnah para rasul, yaitu memakai wewangian, nikah, bersiwak, dan memakai pacar.

Abu Isa At-Turmuzi telah meriwayatkannya melalui Sufyan ibnu Waki’, dari Hafis ibnu Gailan, dari Al-Hajjaj, dari Mak-hul, dari Abusy Syimal, dari Abu Ayyub, kemudian ia menyebutkan hadis ini.
Dan ia (Turmuzi) mengatakan bahwa hadis ini lebih sahih daripada hadis yang di dalam sanadnya tidak disebut Abusy Syimal.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah.

Artinya, tidaklah seorang rasul mendatangkan kepada kaumnya sesuatu hal yang bertentangan dengan hukum alam (mukjizat) melainkan dengan seizin Allah, bukan atas kehendaknya sendiri.
Segalanya diserahkan kepada Allah.
Dia melakukan apa yang dikehendaki-Nya dan memutuskan apa yang disukai-Nya.

Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).

Yakni bagi tiap masa tertentu ada kitab yang mencatat batas akhirnya.
Segala sesuatu ada batasannya yang ditentukan di sisi-Nya.

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi, bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuz)?
Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.
(Al Hajj:70)

Ad-Dahhak ibnu Muzahim mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).
Yakni bagi tiap kitab ada batas masanya.
Dengan kata lain, tiap kitab yang diturunkan dari langit ada batasan masa yang telah ditentukan di sisi Allah dan ada batas masa berlakunya.
Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan:

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki. darinya (kitab-kitab itu).

dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).) sehingga semuanya di-mansukh oleh Al-Qur’an yang Dia turunkan kepada Rasulullah ﷺ


Informasi Surah Ar Ra'd (الرعد)
Surat Ar Ra’d ini terdiri atas 43 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Surat ini dinamakan “Ar Ra’d” yang berarti “guruh” karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya “Dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya”,
menunjukkan sifat kesucian dan kesempumaan Allah subhanahu wa ta’ala Dan lagi sesuai dengan sifat Al Qur’an yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan ha­rapan kepada manusia.

Isi yang terpenting dari surat ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat.
Bagi Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dari ketaatan atau ke­ ingkaran terhadap hukum Allah.

Keimanan:

Allah-lah yang menciptakan alam semesta serta mengaturnya
ilmu Allah meliputi segala sesuatu
adanya malaikat yang selalu memelihara manusia yang datang silih berganti, yaitu malaikat Hafazhah
hanya Allah yang menerima do’a dari hamba­ Nya
memberi taufiq hanya hak Allah, sedang tugas para rasul menyampaikan agama Allah.

Hukum:

Manusia dilarang mendo’akan yang jelek-jelek untuk dirinya
kewajiban mencegah perbuatan-perbuatan yang mungkar.

Kisah:

Kisah pengalaman nabi-nabi zaman dahulu.

Lain-lain:

Beberapa sifat yang terpuji
perumpamaan bagi orang-orang yang menyembah ber­hala dan orang-orang yang menyembah Allah
Allah tidak merobah nasib sesuatu bangsa sehingga mereka merobah keadaan mereka sendiri.

Ayat-ayat dalam Surah Ar Ra'd (43 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ar-Ra'd (13) ayat 38 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ar-Ra'd (13) ayat 38 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ar-Ra'd (13) ayat 38 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ar-Ra'd - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 43 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 13:38
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Ar Ra'd.

Surah Ar-Ra'd (bahasa Arab:الرّعد, ar-Ra'd, "Guruh") adalah surah ke-13 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 43 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan Ar-Ra'd yang berarti Guruh (Petir) karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya ...dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya, menunjukkan sifat kesucian dan kesempurnaan Allah subhanahu wa ta'ala, dan lagi sesuai dengan sifat Al-Quran yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan harapan kepada manusia.
Isi yang terpenting dari surah ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat.
Bagi Allah subhanahu wa ta'ala tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dan ketaatan atau keingkaran terhadap hukum Allah.

Nomor Surah13
Nama SurahAr Ra'd
Arabالرعد
ArtiGuruh (petir)
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu96
JuzJuz 13 (ayat 1-43)
Jumlah ruku'3 ruku'
Jumlah ayat43
Jumlah kata854
Jumlah huruf3541
Surah sebelumnyaSurah Yusuf
Surah selanjutnyaSurah Ibrahim
4.8
Ratingmu: 4.2 (16 orang)
Sending







Pembahasan ▪ qs 13 38 ▪ ar rad 38 ▪ qs rad 13:38

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  





Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta