Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ar Ra'd

Ar Ra’d (Guruh (petir)) surah 13 ayat 29


اَلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ طُوۡبٰی لَہُمۡ وَ حُسۡنُ مَاٰبٍ
Al-ladziina aamanuu wa’amiluush-shaalihaati thuuba lahum wahusnu maaabin;

Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.
―QS. 13:29
Topik ▪ Surga ▪ Nama-nama surga ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
13:29, 13 29, 13-29, Ar Ra’d 29, ArRad 29, Ar Rad 29, Ar-Ra’d 29
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ar Ra'd (13) : 29. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini dijelaskan selanjutnya, bahwa orang-orang yang beriman dan melakukan amal-amal yang saleh, niscaya akan memperoleh kebahagiaan dan tempat kembali yang baik di sisi Allah subhanahu wa ta'ala pada hari kemudian.

Ar Ra'd (13) ayat 29 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ar Ra'd (13) ayat 29 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ar Ra'd (13) ayat 29 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang yang tunduk kepada kebenaran dan melakukan amal saleh, akan memperoleh akibat dan tempat kembali yang baik.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Orang-orang yang beriman dan beramal saleh) kalimat ini menjadi mubtada sedangkan khabarnya ialah (alangkah bahagianya) lafal thuubaa mashdar daripada lafal ath-thiib, adalah nama sebuah pohon di surga, seseorang yang berkendaraan tidak akan dapat menempuh naungannya sekali pun berjalan seratus tahun (bagi mereka dan tempat kembali yang baik) tempat kembali di akhirat.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, serta melakukan amal-amal shalih, mereka mendapatkan kegembiraan, kebahagiaan, keadaan yang baik, dan tempat kembali yang baik ke surga Allah dan keridhaan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...tempat kembali yang baik.

Yakni tempat kembali.
Semua pendapat yang telah disebutkan di atas pada prinsipnya sama, tiada pertentangan di antaranya.

Sa'id ibnu Jubair telah mengatakan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna tuba lahum, bahwa tuba adalah nama sebuah taman yang ada di negeri Habsyah.
Sa'id ibnu Masju' mengatakan bahwa tuba adalah nama sebuah taman yang terletak di India.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh As-Saddi, dari Ikrimah, bahwa tuba lahum artinya surga (taman).
Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa setelah Allah menciptakan surga dan telah merampungkannya, berfirmanlah Dia:

Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik
Demikian itu sebagai ungkapan rasa takjub akan keindahannya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Ya'qub ibnu Ja'far, dari Syahr ibnu Hausyab yang mengatakan bahwa tuba adalah nama sebuah pohon di dalam surga, semua pepohonan surga berasal darinya, ranting-rantingnya berasal dari balik tembok surga.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Mugis ibnu Summi, Abi Ishaq As-Subai'i, dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf yang bukan hanya seorang.
Mereka mengatakan bahwa tuba adalah sebuah pohon di dalam surga, pada tiap-tiap rumah (gedung) surga terdapat ranting yang berasal darinya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa Tuhan Yang Maha Pemurah, Mahasuci lagi Mahatinggi telah menanamnya sendiri dengan tangan kekuasaan-Nya dari butir mutiara, lalu Allah memerintahkan kepadanya untuk menjalar, maka pohon itu menjalar menurut yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Dari bawah akarnya memancar sumber air sungai-sungai surga yang berasa madu, khamr, dan air susu.

Abdullah ibnu Wahb telah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Amr ibnul Haris, bahwa Diraj (yakni Abus Samah) pernah menceritakan kalimat berikut kepadanya, dari Abul Haisam, dari Abu Sa'id Al-Khudri secara marfu':

Tuba adalah sebuah pohon di dalam surga, besarnya santa dengan jarak perjalanan seratus tahun, pakaian-pakaian ahli surga keluar dari kuntum-kuntumnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Lahi'ah mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Diraj (yakni Abus Samah), bahwa Abul Haisam pernah menceritakan kepadanya, dari Abu Sa'id Al-Khudri, dari Rasulullah ﷺ, bahwa ada seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, tuba (berbahagialah) bagi orang yang melihatmu dan beriman kepadamu." Rasulullah ﷺ bersabda: Berbahagialah bagi orang yang melihatku dan beriman kepadaku.
Berbahagialah, berbahagialah, dan berbahagialah bagi orang yang beriman kepadaku dan tidak melihatku.
Lelaki lainnya bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Apakah yang dimaksud dengan tuba (berbahagialah) itu?"
Rasulullah ﷺ menjawab: Sebuah pohon di dalam surga yang besarnya adalah perjalanan seratus tahun, pakaian ahli surga keluar dari kuntum (bunga)nya.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan:

dari Ishaq Ibnu Rahawaih, dari Mugirah Al-Makhzumi, dari Wuhaib, dari Abu Hazim, dari Sahl ibnu Sa'd r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat sebuah pohon, seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun masih belum melampauinya.

Abu Hazim mengatakan bahwa lalu ia mengetengahkan hadis ini kepada An-Nu'man ibnu Ayyasy Az-Zurqi.
Maka ia berkata bahwa telah menceritakan kepadanya Abu Sa’id Al-Khudri, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon, seorang pengendara kuda pacuan yang kencang larinya memacu kudanya selama seratus tahun, ia masih belum dapat melampauinya.

Di dalam kitab Sahih Bukhari:

melalui hadis Yazid ibnu Zurai', dari Sa'id, dari Qatadah, dari Anas r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda sehubungan dengan makna firman-Nya: dan naungan yang terbentang luas.
(Al Waaqi'ah:30) yaitu: Di dalam surga terdapat sebuah pohon, seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun tanpa bisa melampauinya.

Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Syuraih, telah menceritakan kepada kami Falih, dari Hilal ibnu Ali, dari Abdur Rahman ibnu Abu Amrah, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Di dalam surga terdapat sebuah pohon, seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun masih belum melampauinya.
Bacalah oleh kalian bila kalian suka akan firman-Nya, "Dan naungan yang terbentang luas.” (Al Waaqi'ah:30)

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab Shahihain.

Menurut lafaz lain —bagi Imam Ahmad— disebutkan pula bahwa:

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far dan Hajjaj, keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, bahwa ia pernah mendengar Abu Dalihak menceritakan hadis berikut dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon, seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama tujuh puluh — atau seratus tahun—.
ia adalah pohon Khuldi.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Yahya ibnu Abbad ibnu Abdullah ibnuz Zubair, dari ayahnya, dari Asma binti Abu Bakar r.a.
yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan tentang Sidratul Muntaha, lalu Rasulullah ﷺ bersabda: Seorang pengendara berjalan di bawah naungan salah satu tangkainya selama seratus tahun —atau bernaung di bawah sebuah rantingnya seratus orang pengendara—, padanya terdapat kupu-kupu emas, buahnya seakan-akan sebesar gentong.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Turmuzi.

Ismail ibnu Ayyasy meriwayatkan dari Sa’id ibnu Yusuf, dari Yahya ibnu Abu Kasir, dari Abu Salam Al-Aswad yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Umamah Al-Bahili mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: tiada seorang pun di antara kalian masuk surga melainkan pergi ke pohon Tuba.
Maka dibukakan baginya kuntum-kuntumnya, dan ia mengambil darinya pakaian yang disukainya.
Jika ia suka warna putih, mengambil warna putih, jika ia suka warna merah, mengambil warna merah, jika ia suka warna kuning, mengambil warna kuning, dan jika suka warna hitam, mengambil warna hitam, warna-warninya seperti bunga syaqaiqun nu'man dan lebih lembut lagi lebih indah.

Imam Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnuSaur, dari Ma'mar, dari Asy'as ibnu Abdullah, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa tuba adalah sebuah pohon di dalam surga.
Allah berfirman kepadanya, "Mekarkanlah kuntum-kuntummu buat hamba-Ku untuk memenuhi apa yang dikehendakinya!" Maka (bunga) pohon itu mekar untuk hamba yang dimaksud dengan mengeluarkan kuda lengkap dengan pelana dan kendalinya, unta berikut semua perlengkapannya, dan segala rupa pakaian yang disukainya.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Wahb ibnu Munabbih dalam bab ini sebuah asar yang garib lagi aneh.
Wahb rahimahullah mengatakan bahwa sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon yang disebut tuba, seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun tanpa bisa melewatinya.
Bunga-bunganya adalah pakaian, dedaunannya adalah selimut, ranting-rantingnya adalah 'anbar, lembah tempatnya adalah yaqut, tanahnya adalah kafur, dan lumpurnya adalah misik (minyak kesturi).
Dari akarnya keluar sungai khamr, sungai susu, dan sungai madu.
Pohon ini merupakan majelis ahli surga.
Ketika mereka sedang berada di majelisnya, tiba-tiba malaikat suruhan Tuhan mereka datang kepada mereka seraya menuntun unta-unta yang diberi kendali rantai emas.
Keindahan kepala unta-unta itu bagaikan pelita, bulunya sangat lembut seperti sutera Mar'uzi.
Di atas punggung unta-unta itu terdapat haudaj yang papannya terbuat dari batu yaqut, sandarannya terbuat dari emas, sedangkan kain penutupnya terbuat dari kain sutera tebal dan tipis.
Lalu para malaikat itu membuka haudaj (tandu) yang ada di atas punggung unta-unta itu, lalu berkata, "Sesungguhnya Tuhan kalian telah mengutus kami kepada kalian untuk membawa kalian mengunjungi-Nya dan mengucapkan salam penghormatan kepada-Nya." Maka semua ahli surga menaikinya, jalannya lebih cepat daripada burung terbang dan lebih pelan daripada kupu-kupu, unta itu tidak sulit dikendarai.
Seseorang berjalan berdampingan dengan saudaranya seraya berbincang-bincang dengannya, sedangkan pinggir haudaj masing-masing tidak mengenai yang lainnya, dan tiada suatu unta pun yang duduk berlutut di tempat unta lainnya, sehingga pepohonan menjauh dari jalan yang dilalui oleh mereka agar tidak memisahkan antara seseorang dengan saudaranya.
Lalu mereka datang menghadap Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, dan Allah membukakan hijab diri-Nya kepada mereka sehingga mereka dapat melihat Zat Allah Yang Mahamulia.
Apabila mereka telah melihat-Nya, maka berkatalah mereka, "Ya Allah, Engkau Mahasejahtera, dari Engkaulah bersumbernya kesejahteraan, dan sifat keagungan dan kemuliaan hanyalah layak bagi-Mu." Maka pada saat itu juga Allah berfirman, "Akulah Yang Mahasejahtera, dari Aku-lah kesejahteraan, dan kalian berhak mendapat rahmat dan kasih-Ku.
Selamat datang kepada hamba-hamba-Ku yang takut kepada-Ku tanpa melihat-Ku dan taat kepada perintah-Ku." Mereka berkata, "Wahai Tuhan kami, kami masih belum menyembah Engkau dengan penyembahan yang sebenarnya, dan kami masih belum menghargai Engkau dengan penghargaan yang sebenarnya.
Maka izinkanlah kami untuk bersujud di bawah telapak kaki kekuasaan-Mu." Allah berfirman, "Sesungguhnya sekarang ini bukanlah tempat kelelahan, bukan pula tempat untuk ibadah, tetapi sekarang adalah tempat kesenangan dan kenikmatan.
Sesungguhnya Aku telah melenyapkan dari kalian kepayahan beribadah, maka mintalah kepada-Ku semua yang kalian kehendaki, karena sesungguhnya masing-masing orang dari kalian mempunyai keinginannya sendiri." Lalu mereka meminta kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
sehingga orang yang paling pendek keinginannya mengatakan, "Wahai Tuhanku, ahli dunia telah bersaing dalam dunia mereka sehingga mereka saling berebutan untuk mendapatkannya.
Wahai Tuhanku, maka berikanlah kepadaku semisal segala sesuatu yang mereka miliki sejak Engkau menciptakan dunia hingga dunia berakhir." Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman, "Sesungguhnya keinginanmu amatlah pendek, dan sesungguhnya engkau telah meminta sesuatu yang berada di bawah kedudukanmu.
Sekarang inilah dari-Ku untukmu, karena sesungguhnya tiada kepayahan dalam pemberian-Ku, tiada pula yang terlarang." Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman, "Tawarkanlah kepada hamba-hamba-Ku segala sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh angan-angan mereka dan tidak pula terdetik dalam kalbu mereka." Maka ditampakkanlah hal itu kepada mereka sehingga angan-angan mereka tidak dapat menjangkaunya.
Di antara yang ditawarkan kepada mereka ialah kuda-kuda yang bertanduk, di atas empat ekor darinya terdapat dipan dari yaqut, dan pada tiap dipan terdapat kubah emas yang terbuka.
Pada tiap-tiap kubah terdapat kupu-kupu emas yang beterbangan.
Di dalam tiap kubah itu juga terdapat dua pelayan bidadari yang bermata jelita.
Masing-masing bidadari memakai pakaian dua lapis, yaitu pakaian surga, tiada suatu warna pun yang ada di dalam surga melainkan ada pada warna pakaian itu, dan tiada suatu wewangian pun melainkan tercium dari kedua pakaian itu.
Cahaya wajah kedua bidadari itu dapat menembus ketebalan kubah sehingga orang yang melihatnya menduga bahwa keduanya berada di bagian luar kubah.
Tulang sumsumnya dapat terlihat dari bagian luar betisnya, seperti kabel putih yang ada di dalam batu yaqut merah.
Kedua bidadari memandang keutamaan yang dimiliki oleh majikannya sama dengan keutamaan matahari atas batu, atau bahkan lebih utama lagi.
Majikan pun memandang hal yang sama kepada keutamaan yang dimiliki oleh kedua bidadari tersebut.
Kemudian ia masuk menemui keduanya.
Maka keduanya mem­berikan penghormatan kepadanya, lalu merangkulnya serta menempel kepadanya seraya berkata, "Demi Allah, kami tidak menduga bahwa Allah menciptakan makhluk seperti engkau." Kemudian Allah memerintahkan para malaikat untuk membawa mereka.
Maka para malaikat berjalan bersama mereka membentuk saf ke dalam surga, sehingga masing-masing orang dari ahli surga sampai ke tempat tinggal yang telah disediakan untuknya.

Asar ini telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim berikut sanadnya, dari Wahb ibnu Munabbih.

Di dalam riwayatnya ditambahkan, "Lihatlah karunia Tuhan kalian yang diberikan kepada kalian!" Tiba-tiba terlihatlah kubah-kubah di Rafiqul A’la dan gedung-gedung yang dibangun dari permata dan marjan, pintu-pintunya dari emas, dipan-dipannya dari yaqut, hamparan-hamparannya dari kain sutera tebal dan tipis, mimbar-mimbarnya dari nur yang cahayanya memancar dari pintu-pintunya, dan halamannya dari nur seperti cahaya matahari, sedangkan mimbar yang ada padanya seperti bintang gemerlapan yang ada di siang hari.
Tiba-tiba tampaklah gedung yang tinggi-tinggi berada di surga yang tertinggi terbuat dari yaqut yang cahayanya sangat cemerlang.
Seandainya tidak ditundukkan (untuk dapat dilihat), niscaya pandangan mata tidak akan dapat melihatnya (karena silaunya).
Bagian gedung-gedung itu yang terbuat dari yaqut putih dihampari dengan sutera putih, bagian yang terbuat dari yaqut merah dihampari dengan kain sutera merah, bagian yang terbuat dari yaqut hijau dihampari dengan kain sutera hijau, dan bagian yang terbuat dari yaqut kuning dihampari dengan kain sutera kuning.
Gedung-gedung itu semua pintunya terbuat dari zamrud hijau, emas merah, dan perak putih.
Tiang-tiang dan sudut-sudutnya dari permata, jendela-jendelanya berbentuk kubah yang terbuat dari mutiara, dan menara-menaranya bertingkat-tingkat terbuat dari marjan.
Setelah mereka berangkat menuju tempat yang diberikan oleh Tuhan mereka, maka disodorkan kepada mereka kuda-kuda yang tubuhnya dari yaqut putih —tetapi ditiupkan roh ke dalam tubuhnya (sehingga hidup)— didampingi oleh pelayan yang terdiri atas anak-anak muda yang tetap muda.
Tangan masing-masing anak memegang pemacu kuda-kuda itu, tali kendali serta cocok hidungnya terbuat dari perak putih yang dihiasi dengan mutiara dan yaqut, sedangkan pelananya bagaikan dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata serta dilapisi dengan kain sutera yang tebal dan yang tipis.
Kemudian kuda-kuda itu berangkat membawa mereka berpesiar di tengah-tengah taman surga.
Setelah mereka sampai di tempatnya masing-masing, mereka menjumpai para malaikat sedang duduk di atas mimbar-mimbar nur menunggu mereka dengan maksud mengunjungi mereka, menyalami mereka, dan mengucapkan selamat kepada mereka sebagai penghormatan buat mereka dari Tuhan mereka.
Setelah mereka memasuki gedung-gedung mereka, di dalamnya mereka menjumpai semua yang mereka inginkan, semua yang mereka minta, dan semua yang mereka angan-angankan.
Tiba-tiba pada pintu tiap gedung tersebut terdapat empat taman, dua di antaranya mempunyai pohon-pohon dan buah-buahan, sedangkan dua lainnya kelihatan berwarna hijau tua, di dalam kedua taman itu terdapat dua buah mata air yang mengalir, segala macam buah-buahan yang berpasangan, serta bidadari-bidadari yang dipingit di dalam kemahnya masing-masing.
Setelah mereka menempati tempatnya masing-masing, maka Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman kepada mereka, "Apakah kalian telah menjumpai apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kalian dengan sebenarnya?"
Mereka menjawab, "Ya, wahai Tuhan kami." Allah berfirman, "Apakah kalian puas dengan pahala Tuhan kalian?"
Mereka menjawab, "Wahai Tuhan kami, kami telah puas, maka ridailah kami." Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman, "Berkat rida-Ku kepada kalian, Aku tempatkan kalian di rumah-Ku dan kalian dapat melihat Zat-Ku, serta para malaikat-Ku menyalami kalian.
Maka selamat, selamatlah bagi kalian." sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.
(Huud:108) Yakni tiada terhenti dan tiada yang terlarang.
Maka pada saat itu juga mereka mengatakan, "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami dan memasukkan kami ke tempat tinggal yang kekal berkat karunia-Nya.
Di dalamnya kami tidak lagi mengalami kepayahan, tidak pula mengalami lesu.
Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri."

Konteks asar ini garib lagi ajaib, tetapi sebagian darinya mempunyai syahid (bukti) yang menguatkannya.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman kepada lelaki yang paling akhir masuk surga, "Mintailah!" Lalu lelaki itu meminta, dan setelah permintaannya habis, Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman, "Mintalah anu dan mintalah anu," sambil mengingatkannya.
Kemudian Allah berfirman, "Hal seperti itu dan sepuluh kali lipatnya adalah untukmu."

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan sebuah hadis melalui Abu Zar, dari Rasulullah ﷺ, dari Allah subhanahu wa ta'ala.:

Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama dari kalian dan orang yang terakhir dari kalian —dari kalangan manusia dan jin— berdiri di suatu tanah lapang, lalu mereka meminta kepada­Ku dan Aku berikan kepada setiap orang apa yang dimintanya, hal tersebut tiada mengurangi milik-Ku barang sedikit pun, melainkan sebagaimana berkurangnya lautan apabila dimasukkan sebuah jarum ke dalamnya.
hingga akhir hadis.

Khalid ibnu Ma'dan mengatakan, "Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon yang dikenal dengan nama Tuba.
Pohon itu mempunyai susu, semua anak-anak ahli surga menyusu darinya.
Dan sesungguhnya kandungan yang gugur dari seorang wanita kelak berada di salah satu dari sungai surga, ia hidup di dalamnya hingga hari kiamat nanti, maka ia dibangkitkan dalam rupa seorang anak yang berumur empat puluh tahun." Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Kata Pilihan Dalam Surah Ar Ra'd (13) Ayat 29

THUUBA
طُوبَ

Lafaz ini adalah mashdar seperti busyra dan ruj'aa, wazannya ialah fu'laa, ia berasal dari kata kerja thaba

Ibn Faris berkata,
''Asal makna lafaz ini ialah lawan kepada khabiits (najis atau kotor)"

Ath thib juga mengandung makna sesuatu yang mengharumkan, seperti minyak wangi dan lainnya, perhiasan, yang baik dari segala sesuatu.

Lafaz thuuba disebut sekali saja di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah Ar Ra'd (13), ayat 29.

Lafaz thuuba lahum bermakna setiap tempat yang baik dan menyenangkan di dalam syurga, berkekalan tanpa fana, kemuliaan yang tidak hilang serta kekayaan tanpa kefakiran.

As Sijistani berkata,
thuuba menurut pandangan para ahli nahu adalah fu'la dari ath thib, dan makna thuuba lahum yaitu kebaikan kehidupan bagi mereka, dikatakan ia adalah kebaikan dan harapan yang kemuncak atau tinggi, ada yang berpendapat ia adalah nama syurga dalam bahasa Hindi, dan ada pula yang mengatakan ia adalah nama pohon di dalam syurga."

Diriwayatkan dari Ibn Jarir dan lainnya, dari Ibn Abbas maknanya ialah kesenangan, atau kegembiraan dan bidadari bagi mereka.

Menurut Ad Dahhak ia berarti ghibtah (suka ria dan kegembiraan bagi mereka).

Dan menurut Qatadah ia berarti kebaikan bagi mereka, dalam riwayat yang lain pula darinya juga berarti mereka mendapat kebaikan.

Begitu juga riwayat dari An Nakh'i, maknanya kebaikan yang banyak dan karamah bagi mereka.

Menurut Sumait bin 'Ajalan, thuuba lahum bermakna kebaikan yang berterusan bagi mereka dan ia kembali kepada makna kehidupan yang baik bagi mereka.

Al Qurtubi menjelaskan makna sebenar thuuba ialah merupakan nama atau tanda untuk pohon di dalam syurga seperti yang diriwayatkan dari Ahmad, Ibn Jarir, Ibn Abi Hatim, Ibn Hibban, At Tabrani, Al Baihaqi dalam ''al bats wan nusyur" dan dibenarkan oleh As Suhaili dan lainnya dari 'Utbah bin 'Abd beliau berkata,
"Seorang Arab datang kepada Rasulullah dan berkata,
"Wahai Rasulullah! Adakah di dalam syurga ada buah-buahani" Beliau menjawab, "Ya, di dalamnya ada pohon yang dipanggil dengan Thuba, yaitu di tengah syurga Firdaus," Dia bertanya lagi, "Pohon apakah yang menyerupainya di bumi kita?" Beliau menjawab, "Tidak ada yang menyerupainya dari pohon yang ada di bumi engkau tetapi adakah engkau pernah datang ke Syam?" Dia menjawab, "Tidak" Beliau berkata: "Sesungguhnya ia menyerupai pohon yang ada di Syam yang dipanggil dengan al Jauzah, tumbuh di atas batang kemudian bercabang di atasnya," Lelaki itu bertanya lagi, "Berapa besar akarnya?" Beliau berkata,
" Sekiranya engkau bertolak dengan seekor unta keluargamu pasti engkau tidak dapat mengelilingi akarnya sehingga tulang selangkanya retak karena tua" Dia bertanya lagi, ''Adakah di dalamnya terdapat buah anggur?" Beliau menjawab.: "Ya': Dia bertanya lagi, "Berapa besar tandannya?" Beliau berkata,
"Sama seperti sebulan perjalanan bagi burung kecuali burung gagak yang berwarna hitam berbelang putih."

Kesimpulannya, makna umum bagi lafaz thuuba ialah kebahagiaan, kehidupan yang senang, kegembiraan di dalam syurga, ganjaran bagi yang beramal shaleh dan makna khususnya ialah pohon di dalam syurga.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:354-355

Informasi Surah Ar Ra'd (الرعد)
Surat Ar Ra'd ini terdiri atas 43 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Surat ini dinamakan "Ar Ra'd" yang berarti "guruh" karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya "Dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya",
menunjukkan sifat kesucian dan kesempumaan Allah subhanahu wa ta'ala Dan lagi sesuai dengan sifat Al Qur'an yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan ha­rapan kepada manusia.

Isi yang terpenting dari surat ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat.
Bagi Allah subhanahu wa ta'ala tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dari ketaatan atau ke­ ingkaran terhadap hukum Allah.

Keimanan:

Allah-lah yang menciptakan alam semesta serta mengaturnya
ilmu Allah meliputi segala sesuatu
adanya malaikat yang selalu memelihara manusia yang datang silih berganti, yaitu malaikat Hafazhah
hanya Allah yang menerima do'a dari hamba­ Nya
memberi taufiq hanya hak Allah, sedang tugas para rasul menyampaikan agama Allah.

Hukum:

Manusia dilarang mendo'akan yang jelek-jelek untuk dirinya
kewajiban mencegah perbuatan-perbuatan yang mungkar.

Kisah:

Kisah pengalaman nabi-nabi zaman dahulu.

Lain-lain:

Beberapa sifat yang terpuji
perumpamaan bagi orang-orang yang menyembah ber­hala dan orang-orang yang menyembah Allah
Allah tidak merobah nasib sesuatu bangsa sehingga mereka merobah keadaan mereka sendiri.


Gambar Kutipan Surah Ar Ra’d Ayat 29 *beta

Surah Ar Ra'd Ayat 29



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ar Ra'd

Surah Ar-Ra'd (bahasa Arab:الرّعد, ar-Ra'd, "Guruh") adalah surah ke-13 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 43 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan Ar-Ra'd yang berarti Guruh (Petir) karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya ...dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya, menunjukkan sifat kesucian dan kesempurnaan Allah subhanahu wa ta'ala, dan lagi sesuai dengan sifat Al-Quran yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan harapan kepada manusia.
Isi yang terpenting dari surah ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat.
Bagi Allah subhanahu wa ta'ala tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dan ketaatan atau keingkaran terhadap hukum Allah.

Nomor Surah 13
Nama Surah Ar Ra'd
Arab الرعد
Arti Guruh (petir)
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 96
Juz Juz 13 (ayat 1-43)
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 43
Jumlah kata 854
Jumlah huruf 3541
Surah sebelumnya Surah Yusuf
Surah selanjutnya Surah Ibrahim
4.5
Rating Pembaca: 4.9 (21 votes)
Sending








[bookmark] 📖 Lihat Semua Bookmark-ku